Anda di halaman 1dari 36

Nama Kelompok 4 :

- Ni Made Elvin Charnia Dewi 1515351009


- Ida Ayu Widya Krisna Dewi 1515351021
- Luh Ade Wahyu Merthadiyanti 1515351022

LAPORAN AUDITOR
Nama Kelompok 10 :

JENIS-JENIS LAPORAN AUDITOR

PERSYARATAN MASING-MASING
AUDITOR
KRITERIA WAJAR DALAM
LAPORAN AUDITOR
JENIS-JENIS LAPORAN AUDITOR
LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU

 Laporan audit bentuk baku memuat suatu


pernyataan auditor independen bahwa laporan
keuangan menyajikan secara wajar sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum.
 Laporan bentuk baku inilah yang paling banyak
dikeluarkan auditor.
 Unsur pokok laporan audit bentuk baku :

1. Judul laporan yang berbunyi “Laporan Auditor Independen”. Pencantuman kata “independen”
dimaksudkan untuk lebih menegaskan posisi auditor sebagai pihak yang independen.

2. Pihak kepada siapa laporan audit ditujukan.

3. Paragraf pengantar (Introductory paragraph)

a. Suatu pernyataan mengenai laporan


keuangan apa saja yang telah diaudit.
b. Suatu pernyataan auditor mengenai
perbedaan tanggung jawab antara auditor
dengan manajemen perusahaan.
4. Paragraf lingkup audit (scope paragraph)

a. Suatu pernyataan bahwa auditor melaksanakan audit berdasar standar


auditing yang telah ditetapkan oleh IAI.
b. Suatu pernyataan bahwa auditor diharuskan merencanakan dan
melaksanakan auditnya agar memperoleh keyakinan yang memadai bahwa
laporan keuangan bebas dari salah saji yang material.
c. Suatu pernyataan bahwa audit yang telah dilaksanakan meliputi :
1. pemeriksaan terhadap bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan
pengungkapan dalam laporan keuangan berdasar pengujian (sampling).
2. penilaian terhadap prinsip akuntansi yang digunakan manajemen.
3. penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan.
d. Suatu Pernyataan auditor bahwa ia yakin bahwa audit yang dilaksanakan
memberikan dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat.
5. Paragraf pendapat (opinion paragraph)

 Suatu pernyataan pendapat auditor bahwa laporan keuangan yang disebutkan dalam
paragraf pengantar disajikan secara wajar.

6. Nama KAP, tanda tangan AP, nama AP, nomor registrasi AP, dan tanggal pelaporan.
CONTOH LAPORAN AUDIT BENTUK BAKU
yang sesuai dengan Standar Auditing
PERSYARATAN MASING-MASING
AUDITOR
1. Kompetensi yang memadai

Kompetensi artinya auditor harus memiliki keahlian di


bidang auditing dan mempunyai pengetahuan yang cukup
mengenai bidang yang diauditnya dan kompetensi seorang
auditor dibidang auditing ditunjukkan oleh latar belakang
pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya.

2. Independensi dalam sikap mental

Independen artinya bebas dari pengaruh baik


terhadap manajemen yang bertanggung jawab
atas penyusunan laporan maupun terhadap para
pengguna laporan tersebut.
3. Kemahiran profesional dengan cermat dan seksama

Dalam melaksanakan tugasnya, auditor harus


menggunakan keahliannya dengan cermat dan
seksama (due professional care), direncanakan
dengan baik menggunakan pendekatan yang
sesuai, serta memberikan pendapat
berdasarkan bukti yang cukup.
4. Persyaratan Menjadi Akuntan Publik :

 Akuntan yang mengajukan permohonan untuk menjadi


akuntan publik harus memenuhi persyaratan sebegai berikut :

a) Memiliki Sertifikat Tanda Lulus Ujian Sertifikasi Akuntan Publik (USAP) yang sah yang diterbitkan oleh Institut
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) atau perguruan tinggi terakreditasi oleh IAPI untuk menyelenggarakan
pendidikan profesi akuntan publik.
b) Apabila tanggal kelulusan USAP telah melewati masa 2 tahun, maka wajib menyerahkan bukti telah mengikuti
Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) paling sedikit 60 Satuan Kredit PPL (SKP) dalam 2 tahun terakhir.

