Anda di halaman 1dari 44

Hidung dan Telinga

dr. Sufri Halwi, M.Kes

15/03/2018 1
• Anggota:
1. Soni Pilson
2. Fawwaz Fatahillah
3. Faiz Alwan M
4. Richy Dara Perdana
5. Melina Handayani
6. Rani Aprilita
7. Mauliza
8. Fitria
9. Nabila Az-Zahra
10.Rosdina Permata Kasih
11.Annisa Istiqomah

15/03/2018 2
Modul 6
Hidung dan Telinga
SKENARIO 5: Kesedihan Ny. Sina
Ny. Sina, seorang ibu muda sangat sedih ketika mengetahui
anaknya yang baru lahir memiliki daun telinga yang tidak sempurna.
Dokter menghiburnya dan mengatakan bahwa kondisi ini bisa
diperbaiki dengan dengan operasi plastik, yang lebih penting adalah
fungsi pendengarannya. Dokter ini akan merujuk anak Ny. Sina ke
dokter spesialis THT untuk mengetahui kelainan pada telinga bagian
dalam disamping terdapat alat pendengaran juga terdapat alat
keseimbangan. Ny. Sina setuju untuk dirujuk pada doktet spesialis
THT, karena dia juga ingin berkonsultasi tentang sinusitis yang sudah
dialaminya sejak 3 tahun yang lalu. Akhir-akhir ini Ny. Sina juga
mengeluhkan kemampuan penghidunya berkurang. Dia khawatir jika
keluhannya ini semakin parah.
Bagaimana anda menjelaskan perkembangan, struktur dan
fungsi telinga, hidung, dan sinus paranasal?
15/03/2018 3
Jump 1 Terminologi
1. Telinga
Organ manusia yang berfungsi sebagai alat
pendengaran.
2. Operasi Plastik
Cabang ilmu kedokteran untuk memperbaiki bagian
tubuh tertentu.
3. Spesialis THT
Seorang dokter yang memiliki keahlian menangani
telinga, hidung, dan tenggorokan.
4. Sinusitis
Radang pada sinus.
5. Sinus paranasal
Rongga yang berada di sekitar hidung dan terisi oleh
udara.
15/03/2018 4
Jump 2 dan jump 3
Rumusan Masalah dan Hipotesa
1. Mengapa Ny. Sina merasa sedih melihat daun telinga
anaknya tidak sempurna?
Karena anaknya memiliki kelainan yang menyebabkan ia berbeda
dari anak-anak lainnya.
2. Bagaimana tindakan dokter untuk mengurangi rasa sedih
Ny. Sina?
Empati, kemudian memberi penjelasan dan merujuk ke spesialis
THT.
3. Apa saja fungsi telinga sebagai alat pendengaran?
Menghantarkan persepsi bunyi sebagai persepsi pendengaran.

15/03/2018 5
4. Apa saja yang termasuk telinga bagian dalam?
• Labyrinthus Osseus:
-Cochlea
-Vestibulum
-Canalis semicircularis
• Labyrinthus membranaseus:
-Ductus cochlearis
-Utriculus & Sacculus
-Ductus semicircularis
-Ductus & Saccus endolymphaticus
5. Bagaimana proses terjadinya pendengaran?
Suara – auricula – mae – membrana tympani – ossicula auditiva – perylimph –
membrana vestibuli & basilaris bergerak – endolymph bergerak – organ corti –
N. Cochlearis – ganglion spinal – N. Cochlearis – Nucl. cochlearis -
leminiscus lateralis – colliculus inferior – corpus geniculatum mediale –
radiatio auditiva – cortex area 41 & 42 – persepsi

15/03/2018 6
6. Apa penyebab seseorang dapat terkena sinusitis?
• Infeksi virus
• Kekeblan tubuh rendah
• Kebiasaan merokok
• Reaksi alergi
7. Bagaimana proses terjadinya penciuman?
Udara – masuk ke lubang hidung – masuk ke epithelium olfaktori
– menggetarkan mukosa olfaktori & saraf olfaktori – thalamus –
hipothalamus – korteks cerebrum – memori

