Anda di halaman 1dari 63

METODE-METODE ELEKTRO

ANALISIS
Oleh Kelompok 15:
1. Putri Pujiati (150332603599 )
2. Fadly Ghozali (150332605179 )
Metode Elektro-analisis

Potensiometri Polarografi Voltametri Kulometri Elektrogravimetri


Potensiometri

 Potensiometri adalah suatu cara analisis berdasarkan pengukuran


beda potensial sel dari suatu sel elektrokimia.

 Metode ini dapat digunakan untuk mengukur potensial, pH suatu


larutan, menentukan titik akhir titrasi dan menentukan
konsentrasi ion-ion tertentu dengan menggunakan elektroda
selektif ion.
Elektroda
Elektroda hidrogen
pembanding standar
Primer
Elektroda
pembanding Elektroda kalomel
Elektroda
pembanding
sekunder
Elektroda perak

Elektroda jenis pertama

Susunan alat Elektroda jenis kedua


Potensiometri Elektroda
logam
Elektroda jenis ketiga

Elektroda Elektroda untuk sistem


redoks
Indikator

kristalin
Alat
Elektroda
pengukur
membran
Non kristalin
Potensial
 Elektrode Pembanding
Elektroda pembanding adalah suatu elektroda yang mempunyai harga
potensial tetap dengan kata lain harga potensial setengah selnya
diketahui, konstan dan tidak peka terhadap komposisi larutan yang
sedang diselidiki

Syarat ideal untuk elektrode standar, :


• Memenuhi persamaan Nerst dan bersifat reversible
• Memperlihatkan potensial yang konstan selama pengukurn
• Dapat kembali ke potensial semula setelah dikenai arus
• Tidak terlalu berubah karena perubahan temperatur (tidak mengalami
histeresis)
 Elektroda Pembanding Primer

Contoh dari elektroda jenis ini adalah elektroda hidrogen standar.


H2 (g) 2H+ + 2e

Dapat berlangsung cepat dan reversible. Potensial setengah sel dari


elektroda pembanding primer adalah 0 vot.

Notasi setengah sel dari elektroda hidrogen adalah :

Pt/H2 (atm), H+ (M) atau H+ (M), H2 (atm)/Pt


 Elektroda Pembanding Sekunder

 Elektroda kalomel (calomel electrode)

Elektroda ini terbuat dari tabung gas


atau plastic dengan panjang 10 cm yang
dicelupkan ke dalam air raksa yang kontak
dengan lapisan pasta Hg/Hg2Cl2 yang
terdapat pada tabung bagian dalam yang
berisi campuran Hg, Hg2Cl2, dan KCl jenuh
dan dihubungkan dengan larutan KCl
jenuh melalui lubang kecil.

Bila elektroda ini bekerja akan terjadi reaksi,


Hg2Cl2 (g) + 2e 2 Hg(l) + 2 Cl-
Pada Tabel dibawah dapat dilihat potensial beberapa jenis elektrode kalomel
yang sering digunakan dan beberapa sifatnya dalam berbagai temperatur
yang berbeda-beda.

Potensial elektrode (V) Vs SHE

Temperatur 0,1 Mc 3,5 Mc Jenuhc 3,5 Mb,c Jenuhb,c

Kalomela Kalomelb Kalomela Ag/AgCl Ag/AgCl


10 0,256 0,215 0,214
12 0,3362 0,2528
15 0,3362 0,254 0,2511 0,212 0,209
20 0,3359 0,252 0,2479 0,208 0,204
25 0,3356 0,250 0,2444 0,205 0,199
30 0,3351 0,248 0,2411 0,201 0,194
35 0,3344 0,246 0,2376 0,197 0,189
38 0,3338 0,2355
40 0,244 0,193 0,184
• Elektroda perak

Elektroda perak merupakan elektroda yang satu tipe


dengan elektroda kalomel. Elektroda ini terbuat dari kawat
perak (Ag) atau platina yang dilapisi perak kemudian dilapisi
dengan lapisan tipis AgCl.
Bila elektroda ini bekerja akan terjadi reaksi :