c) Berpengalaman praktik di bidang audit umum atas laporan keuangan paling sedikit 1000 jam dalam 5 tahun
terakhir dan paling sedikit 500 (lima ratus) jam diantaranya memimpin dan atau mensupervisi perikatan audit
umum, yang disahkan oleh Pemimpin/Pemimpin Rekan KAP.
4. Persyaratan Menjadi Akuntan Publik :

d) Berdomisili di wilayah Republik Indonesia yang dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP)
atau bukti lainnya.
e) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
f) Tidak pernah dikenakan sanksi pencabutan izin auditor publik.
g) Tidak pernah dipidana yang mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan pidana kejahatan
yang diancam dengan penjara 5 (lima) tahun atau lebih.
h) Menjadi anggota IAPI.
i) Tidak berada dalam pengampuan.
KRITERIA WAJAR DALAM
LAPORAN AUDITOR
Perumusan suatu Opini atas Laporan Keuangan

 Auditor harus merumuskan suatu opini tentang apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material,
sesuai dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku (SA 200, paragraf 11). Auditor harus menyimpulkan apakah
auditor telah memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara keseluruhan bebas dari
kesalahan penyajian material, baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan.

 Kesimpulan tersebut harus memperhitungkan:

a) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 330, apakah bukti audit yang cukup dan tepat telah diperoleh (SA 330, “Respons
Auditor terhadap Risiko yang Telah Dinilai,” paragraf 26).
b) Kesimpulan auditor, berdasarkan SA 450, apakah kesalahan penyajian yang tidak dikoreksi adalah material, baik
secara invidual maupun secara kolektif (SA 450, “Pengevaluasian atas Kesalahan Penyajian yang Diidentifikasi
Selama Audit,” paragraf 11).

c) Evaluasi yang diharuskan oleh paragraf 12-15.


Opini Auditor

1. Laporan auditor harus mencakup suatu bagian dengan judul “Opini”.


 Ketika menyatakan suatu opini tanpa modifikasian atas laporan keuangan
yang disusun berdasarkan suatu kerangka penyajian wajar, laporan auditor
harus, kecuali jika diharuskan lain oleh peraturan perundang-undangan,
menggunakan frasa di bawah ini:
Laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
….. sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. (Ref: Para.
A27-A33)
 Ketika menyatakan suatu opini tanpa modifikasian atas laporan keuangan
yang disusun berdasarkan suatu kerangka kepatuhan, opini auditor harus
menyatakan bahwa laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang
material, sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia. (Ref:
Para. A27, A29-A33)
Opini Auditor

2. Tanggung Jawab Pelaporan Lainnya


 Jika auditor menyatakan tanggung jawab pelaporan lainnya dalam laporan auditor atas laporan
keuangan yang merupakan tambahan terhadap tanggung jawab auditor berdasarkan SA untuk
melaporkan laporan keuangan, maka tanggung jawab pelaporan lain tersebut harus dinyatakan
dalam suatu bagian terpisah dalam laporan auditor yang diberi judul “Pelaporan Lain atas Ketentuan
Hukum dan Regulasi,” atau judul lain yang dianggap tepat menurut isi bagian ini. (Ref: Para. A34-
A35)
 Jika laporan auditor mengandung suatu bagian terpisah atas tanggung jawab pelaporan lainnya,
maka judul, pernyataan, dan penjelasan yang dirujuk dalam paragraf 23-37 harus diberi subjudul
“Pelaporan atas Laporan Keuangan.” “Pelaporan Lain atas Ketentuan Hukum dan Regulasi” harus
disajikan setelah “Pelaporan atas Laporan Keuangan.” (Ref: Para. A36)
3. Tanda Tangan Auditor
4. Tanggal Laporan Audit
5. Alamat Auditor
1) Opini Tanpa Modifikasi (Wajar Tanpa Pengecualian)

