Anda di halaman 1dari 47

HERNIA NUKLEUS PULPOSUS (HNP)

WIDIA WANDAN MUNARTI


PO714241151047
III.A FISIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATN KEMENTRIAN KESEHATAN


MAKASSAR
T.A 2017/2018
ANATOMI VERTEBRA LUMBAL
• Struktur Columna Vrtebralis
Columna vertebralis terdiri dari 33 tulang
vertebra yang membentuk kurva dan secara struktural
terbagi atas 5 regio. Dari superior ke inferior, mulai
dari 7 segmen vertebra cervical, 12 segmen vertebra
thoracal, 5 segmen vertebra lumbal, 5 vertebra sacral
yang menyatu dan 4 vertebra coccygeus yang
menyatu. Karena terdapat perbedaan struktural dan
adanya sejumlah costa, maka besarnya gerakan yang
dihasilkan juga beragam antara vertebra yang
berdekatan pada regio cervical, thoracal, dan lumbal.
• Struktur Vertebra Lumbal
• Corpusnya besar, tebal dan berbentuk oval.
• Mempunyai pedikel yang pendek dan tebal.
Ciri-ciri • Foramen intervertebralisnya kecil dan bentuknya menyerupai segitiga.
vertebra • Processus spinosusnya tebal dan luas serta arahnya agak hori3ontal.
lumbalis • Processus transversusnya panjang

OTOT-OTOT PADA LUMBAL

Otot yang berperan Otot yang berperan Otot yang berperan Otot yang berperan
sebagai ekstensi sebagai fleksi lumbal sebagai lateral fleksi sebagai rotasi lumbal
lumbal adalah adalah lumbal adalah : adalah :

M. Quadratus M. Eksternal
M.quadratus M.quadratus
Lumborum ipsilateral Oblique
lumborum lumborum
contralateral
M. Longissimus
M.psoas mayor dan ipsilateral M. Internal
M. Sacrospinalis
minor Oblique ipsilateral
M. Iliocsotalis
ipsilateral
M. M. Multifidus
M. abdominis dan
Intertransversari M. Spinalis contaralateral
ipsilateral.
Otot yang berperan M. Rotatores
M. interspinalis M. intertransversarii
sebagai rotasi l contralateral
Ligament-ligamen pada vertebra
Fisiologi Vertebra Lumbalis
• Penyangga tubuh bagian atas dengan perantaraan tulang rawan yaitu diskus
intervertebralis yag lengkungannya dapat memberikan fleksibilitas yang
dapat memugkinkan membungkuk ke arah depan (fleksi) dan kearah
belakang (ekstensi), miring ke kiri dan ke kanan pada vertebra lumbalis.
• Diskus intervertebralisnya dapat menyerap setiap goncangan yang terjadi
bila sedang menggerakkan berat badan seperti berlari dan melompat.
• Melindungi otak dan sumsun tulang belakang dari goncangan.
• Melindungi saraf tulang belakang dari tekanan-tekanan akibat melesetnya
nukleuspulposus pada diskus intervertebralis. Namun apabila annulus
fibrosus mengalami kerusakan, maka nukleus pulposusnya dapat meleset
dan dapat meyebabkan penekanan pada akar saraf disekitarnya yang
menimbulkan rasa sakit dan ada kalanya kehilangan kekuatan pada daerah
distribusi dari saraf yang terkena.
DEFENISI HNP

HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar


menonjol untuk kemudian menekan ke arah kanalis spinalis melalui
anulus fibrosis yang robek. Hernia Nukleus pulposus (HNP) atau
potrusi Diskus Intervertebralis (PDI)adalah suatu keadaan dimana
terjadi penonjolan pada diskus intervertebralis ke dalam kanalis
vertebralis (protrusi diskus ) atau nucleus pulposus yang terlepas
sebagian tersendiri di dalam kanalis vertebralis (rupture discus).

HNP sering terjadi pada daerah L4-L5 dan L5 –S1 kemudian


pada C5-C6 dan paling jarang terjadi pada daerah torakal, sangat
jarang terjadi pada anak-anak dan remaja tapi kejadiannya
meningkat dengan umur setelah 20 tahun. HNP terjadi karena
proses degenratif diskus intervetebralis.
ETIOLOGI MANIFESTASI KLINIS
• Tenaga kerja manual yang • Sakit punggung bawah yang
berlebihan parah
• Pengangkatan berulang dan
memutar • Nyeri menjalar ke pantat,
• Tekanan postural kaki
• Kegemukan • Rasa sakit bertambah parah
• tidak adekuat nya kekuatan otot- dengan batuk, tegang atau
otot trunk
• Duduk berjam-jam
tertawa
• Meningkatnya seiring usia (disk • Kejang otot
lebih cenderung mengalami • Kesemutan atau mati rasa di
kelemahan seiring bertambahnya
usia) kaki atau kaki
PATOFISIOLOGI
Diskus intervertebral dibentuk oleh dua komponen yaitu;
nukleus pulposus yang terdiri dari serabut halus dan longgar, berisi
sel-sel fibroblast dan dibentuk oleh anulus fibrosus yang
mengelilingi nukleus pulposus yang terdiri dari jaringan pengikat
yang kuat. Menjebolnya nukleus pulposus ke kanalis vertebralis
berarti bahwa nukleus pulposus menekan pada radiks yang
bersama-sama dengan arteri radikulasi berada dalam bungkusan
dura. Hal ini terjadi bila penjebolan di sisi lateral. Bilamana
tempat herniasinya di tengah, maka tidak ada radiks yang terkena.
Salah satu akibat dari trauma sedang yang berulangkali
mengenai diskus intervertebrais adalah terobeknya annulus
fibrosus.
PEMERIKSAAN FISIOTERAPI PADA
KASUS HNP

