Anda di halaman 1dari 34

Pengembangan Iklim Inovasi

untuk Meningkatkan Daya Saing

DIREKTORAT SISTEM INOVASI, DITJEN PENGUATAN INOVASI


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
Kerangka Paparan
1. Latar belakang
2. Tujuan Pengembangan Iklim Inovasi
3. Cara Mengembangankan Iklim Inovasi
4. Contoh Model dan Rintisan Pengembangan Iklim
Inovasi Dan Wahana Inovasi
5. Penutup
LATAR BELAKANG
LANDASAN HUKUM
• UU No. 18/2002 tentang Sinas P3 Iptek Psl 18: Pemerintah berfungsi
menumbuhkembangkan motivasi, memberikan stimulasi, serta
menciptakan iklim yang kondusif bagi perkembangan sistem nasional P3
iptek di Indonesia (SINas).
• UNDANG-UNDANG NO.23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN
DAERAH. PASAL 17 ayat 1 Daerah berhak menetapkan kebijakan daerah
untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan daerah. PASAL 386 ayat 1 Dalam rangka peningkatan
kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah daerah
dapat melakukan inovasi. Dan ayat 2 Inovasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) adalah semua bentuk pembaharuan dalam
penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah.
• UNDANG-UNDANG NO.12 TAHUN 2012 TENTANG PENDIDIKAN TINGGI.
PASAL 45 ayat 1 Penelitian di perguruan tinggi diarahkan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa
LANDASAN HUKUM
• Perpres No 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Sembilan agenda prioritas
nasional (Nawa Cita)
• Perpres No 45 Tahun 2016 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
Tahun 2017 (Memacu Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi Untuk
Meningkatkan Kesempatan Kerja Serta Mengurangi Kemiskinan dan
Kesenjangan Antarwilayah)
Prioritas Pembangunan (Nawa Cita): 9 Agenda

1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan


memberikan rasa aman pada seluruh warga negara;
2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan
terpercaya;
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah
dan desa dalam kerangka negara kesatuan;
4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan
penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya;
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia;
6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional;
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor
strategis ekonomi domestik;
8. Melakukan revolusi karakter bangsa;
9. Memperteguh ke-bhinneka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
Kewenangan Pemerintah Daerah Berdasarkan
UU No. 23 Tahun 2014

WAJIB

Pelayanan Dasar Non Pelayanan Dasar

1. Pendidikan 1. Tenaga Kerja


2. Kesehatan 2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
3. Pekerjaan Umum dan Penataan 3. Pangan
Ruang 4. Pertamanan
4. Prumahan Rakyat dan Kawasan 5. Lingkungan Hidup
Permukiman 6. Administrasi Kependudukandan Pencatatan Sipil
5. Ketentraman, Ketertiban Umum, dan 7. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Perlindungan Masyarakat 8. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana
6. Sosial 9. Perhubungan
10. Komunikasi dan Informatika
11. Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
12. Penanaman Modal
13. Kepemudaan dan Olahraga
14. Statistik
15. Persandian
16. Kebudayaan
17. Perpustakaan
Peran Pemerintah Daerah
• Pemerintah daerah berperan menciptakan inovasi (pembaharuan)
penyelenggaran urusan pemerintah daerah, yakni berkewajiban
menyediakan barang publik seperti jalan, jembatan, pendidikan,
kesehatan, peraturan derah, termasuk didalamnya merumuskan
strategi baru untuk meningkatkan daya saing yang akan berdampak
pada kesejahteraan dan perekonomian daerah

