Anda di halaman 1dari 37

MASERASI &

modifikasinya
• Maserasi = sediaan cair yang dibuat dengan cara
mengekstraksi bahan nabati yaitu direndam
menggunakan pelarut bukan air (pelarut nonpolar)
atau setengah air, misalnya etanol encer, selama
periode waktu tertentu sesuai dengan aturan dalam
buku resmi kefarmasian (Farmakope Indonesia, 1995).

• Metode maserasi digunakan untuk menyari simplisia


yang mengandung komonen kimia yang mudah larut
dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin,
tiraks dan lilin.
Alat maserasi dan fungsinya
.
Gambar 4. Alat maserasi
A. Bejana untuk maserasi
berisi bahan yang sedang
dimaserasi
B. Tutup
C. Pengaduk yang digerakkan
secara mekanik
D. Bejana tempat hasil
maserasi
E. Penyerkai

7
MASERASI …
 Gambar 4 menunjukkan skema alat maserasi,
bejana A yg terbuat dr gelas, baja tahan karat atau
bhn logam lain yg dilapisi email. Sejauh mungkin
dihindr penggunaan logam berat tanpa lapisan
karena dpt membtk senyawa kompleks dg
kandungan kimia tanaman yg mempunyai gugus
ortodihidroksi atau hidroksi-karbonil dlm molekulnya,
misal flavonoid, antosianin, tanin dan senyawa fenol
lain.
 Bejana A berpasangan dg tutup bejana B yg dpt
sekaligus dilengkapi dg pengaduk C atau dibuat
terpisah dg setiap kali hrs membuka tutup bejana pd
wkt akan mengaduk. Pengaduk C dpt dibuat dr kayu
atau baja tahan karat.
8
MASERASI …
 Selain itu dibutuhkan pula bejana lain yaitu bejana
D utk menampung dan mengendapkan cairan hasil
maserasi dr bejana A setelah disaring atau dituang.
Btk, ukuran dan bhn bejana D pd dasarnya sama
dg bejana A tetapi tanpa dilengkapi dg pengaduk.
 Cara ini utk pembuatan tingtur. Jika yg dibuat
adalah ekstrak, pengerjaannya dilanjutkan dg
pemekatan sari tadi. Pemekatan dilakukan dg cara
penyulingan atau penguapan pd tekanan rendah
dan suhu 50° C hingga diperoleh konsentrasi yg
dikehendaki.

9
MASERASI …
 Pd penyarian dg cara maserasi, perlu dilakukan
pengadukan. Pengadukan diperlukan utk
meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk
simplisia, shg dg pengadukan tsb tetap terjaga
adanya derajat perbedaan konsentrasi yg sekecil-
kecilnya antara larutan di dlm sel dg larutan di luar
sel.
 Hasil penyarian dg cara maserasi perlu dibiarkan
selama wkt tertentu. wkt tersebut diperlukan utk
mengendapkan zat-zat yg tidak diperlukan tetapi
ikut terlarut dlm cairan penyari seperti malam dll.

10
PELARUT
Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air
atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan
di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih, maka
ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel
dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan
karena ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu
terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari)
sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut
akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%,
sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat
aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif
di dalam dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan
yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha
mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di
dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan
berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi
(istilahnya “jenuh”).
PELARUT

Like dissolve like. Sebuah prinsip


kelarutan di mana, suatu zat hanya
akan larut pada pelarut yang sesuai.
Dengan kata lain, zat yang bersifat
polar akan larut pada pelarut polar
dan suatu zat non polar pun akan larut
pada pelarut yang non polar. Prinsip
ini dikenal dnegan prinsip like dissolve
like.”
*PRINSIP
Maserasi merupakan proses pengekstrakan
simplisia dengan prinsip utama dari proses
maserasi ini adalah “Perendaman”.

TEORINYA :
“adanya proses Difusi”

Keseimbangan konsentrasi
DIFUSI
“Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar
dan diganti oleh cairan dengan konsentrasi rendah”

Dalam teorinya :
“ketika simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang
dipilih, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
sel yang penuh dengan zat aktif. Pada saat itu karena ada pertemuan
antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut
dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut
akhirnya akan mengandung zat aktif.

