Anda di halaman 1dari 14

HAM DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Dosen : MUHAMMAD IHSANUL ARIEF, M.Ag


KELOMPOK: 4 KELAS A

Disusun oleh :
SIFANI LULU NISFINAHARI
(1710115220023)
MUHAMMAD ARIFIN
(1710115110012)
PENGERTIAN HAM
 Adalah hak dasar seseorang seperti hak hidup dan hak mendapatkan
perlindungan. Dan hak-hak tersebut telah dimiliki oleh setiap orang sejak
dia di dalam kandungan atau setelah dia dilahirkan.
SEJARAH HAM
 HAM adalah konsep yang lahir pada abad 17-18 dan
perkembangannya dilakukan oleh Eropa dan Amerika tapi
secara nyata kita dapat melacaknya hingga tradisi luhur zaman
dahulu dan tetap bertahan sampai saat ini di Negara kita
Indonesia.
LATAR BELAKANG HAM
 Manusia dasarnya berasal dari satu ayah dan satu ibu, kemudian
menyebar ke penjuru dunia, membentuk berbagai macam suku dan
bangsa serta bahasa dan kulit yang berbeda. Untuk Karena itu
manusia dikatakan dalam islam adalah “ummatun wahidatun”.

 Dari ajaran dasar persaudaraan, persamaan dan kebebasan ini pula


timbul manusia lainnya. Seperti kebebasan dari rasa takut,
menyalurkan aspirasinya , bergerak dan kebebasan dari
penganiayaan dan penyiksaan. Hal ini mencakup semua dari apa
yang disebut hak-hak asasi manusia seperti hak hidup, hak harta,
hak berfikir, hak berbicara dan beraspirasi, mendapat pekerjaan, dll.
Manusia bebas melakukan sesuatu asalkan tidak melanggar norma
dan hukum, bebas dari tekanan dan paksaan orang lain.
PERSPEKTIF ISLAM DALAM HAM
1. HAM SEBAGAI TUNTUTAN 2. PERIMBANGAN ANTARA HAK
FITRAH MANUSIA INDIVIDU DAN MASYARAKAT

 Manusia memikul  Di dalam islam tidak


mengenal adanya
beban dan tanggung kepemilikan mutlak
jawab individu di pada manusia. Oleh
hadapan Tuhan-Nya karena itu, di dalam
syariat islam apabila
kelak. Tanpa harus disebutkan hak Allah,
melimpahkannya maka yang dimaksud
kepada orang lain. adalah hak masyarakat
atau hak umum.
DASAR HAM DALAM AL-QUR’AN
 Berekspresi dan mengeluarkan pendapat.
 Hak kebebasan memilih agama.
 Hak dan kesempatan yang sama memperoleh kesejahteraan
sosial.
PERBEDAAN PRINSIP KONSEP HAM
DALAM ISLAM DAN BARAT
ISLAM BARAT

 Hak-hak asasi manusia  Hak Asasi Manusia


ditilik dari sudut menurut pemikiran
pandangan Islam Barat semata-mata
bersifat teosentris, bersifat antroposentris,
artinya Tuhan menjadi artinya manusia
pusat dari segala menjadi pusat dari
sesuatu. Dengan segala sesuatu. Dengan
demikian, Tuhan demikian, manusia
menjadi peran penting sangat dipentingkan
PRINSIP HAM DALAM AL-QUR’AN
DAN AL-SUNNAH
1. Prinsip martabat manusia (kedudukan (martabat)) yang tinggi.
Kemudian martabat yang dimiliki manusia itu sama sekali tidak
ada pada makhluk lain).
2. Prinsip Kebebasan Menyatakan Pendapat (manusia sesuai dengan
martabat dan fitrahnya sebagai makhluk yang berfikir mempunyai
hak untuk menyatakan pendapatnya dengan bebas, asal tidak
bertentangan dengan prinsip Islam dan tentu saja dapat
dipertanggung jawabkan).
3. Prinsip Kebebasan Beragama (manusia sepenuhnya mempunyai
kebebasan untuk memilih suatu keyakinan atau akidah agamanya.
Agama Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan beragama.
4. Prinsip Atas Hak Jaminan Sosial (Kehidupan fakir miskin harus
diperhatikan oleh masyarakat, terutama oleh mereka yang termasuk
kaum berada. Dalam Al Qur’an juga disebutkan dengan jelas
perintah bagi umat Islam untuk melaksanakan zakat kepada pihak-
pihak yang lebih membutuhkannya).