Anamnesis Umum
Nama : Tn. AMIR
Umur : 48 Th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Buruh Di Pelabuhan
Alamat : Jl. Paccerakkang
ANAMNESIS KHUSUS
• KELUHAN UTAMA : nyeri menjalar dari punggung sampai kaki, mati rasa dan
kelemahan otot.
• Onset keluhan : keluhan muncul saat bekerja terutama saat membungkukkan badan
• Kapan muncul keluhan : sekitar 1 tahun yang lalu
• Penyebab : tidak diketahui
• Riwayat sosial : pasien bergantung pada orang lain
• Riwayat penyakit sekarang : nyeri punggung bawah yang menjalar
• Penyakit penyerta :-
• Tumbuh kembang : normal
• Lingkungan tempat tinggal : pasien tinggal di daerah yang padat penduduk
• Aktivitas yang memperberat : dari jongkok ke berdiri
• Aktifitas yang memperingan : istirahat
• Riwayat keluarga : -
• Riwayat medis : pernah ke dokter dan didiagnosis menderita HNP. Diberi obat-
obatan analgetik.
• Level aktivitas : pasien kesulitan mengikuti segala kegiatan yang ada disekitar
lingkungan rumahnya karena nyeri berat di punggung bawah yang menjalar hingga
ke kaki.
Pemeriksaan umum
• Vital sign
• Tekanan darah : 120/80 mmHg
• Denyut nadi :
• Pernapasan :
• Suhu
• Antropometrik
• Tinggi badan :
• Berat badan :
• BMI :
• Observasi
Statis :
• -alignment vertebra, hilangnya lordosis lumbal
• -tingkat kesadaran pasien baik
Dinamis : nyeri dari duduk ke berdiri
• Palpasi :
• spasme otot
• nyeri tekan paraspinal
• hilangnya lordosis lumbal
PEMERIKSAAN FUNGSI DASAR
Pemeriksaan gerak aktif
Gerakan Keterangan

Gerak fleksi-ekstensi
Pada posisi berdiri, pasien diminta menggerakan secara
aktif dengan membungkukkan badan ke depan untuk
gerakan fleksi dan gerak ekstensi pasien dengan
membungkukkan badan ke belakang.

Gerak lateral fleksi Pada posisi berdiri, pasien diminta menekuk badan ke
samping kanan dan kiri.

Gerak rotasi
Pada posisi berdiri, pasien diminta merotasikan/memutar
badan ke kanan dan kiri.
Dari pemeriksaan gerak aktif (fleksi-ekstensi,
lateral fleksi, dan rotasi) dapat diperoleh
informasi antara lain : ada tidaknya rasa nyeri
pada lumbal, gerakan kompensasi atau
subtitusi, keterbatasan lingkup gerak sendi,
gerakan dilakukan dengan cepat tanpa
kesulitan ataukah dengan bantuan dan
lambat.
• Pemeriksaan gerak pasif
Pasien pada posisi duduk, rileks, terapis menggerakan
badan/tubuh pasien ke arah fleksi, ekstensi, lateral fleksi,
dan rotasi. Dari pemeriksaan ini informasi yang dapat kita
peroleh yaitu ada tidaknya keterbatasan lingkup gerak
sendi, end feel, dan provokasi nyeri. Nyeri yang muncul
biasanya merupakan kelainan/gangguan pada kapsul
ataupun sendi, tetapi tidak menutup kemungkinan nyeri
berasal dari otot/tendon yang mengalami
kontraktur/memendek karena terulur.

