Anda di halaman 1dari 50

Jane Jacobs (1961)

Dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities


Kota berdasarkan multiple uses akan akan menghasilkan keberagaman dalm ekonomi dan sosial. Fenomena esensial dari kota adalah
gabungan dari aktivitas yang didukung.
Lebih lanjutnya, kawasan perkotaan hendaknya memiliki beberapa prinsip arsitektural dalam skala makro. Jika tidak maka akan timbul
masalah yang cenderung buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab jika ukuran sebuah kota dan wilayahnya tidak disusun dengan
menciptakan ruang-ruang efektif melalui pengorganisasian sebuah daerah pedalaman yang lebih besar berdasarkan hirarki-hirarki tertentu,
maka kualitas identitas masyarakat perkotaan terhadap tempat dan lingkungannya akan menurun.
Sumber: Kaitan antara keberagaman, Meliana, FT UI, 2008

Menurut Pierre Merlin dan Francoise Choay (1988: 677 & 851) perancangan kota adalah proses dari konsep dan realisasi arsitektur yang
memungkinkan penguasaan pengaturan formal dari perkembangan kota, yang menyatukan perubahan dankemapanan. la adalah pertengahan
dari praktek arsitek yang berkonsentrasi pada konsep formal dan realisasi arsitektural dalam konstruksi bangunan dan perancang kota yang
berkonsentrasi pada pembagian dan penggunaan yang kurang sempurna dari sumber-sumber kepemilikan dan penghancuran yang tidak perlu
dari bagian-bagian bersejarah sehingga terintegrasinya kesatuan dan keindahan dalam lingkungan terbangun
• Kevin Lynch telah melakukan sebuah studi terhadap apa yang diserap secara mental oleh orang-orang dan realitas fisik sebuah kota. Hasil studinya ini disajikan
dalam bentuk buku yaitu “The image of the city” dimana menurut Lynch perkotaan yang ideal adalah yang dapat memberikan image
• Secara garis besar Prof.Kevin Lynch menemukan dan mengumpulkan ada lima elemen pokok atau dasar yang oleh orang digunakan untuk membangun gambaran
mental mereka terhadap sebuah kota, adalah Path, Edges, District, Landmark , Nodes
• Konsep arsitektur kota atau tepatnya urban artefak sebagai karya seni selalu muncul dan diketemukan dalam bentuk-bentu bervariasi; dalam segala jaman dan
kehidupan sosial religius. Urban artefak selalu berkaitan dengan tempat, peristiwa dan wujud kota. (Benny Poerbantanoe, 1999).
• Suatu arsitektur kota seharusnya dipandang sebagai ‘tissue’ yang mencakup elemen-elemen fisik spatial dan membentuk suatu jalinan konfigurasi secara sinergis.
• Dengan demikian kesinambungan produk-produk sejarah dan segala proses morfologi pembentukan dan perubahan entitas fisik spatialnya dapat terlihatsecara
utuh.
• Selain itu dinamika perkembangan dan perubahan kota juga dipengaruhi oleh interaksi antara tatanan fisik dengan penghuni kota. (Sandi A Siregar, 2004).
• Arsitektur kota dapat diamati dari segi bentuk, waktu, serta susunannya yang melibatkan banyak aspek dan prinsip arsitektural yang bersifat universal, tetapi perlu
diterapkan secara kontekstual. Terbagi atas 3 konsepsi : konsepsi pertama adalah pemahaman bahwa ruang perkotaan adalah ruang yang bersifat fisik dengan
dimensinya yang sosial dan mental (psikis). Konsepsi kedua adalah pemahaman terhadap ruang perkotaan dari dua tingkat, yaitu dari atas dan dari bawah (
perspektif politik dan prespektif kehidupan sehari-hari), Konsepsi ketiga adalah bahwa pemahaman terhadap ruang perkotaan, dalam segala dimensinya, paling
dimungkinkan melalui perhatian pada proses perkembangannya ( Marcus Zahnd )
• Arsitektur Perkotaan dipandang sebagai obyek buatan manusia dalam skala besar (urban artifact), dan sebuah arsitektur yaitu berupa konsentrasi elemen‐elemen
fisik spasial yang selalu tumbuh dan berkembang. (Aldo Rossi )
• Jane Jacobs (1961)
• Dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities
• Kota berdasarkan multiple uses akan akan menghasilkan keberagaman dalm ekonomi dan sosial. Fenomena esensial dari kota adalah gabungan dari
aktivitas yang didukung.
• Lebih lanjutnya, kawasan perkotaan hendaknya memiliki beberapa prinsip arsitektural dalam skala makro. Jika tidak maka akan timbul masalah yang
cenderung buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab jika ukuran sebuah kota dan wilayahnya tidak disusun dengan menciptakan ruang-ruang
efektif melalui pengorganisasian sebuah daerah pedalaman yang lebih besar berdasarkan hirarki-hirarki tertentu, maka kualitas identitas masyarakat
perkotaan terhadap tempat dan lingkungannya akan menurun.
• Sumber: Kaitan antara keberagaman, Meliana, FT UI, 2008
• Robert Dannenbrink (dalam Branch, 1995: 200) mendeskripsikan perancangan kota sebagai berikut: “Perancangan kota adalah proses dan hasil
pengorganisasian dan pengintegrasian seluruh komponen lingkungan (buatan dan alam), sedemikian rupa sehingga akan meningkatkan citra setempat
dan perasaan berada di suatu tempat (sense of place), dan kesetaraan fungsional, serta kebanggaan warga dan diinginkannya suatu tempat menjadi
tempat tinggal. Hal tersebut dapat diterapkan pada berbagai seting dan kepadatan fisik, mulai dari daerah perkotaan, pinggiran kota, hingga
pedesaan, mulai dari skala lingkungan permukiman hingga keseluruhan daerah, dan dapat terpusatkan pada permasalahan kota secara keseluruhan
atau komponen khusus, misalnya lingkungan permukiman, pusat bisnis, sistem ruang terbuka, atau karakter jalan utama”.
• Amos Rapaport (1985) yang melakukan studi permukiman tradisional dibeberapa negara menyimpulkan bahwa, pengaturan lingkungan permukiman
manusia, merupakan wujud pengejawantahan manusiayang merasa perlu mengatur jagad raya ini, dimana semua kebudayaan mempunyai suatu
system pengaturan lingkungan permukiman secara sendiri – sendiri; mereka berkomunikasi secara simbolis melalui pengaturan lingkungan. Semua
lingkungan mempunyai makna dan mereka menggambarkan makna itu dalam bentuk skema, prioritas, preferensi dan kebudayaan dari penciptanya.
Pada kebudayaan tradisional, pengaturan berdasarkan agama dengan maksud untuk mengatur kekacauan dunia dengan meniru suatu pengatura
ideal, yaitu pengaturan dan harmoni surgawi.
• Menurut Weber (1947) beberapa kriteria untuk merancang sebuah kota yaitu sebuah wilayah yang luas dimana habitat hidup bersama, sekumpulan
rumah – rumah yang membentuk Aglomerasi yang luas dan spesifik, tempat berdagang dimana sebagian besar penduduknya hidup dari industri,
sebuah organisasi ekonomi sekaligus pengaturan kota.
• Kesimpulan :
• Arsitektur Kota merupakan suatu perwujudan wadah sejarah bagi
penduduknya yang secara fisik tertata dengan baik dan
perkembangannya merupakn proses morfologi kota
• Rangkuman Definisi
- Image kota,
- Perkembangan bentuk kota
- Urban Artefak,
- Wujud kota
- Tatanan fisik kota,
- Produk Sejarah,
- Morfologi kota
- keberagaman ekonomi sosial
- kebudayaan tradisional
- Hunian
DEFINISI KRITERIA
Urban Artefak : Mempertahankan Karakter Kota
Terkait dengan pembentukan jati diri atau identitas sebuah kota, kekhasan kota yang berangkat dari kearifan lokal dapat menjadi
Suatu peninggalan yang memiliki nilai titik tolak pembentukannya.
historis bagi suatu wilayah, dapat
mengarahkan perkembangan dan pola
wilayah tersebut, termasuk mengubah
image dari kota

TUJUAN :
Vitality = Ketahanan
Agar obyek-obyek peninggalan dapat tolok ukur yang menunjang fungsi vital kehidupan, kebutuhan biologis manusia dan menjaga kelangsungan hidup masyarakat
menjadi berguna serta dapat kota.
dimanfaatkan oleh generasi berikutnya
atau menjadi bukti peradaban yang Sense = Rasa
pernah ada Rasa dalam tolak ukur menentukan kota yang baik berarti mengolah segala yang ada dalam otak manusia yang merekam,
mengenali, mampu menggambarkan, menceritakan baik peristiwa, benda, fisik lingkungan, sampai kebudayaan.

Morfologi kota : Fungsional dan Struktur Kota


Secara fungsional, sebuah kota harus menentukan fungsi-fungsi kawasan di dalamnya secara jelas dan teratur. Pembagian fungsi
Adalah perkembangan bentuk wujud atau tata guna lahan (land use) sangat berpengaruh pada kehidupan dan aktivitas kota secara keseluruhan.
suatu ruang –ruang kota yang
dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi,
politik, teknologi tertentu serta sumber
daya alam sebuah wilayah

Hunian – kota Industri

Efisiensi
Tatanan Fisik kota : Sistem Ekologi Kota
Sistem ekologi kota merupakan faktor yang sangat penting dalam menciptakan kota yang sehat dan berkelanjutan.
Merupakan suatu susunan unsur-unsur fisik sangat
banyak dipengaruhi atau dicirikan oleh struktur-
struktur bikinan manusia (artifisial), seperti pola
jaringan jalan, bangunan-bangunan, permanen dan
monumentalis, pertamanan, kesibukan lalu lintas, dan
lain-lain

Access = Pencapaian
kemudahan pencapaian ke suatu tempat, pencapaian informasi, kemudahan mendapatkan pekerjaan, kemudahan
memasuki jenjang pendidikan.

Jalan Jalur Pedestrian


Umum Sepeda

Control
menentukan penilaian baik tidaknya bentuk kota karena dengan mengontrol berarti menata dan menjaga serta
mengawasi warga dan kegiatan dan lingkungannya.

Aksesibilitas, Transparansi, Tanggap


Artinya birokrasi kota harus sama diakses warga negara dari semua lapisan masyarakat, transparan operasinya dan
responsif terhadap keluhan warga
ELEMEN perancangan kota
Sumber : Creating Places for People, Urban Design Protocol

Elemen Pengertian Elemen

Urban structure ( US ) Kerangka keseluruhan kota, wilayah atau kantor polisi, menunjukkan hubungan antara zona bentuk dibangun,
bentuk lahan, lingkungan alam, kegiatan dan ruang terbuka. Ini meliputi sistem yang lebih luas termasuk jaringan
transportasi dan infrastruktur.
Urban grain ( UG ) Keseimbangan ruang terbuka untuk membentuk dibangun, dan sifat dan tingkat pengelompokan daerah dalam
paket yang lebih kecil atau blok. Misalnya 'butir perkotaan baik' mungkin merupakan jaringan streetscapes kecil
atau rinci. Dibutuhkan mempertimbangkan hirarki jenis jalanan, keterkaitan fisik dan gerakan antara lokasi, dan
sarana transpor.
Density + mix ( D ) Intensitas pembangunan dan berbagai kegunaan yang berbeda (seperti perumahan, komersial, institusional atau
menggunakan rekreasi).
Height + massing ( HM ) Skala bangunan dalam kaitannya dengan tinggi dan luas lantai, dan bagaimana mereka berhubungan dengan bentuk
tanah sekitarnya, bangunan dan jalan-jalan. Hal ini juga mencakup selubung bangunan, cakupan situs dan orientasi
matahari. Tinggi dan massa menciptakan rasa keterbukaan atau kandang, dan mempengaruhi kemudahan jalan-
jalan, ruang dan bangunan lainnya.
Streetscape + landscape ( SS ) Desain ruang publik seperti jalan-jalan, ruang terbuka dan jalur, dan termasuk lansekap, iklim mikro, shading dan
penanaman.
Façade + interface ( F ) Hubungan bangunan ke bangunan lokasi, jalan dan tetangga (alignment, kemunduran, pengobatan batas) dan
ekspresi arsitektur fasad mereka (proyeksi, bukaan, pola dan bahan).
Details + materials ( DM ) Penampilan close-up dari objek dan permukaan dan pemilihan bahan dalam hal detail, pengerjaan, tekstur, warna,
daya tahan, keberlanjutan dan pengobatan. Ini termasuk struktur publik dan swasta dan ruang, furnitur jalan,
paving, pencahayaan dan signage. Ini memberikan kontribusi untuk kenyamanan manusia, keselamatan dan
kenikmatan dari domain publik atau swasta.
ELEMEN perancangan kota
Sumber : Urban Design Handbook

Elemen Pengertian Elemen

Signage ( S ) mengintegrasikan semua tanda-tanda dengan lingkungan sekitar mereka dalam hal ukuran, bentuk, warna, tekstur dan
pencahayaan sehingga mereka saling melengkapi dengan desain keseluruhan bangunan, dan tidak bersaing visual
dengan tanda-tanda lain di daerah.