15/03/2018 7
Jump 4 skema

Alat Indra

Telinga Embriologi Hidung

Hubungan
Struktur Fisiologis
Telinga &
Hidung

15/03/2018 8
Jump 5 LO
1. Hidung
a. Embriologi
b. Struktur
c. Fisiologis
d. Pemeriksaan
2. Telinga
a. Embriologi
b. Struktur
c. Fisiologis
d. Pemeriksaan
3. Sinus paranasal
4. Hubungan antara Hidung & Telinga

15/03/2018 9
1. HIDUNG

15/03/2018 10
1. Embriologi
Gambar A : Menunjukkan segmen intermasila dan
processus intermaksilaris
Gambar B : Segmen intermaksila membentuk filtrum bibir
atas, bagian tengah tulang maksila dengan keempat gigi
serinya, dan palatum primer yang berbentuk segitiga.

15/03/2018 11
Gambar A : Potongan frontal kepala mudigah 6,5 minggu
Gambar B : Pandangan ventral bilah-bilah palatum setelah
rahang bawah dan lidah diangkat. Perhatikan celah antara
palatum primer yang berbentuk segitiga dan bilah-bilah
palatum yang masih tegak lurus.
Gambar A : Potongan frontal melalui kepala mudigah 7,5
minggu.Lidah telah bergeser ke bawah,dan bilah-bilah
palatum telah mencapai posisi horlontal.
Gambar B : Bilah-bilah palatum kini horizontal. Perhatikan
septum nasale.
Gambar A : . Potongan frontal melalui kepala mudigah 10
minggu. Kedua bilah palatum telah satu sama lain, begitu
pula dengan septum nasale
Gambar B : Foramen insisivum membentuk garis tengah
antara palatum primer dan sekunder.
15/03/2018 15
2. Struktur
ANATOMI HIDUNG

15/03/2018 16
RONGGA HIDUNG (CAVITAS NASI)
 Lubang depan cavitas nasi disebut nares anteriror dan
lubang belakangnya disebut nares posterior (choanae)
 Tepat di belakang naresanterior terdapat vestibulum yan
g dilapisi rambut(vibrissae)
 dan kelenjarsebasea
 Choanae
Menghubungkan cavitas nasi dengan nasofaring

15/03/2018 17
TIAP CAVITAS NASI MEMILIKI 4 DINDING
Dinding medial, lateral, inferior dan superior
a)Dinding medial  Septum nasi
Bagian terluar dari septum nasi dilapisi oleh kelenjar
mukosa
b)Dinding lateral
o mempunyai empat buah concha yakni concha inferior, chonca
media, chonca superior, dan chonca suprema.
o Di antara concha dan dinding lateral hidung terdapat meatus
c) Dinding inferior
o merupakan dasar dari rongga hidung dan dibentuk oleh os
maxilla dan os palatum
d) Dinding superior
o Dibentuk oleh lamina kribriformis yang memisahkan rongga
tengkorak dari rongga hidung
PERSARAFAN HIDUNG
 Bagian atas rongga hidung dipersarafi oleh
nervus etmoid anterior dan posterior yang
merupakan cabang dari nervus
opthalmica(v/1)
 Bagian bawah dari rongga hidung
dipersarafi oleh nervus maxilaris
interna(v/2)
 Bagian depan hidung dipersarafi oleh
nervus dari cabang-cabang nervus
facialis(vii)
 Vena hidung memiliki nama yang sama
dan berjalan berdampingan dengan
arterinya
3. FISIOLOGI

I. FUNGSI PERNAFASAN
Menyiapkan udara ~ keadaan fisiologis paru
1. Mengatur jumlah udara yang masuk
2. Menyiapkan udara pernafasan
a. Menyaring
» Vibrissae  partikel kasar
» Mucous Blanket ( palut lendir)  partikel halus
b. Melembabkan
- Sel Goblet  palut lendir
c. Memanaskan
- Conchae nasi ( terutama konka inferior), kaya pembuluh
darah
3. Desinfeksi
a. Mucous Blanket
b. Enzym Lyzozym
c. Suasana asam (Ph 6,5)
d. S i l i a
e. Sel fagosit, limfosit, histiosit
(sub mucosa)
f. Kelenjar getah bening regional
mucocillary blanked
II. FUNGSI PENGHIDU
mukosa olfaktorius di atap cavum nasi, concha
superior & 1/3 bagian atas septum bekerja sama
dengan fungsi pengecapan