• Pemeriksaan Gerak Resisted Isometrik


Pemeriksaan gerak resisted isometrik ditujukan untuk
mengetahui kekuatan otot-otot lumbar sekaligus ada
tidaknya nyeri pada otot. Pemeriksaan meliputi kontraksi
isometrik ke arah fleksi-ekstensi, lateral fleksi dan rotasi.
PEMERIKSAAN DAN PENGUKURAN
SPASME OTOT
Penn Spasm Frequency Scale
Penn Spasm Frequency Scale adalah sebuah skala penilaian spasm pada otot
dimana dimulai dari 0 = tidak ada spasm sampai dengan nilai 4 = terjadi
spasm lebih dari 10 kali per jam.
Tujuan
• Untuk mengetahui frekuensi dan keparahan sapstisitas pasien.
• Persiapan Alat : Instrumen Penn Spams Frequency Scale
Persiapan Pasien :
• Jelaskan prosedur pada pasien
• Posisikan pasien senyaman mungkin
• Usahakan benda yang dapat menghalangi dilepaskan terlebih dahulu
Teknik Pelaksanaan:
• Palpasi pada area yang mengalami spasme, kemudian menanyakan kepada
pasien berapa lama spasme tersebut terjadi.
• Catat hasil pengukuran Penn Spasm Frequency Scale
Penn Spasm Frequency Scale
Penn Spasm Frequency Scale Score

Tidak ada spasme 0

Terjadi spasme ringan akibat stimulasi 1

Terjadi spasme kurang dari sekali per jam 2

Terjadi spasme lebih dari satu kali per jam 3

Terjadi spasme lebih dari 10 kali per jam 4

(Pen Et Al , 1989)
PENGUKURAN ROM
Tujuan : untuk mengetahui ROM pada lumbal.
• Fleksi dan ekstensi Lumbal
a. Schober Metode I :
• Posisi subjek berdiri dengan cervical, thoracal dan lumbal 0.
• Mengukur jarak antara proccessus spinosus C7 dan S1 dengan pita meteran
• Posisi awal dilakukan pada saat subjek posisi tegak.
• Pengukuran akhir dilakukan pada saat akhir gerakan fleksi.
• Perbedaan antara pengukuran awal dan akhir menunjukkan besarnya jarak gerak fleksi
thoracal dan lumbal.
Magee menjelaskan bahwa perbedaan 10 cm pada pita meteran adalah normal untuk
pengukuran. AAOS menjelaskan bahwa 4 inchi merupakan suatu pengukuran rata-rata untuk
pengukuran rata-rata orang dewasa yang sehat.

b. Goniometer
• Posisi pasien : berdiri
• Fulcrum : garis midaxillary pada lower costa.
• Lengan proksimal : tegak lurus dengan lantai
• Lengan distal : sejajar dengan garis midaxila.
Normal ROM fleksi : 40-60.
Normal ROM ekstensi : 20 – 35.
• Lateral fleksi
a. Goniometer
• Posisi subjek berdiri dengan cervical, thoracal dan lumbal 0.
• Fulcrum : proc. Spinosus S1
• Lengan proksimal : tegak lurus dengan lantai.
• Lengan distal : pada bagian posterior proc. Spinosus C7.
• Normal ROM fleksi : 15 - 20.
b. Meteran
• Posisi subjek berdiri
• Titik pertama pada ujung jari tengah.
• Titik kedua pada lantai.
• Jarak titik pertama dengan titik kedua saat lateral fleksi adalah Rom lateral
fleksi.
• Normalnya : 15,9 – 16,9 cm
• Rotasi
• Posisi subjek duduk,
• Fulcrum : pusat bagian atas kepala.
• Lenan poksimal : sejajar dengan garis imajinasi crista iliaca.
• Lengan distal : sejajar dengan garis imajinasi proc. Acromion.
• Normal ROM fleksi : 3 – 18 .
PENGUKURAN NYERI OSWESTRY
DISABILITY INDEX (ODI)
• Tujuan : untuk menilai keterbatasan fungsional pada nyeri pinggang
bawah.
• Persiapan alat : alat ukur nyeri (OSWESTRY DISABILITY INDEX)
• Persiapan Pasien : Jelaskan prosedur test kepada pasien untuk
mengurangi kecemasan pasien serta untuk memastikan pasien kooperatif.
• Teknik Pelaksanaan :
Kuisioner oswestry disability index berupa formulir berisi 10 item
pernyataan yang disusun untuk memberikan gambaran terhadap
kemampuan fungsional nyeri pinggang bawah, yang terisi dari; item
pertama mengukur intensitas nyeri dan 9 item lainnya mengukur
pengaruh nyeri terhadap aktivitas sehari hari yaitu perawatan diri,
mengangkat, berjalan, berdiri, duduk, tidur, aktivitas seksual, aktivitas
sosial, dan tamasya. Sebelum mengisi kuisioner tersebut, terlebih dahulu
pasien diberi penjelasan tentang cara pengisian dan pasien harus
memberikan tanda cek (√) pada kotak yang disediakan. Pasien diminta
memilih salah satu pernyataan yang menggambarkan ketidak mampuan
aktivitas fungsional.
Section 1 – Intensitas Nyeri
• Saya ini saya tidak nyeri (0)
• Saat ini nyeri terasa sangat ringan (1)
• Saat ini nyeri terasa ringan (2)
• Saat ini nyeri terasa agak berat (3)
• Saat ini nyeri terasa sangat berat (4)
• Saat ini nyeri terasa amat sangat berat (5)

Section2 - Perawatan Pribadi (mandi, berpakaian dll)