Lighting ( L ) memperhitungkan jenis dan kuat cahaya yang diperlukan untuk tujuan khusus dari lingkungan

Parking ( P ) Jenis dan jumlah ruang parkir harus mencerminkan penggunaan yang diinginkan dari setiap situs. Lansekap dari area
parkir juga disarankan untuk memberikan keteduhan, meningkatkan keindahan sebuah situs, dan memungkinkan
untuk serapan air

Service Area ( SA ) Lokasi area servis ( TPA, Sumber Air, Sumber Listrik, dan sejenisnya ) harus berorientasi ke arah belakang bangunan
untuk meminimalkan merusak pemandangan visual.
Fencing ( Fe ) Pemagaran yang berfungsi sebagai batas wilayah, batas visual, atau hal yang sifatnya harus tertutup.

Builiding Articulation ( BA Artikulasi bangunan mengacu pada pemodelan tiga dimensi bangunan dan permukaan nya, giv-ing penekanan pada
) elemen arsitektur (jendela, balkon, beranda, entri, dll) yang menciptakan pola pelengkap atau irama, membagi
bangunan besar menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dapat diidentifikasi.

Transportation ( Ts ) Transportasi publik mengurangi jumlah kendaraan di jalan, sehingga mengurangi lalu lintas dan Emisi-keputusan, serta
memberikan mereka tanpa kendaraan sarana untuk bepergian, berbelanja dan pergi bekerja.
Elemen Keyword
Menurut Weber (1947)
Beberapa kriteria untuk merancang sebuah kota yaitu
- sebuah wilayah yang luas dimana habitat hidup bersama,
Wilayah, tempat tinggal, fasilitas umum
- sekumpulan rumah – rumah yang membentuk Aglomerasi yang luas dan spesifik,
- tempat berdagang dimana sebagian besar penduduknya hidup dari industri
- sebuah organisasi ekonomi sekaligus pengaturan kota.

Kostov, 1991):
• SQUARE ; open space sebagai paru-paru
• CENTER ; pusat kota sebagai jantung yang memompa darah
• JARINGAN JALAN ; sebagai saluran arteri darah dalam tubuh Open space, center, jaringan jalan, Fasilitas umum
• KEGIATAN EKONOMI ; sebagai sel yang berfikir
• BANK, PELABUHAN, KAWASAN INDUSTRI ; sebagai jaringan khusus dalam tubuh
• UNSUR KAPITAL (keuangan & bangunan) ; sbg energi yg mengalr ke seluruh sistem kota

Kus Handinoto membagi kota dalam empat elemen :


- Elemen wisma merupakan perpaduan antara wadah dan isi (manusia, penduduk).
- Elemen karya atau tempat kerja dan usaha diaplikasikan dalam bentuk tata guna lahan dan
fungsi bangunan yang meliputi penggunaan lahan, kondisi lokasi, hubungan fisik, agrarian dan
peraturan
- Elemen marga diaplikasikan dalam transpormasi dalam arti luas yang meliputi perhubungan Transportasi, fasilitas umum,
darat, laut dan sungai serta udara.
- Elemen suka diaplikasikan dalam bentuk lapangan olah raga, sekolah, ibadah, kesehatan dan
keperluan sehari – hari.
- elemen lainnya adalah penyempurna yang terdiri dari saluran air minum, sampah, segala
potensi yang ada dan hambatan, utilitas, fisik dan lain – lain
Elemen Keyword
Roger Trancik (1986) Massa bangunan, monumen, hunian, edges, ruang
Urban solid terdiri dari; terbuka, jalan utama, nodes
(1). massa bangunan, monumen;
(2). persil lahan blok hunian yang ditonjolkan;
(3).edges, yang berupa bangunan.

Urban Void terdiri dari:


(1). Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan privat;
(2). Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat sampai privat;
(3). Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi aktivitas publik berskala
kota;
(4). Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi preservasi
kawasan hijau;
(5). Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier

Etemen-elemen Perancangan Kota Struktur ruang, elemen fisik


1. Struktur ruang kawasan perkotaan
2. ELemen fisik kawasan perkotaan
• Land-use, urban form & massing, circulation & parking
• Open space, activity support, signage, preservasi & konservasi
3. Tradisi yang berkembang di kawasan amatan (mana yang lebih banyak: formal atau
popular/informal?)
4. Kebijakan pengaturan kawasan perkotaan (apakah ada untuk kawasan bersangkutan, check di
RUTRK/RDTRK)
• Incentive zoning
• Performance zoning
• Special district
• TUR / Transfer of Development Rights
• Sign ordinance
Kriteria TEORI

URBAN ARTEFAK

Mempertahankan Karakter Kota Radjiman (2000) mengatakan bangunan tua mengekspresikan kesinambungan dan simbolis
dari keadaan permanensi “place without old building is like a person without a memory”,
setiap kota mempunyai sejarah yang menghubungkan kepada asal-usul. Tanda yang terlihat
Juri sejarah tersebut dapat menentukan segi-segi rupa kota, sedangkan untuk daerah baru
mengikuti simbo-simbol yang terlihat Juri kepribadian kota lama yang memberikan kontinuitas
dan karakter pada daerah baru.
Vitality : Ketahanan vitality dalam hal ini adalah tolok ukur yang menunjang fungsi vital kehidupan, kebutuhan
biologis manusia dan menjaga kelangsungan hidup manusia dan lingkungannya. Dalam
bukunya Kevin Lynch juga menyatakan bahwa kota yang baik itu harus mampu menyediakan
ketercukupan suplai makanan, energi, air, udara dan pembuangan sampah, dan segala
sesuatunya harus selalu tersedia sepanjang waktu untuk kelangsungan hidup warganya. (Kevin
Lynch : Good City Form)
Sense : Rasa Dimensi sense dalam terjemahan bahasa Indonesia berarti rasa. Rasa dalam tolak ukur
menentukan kota yang baik berarti mengolah segala yang ada dalam otak manusia yang
merekam, mengenali, mampu menggambarkan, menceritakan baik peristiwa, benda, fisik
lingkungan, sampai kebudayaan. Setiap orang memiliki kemampuan merasakan yang berbeda-
beda. Kemampuan merinci (identify), mengenali (recognize), mengingat (recall),
menggambarkan (describe) direkam dan diolah pada memori otak manusia melalui
pengalaman, kebiasaan, masa kecil, dan pengetahuan. (Kevin Lynch : Good City Form)
MORFOLOGI KOTA

Fungsional dan Struktur Kota Cakupan aspek detail (bangunan, sistem sirkulasi, open space, dan prasarana kota) aspek tata
bentuk kota/townscape (terutama pola tata ruang, komposisi lingkungan terbangun terhadap
pola bentuk di sekitar kawasan studi) aspek peraturan (totalitas rencana dan rancangan kota
yang memperlihatkan dinamika kawasan kota
Efisiensi morfologi merupakan hasil dari proses perencanaan dan perancangan kota melalui sistem
formal yang berlaku (misal : Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW, Rencana Detail Tata
TEORI X KRITERIA

Sistem Ekologi Kota (J.Catanese, '1979): '1)


Upaya-upaya pelestarian ekologi kota dapat
dilakukan pada lingkungan perkotaan dengan karakteristik sebagai berikut: (J.
Catanese,
'1979):
'1)
memiliki nilai estetika/nilai arsitektur, yang menggambarkanbentuk, gaya, struktur atau tata kota pada pada
masa tertentu,
2) kelangkaan; memiliki gaya tertentu mewakili jamannya dan tidak dimiliki oleh daerah lain,
3) keluarbiasaan/keistimewaan/; misalnya tertinggi, terbesar, yang pertama, dan sebagainya serta memberi
tanda atau ciri bagi kawasan tertentu,
4) Peranan sejarah; memiliki nilai sejarah atau mencatat rangkaian sejarah dan babak perkembangan suatu
kota,
5) memperkuat kawasan di dekatnya; kehadiran suatu objek akan mempengaruhi kawasan-
kawasan sekitarnya dan bermakna untuk meningkatkan mutu dan citra lingkungannya

Access = Pencapaian
kemudahan pencapaian ke suatu tempat,
pencapaian informasi, kemudahan mendapatkan
pekerjaan, kemudahan memasuki jenjang
pendidikan.
Fungsional dan Struktur Kota Teori Konsentrik (concentriczone concept) yang dikemukakan EW.Burkss.
Dalam teori konsentrik ini, Burgess mengemukakan bahwa bentuk guna lahan kota
membentuk suatu zona konsentris. Dia mengemukakan wilayah kota dibagi dalam 5
(lima) zona penggunaan lahan yaitu:
1. Lingkaran dalam terletak pusat kota (central business distric atau CBD) yang
terdiri bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan pusat
perbelanjaan
2. Lingkaran kedua terdapat jalur peralihari yang terdiri dari: rumah-rumah sewaan,
kawasan industri, dan perumahan buruh
3. Lingkaran ketiga terdapat jalur wisma buruh, yaitu kawasan perumahan untuk
tenaga kerja pabrik
10
4.Lingkaran keempat terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja
kelas menengah
5.Lingkaran kelima merupakan zona penglaju yang merupakan tempat kelas
menengah dan kaum berpenghasilan tinggi.

Teori sektor (sector concept) yang dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Dalam teori ini
Hoyt mengemukakan beberapa masukan tambahan dari bentuk guna lahan kota yang
berupa suatu penjelasan dengan penggunaan lahan permukiman yang lebih
memfokusan pada pusat kota dan sepanjang jalan transportasi. Dalam teorinya ini,
Hoyt membagi wilayah kota dalam beberapa zona, yaitu:
1. Lingkaran pusat, terdapat pusat kota atau CBD
2. Sektor kedua terdapat kawasan perdagangan dan industri
3. Sektor ketiga terdapat kawasan tempat tinggal kelas rendah
4. Sektor keempat terdapat kawasan tempat tinggal kelas menengah
5. Sektor kelima terdapat kawasan ternpat tinggal kelas atas.

Teori banyak pusat (multiple-nuclei concept) yang dikernukakan oleh


R.D.McKenzie. Menurut McKenzie teori banyak pusat ini didasarkan pada
pengamatan lingkungan sekitar yang sering terdapat suatu kesamaan pusat dalam
bentuk pola guna lahan kota daripada satu titik pusat yang dikemukakan pada teori
sebelumnya. Dalarn teori ini pula McKenzie menerangkan bahwa kota meliputi
pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian dan pusat lainnya. Teori
banyak pusat ini selanjutnya dikembangkan oleh Chancy Harris dan Edward Ullman
yang kemudian membagi kawasan kota menjadi beberapa penggunaan lahan, yaitu:
1. Pusat kota atau CBD
2 Kawasan perdagangan dan industri
3 Kawasan ternpat tinggal kelas rendah
4. Kawasan ternpat tinggal kelas menengah
5. Kawasan tempat tinggal kelas atas
6. Pusat industri berat
7. Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran
8. Kawasan tempat tinggal sub-urban
9. Kawasan industri suburban
Metode Perancangan Kota
Sumber : Creating Places for People, Urban Design Protocol

Metode Pengertian Proses/ Pihak Terkait


Context Menganalisis kerangka strategis perencanaan dan memutuskan apa efeknya terhadap ekonomi, Bekerja dalam konteks, perencanaan fisik + sosial,
hasil lingkungan dan sosial harus dicapai, dan memprioritaskan tindakan untuk mencapai hasil. kebijakan
Bentuknya berupa : Kebijakan strategis yang kemudian dilaksanakan melalui berbagai cara,
termasuk rencana undang-undang, rencana infrastruktur dan rencana pelayanan.

Engagement Mengikut sertakan pihak terkait, termasuk masyarakat luas, harus memberikan masukan dan Survey/kuesioner kpd masyarakat ( mengikutsertakan
umpan balik pada tahap kunci dari proses. Mereka dapat membantu untuk mengembangkan visi, seluruh elemen masyarakat ), visi kebijakan
meninjau pilihan desain dan memberikan umpan balik selama pameran publik.

Excellence Bentuk proyek perancangan sebuah kota mempertimbangkan 'desain juara' dalam tim proyek, Kompetisi, observasi tim ahli, hasil desain arsitektur kota
pemilihan kemampuan berbasis, kompetisi desain dan / atau tinjauan desain independen.
Keunggulan desain perkotaan dicapai oleh tim multidisiplin dengan keterampilan dan pengalaman
yang sesuai. Memastikan tim proyek meliputi kompeten, profesional desain terampil termasuk
perencana penggunaan lahan, desainer perkotaan, arsitek lansekap, arsitek dan insinyur yang
sesuai.