III. FUNGSI RESONANSI SUARA & PROSES BICARA


‒ Bila buntu hidung  bindeng sulit mengucapkan huruf m, n, ng, ny,
(rinolalia oklusa).
‒ Bila hidung terbuka, mis celah bibir (labioshcisis) dan celah langit-
langit (palatoshcisis) sulit mengucapkan huruf b, d, p, k, g, t (rinolalia
aperta)

IV. FUNGSI DRAINASE & VENTILASI


 dari sinus paranasales & kelenjar lacrimalis
4. Pemeriksaan
• Rinoskopi anterior
Menggunakan spekulum.
Yang diperhatikan : mukosa,
septum nasi, concha, sekret dan
masa
• Rinoskopi posterior
Menyinari koana & dinding
nasofaring dengan cahaya yang
dipantulkan oleh cermin yang di
tempatkan dalam nasofaring.

15/03/2018 23
2. TELINGA

15/03/2018 24
1. Embriologi
• Telinga dalam
Telinga dalam berasal dari vesikula otika, yang di
minggu keempat perkembangan terlepas dari ektoderm
permukaan. Vesikula ini terbagi menjadi :
komponen ventral sakulus dan duktus koklearis
komponen dorsal utrikulus kanalis
semisirkularis dan duktus endolimfatikus

Dengan demikian struktur epitel dikenal secara


keseluruhan sebagai labirin membranosa. Kecuali untuk
duktus koklearis yang membentuk Organ Corti
15/03/2018 26
15/03/2018 27
• Telinga Tengah
terdiri dari cavitas tympani , tuba
auditiva, dilapisi oleh epitel yang berasal
dari endoderm dan kantong faring
pertama. Tulang-tulang pendengaran
yang berasal dari arkus faring pertama
(maleus dan inkus) dan arkus faring
kedua (stapes)
15/03/2018 29
Telinga Luar
Meatus akustikus eksternus dibentuk dari celah faring.
Gendang telinga terdiri dari
(1) lapisan epitel ektoderm,
(2) lapisan intermediat mesenkim, dan
(3) lapisan endoderm kantong faring pertama.
Aurikula dibentuk dari enam tonjolan mesenkim di sepanjang arkus
faring pertama dan kedua.

15/03/2018 30
2. Struktur
Sturktur mikroskopik
telinga luar
Struktur mikroskopik
telinga tengah
Srtuktur mikroskopik telinga dalam
3. Fisiologi pendengaran
• Bunyi ditangkap daun telinga  membran
timpani  tulang pendengaran  fenestra ovale
 menggerakkan perilimfe pada skala vestibuli
 melalui membran reissner mendorong
endolimfe menimbulkan gerak relatif membran
basilaris dan membran tektoria  defleksi
stereosilia sel rambut  kanal ion terbuka 
terjadi pertukaran ion  depolarisasi sel rambut
 pelepasan neurotransmiter  potensial aksi
saraf auditorius  nukleus auditorius  korteks
pendengaran di lobus temporalis
4. Pemeriksaan
TES PENDENGARAN
Tes garputala
1. Tes Rinne
2. Tes Weber
3. Tes swhabach
TES KESEIMBANGAN
Tes Keseimbangan
1. Romberg tes
2. Tes satu kaki
3. Tes tendem walking
4. Finger to nose test

15/03/2018 38
4. SINUS PARANASAL

15/03/2018 39
SINUS PARANASAL
(rongga didalam tulang disekitar hidung)

• SINUS MAXILLARIS
• SINUS FRONTALIS
• SINUS ETHMOIDALE
(GRUP ANTERIOR & POSTERIOR)
• SINUS SPHENOIDALE
Posterior Group Anterior Group
- Sinus Ethmoidalis Posterior - Sinus Maxillaris
- Sinus Sphenoidalis - Sinus Frontalis
bermuara pada meatus nasi - Sinus Ethmoidalis Anterior 
nasi superior bermuara pada meatus
nasi medius (KOM)
4. Hubungan Hidung dengan
Telinga

15/03/2018 42
Hubungan Hidung dengan
Telinga
• Tuba auditiva
menghubungkan antara
telinga tengah dengan
nasopharynx
• Berfungsi untuk
menyamai tekanan
atmosfer sehingga
tekanan di kedua sisi
membran timpani setara

15/03/2018 43
15/03/2018 44