Anda di halaman 1dari 14

IMPLIKASI UNDANG – UNDANG

KEPERAWATAN
DISUSUN OLEH:
ANITA
ANNA FATIKA
DEVI WINDHATYARA
MONIKA INTAN ASTARI
TIARA YAREND PRABAWA
KETENTUAN UMUM
Undang-undang Keperawatan diatur oleh UU nomor 38 tahun
2014. UUK Ini disahkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober
2014 oleh presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam UUK terdiri dari 13 bab dan 66 pasal. Didalam pasal 2
berisi tentang asas praktik keperawatan yang menjadi landasan
para perawat dalam melakukan praktik keperawatan.
Selain itu, didalam pasal 3 dijelaskan tujuan perawat yaitu
meningkatkan mutu Perawat, meningkatkan mutu Pelayanan
Keperawatan, memberikan pelindungan dan kepastian hukum
Kepada Perawat dan Klien, dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
JENIS PERAWAT
Dalam UUK pasal 4 poin 1-2 membagi perawat
dalam beberapa jenis, yaitu:
1. Jenis Perawat terdiri atas:
a. Perawat profesi
b. Perawat vokasi.
2. Perawat profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri
atas:
a. ners
b. ners spesialis
Dengan telah adanya pertaruan yang menyebutkan tentang jenis-jenis
perawat yang telah diakui oleh negara, maka perawat-perawat yang
masih berada dbawah ditingkat tersebut seperti SMA Keperawatan,
tidak diperbolehkan untuk menjalankan profesi sebagai Perawat.
PENDIDIKAN TINGGI KEPERAWATAN
Dalam UUK, tedapat standar-standar tentang pendidikan tinggi
keperawatan. Seperti yang disebutkan pada pasal 5:
1. Pendidikan tinggi Keperawatan terdiri atas:
2. Pendidikan Vokasi
3. Pendidikan akadememik
4. Pendidikan profesi

Pendidikan minimal yaitu pendidikan vokasi, yang berada pada


diploma tiga keperawatan. Dengan begitu, pendidikan dibawah diploma
tiga keperawatan tidak di izinkan untuk bekerja pada bidang
keperawatan.
Lanjutan ...
Pendidikan tinggi yang dimaksud pada pasal 5 tersebut dapat
diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki izin
penyelenggaraan serta fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia
pada perguruan tinggi tersebut sesuai standar seperti yang tertulis
pada bab III pasal 9:
1. Pendidikan Tinggi Keperawatan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki izin
penyelenggaraan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-
undangan.
2. Perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berbentuk universitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, atau
akademi.
3. Perguruan tinggi dalam menyelenggarakan Pendidikan Tinggi
Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
menyediakan Fasilitas Pelayanan Kesehatan sebagai Wahana
Pendidikan serta berkoordinasi dengan Organisasi Profesi
Perawat.”
Lanjutan ...
Perawat yang telah luluspun diwajibkan untuk mengikuti ujian pula.
Seperti yang diatur pada pasal 16 poin 1-4, yaitu:

1. Mahasiswa Keperawatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan


profesi harus mengikuti Uji Kompetensi secara nasional.
2. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan oleh perguruan tinggi bekerja sama dengan
Organisasi Profesi Perawat, lembaga pelatihan, atau lembaga
sertifikasi yang terakreditasi.
3. Uji Kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditujukan
untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang memenuhi
standar kompetensi kerja.
4. Standar kompetensi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
disusun oleh Organisasi Profesi Perawat dan Konsil Keperawatan
dan ditetapkan oleh Menteri.
REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN
REGISTRASI ULANG
Perawat yang hendak menjalankan profesinya sebagai perawat atau
dengan kata lain akan menjalankan Praktik Keperawatan, diwajibkan
untuk memilki STR (Surat Tanda Registrasi). STR tersebut diberikan
oleh Konsil Keperawatan. Untuk mendapatkan STR, Perawat harus
memenuhi beberapa persyaratan. Persyaratan-persyaratan tersebut
tertulis dalam pasal 18 poin 3, yaitu:
Persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
1. Memiliki ijazah pendidikan tinggi Keperawatan;
2. Memiliki Sertifikat Kompetensi atau Sertifikat Profesi;
3. Memiliki surat keterangan sehat fisik dan mental;
4. Memiliki surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji profesi;
5. Membuat pernyataan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.
Lanjutan ...
Bagi Perawat yang hendak membuka Praktik Keperawatan Mandiri,
wajib bagi mereka untuk meiliki izin berupa SIPP (Surat Izin Praktik
Perawat). SIPP diberikan oleh Pemerintah Daerah kabupaten/kota,
sesuai dengan pasal 19 poin 3 dan 4, yaitu

3. SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diberikan oleh


Pemerintah Daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat
kesehatan yang berwenang di kabupaten/kota tempat Perawat
menjalankan praktiknya.
4. Untuk mendapatkan SIPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan (2), Perawat harus melampirkan:
a. Salinan STR yang masih berlaku;
b. Rekomendasi dari Organisasi Profesi Perawat; dan
c. Surat pernyataan memiliki tempat praktik atau surat keterangan
dari pimpinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Lanjutan ...
Perawat dari Negara luar dan Perawat Indonesia lulusan Luar Negeri,
Jika ingin melakukan praktik keperawatan di Indonesia, wajib pula baginya
untuk memiliki STR. Namun, sebelum mendapatkan STR, mereka wajib
untuk mengikuti evaluasi kompetensi, sesuai dengan pasal 24 poin 1-3 :
1. Perawat Warga Negara Asing yang akan menjalankan praktik di
Indonesia harus mengikuti evaluasi kompetensi.
2. Evaluasi kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
melalui:
a. penilaian kelengkapan administratif, dan
b. penilaian kemampuan untuk melakukan praktik.
3. Kelengkapan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
paling sedikit terdiri atas
a. Penilaian keabsahan ijazah oleh menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pendidikan
b. Surat keterangan sehat fisik dan mental
c. Surat pernyataan untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika
profesi.
PRAKTIK KEPERAWATAN
Praktik keperawatan ini harus menjunjung tinggi kode etik, standar
pelayanan, standar profesi, dan standar prosedur operasional, serta
harus berdasarkan prinsip kebutuhan pelayanan kesehatan oleh
masyarakat, sesuai dengan pasal 28 ayat 1-3 UU Keperawatan, yaitu:

1. Praktik Keperawatan dilaksanakan di Fasilitas Pelayanan


Kesehatan dan tempat lainnya sesuai dengan Klien sasarannya.
2. Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri
atas:
a. Praktik Keperawatan mandiri; dan
b. Praktik Keperawatan di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
3. Praktik Keperawatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
didasarkan pada kode etik, standar pelayanan, standar profesi,
dan standar prosedur operasional.
Lanjutan ...
Hal yang perlu menjadi perhatian didalam UU Keperawatan ini salah
satunya adalah perawat sebagai pelimpahan wewenang. Pelimpahan
wewenang yang dimaksud dilakukan secara delegatif disertai dengan
pelimpahan tanggung jawab.

Hal ini sesuai dengan pasal 32 ayat 3-6, yaitu:


3. Pelimpahan wewenang secara delegatif untuk melakukan sesuatu
tindakan medis diberikan oleh tenaga medis kepada Perawat
dengan disertai pelimpahan tanggung jawab.
4. Pelimpahan wewenang secara delegatif sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) hanya dapat diberikan kepada Perawat profesi atau
Perawat vokasi terlatih yang memiliki kompetensi yang diperlukan.
5. Pelimpahan wewenang secara mandat diberikan oleh tenaga
medis kepada Perawat untuk melakukan sesuatu tindakan medis
di bawah pengawasan.
6. Tanggung jawab atas tindakan medis pada pelimpahan wewenang
mandat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) berada pada
pemberi pelimpahan wewenang.
Lanjutan ...
Pelaksanaan tugas dalam keterbatasan tertentu khususnya
dalam keadaan tidak ada tenaga medis dan/atau tenaga
kefarmasian. Hal inisesuai dengan pasal 33 ayat 2-4, yaitu:

2. Keadaan tidak adanya tenaga medis dan/atau tenaga


kefarmasian di suatu wilayah tempat Perawat bertugas
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh kepala
Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang kesehatan setempat.
3. Pelaksanaan tugas pada keadaan keterbatasan tertentu
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan
memperhatikan kompetensi Perawat.
Lanjutan...
4. Dalam melaksanakan tugas pada keadaan keterbatasan
tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Perawat
berwenang:
a. Melakukan pengobatan untuk penyakit umum dalam hal
tidak terdapat tenaga medis;
b. Merujuk pasien sesuai dengan ketentuan pada sistem
rujukan; dan
c. Melakukan pelayanan kefarmasian secara terbatas dalam
hal tidak terdapat tenaga
TERIMAKASIH