Anda di halaman 1dari 24

METODE EKSPLORASI GEOKIMIA

Agustinus Tupenalay
Geologi Eksplorasi
Jurusan Teknik Geologi FT-UNHAS
Jl. Urip Sumiharjo Tamalanrea Km 10. PO Box 90245 Makassar
E-mail: agustinusgeo@ymail.com
METODE
EKSPLORASI

Magnetik

Gravitasi
EKSPLORASI refraksi
GEOFISIKA Seismik refleksi

Listrik polarisasi induksi (IP)


potensial diri (SP)
Radioaktif geolistrik
telluric current
electromagnetik
Bedrock
EKSPLORASI Soil
GEOKIMIA Air
Vegetasi
Stream sediment
tracing float
tracing dgn panning
Permukaan trenching
test pitting
EKSPLORASI Pemboran inti
LANGSUNG
Bawah Pemboran inti
permukaan Adit test
METODE EKSPLORASI GEOKIMIA

Metode geokimia dalam eksplorasi mempunyai 2 tujuan :

1. Menemukan dan melokalisir tubuh mineralisasi

2. Menentukan ukuran (size) dan nilai (value) dari tubuh

mineralisasi

 Metode Geokimia dipakai dalam kegiatan eksplorasi karena

adanya Dispersi Geokimia baik dispersi primer maupun

sekunder.
Ada beberapa jenis Metode Geokimia, yaitu :

1. Lithogeochemistry

 Batuan

 Soil Paling umum dipakai

 Sedimen sungai

2. Hydrogeochemistry

3. Biochemistry / Geobotany

4. Atmogeochemistry /Gas Surveys


Pemilihan metode Geokimia didasarkan pada :

 Biaya

 Tahap eksplorasi

 Karakter terrain

 Target: jenis mineral, ukuran

 Sejarah eksplorasi

 Iklim

 Geomorfologi
Survei Sedimen Sungai (Stream Sediment)

 Dipakai dalam eksplorasi tahap awal (regional geochemical

reconnaissance) di area yang luas

 Menangkap dispersi geokimia sekunder di sepanjang aliran

sungai

 Keuntungan: mampu meng-cover area yang luas dalam waktu

yang singkat, jumlah conto yang relatif sedikit, dan biaya yang

relatif murah
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam survei sedimen

sungai :

1. Waktu, biaya dan luas area yang disurvei

2. Lokasi penyontoan, densitas conto

3. Sensitifitas, akurasi dan presisi

4. Kemungkinan kontaminasi
Jenis metode Sedimen Sungai

A. Metode Konvensional : dilakukan dengan mengambil fraksi


tertentu dalam sedimen sungai, terdiri dari :

1. Stream Sediment (SS) : mengambil fraksi berukuran silt-clay

dengan cara menyaring sedimen dengan saringan berukuran

-80#. Tujuan : menangkap butiran emas dan base metal

berukuran halus.

2. Pan Concentrate (PC) : mengambil fraksi mineral berat

dalam sedimen sungai dengan cara mendulang. Tujuan :

menangkap emas berbutir kasar dan mineral berat lainnya.


B. Metode Non-Konvensional, yaitu:

3. Bulk-Leach Extractable Gold (BLEG) : semua fraksi

sediment diambil tanpa terkecuali. Tujuan : menangkap

semua butiran emas dan mampu mendeteksi kadar emas

yang sangat rendah (ambang deteksi 0,1 ppb)

Dalam prakteknya BLEG dilakukan pada tahap awal dengan

densitas 1 conto per 5-10 km2, sedangkan SS dan PC

dilakukan pada tahap berikutnya dengan densitas 1 conto per

1-3 km2.
Soil geochemistry

– Tahapan eksplorasi lanjutan (Follow-up works) setelah stream

sediment

– Menangkap dispersi geokimia sekunder di sekitar (di atas) tubuh

mineralisasi

– Metode : GRID atau SPURS AND RIDGES

– Alat : hand auger


Some key concepts and terms commonly used in discussion of weathering
and soils (Ollier, 1983) are listed briefly below.
Regolith: a general term for the entire mantle of weathered materials whether
residual, introduced or transported.
Saprolite: soft, weathering products which retain many of the structures and
textures of their parental rock.
Mobile zone: that portion of the regolith which has been disturbed by creep,
burrowing organism and plant roots.
Duricrusts: nodules, crusts or hard layers within the regolith and composed of
iron oxides (frricrete or the ill-defined term laterite), aluminium oxides
(aluminocrete or bauxite), calcium carbonate (calcrete or kunkar) and
silica (silcrete). Bauxite forms by relative accumulation in situ, whilst
silcrete and calcrete form by migration and accumulation. Ferricetes in
particular situations form either by residual accumulation or by vertical
migration of iron or by lateral migration of iron.
Podzol: a soil profile commonly developed in humid regions where excess
precipitation leads to bleached sandy A horizons over a strongly coloured,
clay rich B horizon.
Podzolic soil: transitional between podzols and brown earths. Common
profiles in Australia have thick pale A horizons over red and yellow B
horizons.
Brown earth: acid, granular, brown soil with distinct A and B horizons.
Chernozem: common soil profiles in semi-arid regions and involving a thick
black A horizon over a carbonate-bearing B horizon
Vertisols: dark soils without good profile development and dominated by
expanding clays.
Tropical red earths: red, freely drained, structuless soils, often deep.
Laterite: common usage is loose and the term is interchangeable in many cases
with ironstone or ferricrete. ‘lateritic soil profiles’ may involve a surficial loose
horizon, a ferricrete zone, a mottled zone and a basal pallid zone
Lithols: stony soils formed mainly by mechanical weathering
Solonchak (white alkali soils): soils with exces chloride or sulphate salt
Solonetz (black alkali soils): sodium-rich soils with sodium carbonate
Solodic soils: soil with bleached A horizons caused by deflocculation and
downward migration of clay in response to excess sodium.
Gley: grey, clay rich soil formed in water-logged environments.
Kondisi yang harus diperhatikan pada waktu sampling :

