Anda di halaman 1dari 29

Disampaikan pada :

Pertemuan Apresiasi Kesejahteraan Hewan


Tanggal 27 – 28 Juni 2011 Di Pontianak

DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN


PROVINSI KALIMANTAN BARAT
2011
1
2
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PETERNAKAN & KESEHATAN HEWAN
PROVINSI KALIMANTAN BARAT
PERDA NO 10 DAN PERGUB NO 5 2 TH 2008

KEPALA DINAS

KELOMPOK JAFUNG SEKRETARIS


1. Jafung Medik Veteriner

2. Jafung Perencanaan SUBBAGIAN RENCANA SUB BAGIAN UMUM SUBBAGIAN KEUANGAN


KERJA DAN MONEV DAN APARATUR DAN ASSET
3. Jafung Kehumasan

BIDANG BIDANG BIDANG BINA USAHA DAN BIDANG KESEHATAN


KESEHATAN HEWAN SARANA & BUDIDAYA PENGOLAHAN HASIL MASYARAKAT VETERINER
PETERNAKAN

SEKSI PENCEGAHAN & SEKSI SARANA DAN SEKSI PENGOLAHAN DAN SEKSI ZOONOSIS &
PEMBERANTASAN PENYAKIT PRASARANA PETERNAKAN PEMASARAN HASIL KESEJAHTERAAN HEWAN
HEWAN(P3H)

SEKSI SUMBERDAYA
SEKSI BUDIDAYA TERNAK KELEMBAGAAN DAN
TEKNOLOGI

SEKSI PENGAWASAN OBAT SEKSI PENYEBARAN SEKSI BIMBINGAN USAHA SEKSI PRODUK HEWAN,
HEWAN DAN PELAYANAN TERNAK & PENATAAN HYGINE
KESEHATAN KAWASAN DAN SANITASI

UNIT PEMBIBITAN DAN PAKAN TERNAK UNIT LAB KESWAN DAN KESMAVET
(Pergub. No.32 Tahun 2009) UPTD (Pergub. No. 31 Tahun 2009)
VISI
Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan di Kalimantan Barat

“Mewujudkan tersedianya
produk peternakan yang cukup
dan berkualitas melalui
pembangunan peternakan dan
kesehatan hewan yang
tangguh”
6

TUPOKSI DINAKESWAN
PP 38/2007 dan Pergub No.52/2008:
1. Ketahanan Pangan (Kualitas SDM)
2. Keamanan Pangan (ASUH)
3. Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan
4. Keamanan Lingkungan Budidaya dan
Masyarakat
5. Pembangunan Wilayah
VISI
Kesehatan Masyarakat Veteriner,
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Kalimantan Barat

“Terwujudnya Masyarakat Yang


Sehat Dan Produktif Melalui
Perlindungan Dan Jaminan
Keamanan Produk Hewan Yang
Aman, Sehat, Utuh Dan Halal (
ASUH ) Dan Berdaya-Saing”
MISI
Kesehatan Masyarakat Veteriner,
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Kalimantan Barat

1. Menyediakan produk pangan asal hewan yang ASUH


dan berkualitas melalui pengawasan higiene dan sanitasi
2. Pengendalian residu dan cemaran mikroba pada produk
pangan asal hewan
3. Melindungi sumber daya hewani dan masyarakat
konsumen melalui pengawasan terhadap pemasukan
produk pangan asal hewan
4. Pengendalian dan pemberantasan zoonosa;
5. Penerapan Kesejahteraan Hewan.
TUJUAN

1. Melindungi kesehatan dan ketentraman


bathin masyarakat;
2. Melindungi sumberdaya hewani;
3. Meningkatkan keamanan dan daya saing
produk hewan;
4. Meningkatkan pengendalian zoonosis;
5. Mewujudkan penerapan kesejahteraan
hewan
DASAR PELAKSANAAN

1. UU No. 7 Tahun 1996 tentang Pangan


2. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
3. UU. No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan
Hewan
4. PP. No. 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat
Veteriner
5. PP. No.38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan
pemerintahan antara pemerintah, pemerintahan daerah
provinsi, dan pemerintahan daerah kabupaten/kota
6. Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 52 Tahun 2008
tentang Struktur Organisasi, Tugas Pokok, Fungsi dan Tata
Kerja Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Kalimantan Barat
Kesejahteraan Hewan pada prinsipnya merupakan
upaya pemenuhan kebutuhan dasar hewan agar
hewan memperoleh 5 (lima) azas kesejahteraan
hewan :