AgCl (s) + e Ag(s) + Cl-


 Elektrode Indikator
Elektroda indikator adalah elektroda yang potensialnya bergantung
pada konsentrasi zat yang sedang diselidiki. Elektroda ini
merupakan pasangan dari elektroda pembanding dan terbagi dalam
dua kelompok yaitu :

Elektroda indikator

Elektroda logam Elektroda membran

Jenis pertama Kristalin

Jenis kedua Non Kristalin

Jenis ketiga

Sistem redoks
Elektroda Logam

 Elektroda Jenis Pertama  Elektroda jenis kedua

Elektroda jenis pertama Elektroda jenis kedua ini


digunakan untuk menentukan kation merupakan elektroda secara tidak
yang berasal dari logamnya. langsung memberikan respon
Contohnya adalah elektroda terhadap anion yang membentuk
indicator Cu dapat digunakan untuk endapan yang sulit larut atau
menentukan konsentrasi ion Cu2+. kompleks yang stabil dengan
Reaksi elektrodanya sebagai berikut; kationnya.

Cu2+ + 2e Cu(s)
 Elektroda Jenis Ketiga  Elektroda untuk Sistem Redoks
Elektroda untuk system

Elektroda jenis ketiga redoks merupakan elektroda ynag


potensilanya bergantung pada reaksi
merupakan elektroda yang redoks.
potensialnya bergantung pada  Contoh elektroda Pt yang tercelup di
dalam larutan yang mengandung ion
konsentrasi ion logam lain.
Fe2+ dan Fe3+ yang dinotasikan
 Contoh, elektroda Hg dapat sebagai : Pt/Fe2+ (aFe2+), Fe3+(aFe3+)

digunakan untuk menentukan  Reaksi yang terjadi adalah :


Fe3+ + e Fe2+
konsentrasi kalsium (pCa)
 Potensial yang diperoleh adalah :
dari larutan yang mengandung [𝐹𝑒 2+ ]
Eind = E0 – 0,0592 log
[𝐹𝑒 3+ ]
ion kalsium.
Elektroda Membran

Elektroda membran bisa disebut dengan elektroda selektif ion (ionic


selective electrode, ISE). Elektroda membrane juga digunakan untuk
penentuan pH dengn mengukur perbedaan potensial antara larutan
pembanding yang keasamannya tetap dan larutan yang dianalisis.

No Elektrode membran kristalin Elektrode membran non kristalin

1. Kristal tunggal Kaca (glass)

Contoh : LaF3 untuk F- Contoh : kaca silikat untuk Na+ dan H+


2. Kristal campuran atau polikristalin Cair

Contoh :Ag2S untuk S2- dan Ag+ Contoh : cairan penukar ion untuk Ca2+ dan
cairan penetral untuk K+
Cairan yang dimobilisasi di polimer padat

Contoh : matriks polivinil klorida untuk Ca2+



 Analisis Kuantitatif

 Pada dasarnya titrasi potensiometri adalah suatu titrasi


dimana titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan
menggunakan indicator, melainkan ditentukan dengan
mengukur perubahan potensial elektroda atau perubahan
pH larutan selama titrasi berlangsung.

 Dengan menggunakan titrasi potensiometri pengamatan


titik akhir titrasi tidak diganggu oleh perubahan warna
larutan dan kekeruhan.
Gambar : Seperangkat Alat Titrasi Potensiometri
Dalam menentukan lokasi titik ekivalen tersebut dapat dlakukan dengan
beberapa cara, antara lain dengan membuat grafik potensial atau pH versus
Δ𝐸 Δp𝐻
volume titran atau modifikasinya, yaitu turuna pertama Δ𝑉
atau Δ𝑉
versus
volume titran (Vx), kemudian dari grafik yang diperoleh dicari harga
maksimum atau minimumnya.

𝚫𝐩𝑯
Kurva Titrasi Potensiometri vs volume titran (Vx)
𝚫𝑽
Polarografi

 Polarografi adalah suatu metode analisis yang


didasarkan pada prinsip elektrolisis.

 Di dalam polarografi dapat dipelajari hubungan


antara konsentrasi dengan potensial dan arus.

