Anda di halaman 1dari 63

1

 Tiga macam campuran yang penting:


• Larutan,
• Dispersi koloid,
• Suspensi
 Larutan adalah suatu campuran yang bersifat
homogen
 Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran
yang keadaannya terletak antara larutan dan
suspensi (campuran kasar).
Sistem koloid ini mempunyai sifat-sifat khas
yang berbeda dari sifat larutan atau suspensi.
 Suspensi dapat dipisahkan dengan penyaringan
atau dengan sentrifugasi.

2
Tabel 1. Perbedaan larutan, koloid dan suspensi
LARUTAN DISPERSI SUSPENSI
KOLOID
Semua bentuk partikel Partikel paling sedikit satu Partikel paling sedikit satu
dari atom,ion atau komponen atom, ion atau komponen yang dapat
molekul (0,1 – 1 nm) molekul kecil (1 – 1000 dilihat dibawah mikroskop
nm)
Stabil terhadap Kurang Stabil Tidak stabil
gravitasi
Homogen Perbatasan homogen Tidak Homogen
Tembus Cahaya Buram Tidak tembus
Tidak ada efek Tyndall Efek Tyndall Tidak transparan
Tidak ada gerak Gerak Brown Partikel terpisah
Brown
Tidak dapat Tidak dapat dipisahkan Dapat dipisahkan
dipisahkan dengan penyaringan dengan penyaringan
denganpenyaringan
3
Penyelidikan terhadap zat yang berupa larutan
pertama kali dilakukan oleh Thomas Graham
(1861)
Kecepatan difusi : - cepat
- lambat
- tidak berdifusi

Graham membagi larutan berdasarkan kecepatan


diffusi menjadi :
1. KRISTALOID : Bila zat dilarutkan dalam suatu
pelarut maka diperoleh larutan yang homogen
yang tidak dapat dibedakan dan mudah berdifusi
melalui membran
– larutan gula
– larutan garam.
4
2. KOLOID : campuran yang juga bersifat
homogen tapi dapat dibedakan.
Kecepatan difusi koloid sangat lambat , hampir
tak berdiffusi

Perbedaan utama antara KOLOID dan


KRISTALOID berdasarkan ukuran partikelnya :
- KRISTALOID : 10 Ao ( Larutan sejati )
- KOLOID : 10 Ao - 10.000 Ao
- SUSPENSI : > 10.000 Ao

5
Koloid tidak dapat berdifusi melalui membran.
Proses pemisahan berdasarkan difusi pada
membran semipermiable : DIALISIS

6
KOLOID :
suatu campuran (sistem dispersi) dua atau lebih
zat yang bersifat homogen namun memiliki ukuran
partikel terdispersi yang cukup besar (1 - 100 nm),
sehingga terkena efek Tyndall.

Bersifat homogen berarti partikel terdispersi tidak


terpengaruh oleh gaya gravitasi atau gaya lain
yang dikenakan kepadanya; sehingga tidak
dijumpai pengendapan, misalnya.

7
Di dalam larutan koloid secara umum, selalu
terdiri dari dua fase:

 Fase terdispersi, yakni zat yang terlarut di


dalam larutan koloid, berupa partikel-partikel
berukuran koloid

 Fase pendispersi, yakni zat pelarut di dalam


larutan koloid, merupakan medium tempat
partikel koloid tersebut tersebar.

Koloid memiliki bentuk bermacam-macam,


tergantung dari fasa zat pendispersi dan zat
terdispersinya.
8
Tabel 2. Jenis-jenis Dispersi Koloid
FASA MEDIA JENIS CONTOH
TERDISPERSI PENDISPERSI
Gas Cair Busa Busa sabun
Gas Padat Busa Padat Batu apung

Cair Gas Aerosol Cair Kabut, halimun, awan

Cair Cair Emulsi Krim, susu, saos

Cair Padat Emulsi Padat Mentega, keju

Padat Gas Asap Debu, partikulat dalam asap

Padat Cair Sol Pati dalam air, jeli, cat

padat padat Sol Padat Aloy, mutiara

9
Klasifikasi Koloid

a. Ditinjau dari jenis partikelnya, koloid


dibedakan atas :
- dispersi koloid
- larutan koloid sejati / larutan
makromolekul.
- koloid asosiasi.