Custodianship Memastikan bahwa sistem berada di tempat untuk operasi yang sedang berlangsung, manajemen Melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan/ desain
dan pemeliharaan sehingga tempat ini terpelihara dengan baik dan berkelanjutan dalam jangka
panjang.
Metode Perancangan Kota
Sumber : Creating Places for People, Urban Design Protocol

Metode Pengertian Proses/ Pihak Terkait


Context ( CO ) Menganalisis kerangka strategis perencanaan dan memutuskan apa efeknya terhadap Bekerja dalam konteks, perencanaan fisik + sosial,
ekonomi, hasil lingkungan dan sosial harus dicapai, dan memprioritaskan tindakan untuk kebijakan
mencapai hasil.
Bentuknya berupa : Kebijakan strategis yang kemudian dilaksanakan melalui berbagai cara,
termasuk rencana undang-undang, rencana infrastruktur dan rencana pelayanan.

Engagement ( E ) Mengikut sertakan pihak terkait, termasuk masyarakat luas, harus memberikan masukan Survey/kuesioner kpd masyarakat ( mengikutsertakan
dan umpan balik pada tahap kunci dari proses. Mereka dapat membantu untuk seluruh elemen masyarakat ), visi kebijakan
mengembangkan visi, meninjau pilihan desain dan memberikan umpan balik selama
pameran publik.
Excellence ( EX ) Bentuk proyek perancangan sebuah kota mempertimbangkan 'desain juara' dalam tim Kompetisi, observasi tim ahli, hasil desain arsitektur kota
proyek, pemilihan kemampuan berbasis, kompetisi desain dan / atau tinjauan desain
independen.
Keunggulan desain perkotaan dicapai oleh tim multidisiplin dengan keterampilan dan
pengalaman yang sesuai. Memastikan tim proyek meliputi kompeten, profesional desain
terampil termasuk perencana penggunaan lahan, desainer perkotaan, arsitek lansekap,
arsitek dan insinyur yang sesuai.

Custodianship ( CU ) Memastikan bahwa sistem berada di tempat untuk operasi yang sedang berlangsung, Melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan/ desain
manajemen dan pemeliharaan sehingga tempat ini terpelihara dengan baik dan
berkelanjutan dalam jangka panjang.
Metode Perancangan Kota
Sumber : Urban Design, Methods and Techniques
Metode Pengertian Proses/ Pihak Terkait

Synoptic ( S ) metode sinoptik menghasilkan perencanaan dari analisis untuk definisi target diikuti dengan mencari Tim ahli tentang SDA, Penduduk Sipil
alternatif dan metode perencanaan bandingan.Synoptic dalam beberapa kasus proses pelaksanaan
dengan teknik berguna untuk umpan balik dari informasi yang

Incremental ( I ) Hanya sejumlah tindakan alternatif yang dipertimbangkan dalam konteks pembangunan dan ini sedikit Politikus dan Penduduk Sipil
berbeda dari status quo. Sebuah solusi yang baik dalam perencanaan inkremental tidak didefinisikan
oleh tingkat pencapaian tujuan, tetapi bagaimana implementasi layak adalah dengan cara yang
tersedia dan tingkat kesepakatan di antara para pembuat keputusan kunci

Transactive ( T ) menempatkan penekanan besar pada saling belajar dan dialog antara mereka yang terkena dampak Pemerhati Lingkungan, Politikus, Penduduk
perencanaan. berusaha untuk membangun badan perencanaan desentralisasi yang dapat memberikan Sipil, Komunitas Sosial
populasi kontrol lebih besar atas proses-proses sosial yang mempengaruhi kesejahteraan mereka.

Advocacy ( A ) Seperti namanya, menunjukkan bahwa perencana menjadi juru bicara (dari segi hukum atau sejenis Pemerhati Lingkungan, Politikus dan
lembaga formal ) untuk berbagai kelompok. Perencana memberikan kontribusi kepada proses Penduduk Sipil
pembangunan dengan menciptakan situasi dengan banyak proposal rencana bersaing.

Radical ( R ) Para firstis pendekatan anarkis yang diilhami menekankan kontrol desentralisasi dan eksperimen Tim Ahli tentang SDA, Komunitas Sosial
dengan organisasi masyarakat alternatif
Metode Perancangan Kota x Kriteria
Kriteria Metode

URBAN ARTEFAK CO E EX CU S I T A R

Mempertahankan Karakter Kota v v v

Vitality : Ketahanan v v v v v

Sense : Rasa v v v

MORFOLOGI KOTA

Fungsional v v v v v

Efisiensi v v v v v

TATANAN FISIK KOTA

Fungsional dan Struktur Kota v v v v v

Sistem Ekologi Kota v v v

Acsess : Pencapaian v v v v

Control v v v v

Aksesibilitas, Transparansi, Tanggap v v


Lampiran Individu
ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002
MORFOLOGI STRUKTURAL KOTA
Posted by addyintan pada 31 Mei 2011
Terdapat beberapa pandangan yang berkaitan dengan perubahan suatu kawasan dan sekitarnya sebagai bagian dari suatu kawasan perkotaan yang lebih luas, menurut Gallion dalam buku ¨The Urban Pattern¨ disebutkan bahwa
perubahan suatu kawasan dan sebagian kota dipengaruhi letak geografis suatu kota. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perubahan akibat pertumbuhan daerah di kota tersebut, apabila terletak di daerah pantai yang landai, pada jaringan
transportasi dan jaringan hubungan antar kota, maka kota akan cepat tumbuh sehingga beberapa elemen kawasan kota akan cepat berubah.
Dalam proses perubahan yang menimbulkan distorsi (mengingat skala perubahan cukup besar) dalam lingkungan termasuk didalamnya perubahan penggunaan lahan secara organik, terdapat beberapa hal yang bisa diamati yaitu :
•Pertumbuhan terjadi satu demi satu, sedikit demi sedikit atau terus menerus.
•Pertumbuhan yang terjadi tidak dapat diduga dan tidak dapat diketahui kapan dimulai dan kapan akan berakhir, hal ini tergantung dari kekuatan-kekuatan yang melatar belakanginya.
•Proses perubahan lahan yang terjadi bukan merupakan proses segmental yang berlangsung tahap demi tahap, tetapi merupakan proses yang komprehensif dan berkesinambungan.
•Perubahan yang terjadi mempunyai kaitan erat dengan emosional (sistem nilai) yang ada dalam populasi pendukung.
•Faktor-faktor penyebab perubahan lainya adalah vision (kesan), optimalnya kawasan, penataan yang maksimal pada kawasan dengn fungsi-fungsi yang mendukung, penggunaan struktur yang sesuai pada bangunan serta komposisi
tapak pada kawasan. (Cristoper Alexander, A New Theory Of Urban Design, 1987, 14:32-99).

Uraian diatas sesuai dengan kondisi kawasan penelitian yang berada di kawasan bencana alam, yaitu adanya perubahan pola tata ruang lingkungan permukiman (kampung kota) mengarah
kepada tatanan kawasan mitigasi bencana alam yang nantinya melalui tahapan proses terus menerus yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan manusianya.
Dalam kaitanya dengan kota dan arsitektur, morfologi memiliki dua aspek yaitu aspek diakronik yang berkaitan dengan perubahan ide dalam sejarah dan aspek sinkronik yaitu hubungan
antar bagian dalam kurun waktu tertentu yang dihubungkan dengan aspek lain. Aspek metamorfosis adalah sejarah individual dari bangunan dan kota, kesemuanya harus dilakukan dalam
analisis morfologi.
Karya arsitektur merupakan salah satu refleksi dan perwujudan kehidupan dasar masyarakat menurut makna yang dapat dikomunikasikan (Rapoport, 1969). Keseragaman dan keberagaman
sebagai ungkapan perwujudan fisik yang terbentuk yaitu citra dalam arti identitas akan memberikan makna sebagai pembentuk citra suatu tempat (place).

Ada tiga komponen struktural yang dapat dikaji (Schultz, 1984) :


•Tipologi : menyangkut tatanan sosial (sosial order) dan pengorganisasian ruang (spatial organization) yang dalam hal ini menyangkut ruang (space) berkaitan dengan tempat yang abstrak.
•Morfologi : menyangkut kualitas spasial figural dan konteks wujud pembentuk ruang yang dapat dibaca melalui pola, hirarki, dan hubungan ruang satu dengan yang lainya.

Tipologi lebih menekankan pada konsep dan konsistensi yang dapat memudahkan masyarakat mengenai bagian-bagian arsitektur.
Morfologi lebih menekankan pada pembahasan bentuk geometris, sehingga untuk memberi makna pada ungkapan ruang harus dikaitkan dengan nilai ruang tertentu, nilai ruang sangat
berkaitan dengan organisasi ruang, hubungan ruang dan bentuk ruang, perwujudan spasial fisik merupakan produk kolektif perilaku budaya masyarakat serta pengaruh ¡¨kekuasaan¡¨
tertentu yang melatarbelakanginya.
Karakteristik suatu tempat dalam hal ini penggunaan suatu lingkungan binaan tertentu bukan hanya sekedar mewadahi kegiatan fungsional secara statis, melainkan menyerap dan
menghasilkan makna berbagai kekhasan suatu tempat antara lain setting fisik bangunan, komposisi dan konfigurasi bangunan dengan ruang publik serta kehidupan masyarakat setempat.
Perubahan morfologi tidak lepas dari pendukung kegiatan (activity support) karena adanya keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kawasan dengan seluruh kegiatan yang menyangkut
penggunaan ruang yang menunjang keberadaan ruang-ruang umum.
Kegiatan dan ruang-ruang umum merupakan hal yang saling mengisi dan melengkapi, keberadaan pendukung kegiatan mulai muncul dan tumbuh, bila berada diantara dua kutub kegiatan
yang ada di kawasan tersebut keberadaan pendukung kegiatan tidak lepas dari tumbuhnya fungsi kegiatan publik yang mendominasi penggunaan ruang kawasan, semakin dekat dengan
pusat kegiatan semaking tinggi intensitas dan keberagaman kegiatan.

Morfologi kota merupakan kesatuan organik elemen-elemen pembentuk kota


Morfologi kota terbentuk melalui proses yang panjang, setiap perubahan bentuk kawasan secara morfologis dapat memberikan arti serta manfaat yang sangat berharga bagi penanganan perkembangan suatu kawasan kota.
ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002

