Anda di halaman 1dari 19

SLEEP APNEA

DEFINISI
Apnea saat tidur atau sleep apnea adalah kondisi terhentinya
nafas secara periodik pada saat tidur.
Sleep apnea mengacu pada jeda saat bernafas ketika
seseorang sedang tidur. Jeda dalam pernafasan ini berlangsung
sekitar 10-30 detik, bahkan lebih lama sampai tubuh bereaksi untuk
berusaha mengatasi masalah pernafasan tersebut. (Handbook, sleep
apnea, 2012)
LANJUTAN. . .

OSA adalah bentuk sleep apnea yang paling umum : Obstructive Sleep
Apnea Syndrome merupakan salah satu Sleep Related Breathing Disorders
menurut International Classification of Sleep Disorders edisi ke 3.
LANJUTAN. . .
Definisi OSA adalah keadaan apnea (penghentian aliran udara
selama 10 detik sehingga menyebabkan 2-4% penurunan saturasi oksigen) dan
hipopnea (penurunan aliran udara paling sedikit 30-50% sehingga menyebabkan
penurunan saturasi oksigen) ada sumbatan total atau sebagian jalan nafas yang
terjadi secara berulang pada saat tidur selama non-REM atau REM sehingga
menyebabkan aliran udara ke paru menjadi terhambat. Sumbatan ini
menyebabkan pasien menjadi terbangun saat tidur atau terjadi peralihan ke
tahap tidur yang lebih awal. Kejadian apnea terjadi selama 10-60 detik OSA
yang ekstrim dapat terjadi berulang setiap 30 detik.
Klasifikasi derajat OSA berdasarkan nilai Apnea Hypopnea
Index (AHI) yang ditetapkan oleh The American Academy of
Sleep Medicine, dapat dibagi menjadi 3 golongan :
 Ringan ( nilai AHI 5-15 )
 Sedang ( nilai AHI 15-30 )
 Berat ( nilai AHI>30 )
ETIOLOGI
Pillar dan Lavie (2011) membagi berdasarkan faktor resiko spesifik dan non
spesifik berkaitan dengan OSA.
Faktor resiko spesifik Faktor resiko non spesifik
1. Anatomi saluran napas sempit (misal: pembesaran lidah dan / atau langit- 1. Beberapa patologi endokrinologi: hipotiroidisme, akromegali, dan diabetes.
langit lunak, peningkatan jaringan lemak dinding lateral, perpindahan OSA dapat menyebabkan diabetes dengan meningkatkan resistensi insulin, di
inferior dari tulang hyoid, tulang rahang yang lebih pendek, elongasi wajah, sisi lain, diabetes dapat menyebabkan perubahan dalam sistem kontrol
perpindahan inferior dari mandibula, dll) ventilasi sentral yang dapat menyebabkan pernapasan periodik.

2. Obesitas 2. Penggunaan zat dan obat-obatan yang melemahkan aktivasi otot dilator
Mekanisme yang terakhir ini menekankan pentingnya obesitas sentral saluran nafas atas, meliputi alkohol, depresan sistem saraf pusat seperti
dibandingkan dengan obesitas perifer, karena perutlah yang lebih benzodiazepin dan barbiturat.
mempengaruhi ukuran jalan napas atas daripada paha
ETIOLOGI
Faktor resiko spesifik Faktor resiko non spesifik

3. Jenis Kelamin 3. Penyakit neuromuskuler seperti miopati, distrofi otot, cedera tulang belakang, dan
gangguan neuromuskuler lain mengubah keseimbangan antara tekanan kolaps dan
Rasio laki-laki untuk perempuan di antara pasien OSA sebesar 8: 1 pada populasi
stabilisasi dari saluran nafas
klinis tidur, dan sekitar 2-3: 1 dalam sampel berbasis masyarakat. Alasan untuk efek
gender pada OSA tetap kurang dipahami tapi bisa jadi akibat hasil dari kombinasi
berbagai faktor patofisiologi, seperti perbedaan dalam distribusi lemak tubuh (atau
perbedaan anatomi jalan nafas atas berkaitan dengan gender lainnya), kontrol
ventilasi, fisiologi aktivasi otot dilator faring saluran napas, dan perbedaan hormonal.