10
DISPERSI KOLOID :

Terdiri dari zat-zat yang tidak larut dengan


partikel –partikel yang terdiri dari gabungan
banyak molekul.

Misal : - dispers koloid Au , AS2 S3


- minyak dalam air.

- Kedua fase terdispersi dan dispers medium


dapat berupa gas, padat, cair,
- Secara termodinamik, dispers koloid tidak
stabil karena nisbah permukaan dan volume
sangat besar
11
LARUTAN KOLOID SEJATI / LARUTAN
MAKRO MOLEKUL

 Terdiri dari larutan dengan zat terlarut yang


BM nya tinggi ( makro molekul : misal pati,
protein ).
 Secara termodinamik sistim ini stabil.
 Dapat disintesis, misal polistiren, nylon
 Sifat larutan polimer ini mirip sol liofil

12
KOLOID ASOSIASI KOLOID ELEKTROLIT :

•Sistim terdiri dari molekul yang BM nya


rendah yang beragregasi membentuk
partikel berukuran koloid.

•Secara TD sistim ini juga stabil.

Contoh : larutan sabun dan deterjen, alkil


sulfat dan sulfonat.

13
molekul organik
SABUN - gugus liofil ( hidrofilik )
- gugus liofob ( hidrofobik )

14
BAGAIMANA SABUN DAN DETERGENT BEKERJA

15
Klasifikasi Koloid

b. Berdasarkan sifat adsorpsi partikel koloid


terhadap medium pendispersinya, dikenal 2
macam koloid :

1. Koloid liofil yaitu koloid yang ”senang cairan”


(bahasa Yunani : liyo = cairan; philia = senang).
Partikel koloid akan mengadsorpsi molekul
cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling
partikel koloid itu. Mis : kanji,protein, agar-agar
2. Koloid liofob yaitu koloid yang ”benci cairan”
(phobia = benci). Partikel koloid tidak
mengadsorpsi molekul cairan. Misal : sol sulfida
dan sol logam

16
Klasifikasi Koloid

c. Berdasarkan jenis muatannya dikenal dua


macam koloid, yaitu :

• Koloid bermuatan positif , misal koloid


Fe(OH)3 mengadsorbsi ion H , sehingga
+

menjadi bermuatan (+). Karena muatan senama


maka koloid Fe(OH)3, akan tolak-menolak
sesamanya sehingga partikel-partikel koloid
tidak akan saling menggerombol.

• Koloid bermuatan negatif, misal koloid As2S3


mengadsorbsi ion OH dalam larutan sehingga
-

akan bermuatan (-)


17
 Karena muatannya sejenis, maka
terdapat gaya tolak menolak antar
partikel koloid, sehingga memberikan
kestabilan pada sistem koloid.
 Namun secara keseluruhan system
koloid bersifat netral, karena partikel
koloid yang bermuatan ini akan menarik
ion-ion dengan muatan berlawanan
dalam medium pendispersinya.

18
Klasifikasi Koloid
d. Koloid berdasarkan fasa zat pendispersi dan zat
terdispersinya:
SOL , EMULSI , Busa
SOL :
Dispersi koloid dimana fase terdispersinya
merupakan zat padat

Sol Liofobik butir – butir koloid tidak


suka pelarut.
butir – butir koloid suka
Sol Liofilik
pelarutnya.

19
Berdasarkan medium pendispersinya,
sol dapat dibagi menjadi:
1. Sol Padat, merupakan sol di dalam medium
pendispersi padat.
Contoh : paduan logam, gelas berwarna, dan intan
hitam.
2. Sol Cair (Sol), merupakan sol di dalam medium
pendispersi cair.
Contoh : cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat,
3. Sol Gas (Aerosol Padat), merupakan sol di dalam
medium pendispersi padat.
Contoh : debu di udara, asap pembakaran, dll.

20
EMULSI :
Dispersi koloid dimana fase terdispersinya
adalah zat cair
 Berdasarkan medium pendispersinya, emulsi
dapat dibagi menjadi:
• Emulsi Gas (Aerosol Cair) : medium pendispersi
gas. Aerosol cair seperti hairspray dan baygon,
• Emulsi Cair : medium pendispersi cair , yang
melibatkan campuran dua zat cair yang tidak
dapat saling melarutkan
• Emulsi Padat atau Gel, merupakan emulsi
didalam medium pendispersi zat padat. Gel dapat
dianggap terbentuk akibat penggumpalan
sebagian sol cair.