1. Cukup material yang diambil untuk analisis

2. Conto diambil dari horison yang sama (umumnya B)

3. Jika horison soil tidak berkembang, conto diambil pada

kedalaman yang sama

4. Conto harus diambil dari jenis soil yang sama (residual vs

transported)

5. Faktor-faktor yang bisa menyebabkan kontaminasi harus

diketahui
Situasi dimana survei soil dilakukan antara lain :

1. Survei pendahuluan di daerah yang pola pengalirannya tidak

berkembang

2. Survei lanjutan di daerah anomali yang dilokalisir oleh survei

sediment sungai

3. Survei lanjutan di daerah anomali yang dilokalisir oleh survei

geofisika

4. Survei lanjutan di sekitar lokasi gossan

5. Mendelineasi target bor uji di sekitar mineralisasi yang diketahui


SOIL GEOCHEMISTRY

PT. ANEKA TAMBANG


SURVEI BATUAN (ROCK SURVEY)

1. Dilakukan dalam tahap akhir eksplorasi permukaan

2. Lokasi pengambilan conto : singkapan, float, pits, trenches,

shafts, drill holes

3. Menangkap dispersi geokimia primer


Ada 4 (empat) jenis conto batuan berdasarkan cara

pengambilannya :

1. Grab atau Specimen

2. Chip

3. Channel atau Panel

4. Drill cutting atau Core


SPECIAL TECHNIQUES
1.HYDROGEOCHEMISTRY (Water Sampling)

= Metoda untuk menganalisis/menghitung komposisi kimia material


yang terlarut dalam air.

Jenis-jenis air (natural water) yang dapat dipakai sebagai media


sampling : sungai, danau, air tanah, mata air, dll.

PROBLEM:

• Konsentrasi yang sangat rendah (ppb)


 Analytical difficulties
 serious risk of contamination
2. Kimia air yang sangat sensitif terhadap kondisi cuaca dan
lingkungannya
The most useful indicators for appropriate deposits: U, V, Rn
(Radon), He, Mo, Zn, Bi, F and SO42-

Indicators Cu and Pb commonly used in other geochemical


sampling seem to be difficult to interpret.

2. GAS SURVEYS

Banyak cebakan mineral yang mengandung material volatile.


Karena mobilitasnya yang tinggi, material volatile ini dapat
mencapai permukaan dan dilepaskan ke atmosfir.
Contoh :

• Mercury di atas cebakan logam dasar (base metals) dan emas


epitermal

• Radon sebagai hasil peluruhan U238 dalam cebakan uranium

• Helium dari cebakan U dan Th

• SO2 terdeteksi sebgai hasil oksidasi sulfida

• Berbagai hidrokarbon volatile dalam survei minyak dan gas


bumi

Teknik penyontoan bervariasi dari mulai dengan pesawat terbang atau


helikopter, detektor yang dipasang dalam tanah atau dalam air, sampai
anjing yang dilatih untuk mendeteksi sulfida dari kehadiran H2S.
3. BIOGEOCHEMISTRY SURVEYS

Metode ini memanfaatkan komposisi kimia tumbuhan yang


dipakai sebagai media conto. Akar tumbuhan potensial sebagai
media sampling karena sifatnya yang menyerap larutan dalam
air tanah. Larutan ini mungkin membawa garam-garam inorganik
yang dapat diendapkan di berbagai bagian tumbuhan, seperti
daun, kulit kayu, buah dan bunga. Pada bagian tertentu dari
beberapa jenis tumbuhan telah terbukti menunjukkan kadar
konsentrasi unsur-unsur tertentu yang lebih tinggi jika tumbuh
pada soil yang berkembang di atas cebakan mineral daripada di
soil biasa.
Ladolam deposit, Lihir island, PNG
GEOBOTANY

Di sini melibatkan identifikasi visual jenis spesies tumbuhan yang


hidup di daerah tertentu. Pengamatan terhadap jenis tumbuhan
penutup mungkin dapat mengindikasikan mineralisasi di
bawahnya.

Contoh :

• Becium homblei dipakai di Afrika bagian selatan untuk


mengindikasikan anomali Cu dalam soil

• Di daerah tropis, bagian atas porfiri system yang kaya


sulfida biasanya tidak ditumbuhi tumbuhan atau hanya
semak dan rumput, misalnya Grasberg di Irian Jaya. Hal ini
dapat terlihat dalam foto udara dan Landsat.

Anda mungkin juga menyukai