Anda di halaman 1dari 47

TEKNIK TEGANGAN

TINGGI

PEMBANGKITAN & PENGUKURAN


TEGANGAN TINGGI IMPULS

YOHANNES M.SIMANJUNTAK

LABORATORIUM TEGANGAN TINGGI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PEMBANGKITAN
TEGANGAN TINGGI IMPULS
Umum
 Adanya gangguan tegangan lebih luar yang
disebabkan oleh pelepasan muatan petir.
 Mempunyai bentuk gelombang aperiodik yang
diredam, seperti pelepasan muatan kapasitor
melalui tahanan yang induktif
 Bentuk Gel: berekor pendek bermuka curam.
 Merupakan gelombang berjalan (Traveling Wave)
 Selama gelombang ini berjalan melalui kawat
transmisi bentuknya berubah : Mukanya menjadi
kurang curam dan ekornya bertambah panjang,
amplitudonya berkurang.
 Berfungsi untuk eksperimen dan riset mengenai
ketahanan peralatan terhadap gelombang petir.
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Bentuk Tegangan Impuls
 Bentuk Gelombang Naik dalam waktu singkat
dengan penurunan yang lambat.
 Bentuk Gelombang :

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Contoh Bentuk Tegangan Impuls

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Tegangan Uji Impuls Standar

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Diagram Dasar Rangkaian Pembangkit Tegangan
Impuls

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Pengaturan Bentuk gelombang
o Kebutuhan bentuk gelombang, diperoleh melalui

pengaturan R1 dan R2
o Waktu muka gelombang t1 = Ts

o Untuk peluahan atau waktu ekor, C1 dan C2


dapat diparalel, dan peluahan terjadi melalui R1
dan R2
o Waktu ekor gelombang, t2 = Tr

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Pengaruh Pada Induktansi dan Tahanan Seri
o Pengaruh induktansi menyebabkan osilasi muka

dan ekor gelombang

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Raiangkaian Pengali Marx
n = 3 tingkat, hubungan rangkaian (c)

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Prinsip Kerja:
 Kapasitor C diberi muatan dari sumber DC
melalui tahanan pemuat r.
 Percikan api (spark over) antara sela api G
terjadi pada waktu tegangan pemuat V mencapai
suatu harga tertentu.
 Pada waktu itu muatan pada C dilepaskan
(discharges) melalui tahanan seri Rs, induktansi
L, dan tahanan R0. Tegangan impuls terjadi
diantara terminal tahanan Ro.
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Note:
o Tahanan Rs bertindak sebagai tahanan peredam
(damping resistor) untuk menghindari osilasi
frekuensi tinggi

o Ro dipakai untuk mengatur bentuk ekor


gelombang

o L bersama Ro dipakai mengatur muka


gelombang.

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Pembangkit Impuls

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Persamaan Dasar Rankaian RLC
 Bila C(2r)>>CR dimana R=Ro+Rs
maka :
di 1 t
L  Ri   idt  V
dt C 0
d 2i di 1
L 2 R  i0
dt dt C
 Penyelesaiannya :
maka:
i  Ae pt
di
 Ape pt
dt
d 2i
2
 Ap 2 pt
e
dt
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Maka :
d 2i di 1
L R  i0
dt dt C
 2 pt
L Ap e   R Ape 
pt 1
 