• Urusan wajib non dasar Pemerintah Daerah dalam UU no 23 Tahun


2014 yang terkait pengembangan iklim inovasi : tenaga kerja,
pangan, pemberdayaan masyarakat dan desa, perhubungan,
komunikasi dan informatika, koperasi usaha kecil dan menengah,
penanaman modal, dan kebudayaan
INOVASI MEMBERIKAN NILAI TAMBAH

inovasi inovasi

SDM & SDM &


IPTEK IPTEK

SDM & SDM &


IPTEK IPTEK

SDM & SDM &


IPTEK IPTEK

SDM & SDM &


IPTEK IPTEK

Sumber : Menko Perekonomian


NILAI TAMBAH :
KUNCI LOMPATAN EKONOMI

“Mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif”


IKLIM INOVASI DAERAH

PENYEMANGAT
(INSENTIF)
Potensi Daerah Termanfaatkan
(SDA, SDM, untuk
Budaya, kesejahteraan
Keunggulan Inovasi Masyarakat
Komparatif, daerah
Anugrah Alam, khususnya.

Gov’t
•Pemda
PENGIKAT TRIGGER
•DPRD dll
(NAWA CITA) (KLASTER)

academia
•PT •Masyarakat
•LPNK •UKM
Industri
•Lemlitka •BUMD
•NGO DLL •Investor
11
IKLIM INOVASI
• Definisi Inovasi (draft revisi UU 18): Kegiatan penelitian,
pengembangan, pengkajian, penerapan dan atau
perekayasaan yang menghasilkan kebaruan yang diterapkan
dan bermanfaat secara komersial, ekonomi dan atau social
budaya

• Iklim inovasi adalah suatu keadaan yang memungkinkan


inovasi untuk tumbuh dan berkembang.

• Iklim inovasi merupakan hasil interaksi secara koheren dalam


satu sistem untuk menumbuh-kembang-kan inovasi yang
dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintahan daerah,
lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, lembaga penunjang
inovasi, dunia usaha, dan masyarakat lainnya di daerah
TUJUAN PENGEMBANGAN IKLIM
INOVASI
Tujuan Pengembangan Iklim Inovasi
 Membangun Indonesia dari pinggiran dengan
memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka
negara kesatuan;
 Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di
pasar internasional;
 Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan
menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi
domestik;
 Sinergi para pemangku kepentingan bagi
pembangunan daerah dengan menciptakan iklim
inovasi bagi tercapaian daya saing daerah dan
kesejahteraan masyarakat
Cara Mengembangkan Iklim Inovasi
Ruang Lingkup
Pengembangan Iklim Inovasi

1. Kebijakan pengembangan iklim inovasi;


2. Penataan unsur pengembangan iklim inovasi
a. Kelembagaan
b. Jaringan
c. Sumberdaya
Kebijakan Pengembangan Iklim Inovasi
• Arah kebijakan pembangunan nasional (RPJP, RPJMN dan
RKP)
•Gubernur PropinsiRoadmap, RPJMD, RKPD
•Bupati/ walikota  Kabupaten/ kotaRoadmap, RPJMD,
Penetapan Kebijakan RKPD
pengembangan iklim
inovasi Disusun oleh Tim Koordinasi

•Menristekdikti, Mendagri, Menpan, Bappenas, Kemkop


dan UKM, Kemenprind, BKPM  di tingkat pusat
•Gubernur Propinsi
•Bupati/ walikota  Kabupaten/ kota
Sinkronisasi,
harmonisasi dan Meliputi :
sinergi kebijakan • Melakukan identifikasi dan inventarisasi kebijakan
pengembangan iklim pengembangan iklim inovasi;
inovasi • Melakukan analisis potensi sinergi kebijakan
pengembangan iklim inovasi;dan
• Memadukan kebijakan-kebijakan antardaerah dan antara
pemerintah daerah dengan pemerintah pusat untuk
pengembangan iklim inovasi
Penataan Unsur Iklim Inovasi