• Saya merawat diri secara normal tanpa disertai timbulnya nyeri (0)
• Saya merawat diri secara normal tapi terasa sangat nyeri (1)
• Saya merawat diri secara hati hati dan lamban karena terasa sangat nyeri (2)
• Saya membutuhkan sedikit bantuan saat merawat diri (3)
• Setiap hari saya membutuhkan bantuan saat merawat diri (4)
• Saya tidak bisa berpakaian, mandi sendiri dan hanya berbaring di tempat tidur (5)

Section 3 - Aktivitas Mengangkat

• Saya dapat mengangkat benda berat tanpa disertai timbulnya nyeri (0)
• Saya dapat mengangkat benda berat tetapi disertai timbulnya hyeri (1)
• Nyeri membuat saya tidak mampu mengangkat benda berat dari lantai, tetapi saya mampu
mengangkat benda berat yang posisinya mudah,misalnya diatas meja. (2)
• Nyeri membuat saya tidak mampu mengangkat benda berat dari lantai, tetapi saya mam;pu
mengangkat benda ringan dan sedang yang posisinya mudah, misalnya diatas meja (3)
• Saya hanya dapat mengangkat benda yang sangat ringan (4)
• Saya tidak mampu mengangkat maupun membawa benda apapun (5)
Section 4 – Berjalan

• Saya mampu berjalan berapapun jaraknya tanpa disertai timbulnya nyeri (0)
• Saya hanya mampu berjalan tidak lebih dari 1 mil karena nyeri (1)
• Saya hanya mampu berjalan tidak lebih dari ¼ mil karena nyeri (2)
• Saya hanya mampu berjalan tidak lebih dari 100 yard karena nyeri (3)
• Saya hanya mampu berjalan menggunakan alat bantu tongkat atau kruk (4)
• Saya hanya mampu tiduran, untuk ke toilet dengan merangkak (5)

Section 5 – Duduk

• Saya mampu duduk pada semua jenis kursi selama aku mau (0)
• Saya mampu duduk pada kursi tertentu selama aku mau (1)
• Saya hanya mampu duduk pada kursi tidak lebih dari 1 jam karena nyeri (2)
• Saya hanya mampu duduk pada kursi tidak lebih dari ½ jam karena nyeri (3)
• Saya hanya mampu duduk pada kursi tidak lebih dari 10 menit karena nyeri (4)
• Saya tidak mampu duduk karena nyeri (5)

Section 6 – Berdiri

• Saya mampu berdiri selama aku mau (0)


• Saya mampu berdiri selama aku mau tetapi timbul nyeri (1)
• Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari 1 jam karena nyeri (2)
• Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari 1/2 jam karena nyeri (3)
• Saya hanya mampu berdiri tidak lebih dari 10 menit karena nyeri (4)
• Saya tidak mampu berdiri karena nyeri (5)
Section 7 – Tidur
• Tidurku tidak pernah terganggu oleh timbulnya nyeri (0)
• Tidurku terkadang terganggu oleh timbulnya nyeri (1)
• Karena nyeri, tidurku tidak lebih 6 jam (2)
• Karena nyeri, tidurku tidak lebih 4 jam (3)
• Karena nyeri, tidurku tidak lebih 3 jam (4)
• Saya tidak pernah tidur karena nyeri (5)
Section 8 - Aktivitas Seksual (Bila Memungkinkan
• Aktivitas seksualku berjalan normal tanpa disertai timbulnya nyeri (0)
• Aktivitas seksualku berjalan normal tetapi disertai timbulnya nyeri (1)
• Aktivitas seksualku hampir normal tetapi sangat nyeri (2)
• Aktivitas seksualku sangat terhambat oleh adanya nyeri (3)
• Aktivitas seksualku hamper tidak pernah karena adanya nyeri (4)
• Aktivitas seksualku tidak pernah bisa terlaksana karena adanya nyeri (5)
Section 9 - Kehidupan Sosial
• Kehidupan sosialku berlangsung normal tanpa gangguan nyeri (0)
• Kehidupan sosialku berlangsung normal tetapi ada peningkatan derajat nyeri (1)
• Kehidupan sosialku yang aku sukai misalnya olahraga tidak begitu terganggu adanya nyeri (2)
• Nyeri menghambat kehidupan sosialku sehingga aku jarang keluar rumah (3)
• Nyeri membuat kehidupan sosialku hanya berlangsung dirumah saja (4)
• Saya tidak mempunyai kehidupan social karena nyeri (5)
Section 10 - Bepergian/ Melakukan Perjalanan
• Saya bisa melakukan perjalanan ke semua tempat tanpa adanya nyeri (0)
• Saya bisa melakukan perjalanan ke semua tempat tetapi timbul nyeri (1)
• Nyeri memang mengganggu tetapi saya bisa melakukan perjalanan lebih dari 2 jam (2)
• Nyeri menghambatku sehingga saya hanya bisa melakukan perjalanan kurang dari 2 jam (3)
• Nyeri menghambatku sehingga saya hanya bisa melakukan perjalanan kurang dari 30 menit (4)
• Nyeri menghambatku untuk melakukan perjalanan kecuali hanya berobat (5)
Tiap item pertanyaan di skor dalam skala 0 - 5 dan hasil yang dapat
diberikan pada skala 0 - 50. Penilaian menggunakan (Nilai yang diperoleh
pasien/ total skor) x 100% (Trisnowiyanto, 2012).