1. Bebas dari rasa lapar dan haus

2. Bebas dari ketidaknyamanan

3. Bebas dari rasa sakit, luka dan penyakit

4. Bebas mengekspresikan perilaku alaminya

5. Bebas dari rasa takut dan tertekan


PENERAPAN KESRAWAN DI
KALIMANTAN BARAT
1. Sosialisasi UU No. 18 Tahun 2009 tentang
Peternakan dan Kesehatan Hewan
– Pasal 66
– Sasaran : - Masyarakat Umum
- Jagal, pegadang hewan
- Petugas
2. Penyediaan Sarana :
– Pemingsanan Listrik
– Racun (eliminasi)
3. Percontohan/Pembinaan :
– Kandang
– Sarana angkutan
– dll
1. Penangkapan dan penanganan satwa dari
habitatnya harus sesuai ketentuan per-
UU-an di bidang konservasi
2. Penempatan & pengandangan dilakukan
dgnsebaik-baiknya shg memungkinkan
hewan dapat mengekspresikan perilaku
alaminya
3. Pemeliharaan, pengamanan,
perawatan & pengayoman hewan
dilakukan dengan sebaik-baiknya
sehingga hewan bebas dari rasa lapar
dan haus, rasa sakit, penganiayaan
dan penyalahgunaan, serta rasa takut
dan tertekan
4. Pengangkutan
hewan dilakukan
dgn sebaik-
baiknya sehingga
hewan bebas dari
rasa takut dan
tertekan serta
bebas dari
penganiayaan.
5. Penggunaan dan pemanfaatan
hewan dilakukan dengan sebaik-
baiknya sehingga hewan bebas
dari penganiayaan dan
penyalahgunaan.

.......... film sapi glongongan


6. Pemotongan dan pembunuhan
hewan dilakukan dengan
sebaik-baiknya sehingga hewan
bebas dari penganiayaan.
GAMBARAN PEMOTONGAN AYAM
Dengan penderitaan seminimal
Direbahkan dengan baik Mungkin (gunakan pisau yang
(tidak boleh dibanting keras) Tajam & sekali potong)
TERNAK TIDAK MATI DI
SEMBELIH

PENGAMBILAN TERNAK
DENGAN DI TARIK DENGAN
BESI
GAMBARAN PROSES
PEMOTONGAN BABI DI KALBAR
GAMBARAN PROSES
PEMOTONGAN AYAM DI KALBAR

PENGANGKUTAN PEMOTONGAN

TEMPAT PENAMPUNGAN
PENAMPUNGAN SETELAH DIPOTONG
GAMBARAN PROSES
PEMOTONGAN DI KALBAR
• .......... Film pemingsanan pada
pemotongan babi
7. Ternak Ruminansia (Sapi, kerbau dan
kambing) betina yang produktif atau
dalam keadaan bunting dilarang
disembelih kecuali untuk keperluan
penelitian, pemuliaan, atau
pengendalian dan penanggulangan
Penyakit Hewan Menular.
8. Hewan/kelpk hewan yang menderita
Penyakit Menular dan tidak dapat
disembuhkan berdasarkan visum
dokter hewan berwenang harus
dieutanasi/dimusnahkan oleh tenaga
keswan dengan memperhatikan
aspek Kesrawan.
Pemusnahan/pembunuhan Hewan
(harus memperhatikan aspek Kesrawan)
Pemusnahan/Pembunuhan Hewan
(harus memperhatikan aspek Kesrawan)
KENDALA YANG DIHADAPI
 Sarana produksi & transportasi masih belum
memenuhi persyaratan teknis penerapan
kesejahteraan hewan

 Proses produksi pada unit pangan asal hewan


(RPH/TPH dan RPU/TPU) belum sepenuhnya
menerapkan kaidah kesejahteraan hewan

 Sistem pengawasan dan pembinaan teknis 


belum optimal
UPAYA YANG DILAKUKAN
• Melakukan sosialisasi dan penyebaran pemahaman tentang
pentingnya PENERAPAN KESEJAHTERAAN HEWAN. Semua
ini dimaksudkan untuk membangun kesadaran masyarakat
bahwa hewan ternak bukan hanya komoditas/barang
dagangan tetapi adalah mahkluk hidup yang memiliki
kepekaan terhadap rasa sakit dan penderitaan serta
penanganan hewan secara tidak manusiawi (tidak
memperhatikan kaidah kesejahteraan hewan) berdampak
buruk terhadap kualitas daging atau produk ternak lainnya.
• Mengharapkan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota
untuk memperhatikan masalah kesejahteraan hewan
sebagaimana yang telah diamanatkan didalam Undang-
Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan
Kesehatan Hewan