•Menristekdikti, Mendagri, Menpan, Kepala Bappenas,


Menkop dan UKM, Menprind , BKPM  Nasional
•Gubernur Propinsi
•Bupati/ walikota  Kabupaten/ kota
Unsur iklim inovasi
Tim Koordinasi
• Kelembagaan
• Jaringan
• Sumber daya
Penataan Unsur Iklim Inovasi
1) KELEMBAGAAN • Institusi pemerintah mensinergikan program dan kegiatan kementerian
dan lembaga dalam pengembangan iklim inovasi.
• Pemerintahan daerah Bappeda mensinergikan program dan kegiatan SKPD
dalam rangka pengembangan iklim inovasi
• BPPD  mengkoordinasikan dan mensinergikan program dan kegiatan
Lembaga/ lembaga kelitbangan dan pendidikan dalam rangka meningkatkan kapasitas
organisasi SDM dan iptek
• Bppd  analisis dan evaluasi kebijakan pemda, feeding ke Bappeda dan SKPD
untuk perencanaan program dan kegiatan
• Lembaga penunjang inovasi mensinergikan program dan kegiatan semua
lembaga yang dapat menunjang pengembangan iklim inovasi.
• Dunia usaha menyampaikan kebutuhan teknologi yang diperlukan dan
memanfaatkan hasil-hasil kelitbangan yang memiliki nilai ekonomis; dan
meningkatkan kemitraan dengan lembaga/organisasi terkait dalam
Peraturan pengembangan iklim inovasi
• Organisasi kemasyarakatan di daerah memberdayakan organisasi
kemasyarakatan dan mensinergikan dengan pengembangan iklim inovasi.

Norma/ Kebijakan yang mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif bagi


pengembangan iklim inovasi
etika/
budaya
nilai-nilai profesionalisme dalam mendukung terciptanya iklim yang kondusif bagi
pengembangan iklim inovasi
Penataan Unsur Iklim Inovasi
Jaringan pengembangan iklim inovasi merupakan interaksi antar
2) JARINGAN lembaga/organisasi dalam pengembangan iklim inovasi untuk mensinergikan
sumber daya yang dimiliki masing-masing lembaga dalam satu rantai kegiatan.

Esensi Jaringan • Penyelenggaraan kelompok diskusi terfokus, seminar,


pengembangan iklim lokakarya, dan kegiatan sejenisnya;
inovasi • Menjalin kerjasama antar pemangku kepentingan
pengembangan iklim inovasi; dan
Komunikasi intensif • Forum temu bisnis industri dengan pemangku kepentingna
antara lembaga lain
pengembangan iklim
inovasi;
Penataan Kerjasama kepakaran, keahlian, kompetensi, keterampilan
sumber daya manusia untuk pengembangan iklim inovasi antara
Mobilisasi sumber
pemerintah pusat dan pemerintah daerah, antardaerah antar
daya manusia
kabupaten/kota dalam satu provinsi, dan antara lembaga
pemerintahan dan lembaga non pemerintahan.

Optimalisasi pendayagunaan HKI,


standarisasi, informasi, sarana dan
prasarana ilmu pengetahuan dan
teknologi melalui pemanfaatannya.
Penataan Unsur Iklim Inovasi
3) SUMBER DAYA • Kepakaran, keahlian, kompetensi, keterampilan manusia dan
pengorganisasiannya;
• Program dan kegiatan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Sumber Daya lemlit, Perguruan Tinggi, komunitas dan dunia usaha
pengembangan iklim • Potensi daerah (sumber daya alam), kekayaan intelektual dan
inovasi informasi; dan
• Sarana dan prasarana yang mendukung pengembangan iklim
inovasi
Penataan
• Pemanfaatan keahlian dan kepakaran yang sesuai dengan
tematik dan/atau spesifik sumber daya pengembangan iklim
inovasi
• Pengembangan kompetensi manusia dan pengorganisasiannya
• Mensinergikan program dan kegiatan para pemangku
kepentingan
• Peningkatan pengelolaan dan pemanfaatan potensi daerah dan
kekayaan intelektual
• Pemanfaatan dan sinergi data dan informasi
• Pengembangan sarana dan prasarana yang mendukung
pengembangan iklim inovasi
Pengembangan Iklim Inovasi Melalui
Wahana Inovasi Daerah