21
Emulsi Cair yang paling dikenal :
• Emulsi minyak dalam air (O / W )
• Emulsi air dalam minyak ( W / O )

Agar stabil EMULGATOR

 Sifat emulsi cair yang penting ialah:


• Demulsifikasi. Kestabilan emulsi cair dapat
rusak akibat pemanasan, pendinginan, proses
sentrifugasi, penambahan elektrolit, dan
perusakan zat pengelmusi.
• Pengenceran. Diencerkan dengan medium
pendispersinya
22
 Ditinjau dari segi
kepolaran, emulsi
merupakan campuran
cairan polar dan cairan
non polar.
 Salah satu emulsi
adalah susu, di mana
lemak terdispersi dalam
air.
 Dalam susu terkandung
kasein suatu protein
yang berfungsi sebagai
zat pengemulsi.
23
Emulsi Padat / Gel

 Gel merupakan emulsi didalam


medium pendispersi zat padat.
 Berdasarkan sifat elastisitasnya, gel dapat
dibagi menjadi:
• Gel elastis, contoh adalah sabun dan gelatin
• Gel non-elastis, contoh adalah gel silika
 Gel memiliki sifat tiksotropi : menjadi cairan
ketika digoyang, tetapi kembali memadat ketika
dibiarkan tenang
24
 Dengan mengganti cairan
dengan gas, dimungkinkan
untuk membentuk aerogel ('gel
udara'), yaitu bahan dengan
sifat yang khusus, seperti
massa jenis rendah, luas
permukaan yang sangat besar,
dan isolator panas yang
sangat baik.

 Aerogel adalah zat berdasar-


silikon dan merupakan benda
padat kepadatan-terendah di
dunia. Dia terbentuk dari
99,8% udara dan foam yang
kaku dengan kepadatan 3
miligram per cm³.

25
 Aerogel dibuat dengan mengeringkan
sebuah gel yang terdiri dari silika koloid
dalam sebuah lingkungan yang ekstrim.
 Alkohol cair seperti ethanol dicampur
dengan prekursor silikon alkoksida
membentuk sebuah gel silikon dioksida
(gel silika).
 Melalui proses yang disebut
pengeringan superkritikal, alkohol
disingkirkan dari gel.
 Biasanya dilakukan dengan menukar
etanol dengan CO2 cair dan membuat
CO2 berada di atas titik kritis.
 Terakhir menghilangkan seluruh cairan
dari gel dan menggantikannya dengan
gas, tanpa membuat struktur gel rusak
atau berkurang volumenya.
26
Koloid Buih / Busa
Buih merupakan koloid dimana
fase terdispersinya merupakan gas.
 Berdasarkan medium pendispersinya,
buih dapat dibagi menjadi:
• Buih Cair (Buih), sistem koloid dengan fase
terdispersi gas dan medium pendispersi zat
cair. Contohnya adalah buih yang dihasilkan
alat pemadam kebakaran dan kocokan putih
telur.
• Buih Padat, fase terdispersi gas
dan medium pendispersi zat padat .
Contoh : roti,styrofoam, batu apung

27
SIFAT – SIFAT KOLOID
1. Menurut ukuran partikelnya :10 A - 10.000A.
Umumnya dengan BM besar. Misalnya
albumin BM = 44.000.
2. EFEK TYNDALL
Ahli fisika Inggris

Tahun 1869 Tyndall menemukan : bila


seberkas sinar dilewatkan pada larutan koloid
maka cahaya tadi akan kelihatan.

28
 Efek Tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu
larutan terkena sinar.
 Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya,
maka larutan tersebut tidak akan
menghamburkan cahaya, sedangkan pada
sistem koloid, cahaya akan dihamburkan.
 Penghamburan cahaya terjadi karena partikel-
partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang
relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar
tersebut
 Contoh efek Tyndall : sinar matahari yang
dihamburkan partikel koloid di angkasa ; langit
berwarna biru pada siang hari dan jingga pada
sore hari ; debu dalam ruangan akan terlihat jika
ada sinar masuk melalui celah.
29
 Berkas cahaya akan kelihatan
karena adanya pantulan atau
hamburan cahaya oleh
permukaan partikel koloid.

 Efek Tyndall Mikroskop Ultra


Dapat digunakan untuk memperkirakan BM
koloid karena intensitas hamburan cahaya
bergantung pada ukuran partikel

 Efek Tyndall merupakan Sifat Optik.