 Ae pt  0
C
 
L p 2  R p  
1
C
1  0
1
Lp 2  Rp  0
C

Dengan rumus ABC didapatkan :


p  1   2
2
R R 1
p    
2 L  2 L  LC
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
 Maka didapatkan penyelesaian di
umum : L V
dt
di V
i  A1e 1t  A2e  2t 
dt L
 Dimana A1 dan A2 adalah konstanta V
integral yang dapat ditentukan dari A1 (1 )e 1t  A2 ( 2 )e  2t 
L
kondisi permulaan  pada saat t=0
V
maka akan didapat : A1 (1 )e 1 ( 0)  A2 ( 2 )e  2 ( 0 ) 
 i=0
L
V
 L di/dt=V  1 A1  ( 2 ) A2 
L
V
 1 A1  ( 2 )( A1 ) 
i0 L
V
i  A1e 1t  A2 e  2t  1 A1   2 A1 
L
0  A1e 1 ( 0 )  A2 e  2 ( 0 ) A1 (1   2 ) 
V
L
0  A1  A2 V 1 V 1
A1  
A1   A2 L (1   2 ) L ( 2  1 )
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
 Karena : 2
R  R  1 
1       
2 L  2 L   LC 
2
R  R  1 
2       
2 L  2 L   LC 
2 2
R  R  1  R  R  1 
1   2             
2 L  2 L   LC  2 L  2 L   LC 
R R R
1   2   
2L 2L L
R
L
1   2
 Maka :
V 1
A1 
L ( 2  1 )
V 1
A1 
R ( 2  1 )
( 2  1 )
V ( 2  1 )
TEKNIK TEGANGAN TINGGI A1 
R ( 2  1 )
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
V 1 V ( 2  1 )
A1   A2   jika
L ( 2  1 ) R ( 2  1 )
 2  1
karena : A Ro
R
i  A1e 1t  A2 e  2t maka
maka : v V
A
 2  1
 e 1t  e  2t 
V ( 2  1 ) 1t V ( 2  1 )  2t
i e  e jika
R ( 2  1 ) R ( 2  1 )
A
V ( 2  1 ) 1t  2t K V
i (e  e )  2  1
R ( 2  1 ) maka
Tegangan Impuls : 
v  K e 1t  e  2t 
maka
v  iRo
A   1 Ro
V   2  1  1t  2t K V  2 V
v   e e
R   2  1 

Ro  2  1  2  1 R

 Ro 
 ( 2  1 )  1 dan 2 adalah
v V 
R
 2  1

 e 1t  e  2t  positip dan riil.
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Analisa Persamaan Impuls RLC

 Dalam praktek harga yang harus ditentukan


adalah panjangnya :
 Muka Gelombang
 Ekor Gelombang

 Maka yang harus dicari adalah harga :


 1 dan 2
 L dan R
 L dan C
 R dan C

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Utk menentukan 1 dan 2 perlu 2 persamaan :
 Yang menyatakanTf adalah titik maksimum, yaitu pada waktu dv/dt=0.

V  K (e 1t  e  2 t )
karena
dv
 0
dt
maka
V  K (e 1t  e  2 t )
dv
 K (  1e 1t   2 e  2 t )
dt
0  K (  1e 1t   2 e  2 t )
1e  t   2 e  t
1 2

ln( 1e  t )  ln( 2 e  t )
1 2

ln( 1 )  (  1T f )  ln( 2 )  (  2T f )
  1T f   2T f  ln( 2 )  ln( 1 )
 1 
 T f ( 1   2 )  ln 
 

 2 
1  2 
Tf   ln 
  

TEKNIK TEGANGAN TINGGI ( 1 2 )  1 
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Yang menyatakan bahwa tegangan impulsnya
menurun menjadi setengahnya pada waktu T t :

 T  T
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e 1 f  e 2 f )
2
• Secara teoritis, 1 dan 2 dapat dicari dari 2
persamaan diatas bila Tf dan Tt diketahui
• Oleh karena penyelesaiannya agak sulit
maka digunakan penyederhanaan berikut :
 2  1
Tt  T f
maka
e 1Tt  e  2Tt
Tt
karenak  jadi
Tf
 T  T
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e 1 f  e 2 f )
2
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
 kT  T  T
YOHANNES (e 1 f  0)  1 e 1 f  1 e 2 f
M.SIMANJUNTAK 2 2
1  1  1 
1k ln 2 1 ln 2  2 ln 2
e 1  2 1
 1 e 1  2 1
 1 e 1  2 1
2 2
 1k  1  2 
 ln 2  ln 2  ln 2
e 1  2 1
 1 e 1  2 1
 1 e 1  2 1
2 2
jika
2
 
