Anda di halaman 1dari 90

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

Disampaikan dalam Management of Training


1 Pelatihan Berbasis Kompetensi
SISTEM CBT (COMPETENCY BASED TRAINING)

SERTIFIK STANDAR
KOMPETENSI
ASI KERJA

ASESMEN PELATIHAN
BERBASIS BERBASIS
KOMPETEN KOMPETEN
SI SI
(CBA) (CBT)
ASESMEN
ON THE
JOB DAN
OFF THE
JOB
3
SISTEM PELATIHAN KERJA NASIONAL

KKNI LPJK / BNSP

SKKNI
LSP
Program Pelatihan
 Berbasis kompetensi
berjenjang
 Tidak demand

Sertifikasi Kompetensi
Angkatan Kerja

driven institutional

Uji Kompetensi
Peserta

 Pemagangan Tenaga
Seleksi

Kerja
• Sarana / Prasarana Kompeten
• Instruktur
• Biaya
• Manajemen

LEMBAGA
PELATIHAN KERJA

Tenaga Kerja
Akreditasi Pengalaman 4
Penyelenggaraan Pelatihan Berbasis Kompetensi

• Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) atau Competency Base Training


(CBT) adalah pelatihan yang tujuan, kualifikasi lulusan, isi, proses serta
penilaian dan rekognisinya mengacu dan berorientasi pada standar
kompetensi kerja.
• Pelatihan untuk Jasa Konstruksi Berbasis Kompetensi bertumpu pada
4(empat) komponen utama sebagai berikut:
• Adanya standar kompetensi sebagai acuan (dalam hal ini adalah
SKKNI Jasa Konstruksi)
• Adanya sistem kualifikasi kompetensi (dalam hal ini adalah kualifikasi
yang diakui oleh pemangku kepentingan Jasa Konstruksi).
• Adanya kurukulum, silabus modul dan materi pelatihan (learning
materials) yang mengacu pada standar kompetensi sektor Jasa
Konstruksi.
• Adanya sistem sertifikasi dan rekognisi kompetensi yang mengacu
pada kualifikasi kompetensi Jasa Konstruksi.
KERANGKA PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

KUALIFIKASI KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA


KUALIFIKASI

INDUSTRI
UNIT
KOMPETENSI
KUALIFIKASI PENGEMBANGAN STANDAR KOMPETENSI

MODUL PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS

LEMBAGA PELATIHAN
PELATIHAN
KUALIFIKASI KOMPETENSI

DELIVERY
PENGEMBANGAN MATERI PELATIHAN DAN
PERANGKAT PELATIHAN
PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI PELAKSANAAN PELATIHAN

ASESMEN

USTK
SERTIFIKASI
2 Bakuan Kompetensi dan Sertifikasi
3 PILAR UTAMA
PENGEMBANGAN SDM JASA KONSTRUKSI BERBASIS KOMPETENSI

INDUSTRI JAKON

KKNI

SKKNI

DIKLAT LPJK
LDP SERTIFIKASI
PROFESI
KOMPETENSI
(CBT)

8
PENGERTIAN STANDAR KOMPETENSI

STANDAR:
Standar adalah sesuatu yang ditetapkan/dibakukan dan disusun berdasarkan
konsensus semua pihak terkait dengan memperhatikan (i) persyaratan yang
ditentukan; (ii) perkembangan IPTEK; dan (iii) pengalaman, untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya

KOMPETENSI:
Kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek spesifik
pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang diterapkan untuk
mewujudkan kinerja yang dipersyaratkan di tempat kerja

STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA


(SKKNI):
Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan,
keterampilan, dan atau keahlian kerja serta sikap kerja yang relevan dengan
pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan
9
PENGEMBANGAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

STANDAR KOMPETENSI

UNIT
KOMPETENSI

ELEMEN 1 ELEMEN 2 ELEMEN 3

ANALISIS DAN TERJEMAHKAN

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

MODUL

DESAIN PELATIHAN
TRANSFER
MANAGEMENT
SKILL
KOMPETENSI
CONTINGENCY
MANAGEMENT
SKILL
SKILL
TASK
MANAGEMENT
SKILL

ATTITUDE KNOWLEDGE

JOB ROLE /
TASK SKILL ENVIRONMENT
SKILL

Lingkungan Kerja (Workplace)


11
Unsur Kompetensi

PENGETAHUAN SIKAP
(KNOWLEDGE) (ATTITUDE)
Definisi: Definisi:
penguasaan teori dan keterampilan sensitif seseorang terhadap aspek-
oleh seseorang pada suatu bidang aspek di sekitar kehidupannya baik
keahlian tertentu atau pemahaman ditumbuhkan karena proses
tentang fakta dan informasi yang pembelajarannya maupun lingkungan
diperoleh seseorang melalui kehidupan keluarga atau mayarakat
pengalaman atau pendidikan untuk secara luas.
keperluan tertentu.
Terdiri dari:
Terdiri dari: • Kedisiplinan
• Dasar-dasar Teori • Ketelitian / Kecermatan
• Perkembangan IPTEK • Kerapian
• Pengalaman • Kebersihan
• Referensi lainnya • Kepatuhan terhadap SOP

12
Unsur Kompetensi
Keterampilan (skill): kemampuan psikomotorik (termasuk manual
dexterity dan penggunaan metode, bahan, alat dan instrumen) yang dicapai melalui
pelatihan yang terukur dilandasi oleh pengetahuan (knowledge) atau pemahaman
(know-how) yang dimiliki seseorang mampu menghasilkan produk atau unjuk kerja yang
dapat dinilai secara kualitatif maupun kuantitatif.

Management (kognisi) Technical (motorik)

• Kepemimpinan
• Pengelolaan Waktu • Menggambar
• Pengelolaan SDM • Merakit
• Pengelolaan Sumber Daya lainnya • Memotong / menggergaji
• Pembuatan Metode • Menyusun
• Pengambilan Keputusan 13
Dimensi Kompetensi

Kemampuan untuk melakukan/ menyelesaikan


Task Skills
pekerjaan

Task Management
Kemampuan mengelola tugas/ pekerjaan
Skills

Contingency
Kemampuan merespon bentuk pekerjaan yang
Management
tidak biasa atau berbeda dengan pekerjaan rutin
Skills

Job role/ Tanggung jawab di tempat kerja dan lingkungan


Environment Skills kerja termasuk bekerja dengan orang lain

Transfer
Kemampuan untuk bekerja pada situasi yang
Management
berbeda
Skills
14
Sistem Standardisasi Kompetensi Kerja Nasional

SDM
PENGEMBANGAN PEMBINAAN dan Profesional
STANDAR PENGENDALIAN Kompeten
Kompetitif