30
3. GERAK BROWN
Gerak Brown adalah gerakan partikel-partikel
koloid yang senantiasa bergerak lurus tapi
tidak menentu (gerak acak/tidak beraturan).

Dibawah mikroskop ultra,


akan terlihat partikel-
partikel tersebut akan
bergerak membentuk
zig zag.

31
Koloid dengan medium pendispersi zat cair
atau gas, pergerakan partikel-partikel
akan menghasilkan tumbukan dengan
partikel-partikel koloid itu sendiri.

Gerak Brown dipengaruhi oleh :


suhu
ukuran partikel koloid
Gerak Brown merupakan SIFAT KINETIK

32
 Sifat kinetik ini timbul, bisa disebabkan oleh :
• Gerakan termal dari partikel koloid
• Pengaruh gravitasi
 Pergerakan partikel koloid bukan karena
penguapan lokal, tapi akibat tumbukan acak
dengan molekul pelarut. Partikel koloid
cukup kecil, tumbukan cenderung tidak
seimbang, sehingga terjadi gerak zigzag
atau gerak brown
 Pengaruh gravitasi, bisa bersifat alami atau
buatan.
33
4. ADSORPSI
Peristiwa penyerapan partikel
atau ion atau senyawa lain
pada permukaan partikel
koloid yang disebabkan oleh
luasnya permukaan partikel

Partikel koloid sol memiliki kemampuan


untuk mengadsorpsi partikel-partikel pada
permukaannya, baik partikel netral atau
bermuatan (kation atau anion) karena
mempunyai permukaan yang sangat luas.
34
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3
bermuatan positif
karena permukaannya
menyerap ion H+.

(ii) Koloid As2S3


bermuatan negatif
karena permukaannya
menyerap ion S -2.

35
 Sifat adsorbsi digunakan dalam proses:
• Pemutihan gula tebu.
• Norit.
• Penjernihan air.

 Misal : koloid antara obat diare dan


cairan dalam usus yang akan menyerap
kuman penyebab diare.

36
5. SIFAT LISTRIK
A. ELEKTROFORESIS
Partikel sol bermuatan listrik, maka partikel
ini akan bergerak dalam medan listrik.
Pergerakan ini disebut
elektroforesis

Partikel koloid yang


bermuatan positif
bergerak menuju
elektrode negatif
dan sebaliknya
37
 Koloid akan
membentuk suatu
permukaan
bermuatan listrik
bila berhubungan
dengan medan
listrik Terjadinya Elektroforesis

 Peristiwa
elektroforesis
merupakan SIFAT
ELEKTRIK
38
 Adanya muatan listrik pada butir-butir
koloid menyebabkan terjadinya beda
potensial antara permukaan zat padat
dan larutan
 Menurut Helmholtz dan Debye-Huckel,
pada permukaan koloid terdapat lapisan
rangkap listrik, karena adanya ion-ion
yang mengimbangi, butir-butir koloid
tersebut selalu bergerak
 Gerakan koloid dalam alat elektroforesis
menentukan jenis muatan partikel koloid
39
B. ELEKTROOSMOTIK
Gerak partikel koloid bermuatan melalui
membran semipermiabel oleh pengaruh medan
listrik
c. POTENSIAL ALIRAN
Partikel koloid dipaksa bergerak melalui pori membran
D. POTENSIAL SEDIMENTASI
Terjadi perbedaan potensial antara bagian
atas dengan bagian bawah dimana suatu
koloid bermuatan mengendap

40
6. Koloid pelindung
 Membentuk lapisan yang menyelimuti
partikel koloid sehingga koloid terlindung dari
elektrolit . contoh sol glatin

 Sistem koloid di mana partikel terdispersinya


mempunyai daya adsorpsi relatif besar
disebut koloid liofil , koloid ini bersifat lebih
stabil,dan berfungsi sebagai koloid
pelindung.