Pengembangan Tim Koordinasi


iklim inovasi

Langkah-langkah pengembangan:
• Pembangunan komitmen dan konsensus unsur-unsur iklim inovasi di
daerah melalui sosialisasi, fasilitasi, dan alokasi sumber daya.
• Pemetaan potensi dan analisis iklim inovasiidentifikasi dan
pengumpulan data, Pemetaan, analisis faktor kebijakan, unsur iklim
inovasi, program dan kegiatan
• Pemberlanjutan pengembangan iklim inovasidilakukan berdasarkan
hasil evaluasi pelaksanaan pengembangan iklim inovasi

Wahana pengembangan iklim inovasi:


Klaster Industri, Klaster UMKM Daerah, Sains Park dan Tekno
Park, Pusat Unggulan Iptek, Klaster Inovasi Daerah, dll.
Strategi “PENGEMBANGAN KLASTER
INOVASI DAERAH”
Strategi Pengembangan Komoditas:
1. Terjadi keterkaitan antara hulu-hilir yang menjamin supply chain antar-kegiatan
2. Melibatkan berbagai stakeholder dengan kegiatan yang beragam, namun saling sinergis dan focus
pada komoditas pilihan
3. Kegiata-kegiatan tersebut terdistribusi dalam fungsi-fungsi: regulating, empowering, dan executing.
4. Diorganisir secara profesional dengan pendekatan manajemen konsorsium

INDUSTRI TERKAIT
Klaster Inovasi Daerah Provinsi Berbasis Kelapa di Sulawesi Utara

Industri makanan, minuman,


furnitur, dll

INDUSTRI INTI
INDUSTRI PEMASOK Industri Minyak Kelapa PASAR
Petani/pedagang Kelapa Indusri Tepung Kelapa Pasar Domestik dan
Produsen Kopra Industri VCO Internasional
Industri Arang Aktif

INDUSTRI PENDUKUNG
Contoh:

Industri Bahan Penolong


Industri Mesin Pengolahan
Industri Kemasan

INSTITUSI PENDUKUNG
Universitas, (UNSRAT, UNIMA)
BPTP, BARISTAN, BALITKA
Lembaga Pembiayaan dan Perbankan

KEBIJAKAN PEMERINTAH
INFRASTRUKTUR
Regulasi dan Insentif
Pelabuhan Bitung, Pelabuhan Amurang, Airport Samratulangi, Jalan,
Pusat: Kementrian Perindustrian, Perdagangan, Pertanian
Listrik, Telepon dan Airbersih
Daerah: Bappeda, Disperindagkop
(9) Sembilan Kriteria Utama Penetapan Klaster Inovasi
1. Sesuai dengan dokumen RPJMD provinsi
2. Sesuai dengan dokumen RIPIN
3. Berbasis pada komoditas unggulan daerah (Location Quotients, Shift Share
atau metode penetapan potensi unggulan lainnya)
4. Pengembangan komoditas sesuai dengan aktivitas riset dan pengembangan
di perguruan tinggi setempat
5. Pengembangan Komoditas tersebut memiliki prospek ekonomi yang luas
6. Pengembangan komoditas terpilih akan mendukung program prioritas
nasional (contohnya: ketahanan pangan)
7. Didukung oleh lembaga litbang yang ada di daerah
8. Berpotensi membangun jejaring antar pemangku kepentingan
9. Berdampak dan Melibatkan Partisipasi luas masyarakat setempat
CONTOH MODEL DAN RINTISAN
PENGEMBANGAN IKLIM INOVASI
DAN WAHANA INOVASI
MODEL PENGEMBANGAN INDUSTRI PERBIBITAN SAPI
LOKAL BERBASIS IPTEK DI MAIWA BREEDING CENTRE
(MBC) UNHAS