DS = JN : 50 X 100%
Keterangan :
• JN : JumlahNilai
• DS : Disability Score (Nilaiketidakmampuan)

Tingkat Kemampuan Aktifitas Fungsional (TKAF) dikategorikan sebagai berikut


:
• Disabilitas Minimal (TKAF = 0% - 20%)
• Disabilitas sedang (TKAF = 21% - 40%)
• Disabilitas berat (TKAF = 41% - 60%)
• Aktivitas sangat terbatas (TKAF = 61% - 80%)
• Tidak mampu beraktivitas (TKAF = 81% - 100%)

Hasil Pengukuran :
SELF CARE AND HOME MANAGEMENT
(BARTHEL INDEX)
Prosedur Test
• Tujuan
Untuk memperoleh tingkat kemampuan dan ketergantungan pasien/ klien dalam melakukan activities
of daily living (ADL)
• Persiapan Alat
Pastikan Instrumen Barthel Index Scale telah tersedia
• Persiapan Pasien
Jelaskan prosedur test kepada pasien untuk mengurangi kecemasan pasien serta memastikan pasien
kooperatif dan focus
• Penatalaksanaan
 Pilih score point untuk pernyataan yang paling mendekati tingkat kemampuan terkini pasien/klien
untuk setiap 10 item variabel, dengan memberi tanda checklist (√)
 Index seharusnya digunakan sebagai catatan apa yang TIDAK MAMPU dilakukan oleh
pasien/klien, bukan sebagai catatan tentang apa yang pasien/klien bisa lakukan
 Gunakan semua informasi yang bisa diperoleh, baik dari laporan pasien sendiri, dari pihak
keluarga pasien/klien yang mengetahui benar kemampuan pasien, atau dari hasil observasi
pemeriksa.
 Lihat bagian pedoman untuk informasi rinci tentang scoring dan interpretasi
 Catat hasil pengukuran Barthel Index pada medical record pasien
Feeding (Makan dan Minum)
• Tidak dapat dilakukan sendiri (0)
• Membutuhkan bantuan dalam beberapa hal (5)
• Dapat melakukan sendiri atau mandiri (10)

Bathing (Mandi)
• Bergantung sepenuhnya (0)
• Dapat melakukan sendiri atau mandiri (5)

Grooming (Dandan)
• Membutuhkan bantuan perawatan personal (0)
• Mandiri (membersihkan wajah, merapikan rambut,m menggosok gigi, mencukur, dll) (5)

Dressing (Berpakaian)
• Bergantung sepenuhnya (0)
• Memerlukan bantuan, tapi tidak sepenuhnya (5)
• Mandiri (termasuk mengancing baju, memakai ritsleting), mengikat tali sepatu) (10)

Fecal (Buang Air Besar)


• Inkontinensi (atau perlu diberikan pencahar) (0)
• Kadang terjadi inkontinensi (5)
• Bisa mengontrol agar tidak inkontinensi (10)

Urinary (Buang Air Kecil)


• Inkontinensi atau memerlukan katerisasi (0)
• Kadang terjadi inkontinensi (5)
• Bisa mengontrol agar tidak kontinensi (10)
Toileting (Ke Kamar Kecil atau WC)

• Bergantung sepenuhnya (0)


• Memerlukan bantuan, tapi tidak sepenuhnya (5)
• Mandiri (termasuk membuka dan menutup, memakai pakaian, membersihkan dengan lap) (10)

Transferring ( Dari Bed Ke Kursi & Kembali Ke Bed)

• Tidak mampu, tidak ada keseimbangan duduk (0)


• Memerlukan bantuan satu atau dua orang, dapat duduk (5)
• Memerlukn bantuan minimal (verbal atau fisik)( 10)
• Mandiri sepenuhnya (15)

Walking (Pada Semua Level Permukaan)

• Immobile atau < 50 yard (0)


• Menggunakan kursi roda secara mandiri, termasuk mendatangi orang > 50 yard (5)
• Berjalan dengan bantuan seseorang (verbal atau fisik) >50 yard (10)
• Mandiri sepenuhnya (tidak membutuhkan bantuan, termasuk tongkat) > 50 yard (15)

Climbing Strairs (Menaiki Anak Tangga)

• Tidak mampu (0)