Pemberlakuan

SKKNI Akreditasi LDP

Pelatihan
PENERAPAN Berbasis
STANDAR Kompetensi MRA

Lisensi LSP
HARMONISASI
STANDARDISASI Sertifikasi
Kompetensi

Kerjasama

Notifikasi 15
TAHAPAN PENYUSUNAN RSKKNI
SEKTOR JASA KONSTRUKSI

1. Tuntutan Tin Komite RSKKNI Kemen. PU Kementerian Menteri Menteri


kebutuhan (Tim Teknis + Tim Penyusun) Nakertrans Nakertrans PU
profesi /
industri/
pemerintah
2. Kaji ulang /
Revisi

Penetapan Pemberlakuan

Pra Konvensi
Workshop II
Workshop I

Konvensi
Verifikasi
Tuntutan Perumusan

RSKKNI
RSKKNI
Konsep
kebutuhan Standar / SKKNI Penerapan
SKKNI Desk Study SKKNI

Monitoring & Kaji Ulang


(Kementerian Pekerjaan Umum)

16
Mekanisme Registrasi Ulang SKA/SKTK kepada LPJK

PEMOHON Berkas LPJK


Menerima
Permohonan dokumen
- Asosiasi Profesi
Tembusan :
Asosiasi Profesi

USTK
SKA/SKTK Tanda BA Klasifikasi & kualifikasi
Tangan berdasar Konversi
SKA/SKTK
Registrasi

RPL Penetapan Unggah Data


Klasifikasi dan SKA/SKTK
Kualifikasi
3 KAP, Pemrograman Pelatihan dan Rekruitmen
a. Kebutuhan Akan Pelatihan
The training system

TRAINING NEEDS ANALYSIS

DEVELOP OBJECTIVES DEVELOP ASSESSMENT

DEVELOP PROGRAM
SELECT STRATEGIES SELECT DELIVERY MODE SELECT MEDIA

DEVELOP INSTRUCTION DEVELOP MATERIALS

DELIVERY INSTRUCTION

ASSESS LEARNING

EVALUATE PROGRAM
PENGERTIAN KEBUTUHAN AKAN PELATIHAN (TNA)

 Suatu proses pengumpulan dan analisis data dalam rangka


mengidentifikasi bidang-bidang atau faktor-faktor apa saja
yang ada dalam bidang pelatihan yang perlu ditingkatkan atau
diperbaiki agar output pelatihan menjadi meningkat dan
mudah di terima oleh pasar kerja.
 Suatu proses untuk menentukan apa yang seharusnya
(sasaran-sasaran) & mengukur jumlah ketimpangan antara
apa yang seharusnya dengan apa yg senyatanya.
 Suatu istilah dalam pelatihan yang dipergunakan untuk
menentukan tipe program pembelajaran yang diperlukan oleh
sebagian dari peserta pelatihan agar yang bersangkutan
dapat memenuhi kriteria standar dari suatu jenis pekerjaan
 Suatu proses yang sistematis dalam menentukan sasaran,
mengidentifikasi ketimpangan antara sasaran dengan
keadaan nyata, serta menetapkan prioritas tindakan (need).
21
PRINSIP TNA / ANALISIS KEBUTUHAN AKAN PELATIHAN

 Kesenjangan / perbedaan antara ketrampilan, pengetahuan


dan sikap yang dimiliki oleh seseorang (entry profile) dan yang
dibutuhkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
diharapkan (exit profile).
 Membantu para pembuat kepu-tusan untuk menentukan
apakah perlu melaksanakan suatu pelatih-an atau tidak.
(masalah pelatihan)
 Menyiapkan proposal untuk pemecahan masalah pelatihan.
PENDEKATAN PERENCANAAN KEBUTUHAN AKAN PELATIHAN

• Study kebutuhan akan pelatihan ataupun survey kebutuhan


akan pelatihan (melalui BPS ataupun quesioner kepada pembina
jakons, FGD di masing-masing propinsi),
• Usulan daerah yang berasal dari Pimpinan Pemda, LPJKD,
maupun masyarakat jasa konstruksi di daerah,
• Identifikasi adanya konsentrasi pekerjaan/investasi konstruksi di
daerah (pendekatan investasi),
• Permintaan kerjasama operasi (KSO) dengan daerah, asosiasi
profesi, badan usaha swasta/pemerintah (BUMN/BUMD),
paguyuban tukang/serikat pekerja,
• Kebutuhan khusus : antisipasi dalam rangka penanganan pasca
bencana, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, program
pembinaan narapidana, kerjasama teknik dengan negara lain,
23
PRINSIP TNA / ANALISIS KEBUTUHAN AKAN PELATIHAN

Timbulnya kebutuhan pelatihan :

Kebutuhan pelatihan
Kemampuan yg
(Training Needs)
disyaratkan pd
pekerjaan/
jabatan
(requirement)
Kemampuan Riil
Tenaga Kerja
(Present)

24
DIMANIFESTASIKAN

TUGAS SKKNI
DALAM

MELALUI
PENILAIAN
TRAINING NEEDS
PESERTA
ASSESSMENT
PELATIHAN PROSES

25
MEKANISME ANALISIS KEBUTUHAN LATIHAN

PERUMUSAN PENGEMBANGAN
PERUMUSAN
TUJUAN INSTRUMEN
MASALAH

PENGUMPULAN
DATA

PELAPORAN PENAFSIRAN PENGOLAHAN


HASIL DATA
MASALAH ?

Output Balai Pelatihan Konstruksi kurang/tidak


diminati pasar kerja
Program pelatihan yang dilaksanakan tidak sesuai
dengan kebutuhan lapangan kerja (industri
konstruksi)
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan
Konstruksi pada umumnya tidak melalui training
need analysis
TUJUAN TNA

• Untuk memperoleh informasi tentang :


1. Profil-profil jabatan yang berpotensi untuk mengisi
kesempatan kerja baik di perusahaan, maupun usaha
mandiri
2. Uraian tugas, kegiatan, kondisi dan lingkungan kerja,
peralatan, persyaratan jabatan dan teknologi yang
digunakan untuk melaksanakan tugas yang sesuai
dengan kondisi sekarang dan masa yang akan datang.
3. sebagai dasar acuan untuk menyusun program
pelatihan yang akan dilaksanakan .
Instrumen TNA

• Hasil dari TNA sangat tergantung dengan methode


dan instrumen yang kita pergunakan.
• Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan
metode dan instrumen yang kita pergunakan,
seperti : Analis TNA (pelaku TNA itu sendiri),
responden, kondisi lingkungan kerja, aturan
perusahaan.
• Untuk memperoleh hasil yang maksimal sebaiknya
pergunakan kombinasi dari berbagai (minimal 2)
methode
9 Metoda Dasar TNA :