Misalnya 100 %, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi
zat aktif (nol%) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam
dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan
didesak menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi
antara zat aktif di dalam dan di luar sel.
*KEKURANGAN nya :
1. Proses penyariannya tidak
sempurna, karena zat aktif hanya
mampu terekstraksi sebesar 50%
saja

2. Prosesnya lama, butuh waktu


beberapa hari.
*KELEBIHAN nya :
1. Alat yang sederhana

2. Biaya yang relatif murah

3. Tanpa pemanasan
videoplayback
*Modifikasi Maserasi
DIGESTI
MASERASI DENGAN
MESIN PENGADUK

REMASERASI
MASERASI
MELINGKAR
MASERASI
BERTINGKAT

MASERASI SONIKASI
MODIFIKASI MASERASI
 Pada maserasi dapat dilakukan modifikasi
misalnya:
1. Digesti
 Digesti adalah cara maserasi dg menggunakan
pemanasan lemah, yaitu pada suhu 40°-50° C.
Cara maserasi ini hanya dpt dilakukan utk simplisia
yg zat aktifnya tahan thd pemanasan.
 Jika cairan penyari mudah menguap pd suhu yg
digunakan, maka perlu dilengkapi dg pendingin
balik, shg cairan penyari yg menguap akan kembali
ke dlm bejana.
1
MODIFIKASI MASERASI ...

 Dg pemanasan akan diperoleh keuntungan al:


» Kekentalan pelarut berkurang, yg dpt
mengakibatkan berkurangnya lapisan-lapisan
batas.
» Daya melarutkan cairan penyari akan meningkat,
shg pemanasan tsb mempunyai pengaruh yg
sama dg pengadukan.

2
» Koefisien difusi berbanding lurus dengan suhu
absolut dan berbanding terbalik dengan
kekentalan, hingga kenaikan suhu akan
berpengaruh pada kecepatan difusi.
» Umumnya kelarutan zat aktif akan meningkat bila
suhu dinaikkan.

2
Gambar 5. Alat digesti Gambar 6. Alat maserasi melingkar
A = Alat pendingin A = Bejana penyari
B = Tutup (dari gabus) B = Pipa penghubung
C = Panci Digesti C = Pompa
D = Tangas air D = Alat penyembur
E = Sumber panas E = Saringnan
F = Serbuk simplisia dan cairan penyari
2
Penggunaan mesin pengaduk yang berputar
terus-menerus, waktu proses maserasi dapat
dipersingkat menjadi 6 sampai 24 jam.
GAMBAR MASERASI DENGAN MESIN
PENGADUK
Cairan penyari dibagi menjadi, Seluruh serbuk
simplisia di maserasi dengan cairan penyari
pertama, sesudah diendapkan, tuangkan dan
diperas, ampas dimaserasi lagi dengan cairan
penyari yang kedua.
Maserasi dapat diperbaiki dengan
mengusahakan agar cairan penyari selalu bergerak
dan menyebar. Dengan cara ini penyari selalu
mengalir kembali secara berkesinambungan melalui
sebuk simplisia dan melarutkan zat aktifnya.
Pada maserasi melingkar, penyarian tidak dapat
dilaksanakan secara sempurna, karena pemindahan
massa akan berhenti bila keseimbangan telah
terjadi masalah ini dapat diatasi dengan maserasi
melingkar bertingkat (M.M.B), yang akan
didapatkan :

• Serbuk simplisia mengalami proses penyarian


beberapa kali, sesuai dengan bejana penampung.
Pada contoh di atas dilakukan 3 kali, jumlah
tersebut dapat diperbanyak sesuai dengan
keperluan.
Alat maserasi melingkar bertingkat

A = Bejana penyari C. Pompa E. Bejana penampung


B = Pipa penghubung D. Alat penyembur

2
MODIFIKASI MASERASI …
• Maserasi melingkar betingkat peralatannya hampir
sama dengan maserasi melingkar. Bejana penyari
(A) dihubungkan dengan pompa (C) dan bejana
penampung (E) melalui pipa-pipa penghubung (B)
dan kelep-kelep. Bejana penampung (E) jumlahnya
disesuaikan dengan keperluan, di sini diambil 3
buah.