4. Usia 4. Beberapa penyakit tertentu yang, berdampingan dengan sleep apnea,


Studi Malhotra et al. (2006) mengungkapkan bahwa orang tua memiliki respon otot memperburuk beratnya OSA yaitu PPOK, asma, dan gagal ginjal.
dilator faring yang lebih buruk terhadap rangsangan tekanan negatif daripada subyek
yang lebih muda.

5. Faktor genetik
MANIFESTASI KLINIS
Tanda-tanda umum apnea tidur termasuk unexplained kantuk
siang hari, gelisah tidur dan mendengkur keras (dengan periode
keheningan yang diikuti oleh terengah-engah).
Gejala kurang umum adalah sakit kepala pagi; insomnia;
kesulitan berkonsentrasi; perubahan suasana hati seperti mudah
marah, kegelisahan dan depresi; pelupa; peningkatan denyut
jantung dan/atau tekanan darah; peningkatan buang air kecil pada
malam hari dan/atau nocturia; sering mules atau gastroesophageal
reflux disease.
PATOFISIOLOGI
Pasien dengan obstruktif sleep apnea memiliki penyempitan jalur nafas bagian atas.
Dengan adanya penyempitan jalan nafas tersebut, terjadi percepatan aliran udara (efek Venturi).
Tekanan negatif ditimbulkan tepi arus aliran udara.
Semakin cepat aliran udara, semakin besar tekanan negatif (Prinsip Bernauli). Pada saat
terbangun, tekanan negatif pada pasien obstruktif sleep apnea diambil alih oleh peningkatan
aktivitas otot genioglosus dan tensor palatina yang menjaga jalan udara tetap ada.
Selama tidur, kompensasi muskular hilang dan aktivitas otot kembali ke level yang sama pada
individu tanpa obstruktif sleep apnea. Kehilangan tonus otot paling nyata selama fase rapid eye
movement. Kombinasi penyempitan anatomi dan kehilangan kontrol neuromuskular
menyebabkan kolapsnya jalan udara dan hambatan aliran udara.
PATOFISIOLOGI
Adanya obstruksi nasal merupakan patogenesis gangguan pernafasan saat tidur termasuk
obstruktif sleep apnea.
Perubahan pola pernafasan hidung menjadi pernafasan mulut mengubah dinamika saluran
pernafasan atas yang merupakan predisposisi kolapsnya saluran pernafasan tersebut.
Efek stimulasi aliran udara dari hidung menjadi hilang. Selain itu, hambatan nasal juga
meningkatkan tekanan negatif saat inspirasi, serta menambah kolapsnya jalur udara secara
anatomis.
LANJUTAN. . .

Kebiasaan mendengkur disebabkan oleh vibrasi jaringan lunak faring yang terjadi
akibat resistensi oleh adanya gumpalan udara yang bergerak cepat. Tekanan udara yang
ditarik ke dalam dan resistensi menyebabkan kerasnya suara dengkuran, sedangkan titik
nada dipengaruhi oleh kelebatan dan konsistensi jaringan yang bergetar. Tepi posterior
palatum lunak, uvula dan pilar tonsil merupakan area yang paling sering menyebabkan suara
dengkuran.
Hambatan maupun pengurangan aliran udara selama apnea menyebabkan hipoksia
dan hiperkabnia. Untuk mengatasi resistensi jalan udara selama pernafasan, diperlukan
peningkatan usaha inspirasi. Kombinasi hipoksia, hiperkabnia dan peningkatan usaha
ventilasi menyebabkan fragmentasi tidur dan terbangun. Pada saat pasien terbangun, otot
faring menjadi aktif kembali dan jalur udara terbuka. Pasien kemudian mengadakan
hiperventilasi untuk memperbaiki kekacauan gas dalam darah lalu kembali tertidur dan
siklus tersebut berulang kembali.
GAMBAR PENYEMPITAN SALURAN NAFAS

