Anda di halaman 1dari 32

KULIAH 8

• Percobaan Tindak Pidana (POGING)


Percobaan Tindak Pidana
• KUHP tidak memberi perumusan/ definisi
• “Permulaan kejahatan yang belum selesai”
• Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam
hukuman oleh undang-undang (Perluasan Pertanggungjawaban
Pidana)
• Poging adalah perluasan pengertian delik
• Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh
undang-undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan
hukum atau membahayakan kepentingan hukum
• Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai
• Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil:
- Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang
dilarang telah dilakukan
-Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang
dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang telah
timbul atau terjadi
PERCOBAAN (POGING)

• PASAL 53
(1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu
telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan
tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata
disebabkan karena kehendaknya sendiri.
(2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal
percobaan dikurangi sepertiga.
(3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana
penjara seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling
lama 15 tahun.
(4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan
selesai.
• Pasal 54
Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana
Kasus 1
• Seorang yang sedang berdiri di bordes KA,
ketika akan diperiksa karcisnya oleh kondektur,
ia telah menendang kaki petugas tersebut.
Sehingga apabila kondektur tidak dengan
cepat berpegang pada tiang besi KA, pasti ia
jatuh keluar dan terlindas KA (Arrest HR Tgl
12 Maret 1942)
Kasus 2
• Seorang POLANTAS memberi tanda agar
sebuah kendaraan bermotor berhenti, karena
tidak menyalakan lampu. Pengemudi tetap
tancap gas, sehingga kalau petugas tidak
menghindar dengan cara melompat ia akan
tertabrak (Arrest HR 6 Pebruari 1951)
Kasus 3
Percobaan Pembunuhan Berencana
KASUS
• A bermaksud menghabisi nyawa B dengan
meletakkan bom di mobil B. Bom meledak
sebelum B masuk mobil dan mengakibatkan B
luka-luka parah.
PASAL YG DIDAKWAKAN
• Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP ( Percobaan
pembunuhan berencana)
ANCAMAN PIDANA
• 15 tahun penjara (lihat Ps. 53 ayat 3)
• Dalam KUHP terdapat pasal-pasal yang
merupakan percobaan tindak pidana yang
dipidana sebagai delik selesai. Hal ini terdapat
juga dalam UU Pidana di luar KUHP.
• Ada juga delik-delik khusus dlm KUHP yg mirip
dengan percobaan yaitu makar (ps. 87) dan
permufakatan jahat (ps. 88), namun ada syarat
dari Ps. 53 yang belum dipenuhi tapi sudah
dapat dihukum
Teori Subyektif
- subjectieve pogingsleer –
• seseorang yang melakukan percobaan untuk
melakukan kejahatan itu pantas dihukum,
oleh karena orang tersebut telah
menunjukkan perilaku yang tidak bermoral
yang bersifat jahat ataupun yang bersifat
berbahaya”
• Terdapat sikap batin atau watak yang
berbahaya dari si pelaku
Teori Obyektif
- objectieve pogingsleer –
• Seseorang yang melakukan percobaan untuk
melakukan suatu kejahatan itu dapat dihukum
oleh karena “tindakan-tindakannya telah
bernilai membahayakan bagi kepentingan-
kepentingan hukum”
Pengklasifikasian Teori Objektif

• Teori Obyektif Formil


• Seseorang yang melakukan percobaan untuk
melakukan suatu kejahatan itu dapat dihukum oleh
karena “tindakan-tindakannya telah bernilai
membahayakan bagi kepentingan-kepentingan
hukum”. Teori ini tidak membedakan antara
percobaan pada delik formil dan delik materiil
• Teori Obyektif Materiil membedakan percobaan
pada jenis deliknya (delik formil atau delik materiil)
• Teori Obyektif Materiil pada Delik Formil
“apabila telah dimulai perbuatan/tindakan yang
disebut dalam rumusan delik”