 Jika partikel terdispersinya mempunyai gaya


absorpsi yang cukup kecil, maka disebut
koloid liofob yang bersifat kurang stabil.
41
7. KOAGULASI

Peristiwa pengendapan/penggumpalan koloid


Hardy Schulze :
kemampuan mengkoagulasikan koloid oleh elektrolit
tergantung pada valensi
Koagulasi dapat terjadi dengan :
a. Mencampurkam dua sol yang berbeda muatan
b. Elektroforesis
c. Pemanasan
d. Penambahan elektrolit
42
Koagulasi Koloid
 Jika partikel-partikel koloid bersifat netral, maka
akan terjadi penggumpalan dan pengendapan
karena pengaruh gravitasi.
 Proses penggumpalan partikel koloid dan
membentuk endapan ini disebut : koagulasi.

43
Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat
terdispersi tidak lagi membentuk koloid.

 Faktor-faktor yang menyebabkan


koagulasi:
• Perubahan suhu.
• Pengadukan.
• Penambahan ion dengan muatan besar
(contoh: tawas).
• Pencampuran koloid positif dan koloid negatif.

44
PEMBUATAN KOLOID SOL

 Metode kondensasi : merupakan metode


bergabungnya partikel-partikel kecil
larutan sejati yang membentuk partikel-
partikel berukuran koloid.

 Metode dispersi : merupakan metode


dipecahnya partikel-partikel besar
sehingga menjadi partikel-partikel
berukuran koloid.
45
A. Metode Kondensasi
Pembuatan koloid sol dengan metode ini
umumnya dengan cara kimia (dekomposisi
rangkap, hidrolisis, dan redoks) atau dengan
penggantian pelarut.

1. Reaksi dekomposisi rangkap


- Sol As2S3, dibuat dengan cara mengalirkan
H2S perlahan-lahan melalui larutan As2O3
dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang
berwarna kuning terang;
As2O3 (aq) + 3H2S(g) As2O3 (koloid)
+ 3H2O(l)

- Sol AgCl, dibuat dengan mencampurkan


larutan AgNO3 encer dan larutan HCl encer;
AgNO3 (ag) + HCl(aq) AgCl (koloid) +
HNO3 (aq)
46
2. Reaksi hidrolisis
Hidrolisis adalah reaksi suatu zat dengan air.

- Sol Fe(OH)3, dibuat dengan hidrolisis larutan


FeCl3 dengan memanaskan larutan FeCl3, atau
reaksi hidrolisis garam Fe dalam air mendidih;

FeCl3 (aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3 (koloid)


+ 3HCl(aq)

`- Sol Al(OH)3 dapat diperoleh dari reaksi


hidrolisis garam Al dalam air mendidih;

AlCl3 (aq) + 3H2O(l) Al(OH)3 (koloid) +


3HCl(aq)

47
3. Reaksi redoks

- Sol emas atau sol Au, dibuat dengan


mereduksi larutan garamnya dengan
melarutkan AuCl3 dengan reduktor HCOH;

2AuCl3 (aq) + HCOH(aq) + 3H2O(l)


2Au(s) + HCOOH(aq) + 6HCl(aq)

- Sol belerang dibuat dengan mereduksi SO2


yang terlarut dalam air dengan mengalirkan
gas H2S ;
2H2S(g) + SO2 (aq) 3S(s) + 2H2O(l)

48
4. Penggantian pelarut

Dilakukan dengan mengganti medium


pendispersi sehingga fasa terdispersi yang
semula larut, setelah diganti pelarutnya
menjadi berukuran koloid.
 Misal : membuat sol belerang yang sukar larut
dalam air tetapi mudah larut dalam alkohol
seperti etanol .
 Belerang terlebih dahulu dilarutkan dalam
etanol sampai jenuh.
 Selanjutnya larutan belerang dalam etanol
ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam air
sambil diaduk.

49
B. Metode Dispersi
 Metode ini melibatkan pemecahan
partikel-partikel kasar menjadi berukuran
koloid, kemudian didispersikan dalam
medium pendispersinya.
 Ada 3 cara dalam metode ini, yaitu:
• Cara Mekanik
• Cara peptisasi
• Cara Busur Bredig (dispersi elektrolitik)

50
Cara Mekanik
Cara mekanik : penghalusan partikel-partikel
kasar zat padat dengan penggilingan
partikel-partikel berukuran koloid.
Misal :
- industri makanan untuk membuat jus buah,
selai, krim, es krim,dsb.
- Industri kimia rumah tangga untuk membuat
pasta gigi, semir sepatu, deterjen, dsb.
- Industri kimia untuk membuat pelumas padat,
cat dan zat pewarna.
- Industri-industri lainnya seperti industri
plastik, farmasi, tekstil, dan kertas.