• Memerlukan bantuan (verbal, fisik, dengan alat bantu) (5)
• Mandiri sepenuhnya (10)
Barthel Index Parameter
• Skor 20 : Mandiri
• Skor 12-29 : Ketergantungan ringan
• Skor 9-11 : Ketergantungan sedang
• Skor 5-8 : Ketergantungan berat
• Skor 0-4 : Ketergantungan penuh
Tiap item pertanyaan di skor dalam skala 0 - 5 dan hasil yang dapat diberikan pada skala
0 - 50. Penilaian menggunakan (Nilai yang diperoleh pasien/ total skor) x 100%
(Trisnowiyanto, 2012).
DS = JN : 50 X 100%
Keterangan :
• JN : JumlahNilai
• DS : Disability Score (Nilaiketidakmampuan)

• Tingkat Kemampuan Aktifitas Fungsional (TKAF) dikategorikan sebagai berikut :


 Disabilitas Minimal (TKAF = 0% - 20%)
 Disabilitas sedang (TKAF = 21% - 40%)
 Disabilitas berat (TKAF = 41% - 60%)
 Aktivitas sangat terbatas (TKAF = 61% - 80%)
 Tidak mampu beraktivitas (TKAF = 81% - 100%)

• Hasil Pemeriksaan
Tes spesifik
TES PATRICK
Untuk mendeteksi patologi pada hip, lumbal dan SI joint
• Prosedur:
Posisi terlentang senyaman mungkin. Secara pasif ft menggerakkan tungkai pasien yang di
test ke arah fleksi knee dengan menempatkan ankle diatas knee yang satunya. Kemudian
memfiksasi SIAS pasien pada tungkai yg tidak di test dengan menggunakan satu tangan dan
tangan satunya pada sisi medial kneepasien yang ddites lalu menekan tungkai kearah abduksi.
Ulangi prosedur yang sama pada tungkai yang satunya.
• Test positif nyeri bagian dalam hip , lumbal dan SI.

Straight Leg Raising Test (SLR)


• Tes ini dikenal juga dengan Laseque’s test. Tes ini dilakukan untuk meregangkan saraf sciatic
pada pasien HNP di level L4-L5 atau L5-S1 yang menyebabkan tekanan pada akar saraf L5
atau S1 (Gross, 2009). Tes ini dilakukan dengan cara pasif, posisi pasien tidur telentang
dengan tungkai lurus normal, hip medial rotasi dan adduksi, lutut ekstensi, setelah itu terapis
memfleksikan atau mengangkat tungkai antara 350-700 tersebut sampai pasien mengeluh nyeri
atau kaku di posterior paha (Magee, 2006). Hasil dikatakan positif bila timbul rasa nyeri
sepanjang perjalanan saraf iskhiadikus dan kemungkinan ada penekanan pada akar saraf, bila
tes negatif kemungkinan penekanan akar saraf kecil (Tjokorda, 2009). Hasil test : positif
TES LASEQUE
• Untuk mengidentifikasi patologi disc herniation dan atau penekanan pada jaringan saraf
• Prosedur test : pasien terlentang dengan posisi kedua hip endorotasi dan adduksi, serta
knee esktensi, rileks.
• Praktikkan meletakkan satu tangan pada ankle pasien . praktikkan secara pasif dan
fleksikan hip pasien hingga pasien merasakan nyeeri atau tightness pada pinggang atau
posterior tungkai. Kemudian secara perlahan dan hati2 menurunkan tungkai pasien
hingga pasien tidak merasakan nyeri atau tightness.
• Positif test : jika nyeri terutama dirasakan pada pinggang, maka lebih kearah disc
heerniation atau penyebab patologi penekanann pada sisi sentral. Jika nyeri terutama
pada tungkai, maka patologi yang menyebabkan penekanan terhadap jaringan saraf
lebih pada sis lateral

Tes Trendelenburg
• Tes ini untuk mengevaluasi kekuatan musculus gluteus medius. Berdirilah dibelakang
pasien dan observasi kekakuan kecil diatas SIPS. Normalnya, saat pasien menumpu
berat badan kedua kaki seimbang, lekukan kecil itu nampak sejajar. Kemudian mintalah
pasien untuk berdiri satu kaki. Jika dia dapat tegak, musculus gluteus medius pada
tungkai yang menyangga berkontraksi saat tungkai terangkat. Akan terlihat garis pantat
turun pada kaki yang diangkat pada kelemahan pada m. gluteus minimus.
Pemeriksaan Diagnosis
1. RO Spinal : Memperlihatkan perubahan
degeneratif pada tulang belakang
2. M R I : untuk melokalisasi protrusi diskus kecil
sekalipun terutama untuk penyakit spinal
lumbal.
3. CT Scan dan Mielogram jika gejala klinis dan
patologiknya tidak terlihat pada M R I
4. Elektromiografi (EMG) : untuk melokalisasi
radiks saraf spinal khusus yang terkena.
Intervensi Fisioterapi
• TAHAP AKUT:
Tujuan:

a) Meringankan rasa sakit.


b) Mempromosikan relaksasi otot.
c) Meredakan peradangan dan tekanan
terhadap struktur nyeri sensitif atau
neurologis.
d) pendidikan pasien.
e) pencegahan
PENGENDALIAN ISTIIRAHAT - dianjurkan untuk beristirahat dalam bentuk

* Postur dan modifikasi aktivitas - Hindari postur tertekuk, duduk untuk duraton
panjang, aktivitas menekuk atau mengangkat, postur asimetris (fleksi dan rotasi).
Semua ini meningkatkan tekanan disk.