 Metode ini disebut juga dengan voltametri yang menggunakan


electrode tetes air raksa (dropping mercury electrode, DME) sebagai
elektroda indicator,
Electrode pembanding, dalam sel polarografi
elektroda pembanding yang digunakan adalah
elektroda kalomel jenuh (SCE).

Instrumen
Polarografi

Pipa saluran gas N2, pipa ini


elektroda indicator , yang digunakan
dimaksudkan untuk mengusir gas O2
yang kemungkinan terlarut dalam adalah elektroda tetes air raksa
larutan yang sedang dianalisis. (DME)
Bila elektroda tersebut bekerja, maka reaksi reduksi akan
terjadi pada permukaan air raksa. Oleh karena itu untuk larutan yang
mengandung ion logam M+ akan direduksi pada permukaan tetesan air
raksa (Hg). Reaksi yang terjadi adalah :
Mn+ + ne + Hg M(Hg)

Notasi sel nya adalah : SCE / / Mn+ (x M) / Hg


Polarogram

Polarogram adalah kurva yang diperoleh dari pengukuran secara polarografi


yang menyatakan hubungan antara arus (𝜇 A) dengan potensial (volt).
Analisis Kuantitatif
 Kurva Kalibrasi

 Penambahan Standar

 Titrasi Volumetri

Pada cara kurva kalibrasi dibuat kurva kalibrasi dengan jalan


melakukan pengukuran secara polarografi terhadap sejumlah larutan
yang diketahui konsentrasinya kemudian dibuat kurva id vs C.
COULOMETRI
Coulometri
 Metode kulometri adalah sebuah metode
elektroanalitik yang mempunyai prinsip dasar
reaksi oksidasi maupun reduksi secara
elektrolitik terhadap sebuah analit. Metode
dilakukan beberapa saat untuk memastikan
perubahan yang dapat terukur secara
kuantitatif
 Metode ini menggunakan arus atau potensial
untuk mengubah analit dari suatu keadaan
oksidasi menjadi keadaan oksidasi yang baru
Prinsip dasar metode coulometri

elektrolisis dengan potensial sel


yang diterapkan konstan

Elektrolisis dengan arus dibuat


konstan

Elektrolisis dengan potensial


elektrode kerja yang dibuat konstan
 Dalam tiap proses elektrolisis berlaku
hubungan antara potensial eksternal yang
diberikan (Eappl), potensial dari katode dan
anode (Ec dan Ea), beberapa kelebihan
tegangan (overvoltage) karena polarisasi dan
transfer muatan dikatode dan anode (ηcc dan
ηck) serta (ηac dan ηak) yang dapat dihitung
secara empiris:
Eappl = Ec - Ea + (ηcc + ηck) + (ηac + ηak) – IR
 Pada umumnya jumlah zat yang bereaksi secara kuantitatif
diperoleh melalui perhitungan menurut hukum faraday,
sehingga persamaannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
𝑀𝑥𝐼𝑥𝑡
m=
𝑍𝑥𝐹
dimana,
m = massa zat yang bereaksi (g)
M = massa molar zat yang bereaksi (g/mol)
F = konstanta faraday (96500 C)
Z = jumlah elektron yang terlibat dalam reaksi
I = kuat arus (A)
t = waktu (s)
Metode-metode coulometri
• Elektrolisis dengan
1 potensial tetap
(coulometri
potensiostat)

• Elektrolisis dengan
2 arus tetap (coulometri
amperostat)
Elektrolisis dengan potensial tetap (coulometri
potensiostat)
 Elektroda kerja dibuat tetap dengan cara mengubah-ubah arus sehingga
analit akan habis bereaksi tanpa pengaruh komponen lain dalam sel
 Pengaturan potensial pada analisis coulometri menyebabkan arus akan
berkurang secara eksponensial dengan waktu, berdasarkan persamaan:
𝐼𝑡 = 𝐼𝑜 . 𝑒 −𝑘𝑡
 Dimana Io adalah arus awal, It adalah arus pada saat t, dan k adalah suatu
tetapan yaitu sebesar:
25,8. 𝐷. 𝐴
𝑘=
𝛿. 𝑉
 Dimana D adalah koefisien difusi dari zat yang tereduksi, A adalah luas
elektrode, δ adalah tebal lapis difusi dan V adalah volume total dari
larutan dengan konsentrasi C. Kuantitas listrik Q (coulomb) yang
mengalir dari awal pada saat waktu 0 hingga waktu t dapat dihitung
berdasarkan persamaan :
𝑡