•aspek detail (bangunan, sistem sirkulasi, open space, dan prasarana kota)
•aspek tata bentuk kota/townscape (terutama pola tata ruang, komposisi lingkungan terbangun terhadap pola bentuk di sekitar kawasan studi)
•aspek peraturan (totalitas rencana dan rancangan kota yang memperlihatkan dinamika kawasan kota
•Perkembangan morfologi suatu kota dipengaruhi oleh banyak faktor.
•Faktor-faktor yang berkembang umumnya memiliki karakter tertentu yang mempengaruhi wajah kota dalam kurun waktu yang sangat panjang.
•Kompleksitas wajah kota dalam suatu kronologis waktu dipengaruhi diantaranya oleh sejarah, gaya bangunan, peraturan, struktur jalan, teknologi membangun, perkembangan regional, ataupun karena suatu landasan kosmologi yang
berkembang di suatu daerah.
•Morfologi sifatnya never ending dalam artian terus berkembang dan waktu ke waktu.
•proses formal (melalui proses planning dan design)
•kota diarahkan sesuai dengan potensi dan karakteristik dasar wilayah (potensi alamiah, ekonomi, sosial budaya)
•Ada intervensi terhadap perkembangan kota
•proses organis (proses yang tidak direncanakan dan berkembang dengan sendirinya).
DEFINISI
Morfologi kota merupakan kesatuan organik elemen-elemen pembentuk kota
Morfologi kota terbentuk melalui proses yang panjang,
setiap perubahan bentuk kawasan secara morfologis dapat
memberikan arti serta manfaat yang sangat berharga bagi
penanganan perkembangan suatu kawasan kota
Cakupan
•aspek detail (bangunan, sistem sirkulasi, open space, dan prasarana kota)
•aspek tata bentuk kota/townscape (terutama pola tata ruang, komposisi lingkungan terbangun terhadap pola bentuk di sekitar kawasan studi)
•aspek peraturan (totalitas rencana dan rancangan kota yang memperlihatkan dinamika kawasan kota
Proses Morfologi Kota/Perkembangan Bentuk Kota
Perkembangan morfologi suatu kota dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang berkembang umumnya memiliki karakter tertentu yang mempengaruhi wajah kota dalam kurun waktu yang sangat panjang. Kompleksitas wajah
kota dalam suatu kronologis waktu dipengaruhi diantaranya oleh sejarah, gaya bangunan, peraturan, struktur jalan, teknologi membangun, perkembangan regional, ataupun karena suatu landasan kosmologi yang berkembang di suatu
daerah. Morfologi sifatnya never ending dalam artian terus berkembang dan waktu ke waktu.
Jenis Proses Perkembangan
•proses formal (melalui proses planning dan design)
•kota diarahkan sesuai dengan potensi dan karakteristik dasar wilayah (potensi alamiah, ekonomi, sosial budaya)
•Ada intervensi terhadap perkembangan kota
•proses organis (proses yang tidak direncanakan dan berkembang dengan sendirinya).
Dalam beberapa dekade terakhir, kita mencermati terjadinya proses transformasi sosial yang
sangat pesat di kawasan perkotaan yang telah mengubah morfologi kota-kota Indonesia.
Transformasi tersebut semakin dipercepat pasca diberlakukannya otonomi daerah sejak
ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002
tahun 1999.
Pemahaman kita tentang “morfologi kota” tidak dapat dilepaskan dari wujud fisik kota yang
terbentuk utamanya oleh kondisi fisik-lingkungan maupun interaksi sosial – ekonomi
masyarakat yang dinamis. Sebagai sebuah cabang ilmu geografi dan arsitektur, morfologi
mempelajari perkembangan bentuk fisik di kawasan perkotaan, yang tidak hanya terkait
dengan arsitektur bangunan, namun juga sistem sirkulasi, ruang terbuka, serta prasarana
perkotaan (khususnya jalan sebagai pembentuk struktur ruang yang utama). Secara garis
besar, wujud fisik kota tersebut merupakan manifestasi visual dan parsial yang dihasilkan
dari interaksi komponen-komponen penting pembentuknya yang saling mempengaruhi satu
sama lainnya (Allain, 2004).
Dalam proses perwujudannya, maka morfologi kota dapat dilihat sebagai evolusi dari sejarah
kota masa lalu, perancangan kota untuk masa kini serta perencanaan kota untuk masa
depan. Di satu sisi, dalam konteks kekinian morfologi merupakan sesuatu yang kasat mata
secara fisik, namun di sisi lain, tersimpan makna sejarah yang sifatnya lebih abstrak, yang
menjadi alasan dari keberadaannya.
Selain itu, morfologi merupakan hasil dari proses perencanaan dan perancangan kota
melalui sistem formal yang berlaku (misal : Rencana Tata Ruang Wilayah/RTRW, Rencana
Detail Tata Ruang/RDTR, hingga Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan/RTBL). Namun
demikian, morfologi kota juga terbentuk dari proses yang bekerja diluar jangkauan atau
kendali sistem formal yang ada, sebagaimana yang banyak kita jumpai di kota-kota
Indonesia. Secara keseluruhan, baik dalam kerangka formal maupun informal, kota dengan
morfologinya menjadi cermin peradaban masyarakatnya (urban artifact)
.
1 Paparan ini disampaikan dalam Seminar dengan tema “Morfologi – Transformasi dalam Ruang
Perkotaan yang Berkelanjutan”, yang diselenggarakan oleh Program Pasca Sarjana – Universitas
Diponegoro (UNDIP) – Indonesia, 20 November 2010 di Semarang - Indonesia.

2. Perkembangan Ruang Kota : Urbanisasi dan Dampaknya


Tidak dapat disangkal bahwa perkembangan fisik ruang kota sangat dipengaruhi oleh
urbanisasi. Perkembangan urbanisasi di Indonesia dapat diamati dari 3 (tiga) aspek :
pertama, jumlah penduduk yang tinggal di kawasan perkotaan (kini mencapai 120 juta dari
total 230 juta jiwa); kedua, sebaran penduduk yang tidak merata (hampir 70% di Pulau Jawa
dengan 125 juta jiwa dan di Pulau Sumatera dengan 45 juta jiwa); serta, ketiga, laju
urbanisasi yang tinggi, dimana kota-kota metropolitan, seperti : Jakarta (termasuk Bekasi,
Bogor dan Tangerang), Surabaya, Bandung, Medan, Palembang, dan Makassar, merupakan
magnet utamanya. Catatan statistik menunjukkan bahwa sejak 1970, fraksi penduduk
perkotaan Indonesia meningkat dari 17.4% (1970), menjadi 22.3% (1980), 30.9% (1990),
43.99% (2002) dan, akhirnya, 52.03% (2010). Artinya dalam tempo 40 tahun, urbanisasi
telah melipatgandakan penduduk perkotaan tiga kali lebih besar.
Gambar 1 : Perkembangan Urbanisasi di Indonesia 1970 - 2020 yang kaya saling berkompetisi, tanpa batas, sebagai upaya untuk mencapai efisiensi tertinggi
dalam kehidupan perkotaan. Urbanisasi dipandang sebagai pilihan rasional masyarakat
untuk meningkatkan taraf hidupnya, dengan kata lain, upaya untuk menjadikan hidupnya
lebih layak dan sejahtera. Tetapi di sisi lain, ketika kota-kota bertansformasi menjadi lebih
modern, secara bersamaan kualitas kehidupan perkotaan menurun secara signifikan.
Kemacetan yang akut, banjir yang berulang bahkan semakin parah, penyediaan air yang
tidak layak minum, polusi air dan udara, serta penyebaran kawasan kumuh di perkotaan,
kesemuanya menjadi potret buram kota-kota, khususnya kota metropolitan di Indonesia.
Dua sisi pembangunan perkotaan yang saling bertolak-belakang ini disebut oleh para ahli
sebagai “the urban paradox”.

Tidak hanya itu, terjadi peningkatan jumlah kota di Indonesia secara progresif untuk
Sumber : BPS (2010), diolah
periode yang sama. Pada awal tahun 1970, hanya terdapat 45 kota otonom saja, namun pada
tahun 2010 telah berkembang menjadi 98 kota otonom. Artinya dalam 40 tahun terakhir,
jumlah kota telah meningkat 2 (dua) kali lipat. Khususnya dalam 10 tahun terakhir (2000 – Dengan kondisi yang kritis tersebut, penduduk miskin perkotaan akan menjadi korban
2010), telah lahir 25 kota otonom baru sebagai hasil pemekaran wilayah dengan maksud pertama. Tanpa akses ke pelayanan dasar perkotaan, penduduk miskin tersebut kini
untuk meningkatkan pelayanan publik. 4
Dari sisi penyebaran kota-kota mendiami hunian kumuh yang sangat padat (slums dan squatters) di ruang-ruang sempit
otonom, maka 34 kota berada perkotaan yang sama sekali tidak layak huni. Penduduk miskin menjadi kelompok sosial
Pulau Sumatera dan 35 kota di yang sangat rentan terhadap berbagai bencana perkotaan, antara lain : banjir, kebakaran dan
Pulau Jawa. Sedangkan 29 kota penyebaran wabah penyakit. Dalam jangka panjang, apabila kita memasukkan parameter
lainnya tersebar di Pulau perubahan iklim, kerentanan penduduk miskin perkotaan akan semakin tinggi. Wujud fisik
dan arsitektur kota yang kontras (antara kemewahan dan kekumuhan) merupakan bukti
Kalimantan, Sulawesi, Maluku,
yang solid, bagaimana kesenjangan dan segregasi sosial-ekonomi terjadi di kawasan
Nusa Tenggara dan Papua. Artinya, perkotaan.
70% dari kota otonom Indonesia 3. Transformasi Sosio-Fisik di Kawasan Perkotaan
berada di Pulau Jawa dan Urbanisasi mengubah morfologi kota secara drastis, baik dilihat dari struktur, fungsi maupun
Sumatera, ekivalen dengan 70% wajah kotanya. Secara sosio-kultural, fenomena ”mengkota” menandakan terbentuknya
konsentrasi PDB nasional di kedua network society yang baru dan berbeda dalam tuntutan pelayanan infrastruktur (Graham &
Pulau tersebut. Marvin, 2001). Tiga contoh berikut, Jakarta, Bandung dan Gorontalo, dapat memberikan
Sumber : Ditjen Penataan Ruang, 2010 ilustrasi betapa cepat perubahan telah terjadi di kota-kota Indonesia.
Pada masa yang akan datang, urbanisasi diyakini akan terus terjadi di Indonesia, baik karena • Pada awal tahun 1960-an, Jakarta tidak lebih dari sebuah “kampoeng besar” dengan
sebuah hotel berbintang, Hotel Indonesia dan sebuah department store “Sarinah”.
pertumbuhan penduduk kota secara alamiah, migrasi dari desa ke kota maupun pemekaran
Namun dalam tempo 50 tahun terakhir, perkembangan yang sangat pesat telah
wilayah. Dengan laju pertumbuhan moderat sebesar 1,5%/tahun, maka proporsi penduduk terjadi. Jakarta telah bermetamorfosa menjadi sebuah kota metropolitan, dengan
kota diperkirakan akan meningkat menjadi 56,05% di tahun 2015 lalu menjadi 60,39% di gedung-gedung modern pencakar langit yang megah (hotel, apartemen, kantor
tahun 2020. hingga mall/pusat-pusat perbelanjaan), khususnya di kawasan Segitiga Emas. Dalam
Bagaimanapun, proses transformasi sosial yang demikian cepat tidak mudah untuk dikelola. prosesnya, transformasi sosio-fisik dilakukan dengan mengkonversi kampungkampung
Di satu sisi, kota merupakan katalis pertumbuhan ekonomi yang utama (engine of growth). yang banyak berada di dataran rendah (rawa dan kebun)2 ke segala arah:
Kota merupakan inkubasi yang ideal untuk lahirnya berbagai inovasi: locus dimana ide-ide Barat, Selatan dan Timur.
Kini, dengan statusnya sebagai “multi-function”3 yang mengakumulasi berbagai

ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002 fungsi tertinggi secara nasional (pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa, bahkan
kebudayaan), Jakarta telah menjema menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi
yang menjanjikan di kawasan Asia-Pasifik. Selain itu, perkembangan yang sangat
pesat terjadi di kawasan pinggiran, dimana tidak kurang dari 7 (tujuh) kotabaru
berskala besar telah terbangun di Jabodetabek sejak tahun 1980-an (Gani, 2010)4.
esensial dari sistem internal kotanya. Proses urbanisasi telah terjadi secara cepat
mulai tahun 1980-an, ditandai dengan okupansi lahan-lahan di Bandung Utara dan
Bandung Selatan. Perubahan morfologi kota semakin tajam pada awal tahun 2000-
an, ditandai dengan pemekaran Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat, serta
dibukanya akses jalan tol Cipularang pada tahun 2005 yang memangkas jarak waktu
Jakarta – Bandung secara signifikan. Bandung mengalami metamorfosa, dari kota
tempat peristirahatan para mandor perkebunan « tempoe doeloe » menjadi kota
tujuan wisata « urban tourism » dengan atraksi wisata kuliner, kesejukan alami
dataran tinggi, serta pusat belanja (factory outlets). Kawasan Dago, Setiabudi dan
sekitarnya kini menjadi pusat kegiatan komersial utama di Kota Bandung, padahal
lama sebelumnya ia direncanakan sebagai pusat hunian yang tenang. Sementara itu,
kawasan Bandung Utara yang sebelumnya merupakan kawasan lindung untuk
peresapan air, kini telah beralih fungsi menjadi salah satu pusat permukiman elit
serta pusat kegiatan pariwisata yang dipadati oleh turis domestik saat weekend.
• Kota Gorontalo hingga akhir tahun 1990-an « hanya » merupakan ibukota
Kabupaten Gorontalo dengan fasilitas sosial-ekonomi yang sangat terbatas (hotel,
rumah sakit, restoran, dsb.). Sejak beralih status menjadi kota otonom sekaligus
Ibukota Provinsi Gorontalo pada tahun 1999, aliran investasi yang mengalir cukup
deras dipicu oleh kegiatan pemerintahan telah merubah wajah kota secara
signifikan. Pusat-pusat kegiatan komersial dan jasa (perbankan, restoran, hotel dsb)
tumbuh subur. Infrastruktur sosial-ekonomi semakin membaik, khususnya yang
berkaitan dengan sektor industri perikanan (pelabuhan) dan sektor pertanian
tanaman pangan (industri pengolahan komoditas jagung). Wajah kota yang relatif
sederhana, secara perlahan kini berubah mengikuti perkembangan zaman.
Dari tiga contoh diatas, kita dapat mengamati bahwa transformasi sosial telah mengubah
morfologi kota. Beberapa faktor tampaknya cukup dominan dalam proses tersebut : (1)
aliran investasi yang mendorong peningkatan produktivitas kota, khususnya yang penduduk miskin tersebut masih sangat tinggi. Tidak kurang dari 47.000 kantong-kantong
digerakkan oleh investasi swasta ; (2) keberadaan infrastruktur sosial-ekonomi, seperti jalan kemiskinan kini tersebar di berbagai kota di Indonesia.
dan pelabuhan, serta (3) peningkatan status kota otonom (ibukota provinsi). Ketiga faktor
tersebut menjadi penyebab utama terjadinya urbanisasi dan mengakselerasi alih-fungsi
ruang perkotaan. Perbedaannya terletak pada titik awal terjadinya perubahan (Jakarta sejak
1960-an, Bandung sejak 1980-an, dan Gorontalo sejak 2000-an), serta kecepatan
transformasi yang terjadi yang banyak ditentukan oleh peran sektor swasta.
Walaupun demikian, modernisasi kota tidak serta-merta menghapus kekumuhan akibat
kemiskinan perkotaan yang belum dapat teratasi sepenuhnya. Pada kurun waktu tiga dekade
terakhir (1980 – 2010), jumlah penduduk miskin di kawasan perkotaan justru menunjukkan
6
grafik yang meningkat dari 9,5 juta menjadi 11,91 juta jiwa. Hal ini berlawanan dengan
jumlah penduduk miskin di kawasan perdesaan yang menunjukkan kecenderungan
menurun dari 32,8 juta (1980) menjadi 20,62 juta jiwa (2010). Secara keseluruhan, angka

ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002


Kota-kota kontemporer di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari fenomena pusat kegiatan komersial (di sepanjang jalan utama). Setiap kantor Kepala Daerah
informalisasi, dicirikan dengan banyaknya pedagang kaki lima/PKL yang menghiasi tersebut menggunakan arsitektur lokal sebagai ciri utama yang membedakan satu
koridor utama kota dan pusat-pusat kegiatan sosial-ekonomi kota (sekitar pusat daerah dengan daerah lainnya. Keberagaman arsitektur menjadi elemen kota yang
perbelanjaan, pusat hiburan dan di sekitar masjid besar). menarik dan alun-alun menjadi pusat interaksi sosial antar-warga kota.
Apabila merujuk pada data wajib pajak yang masih relatif kecil (berkisar antara 20 Namun pada saat ini, simpul kegiatan tidak lagi tunggal, namun tersebar di banyak
hingga 30% saja), maka keberadaan sektor informal5 di Indonesia memiliki titik. Seiring dengan meningkatnya peran swasta dalam pembangunan kota, simpulsimpul
prosentase yang sangat besar (antara 70% hingga 80%). Bukan sesuatu yang baru untuk mewadahi kegiatan warga telah lahir. Dalam konteks ini, mall
mengherankan apabila kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, atau pusat perbelanjaan modern merupakan simbol tumbuh-kembangnya
Medan dan Makassar dipenuhi oleh PKL di siang dan malam hari. perekonomian kota. Bahkan keberadaan mall ala Barat dijadikan salah satu indikator
Pertumbuhan PKL meningkat secara progresif seperti di Kota Bandung, Surabaya keberhasilan para Kepala Daerah. Pertumbuhan mall bukan hanya terjadi di Jakarta
dan Jakarta. Di Kota Bandung, seperti dilansir oleh harian Pikiran Rakyat, pada dan sekitarnya, namun hampir di seluruh kota-kota dari Sabang sampai Merauke,
tahun 2007 diperkirakan terdapat 150 ribu PKL, lalu meningkat menjadi 200 ribu bahkan kawasan perkotaan di Kabupaten, seperti Jatinangor. Mall menjelma menjadi
PKL pada tahun 2008. Demikian juga di Kota Surabaya, berdasarkan data dari Badan ruang publik artifisial, menggantikan alun-alun yang dianggap “ketinggalan zaman”.
Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Kota Surabaya, peningkatan PKL Dari sudut pandang morfologi kota, komersialisasi ruang-ruang publik sebagaimana
yang terjadi dari tahun 2006 hingga 2009 adalah sebesar 20% atau dari 18 ribu PKL dicirikan dengan keberadaan mall serta ruko-ruko tersebut, yang tumbuh bagaikan
menjadi 22 ribu PKL. Sebagai perbandingan, jumlah PKL di Jakarta pada tahun 2007 jamur di jalan-jalan utama dengan ciri visual arsitektural terbatas adalah jamak.
adalah berkisar 150 ribu PKL. Fenomena ini menjadikan pemandangan kota-kota yang monoton karena kurangnya
Keberadaan PKL tidak dapat diabaikan dari sudut pandang sosial-ekonomi lokal, kecerdasan lokal, sementara solusi sebenarnya bisa sangat beragam. Kekuatan
karena ia menyerap banyak tenaga kerja sekaligus mengurangi jumlah pengangguran ekonomi telah merubah morfologi kota di tanah air menjadi lebih homogen.
secara masif di banyak kota besar dan metropolitan. Dengan tingkat pengangguran c. Penjalaran dan Pemadatan Kawasan Pinggiran
di Jakarta pada tahun 2007 yang mencapai 552 ribu jiwa, PKL memberikan alternatif Perkembangan kota-kota di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh pola
solusi bagi 27% penduduk tanpa pekerjaan tersebut, yang tidak tertampung dalam Amerika : (1) rumah berukuran besar (landed housing) yang seringkali berada di
sektor formal. Angka pengangguran justru bertambah menjadi 570.560 orang pada kawasan pinggiran (sub-urban/peripheri), mengingat tingginya harga properti (tanah
tahun 2009.6 Namun dari sudut pandang morfologi, keberadaan PKL seringkali dan bangunan) di tengah kota ; (2) penggunaan kendaraan pribadi (mobil) yang
menimbulkan gangguan terhadap berjalannya fungsi kota (misal kemacetan), serta menawarkan « freedom of movement » dalam menunjang kebutuhan untuk sirkulasi
memberikan citra negatif bagi kota-kota yang tampak semrawut dan menurunkan perkotaan, serta (3) ketersediaan akses transportasi yang memadai (khususnya jalan
nilai visualnya. tol, dimana jarak geografis terpangkas oleh jarak waktu) (lihat Graham & Marvin,
b. Homogenisasi Wajah Kota dan Lahirnya Simbol Baru 2001 ; Veron, 2006). Dari perspektif morfologis, pola ini telah memicu terjadinya
Isu tentang “ketunggalrupaan” arsitektur kota Indonesia telah cukup lama menjadi penjalaran perkembangan kota secara horizontal ke segala arah (urban sprawling),
kerisauan para pemerhati perkotaan. Kota-kota besar di Indonesia cenderung mendorong pergerakan orang dan barang yang bukan saja boros energi, tapi juga
kehilangan karakter lokalnya yang digantikan dengan simbol-simbol baru yang polutif terhadap lingkungan (konsumsi energi dalam jumlah besar, serta pelepasan
cenderung memutus dimensi kesejarahan kota. karbon yang besar pula ke atmosfir).
5 Menurut ILO (2004), dalam kajiannya mengenai “Extension of Social Security Coverage for the Penjalaran dimaksud, yang kemudian diikuti dengan proses pemadatan (densifikasi),
Informal Economy in Indonesia”, istilah sektor informal merujuk pada seluruh kegiatan ekonomi terjadi jauh dari pusat kegiatan hingga ke kawasan pinggiran, melebihi batas-batas
oleh pekerja atau unit usaha yang dalam prakteknya sebagian atau seluruhnya berada di luar administratif wilayah kota. Pusat kota tidak lagi tunggal (mono-nucleus), namun
sistem formal. Definisi yang lebih generik telah digunakan di 21 negara di dunia, termasuk 9
Indonesia, dimana batasan sektor informal adalah “jenis usaha yang tidak terdaftar, tanpa status tersebar di beberapa lokasi strategis (multi-nucleus). Kampung-kampung di kawasan
legal”. (lihat BPS, 1993). pinggiran pun secara cepat beralih menjadi pusat kegiatan perkotaan baru, seringkali
Dari kedua pengertian tersebut, maka para pelaku di kegiatan sektor informal pada umumnya tanpa perencanaan dan perancangan yang matang. Lahan-lahan pertanian dan
merupakan para pekerja yang bekerja untuk dirinya sendiri seperti para pedagang kaki lima perkebunan rakyat dikonversi menjadi lahan-lahan terbangun yang padat, untuk
dengan skala ekonomi yang relatif kecil dan kadang bersifat kekeluargaan atau hubungan etnis merespon kepentingan ekonomi diatas ruang perkotaan yang semakin langka,
ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002
yang kuat yang bersifat turun-temurun. namun seringkali mengabaikan daya dukung lingkungan.
signifikan dalam luasan ruang terbuka hijau (RTH). Kota-kota besar seperti Jakarta,
Surabaya dan Bandung telah kehilangan banyak RTH, hingga luasannya kini hanya
berkisar 10% dari luas wilayah administratifnya. Sementara itu, beberapa kota masih
mampu menjaga luasan hutan kotanya diatas 30%, seperti Balikpapan dan Ternate,
Elemen Kota Organik ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002
walaupun dewasa ini juga tengah menghadapi tekanan urbanisasi yang serius akibat
kelangkaan lahan perkotaan. Di Ternate, misalnya, tekanan tersebut mengakibatkan Kota Organik :
pemanfaatan hutan kota yang cukup jauh dari garis pantai, berada di perbukitan
Gunung Gamalama yang masih aktif. Perkembangan fisik ini sangat berbahaya dari
 kota yang berkembang secara spontan, tidak terencana, pola tidak teratur, dan bentuknya non geometrik
kacamata mitigasi bencana, karena meningkatkan risiko bencana yang bersumber  Kota yg terlihat sebagai tempat tinggal yg hidup, memiliki ciri-ciri kehidupan (berbeda dg mesin), mengatur
dari kegiatan vulkanik Gunung Gamalama. diri sendiri
Sesungguhnya RTH memainkan peran yang esensial sebagai paru-paru kota (disipasi Selalu terjadi perubahan untuk mempertahankan keseimbangan yg adaElemen Pembentuk Kota (Kostov, 1991):
konsentrasi karbon), sekaligus wadah interaksi sosial dan asset ekonomi kota seperti SQUARE ; open space sebagai paru-paru
untuk kegiatan turisme. Bagi banyak penulis, taman kota sering diibaratkan sebagai CENTER ; pusat kota sebagai jantung yang memompa darah
“the urban paradise”. Bukan hanya itu, keberadaan RTH sangat penting ditinjau dari
JARINGAN JALAN ; sebagai saluran arteri darah dalam tubuh
sisi perkembangan demokrasi di tanah air yang kini tengah mengalami proses
pematangan. Bagi Frederic Law Olmsted, arsitek lansekap yang merealisasikan
KEGIATAN EKONOMI ; sebagai sel yang berfikir
Central Park di New York tahun 1850-an, mengatakan bahwa kota hijau adalah BANK, PELABUHAN, KAWASAN INDUSTRI ; sebagai jaringan khusus dalam tubuh
prasyarat berkembangnya iklim demokrasi yang sehat. ”If you want a healthy UNSUR KAPITAL (keuangan & bangunan) ; sbg energi yg mengalr ke seluruh sistem kota
democracy, you must cultivate greener cities” (lihat Gutmann, 2008).
4. Upaya Menata Morfologi Kota dengan Instrumen Penataan Ruang
Dari uraian diatas, dapat dilihat bahwa transformasi sosial belum membentuk morfologi
kota-kota Indonesia sebagaimana yang diharapkan, yakni struktur ruang kota yang tertata,
Elemen Fisik Kota (Shirvani)
fungsi-fungsi perkotaan yang efisien, serta wajah kota yang estetis secara visual. Salah (1) Land Use/Tata Guna Lahan
satunya adalah karena belum berfungsinya secara optimal RTRW sebagai instrumen Tata guna lahan 2 dimensi menentukan penggunaan ruang 3 dimensi
pemandu pembangunan kota. Kita harus mengakui bahwa praktek-praktek penyelenggaraan Dua hal yg mjd pertimbangan dlm penatagunaan lahan y.i.:
pembangunan perkotaan yang konvensional berdasarkan UU No. 24/1992 tentang Penataan - pertimbangan umum (aspek-aspek terkait bgmn seharusnya zona
Ruang menunjukkan beberapa kelemahan yang dampaknya dapat terlihat secara fisik dari
dikembangkan)
bentuk morfologi kotanya.
Secara lebih luas, sesungguhnya kita dapat mengidentifikasi 7 (tujuh) bentuk kelemahan
- pertimbangan pejalan kaki/street level (untuk menciptakan ruang
praktek masa lalu dalam penyelenggaraan penataan ruang di Indonesia, sebagaimana yg manusiawi)
dikemukakan sebagai berikut : (1) top-down dalam sistem pemerintahan yang serba Mekanisme pengendalian dlm urban design adalah zoning ordinance; y.i. pengelolaan zoning yg menekankan
sentralistis; (2) eksklusif, dimana peran Pemerintah sangat dominan, cenderung (2)masalah 3 dimensi
Building tentang hubungan
Form n Massing/Bentuk &keserasian antar bangunan dan kualitas lingk.
Massa Bangunan
mengabaikan peran pemangku kepentingan lainnya; (3) menitikberatkan pada aspek • Berkaitan dg bentuk fisik & penampakan bangunan
pertumbuhan ekonomi tanpa perhatian yang memadai atas perlindungan kualitas
lingkungan dan keselamatan publik; (4) integrasi sektoral yang terbatas, sehingga proses • Bgmn bangunan & penataannya mnjd bangunan yg bisa berhubungan scr harmonis dengan bangunan lain di sekitarnya
perencanaan(planning) tidak terkait dengan proses perancangan (design) bangunan dan
infrastruktur pada tingkat yang lebih rinci. Terlebih bahwa rencana detail tata ruang
(RDTR) tidak dilengkapi dengan peraturan zonasi sebagai instrumen pengendalian  Ketinggian (floor area ratio/FAR)  Skala proporsi
pembangunan; (5) tidak sinkron antara proses perencanaan dan pemrograman (alokasi  Besaran
pembiayaan pembangunan), sehingga berbagai rencana pembangunan tidak efektif
 Bahan
 Koefisien dasar bangunan (KDB)  Tekstur
terlaksana sesuai rencana; (6) terbatasnya perhatian untuk berkembangnya kecerdasan lokal
sebagai asset perencanaan yang vital; serta (7) perencanaan tata ruang dan implementasinya  Setback/pemunduran bangunan  Facade
tidak cukup dikawal oleh kepemimpinan lokal yang efektif dalam merealisasikan visi  Model bangunan
pembangunan.  Prinsip urban design yg terkait:  Warna
Praktek penataan ruang tidak berdaya dalam mengendalikan urbanisasi yang sangat cepat
dengan segenap dampak negatifnya, antara lain : penjalaran kota yang tidak tertata ke segala  Scale ; dari sudut pandang manusia, sirkulasi, & dimensi bangunan sekitar
arah, penurunan kualitas lingkungan (polusi, kemacetan, banjir), serta defisit dalam  Urban space ; sirkulasi ruang yg disebabkan krn bentuk kota, batas, & tipe ruang
penyediaan prasarana dan sarana perkotaan. Apabila trend negatif tersebut dibiarkan terus  Urban mass ; meliputi bangunan, permukaan tanah, dan obyek dlm ruang yg dpt disusun untuk membentuk urban space & pola
berlanjut, masa depan keberlanjutan pembangunan kota-kota di Indonesia menjadi
aktivitas dlm skala besar atau kecil
pertanyaan besar.
(3) Sirkulasi & Parkir (6) Pendukung Aktivitas
Sirkulasi merupakan satu aspek yang kuat dlm membentuk struktur lingkungan perkotaan Muncul oleh adanya keterkaitan antara fasilitas ruang-ruang umum kota dengan seluruh kegiatan yang menyangkut
 Tiga prinsip pengaturan sirkulasi:Jalan harus mjd elemen ruang terbuka yg memberikan dampak visual positifpenggunaan ruang kota yang menunjang akan keberadaan ruang-ruang umum kota.
Kegiatan-kegiatan dan ruang-ruang umum bersifat saling mengisi dan melengkapi.
 Jalan harus dapat memberikan orientasi kepada pengemudi dan membuat lingkungan menjadi jelas terbaca Pada dasarnya activity support adalah:
 Sektor publik harus terpadu dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama - Aktifitas yang mengarahkan pada kepentingan
 Karena perkembangan kepemilikan kendaraan berkaitan erat dg kebutuhan parkir pergerakan (importment of movement).
- Kehidupan kota dan kegembiraan (excitentent).
 Area & bangunan parkir semakin mengganggu secara visual Keberadaan aktifitas pendukung tidak lepas dari tumbuhnya fungsi-fungsi kegiatan publik yang mendominasi
1. Parkir mempunyai efek langsung thd kualitas lingkunganMempertahankan aktivitas komersial pusat kota penggunaan ruang-ruang umum kota
Semakin dekat dengan pusat kota makin tinggi intensitas dan keberagamannya.
2. Memberikan dampak visual yang kuat pada bentukan fisik kota Bentuk actifity support adalah kegiatan penunjang yang menghubungkan dua atau lebih pusat kegiatan umum yang
ada di kota, mislnya open space (taman kota, taman rekreasi, plaza, taman budaya, kawasan PKL, pedestrian ways
dan sebagainya) dan juga bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan umum & elemen yg membangkitkan
(4) Open Space aktivitas
Open space didefinisikan sbg lanscape, hardspace (jalan, sidewalks, dll), taman, ruang rekreasi Meliputi semua aktivitas yg memperkuat ruang umum kota (urban public space)
Setiap aktivitas cenderung akan berlokasi di tempat yg plg sesuai dengan kebutuhan aktivitas bersangkutan
Open space harus menjadi bagian integral dlm perancangan kota
(7) Signage
1. Ruang terbuka memiliki fungsi :Menyediakan cahaya dan sirkulasi udara dalam bangunan terutama di pusat
kota.  Ukuran dan kualitas dari papan reklame diatur untuk :
- Menciptakan kesesuaian.
2. Menghadirkan kesan perspektif dan visa pada pemandangan kota (urban scane) terutama dikawasan pusat
- Mengurangi dampak negatif visual.
kota yang padat.
- Dalam waktu bersamaan menghilangkan kebingungan serta
3. Menyediakan arena rekreasi dengan bentuk aktifitas khusus.
persaingan dengan tanda lalu lintas atau tanda umum yang
4. Melindungi fungsi ekologi kawasan.
penting.
5. Memberikan bentuk solid foid pada kawasan. - Tanda yang didesain dengan baik menyumbangkan karakter
Sebagai
6. Jalur
5) Pejalanarea cadangan untuk penggunaan dimasa depan (cadangan area pengembangan).
Kaki pada fasade bangunan dan menghidupkan street space dan
 Sistem pejalan kaki yg baik akan mengurangi ketergantungan thd kendaraan bermotor, meningkatkan (8) Preservasi
memberikan informasi bisnis.
pergerakan di pusat kota, meningkatkan lingkungan dg mempromosikan sistem skala manusia, meningkatkan Dalam urban design, preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada dan urban place,
aktivitas retailing, & meningkatkan kualitas udara sama seperti tempat atau bangunan sejarah, hal ini berarti pula mempertahankan kegiatan yang berlangsung di
1. Issue kunci dlm perencanaan pedestrian adalah keseimbangan:Harus diseimbangkan penggunaan pedestrian tempat itu.
untuk mendukung kehidupan & ruang publik yg menarik
2. Keseimbangan untuk sepakat dengan adanya interaksi antara pejalan kaki & kendaraan (safety design)