* Dukungan lokal dalam bentuk korset (sabuk lumbosakral), pengikat perut, pita dll.
Tindakan ini akan meningkatkan penyembuhan dan mencegah reinjury ke diskus.
Dalam waktu 10 hari fibrin diletakkan. Jika tulang belakang dipertahankan pada
lordosis, anulus akan sembuh dalam posisi shortened dan nukleus akan dipertahankan
secara terpusat.

* Jika gejalanya parah, istirahat di tempat tidur (maksimal 2 hari) pada tempat tidur
keras ditunjukkan dengan periode berjalan yang pendek dengan interval teratur
(dengan korset). Berjalan mempromosikan perpanjangan lumbar dan merangsang
mekanika fluida untuk membantu mengurangi pembengkakan pada disk / jaringan
ikat.

* Jika pasien hadir dengan ketidakmampuan untuk menegakkan tubuh, buat pasien
berbaring rawan dengan 2-3 bantal di bawah perut. Saat rasa sakit mereda, lepaskan
bantal dan pasang koper dengan meletakkan bantal di bawah toraks. Dengan nukleus
pulposus ini bergeser ke depan dan mengurangi rasa sakit dan mendapatkan lordosis
b) Modalitas Untuk Mengurangi Pain Dan Spasm-
* Cryotherapy: mengurangi kejang otot dan pembengkakan pada
fase akut

* TENS: mengurangi rasa sakit pada fase akut dan kronis.


SWD-pulsed SWD dalam kondisi akut dan SWD terus menerus dalam
kasus kronis

* IFC

* Manipulasi jaringan lunak - untuk mengurangi kejang otot lokal dan


mendorong relaksasi.

* Traksi-mungkin bermanfaat untuk meringankan kompresi akar saraf


dan radikulopati atau parestesia pada fase akut Traksi
dikontraindikasikan dalam protrussion disk medial ke akar saraf.
c) LATIHAN UNTUK HERNIATED DISC- herniated disc exercise memainkan peran penting
dalam pengobatan rasa sakit dan pembengkakan. Latihan ekstensi berguna dalam pengobatan
dini tanda dan gejala yang berhubungan dengan disk.

MC Kenzie Program Exc ekstensi 1-4.


Latihan 1

 Tidur tengkurap dengan kepala


diputar ke satu sisi dan kedua
lengan relaks disamping badan.
 Dalam posisi tersebut, laku-kan
deep breathing kemu-dian relaks
secara sempurna selama 4 – 5
menit.
 Latihan ini terutama diguna-kan
dalam pengobatan akut back pain,
dilakukan pada awal dari setiap
sesi latihan.
Latihan 2

• Tetap dalam posisi tidur


tengkurap, kemudian posisikan
kedua elbow dibawah
shoulder sehingga bersandar
pada kedua lengan bawah.
• Selama latihan ini, lakukan
deep breathing kemudian
relaksasikan otot-otot
pinggang secara sempurna.
• Lakukan latihan ini selama 5
menit.
• Latihan 2 terutama digunakan
dalam pengobatan LBP yang
berat
Latihan 3 • Tetap dalam posisi tengkurap, kemudian
posisikan kedua tangan dibawah shoulder
dalam posisi press-up.
• Kemudian luruskan kedua elbow dengan
mendorong badan keatas sejauh mungkin
sehingga nyeri berkurang.
• Posisi ini penting untuk merelaksasikan
pelvis, hip dan tungkai secara sempurna.
• Pertahankan posisi tersebut selama 2 detik
sehingga regio pinggang terasa
lentur/long-gar & lakukan 10 kali repetisi
• Latihan ini sangat berguna & efektif dalam
pengobatan akut LBP & stiffness
Latihan 4

Berdiri tegak dengan kedua


kaki sedikit membuka.
Letakkan kedua tangan pada
pinggang dgn jari-jari
menghadap ke belakang.
Kemudian ekstensikan trunk
sejauh mungkin dgn kedua
tangan sebagai fulcrum (knee
harus tetap lurus).
Pertahankan posisi selama 2
detik dan ulangi sebanyak 5 –
6 kali.
Latihan ini dapat diberikan
setelah mengalami recovery
LBP, jangan diberikan pada
akut LBP
d) Menjaga / memperbaiki mobilitas jaringan saraf - Latihan ini harus dilakukan dengan
hati-hati pada tahap akut, biasanya dalam posisi berbaring. Ini akan mencegah
komplikasi kronis dari meningkatnya ketegangan saraf antara SLR pasif dengan
dorsofleksi kaki.
e) Latihan hidroterapi
f) Pendidikan pasien - Ini adalah beberapa gerakan yang harus Anda hindari:
* Membungkuk untuk mengangkat barang yang sangat berat
* Melakukan squat dengan bobot terlalu banyak
* Ekstensi rendah kembali, karena tingkat stresnya tinggi pada cakram
* Berjalan, karena bisa menempatkan galur pada cakram
* Segala bentuk latihan resisted.
• TAHAP SUB AKUT
Biasanya gejala akut menurun dalam 4-6 hari.
a) Lanjutkan latihan yang dilakukan dalam fase akut, misalnya latihan
mobilitas saraf, modalitas.

