Anda di halaman 1dari 15

KONSEP

ASKEP
MASTITIS
KELOMPOK 1
ANGGOTA KELOMPOK:
• Komang Pande Dewi Ayuni (P07120216001)
• Putu Indah Praptika Suci (P07120216002)
• Kadek Dwi Dharma Pradnyani (P07120216003)
• Eka Wahyu Rifani Meiliadewi (P07120216004)
• Ni Komang Sri Ardina (P07120216005)
• Ni Luh Putu Desy Trisna Ekayanti (P07120216006)
• Ni Luh Putu Intan Sari (P07120216007)
• Ni Made Ana Sari (P07120216008)
DEFINISI
Mastitis adalah infeksi peradangan pada mamma, terutama pada primipara yang biasanya
disebabkan oleh staphylococcus aureus, infeksi terjadi melalui luka pada putting susu, tetapi
mungkin juga melalui peredaran darah (Prawirohadjo, 2005 : 701).
Mastitis merupakan infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi mungkin juga
melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan
yang adekuat.Abses payudara, penggumpalan nanah lokal di dalam payudara, merupakan
komplikasi berat dari mastitis.
Pada mastitis biasanya yang selalu dikeluhkan adalah payudara membesar, keras, nyeri,
kulit murah dan membisul (abses) dan yang pada akhirnya pecah menjadi borok disertai dengan
keluarnya nanah bercampur air susu, dapat disertai dengan suhu badan naik, menggigil. Jika
sudah ditemukan tanda-tanda seperti ini maka pemberian ASI pada bayi jangan dihentikan, tetapi
sesering mungkin diberikan.
ETIOLOGI
Pada umumnya yang dianggap kuman penyebab ialah putting susu yang luka atau lecet, dan kuman
per kontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Sebagian besar yang ditemukan pada
pembiakan pus ialah stafilokokus aureus.
Mastitis dapat disebabkan oleh :
a. Bakteri dapat berasal dari beberapa sumber, seperti tangan ibu, tangan orang yang merawat
ibu atau bayi, bayi, duktus laktiferus darah sirkulasi.
b. Infeksi jamur pada payudara juga dapat terjadi jika bayi mengalami sariawan, atau jika ibu
mengalami infeksi jamur vagina persisten. Jika putting susu cidera, atau jika ibu menggunakan
antibiotic yang mempengaruhi flora normal kulit, jamur payudara cenderung terjadi.
c. Statis ASI, Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari payudara.
d. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko mastitis, yaitu:
1. Umur
2. Paritas
3. Serangan sebelumnya
4. Melahirkan
5. Gizi
6. Faktor kekebalan dalam ASI
7. Stres dan kelelahan
8. Pekerjaan di luar rumah
9. Trauma
FAKTOR RISIKO TERJADINYA MASTITIS
• Terdapat riwayat mastitis pada anak sebelumnya.
• Puting lecet. Puting lecet menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang membuat kebanyakan ibu
menghindari pengosongan payudara secara sempurna.
• Frekuensi menyusui yang jarang atau waktu menyusui yang pendek.
Biasanya mulai terjadi pada malam hari saat ibu tidak memberikan bayinya minum sepanjang
malam atau pada ibu yang menyusui dengan tergesa-gesa.
• Pengosongan payudara yang tidak sempurna
• Pelekatan bayi pada payudara yang kurang baik. Bayi yang hanya mengisap puting (tidak
termasuk areola) menyebabkan puting terhimpit diantara gusi atau bibir sehingga aliran ASI
tidak sempurna.
• Ibu atau bayi sakit.
• Frenulum pendek.
• Produksi ASI yang terlalu banyak.
• Berhenti menyusu secara cepat/ mendadak, misalnya saat bepergian.
• Penekanan payudara misalnya oleh bra yang terlalu ketat atau sabuk pengaman pada mobil.
• Sumbatan pada saluran atau muara saluran oleh gumpalan ASI, jamur,serpihan kulit, dan lain-lain.
• Penggunaan krim pada puting.
• Ibu stres atau kelelahan.
• Ibu malnutrisi.
KLASIFIKASI MASTITIS
Mastitis berdasarkan tempatnya dibedakan menjadi 3, yaitu:
– Mastitis yang menyebabkan abses di bawah areola mammae
– Mastitis di tengah-tengah mammae yang menyebabkan abses di tempat itu.
– Mastitis pada jaringan di bawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara
mammae dan otot-otot di bawahnya.
Mastitis menurut penyebab dan kondisinya dibagi pula menjadi 3, yaitu :
– Mastitis periductal
– Mastitis puerperalis/lactational
– Mastitis supurativa
Manfestasi Klinis
– Nyeri payudara dan tegang atau bengkak, terlihat membesar
– Kemerahan dengan batas jelas
– Biasanya hanya satu payudara
– Terjadi antara 3-4 minggu pasca persalinan
– Teraba keras dan benjol-benjol
– Merasa lesu
– Suhu badan meningkat, suhu lebih dari 38 0C
(Asuhan Persalinan Normal, 2007 : 104)
ANATOMI FISIOLOGI PAYIUDARA
Anatomi payudara
Secara fisiologi anatomi payudara terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus,
ampulla, pori pailla, dan tepi alveolan. Pengaliran limfa dari payudara kurang lebih 75% ke aksila.
Sebagian lagi ke kelenjar parasternal terutama dari bagian yang sentral dan medial dan ada pula
pengaliran yang ke kelenjar interpektoralis.