REARING DI MBC:
ENREKANG: 250 HA DAN
PROSES INTRODUKSI TEKNOLOGI: SOPPENG 80 HA
-RECORDING PETERNAK PEMBIBIT:
PRODUKSI SAPI BIBIT
BIBIT
-INTRODUKSI IB SEXING
-SELEKSI
Barru : 500
Soppeng : 100 Enrekg: 1000 MBC
200 , MBC 200
-EARLY NUTRITION EKOR REARING DI PETERNAK:
BARRU, ENREKANG
SOPENG (Bagi Hasil
60%-40%)

RUMAH
KOMPOS
BANK FECES
MBC
INDUSTRI
PUPUK PENGOLAHAN PUPUK BISNIS TERNAK
INSTANSI
KLP
ORGANIK TANI MITRA MBC ORGANIK MBC dan PEMERINTAH
DIVERSIFIKASI

PERTANIAN ORGANIK RUMAH PERHOTELAN


ORGANIK MBC

INTRODUKSI TEKNOLOGI:
KLP RESTORAN
INDUSTRI -GREEN CONCENTRAT
-PAKAN KOMPLIT ISI ULANG
INDUSTRI PAKAN TANI MITRA
PAKAN -FORMULASI EARLY NUTRITION
DAN EARLY FEEDING MBC (SOPPENG) MBC
CATERING

INDUSTRI SUPLAI BAHAN BAKU INDUSTRI OLAHAN UMKM UMUM


OLAHAN DARI MITRA
DI MBC BINAAN

PENJUALAN LANGSUNG
PASAR
INOVASI
PEMASARAN PLAN MARKETING PENJUALAN TIDAK LANSUNG
Klaster Sapi di Sulawesi Selatan
Resources Ada/ Pemilik Jika Belum Partner
Tidak ada siapa potensial yang
Partner mendukung
potensialnya
Lahan ada Masyarakat Investor swasta
dan Pemda
Bibit tidak MBC, PT KAR Investor swasta,
Kemtan
Bangunan dan infrastruktur tidak Pemda Investor swasta

Tenaga kerja ada Masyarakat,


mahasiswa
(Unhas),
dinas terkait
Peralatan (alat pencacah tidak MBC Investor swasta
rumput, traktor)
Klaster Sapi di Sulawesi Selatan

Resources Ada/ Pemilik Jika Belum ada Partner


Tidak siapa Partner potensial yang
potensialnya mendukung

Teknologi peternakan (budidaya, tidak UNHAS, LIPI, PT Investor swasta


pengolahan hasil, teknologi KAR
pengolahan pakan ternak,
teknologi pengolahan limbah)
Instalasi pengolahan limbah tidak Kelompok tani,
peternakan (pupuk) MBC
Instalasi pengolahan pakan ternak tidak MBC, Pemda, Investor swasta
kelompok tani
RPH dan instalasi penyimpanan tidak MBC, Investor
swasta
Instalasi pengolahan hasil ternak tidak MBC, Swasta
Klaster Sapi di Sulawesi Selatan

Resources Ada/ Pemilik Jika Belum ada Partner


Tidak siapa Partner potensial yang
potensialnya mendukung

Data potensi pasar (konsumsi ada Pemda,


daging, produksi daging/sapi, BPS,
data pengusaha) Perguruan
tinggi
Tenaga manajerial ada MBC Swasta

Perizinan terkait usaha (izin ada MBC Pemda


penggunaan lahan, izin HO,izin
distribusi, dll)
Perizinan terkait produk (izin RPH, tidak Pemda,
izin kesehatan, dll) kemtan,
kemprind
Regulasi pemanfaatan hasil tidak Pemda
Klaster Sapi di Sulawesi Selatan
Resources Ada/ Pemilik Jika Belum ada Partner
Tidak siapa Partner potensial yang
potensialnya mendukung