b) Gerakan tulang belakang sederhana dalam rentang bebas nyeri


menggunakan pelvis panggul lembut. Goyang panggul bisa dilakukan
dengan telentang, duduk, rawan berbohong, berbohong, berdiri,
quadripud (kucing dan unta). Tekankan pada kemiringan panggul anterior
sehingga tulang belakang berada dalam ekstensi. Pelvic rolling dapat
ditambahkan.

c) Isometrik ekstensor tapi hati-hati menahan nafas dan menyebabkan


valsalva.

d) Mendorong aktivitas aerobik, berjalan, berenang dengan toleransi


pasien.
TAHAP KRONIS

Bila gejala diskus sudah stabil.

Tujuan:
a) Kembalikan rentang gerak.
b) Kembalikan kekuatan otot, daya tahan tubuh dan
fungsinya.
c) Melatih kesadaran kinestetik dan kontrol
keselarasan normal.
d) Keterlibatan dan edukasi pasien untuk mengelola
postur tubuh agar tidak terjadi rekurensi.
a) Rangkaian latihan nyeri bebas lembut yang lembut Setelah 3 minggu sejak
timbulnya gejala, mulailah fleksi sisi dan perpanjangan posisi. Kemajuan
untuk menambahkan fleksi hanya saat disk telah sembuh.

b). Latihan peregangan dan fleksibilitas


Peregangan hamstring: Berbaring telentang dengan lutut ditekuk. Angkat
satu kaki perlahan dan letakkan tangan di belakang lutut Anda. Luruskan
kaki Anda sebanyak yang Anda bisa, dan tarik perlahan ke arah dada. Tahan
selama beberapa detik, lalu kembali ke posisi awal dan ulangi dengan kaki
lainnya. Jangan memaksakan latihan ini! Anda harus merasakan peregangan
di bagian belakang paha Anda. Jika Anda merasakan sakit atau
ketidaknyamanan di tempat lain, hentikan latihan ini sampai Anda lebih
kuat.

c) Latihan stabilitas inti - Bilamana ada sedikit ketidakseimbangan pada otot


inti, Anda menderita sakit punggung. Latihan penguatan inti membantu
mengurangi nyeri punggung dan membentuk dasar program pelatihan
stabilitas inti. Tujuan dari latihan ini adalah untuk memberi lebih banyak
dukungan ke punggung Anda dengan memperkuat otot tulang belakang
Anda.
Latihan stabilitas inti
• Bridge
• Plank
• Side Plank
• The Wall Squat
• Mengangkat Kaki dan lengan
• Lift kaki
• Dasar Crunches
d) latihan penguatan

* Kaki Lift: latihan perut bagian bawah untuk pasien PIVD. Berbaring telentang.
Tekuk lutut kiri pada sudut 90 derajat, jaga kaki rata di lantai. Kencangkan abs Jaga
kaki kanan lurus dan angkat perlahan sampai kaki kanan berada di puncak lutut kiri.
Tunggu hitungan 5. Lakukan 5 sampai 15 pengulangan. Beralih sisi dan ulangi.
* Backward Leg Swing: Latihan gluteal untuk pasien PIVD. (Otot bokong membantu
menunjang tulang belakang) Berdiri, memegang sandaran kursi untuk memberi
dukungan. Kencangkan abs Ayunkan kaki ke belakang diagonal sampai Anda merasa
bokong Anda kencang. Otot tegang sebanyak yang Anda bisa dan ayun kaki kembali
beberapa inci lagi. Kembalikan kaki ke lantai. Lakukan 10 - 15 pengulangan. Beralih
sisi dan ulangi.
* Latihan penguatan perut: Isometric abs, lutut ke dada, latihan sepeda.

e) Latihan hidroterapi untuk nyeri punggung - Pemanasan, memobilisasi latihan Latihan


peregangan Memperkuat latihan Latihan relaksasi Latihan latihan renang Baca artikel
penelitian tentang PIVD pada PubMed Patient Education:
* Ajarkan pola gerakan dan mekanika tubuh yang aman. Ajarkan latihan pencegahan
dan mekanika pasien untuk menghilangkan stres mekanis dalam aktivitas sehari-hari.
Ajarkan latihan relaksasi untuk mengatasi ketegangan otot.
* Anjurkan pasien tentang cara memodifikasi lingkungan misalnya tempat tidur, kursi,
jok mobil, area kerja dll.
TERIMA KASIH 