𝑄 = න 𝐼. 𝑡. 𝑑𝑡
0
Komponen yang diperlukan dalam
coulometri potensiostat
Sumber Arus
Sel elektrolisis Coulometer
terkendali
• terdapat dua jenis sel • Coulometer yang • Sumber arus untuk
yang digunakan, yaitu: sesuai untuk elektrolisis berupa
Jenis pertama terdiri mengukur kuantitas baterai aki besar atau
dari elektroda kerja listrik terdiri dari sebuah penyuplai
(kasaplatina) dan coulometer perak, tenaga listrik yang
elektroda pasangan coulometer iod, dioperasikan dari
(kawat platina). Jenis coulometer hidrogen- saluran listrik pusat
kedua adalah bejana oksigen, dan bersama-sama sebuah
berisi raksa yang coulometer hidrogen- resistor besar secara
digunakan untuk nitrogen dimana dalam seri.
memisahkan unsur- penggunaannya
unsur yang mudah masing-masing
direduksi sebagai elektroda dihubungkan
langkah pendahuluan secara seri dengan sel
dalam analisis. elektrolisis.
Elektrolisis dengan arus tetap
(coulometri amperostat)
 Coulometri amperostat adalah metode yang
mempertahankan arus listrik untuk menghitung
konsentrasi analit
 Titrasi dilakukan dengan menganalogikan arus
yang digunakan sebagai jumlah titrannya
 Perubahan potensial yang diamati dapat dianggap
sebagai titik akhir titrasi
 Besarnya arus dan waktu dapat digunakan untuk
menentukan mol spesies yang tidak diketahui
dalam larutan
Instrumentasi yang digunakan dalam
titrasi coulometri
Alat pengukur arus Pengukuran waktu Sel coulometrik

• Arus yang digunakan • Sebuah stop-clock • Sel coulometrik terdiri


pada titrasi coulometri listrik dijalankan dengan dari elektrode
biasanya dalam rentang cara membuka dan generator (elektrode
1 hingga 50 mA menutup rangkaian kerja) sebagai tempat
• Arus-arus yang elektrolisis; untuk dihasilkannya titran
konstan dapat pengendalian secara secara listrik dan
diperoleh dengan baik maka perlu elektrode pembantu.
mudah menggunakan dilengkapi dengan rem Elektrode kerja yang
baterai dengan suatu magnetik dimana umum digunakan adalah
tahanan pengatur seri dimulai berjalan dan dari bahan platinum,
berhentinya serempak emas, perak dan
dengan dimulai dan merkurium
dihentikannya arus. • Bagian lainnya adalah
elektrode indikator
yang terdiri dari
sepasang lembaran tipis
platinum
Aplikasi metode coulometri
 Reaksi Karl Fischer
Biasanya reaksi Karl Fischer ini diterapkan
untuk menentukan kadar air dalam bahan-bahan
yang memiliki interaksi khusus dengan air seperti
mentega, gula, keju, kertas dan minyak bumi

 Penentuan Ketebalan suatu Film


Teknik ini dilakukan dengan mengukur energi
listrik yang dibutuhkan untuk melarutkan sampel
bahan pelapis tertentu, di mana ketebalan film
sebanding dengan bobot molekul logam, arus yang
bekerja dan berbanding terbalik dengan masa jenis
logam dan luas permukaan sampel
VOLTAMETRI
DEFINISI
 Pengembangan metode Polarografi
 Pengukuran yang dilakukan adalah
pengukuran arus sebagai fungsi potensial
yang diberikan.
 Perbedaannya dengan polarografi terletak
pada penggunaan elektroda kerja lain
menggantikan elektroda tetes air raksa.
 Dapat digunakan untuk analisis suatu analit
dalam jumlah yang sangat kecil dalam orde
ppb.
(Laidler, 1996).
Elektroda dan elektrolit voltametri