51
Cara peptisasi

 Cara peptisasi adalah :


pembuatan koloid dari
butir-butir kasar atau
dari suatu endapan dengan
bantuan suatu zat pemecah.
 Zat pemecah dapat berupa elektrolit,
Contoh:
- Agar-agar dipeptisasi oleh air ; karet oleh
bensin.
- Endapan NiS dipeptisasi oleh H2S ;
- Endapan Al(OH) 3 oleh AlCl3.
52
Cara Busur Bredig
 Cara busur Bredig biasanya
digunakan untuk membuat
sol-sol logam, seperti Ag, Au, Pt.
 Logam yang akan diubah jadi
partikel koloid digunakan sebagai elektrode.
 Kemudian kedua logam dicelupkan ke dalam
medium pendispersinya (air suling dingin)
sampai kedua ujungnya saling berdekatan.
 Kedua elektrode diberi loncatan listrik.
 Panas yang timbul menyebabkan logam
menguap, dan terkondensasi menghasilkan
pertikel-pertikel kolid.
53
Penghilangan muatan listrik pada partikel
koloid dapat dilakukan empat cara :
1. Menggunakan prinsip elektroforesis
Proses elektroforesis adalah pergerakan partikel-
partikel koloid yang bermuatan ke elektrode
dengan muatan berlawanan. Ketika partikel
mencapai elektrode, maka system koloid akan
kehilangan muatannya dan bersifat netral.

2. Penambahan koloid lain dengan muatan


berlawanan
Ketika koloid bermuatan positif dicampur dengan
koloid bermuatan negatif, maka muatan tersebut
akan saling menghilang dan bersifat netral.

54
3. Penambahan elektrolit
Jika suatu elektrolit ditambahkan pada system
koloid, maka partikel koloid yang bermuatan
negatif akan mengasorpsi ion positif (kation) dari
elektrolit. Begitu juga sebaliknya. Dari adsorpsi
ini maka terjadi proses koagulasi.

4. Pendidihan
Kenaikan suhu menyebabkan jumlah tumbukan
antara partikel dengan molekul air bertambah
banyak. Akibatnya elektrolit yang teradsorpsi
pada permukaan koloid lepas dan partikel jadi
tidak bermuatan.
55
Kestabilan Koloid
 Partikel-partikel koloid bermuatan
sejenis, sehingga terjadi gaya tolak-
menolak yang mencegah partikel-
partikel koloid bergabung dan
mengendap akibat gaya gravitasi.
 Jadi, selain gerak Brown, muatan koloid
juga berperan besar dalam menjaga
kestabilan koloid.

56
 Koloid pelindung ialah koloid yang
mempunyai sifat dapat melindungi
koloid lain dari proses koagulasi.

 Sol liofob/ hidrofob mudah terkoagulasi


dengan sedikit penambahan elektrolit,
tetapi menjadi lebih stabil jika
ditambahkan koloid pelindung yaitu
koloid liofil

57
PEMURNIAN KOLOID
Pemisahan atau pemurnian koloid dapat
dilakukan dengan cara :

a.Dialisys :
Proses pemurnian
partikel koloid dari
muatan-muatan yang
menempel pada
permukaannya
menggunakan membran
semipermiable

58
b. Elektro dialysis
 Proses dialysis di
bawah pengaruh
medan listrik.
 Elektrodialisis
hanya dapat
digunakan untuk
memisahkan
partikel-partikel zat
terlarut yang berupa
elektrolit

59
c. Penyaring ultra
 Partikel-partikel kolid tidak
dapat disaring biasa
seperti dengan kertas
saring
 Kertas saring diresapi
dengan selulosa seperti
selofan penyaring
ultra
 Proses pemurnian
dengan menggunakan
penyaring ultra ini
termasuk lambat, jadi
tekanan harus dinaikkan

60
Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari

 Sifat karakteristik kolid yang


penting, yaitu sangat
bermanfaat untuk mencampur
zat-zat yang tidak dapat saling
melarutkan secara homogen
dan bersifat stabil untuk
produksi skala besar.

61
Selain industri, sistem koloid juga banyak
dapat kita jumpai dalam kehidupan kita
sehari-hari
• Penggumpalan darah
• Pembentukan delta di muara sungai
• Pengambilan endapan pengotor
• Pemutihan gula

62
63