Anda di halaman 1dari 22

GAWAT DARURAT PADA KLIEN

TENGGELAM
 Indonesia negara  kepulauan, pemanfaatan air sangat
besar dalam berbagai aspek  pencaharian, rekreasi,
olah raga, bencana  kolam renang, danau, laut/ pantai,
rawa, banjir, sungai, sunami  kecelakaan  Morbiditas
& Mortalitas meningkat

 Keselamatan  kecepatan pertolongan, teknik resusitasi,


fasilitas RS paska RJP
PATOFISIOLOGI TENGGELAM
 Tenggelam  asfeksia pertukaraan gas terhenti
hipoksia, hiperkarbia  asidosis
 Hipoksemia,tergantung lamanya tenggelam jenis
cairan yang diaspirasi
 10- 20 %  tenggelam tak mengalami aspiarasi
air,  laringo spasme (dry drowning)
 Pada klien yang mengalami aspirasi lebih sulit
diatasi walaupun RJP cepat dimulai
 Refleks penutupan jalan nafas, turunnya komplians paru
 hipoksemia  shunting dari sirkulasi lewat difusi di
alveoli (non ventilated alveoli)

 Mekanisme non ventilated alveoli  aspirasi air


tawar(hipotonik)kerusakan membran antara alveoli
kapiler  perubahan surfaktan  eksudasi plasma yang
kaya protein  kollaps alveoli
 Pada binatang percobaan  air tawar  hemodelusi
berat  hemolisis hiper kalemia  fibrilasi ventrikel 
mati. Keadaan ini tak terjadi pada manusia  surfaktan
berfungsi sebagai pelindung pindahnya air dari alveoli ke
kapiler

 Tenggelam di air laut aspirasi  cairan masuk ke


alveoli  hipoksemia dan hemokonsentrasi
 Tenggelam di kolam renang  khlor akan mengakibatkan
iritasi  edema paru secara pelan pelan (lambat)

 Setelah sadar dari tenggelamklien masih hipoksemia


meski sudah mampu bernafas spontan  setelah diberi
O2 100%  aspirasi pneumonia, eksudat protein
menumpuk, perubahan membran alveoli-kapiler atau
infeksi.
 Walau klien sudah sadar hipoksemia masih terjadi 
difusi belum merata.
 Akibat tenggelam  asidosis respiratorik maupun
metabolik atau kombinasi kedua nya.
 Apnea /hipoventilasi  retensi C02  PaC02 naik 
kadar Hidrogen meningkat
 Fungsi jantung  tergantung beratnya hipoksemia,
volume darah, elektrolit berat nya asidosis
 Yang lazim terjadi  Fibrilasi atrium & ventrikuler
ektrasistole
 Klien yg segera meninggal tenggelam  kemungkinan
terjadi fibrilasi ventrikel
 Perubahan elektrolit & cairan  hipo tensi,hipoksemia,
asidosis gagal ginjal
 Tanda klinik tenggelam  tergantung zat yang diaspirasi
 ludah berbuih halus ke-merah2an, sakit
dada(pleuritic), rasa terbakar daerah substernal, batuk
serak,
sianosis, sesak nafas, sulit mengambil nafas dalam, nafas
cepat dangkal, apnea
 Pemeriksaan fisik  redup,auskultasi  ronkhi basah.
 Panas, leukositosis belum tentu infeksi
 Neurologis  gelisah, lesu sementara
 Tak sadar  meski tenggelam hanya sebentar 
bereaksi setelah segera di lakukan RJP dan oksigenasi
adekuat
 Hipoksia sedang  segera pulih, berat  tanda
gangguan neurologis yang menetap
 Kerusakan otak yg menetap  hipoksia berat 
tenggelam yang lama  RJP sampai nafas spontan.
 Bila lebih 30- 1 jam menit RJP  tak berhasil gejala
sisa. Kadang kala nafas spontan timbul setelah 1 jam
RJP.
 Kemunduran intelegensi  apnea yg lama
 Konvulsi, paralise neuromuskuler perifer, sulit bicara,
hipoksemia yang berat
 Setiap kasus tenggelam periksa laboratorium rutin
 Analisis gas darah  asam basa, hipoksemia,
hiperkapnia
 Foto toraks  infiltrat, edema paru (dapat kembali
setelah 12 jam – 6 hari)
 Bila sudah 10 hari infiltrat  pneumonia
 EKG perlu di analisis & selalu dimonitor
 Darah  Hb, elektrolit, kreatinin, kultur, urea netrogen.
 Sputum  kultur, penecetan
 Analisis urine
 Komplikasi  Tenggelam kedua (Scodary drowning)
respiratory distress syndrome
 Infeksi skunder  air tercemar

