Anda di halaman 1dari 38

Lutfi Aulia Supriyadi - 012116437

ENTERO LBM 1
DEFINISI

 Kata ikterus (jaundice) berasal dari kata Perancis ‘jaune’ yang berarti
kuning. Ikterus adalah perubahan warna kulit, sklera mata atau jaringan
lainnya (membrane mukosa) yang menjadi kuning karena pewarnaan oleh
bilirubin yang meningkat kadarnya dalam sirkulasi darah.
 Pada orang dewasa, ikterus akan tampak apabila serum bilirubin > 2
mg/dL (> 17 μmol/L)
 pada neonatus baru tampak apabila serum bilirubin > 5 mg/dL
( >86μmol/L).
IKTERUS

FISIOLOGIS PATOLOGIS
IKTERUS FISIOLOGIS
Ikterus fisiologis adalah keadaan hiperbilirubin karena factor fisiologis yang
merupakan gejala normal dan sering dialami bayi yang baru lahir. Ikterus
fisiologis diantaranya sebagai berikut :

 timbul pada hari kedua dan ketiga

 kadar bilirubin indirect tidak melebihi 10mg/dl % pada neonatus cukup bulan
dan 12,5mg/dl % untuk neonatus lebih bulan.

 Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5mg/dl % perhari

 Ikterus menghilang pada 10 hari pertama

 Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik


IKTERUS PATOLOGIS

 Terjadi dalam 24 jam pertama


 Kadar bilirubin melebihi 10mg/dl % pada neonatus cukup bulan
atau melebihi 12,5 mg/dl % pada neonatus kurang bulan.
 Peningkatan bilirubin melebihi 5 mg/dl% perhari
 Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama
 Kadar bilirubin direct melebihi 1mg/dl
 Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik
ETIOLOGY
1. Peningkatan produksi

 Hemolisis, misalnya pada inkompalibilitas yang terjadi bila

terdapat ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada

penggolongan rhesus dan ABO.

 Perdarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran

 Kelainan congenital

2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan

misalnya hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat

tertentu misalnya sulfadiazine.


ETIOLOGY…

3. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa


mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel

hati dan darah merah seperti infeksi, toksoplasmasiss, syphilis.

4. Peningkatan sirkulasi enterohepatik, misalnya pada ileus

obstruktif.
PATOFISIOLOGY
PATOFISIOLOGI IKTERUS

Metabolisme
Bilirubin

Fase Fase Fase post


prehepatik intrahepatik hepatik
FASE PREHEPATIK

•dibentuk sekitar 250 – 350 mg


(4 mg /kgBB) per hari.
•70 – 80% dari pemecahan sel
darah merah yang matang.
Pembentukan Sisanya, 20 – 30 % (early labeled
bilirubin) berasal dari protein
Bilirubin heme di sumsum tulang dan hati
•Peningkatan hemolisis sel darah
merah menjadi penyebab utama
peningkatan pembentukan
bilirubin
FASE PREHEPATIK

•Bilirubin tidak larut dalam air, 


transport menggunakan albumin
dan tidak dapat melalui
membrane glomerulus  tidak
Transport dapat keluar melalui urin.
Plasma • Ikatan bilirubin dan albumin yang
melemah, (cth : asidosis),
beberapa bahan antibiotik
seperti salisilat berkompetisi
berikatan dengan albumin.
FASE INTRAHEPATIK

Liver uptake
Proses pengambilan bilirubin tidak
terkonyugasi oleh hati secara rinci dan
pentingnya protein pengikat seperti
ligandin atau protein Y, belum dapat
dijelaskan.
FASE INTRAHEPATIK

Konyugasi
Bilirubin bebas di sel hati mengalami konyugasi
dengan asam glukuronik  bilirubin
diglukuronida atau bilirubin terkonyugasi atau
bilirubin direk.
Reaksi ini dikatalisasi oleh enzim mikrosomal
glukoronil-transferase  bilirubin larut air.
FASE POSTHEPATIK

Ekskresi Bilirubin
•Bilirubin konyugasi dikeluarkan ke dalam
kanalikulus bersama bahan lainnya  Anion organic
atau obat, dapat mempengaruhi proses ini.
•Di dalam usus, flora bakteri men”dekonyugasi” dan
mereduksi bilirubin  sterkobilinogen (keluark
dengan tinja)  warna coklat pada tinja.
•Sebagian diserap kembali dan di keluarkan di
empedu,
•Sebagian kecil keluar bersama urin sebagai
urobilinogen.
FASE POSTHEPATIK

Ekskresi Bilirubin
• Ginjal dapat mengeluarkan diglukurobilinogen
tetapi tidak dapat mengeluarkan bilirubin
terkonyugasi. Bilirubin tidak terkonyugasi
tidak larut air tapi larut dalam lemak, dapat
melewati blood-brain barrier dan plasenta.
• Di sel hati, bilirubin tidak terkonyugasi
mengalami proses konyugasi dengan gula
melalui enzim glukuroniltransferase dan larut
dalam empedu cair.
PENILAIAN MENURUT KRAMMER
Penilaian ikterus dan derajat ikterus dengan cara Kramer dengan

membagi derajat ikterus bayi baru lahir dalam 5 bagian yang dimulai

cara :
HUBUNGAN KADAR IKTERUS DENGAN BILIRUBIN

Derajat Daerah Ikterus Perkiraan kadar


Ikterus bilirubin
aterm Preterm
1 Kepala sampai leher 5,4 -
2 Kepala, badan dan umbilicus 8,9 9,4
3 Kepala, badan, paha sampai lutut 11,8 11,4
4 Kepala, badan,ekstremitas sampai 15,8 13,3
dengan pergelangan tangan dan
kaki
5 Kepala, badan semua ekstremitas - -
sampai dengan ujung kaki
DIAGNOSA
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