ADYA DHIPTA ATYASA 052.10.002


Pengertian Arsitektur Kota DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020

Definisi Keywords
Kevin Lynch telah melakukan sebuah studi terhadap apa yang diserap secara mental oleh orang-orang dan realitas fisik sebuah kota. Hasil studinya ini Image kota, Perkembangan bentuk kota
disajikan dalam bentuk buku yaitu “The image of the city” dimana menurut Lynch perkotaan yang ideal adalah yang dapat memberikan image
Secara garis besar Prof.Kevin Lynch menemukan dan mengumpulkan ada lima elemen pokok atau dasar yang oleh orang digunakan untuk membangun
gambaran mental mereka terhadap sebuah kota, adalah Path, Edges, District, Landmark , Nodes

Konsep arsitektur kota atau tepatnya urban artefak sebagai karya seni selalu muncul dan diketemukan dalam bentuk-bentu bervariasi; dalam segala Perkembangan bentuk kota, Urban Artefak, Wujud kota
jaman dan kehidupan sosial religius. Urban artefak selalu berkaitan dengan tempat, peristiwa dan wujud kota. (Benny Poerbantanoe, 1999).

Suatu arsitektur kota seharusnya dipandang sebagai ‘tissue’ yang mencakup elemen-elemen fisik spatial dan membentuk suatu jalinan konfigurasi secara Perkembangan kota, Tatanan fisik kota, Produk Sejarah, Morfologi kota
sinergis.
Dengan demikian kesinambungan produk-produk sejarah dan segala proses morfologi pembentukan dan perubahan entitas fisik spatialnya dapat
terlihatsecara utuh.
Selain itu dinamika perkembangan dan perubahan kota juga dipengaruhi oleh interaksi antara tatanan fisik dengan penghuni kota. (Sandi A Siregar,
2004).

Arsitektur kota dapat diamati dari segi bentuk, waktu, serta susunannya yang melibatkan banyak aspek dan prinsip arsitektural yang bersifat universal, Tatanan fisik, Perkembangan bentuk kota
tetapi perlu diterapkan secara kontekstual. Terbagi atas 3 konsepsi : konsepsi pertama adalah pemahaman bahwa ruang perkotaan adalah ruang yang
bersifat fisik dengan dimensinya yang sosial dan mental (psikis). Konsepsi kedua adalah pemahaman terhadap ruang perkotaan dari dua tingkat, yaitu
dari atas dan dari bawah ( perspektif politik dan prespektif kehidupan sehari-hari), Konsepsi ketiga adalah bahwa pemahaman terhadap ruang perkotaan,
dalam segala dimensinya, paling dimungkinkan melalui perhatian pada proses perkembangannya ( Marcus Zahnd )

Arsitektur Perkotaan dipandang sebagai obyek buatan manusia dalam skala besar (urban artifact), dan sebuah arsitektur yaitu berupa konsentrasi Produk sejarah, Tatanan Fisik kota
elemen‐elemen fisik spasial yang selalu tumbuh dan berkembang. (Aldo Rossi )
ELEMEN perancangan kota DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020
Sumber : Creating Places for People, Urban Design Protocol
Elemen Pengertian Elemen

Urban structure ( US ) Kerangka keseluruhan kota, wilayah atau kantor polisi, menunjukkan hubungan antara zona bentuk dibangun, bentuk lahan, lingkungan alam, kegiatan
dan ruang terbuka. Ini meliputi sistem yang lebih luas termasuk jaringan transportasi dan infrastruktur.

Urban grain ( UG ) Keseimbangan ruang terbuka untuk membentuk dibangun, dan sifat dan tingkat pengelompokan daerah dalam paket yang lebih kecil atau blok. Misalnya
'butir perkotaan baik' mungkin merupakan jaringan streetscapes kecil atau rinci. Dibutuhkan mempertimbangkan hirarki jenis jalanan, keterkaitan fisik dan
gerakan antara lokasi, dan sarana transpor.

Density + mix ( D ) Intensitas pembangunan dan berbagai kegunaan yang berbeda (seperti perumahan, komersial, institusional atau menggunakan rekreasi).

Height + massing ( HM ) Skala bangunan dalam kaitannya dengan tinggi dan luas lantai, dan bagaimana mereka berhubungan dengan bentuk tanah sekitarnya, bangunan dan jalan-
jalan. Hal ini juga mencakup selubung bangunan, cakupan situs dan orientasi matahari. Tinggi dan massa menciptakan rasa keterbukaan atau kandang, dan
mempengaruhi kemudahan jalan-jalan, ruang dan bangunan lainnya.

Streetscape + landscape ( SS ) Desain ruang publik seperti jalan-jalan, ruang terbuka dan jalur, dan termasuk lansekap, iklim mikro, shading dan penanaman.

Façade + interface ( F ) Hubungan bangunan ke bangunan lokasi, jalan dan tetangga (alignment, kemunduran, pengobatan batas) dan ekspresi arsitektur fasad mereka (proyeksi,
bukaan, pola dan bahan).
Details + materials ( DM ) Penampilan close-up dari objek dan permukaan dan pemilihan bahan dalam hal detail, pengerjaan, tekstur, warna, daya tahan, keberlanjutan dan
pengobatan. Ini termasuk struktur publik dan swasta dan ruang, furnitur jalan, paving, pencahayaan dan signage. Ini memberikan kontribusi untuk
kenyamanan manusia, keselamatan dan kenikmatan dari domain publik atau swasta.

Public Realm ( PR ) Sebagian besar desain perkotaan berkaitan dengan desain dan pengelolaan ruang publik digunakan (juga disebut sebagai ranah publik atau public domain)
dan cara ini dialami dan digunakan. Ranah publik meliputi lingkungan alam dan dibangun digunakan oleh masyarakat umum pada sehari-hari, seperti jalan-
jalan, plaza, taman, dan infrastruktur publik.

Topography, Landscape ( T ) Lingkungan alam meliputi topografi bentang alam, air dan lingkungan

Social + economic fabric ( SE ) Non-fisik aspek bentuk perkotaan meliputi faktor-faktor sosial (budaya, partisipasi, kesehatan dan kesejahteraan) serta kapasitas produktif dan
produktivitas ekonomi masyarakat. Ini menggabungkan aspek-aspek seperti demografi dan tahap kehidupan, interaksi sosial dan jaringan dukungan.
ELEMEN perancangan kota DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020
Sumber : Urban Design Handbook
Elemen Pengertian Elemen

Signage ( S ) mengintegrasikan semua tanda-tanda dengan lingkungan sekitar mereka dalam hal ukuran, bentuk, warna, tekstur dan pencahayaan sehingga mereka saling
melengkapi dengan desain keseluruhan bangunan, dan tidak bersaing visual dengan tanda-tanda lain di daerah.

