Anda di halaman 1dari 28

Penjalaran Cahaya

Me n u ru t Te o ri Ma lu s , H u y g e n s d a n Fe rm a t
 Nur Alissa Anwar (15030224019)
 Ninik Setiyawati (15030224023)
 Muhamad Armansyah (15030224033)
 Dhimas Ardeansyah (15030224036)
 Varillia Wardani (15030224039)
LET’S BEGIN NOW!
Penjalaran Cahaya

3
Optika Geometris atau optika sinar menjabarkan perambatan cahaya sebagai vektor
yang disebut sinar. Sinar adalah sebuah abstraksi atau “instrumen” yang digunakan
untuk menentukan arah perambatan cahaya. Sinar sebuah cahaya akan tegak lurus
dengan muka gelombang cahaya tersebut, dan ko-linear terhadap vektor gelombang.

Terdapat beberapa ahli fisika mengemukakan pendapat/teori tentang penjalaran


cahaya dan peristiwanya seperti pemantulan, pembiasan dan polarisasi cahaya, yaitu:
1. Teori Malus oleh Etienne Louis Malus (1890)
2. Teori Huygens oleh Christian Huygens (1629-1695)
3. Prinsip Fermat oleh Pierre de Fermat (1601-1665)
SECTION 1

Dalil Malus
S e b e r k a s c a h a y a a l a m i m e n u j u k e p o l a r i s a t o r.
Di sini cahaya dipolarisasi secara vertikal yaitu
hanya komponen medan listrik E yang sejajar
sumbu transmisi. Selanjutnya cahaya
terpolarisasi menuju analisator

Di analisator, semua komponen E yang tegak lurus sumbu Jika cahaya alami tidak terpolarisasi yang jatuh pada
transmisi analisator diserap, hanya komponen E yang sejajar polaroid pertama (polarisator) memiliki intensitas I0, maka
sumbu analisator diteruskan. Sehingga kuat medan listrik cahaya terpolarisasi yang melewati polarisator adalah:
yang diteruskan analisator menjadi: I =½I 1 0
E2 = E cos θ

6
Suatu cahaya tak terpolarisasi datang pada lembar
polaroid pertama disebut polarisator (Polarisator
berfungsi untuk menghasilkan cahaya terpolarisasi),
dengan sumbu polarisasi ditunjukkan oleh garis-garis
pada polarisator. Kemudian dilewatkan pada polaroid
kedua yang disebut analisator (Analisator untuk
mengetahui apakah cahaya sudah terpolarisasi atau
belum). Maka intensitas sinar yang diteruskan oleh
analisator I, dapat dinyatakan sebagai:

7
Dalil MALUS
Persamaan di samping dikenal dengan hukum malus,
ditemukan oleh Etienne Louis Malus pada tahun 1809. Dari
persamaan hukum Malus ini dapat disimpulkan :
1. Intensitas cahaya yang diteruskan maksimum jika kedua
sumbu polarisasi sejajar (q = 0˚ atau q = 180˚).
2. Intensitas cahaya yang diteruskan = 0 (nol) (diserap
seluruhnya oleh analisator) jika kedua sumbu polarisasi
tegak lurus satu sama lain.

8
SECTION 2

Teori Huygens
Menurut teori H uygens yang di kenal sebagai pri nsi p H uygens di aj ukan ol eh
fi si kaw an C hri sti an H uygens (1629 -1695), pada dasarnya menyatakan bahw a ,

“Seti ap ti ti k pada suatu muka gel ombang (w ave front), dapat di pandang sebagai
pusat gel ombang sekunder yang memancarkan gel ombang baru ke segal a arah
(w avel et) dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan rambat gel ombang .
Muka gel ombang yang baru di peroleh dengan cara mel uki s sebuah permukaan
yang menyi nggung (menyel ubungi ) gel ombang -gel ombang sekunder tersebut ”

10
Prinsip Huygens bisa dipakai untuk menerangkan terjadinya difraksi cahaya
pada celah kecil. Pada saat melewati celah kecil, muka gelombang (wave front)
akan menimbulkan wavelet yang jumlahnya tak terhingga sehingga gelombang
tidak mengalir lurus saja, tetapi menyebar dan merambat keluar dari celah.

