Anda di halaman 1dari 23

DIMENSI

TINDAKAN

NAMA KELOMPOK 6 :
1. Khansa Salsabila W.U.W (16-106)
2. Sri Rahyuning M. (16-109)
3. Agel Dinda Trianugraha (16-201)
4. Indah Listyawati (16-223)
DEFINISI

Dimensi tindakan berorientasi kepada


tindakan untuk memfasilitasi hubungan
interpersonal antara perawat-klien yaitu
konfrontasi, kesegeraan, keterbukaan
/pengungkapan diri, katarsis, dan bermain
peran (Stuart, 2013).
1. KONFRONTASI

A. Konfrontasi Adalah ekspresi perasaan


perawat yang identik dengan pelampiasan
kemarahan yang tampak sebagai perilaku
yang agresif. Akan tetapi konfrontasi dalam
dimensi tindakan terapeutik merupakan
tindakan yang tegas dan agresif (Stuart,
2013).
B. Konfrontasi juga dapat diartikan sebagai
bentuk upaya perawat untuk membantu
klien menyadari adanya ketidaksesuaian
perasaan, sikap, serta tingah lakunya
(Stuart, 2013).
Kategori konfrontasi (Carkhoff, 1969 dalam
Struart, 2013):
1. Ketidaksesuaian antara konsep tentang
diri pasien (ekspresi) dan ideal diri pasien
(keinginan)
2. Ketidaksesuaian antara ekspresi verbal
dan perilaku pasien
3. Ketidaksesuaian antara pengalaman yang
diekspresikan klien sendiri dengan
pengalaman perawat tentang klien
• Tingkat trust (kepercayaan)
• Waktu yang tepat: orientasi
tidak boleh berlebihan
D. Hal yang perlu • Tingkat stress klien
dikaji sebelum • Kekuatan mekanisme
melakukan pertahanan klien
konfrontasi (Stuart, • Perasaan klien akan
2013). kebutuhan ruang
personal/kedekatan
• Toleransi dan kemampuan
klien mendengarkan
pendapat yang berbeda
darinya
E. Kapan dilakukan
konfrontasi???
Menurut Stuart 2013
1. Tingkah laku klien tidak produktif (tidak
bermanfaat bagi diri sendiri dan
lingkungan)
2. Tingkah laku klien merusak (merugikan diri
sendiri maupun orang lain)
3. Ketika klien melanggar hak orang lain
(memberikan keputusan sepihak/bertindak
semena-mena terhadap orang lain)
Clarify : membuat sesuatu lebih jelas untuk dimengerti
Mencegah perawat memiliki asumsi yang lain
terkait apa yang
disampaikan pasien (DeLaune, C dan Ladner, K,
2002)
Articulate : dapat mengekspresikan opini mengenai diri sendiri
dengan kata- kata yang jelas
Request : permintaan.
Encourage : memberikan support, harapan, kepercayaan.

(Stuart, 2013)

F. Bagaimana cara
melakukan konfrontasi???
KASUS

• Diruang inap ada seorang pasien yang tengah


dijenguk oleh keluarganya. Kehadiran keluarga pasien
membuat gaduh sehingga pasien merasa tidak
nyaman, dan tidak bisa beristirahat. Perawat merasa
harus memberitahu keluarga pasien untuk segera
meninggalkan ruangan agar pasien bisa beristirahat.
Clarify : “kehadiran anda sekeluarga
telah membuat gaduh di
BAGAIMANA ruangan ini”
SEHARUSNYA Articulate : “hal tersebut membuat
pasien menjadi tidak
DALAM nyaman dan tidak
MELAKUKAN bisa beristirahat”
Request : “sebaiknya anda sekeluarga
KONFRONTASI lebih mengecilkan suara
??? atau jika tidak ada perlu lagi
bisa meninggalkan ruangan”
Encourage : “dengan begitu pasien bisa
beristirahat dengan nyaman,
sehingga pasien bisa sembuh
lebih cepat”
2.
K Kesegeraan adalah Kesegeraan atau
Immediacy adalah bagian dari dimensi
E tindakan yang berfokus pada hubungan
S interaksi antara pasien dan perawat
E Immediacy adalah sensitifitas atau
G kepekaan perawat terhadap perasaan
pasien dan kemauan perawat untuk
E mengatasi perasaan pasien dari pada
R mengabaikannya.
A Kesegeraan berarti perawat peka terhadap
A perasaan dan permasalahan klien
N
2.  Ex:
Perawat : “Ibu, kenapa terlihat sangat lemas?
K Pasien : “Begini mbak, saya merasa mual-mual dari kemarin”
Perawat : “Apakah ibu sekarang masih merasa mual-mual?”
E (KESEGERAAN)
Pasien : “Iya mbak, saya masih mual-mual, tapi tidak separah
S seperti kemarin”
E Perawat :” Apakah obat dari perawat shif pagi telah ibu
minum?”
G (KESEGERAAN)
Pasien :”Iya mbak sudah.”
E Perawat :”itu sudah bagus buk, tapi selain
minum obat ibu
R harus lebih sering minum air agar ibu tidak
kekurangan cairan dan tidak lemas seperti
A sekarang.” (KESEGERAAN)
Pasien :”Iya mbak.”
A
N
3. KETERBUKAAN/
PENGUNGKAPAN DIRI