1. Observasi (lembar observasi / checklist)


2. Questionaire (Daftar pertanyaan)
3. Konsultasi kunci (daftar pertanyaan)
4. Media cetak (form isian / catatan)
5. Wawancara (Interview guide)
6. Diskusi kelompok
7. Test (soal test)
8. Catatan/laporan (referensi)
9. Sampel kerja
ANALISA TARGET POPULASI / SASARAN PELATIHAN

Karakteristik:
• Latar Belakang Pendidikan
• Pengalaman Kerja
• Usia
• Jenis Kelamin
• Kompetensi yang Ada
• Tingkat Motivasi
• Kondisi Fisik
• Dan aspek personal lainya
b. Pemrograman Pelatihan
DIAGRAM ALIR SIKLUS PELATIHAN

Menganalisa
kebutuhan
pembelajaran
Mengevaluasi suatu Merancang sutau
program program pelatihan /
pelatihan/pembelajaran pembelajaran

Validasi

Menyampaikan suatu Mengembangkan &


program pelatihan / memproduksi lingkungan
pembelajaran dan media pembelajaran

33
SKEMA PERANCANGAN PROGRAM PELATIHAN

STANDAR HASIL DARI ANALISA KARAKTERISTIK DARI


KOMPETENSI KESEJANGAN POPULASI TARGET

INFORMASI

RANCANGAN
PROGRAM PELATIHAN

34
PEMROGRAMAN PELATIHAN

KURIKULUM BERBASIS
KOMPETENSI

MODUL PELATIHAN

SKKNI RANCANGAN TNA

MATERI AJAR INSTRUKTUR

ASESSMEN

35
MERUMUSKAN PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

BERISI SEJUMLAH UNIT KOMPETENSI


PADA TINGKAT KUALIFIKASI TERTENTU,
KEMASAN PENAMAAN UNTUK SETIAP JENJANG
KUALIFIKASI KUALIFIKASI SESUAI DENGAN MASING-
MASING SEKTOR. UMUMNYA
DIGUNAKAN UNTUK KADERISASI

BERISI SEJUMLAH UNIT KOMPETENSI YANG


MENJADI KANDUNGAN SUATU OKUPASI
RANCANGAN ATAU JABATAN KERJA TERTENTU.
PELATIHAN KEMASAN KANDUNGAN UNIT KOMPETENSI
BERBASIS MENGACU PADA DESKRIPSI FUNGSI ,
OKUPASI
TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB JABATAN.
KOMPETENSI DIGUNAKAN UNTUK PENEMPATAN,
PENUGASAN DAN PENGEMBANGAN KARIR

BERISI SEBAGIAN UNIT KOMPETENSI


YANG MENJADI KANDUNGAN
KEMASAN KUALIFIKASI ATAU OKUPASI TERTENTU.
KLASTER KEMASAN INI DIGUNAKAN DALAM
KOMPETENSI RANGKA UPGRADING ATAU
PEMENUHAN KEBUTUHAN KHUSUS
PROSES PERANCANGAN PELATIHAN

ANALYSIS
KESENJANGAN TARGET
DAN MEMBANGUN
PENINGKATAN OUTCOME
KUNCI

OUTCOME IMPROVE BUILD


MENINGKATKAN POTENSI MENGEVALUASI,
RANCANG DAN
PRODUKTIVITAS, MENGUKUR DAN
KEMBANGKAN MODEL
PELAYANAN, DAN MEMVERIFIKASI HASIL
PEMBELAJARAN
KETERAMPILAN PENINGKATAN YANG
DILAKUKAN

IMPLEMENT
EFEK PERUBAHAN
TERHADAP PENINGKATAN
YANG DILAKUKAN
TERHADAP TARGET

37
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

BENTUK SEDERHANA PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN


BERBASIS KOMPETENSI ADALAH:

1. MENENTUKAN PRODUK AKHIR (KOMPETENSI-KOMPETENSI YANG HARUS DICAPAI).


2. MEMBERIKAN PELATIHAN DAN KESEMPATAN UNTUK BERPRAKTEK KEPADA PARA
PESERTA (PROSES PEMBELAJARAN/PELATIHAN).
3. MENCEK APAKAH HASIL AKHIR TELAH MEMENUHI STANDAR KOMPETENSI YANG
DIPERSYARATKAN (SEBAGAIMANA KETENTUAN YANG TELAH DITETAPKAN PADA
NOMOR 1 DI ATAS).

38
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :

1. MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELATIHAN.


ADA TIGA LANGKAH PENTING YANG HARUS DILAKUKAN DALAM
MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELATIHAN, YAITU:
a. MENGIDENTIFIKASI KOMPETENSI-KOMPETENSI YANG DIBUTUHKAN ATAU UNIT-
UNIT KOMPETENSI YANG DIBUTUHKAN UNTUK MELAKSANAKAN PEKERJAAN DI
TEMPAT KERJA.
b. MENGIDENTIFIKASI KOMPETENSI TERKINI YANG DIMILIKI OLEH CALON PESERTA,
DAN
c. MENGUKUR PERBEDAAN ANTARA KOMPETENSI YANG DIBUTUHKAN UNTUK
SUATU JABATAN KERJA TERTENTU DAN KOMPETENSI YANG DIMILIKI OLEH
SEORANG CALON PESERTA. PERBEDAAN TERSEBUT MERUPAKAN FOKUS
PELATIHAN.

39
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :


2. MERANCANG DAN MENGEMBANGKAN PELATIHAN
ADA TIGA TAHAP YANG DIPERLUKAN DALAM MERANCANG DAN
MENGEMBANGKAN PELATIHAN YANG DIREKOMENDASIKAN, YAITU:
a. MENETAPKAN OUTCOME YANG DIHARAPKAN BERKAITAN DENGAN STANDAR
KOMPETENSI SUATU JABATAN KERJA.
b. MENGURAIKAN OUTCOME YANG RUMIT MENJADI LANGKAH-LANGKAH YANG
SEDERHANA.
c. MEMBUAT PERNYATAAN ASESMEN, YAITU PERNYATAAN-PERNYATAAN
MENGENAI BUKTI-BUKTI YANG DIBUTUHKAN UNTUK MENJAMIN, BAIK
PROGRES TERHADAP OUTCOME PEMBELAJARAN MAUPUN INDIKATOR
MENGENAI STANDAR KINERJA YANG DIINGINKAN YANG HENDAK DICAPAI.