11
Jadi proses penjalaran cahaya menurut prinsip
Huygens disebabkan oleh partikel cahaya yang
cenderung menggandakan diri tiap satuan waktu
dengan arah lurus sehingga mampu mencapai
jarak tertentu.

12
Gambar disamping melukiskan gelombang cahaya yang
dipancarkan oleh sebuah titik H ke segala arah, pada suatu
saat muka gelombang digambarkan sebagai permukaan bola
AB, pada t detik kemudian.Menurut prinsip Huygens, setiap
titik pada muka gelombang AB merupakan pusat gelombang
baru ( gelombang skunder ) misalnya titik PQR, dengan titik
tersebut dilukis sebagai pusat gelombang baru dengan jari-jari
yang sama sebesar R = ct.

13
14
AQ = OP = x

Sin ɸ = Sin r
ɸ=r

15
16
17
SECTION 3

Prinsip Fermat
Pernyataan asli Prinsip
adalah sebuah prinsip yang
Fermat
"Sebenarnya jalan mendefinisikan jarak tempuh
antara dua titik yang yang terpendek dan tercepat
diambil oleh seberkas yang dilalui oleh cahaya biasa
cahaya adalah salah disebut atau principle of least
satu yang dilalui dalam
time.
waktu minimal."

19
Hukum Snellius Sebagai Teori
Partikel Cahaya

Prinsip Kekekalan Gaya

Hukum Snellius

Hukum Newton

20
Gambar di atas menunjukkan bahwa sinar datang (garis AO) menyentuh permukaan bidang pantul (garis MM’) sehingga
arah rambahnya berubah dan membentuk sinar pantul OB. Sudut ɸa adalah sudut antara sinar datang dengan garis
normal, yang selanjutnya disebut sebagai sudut datang, sedangkan sudut ɸb adalah sudut antara sinar pantul dengan
garis normal, yang selanjutnya disebut sebagai sudut pantul.

21
Menurut prinsip Fermat garis sinar AOB
akan menempuh waktu terpendek,
dimana 𝑑𝑥/𝑑𝑡 = 0 panjang lintasan
adalah L= AO + OB dan waktu tempuh
adalah t= tAO + tOB.

atau
Pada gambar di atas diperlihatkan bahwa sinar datang dari medium A menembus medium B melalui garis
MM’ (garis AO) dan dibiaskan membentuk garis OB. ɸa adalah sudut yang terbentuk antara sinar datang
dengan garis normal yang selanjutnya disebut sebagai sudut datang. Sedangkan ɸb adalah sudut yang
terbentuk antara sinar yang dibiaskan dan garis normal, selanjutnya sudut ini disebut dengan sudut bias

23
Menurut prinsip Fermat garis sinar
AOB akan menempuh waktu
terpendek, dimana 𝑑𝑥/𝑑𝑡 = 0 panjang
lintasan adalah L= AO + OB dan
waktu tempuh adalah t= tAO + tOB.
Dari ketiga teori membuktikan hukum snellius
tentang pemantulan dan pembiasan

4
Prinsip fermat mendefinisikan jarak
tempuh yang terpendek dan tercepat
yang dilalui oleh cahaya biasa disebut
principle of least time
Berdasarkan Dalil malus, intensitas
1 3
cahaya diteruskan maksimum jika
sumbu sejajar dan sama dengan nol
jika tegak lurus
2
Teori Huygens, Setiap titik pada suatu muka gelombang
dapat dipandang sebagai pusat gelombang sekunder yang
memancarkan gelombang baru ke segala arah dengan
kecapatan sama dengan cepat rambat gelombang

26
It Always Seems Impossible
Until It’s Done :D

27
T H A N K YO U !
Do You Have Any Questions?

Sumber :
Arthur Schuster, An Introduction to the Theory of Optics, London: Edward Arnold,
1904 online.
Pedrotti, Frank L & Pedrotti, Leno S. Introduction To Optic Second Edition.Canada : A
Simon & Schuster Company.1993.online