• Teori Obyektif Materiil pada Delik Materiil


• “segera setelah tindakan yang dilakukan oleh
pelakunya itu, menurut sifatnya secara langsung
dapat menimbulkan akibat yang terlarang oleh UU
tanpa pelakunya tersebut harus melakukan suatu
tindakan yang lain”
Teori Campuran
• Teori Subyektif
- subjectieve pogingsleer –
dan
• Teori Obyektif
- objectieve pogingsleer –
Syarat Percobaan yang dapat dipidana
• Niat
• Permulaan Pelaksanaan
• Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan
semata-mata disebabkan karena kehendaknya
sendiri
Syarat Pertama
NIAT atau “Voornemen”
• Menurut doktrin dan yurisprudensi
:”voornemen” harus ditafsirkan sebagai
kehendak (“willen”) atau “opzet”
• Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu
kehendak melakukan kejahatan
• Karena ada 3 macam opzet, apakah opzet di
sini harus dtafsirkan dalam arti luas atau
hanya opzet dalam arti pertama (sebagai
“oogmerk” atau tujuan) ? Pada umumnya
ditafsirkan opzet dalam arti luas
Syarat Kedua
Permulaan Pelaksanaan
• “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan
pelaksanaan”  een begin van uitvoering
• Harus ada suatu perbuatan(handeling)
• apa yang dimaksud “perbuatan sebagai permulaan
pelaksanaan” ?
• Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan
atau”uitvoering” dan bagaimana bentuknya
• Perlu digunakan penafsiran
Pelaksanaan Kehendak atau
Pelaksanaan Kejahatan ?
• Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang
mendahuluinya yaitu “voornemen”/ niat/kehendak  Niat
sudah terwujud dengan adanya permulaan
pelaksanaan. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai
“pelaksanaan kehendak”  TEORI POGING SUBYEKTIF
• Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya “…
tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata
disebabkan karena kehendaknya sendiri” maka secara
sistematis maka ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kejahatan”
 TEORI POGING OBYEKTIF
CONTOH KASUS
A menghendaki untuk membunuh B , untuk melaksanakan
maksudnya, A harus melakukan beberapa perbuatan, yaitu :
• a. A pergi ke tempat penjualan senjata api
• b. A membeli senjata api
• c. A membawa senjata api ke rumahnya
• d. A berlatih menembak
• e. A menyiapkan sebjata apinya dengan membungkusnya
rapat-rapat
• f. A menuju rumah B
• g. Sesampai di rumah B, A mengisi senjata itu dengan peluru
• h. A mengarahkan senjata kepada B
• i. A melepaskan tembakan ke arah B
MANA YANG MERUPAKAN PELAKSANAAN ?
APAKAH TIAP2 PERBUATAN DALAM KASUS TSB
DAPAT DIHUKUM ?
• 1. Menurut Teori Poging Subyektif : perbuatan
a sudah merupakan “permulaan
pelaksanaan” karena telah menunjukkan
“kehendak yang jahat”
• 2. Menurut Teori Poging Obyektif : perbuatan
a  f belum merupakan “permulaan
pelaksanaan” karena semua perbuatan itu
“belum membahayakan kepentingan hukum si
B
PEMBATASAN TERHADAP TEORI SUBYEKTIF

• Perbuatan dibedakan :
• 1. tindakan atau perbuatan persiapan (belum
dapat dihukum)
• 2. tindakan atau perbuatan pelaksanaan
(sudah dapat dihukum)
• Tetapi, pertanyaannya : mana yang
merupakan “perbuatan persiapan” dan mana
yang merupakan “perbuatan pelaksanaan” ?
PENDAPAT PARA AHLI DALAM
MASALAH TERSEBUT
1.Van Hamel : “apabila dari perbuatan itu telah terbukti kehendak yang
kuat dari si pelaku untuk melaksanakan perbuatannya”

2.Simons melihat dari jenis deliknya : delik materil atau delik formil.
• Pada delik formil apabila perbuatan itu merupakan perbuatan yang
dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU, apabila perbuatan
itu merupakan sebagian dari perbuatan yang dilarang; jika ada
beberapa unsur maka jika sudah melakukan salah satu unsur
• Pada delik materil apabila perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan
yang menurut sifatnya adalah sedemikian rupa , sehingga secara
langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam
dengan hukuman oleh UU

3.Vos : ada “permulaan pelaksanaan” apabila perbuatan itu mempunyai


sifat terlarang terhadap suatu kepentingan hukum.

4.Pompe : ada “permulaan pelaksanaan” apabila suatu perbuatan yang


bagi orang normal memungkinkan terjadinya suatu delik.
Pendapat Hoge Raad
Ada “permulaan pelaksanaan” apabila antara
perbuatan yang dilakukan dan kejahatan yang
dikehendaki oleh seseorang itu terdapat hubungan
erat langsung; yaitu apabila seorang melakukan
sesuatu perbuatan untuk melaksanakan kejahatan ,
perbuatan itu baru dianggap sebagai permulaan
pelaksanaan apabila disamping perbuatan itu tidak
dibutuhkan lagi perbuatan-perbuatan yang lain untuk
menyelesaikan kejahatan.
Percobaan delik formil
“apabila telah dimulai perbuatan/tindakan yang
disebut dalam rumusan delik”
Hoge Raad arrest tanggal 8 Maret 1920
N.J.1920
• “perbuatan menawarkan untuk dibeli dan
perbuatan menghitung uang kertas yang telah
dipalsukan di depan orang lain” adalah
tindakan permulaan dari tindakan
pelaksanaan
Percobaan delik materiil
• “segera setelah tindakan yang dilakukan oleh
pelakunya itu, menurut sifatnya secara
langsung dapat menimbulkan akibat yang
terlarang oleh undang-undang, tanpa
pelakunya tersebut harus melakukan suatu
tindakan yang lain”
• Hoge Raad Arrest 19 Maret 1934, N.J 1934
Eindhovense Brandstichting - arrest
Syarat Ketiga
Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata
disebabkan karena kehendaknya sendiri
• Ada penghalang Fisik
• Tidak ada penghalang Fisik, tapi tidak selesai karena akan ada
penghalang fisik
• Adanya penghalang yang disebabkan keadaan khusus pada obyek yang
menjadi sasaran