Lighting ( L ) memperhitungkan jenis dan kuat cahaya yang diperlukan untuk tujuan khusus dari lingkungan

Parking ( P ) Jenis dan jumlah ruang parkir harus mencerminkan penggunaan yang diinginkan dari setiap situs. Lansekap dari area parkir juga disarankan untuk memberikan
keteduhan, meningkatkan keindahan sebuah situs, dan memungkinkan untuk serapan air

Service Area ( SA ) Lokasi area servis ( TPA, Sumber Air, Sumber Listrik, dan sejenisnya ) harus berorientasi ke arah belakang bangunan untuk meminimalkan merusak
pemandangan visual.
Fencing ( Fe ) Pemagaran yang berfungsi sebagai batas wilayah, batas visual, atau hal yang sifatnya harus tertutup.

Builiding Articulation ( BA ) Artikulasi bangunan mengacu pada pemodelan tiga dimensi bangunan dan permukaan nya, giv-ing penekanan pada elemen arsitektur (jendela, balkon,
beranda, entri, dll) yang menciptakan pola pelengkap atau irama, membagi bangunan besar menjadi potongan-potongan yang lebih kecil dapat diidentifikasi.

Transportation ( Ts ) Transportasi publik mengurangi jumlah kendaraan di jalan, sehingga mengurangi lalu lintas dan Emisi-keputusan, serta memberikan mereka tanpa kendaraan
sarana untuk bepergian, berbelanja dan pergi bekerja.
DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020
Metode Perancangan Kota
Sumber : Creating Places for People, Urban Design Protocol

Metode Pengertian Proses/ Pihak Terkait


Context ( CO ) Menganalisis kerangka strategis perencanaan dan memutuskan apa efeknya terhadap Bekerja dalam konteks, perencanaan fisik + sosial,
ekonomi, hasil lingkungan dan sosial harus dicapai, dan memprioritaskan tindakan untuk kebijakan
mencapai hasil.
Bentuknya berupa : Kebijakan strategis yang kemudian dilaksanakan melalui berbagai cara,
termasuk rencana undang-undang, rencana infrastruktur dan rencana pelayanan.

Engagement ( E ) Mengikut sertakan pihak terkait, termasuk masyarakat luas, harus memberikan masukan Survey/kuesioner kpd masyarakat ( mengikutsertakan
dan umpan balik pada tahap kunci dari proses. Mereka dapat membantu untuk seluruh elemen masyarakat ), visi kebijakan
mengembangkan visi, meninjau pilihan desain dan memberikan umpan balik selama
pameran publik.
Excellence ( EX ) Bentuk proyek perancangan sebuah kota mempertimbangkan 'desain juara' dalam tim Kompetisi, observasi tim ahli, hasil desain arsitektur kota
proyek, pemilihan kemampuan berbasis, kompetisi desain dan / atau tinjauan desain
independen.
Keunggulan desain perkotaan dicapai oleh tim multidisiplin dengan keterampilan dan
pengalaman yang sesuai. Memastikan tim proyek meliputi kompeten, profesional desain
terampil termasuk perencana penggunaan lahan, desainer perkotaan, arsitek lansekap,
arsitek dan insinyur yang sesuai.

Custodianship ( CU ) Memastikan bahwa sistem berada di tempat untuk operasi yang sedang berlangsung, Melakukan evaluasi berkala terhadap kebijakan/ desain
manajemen dan pemeliharaan sehingga tempat ini terpelihara dengan baik dan
berkelanjutan dalam jangka panjang.
DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020
Metode Perancangan Kota
Sumber : Urban Design, Methods and Techniques
Metode Pengertian Proses/ Pihak Terkait

Synoptic ( S ) metode sinoptik menghasilkan perencanaan dari analisis untuk definisi target diikuti dengan mencari Tim ahli tentang SDA, Penduduk Sipil
alternatif dan metode perencanaan bandingan.Synoptic dalam beberapa kasus proses pelaksanaan
dengan teknik berguna untuk umpan balik dari informasi yang

Incremental ( I ) Hanya sejumlah tindakan alternatif yang dipertimbangkan dalam konteks pembangunan dan ini sedikit Politikus dan Penduduk Sipil
berbeda dari status quo. Sebuah solusi yang baik dalam perencanaan inkremental tidak didefinisikan
oleh tingkat pencapaian tujuan, tetapi bagaimana implementasi layak adalah dengan cara yang
tersedia dan tingkat kesepakatan di antara para pembuat keputusan kunci

Transactive ( T ) menempatkan penekanan besar pada saling belajar dan dialog antara mereka yang terkena dampak Pemerhati Lingkungan, Politikus, Penduduk
perencanaan. berusaha untuk membangun badan perencanaan desentralisasi yang dapat memberikan Sipil, Komunitas Sosial
populasi kontrol lebih besar atas proses-proses sosial yang mempengaruhi kesejahteraan mereka.

Advocacy ( A ) Seperti namanya, menunjukkan bahwa perencana menjadi juru bicara (dari segi hukum atau sejenis Pemerhati Lingkungan, Politikus dan
lembaga formal ) untuk berbagai kelompok. Perencana memberikan kontribusi kepada proses Penduduk Sipil
pembangunan dengan menciptakan situasi dengan banyak proposal rencana bersaing.

Radical ( R ) Para firstis pendekatan anarkis yang diilhami menekankan kontrol desentralisasi dan eksperimen Tim Ahli tentang SDA, Komunitas Sosial
dengan organisasi masyarakat alternatif
Metode Perancangan Kota x Kriteria
DHIKA PUSPA PRATIWI 052.09.020
Kriteria Metode

URBAN ARTEFAK CO E EX CU S I T A R

Mempertahankan Karakter Kota v v v

Vitality : Ketahanan v v v v v

Sense : Rasa v v v

MORFOLOGI KOTA

Fungsional v v v v v

Efisiensi v v v v v

TATANAN FISIK KOTA

Fungsional dan Struktur Kota v v v v v

Sistem Ekologi Kota v v v

Acsess : Pencapaian v v v v

Control v v v v

Aksesibilitas, Transparansi, Tanggap v v


CINDY MICHELLE 052.10.014

Pengertian Arsitektur Kota menurut beberapa ahli


Jane Jacobs (1961)
Dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities
Kota berdasarkan multiple uses akan akan menghasilkan keberagaman dalm ekonomi dan sosial. Fenomena esensial dari kota adalah gabungan dari aktivitas
yang didukung.
Lebih lanjutnya, kawasan perkotaan hendaknya memiliki beberapa prinsip arsitektural dalam skala makro. Jika tidak maka akan timbul masalah yang
cenderung buruk dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab jika ukuran sebuah kota dan wilayahnya tidak disusun dengan menciptakan ruang-ruang efektif
melalui pengorganisasian sebuah daerah pedalaman yang lebih besar berdasarkan hirarki-hirarki tertentu, maka kualitas identitas masyarakat perkotaan
terhadap tempat dan lingkungannya akan menurun.
Sumber: Kaitan antara keberagaman, Meliana, FT UI, 2008

Keyword
Robert: keberagaman
Dannenbrink ekonomi sosial 1995: 200) mendeskripsikan perancangan kota sebagai berikut: “Perancangan kota adalah proses dan hasil
(dalam Branch,
pengorganisasian dan pengintegrasian seluruh komponen lingkungan (buatan dan alam), sedemikian rupa sehingga akan meningkatkan citra setempat dan
perasaan berada di suatu tempat (sense of place), dan kesetaraan fungsional, serta kebanggaan warga dan diinginkannya suatu tempat menjadi tempat
tinggal. Hal tersebut dapat diterapkan pada berbagai seting dan kepadatan fisik, mulai dari daerah perkotaan, pinggiran kota, hingga pedesaan, mulai dari
skala lingkungan permukiman hingga keseluruhan daerah, dan dapat terpusatkan pada permasalahan kota secara keseluruhan atau komponen khusus,
misalnya lingkungan permukiman, pusat bisnis, sistem ruang terbuka, atau karakter jalan utama”.

Keyword : proses dan hasil pengorganisasian dan pengintegrasian seluruh komponen lingkungan (buatan dan alam) yaitu misalnya lingkungan
permukiman, pusat bisnis, sistem ruang terbuka, atau karakter jalan utama
CINDY MICHELLE 052.10.014
Amos Rapaport (1985) yang melakukan studi permukiman tradisional dibeberapa negara menyimpulkan bahwa, pengaturan lingkungan
permukiman manusia, merupakan wujud pengejawantahan manusiayang merasa perlu mengatur jagad raya ini, dimana semua kebudayaan
mempunyai suatu system pengaturan lingkungan permukiman secara sendiri – sendiri; mereka berkomunikasi secara simbolis melalui pengaturan
lingkungan. Semua lingkungan mempunyai makna dan mereka menggambarkan makna itu dalam bentuk skema, prioritas, preferensi dan
kebudayaan dari penciptanya. Pada kebudayaan tradisional, pengaturan berdasarkan agama dengan maksud untuk mengatur kekacauan dunia
dengan meniru suatu pengatura ideal, yaitu pengaturan dan harmoni surgawi.

Keyword : kebudayaan tradisional


Menurut Weber (1947) beberapa kriteria untuk merancang sebuah kota yaitu sebuah wilayah yang luas dimana habitat hidup bersama, sekumpulan
rumah – rumah yang membentuk Aglomerasi yang luas dan spesifik, tempat berdagang dimana sebagian besar penduduknya hidup dari industri, sebuah
organisasi ekonomi sekaligus pengaturan kota.

Keyword : tempat tinggal, perdagangan ekonomi

http://arcaban.blogspot.com/2011/12/elemen-pembentuk-kota.html
Elemen pembentuk kota CINDY MICHELLE 052.10.014

Berdasarkan pendekatan - pendekatan diatas Kus Handinoto membagi kota dalam empat elemen :
- Elemen wisma merupakan perpaduan antara wadah dan isi (manusia, penduduk).
- Elemen karya atau tempat kerja dan usaha diaplikasikan dalam bentuk tata guna lahan dan fungsi bangunan yang meliputi penggunaan lahan,
kondisi lokasi, hubungan fisik, agrarian dan peraturan
- Elemen marga diaplikasikan dalam transpormasi dalam arti luas yang meliputi perhubungan darat, laut dan sungai serta udara.
- Elemen suka diaplikasikan dalam bentuk lapangan olah raga, sekolah, ibadah, kesehatan dan keperluan sehari – hari.
- elemen lainnya adalah penyempurna yang terdiri dari saluran air minum, sampah, segala potensi yang ada dan hambatan, utilitas, fisik dan lain –
lain

http://arcaban.blogspot.com/2011/12/elemen-pembentuk-kota.html
CINDY MICHELLE 052.10.014

http://arcaban.blogspot.com/2011/12/elemen-pembentuk-kota.html
CINDY MICHELLE 052.10.014
Elemen Keyword
Menurut Weber (1947)
Beberapa kriteria untuk merancang sebuah kota yaitu
- sebuah wilayah yang luas dimana habitat hidup bersama,
Wilayah, tempat tinggal, fasilitas umum
- sekumpulan rumah – rumah yang membentuk Aglomerasi yang luas dan spesifik,
- tempat berdagang dimana sebagian besar penduduknya hidup dari industri
- sebuah organisasi ekonomi sekaligus pengaturan kota.

Kostov, 1991):
• SQUARE ; open space sebagai paru-paru
• CENTER ; pusat kota sebagai jantung yang memompa darah
• JARINGAN JALAN ; sebagai saluran arteri darah dalam tubuh Open space, center, jaringan jalan, Fasilitas umum
• KEGIATAN EKONOMI ; sebagai sel yang berfikir
• BANK, PELABUHAN, KAWASAN INDUSTRI ; sebagai jaringan khusus dalam tubuh
• UNSUR KAPITAL (keuangan & bangunan) ; sbg energi yg mengalr ke seluruh sistem kota

Kus Handinoto membagi kota dalam empat elemen :


- Elemen wisma merupakan perpaduan antara wadah dan isi (manusia, penduduk).
- Elemen karya atau tempat kerja dan usaha diaplikasikan dalam bentuk tata guna lahan dan fungsi bangunan yang meliputi
penggunaan lahan, kondisi lokasi, hubungan fisik, agrarian dan peraturan
Transportasi, fasilitas umum,
- Elemen marga diaplikasikan dalam transpormasi dalam arti luas yang meliputi perhubungan darat, laut dan sungai serta udara.
- Elemen suka diaplikasikan dalam bentuk lapangan olah raga, sekolah, ibadah, kesehatan dan keperluan sehari – hari.
- elemen lainnya adalah penyempurna yang terdiri dari saluran air minum, sampah, segala potensi yang ada dan hambatan,
utilitas, fisik dan lain – lain
CINDY MICHELLE 052.10.014
Elemen Keyword
Roger Trancik (1986) Massa bangunan, monumen, hunian, edges, ruang terbuka, jalan utama,
Urban solid terdiri dari; nodes
(1). massa bangunan, monumen;
(2). persil lahan blok hunian yang ditonjolkan;
(3).edges, yang berupa bangunan.