2
MODIFIKASI MASERASI …
Cara kerja:
1. Bejana penyari (A) diisi dengan serbuk simplisia
yang akan disari, kemudian ditambahkan cairan
penyari dan dialirkan seperti pada proses
maserasi melingkar. Sari dialirkan ke bejana
penampung pertama (E 1).
2. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari dan dialirkan. Sari dialirkan ke bejana
penampung kedua (E 2).
3. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari dan dialirkan. Sari dialirkan ke bejana
penampung keliga (E 3).
3
MODIFIKASI MASERASI …
Cara kerja:
4. Serbuk simplisia pertama selelah dilakukan
penyarian beberapa kali (disini untuk ke liga kali)
dianggap sudah menjadi ampas. Ampas dibuang.
Bejana penyari (A) diisi kembali dengan serbuk
simplisia yang baru. Hasil penyari pada bejana
penampung pertama (E1) dialirkan kedalam
bejana penyari. Sari dialirkan ke bejana
penampung lainnya (E 4) untuk diuapkan.

3
MODIFIKASI MASERASI …
5. Bejana penyari (A) diisi kembali dg hasil penyarian
pd bejana penampung kedua (E2) kmd dialirkan.
Sari dialirkan ke dlm bejana penampung pertama
(E 1).
6. Bejana penyari (A) diisi kembali dg hasil penyarian
pd bejana penampung ketiga (E 3), kemudian
dialirkan. Sari dialirkan ke dalam bejana
penampung kedua (E 2).
7. Bejana penyari (A) diisi kembali dengan cairan
penyari baru, kmd dialirkan. Sari dialirkan ke dlm
bejana penampung ketiga (E 3).
3
MODIFIKASI MASERASI …
Cara kerja:
8. Serbuk simplisia kedua dianggap sudah tersari
sempurna. Ampas dibuang, kmd diganti dg serbuk
simplisia ketiga. Ulangi proses seperti diatas
dimulai dari proses nomor 4.
 Pada proses ini tiap "batch" serbuk simplisia disari
beberapa kali dg sejumlah cairan penyari (disini
dilakukan tiga kali). Pada bejana penampung E1
berisi sari yg paling pekat dan pada bejana
penampung E3 berisi sari yg paling encer.

3
• Serbuk simplisia sebelum dikeluarkan dari bejana
penyari, dilakukan penyarian.dengan cairan
penyari baru. Dengan ini diharapkan agar
memberikan hasil penyarian yang maksimal

• Hasil penyarian sebelum diuapkan digunakan dulu


untuk menyari serbuk simplisia yang baru,hingga
memberikan sari dengan kepekatan yang maksimal.
d.Penyarian yang dilakukan berulang-ulang akan
mendapatkan hasil yang lebih baek daripada yang
dilakukan sekalidengan jimlah pelarut yang sama.
MASERASI SONIKASI

(Menurut Santos et al) proses ekstraksi sonikasi adalah maserasi yang


dipengaruhi oleh suhu dan waktu. Faktor suhu dan waktu berperan
sangat penting dalam proses ekstraksi sonikasi. Dalam proses
ekstraksi sonikasi, terjadi interaksi antara suhu dan waktu. Jika suhu
yang digunakan tinggi, maka waktu yang diperlukan dalam proses
ekstraksi sonikasi tidak terlalu lama. Sebaliknya, jika suhu sedikit
rendah maka pelarut akan membutuhkan waktu lebih lama untuk
berdifusi. Suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat proses ekstraksi
(Santos et al.,2009). Oleh karena itu, diperlukan interaksi antara suhu
dan waktu untuk menghasilkan kondisi ekstraksi sonikasi yang optimal.
Dalam hal ini, penggunaan waktu sonikasi yang semakin lama
menghasilkan rendemen ekstraksi yang lebih tinggi namun
menyebabkan penurunan efisiensi proses ekstraksi. Energi yang
dibutuhkan untuk proses sonikasi juga semakin besar, karena untuk
menghasilkan gelombang ultrasonik dibutuhkan daya listrik yang
tinggi.
Gambar Sonikator
Terima Kasih