 Anamnesis

1. Riwayat kehamilan dengan komplikasi (obat-obatan, ibu DM, gawat janin,


malnutrisi intra uterin, infeksi intranatal)

2. Riwayat persalinan dengan tindakan / komplikasi

3. Riwayat ikterus / terapi sinar / transfusi tukar pada bayi sebelumnya

4. Riwayat inkompatibilitas darah

5. Riwayat keluarga yang menderita anemia, pembesaran hepar dan limpa


LANJUTAN…
 Pemeriksaan Fisik

 Secara klinis ikterus pada neonatus dapat dilihat segera setelah lahir atau beberapa hari
kemudian. Amati ikterus pada siang hari dengan lampu sinar yang cukup. Ikterus akan
terlihat lebih jelas dengan sinar lampu dan bisa tidak terlihat dengan penerangan yang
kurang, terutama pada neonatus yang kulitnya gelap. Penilaian ikterus akan lebih sulit lagi
apabila penderita sedang mendapatkan terapi sinar.

 Tekan kulit secara ringan memakai jari tangan untuk memastikan warna kulit dan jaringan
subkutan. Waktu timbulnya ikterus mempunyai arti penting pula dalam diagnosis dan
penatalaksanaan penderita karena saat timbulnya ikterus mempunyai kaitan erat dengan
kemungkinan penyebab ikterus tersebut.
LANJUTAN…
 Pemeriksaan laboratorium

 Pemeriksaan serumbilirubin (bilirubin total dan direk) harus dilakukan pada neonatus yang
mengalami ikterus. Terutama pada bayi yang tampak sakit atau bayi-bayi yang tergolong risiko tinggi
terserang hiperbilirubinemia berat. Namun pada bayi yang mengalami ikterus berat, lakukan terapi
sinar sesegera mungkin, jangan menunda terapi sinar dengan menunggu hasil pemeriksaan kadar
serum bilirubin.

 ‘Transcutaneous bilirubin (TcB)’ dapat digunakan untuk menentukan kadar serum bilirubin total,
tanpa harus mengambil sampel darah. Namun alat ini hanya valid untuk kadar bilirubin total < 15
mg/dL (<257 μmol/L), dan tidak ‘reliable’ pada kasus ikterus yang sedang mendapat terapi sinar.
PENATALAKSANAAN PADA BAYI
 Berdasarkan pada penyebabnya maka manajemen bayi
dengan hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah
anemia dan membatasi efek dari hiperbilirubinemia.
 Fototerapi
Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara
memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi
 Transfusi Pengganti
 Phenobarbital dapat menstimulus hati untuk
menghasilkan enzim yang meningkatkan konjugasi
bilirubin dan mengekskresikannya
PENATALAKSANAAN
Fototerapi
Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi bilirubin tak terkonjugasi.

Berikut tabel yang menggambarkan kapan bayi perlu menjalani fototerapi dan penanganan medis
lainnya, sesuai The American Academy of Pediaatrics (AAP) tahun 1994.

Usia bayi Pertimbangan Terapi sinar Transfusi tukar Transfusi tukar


( dalam jam ) terapi sinar (indirek serum) bila terapi sinar dan terapi sinar
(kadar gagal ( mg/ dl ) intensif
bilirubin)
< 24 - - - -

25-48 >9 >12 >20 >25

49-72 >12 >15 >25 >30

>72 >15 >17 >25 >30


LANJUTAN…

Bayi lahir kurang bulan perlu fototerapi jika :


Usia (jam) Berat lahir BL 1500 – 2000 g BL > 2000 g kadar
kadar bilirubin bilirubin
<> >4 >4 >5

25-48 >5 >7 >8

49-72 >7 >8 >10

>72 >8 >9 >12


LANJUTAN….
Transfusi Tukar
Transfuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-
faktor :

1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu


2. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
3. Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam
pertama
4. Kadar bilirubin direk labih besar 3,5 mg/dl di minggu pertama
5. Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama
6. Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl
7. Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus
LANJUTAN…
Transfusi tukar
Transfusi pengganti digunakan untuk:
1. Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak
susceptible (rentan) terhadap sel darah merah
terhadap antibody maternal
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang
tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan serum ilirubin
4. Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan
meningkatkan keterikatan dangan bilirubin
FOTOTHERAPY TRANSFUSI GANTI
KOMPLIKASI
 Komplikasi yang mungkin
timbul dari ikterus
neonatorum terjadi kern
ikterus, yaitu kerusakan otak
akibat perlengkatan bilirubin
indirect pada otak terutama
pada korpus striatum,
thalamus, nucleus subtalamus
hipokampus, nucleus merah di
dasar ventrikel IV
PROGNOSIS
 Hiperbilirubinemia baru akan berpengaruh buruk apabila bilirubin indirek telah
melalui sawar darah otak. Pada keadaan ini penderita mungkin menderita
kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada masa neonatus gejala mungkin sangat
ringan dan hanya memperlihatkan gangguan minum, latergi dan hipotonia.
Selanjutnya bayi mungkin kejang, spastik dan ditemukan epistotonus. Pada
stadium lanjut mungkin didapatkan adanya atetosis disertai gangguan
pendengaran dan retardasi mental di hari kemudian. Dengan memperhatikan hal
di atas, maka sebaiknya pada semua penderita hiperbilirubinemia dilakukan
pemeriksaan berkala, baik dalam hal pertumbuhan fisis dan motorik, ataupun
perkembangan mental serta ketajaman pendengarannya.
HATURNUHUN