Keterbukaan/pengungkapan
diri, merupakan pernyataan pribadi
suatu perawat yang sengaja diungkapkan
kepada pasien (Stuart, 2013).
B. Kriteria membuka
diri

1. Untuk menjadi model dan mendidik


2. Untuk memvalidasi kenyataan
3. Untuk mendorong otonomi pasien
4. Untuk membantu perkembangan terapeutik

(Stuart, 2013).
PANDUAN YANG DIGUNAKAN UNTUK
MENGEVALUASI MEMBUKA DIRI
1. Kerjasama
2. Belajar
3. Catharsis
4. Dukungan

(Stuart, 2013)
KASUS
Seorang pasien dirawat diruang inap, ia bernama
Clara. Clara telah dirawat 2 minggu yang tidak
kunjung sembuh, namun teman Clara yang juga
dirawat telah pulang dari rumah sakit karena teman
Clara mematuhi perawat dan teratur dalam minum
obat sedangkan perilaku Clara tidak seperti
temannya.
Perawat : “Bagaimana keadaannya dek Clara?”
Pasien : “Saya ingin cepat pulang sus. “Saya sudah tidak
betah di RS ini. Obatnya pahit dan makanan disini
tidak ada yang membuat saya selera makan”.
Perawat : “Begitu ya dek Clara. Dek Clara tau anak
BAGAIMANA perempuan yang di rawat di sebelah ranjang adek?
CARA Namanya Rina, dia selalu nurut untuk makan dan
MEMBUKA minum obat, dan sekarang Dek Rina telah pulang.”
DIRI (Membuka Diri)
???
Pasien : “ Baik sus, saya akan teratur minum obat, makan dan
mendengarkan kata-kata dari suster.”
4. KATARSIS

• Katarsis mendorong pasien untuk menceritakan perasaannya


sampai pasien mangalami ketakutan terhadap apa yang
dialaminya sehingga perawat dapat memeriksanya dan pasien
dapat mendiskusikan hal tersebut dengan perawat. Ekspresi
perasaan bisa sangat terapeutik dalam dirinya sendiri
walaupun perubahan perilaku tidak terjadi (Stuart, 2013).
Perawat : “Bapak, kenapa sejak kemarin bapak sering menyediri
disekitar taman?”
Pasien : “Tidak apa-apa mbak, saya hanya ingin mencari udara
segar.”
CONTOH KASUS Perawat : “Kenapa bapak tidak menghidupkan kipas angin atau
Ac saja?
Pasien laki-laki berumur Pasien : “Begini mbak saya merasa sedih jika dikamar terus
30 tahun yang setiap dan kalau melihat bintang saya merasa lebih tenang.”
malam selalu Perawat : “Begitu ya bapak, bapak merasa sedih jika dikamar.
menyendiri di taman Apakah di kamar tidak ada keluarga bapak yang
rumah sakit dan beliau menemani bapak.”
telah kehilang istrinya.
Pasien : “ Saya sudah tidak memiliki keluarga lagi.” (pasien
sambil meneteskan air mata).
Perawat : “ Memangnya istri bapak kemana kok bapak
bilang tidak punya keluarga lagi? (KATARSIS)
Pasien : “ Seminggu yang lalu istri saya meninggal dunia.”
Perawat: “Kalau boleh saya tau istri bapak meninggal kerena
apa?” (KATARSIS)
Pasien : “Itu lo mbak saudara saya yang dulu pernah suka dengan istri
saya tega membunuh istri saya mbak jadi sekaramg saya
merasa kesepian sekali mana saya tidak dijengk oleh
keluarga saya dan istri saya yang selalu menemani saya
telah meninggal dunia.”
(Pasien menagis).
Perawat : “Saya turut berduka cita pak. Atas meninggalnya istri bapak.”
.
5. Bermain
peran
Bermain peran merupakan salah satu komponen dari dimensi
tindakan yang melibatkan tindakan dalam situasi tertentu.
Bermain peran ini, dapat meningkatkan wawasan pasien
terhadap hubungan antar individu dan dapat memperdalam
kemampuan pasien untuk melihat situasi dari sudut pandang
orang lain (Stuart, 2013).
TAHAPAN

langkah-langkah sebagai berikut: (Stuart, 2013).

1. Menjelaskan masalah
2. Menciptakan kesiapan untuk bermain peran
3. Menciptakan situasi
4. Membuat karakter
5. Pengarahan dan pemanasan
6. Tindakan
7. Pemberhentian
8. Analisis dan diskusi
9. Evaluasi
DeLaune, C, S. dan P. Ladner, K. 2002. Fundamentals of Nursing
Standards & Practice. Edisi 2. Delmar.

DAFTAR Stuart, G.W. (2013). Principles and practice of psychiatric nursing 10th
edition. Missouri: Elsevier Mosby.
PUSTAKA
TERIMA
KASIH...

Anda mungkin juga menyukai