Anda di halaman 1dari 18

FARMAKODINAMIKA

DRS. CECE SUPRIATNA, M.FARM, APT

FARMAKODINAMIKA

Farmakodinamik menggambarkan bagaimana obat bekerja

dan mempengaruhi tubuh, melibatkan reseptor, post-reseptor

dan interaksi kimia.

Farmakokinetik dan Farmakodinamik membantu menjelaskan hubungan antara dosis dan efek dari obat. Respon farmakologis tergantung pada ikatan obat pada target. Konsentrasi obat pada

reseptor mempengaruhi efek obat.

Farmakodinamik dipengaruhi oleh perubahan fisiologis tubuh seperti proses penuaan, penyakit atau adanya obat lain. Penyakit-penyakit yang mempengaruhi farmakodinamik

contohnya adalah mutasi genetik, tirotoksikosis (penyakit

gondok), malnutrisi(salah gizi) dll.

1. MEKANISME KERJA OBAT

Meskipun sudah banyak diketahui tentang efek obat dalam terhadap tubuh manusia, tetapi tidak semua mekanisme kerjanya difahami betul. Mekanisme kerja obat secara umum digolongkan sbb :

  • a. Secara Fisika ; yaitu dapat menyebabkan terjadinya perubahan sifat fisika dari sel atau organ tubuh.

 

Contoh :

1)

Pencahar Osmotik ; yaitu dengan menarik air dari sekitarnya

sehingga isi usus bertambah besar dan konsistensi isi

usus berkurang sehingga merangsang pergerakan peristaltik usus lebih cepat dan mempercepat pengeluaranya. (Magnesium Sulfat, Natrium Sulfat, dll).

1. MEKANISME KERJA OBAT

2)

Diuretik Osmotik ;

yaitu dengan meningkatkan tekanan

osmotik ultra filtrasi di ginjal sehingga menimbulkan

efek diuresis. (Manitol, Sorbitol, dll).

3)

Anestetika Inhalasi ; yaitu obat melarut dalam lapisan

lemak membran sel dan mengubah permeabilitas

membran sehingga menyebabkan transfor oksigen dan zat-zat gizi terganggu, sehingga menyebabkan terjadi hilangnya perasaan / rasa sakit.

b. Secara Kimia ; Yaitu terjadi reaksi kimia antara obat dengan zat

endogen

Contoh :

Antasida, yaitu umumnya merupakan basa lemah yang akan bereaksi dengan Asam lambung sehingga mengurangi keasaman cairan lambung.

Mg(OH)2 + HCl

Al(OH)3

+

HCl

Mg(Cl)2 +

H2O

Al(Cl)3 + H2O

1. MEKANISME KERJA OBAT

c. Menggangu Proses Metabolisme Sel Contoh ; Antibiotik ; mengganggu proses pembentukan dinding sel bakteri sehingga
c.
Menggangu Proses Metabolisme Sel
Contoh ;
Antibiotik ; mengganggu proses pembentukan dinding sel bakteri
sehingga pertumbuhannya terganggu.
d. Kompetisi dengan zat Endogen untuk menduduki Reseptor
d.
Kompetisi dengan zat Endogen untuk menduduki Reseptor
Contoh ; Antihistamin berkompetisi dengan histamin endogen untuk menduduki reseptor sehingga reksi alergi dihambat.
Contoh ;
Antihistamin berkompetisi dengan histamin endogen untuk
menduduki reseptor sehingga reksi alergi dihambat.

2. RESEPTOR OBAT

  • a. Sifat Kimia ; Komponen utama Reseptor obat umumnya berupa protein atau asam nukleat dimana akan berikatan dengan molekul obat.

  • b. Hubungan Struktur-Aktivitas ; Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya terhadap reseptor, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya.

  • c. Reseptor Blocker ; Obat yang struktur kimianya mirip dengan hormon, mampu menempati reseptor hormon tersebut sehingga merintangi aktivitas hormon tsb.

2. RESEPTOR OBAT

Contoh :

  • 1. B-blocker akan bersaing dengan Noradrenalin endogen untuk menduduki reseptor

B1 dan B2. (propanolol)

  • 2. H1 Blocker akan bersaing dengan Histamin untuk menduduki reseptor H1. (Antihistamin)

  • d. Interaksi Obat-Reseptor : Ikatan antara Obat dengan Reseptor biasanya merupakan ikatan

lemah, menurut teori pendudukan reseptor bahwa intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau diikatnya dan intensitas efek mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki oleh obat.

Hubungan dosis dengan intensitas efek dalam keadaan sesungguhnya tidaklah sederhana karena banyak obat bekerja secara kompleks dalam menghasilkan efek, Efek antihipertensi misalnya, merupakan kombinasi efek obat terhadap jantung, vascular dan sistem saraf.