40
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :


d. MERENCANAKAN URUTAN PROGRAM PELATIHAN, PROGRAM PELATIHAN
DIRANCANG BERDASARKAN URUTAN-URUTAN YANG MERUPAKAN PRASYARAT
BAGI YANG LAINNYA. PROGRAM PELATIHAN JUGA DAPAT DIRANCANG
BERDASARKAN TAHAPAN-TAHAPAN PEKERJAAN YANG AKAN DILAKSANAKAN,
ATAU BERDASARKAN TAHAPAN-TAHAPAN PENGETAHUAN YANG HARUS
DIKETAHUI OLEH SETIAP PESERTA BERKENAAN PEKERJAAN YANG DIHADAPI.
e. MEREVIEW PROSES BERSAMA-SAMA DENGAN PESERTA PELATIHAN; SELAMA
SUATU PROGRAM PELATIHAN BERLANGSUNG, BAIK PADA POIN-POIN YANG
TEPAT MAUPUN PADA AKHIR PROGRAM DARI SATU SESI PELATIHAN.
INSTRUKTUR HARUS MENGEVALUASI PROGRES, DAN MEMINTA TANGGAPAN
DARI PESERTA PELATIHAN, BAIK MENGENAI PEMAHAMAN MEREKA TERHADAP
MATERI YANG DISAMPAIKAN MAUPUN KENYAMANAN YANG MEREKA
RASAKAN SELAMA BERLANGSUNG PROSES PEMBELAJARAN.

41
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :

ORANG-ORANG BELAJAR DENGAN CARA-CARA TERBAIK BILA:

1) MEREKA MENYADARI DIMANA MEREKA BERADA;

2) MEREKA MENYADARI KEMANA MEREKA AKAN PERGI;

3) MEREKA MENIKMATI MENGIKUTI PEMBELAJARAN.

42
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI
URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :
3. MENGORGANISASIKAN SUMBERDAYA PELATIHAN
DALAM MENGORGANISASIKAN SUMBERDAYA PELATIHAN, HAL YANG PERLU
DIYAKINI DALAM MENYELENGGARAKAN PELATIHAN ADALAH:
a. TERSEDIANYA SUMBERDAYA MANUSIA YANG KOMPETEN DI BIDANGNYA,
ANTARA LAIN: INSTRUKTUR, ASESOR DAN PENYELENGGARA PELATIHAN ATAU
TIM PELAKSANA PELATIHAN.
b. PENGORGANISASIAN TEMPAT PELATIHAN, MISALNYA PENYEDIAAN RUANG
KELAS YANG MEMADAI, PENATAAN MEJA DAN KURSI SERTA AUDIO VISUAL
DAN LAIN SEBAGAINYA SESUAI DENGAN KEBUTUHAN PELATIHAN.
c. TERSEDIANYA FASILITAS YANG DIBUTUHKAN PADA TEMPAT BELAJAR YANG
TELAH DIPILIH. PEMBELAJARAN YANG TERBAIK YANG DIINGINKAN AKAN SULIT
DIWUJUDKAN DAN UPAYA PELATIHAN TIDAK MEMBERI EFEK BAGUS BILA
FASILITAS PELATIAN TIDAK MENDUKUNG KESEMPATAN BELAJAR.
d. TERSEDIANYA ALAT BANTU DAN SUMBERDAYA LAINNYA YANG DIPERLUKAN
UNTUK PROSES PEMBELAJARAN DAN HARUS TERSEDIA DALAM JUMLAH YANG
CUKUP. 43
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI
URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :
4. MELAKSANAKAN DAN MENGEVALUASI PELATIHAN
PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI MERUPAKAN PELATIHAN YANG BERPUSAT
KEPADA PARA PESERTA PELATIHAN (LEARNER BASED APPROACH). SEORANG
INSTRUKTUR HARUS MAMPU MEMBERIKAN INSPIRASI KEPADA PARA PESERTA.
POIN-POIN PENTING YANG HARUS DILAKUKAN OLEH SEORANG INSTRUKTUR AGAR
MAKSUD DI ATAS DAPAT TERPENUHI DENGAN BAIK ADALAH:
a. MENJELASKAN SASARAN DAN OUTCOME SUATU PELATIHAN KEPADA PESERTA.
b. MENJELASKAN PROSES PEMBELAJARAN DAN ASESMEN KEPADA PARA PESERTA.
c. MEMBERIKAN METODE PRESENTASI DAN PELATIHAN YANG TEPAT.
d. MENGGUNAKAN MATERI DAN PERALATAN PELATIHAN SECARA BENAR.
e. SERING MEMBERIKAN BIMBINGAN DAN UMPAN BALIK UNTUK MEMFASILITASI
PROSES PEMBELAJARAN.
f. MEMBERIKAN KESEMPATAN PRAKTEK YANG CUKUP.
g. MEMANTAU KESIAPAN PARA PESERTA PELATIHAN UNTUK ASESMEN.

44
PROSES PEMBENTUKAN PELATIHAN BERBASIS
KOMPETENSI

URUTAN LENGKAP PEMBENTUK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI :

5. MELAKSANAKAN DAN MENGEVALUASI PELATIHAN


SEORANG INSTRUKTUR ATAU PENYELENGGARA PELATIHAN SEHARUSNYA
MENINDAKLANJUTI HASIL PELAKSANAAN PELATIHAN SETELAH SESEORANG
SELESAI MENYELESAIKAN PELATIHANNYA DENGAN BAIK, YAITU DENGAN
MENGAMATI DAN MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP MEREKA DALAM
MENERAPKAN HASIL-HASIL PELATIHAN DI TEMPAT KERJA MEREKA AGAR KINERJA
YANG DIPERSYARATKAN DAPAT DICAPAI DENGAN BAIK.