1
maka
 1k  1  2 
 ln 2  ln 2  ln 2
e 1  2 1
 1 e 1  2 1
 1 e 1  2 1
2 2
1 1 2
k
1  1  1 
 ln 2  ln 2  ln 2
1  2 1 1  2 1 1  2 1
  
e 1 1
 1 e 1 1
 1 e 1 1
2 2
k 1 
ln  ln  1 
ln 

e 1 
 1 e 1 
 1 e
2 2
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Dari persamaan tsb dpt
ditarik sebuah lengkung
menghubungkan k dgn 
Jadi untuk tiap bentuk
gelombang dimana Tf dan
Tt diberikan maka k dan 
dapat dihitung

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Selanjutnya bila,
1    
2    
1   2              2
1   2              2
1    1
Tf  ln
   
  ln 
2   2
1
  ln 
2T f
dan
2  
  
2  
        
      
 (   1)    
 (   1)   (   1)
 1
  
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
 1
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
o Jadi bila Tf dan Tt diketahui maka k dapat
dihitung.
o Dari gambar dapat diukur ln , sehingga 
dapat dihitung.
o Setelah itu  dapat dicari.
o Sehingga 1 dan 2 dapat ditentukan.
o Apabila ketelitian yang lebih tinggi
dikehendaki, maka dipakai cara analitis
sebagai berikut :

e 1Tt  e  2Tt
1kT f  2 kT f
e  e
 (   ) kT f  (   ) kT f
e  e
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
1T f   2T f
(e 1Tt  e  2Tt )  1 (e e )
2
karena
e  2Tt  0
maka
 T  T
e 1Tt  1 (e 1 f  e 2 f )
2
 (  ) kT f  (   ) T f  (   )T f
e  1 (e e )
2
dibagi
 (   ) T f
e
maka
 (  ) kT f  (  )T f  (  )T f  (  )T f  (  )T f  (  )T f
e  1 (e e )
2
 (  )( k 1)T f  2T f
e  1 (1  e )
2
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
1
2

2T 
 (   )(k  1)T f  ln 1  e f 


1  1  e 2T f  Catatan :
(   )  ln 

(k  1)T f  2  •Kesalahan kira-kira 2%.
1  2  •Dengan trial and error
(   )  ln 2T f  maka  dan  dapat
(k  1)T f  1  e 
dicari.
jika
 2T f
•Dan dengan cara yang
2T f  4  e  0.01832 sama pula 1 dan 2
1 0.693 dapat ditentukan.
(   )  ln 2 
(k  1)T f (k  1)T f

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Harga beberapa macam bentuk gelombang
Bentuk Gelombang   2 - 2 LC RC
1 x 40 2.768 2.75 0.1 21.7 54.5
1 x 50 3.044 3.029 0.0862 11.6 70.6
1.5 x 40 1.766 1.757 0.0642 15.6 55.4

2 1
R  R  1   2  2
 1   2       LC
2L  2L  LC
 C  2   2 
1
 1   2     L
R 1
  L 
2L C  2   2 
2 dan
 R  1 1
      2 R
 2 L  LC LC  
2L
lalu
2
R   2L 
1 C  2
 2

    2

LC
1 L=µH
2 2  C= µF
LC
R=
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Efisiensi Tegangan
Vmax
 Effesiensi tegangan : V 
V
 Untuk Sirkuit RLC :

 1 2

  2  1  Ro   2  2 1   2  2 1 
 
   
V      
 2  1  R  1   1  
 
khusus
T f  Tt  1 40
maka
Ro
V  0.972
Ro  Rs

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Cara memberi muatan

 Generator impuls 1 tahap tidak dapat


menghasilkan tegangan yang terlalu tinggi

 Untuk menaikan tingkat tegangan maka


dipakailah generator impul multi tahap (multi-
stage generator)