Contoh: Tertangkap tangan, korban memberikan perlawanan, korban tidak


meninggal karena bantuan medis

• Bila Pelaku Membatalkan niatnya secara sukarela/kehendak


sendiri – vrijwillige terugterd – maka TIDAK ADA Percobaan
yang dihukum
Pasal 19 RUU KUHP 2015
(1) Tidak dipidana jika setelah melakukan permulaan
pelaksanaan (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat
(1)):
a. Pembuat tidak menyelesaikan perbuatannya karena
kehendaknya sendiri secara sukarela
b. Pembuat dengan kehendaknya sendiri mencegah
tercapainya tujuan atau akibat perbuatannya
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b telah menimbulkan kerugian atau menurut
peraturan perundang-undangan telah merupakan tindak
pidana tersendiri , maka pembuat dapat
dipertanggungjawabkan untuk tindak pidana persebut.
Macam-Macam Percobaan (KUHP)
• Percobaan yang dapat dipidana
• Percobaan yang tidak dapat dipidana
Macam-macam Percobaan (Menurut Doktrin)

• Percobaan yg Sempurna : Voleindigde Poging -->


apabila seseorang berkehendak melakukan
kejahatan, ia telah melakukan semua perbuatan yg
diperlukan bagi selesainya kejahatan, tetapi
kejahatan tidak selesai karena suatu hal

• Percobaan yg Tertangguh : Geschorte Poging -->


apabila seseorang berkehendak melakukan
kejahatan, ia telah melakukan beberapa perbuatan
yg diperlukan bagi tercapainya kejahatan, tetapi
kurang satu perbuatan ia terhalang oleh suatu hal
sehingga delik tidak selesai
Macam-macam Percobaan (Doktrin)
• Percobaan yang Dikualifisir (Gequalificeerde
Poging)
apabila seseorang melakukan tindak pidana
sampai pada taraf percobaan, tetapi bila dilihat
tersendiri ternyata masuk ke dalam rumusan
delik lain yang selesai
• Percobaan yg Tidak Sempurna (tidak wajar) :
Ondeugdelijke Poging --> apabila seseorang
berkehendak melakukan suatu kejahatan,
dimana ia telah melakukan semua perbuatan yg
diperlukan bagi selesainya kejahatan, namun
tidak berhasil disebabkan alat (sarana) tidak
sempurna atau obyek (sasaran) tidak sempurna.
Tidak sempurna : mutlak atau relatif
Pasal 21 RUU KUHP-2015
(1) Dalam hal tidak selesai atau tidak mungkin
terjadinya tindak pidana disebabkan
ketidakmampuan alat yang digunakan atau
ketidakmampuan objek yang dituju, maka
pembuat tetap dianggap telah melakukan
percobaan tindak pidana dengan ancaman
pidana tidak lebih dari 1/2 (satu per dua)
maksimum pidana yang diancamkan untuk
tindak pidana yang dituju.
(2) Untuk tindak pidana yang diancam pidana
mati atau penjara seumur hidup, maksimum
pidananya penjara 10 (sepuluh) tahun
Melakukan percobaan kejahatan akan
tetapi tidak dihukum

• Pasal 184 ayat 5 KUHP –perkelahian tanding


• Pasal 302 ayat 4 KUHP – penganiayaan ringan
terhadap binatang
• Pasal 351 ayat 5 dan Pasal 352 ayat 2 KUHP –
penganiayaan biasa dan ringan
Mangel am tatbestand (gebrek aan feitelijk
tosdracht v/e zaak)
• Kejadian-kejadian yang mirip dengan percobaan
yang tidak sempurna/ tidak wajar di mana salah
satu unsur dari kejahatan tertentu itu sebenarnya
tidak mungkin ada atau tidak mungkin terjadi
• Misal:
• menggugurkan kandungan seorang perempuan
yang tidak pernah hamil;
• mencuri barang yang pencurinya tidak tahu bahwa
barang tersebut sebelum dicuri telah
diwariskan/diberikan padanya.
Putatif Delict
• Seseorang mengira bahwa apa yang
dilakukan merupakan suatu tindak pidana,
padahal tindakan tersebut tidak dilarang
• Contoh:
• Seseorang masuk ke Indonesia dan membawa
sejumlah uang kertas asing. Semula ia beranggapan
telah mencoba atau melakukan suatu kejahatan.
Namun ternyata uang yang ia bawa masih dalam
batas ketentuan yang tidak dilarang