Urban Void terdiri dari:


(1). Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan privat;
(2). Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat sampai privat;
(3). Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi aktivitas publik berskala kota;
(4). Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi preservasi kawasan hijau;
(5). Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier

Etemen-elemen Perancangan Kota Struktur ruang, elemen fisik


1. Struktur ruang kawasan perkotaan
2. ELemen fisik kawasan perkotaan
• Land-use, urban form & massing, circulation & parking
• Open space, activity support, signage, preservasi & konservasi
3. Tradisi yang berkembang di kawasan amatan (mana yang lebih banyak: formal atau popular/informal?)
4. Kebijakan pengaturan kawasan perkotaan (apakah ada untuk kawasan bersangkutan, check di RUTRK/RDTRK)
• Incentive zoning
• Performance zoning
• Special district
• TUR / Transfer of Development Rights
• Sign ordinance
• Historic district
5. Dimensi manusia dan lingkungan alam (aspek sosio-kuaural, public/private domain, behavioral setting, isu-isu Lain yang
ditemui di lapangan)
Sumber gambar (Elemen x Kriteria )

http://politicawave.files.wordpress.com/2012/08/jakarta-131.jpg

http://3.bp.blogspot.com/_VwiNj7JF1N0/TS7D9qlte6I/AAAAAAAAANY/yeSmKE4YQxc/s160
0/Tamrin+ok.jpg

http://us.images.detik.com/content/2012/01/07/157/angke2.jpg

http://www.anneahira.com/images/trans-jakarta.jpg

http://3.bp.blogspot.com/-
Wq3v1Awg_Fk/T5YTNo49RTI/AAAAAAAAAo8/aeEpFXLS8UI/s1600/blog1.jpg

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/05/1336194600272177173.jpg

http://proyekindonesia.com/wp-content/uploads/2011/08/wisma46.jpg

http://www.yluva.com/wp-content/uploads/2012/03/pesanggrahan.jpg

http://3.bp.blogspot.com/_NQDl12ki9W0/TJiAPJOAuwI/AAAAAAAAAMA/DJ03t_0nt6s/s160
0/Picture+358.jpg

http://fridayanabaabullah.files.wordpress.com/2012/01/foto-hutan-kota-ui-depok-27.jpg

http://corlena.files.wordpress.com/2010/02/maket-jakarta4.jpg

http://www.jakartaad.org/wp-content/uploads/Kepolisian.gif

http://www.jasaraharja.co.id/files/2012/11/IMG_2645.jpg

http://planning.city.cleveland.oh.us/cwp/glossary/images/land_usePlan.jpg

http://imageshack.us/photo/my-images/6/solohighrise.jpg/
TEORI X KRITERIA HENDRIKO MULYADITYO 052.10.024
Sistem Ekologi Kota (J.Catanese, '1979): '1)
Upaya-upaya pelestarian ekologi kota dapat
dilakukan pada lingkungan perkotaan dengan karakteristik sebagai berikut: (J.
Catanese,
'1979):
'1)
memiliki nilai estetika/nilai arsitektur, yang menggambarkanbentuk, gaya, struktur atau tata kota pada pada masa tertentu,
2) kelangkaan; memiliki gaya tertentu mewakili jamannya dan tidak dimiliki oleh daerah lain,
3) keluarbiasaan/keistimewaan/; misalnya tertinggi, terbesar, yang pertama, dan sebagainya serta memberi tanda atau ciri bagi kawasan tertentu,
4) Peranan sejarah; memiliki nilai sejarah atau mencatat rangkaian sejarah dan babak perkembangan suatu kota,
5) memperkuat kawasan di dekatnya; kehadiran suatu objek akan mempengaruhi kawasan-kawasan sekitarnya dan bermakna untuk
meningkatkan mutu dan citra lingkungannya

Access = Pencapaian
kemudahan pencapaian ke suatu tempat, pencapaian informasi,
kemudahan mendapatkan pekerjaan, kemudahan memasuki
jenjang pendidikan.
Fungsional dan Struktur Kota Teori Konsentrik (concentriczone concept) yang dikemukakan EW.Burkss.
Dalam teori konsentrik ini, Burgess mengemukakan bahwa bentuk guna lahan kota
membentuk suatu zona konsentris. Dia mengemukakan wilayah kota dibagi dalam 5
(lima) zona penggunaan lahan yaitu:
1. Lingkaran dalam terletak pusat kota (central business distric atau CBD) yang
terdiri bangunan-bangunan kantor, hotel, bank, bioskop, pasar dan pusat
perbelanjaan
2. Lingkaran kedua terdapat jalur peralihari yang terdiri dari: rumah-rumah sewaan,
kawasan industri, dan perumahan buruh
3. Lingkaran ketiga terdapat jalur wisma buruh, yaitu kawasan perumahan untuk
tenaga kerja pabrik
10
4.Lingkaran keempat terdapat kawasan perumahan yang luas untuk tenaga kerja
kelas menengah
5.Lingkaran kelima merupakan zona penglaju yang merupakan tempat kelas
menengah dan kaum berpenghasilan tinggi.

Teori sektor (sector concept) yang dikemukakan oleh Hommer Hoyt. Dalam teori ini
Hoyt mengemukakan beberapa masukan tambahan dari bentuk guna lahan kota yang
berupa suatu penjelasan dengan penggunaan lahan permukiman yang lebih
memfokusan pada pusat kota dan sepanjang jalan transportasi. Dalam teorinya ini,
Hoyt membagi wilayah kota dalam beberapa zona, yaitu:
1. Lingkaran pusat, terdapat pusat kota atau CBD
2. Sektor kedua terdapat kawasan perdagangan dan industri
3. Sektor ketiga terdapat kawasan tempat tinggal kelas rendah
4. Sektor keempat terdapat kawasan tempat tinggal kelas menengah
5. Sektor kelima terdapat kawasan ternpat tinggal kelas atas.

Teori banyak pusat (multiple-nuclei concept) yang dikernukakan oleh


R.D.McKenzie. Menurut McKenzie teori banyak pusat ini didasarkan pada
pengamatan lingkungan sekitar yang sering terdapat suatu kesamaan pusat dalam
bentuk pola guna lahan kota daripada satu titik pusat yang dikemukakan pada teori
sebelumnya. Dalarn teori ini pula McKenzie menerangkan bahwa kota meliputi
pusat kota, kawasan kegiatan ekonomi, kawasan hunian dan pusat lainnya. Teori
banyak pusat ini selanjutnya dikembangkan oleh Chancy Harris dan Edward Ullman
yang kemudian membagi kawasan kota menjadi beberapa penggunaan lahan, yaitu:
1. Pusat kota atau CBD
2 Kawasan perdagangan dan industri
3 Kawasan ternpat tinggal kelas rendah
4. Kawasan ternpat tinggal kelas menengah
5. Kawasan tempat tinggal kelas atas
6. Pusat industri berat
7. Pusat niaga/perbelanjaan lain di pinggiran
8. Kawasan tempat tinggal sub-urban
9. Kawasan industri suburban

HENDRIKO MULYADITYO 052.10.024


(alun-alun, plasa, area perbelanjaan) yang ada danmempunyai ciri khas, seperti halnya perlindungan terhadap bangunan bersejarah.
Sumber:
http://fariable.blogspot.com/2011/01/elemen-perancangan-kota-hamid-
7. HENDRIKO MULYADITYO 052.10.024
Kevin Lynch (1972, 198
4
)
Aturan yang dikemukakan untuk desain ruang kota:a.
Legibility
(Kejelasan)

Sebuah kejelasan emosional suatu kota yang dirasakan secara jelas oleh warga kotanya.Artinya suatu kota atau bagian kota atau kawasan bisa dikenali dengan cepat dan jelasmengenai distriknya,
landmark
nya atau jalur jalannya dan bisa langsung dilihat polakeseluruhannya. b. Identitas dan SusunanIdentitas artinya
image
orang akan menuntut suatu pengenalan atas suatu obyek dimanadidalamnya harus tersirat perbedaan obyek tersebut dengan obyek yang lainnya, sehinggaorang dengan mudah bisa mengenalinya. Susunan artinya adanya kemudahan pemahaman pola suatu
blok-blok kota yang menyatu antar bangunan dan ruang terbukanya .c. ImageabilityArtinya kualitas secara fisik suatu obyek yang memberikan peluang yang besar untuk timbulnya
image
yang kuat yang diterima orang.
Image
ditekankan pada kualitas fisik suatukawasan atau lingkungan yang menghubungkan atribut identitas dengan strukturnya.Kevin Lynch menyatakan bahwa image kota dibentuk oleh 5 elemen pembentuk wajah kota.i.

Paths:
adalah suatu garis penghubung yang memungkinkan orang bergerak denganmudah.
Paths
berupa jalur, jalur pejalan kaki, kanal, rel kereta api, dan yang lainnya.ii.

E
dges
: adalah elemen yang berupa jalur memanjang tetapi tidak berupa
paths
yangmerupakan batas antara 2 jenis fase kegiatan.
E
dges
berupa dinding, pantai hutankota, dan lain-lain.

iii.

Districts. Districts
hanya bisa dirasakan ketika orang memasukinya, atau bisadirasakan dari luar apabila memiliki kesan visual. Artinya
districts
bisa dikenalikarena adanya suatu karakteristik kegiatan dalam suatu wilayah.iv.

Nodes
: adalah berupa titik dimana orang memiliki pilihan untuk memasuki districtsyang berbeda. Sebuah titik konsentrasi dimana transportasi memecah,
paths
menyebar dan tempat mengumpulnya karakter fisik.v.

Landmark:
HENDRIKO MULYADITYO 052.10.024
Roger Trancik (1986)
A.

F
igure Ground Theory
³
It is the articulation and differention of solid and voids that make up the fabric of thecity and establish the pysical sequences and visual orientation between places.´
Pendekatan
figure ground
adalah suatu bentuk usaha untuk memanipulasi ataumengolah pola
existing figure ground
dengan cara penambahan, pengurangan, atau pengubahan pola geometris dan juga merupakan bentuk analisa hubungan antara massa bangunan dengan ruang terbuka. Istilah
urban solid
digunakan untuk menyebut lahanterbangun, sedangkan
urban void
untuk lahan terbuka.
Urban Solid
.
Urban solid
terdiri dari; (1). massa bangunan, monumen; (2). persil lahan blok hunian yang ditonjolkan; (3).
edges
yang berupa bangunan.
Urban Void
.
Urban void
terdiri dari: (1). Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifattransisi antara publik dan privat; (2). Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat
sampai privat; (3). Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi aktivitas publik berskala kota; (4). Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes
yang berfungsi preservasi kawasan hijau; (5). Sistem ruang terbuka yang berbentuk
linier
dan
curvalinier
. Tipe ini berupa daerah aliran sungai, danau dan semua yangalami dan basah.
Six Typologycal Patterns of Solids and Voids
HENDRIKO MULYADITYO 052.10.024
.

L
inkage Theory
³
Linkage is simply the glue of the city. It is the act by which we unite all the layers of activity and resulting form in the city«.. Urban design is concerned with the question of making comprehensible
link between discrete things. As a corollary, it is concerned withmaking an extremely large entity comprehensible by articulating its parts.´ Linkage
artinya berupa garis semu yang menghubungkan antara elemen yang satudengan yang lain, nodes yang satu dengan
nodes
yang lain, atau distrik yang satu denganyang lain. Garis ini bisa berbentuk jaringan jalan, jalur pedestrian, ruang terbuka yang berbentuk segaris dan sebagainya.
Linkage
adalah semacam perekat kota yang sederhana,suatu bentuk upaya untuk mempersatukan seluruh tingkatan kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota.
C
.

Place Theory
Teori ini berkaitan dengan
space
terletak pada pemahaman atau pengertian terhadap budaya dan karakteristik manusia terhadap ruang fisik.
Space
adalah
void
yang hidupmempunyai suatu keterkaitan secara fisik.
Space
ini akan menjadi place apabila diberikanmakna kontekstual dari muatan budaya atau potensi muatan lokalnya.
D
engan kata lain,sebuah
place
adalah sebuah
space
yang memiliki suatu ciri khas tersendiri

Sumber:
http://prestylarasati.wordpress.com/2008/03/20/teori-urban-desain
Arsitektur kota adalah sebuah wadah hasil dari realisasi
arsitektur berskala makro dimana penduduknya bisa melakukan
kegiatan. Arsitektur kota juga merupakan gabungan dari
komponen buatan dan komponen alam.