45
c. Rekruitmen Pelatihan
REKRUTMEN PESERTA PELATIHAN

• Tahapan rekruitmen untuk


pelatihan dimulai dengan
pengumuman, peserta
mendaftar ke lembaga
pelatihan, seleksi dan
konfirmasi calon peserta,
dilanjutkan dengan tes seleksi
masuk dan terakhir peserta
pelatihan mendaftar kembali
untuk mengikuti pelaksanaan
pelatihan.
4 Penyiapan Materi, Instruktur, Course Director, dan Asesor
a. Penyiapan Materi/Modul
STANDAR KOMPETENSI

UNIT
KOMPETENSI

ELEMEN 1 ELEMEN 2 ELEMEN 3

KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI

MATERI AJAR INSTRUKTUR

MODUL

METODE PELATIHAN MULTI


SKILLS
50
ANALISIS KEBUTUHAN MATERI PELATIHAN

• KEDALAMAN
• PENGETAHUAN
• KETERAMPILAN

ANALISIS MATERI PELATIHAN


SKKNI • SIKAP KERJA

KURIKULUM / RANCANGAN
PEMBELAJARAN
SILABUS MATERI PELATIHAN

KKNI

DRAFT
MATERI
PELATIHAN
MATERI PELATIHAN

• Materi Pelatihan : alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi,


metode, batasan – batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara
sitematik dan menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai
dengan tingkat kompetensinya
• Karakteristik Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi
– Self Instructional
– Self Contained
– Adaptif
– User Friendly
• Fungsi Materi Pelatihan Berbasis Kompetensi
– Mengatasi kelemahan sistem pelatihan yang masih bersifat tradisional,
dimana masih terfocus pada instruktur. Modul disusun berdasar SKKNI
– Meningkatkan motivasi belajar peserta pelatihan
– Meningkatkan kreatifitas instruktur
– Mewujudkan prinsip maju berkelanjutan
– Meningkatkan konsentrasi belajar para peserta pelatihan 52
MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

• Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi terdiri dari:


– Buku Informasi : buku yang menguraikan suatu substansi yang mempresentasikan Unit
Kompetensi pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang dirancang untuk
memenuhi pencapaian kompetensi yang harus dimiliki peserta latih yang merupkan konsep
Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK)
• Buku Informasi terdiri dari:
– Uraian
– Penjelasan
– Contoh – contoh kegiatan
– Buku Kerja : alat evaluasi bagi peserta dan instruktur terhadap proses pembelajaran. Evaluasi ini
mencakup evaluasi terhadap pemahaman peserta terhadap materi pelajaran yang telah
diberikan atau pemcapaian kompetensi kerja untuk unit kompetensi terkait serta evaluasi
terhadap instruktur sendiri, sejauh mana materi yang disampaikan dapat dimengerti oleh
peserta pelatihan yang diindikasikan dengan kemampuan peserta mencapai unit kompetensi
terkait
• Buku Kerja terdiri dari:
– Kegiatan – kegiatan yang membantu peserta pelatihan dalam mempelajari dan
memahami informasi
– Kegiatan pemeriksaan yang digunakan untuk memonitor pencapaian
kemampuan/keterampilan peserta
– Kegiatan penilaian untuk menilai kemampuan peserta dalam melaksanakan praktek53
kerja
MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

• Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi terdiri dari:


– Buku Penilaian : buku yang digunakan oleh instruktur untuk menilai jawaban atau
tanggapan peserta terhadap buku kerja.
• Buku Penilaian terdiri dari:
– Kegiatan – kegiatan yang dilakukan oleh peserta pelatihan sebagai persyaratan
kemampuan
– Metode – metode yang disarankan dalam proses penilaian
kemampuan/keterampilan peserta
– Sumber – sumber yang dapat digunakan oleh peserta pelatihan untuk
mencapai kemampuan/keterampilan
– Semua jawaban/tanggapan pada setiap pertanyaan yang diisikan pada buku
kerja
– Petunjuk bagi pelatih untuk menilai setiap kegiatan praktek
– Catatan pencapaian kemampuan/keterampilan peserta pelatihan

54
MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

UNIT MODUL ADALAH PEMBAGIAN KERJA YANG


MASUK AKAL DAN DAPAT DITERIMA DALAM SUATU
UNIT PEKERJAAN, TUGAS ATAU BIDANG PEKERJAAN,
DENGAN PATOKAN MULAI DAN SELESAI YANG JELAS
MODUL DAN BIASANYA TIDAK AKAN DIBAGI LEBIH LANJUT.
HASILNYA ADALAH PRODUK, JASA ATAU
KEPUTUSAN YANG PENTING

UNIT MODUL BERSUMBER DARI UNIT


UNIT KOMPETENSI, SETIAP MODUL TERDIRI DARI
MODUL TIGA BUKU, YAITU BUKU INFORMASI, BUKU
KERJA DAN BUKU PENILAIAN

55
MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI

BERISI INFORMASI SUBSTANSI YANG DIKEMBANGKAN


DARI UNIT KOMPETENSI YANG MEMUAT PENJABARAN
BUKU INFORMASI
ELEMEN KOMPETENSI, KRITERIA UNJUK KERJA DAN
INDIKATOR UNJUK KERJA

BERISI TUGAS-TUGAS TEORI DAN TUGAS PRAKTEK


BUKU KERJA
DALAM BENTUK INSTRUKSI KERJA

BUKU BERISI JAWABAN TUGAS-TUGAS TEORI DAN TUGAS


PENILAIAN PRAKTEK YANG TERDAPAT DALAM BUKU KERJA

56
b. Penyiapan Course Director, Instruktur dan Asesor
INSTRUKTUR, ASESOR, COURSE DIRECTOR

• Instruktur
– Instruktur dapat berasal dari unsur praktisi, pakar dan akademisi yang
memenuhi kriteria minimal sebagai berikut :
• Memiliki sertifikat TOT
• Menguasai substansi / materi
• Menguasai metode dan strategi pembelajaran
• Dapat berkomunikasi dengan baik
• Direkomendasikan oleh lembaga tempat bertugas

• Asesor
– Asesor berasal dari unsur praktisi, pakar dan akademisi yang memenuhi kriteria
minimal sebagai berikut :
• Telah memiliki lisensi Asesor dari LPJK
• Menguasai substansi / materi
• Menguasai metode uji kompetensi
• Berpengalaman melaksanakan uji kompetensi.
58
INSTRUKTUR, ASESOR, COURSE DIRECTOR

• Course DIrector
– Course dapat berasal dari unsur praktisi, pakar dan akademisi yang memenuhi
kriteria minimal sebagai berikut :
• Pernah Mengikuti Pelatihan MOT
• Menguasai substansi / materi
• Menguasai metode dan strategi pembelajaran
• Dapat berkomunikasi dengan baik

59
5 Penyiapan Anggaran, Lokasi, Sarana dan Prasarana
a. Anggaran Pelatihan
Anggaran Pelatihan

VARIABLE COST
BIAYA TIDAK TETAP NAMUN PENTING SBG
PENUNJANG PELAKSANAAN OPERASIONAL
 AKOMODASI
MASING2 KOTA RELATIF BERBEDA, TER GANTUNG KONDISI DAERAH.
 PERLENGKAPAN
SBG BIAYA PENUNJANG (TAS – ATK) DAN PERLENGKAPAN LAINNYA (SAFETY)
 PENGGANDAAN
MATERI, BIO DATA, PENGIRIMAN,BROSUR
UN LOCATED COST (LAIN-LAIN)
BIASANYA DANA PHLN, YANG SANGAT SULIT DIPREDIKSI MERUPAKAN BIAYA
SEWAKTU
 BIAYA FOTO COPY
TAMBAH BIODATA, HAND OUT,MATERI TAMBAH BIAYA RELATIF BEBEDA-BEDA TIAP
KOTA.
 BIAYA SEWA
SEWA OHP, NOTE BOOKS, LCD, (TERBATAS)
 BIAYA LAIN-LAIN
BIAYA YANG SULIT DIPREDIKSI, BATEREY UTK
LASER, SPIDOL, KERTAS, DLL.
Anggaran Pelatihan