5. Prinsip Hak Atas Harta Benda (Sesuai dengan harkat martabat,


jaminan dan perlindungan pada hak milik seseorang merupakan
kewajiban penguasa. Oleh karena itu, siapapun juga bahkan
penguasa sekalipun, tidak diperbolehkan merampas hak milik orang
lain).

6. Prinsip Persamaan (Pada dasarnya semua manusia sama, karena


semuanya adalah hamba Allah. Hanya satu kriteria yang dapat
membuat tolak ukur seseorang manusia lebih tinggi derajatnya dari
yang lain, yakni ketaqwaannya ).
PENGERTIAN DEMOKRASI
 Demokrasi adalah bentuk pemerintahan atau ideology
politik di mana semua warga negaranya memiliki hak setara
dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup
mereka.
 Kata ini berasal dari bahasa Yunani (dēmokratía)
"kekuasaan rakyat", sedangkan kalau diartikan demokrasi
berarti kekuasaan oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat
dengan kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat.
ASAL USUL DEMOKRASI
 Sebelum istilah demokrasi ditemukan oleh penduduk Yunani,
bentuk sederhana dari demokrasi telah ditemukan sejak 4000
SM di Mesopotamia. Ketika itu, bangsa Sumeria memiliki
beberapa negara kota yang independen. Di setiap negara kota
tersebut para rakyat seringkali berkumpul untuk
mendiskusikan suatu permasalahan dan keputusan pun
diambil berdasarkan konsensus atau mufakat.
BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG
DEMOKRASI
 Dalam penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka
konseptual islam, banyak perhatian diberikan pada beberapa
aspek khusus dari ranah sosial dan politik. Demokrasi islam
dianggap sebagai sistem yang mengukuhkan konsep-konsep
Islami yang sudah lama berakar, yaitu musyawarah (syura),
persetujuan (ijma’), dan penilaian interpretative yang mandiri
(ijtihad).
PRINSIP DEMOKRASI
1. SYURA(Merupakan suatu prinsip tentang cara pengambilan keputusan
yang secara tidak tersembunyi atau jelas).
2. Al-‘adalah (Adalah keadilan, artinya dalam menegakkan hukum termasuk
rekrutmen dalam berbagai jabatan pemerintahan harus dilakukan secara adil
dan bijaksana)
3. Al-Musawah (Adalah kesejajaran, artinya tidak ada pihak yang merasa
lebih tinggi dari yang lain sehingga dapat memaksakan kehendaknya).
4. Al-Amanah (Adalah sikap pemenuhan kepercayaan yang diberikan
seseorang kepada orang lain. Oleh sebab itu kepercayaan atau amanah
tersebut harus dijaga dengan baik).
5. Al-Masuliyyah (Adalah tanggung jawab. Sebagaimana kita ketahui bahwa,
kekuasaan dan jabatan itu adalah amanah yangh harus diwaspadai, bukan
nikmat yang harus disyukuri, maka rasa tanggung jawab bagi seorang
pemimpin atau penguasa harus dipenuhi)
6. Al-Hurriyyah (Adalah kebebasan, artinya bahwa setiap orang, setiap
warga masyarakat diberi hak dan kebebasan untuk mengeksperesikan
pendapatnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan cara yang bijak dan
memperhatikan al-akhlaq al-karimah dan dalam rangka al-amr bi-‘l-
ma’ruf wa an-nahy ‘an al-‘munkar, maka tidak ada alasan bagi penguasa
untuk mencegahnya).