Auditor harus mengevaluasi apakah laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai dengan ketentuan
dalam kerangka pelaporan keuangan yang berlaku. Secara khusus, auditor harus mengevaluasi apakah, dari sudut pandang
ketentuan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku:

a) Laporan keuangan mengungkapkan kebijakan akuntansi signifikan yang dipilih dan diterapkan secara memadai;

b) Kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan
sudah tepat;

c) Estimasi akuntansi yang dibuat oleh manajemen adalah wajar;

d) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah relevan, dapat diandalkan, dapat diperbandingkan, dan dapat
dipahami;
1) Opini Tanpa Modifikasi (Wajar Tanpa Pengecualian)

e) Laporan keuangan menyediakan pengungkapan yang memadai untuk memungkinkan pengguna laporan
keuangan yang dituju memahami pengaruh transaksi dan peristiwa material terhadap informasi yang
disampaikan dalam laporan keuangan; dan (Ref: Para. A4)

f) Terminologi yang digunakan dalam laporan keuangan, termasuk judul setiap laporan keuangan, sudah tepat.
CONTOH LAPORAN AUDITOR
OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN
Kondisi Ketika Suatu Modifikasi terhadap
Opini Auditor Harus Dilakukan

Penentuan Tipe Modifikasi terhadap Opini Auditor


 Opini Wajar dengan Pengecualian
 Opini Tidak Wajar
 Opini Tidak Menyatakan Pendapat
 Opini Wajar dengan Pengecualian

Auditor harus menyatakan opini wajar dengan pengecualian ketika:


(a) Auditor, setelah memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa
kesalahan penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material,
tetapi tidak pervasif, terhadap laporan keuangan; atau
(b) Auditor tidak dapat memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat yang mendasari
opini, tetapi auditor menyimpulkan bahwa pengaruh kesalahan penyajian yang tidak
terdeteksi yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan, jika ada, dapat menjadi
material, tetapi tidak pervasif.
4) Opini Tidak Wajar

Auditor harus menyatakan suatu opini tidak wajar ketika auditor, setelah
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, menyimpulkan bahwa kesalahan
penyajian, baik secara individual maupun secara agregasi, adalah material dan
pervasif terhadap laporan keuangan.
5) Opini Tidak Menyatakan Pendapat

 Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika auditor tidak dapat memperoleh bukti
audit yang cukup dan tepat yang mendasari opini, dan auditor menyimpulkan bahwa
pengaruh kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin timbul terhadap
laporan keuangan, jika ada, dapat bersifat material dan pervasif.

 Auditor tidak boleh menyatakan pendapat ketika, dalam kondisi yang sangat jarang
melibatkan banyak ketidakpastian, auditor menyimpulkan bahwa, meskipun telah
memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat tentang setiap ketidakpastian tersebut,
adalah tidak mungkin untuk merumuskan suatu opini atas laporan keuangan karena
interaksi yang potensial dari ketidakpastian tersebut dan pengaruh kumulatif
ketidakpastian tersebut yang mungkin timbul terhadap laporan keuangan.
BENTUK DAN ISI LAPORAN AUDITOR
KETIKA DIMODIFIKASI

1. Basis untuk Paragraf Modifikasi


2. Paragraf Opini
3. Penjelasan Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor Menyatakan suatu Opini Wajar
dengan Pengecualian atau Opini Tidak Wajar
4. Penjelasan tentang Tanggung Jawab Auditor Ketika Auditor Tidak Menyatakan
Pendapat
ILUSTRASI LAPORAN AUDITOR DENGAN
MODIFIKASI TERHADAP OPINI
CONTOH LAPORAN AUDITOR
OPINI WAJAR dengan PENGECUALIAN
CONTOH LAPORAN AUDITOR
OPINI tidak wajar
CONTOH LAPORAN AUDITOR
OPINI tidak menyatakan pendapat