Sistem manajerial dan pemasaran tidak Disperindag, Kemprind,


Dinkop UKM, Kemdag, Kem
Kadinda, MBC KUKM, Kadin,
Swasta
Sinergi seluruh program dan tidak Bappeda
kegiatan SKPD
sinergi program dan kegiatan tidak BPPD
lembaga kelitbangan dan
pendidikan
Sinergi kebutuhan dan tidak MBC,
pemanfaatan teknologi Perguruan
Tinggi,
Masyarakat
INOVASI
Varietas Aliran uang
Industri Benih
Sumber Aliran uamg
(Seed Center – IPB) Industri Benih
Komersial Aliran uang
NS/OS (BLST+ Mitra ) Industri GKP
(Kelompok Aliran uang
Tani) Industri Beras
Padi BS FS (Kelompok Tani)
Varietas
IPB 3 S SS/ES Konsumen
FS GKP Beras
SS/ES
Konsumen
GKP GKG
1 START UP INDUSTRI BENIH Beras
(Pengembangan Industri Benih)
Konsumen
START UP INDUSTRI GKP Beras Beras
2
(Pengembangan Sentra Produksi)
Konsumen
START UP INDUSTRI BERAS Beras
4
(Pengembangan Sentra Beras)

SWA-
Industri Benih Sumber -Seed Center SEMBADA
3 (Perguruan Tinggi di Sentra Produksi) BERAS

Hakcipta : IPB
Identifikasi Provinsi Jawa Barat
Aktivitas Riset Dan
Provi Komod Pengembangan
Dokumen RPJMD Dokumen RIPIN Simlitabmas
nsi iti Perguruan Tinggi
Setempat
• Politeknik Negeri
Indramayu :
• Universitas Pasundan:
Peralatan
rancang bangun prototip
Pertanian,
tabung biogas dari material
Peralatan
logam-komposit serat alami
Pengolahan
Program Penataan Industri Kendaraan untuk rumah tangga atau
Makanan
Struktur dan Bermotor (2015- kendaraan sebagai
Peningkatan 2019): penunjang konversi energi
• Institut Teknologi
Kemampuan • Komponen dari bbm ke bbg
Bandung : Produksi
Teknologi Industri otomotif • Universitas Padjadjaran:
Kapal Layang 8
Jawa Aneka Unggulan (Industri • Penggerak mula Nanophosphor LaPO4
Kursi (Wing in
Barat Logam Kreatif, Industri (engine) BBM, dengan Doping Logam Tanah
Surface Effect
Telematika, Industri gas dan Listrik Jarang; ZnO Phosphor
Craft),
Agro, Industri Textil, • Perangkat dengan Doping Logam Tanah
Pengembangan
Industri Komponen transmisi (power Jarang; Electrostatic
Adsorben H2S
Otomotif, Serta train) Plecipitator Wire-Plate untuk
Berbasis Besi
Industri Alas Kaki) • Alat berat Penangkap Partikel Oksida
Oksigen, t5Panel
Logam pada Reaktor Spray
Surya Berbasis
Pyrolysis; Inhibitor Kirosi
DYE-SENSITIZED
Baja 5L Grade
SOLAR CELLs
(DSSC) Bersubstart
Lentur ITO-PET
Kegiatan Terkait di Ditjen Penguatan Inovasi

Direktorat Kegiatan Anggaran 2018


Sistem Inovasi Cluster Inovasi 40 M (40 Klaster)

Perusahaan Pemula PPBT 100 M (150 tenant) x


Berbasis Teknologi CPPBT dari PT 2
PPBT dari PT 140 M (200 tenant
dari PT
Inovasi Industri Inovasi Industri dari PT 100 M (20 inovasi)
Inovasi Industri dari 300 M (150 inovasi)
LPNK
TERIMA KASIH

Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi


Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi
Gedung 2 BPPT Lt 22
Jl. M.H Thamrin No 8 Jakarta