Gambar 1. Progresif kolaps pada level velofaring selama Müller


Manuver

Gambar 2. Progresif kolaps pada level orofaring selama Müller


Manuver

Gambar 3. Progresif kolaps pada level retroglosal selama Müller


Manuver
PENGKAJIAN
Chung et al. (2012) mengatakan terdapat 2 akronim yang membantu mendiagnosis OSA,
akronim STOP, yaitu meliputi:
 S (SNORE): Apakah anda mendengkur dengan keras, cukup keras untuk didengar melalui
pintu yang tertutup "?
 T (TIRED): "Apakah Anda merasa lelah atau letih pada siang hari hampir setiap hari?"
 O (OBSERVE): "Apakah ada yang mengamati bahwa Anda berhenti bernapas saat tidur?"
 P (PRESSURE of BLOOD): "Apakah Anda memiliki riwayat tekanan darah tinggi dengan
atau tanpa pengobatan?“

Jika pasien menjawab ya untuk > 2 pertanyaan, sensitivitas pasien yang memiliki AHI lebih
dari 5 adalah 66% dan sensitivitas pasien yang memiliki AHI lebih besar dari 15 adalah
74%.
LANJUTAN. . .
Sebuah Akronim BANG juga dapat berguna, yaitu sebagai berikut:
 B (BMI): BMI lebih besar dari 30 kg / m2
 A (AGE): Usia lebih tua dari 50 tahun
 N (NECK): Lingkar leher lebih dari 43 cm (17 inch)
 G (Gender): jenis kelamin Laki-laki.
Jika kriteria dari STOP dan BANG terpenuhi, sensitivitas pasien memiliki AHI lebih dari 5
adalah 93% dan AHI lebih dari 15 adalah 83% namun, tidak semua populasi pasien dapat
diidentifikasi dengan tingkat akurasi yang sama dengan alat yang sama, oleh karena itu
penelitian masih harus terus untuk menemukan prediktor terbaik untuk berbagai populasi
pasien.
PEMERIKSAAN FISIK
Temuan pemeriksaan fisik yang mungkin adalah sebagai berikut:
 Obesitas - indeks massa tubuh (BMI) lebih dari 30 kg / m2
 Lingkar leher yang besar - Lebih dari 43 cm (17 inch) pada pria dan 37 cm (15 inch) pada
wanita. Lingkar leher 40 cm atau lebih memiliki sensitivitas 61% dan spesifisitas 93%
untuk OSA, terlepas dari jenis kelaminnya
 Skor Mallampati abnormal (meningkat)
 Penyempitan dinding saluran napas lateral, yang merupakan prediktor independen dari
adanya OSA pada pria tapi tidak pada wanita
 Tonsil yang membesar
 Retrognatia (rahang bawah terlalu mundur) atau mikrognathia (ukuran dagu terlalu kecil)
PEMERIKSAAN FISIK
Temuan pemeriksaan fisik yang mungkin adalah sebagai berikut:
 Langit-langit keras(palatum durum) melengkung tinggi
 Hipertensi arteri sistemik, muncul pada sekitar 50% dari pasien dengan OSA
 Gagal jantung kongestif (CHF)
 Hipertensi pulmonal
 Stroke
 Sindrom metabolik
 Diabetes mellitus tipe 2
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pencitraan / Imaging
Modalitas yang tersedia untuk mengidentifikasi lokasi obstruksi meliputi sefalometri lateral,
endoskopi, fluoroskopi, computed tomography (CT) scan, magnetic resonance imaging (MRI),
dan radiografi.
2. Tes laboratorium
Sebuah tes tirotropin harus dilakukan pada setiap pasien dengan kemungkinan OSA yang
memiliki tanda-tanda lain atau gejala hipotiroidisme, terutama pada orang tua.
3. Polisomnografi (PSG)
PSG digunakan pada OSA secara akurat untuk mendiagnosis dan untuk menilai manfaat
pengobatan Menurut rekomendasi, penilaian dokter harus mencakup evaluasi faktor resiko dan
penyajian gejala umum untuk OSA.
PENATALAKSANAAN
Secara umum terapi untuk mengatasi gangguan tidur pada OSA dapat
dibagi menjadi 3 bagian, yaitu intervensi bedah :
Pembedahan hidung; bedah plastik untuk palatum, uvula dan faring;
trakeostomi;
Perubahan gaya hidup : menurunkan berat badan; menghindari alkohol dan
obat-obatan pembantu untuk tidur; menghindari kelelahan yang sangat dan
mengkonsumsi kafein;
Penggunaan alat-alat buatan : alat untuk mereposisi rahang dan
mempertahankan posisi lidah, cervical collars atau bantal, CPAP.
TERIMAKASIH