Fisiologi payudara
- Perubahan pertama ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas,
sampai ke klimakterium dan menopause.
- Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi.
PATOFISIOLOGI
Stasis ASI  peningkatan tekanan duktus  jika ASI tidak segera dikeluarkan  peningkatan
tegangan alveoli yang berlebihan  sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan tertekan
 permeabilitas jaringan ikat meningkatàbeberapa komponen(terutama protein dan kekebalan
tubuh dan natrium) dari plasma masuk ke dalam ASI dan jaringan sekitar sel  memicu rrespon
imun  respon inflmasi dan kerusakan jaringan yang mempermudah terjadinya infeksi
(Staohylococcus aureus dan Sterptococcus) dari port d’ entry yaitu: duktus laktiferus ke lobus
sekresi dan putting yang retak ke kelenjar limfe sekitar duktus/ periduktal dan secara hematogen.
PENATALAKSANAAN
Setelah mastitis ditemukan, pemberian susu kepada bayi dari mamae yang sakit dihentikan dan
diberi antibiotika. Dengan tindakan ini terjadinya abses sering kali dapat dicegah karena biasanya
infeksi disebabkan oleh Stapilococus aureus.Penicilin dalam dosis cukup tinggi dapat diberikan.
Sebelum pemberian penicilin dapat diadakan pembiakan air susu, supaya penyebab mastitis benar-
benar diketahui. Bila ada abses dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ke tengah abses
agar nanah dapat keluar terus.Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat
sejajar dengan jalannya duktus-duktus itu.
- Konseling suportif
- Pengeluaran ASI dengan efektif
- Terapi antibiotic
- Terapi simtomatik
PENCEGAHAN
Perawatan puting susu pada waktu laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah
mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan puting susu dengan sabun sebelum dan sesudah
menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu yang memberi
pertolongan kepada ibu yang menyusui bayinya harus bebas dari infeksi stapilococus.
a. Perbaikan pemahaman penatalaksanaan menyusui
b. Penatalaksaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang
c. Perhatian dini terhadap semua tanda statis ASI
d. Perhatian dini pada kesulitan menyusui lain
e. Pengendalian infeksi
KOMPLIKASI

– Galaktokele
– Kelainan puting susu
– Kelainan dalan keluarnya air susu
– Penghentian laktasi
TERIMAKASIH