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan anggaran


pelaksanaan kegiatan pelatihan:
• Mengacu kepada SBU
• Memahami jenis belanja per akun
• Menyesuaikan dengan rencana anggaran kegiatan
c. Sarana dan Prasarana
TATA LETAK MEJA DAN KURSI BELAJAR
1. GAYA GEDUNG PERTUNJUKAN (THEATRE STYLE)
ZONA KEGIATAN: DI DEPAN, PUSAT
RUANGAN.
KETERLIBATAN KELOMPOK: SEDIKIT
TEMPAT DUDUK: MENGHADAP KE
DEPAN RUANG KELAS, KURSI-KURSI
DISATUKAN TERPISAH 2 INCI (5,08
CM). KURSI BARISAN PERTAMA
SEHARUSNYA BERLOKASI 6 KAKI
(1,829 M) DARI MEJA INSTRUKTUR
MEJA: TIDAK ADA DALAM
KONFIGURASI INI.
RUANG PER ORANG: 10 KAKI
PERSEGI (3,048 M2).
MAKSIMUM JUMLAH PESERTA:
TIDAK ADA, BATASAN MAKSIMUM
UNTUK KONFIGURASI INI
SEPANJANG SETIAP ORNAG
MENDAPAT RUANG 10 KAKI PERSEGI
(3,048 M2).

65
2. GAYA MELINGKAR
TATA LETAK (CIRCLE
MEJA DANOF KURSI
CHAIR)BELAJAR

ZONA KEGIATAN: DI TENGAH-TENGAH


LINGKARAN.
KETERLIBATAN KELOMPOK: TINGGI.
TUJUAN SETTING INI ADALAH UNTUK
MELIBATKAN SELURUH PESERTA PELATIHAN
BERINTERAKSI DALAM KELOMPOK.
TEMPAT DUDUK: KURSI DISUSUN PENUH.
MEJA: TIDAK ADA DALAM KONFIGURASI INI.
MAKSIMUM PESERTA: 20 ORANG.
RUANG PER ORANG: 10 KAKI PERSEGI (3,048
M2)

3/11/2018 66
TATA LETAK MEJA
3. GAYA KONFERENSI DAN KURSISTYLE)
(BOARDROOM BELAJAR

ZONA KEGIATAN: BAGIAN ATAS ATAU


UJUNG MEJA.
KETERLEBIATAN KELOMPOK: SANGAT
TINGGI. MENDORONG KETERLIBATAN PARA
PESERTA DALAM KELOMPOK.
MENCIPTAKAN SUATU PENGATURAN YANG
LEBIH FORMAL DIBANDINGKAN DENGAN
MODEL LINGKARAN.
TEMPAT DUDUK: MENGELILINGI MEJA.
DIUJUNG MEJA DAPAT DITANDAI UNTUK
POSISI INSTRUKTUR.
RUANG UNTUK PER ORANG: MASING-
MASING INDIVIDU MEMPEROLEH RUANG
30 INCI (76,2 CM) PADA MEJA, 20 KAKI
(6,096 M2) SAMPAI 30 KAKI PERSEGI (9,144
M2) UNTUK SELURUH RUANGAN PER
ORANG.
MAKSIMUM PESERTA: 32 ORANG TAPI
UNTUK DAPAT BEKERJA DENGAN BAIK
CUKUP DENGAN JUMLAH 20 ORANG.

67
4. GAYA HURUF
TATA LETAK
U MEJA DAN KURSI BELAJAR

ZONA KEGIATAN: DI PUSAT DAN PADA


BAGIAN HURUF U YANG TERBUKA.
KETERLIBATAN KELOMPOK: SANGAT
TINGGI.
MENCIPTAKAN SUATU PERASAAN
PERSAMAAN DALAM KELOMPOK.
TEMPAT DUDUK: KURSI-KURSI
DITEMPATKAN DI SEKITAR BAGIAN LUAR
HURUF U
RUANGAN PER ORANG: 40 KAKI PERSEGI
(12,192 M2).
MAKSIMUM JUMLAH PESERTA: 24 ORANG

3/11/2018 68
4. GAYA KELAS BESAR

TATA LETAK MEJA DAN KURSI BELAJAR

ZONA KEGIATAN : DI DEPAN KELAS. PARA PESERTA


PELATHAN MEMUSATKAN PERHATIAN PADA INSTRUKTUR
YANG BERADA DI DEPAN KELAS.
KETERLIBATAN KELOMPOK : SEDANG, MEMBERIKAN
INTERAKSI SATU ARAH ANTARA INSTRUKTUR KEPADA PARA
PESERTA PELATIHAN, DAN SEBALIKNYA DARI PESERTA
KEPADA INSTRUKTUR.
TEMPAT DUDUK : SAMA DENGAN SUSUNAN MEJA KURSI DI
SEKOLAH-SEKOLAH UMUMNYA, PESERTA DUDUK DI
BELAKANG MEJA.

DAYA TAMPUNG : MAKSIMUM 200 ORANG


RUANG PER ORANG = ± 3 M2

3/11/2018 69
70
CIRI PENGELOLAAN KELAS YANG BAIK

1. SPEED, ARTINYA PESERTA PELATIHAN DAPAT BELAJAR


DALAM PERCEPATAN PROSES DAN PROGRESS, SEHINGGA
MEMBUTUHKAN WAKTU YANG RELATIF SINGKAT SESUAI
TINGKAT KEBUTUHAN KOMPETENSI YANG INGIN
DICAPAINYA.
2. SIMPLE, ARTINYA ORGANISASI KELAS DAN MATERI MENJADI
SEDERHANA, MUDAH DICERNA DAN SITUASI KELAS SELALU
DALAM KEADAAN KONDUSIF.
3. SELF-CONFIDENCE, ARTINYA PESERTA PELATIHAN DAPAT
BELAJAR DENGAN PENUH RASA PERCAYA DIRI ATAU
MENGANGGAP DIRINYA MAMPU MENGIKUTI PELAJARAN
DAN BELAJAR DENGAN PRESTASI YANG DIINGINKAN.