2. RESEPTOR OBAT

2. RESEPTOR OBAT

2. RESEPTOR OBAT

2. RESEPTOR OBAT

2. RESEPTOR OBAT

2. RESEPTOR OBAT

3. EFEK TERAPEUTIK OBAT

Tidak semua obat bersifat betul-betul menyembuhkan penyakit, banyak diantaranya hanya meniadakan atau meringankan gejala-

gejalanya, sehingga dapat dibedakan ada 3 jenis pengobatan,

yaitu :

1)

Terapi kausal

; yaitu meniadakan penyebab penyakit,

khususnya dalam pemusnahan kuman atau parasit. (Contoh ; Antibiotik )

2)

Terapi Simtomatis ; yaitu hanya menghilangkan atau mengurangi gejala penyakit, sebabnya yang lebih mendalam tidak dipengaruhi. (Contoh ; Analgetik)

3)

Terapi Substitusi

; yaitu obat menggantikan zat yang

lazimnya dibuat oleh organ yang sakit. (Contoh ; Insulin)

4. EFEK-EFEK OBAT YANG TIDAK DIINGINKAN

a. Efek Samping Efek samping suatu obat adalah segala sesuatu khasiat obat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksud pada dosis yang dianjurkan. Contoh ; mual, muntah, ngantuk dll.

b. Alergi

Alergi berarti “berlaku berlainan” dan mungkin didasarkan suatu

kelainan pada sistem imun tubuh yang berfungsi untuk melindungi

organisme dari zat-zat asing yang masuk ke tubuh.

Reaksi Alergi ; 1). Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulangkali ke dalam aliran darah seseorang yang hipersensitif (faktor keturunan), maka B-Cell akan membentuk antibodi (IgE) dan mengikatkan diri pada mastcell.

4. EFEK-EFEK OBAT YANG TIDAK DIINGINKAN

Reaksi Alergi ;

1).

Bila suatu protein asing (antigen) masuk berulangkali ke dalam aliran darah seseorang yang hipersensitif (faktor keturunan), maka B-Cell akan membentuk antibodi (IgE) dan mengikatkan

diri pada mastcell.

2)

Bila antigen yang sama masuk lagi ke dalam tubuh maka terjadilah penggabungan antigen-antibodi sehingga dapat menyebabkan pecahnya mastcell dan membebaskan histamin.

Alergi silang dapat terjadi antara zat dengan struktur kimia yang hampir sama, misalnya sulfonamide dengan turunannya, penisilin dan turunannya, dll.

5. EFEK TOKSIK

Pada umumnya efek toksik obat berhubungan langsung dengan tingginya dosis, karena setiap obat dalam dosis yang cukup tinggi

dapat menimbulkan efek toksik.

Efek teratogen ; adalah efek obat yang pada dosis terapeutik untuk ibu mengakibatkan cacat pada janin.

Kerusakan paling hebat terjadi pada masa hamil muda, yaitu pada 12 minggu permulaan kehamilan (mingguke 3 - ke 8), karena pada masa ini terbentuk organ-organ tubuh seperti kaki, tangan dan organ-organ penting lainnya.

Obat yang dicurigai mempunyai efek teratogenik antara

lain ;

gol. barbital, amfetamin, asetosal, sulfonamid, dll.

6. TOLERANSI, HABITUASI, DAN ADIKSI

Toleransi ; adalah peristiwa dimana dosis obat harus dinaikan terus menerus untuk mencapai efek terapeutik yang sama.

Habituasi ; adalah toleransi obat akibat seringnya minum obat tertentu (Faktor kebiasaan).

Adiksi

; adalah gejala ketagihan obat dimana pasien

ingin

menggunakan terus obat tersebut.

Contoh ; morfin, heroin, kokain, dll.

7. KOMBINASI OBAT

Dua obat yang digunakan pada waktu bersamaan dapat saling mempengaruhi kerjanya masing-masing, yaitu :

  • a. Antagonisme ; yaitu kegiatan obat pertama dikurangi

atau ditiadakan sama sekali oleh obat kedua yang memiliki efek

farmakologi yang bertentangan.

  • b. Sinergisme ; yaitu kerjasama antara dua obat, ada 2 jenis sinergisme, yaitu :

1)

Adisi atau Sumasi ; yaitu efek kombinasi adalah sama

dengan jumlah kegiatan dari masing-masing obat. Contoh ; Asetosal dengan Parasetamol.

2)

Potensiasi, yaitu kegiatan obat pertama diperkuat

oleh obat kedua atau sebaliknya. Contoh ; Estrogen

dengan Progesteron, Sulfametoksazol dengan

Trimetoprim.

.

SELESAI