 Prinsip kerjanya adalah : Kapasitor dalam


setiap tahap diberi muatan secara paralel dan
dilepaskan muatannya secara seri melalui
sela api (spark-gaps)

 Cara pemberian muatan ada 2 cara :


 Secara Seri
 Secara Paralel
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Pemberian muatan secara seri

 Tahanan pemuatnya semua dihubungkan secara seri


 Tiga sela bola dalam tahap yang terendah dipakai untuk
memudahkan lompatan api diantara sela seri

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Pemberian muatan secara paralel

 Tahanan pemuat dihubungkan secara paralel


 Kerugian dari rangkaian paralel dibanding
rangkaian seri adalah bahwa tiap tahanan pemuat
harus diisolasikan terhadap seluruh tegangan
pemuat

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
Cara Mulai dan Mengatur Tegangan

 Ada 2 cara pengaturan :


 Pelepasan terjadi secara spontan
 Pelepasan buatan dengan bantuan sela
khusus

 Untuk pengoperasian yang simultan antara


Generator Impuls dan alat pencatat, maka
diperlukan suatu sela mulai yang dapat
dilepaskan dengan isyarat/cara listrik

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
 Gambar sela mulai dgn sela jarum ditengahnya
 Apabila sebuah pulsa sampai pada jarum, maka medan
pada sela utama berubah, sehingga terjadi percikan
api pada tegangan yang lebih rendah daripada
tegangan yang seharusnya.
 Guna tabung gelas untuk mempercepat terjadinya
korona.
 Tegangan utk memulai percikan adalah 5-10 kV.

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
PENGUKURAN
TEGANGAN TINGGI IMPULS

Menggunakan Sela Bola


 Sela bola sering digunakan untuk mengukur
tegangan impuls
 Sela bola harus selalu ditera dengan tegangan
percik 50% (disingkat 50% sparkover, SOV) dari
sela bola standar
 Sela bola standar adalah sela bola yang
memenuhi syarat standar mengenai :
 Jarak sela
 Ukuran bola
 Dalam keadaan udara tertentu, sela bola selalu
mempunyai tegangan percik tertentu pula.
Itulah sebabnya sela bola dapat dipakai sebagai
alat ukur.
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
 Untuk menetapkan 50% SOV dapat ditentukan
dengan 2 cara :
 Interpolasi
 Cara naik dan turun (Up-and-Down Method),
lebih umum digunakan. Prosesnya yaitu:
 Cara naik dan turun (Up-and-Down Method).

Mula-mula tegangan puncak dari percikan


minimum diterapkan pada sela.
 Apabila percikan terjadi, tegangan di turunkan

setingkat
 Tegangan ini diterapkan lagi, kalau masih ada

percikan tegangan diturunkan lagi. Apabila


tidak tegangan dinaikkan
 Prosedure ini diulang sampai 30 – 50 kali

TEKNIK TEGANGAN TINGGI


YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
 Besarnya 50 % SOV adalah :

Vs=Vmin+(Vi-Vi-1)(A/N + ½)
 Vmin= tegangan yang terjadi pada tanda X yang
terendah
 Vi =tegangan pada tingkat I (tertinggi)
 Dari tabel didapat
Vs=28+(32-31)(29/20 + ½)= 29.95 kV

 Bila tanda “O”, maka rumus yang dipakai berubah


menjadi :
V*s =V* min+(Vi-Vi-1)(A/N - ½)

 Jika titik yg diambil cukup banyak maka Vs= V*s


TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI
YOHANNES
M.SIMANJUNTAK
TEKNIK TEGANGAN TINGGI

PEMBANGKITAN &PENGUKURAN
TEGANGAN TINGGI IMPULS