71
RESEP MEMPERTAHANKAN KONDISI KELAS YANG BAIK

1. KETERBUKAAN DAN TRANSPARAN.


2. MEMBERIKAN PERHATIAN PENUH KEPADA PARA PESERTA.
3. SALING KETERGANTUNGAN DI ANTARA PELAKU-PELAKU YANG BERAKTIVITAS
DI DALAM KELAS.
4. KETERPISAHAN AKAN MEMBUKA KEMUNGKINAN TUMBUHNYA KEUNIKAN,
KREATIVITAS DAN INDIVIDUALITAS.
5. PEMENUHAN KEBUTUHAN BERSAMA SEHINGGA TIDAK ADA PIHAK YANG
MERASA DIKORBANKAN UNTUK MEMENUHI KEPENTINGAN PIHAK LAIN.

72
PENYIAPAN RUANG PRAKTEK
RUANG PRAKTEK KOMPUTER UNTUK PENGUATAN KETERAMPILAN
KOGNITIF
PENYIAPAN RUANG PRAKTEK

PENYIAPAN RUANG PRAKTEK YANG BENAR, BAIK DAN TEPAT AKAN MEMUDAHKAN
SETIAP PESERTA UNTUK MENCAPAI TINGKAT KOMPETENSI YANG DITETAPKAN, SERTA
AKAN MEMUDAHKAN BAGI INSTRUKTUR UNTUK DALAM MENGEMBANGKAN
KETERAMPILAN PSIKOMOTORIK PARA PESERTA SESUAI DENGAN TUJUAN PELATIHAN.
6 Monitoring, Evaluasi Pelatihan Konstruksi
Latar Belakang

• Seiring dengan meningkatnya kegiatan pembangunan di seluruh


wilayah Indonesia serta perkembangan teknologi konstruksi maka
diperlukan tenaga kerja bidang konstruksi yang kompeten agar dapat
memberikan hasil terbaik dan pelayanan prima kepada masyarakat.
• Meningkatnya kebutuhan tenaga kerja konstruksi perlu disikapi dengan
peningkatan ketersediaan SDM konstruksi yang berkualitas sehingga
infrastruktur yang dibangun dapat terjamin kualitasnya, berfungsi
dengan baik sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi
penggunanya serta mengurasi resiko terjadinya kegagalan bangunan.
• Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 01/PRT/M/2008
Tanggal 18 Januari 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Pekerjaan Umum, Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan
Konstruksi (Pusat PKPK) mempunyai tugas dan fungsi yang antara lain
sebagai institusi pembinaan kompetensi dan pelatihan bidang
konstruksi.

76
Strategy Maps Pusbin KPK dan Balai Pelatihan Konstruksi

Pencapaian
Peserta mendapat Pelatihan Peserta menjadi asset
Lulusan Pelatihan
Berbasis Kompetensi yang Berdaya Saing
Konstruksi

Kepuasan
Masyarakat dan
Iklim Pelatihan Keterlibatan dan Kepuasan Keterlibatan dan
Stakeholder
yang Baik dan Stakeholder (Pengembang, Persepsi Positif
(Pengembang,
Kondusif Penyandang dana, Pemilik/Pengguna) Masyarakat
Penyandang dana,
Pemilik/Pengguna)

Pengelolaan Sarana Pendukung Fasilitas Pelatihan Kesiapan Pelatihan dan


Pelatihan yang Pelatihan
yang Memadai yang Aman dan Materi Rekrutmen yang
efektif dan Terstandar
Memadai Pelatihan Terjadual
efisien

Kualitas dan Kuantitas SDM Staf/Aparat/TA. Instruktur dan


SDM yang
Staf yang Sesuai Standar Outsourcing di Assesor Pelatihan
Kompeten
(Budaya Kerja & Nilai-Nilai) Daerah yang Handal yang Prima

Kinerja
Program dan Relevan, Efisien, Efektif
Anggaran dan Akuntabel

Diadopsi dari Strategy Maps Converting Intangible Assets Into Tangible Outcomes, Robert S. Kaplan dan David P. Norton, Harvard Business School Press ,2004
77
Definisi Kriteria Evaluasi dalan Tataran Program

KRITERIA DEFINISI
Relevansi • Sejauh mana tujuan kegiatan dapat memenuhi kebutuhan riil
masyarakat, sejalan dengan prioritas global (a.l. MDGs) dan
Kebijakan Pemerintah (RPJMN, Renstra, dan RKP), dan sejalan
dengan Rencana Pembangunan Sektoral.
Efektivitas • Sejauh mana tujuan kegiatan dapat tepat sasaran atau
diharapkan dapat tercapai.
• Berupa efek positif atau negatif dari suatu kegiatan dalam
jangka panjang, baik secara langsung maupun tidak langsung,
disengaja atau tidak disengaja.
Efisiensi • Suatu ukuran bagaimana input yang digunakan (anggaran,
keahlian, waktu, dll ) dikonversi menjadi suatu output/hasil.
• Merupakan perbandingan output dengan input.

78
Monitoring dan Evaluasi Pelatihan Konstruksi

• Monitoring dan Evaluasi pelatihan konstruksi didasarkan pada


pemenuhan standar yang ada, yaitu DSM (Daftar Standar
Mutu). DSM ini menjadi dasar pelaksanaan dan pelaporan
pelatihan yang diselenggarakan oleh Pusbin KPK. Kegiatan
monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelatihan konstruksi
juga mengacu pada pemenuhan syarat-syarat yang ada di
dalam DSM.
• Monitoring dan Evaluasi pelatihan konstruksi saat ini dilakukan
melalui beberapa tahap, yaitu penetapan prosedur baku
monitoring pelatihan, pelaksanaan monitoring,
pendampingan, dan evaluasi.