 Sebaiknya mengirim dan merawat klien tenggelam ke RS


walaupun kesadaran telah pulih dengan penagawasan
24 jam
 Monitoring tanda vital analisis gas darah foto toraks, 
menurunkan angka kematian
UPAYA PERTOLONGAN
 Ada tiga kemungkinan klien tenggelam 
1. Selamat atas usaha sendiri
2. Nasib baik  ada penolong yg kompeten
3. Tenggelam
 Sebaiknya pada tempat2 yg berisiko ada petugas
terlatih  menolong klien tenggelam  terampil
RJP, alat RJP
 Diperlukan peralatan  pelampung
 Syarat anggota penolong  mampu berenang,
pengetahuan sistem referal, kemampuan membebaskan
korban dari air, RJP di air & didarat, menenangkan
korban.
 Mampu menolong fraktur, menghindari fraktur servical,
mengeluarkan air & gas dari lambung, mengankat korban
& melakukan prioritas bantuan
1. Pertolongan di tempat  RJP untuk mengembalikan
fungsi nafas  adekuat
 Tak dibenarkan melakukan drainage paru sulit, buang
waktu, RJP tertunda, tak efektif, muntahan resiko
 Segera tetapkan kondisi klien (ABC)

 Segera bebaskan jalan nafas  lumpur, gigi palsu, daun


& sampah lain
 Segera berikan Oksigenasi

 Lakukan pijat jantung (kjl) bila perlu

 Evaluasi hasil RJP


2. Diperjalanan  bantuan terus dilakukan
 Analisis tanda vital bila nafas & jantung spontan (dapat
apnea arrest jantung)
 RJP terus dilakukan sampai diambil alih oleh petugas RS
 Jalan nafas & oksigenasi tetap terjamin

2. Pengelolaan di rumah sakit 


 Berdasarkan hasil klinik  analisis gas darah tak
bernafas spontan,hipoventilasi
 PaO2 kurang dari 50,PaCO2 lebih dari 50 klien telah
mendapat O2 konsentrasi maksimum intubasi
endotrakeal  ventilator PEEP sampai PaO2 cukup
 Mengatasi asidosis metabolik NaHCO3 aritmia akan
hilang bila asidosis, hipoksemia teratasi
 Edema paru membaik istirahat total, terapi oksigen,
PEEP, diuretika
 Syok  plasma ekspander
 Elektrolit  Nacl utk tenggelam di air tawar, glukosa utk
tenggelam di air laut
 Kejang,gelisah berkurang bila oksigen cukup, bila
menetap  diazepam
 Hemolisis berat  Packed cell
 Bronkhospasme  aminofilin IV.250 mg
 Anti biotika  Pneumonia
 Kortikosteroid  anti imflamasi aspirasi
 Nasogastrik tube  mengeluarkan air dari lambung
 Edema otak  Kortikosteroid,
 Faktor yang mempengaruhi kembalinya fungsi otak
paska rjp  Respons rangsang fisiologis,
hipotemi,lamanya tenggelam, efektivitas rjp, upaya
penyelamatan otak

1.Reaksi rangsang fisiologis  ketahanan terhadap asfeksi


dan hipoksia berbanding terbalik dengan umur
2.Hipotermi  sampai 20 derajat paralisis perifer,
hilangnya panas tubuhdilatasi akibat gerarakan
tubuh(berenang)
3.Lamanya tenggelam  Tak ada data, di Norwegia 
tenggelam di air dingin, 5-10 menit, di air hangat, 10-20
menit klien dapat pulih sempurna

4.Efektivitas Rjp permulaan  tenggelam  sirkulasi


terhenti (anoksia), fibrilasi ventrikel /asistole, bradikardi
berat, nadi tak teraba (CO rendah),spasme pembuluh
darahhipotermi & refleks tenggelam
 Semua klien tenggelam segera dilakukan Rjp 
terlambat kerusakan otak
 Teknik yang benar  perfusi otak adekuat
 Selama diperjalanan  perfusi otak harus dipertahankan
 Di UGD RS  Rjp dilanjutkan ICU
 Hipotermi  bukan indikasi mati otak

5.Perawatan menelamatkan otak


 Dilaksanakan di ICU