79
Maksud dan Tujuan Monitoring dan Evaluasi Pelatihan

• Maksud dari monitoring dan evaluasi pelatihan konstruksi adalah


untuk mengukur sejauh mana pelaksanaan pelatihan konstruksi di
Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi , berjalan
dengan baik dan sesuai standard yang berlaku.
• Tujuan dari monitoring dan evaluasi adalah untuk terus menerus
meningkatkan kualitas pelatihan konstruksi yang efisien dan efektif
secara optimal sehingga menjadi pusat pembinaan kompetensi dan
pelatihan konstruksi yang berstandar intenasional.
• Hasil dari monitoring kemudian dijadikan bahan evaluasi untuk
mengukur sejauh mana pelaksanaan tugas berjalan dengan efektif
dan efisien serta mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
Sehingga menghasilkan laporan penyelenggaraan pelatihan sesuai
dengan standart yang berlaku.
• Monitoring dan evaluasi pelatihan konstruksi dilakukan melalui
tahap penetapan prosedur baku monitoring pelatihan, pelaksanaan
monitoring , pendampingan, dan evaluasi
80
Penerima Manfaat

• Penerima manfaat internal dari monitoring dan evaluasi pelatihan


konstruksi adalah Pusbin KPK dan balai pelatihan konstruksi serta
satker pelaksana pelatihan. Pusbin KPK melalui kegiatan monitoring
ini akan mendapatkan informasi mengenai sistem yang akan buat
(bakuan kompetensi, modul, dll) apakah sesuai dengan apa yang
diperlukan industri konstruksi dan dapat dilaksanakan oleh Balai/
Satker dan lembaga pelatihan dengan baik. Balai/Satker dan lembaga
pelatihan konstruksi juga akan mendapatkan feedback melalui hasil
monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Pusbin KPK.
• Penerima manfaat eksternal dari monitoring dan evaluasi pelatihan
konstruksi adalah akan memberi dampak yang baik bagi calon
peserta /peserta pelatihan dan pihak2 terkait, dimana mereka akan
mendapatkan pelatihan yang berkualitas, hasil dari monitoring dan
evaluasi yang terus-menerus dilaksanakan Pusbin KPK.

81
Stakeholders Pelatihan Konstruksi

Pusat
Pusat (Sekretariat)

Balai / Satker Balai A Balai B

Daerah / Prov. Prop. A Prop. B Prop. C Prop. D

Kab./Kota Kab. A Kab. B

Peserta
Pelatihan
82
Aspek Monitoring dan Evaluasi Pelatihan Konstruksi

KURIKULUM

PESERTA INSTRUKTUR

PRASARANA,
ASSESSOR SARANA,
SUMBER DAYA

83
Parameter Penilaian

• TUJUAN, ISI, MEDIA, INTERAKSI, EVALUASI


KURIKULUM • Menilai aspek keberhasilan dari kurikulum

• PEMAHAMAN MATERI, METODA, INTERAKSI, LINK-MATCH


INSTRUKTUR • Menilai kualitas pengajar

PRASARANA, SARANA, dan • PENYIAPAN, PERSIAPAN, PELAKSANAAN, PASKA PELAKSANAAN


SUMBERDAYA • Menilai manajemen pelatihan

• PENGUKURAN, MATCHING SKILL


ASSESSOR • Menilai kualitas dari assessor

• BACKGROUND, PEKERJAAN, MOTIVASI, TARGET, EVALUASI


PESERTA • Menilai tingkat keberhasilan dari peserta
Parameter Kurikulum

• Penilaian apakah tujuan dari pelatihan sudah


TUJUAN terealisasi atau belum

DSM/P/13 dan
• Uraian singkat sesuai SKK dan SLK (DSM 2010)
SUBSTANSI • Sesuai SKKNI (DSM 2013)
DSM/PUSAT-
4/PP/10

DSM/P/13 dan
• Papan tulis, overhead projector, materi, alat DSM/PUSAT-
MEDIA AJAR praktek
4/PP/10

DSM/P/13 dan
INTERAKSI BELAJAR- • Ceramah, tanya jawab, diskusi, studi kasus,
DSM/PUSAT-
MENGAJAR praktek lapangan
4/PP/10

DSM/P/13 dan
• Batas minimal rata-rata hasil evaluasi DSM/PUSAT-
EVALUASI 70 teori dan 60 praktek 4/PP/10
Parameter Instruktur

• Pengalaman di lapangan
PEMAHAMAN • Pendidikan DSM/P/13
MATERI • Kepemilikan sertifikat TOT, kepemilikan SKA

• Ceramah, tanya jawab, diskusi, studi kasus, tugas,


METODE AJAR praktek lapangan
DSM/P/13

• Dalam proses pengajaran dgn tanya jawab,


INTERAKSI diskusi DSM/P/13
• Menilai kualitas dari assessor

HUBUNGAN DENGAN • Contoh aplikasi di dunia kerja/ studi kasus dan DSM/P/13
KONDISI LAPANGAN alternatif pemecahan, termasuk penguasaan alat
Parameter Prasarana, Sarana, Sumberdaya

PENYIAPAN / • Penyiapan rencana pelaksanaan pelatihan DSM/I/02


RENCANA PERSIAPAN • Dana (DIPA), RMP, Konfirmasi dengan daerah DSM/P/13

DSM/I/03
• Sosialisasi dan penyebar luasan informasi pelatihan,
PERSIAPAN Penjaringan Peserta, Penyiapan Instruktur, Kesiapan DSM/I/05
modul (Pengadaan), pembentukan panitia DSM/I/08
DSM/P/13

PELAKSANAAN • Ruangan, alat, bahan pendukung DSM/P/14

• Evaluasi
PASKA PELAKSANAAN • Pelaporan (laporan, sertifikat)
DSM/P/14
Parameter Asesor

• Menilai kesesuain latar belakang akademik dg


LATAR BELAKANG persyaratan keahlian yg dibutuhkan Pendidikan
F-02/DSM/I/08
AKADEMIK Rev.00
• Pengalaman kerja

• Lebih pada pemenuhan administrasi, sehingga


PEMENUHAN pelaksanaan sertifikasi memenuhi kaidah F-02/DSM/I/08
ADMINISTRASI • Sertifikat, Laik assessor, PUNYA SKA,SKT
Rev.00

• Penilaian kesuaian materi yang diuji dengan F-02/DSM/I/08


SUSBSTANSI UJI SKKNI yang berlaku Rev.00

• Materi Uji Kompetensi yang dikuasai F-02/DSM/I/08


KESESUAIN KEAHLIAN • MUK yang dilaksanakan Rev.00
Parameter Peserta DSM/P/13
DSM/P/14
• Pendidikan (pelatihan ketrampilan atau pelatihan keahlian)
LATAR BELAKANG • CV DSM/P/16
• Evaluasi awal DALAM BENTUK PRE-TEST DSM/PUSAT-4/PP/10

• Pengalamn kerja min. sesuai Standar Latihan


PEKERJAAN Kompetensi utk setiap jenis pelatihan DSM/P/13

• Latar belakang peserta mengikuti pelatihan


MOTIVASI • Kesadaran diri atau external enforcement (law)

• Sasaran yang ingin dicapai setelah mengikuti pelatihan dan ujian pelatihan
TARGET • Memperoleh sertifikasi pelatihan

• Uji tertulis, Uji Lisan, DILAKUKAN POST-TEST, F-04/DSM/I/08


EVALUASI HASIL • Observasi/ Keterampilan, PENILAIAN SIKAP SESUAI SOP
Rev.00
• Menilai kualitas pengajar
Sumber Istimewa