Elektroda kerja

Elektroda pembanding

Elektroda pembantu
Elektroda kerja

Variasi potensial yang


diberikan akan
Tempat terjadi reaksi
memberikan nilai arus
redoks dan analit
yang berbeda tergantung
analit yang dianalisis

Nilai arus diketahui dari


puncak voltamogram
yang diperoleh
Elektroda pembanding

Nilainya tidak
Yang biasa digunakan
bergantung pada jenis
elektroda ag/agcl,
dan komposisi larutan
kalomel jenuh (ekj).
yang diukur

Potensial elektroda
kerja dibandingkan
dengan potensial
elektroda pembanding
Elektroda pembantu

Terbuat dari bahan yang


seperti pt

Digunakan untuk
mengalirkan arus antara
elektroda kerja dan
elektroda pembantu,
sehingga arus dapat
diukur.
 Dalam sel elektrokimia, ketiga elektroda tersebut
dicelupkan dalam larutan yang mengandung
analit maupun pelarut elektrolit non reaktif yang
disebut elektrolit pendukung.

 Elektrolit pendukung dibutuhkan pada analisis


yang dikendalikan oleh potensial untuk
mengurangi tahanan dari larutan dan efek
elektromigrasi serta menjaga kekuatan ion.
Arus yang dihasilkan pada teknik voltametri

Arus difusi

Arus migrasi

Arus konveksi
Perpindahkan materi di dalam larutan :

Perpindahan secara migrasi


• Materi yang bermuatan, karena adanya gaya tarik menarik
elektrostatik, maka materi bermuatan bergerak menuju kutub
dengan muatan yang berlawanan, yakni kation-kation menuju
katoda dan anion-anion menuju anoda.

Perpindahan secara difusi


• migrasi yang dikarenakan adanya suatu gradient konsentrasi.
Partikel-partikel mengalir dari daerah yang lebih rapat (pekat)
menuju daerah yang lebih.

Perpindahan secara konveksi


• Pengaruh temperatur dan goyangan atau pengadukan
menyebabkan partikel berpindah dari tempat ke tempat lain.
Voltametri Denyut (Pulse
Voltammetry)
 Teknik voltametri dengan perekaman arus
dalam waktu yang singkat untuk setiap
pemberian potensial.
 Terdiri dari 2 jenis yaitu : Normal
voltametri denyut dan Diferensial
Voltametri Denyut
Normal Voltametri Denyut
 Sistem ini terdiri dari sederet
pulse(denyut)yang makin tinggi setiap
waktu
Diferensial Voltametri Denyut
 Teknik ini merupakan pengembangan dari
voltametri denyut normal dengan
memodifikasi sistem pembacaan yang
berupa peak grafik turunan pertama.
 Grafik hubungan antara arus dan potensial
akan menghasilkan peak-peak setiap
perubahan arus yang signifikan.
Voltametri Pelarutan
Kembali(Stripping Voltammetry)
 Voltametri pelarutan kembali melibatkan
proses dua tahap:
1. Proses pengendapan pada elektroda
kerja (elektrolisis) dengan potensial
tertentu.
2. Proses pelarutan kembali endapan di
elektroda kerja dengan potensial yang
jauh lebih rendah (proses kebalikan).
Voltametri Siklik(Cyclic
Voltammetry)
 Digunakan untuk mempelajari reaksi
khususnya reaksi elektrokimia seperti reaksi
redoks, reaksi kompleksasi dll.
 Prinsip dasarnya adalah melihat hubungan
antara potensial yang diberikan dan arus yang
terukur.
 Karena sistem ini melibatkan reaksi redoks
di anoda dan katoda maka peristiwa reaksi di
kedua elektroda tersebut dimonitor
besarnya arus yang timbul.
Lanjutan,
 Pengukuran arus listrik dilakukan dengan
rentang potensial awal dan akhir yang
sama.
 Potensial awal diberikan pada awal tidak
terjadi reaksi elektrokimia pada
permukaan elektroda.
 Potensial kemudian dialurkan secara linier
dengan laju tertentu menuju suatu nilai
potensial ketika senyawa aktif mengalami
reaksi reduksi.
Contoh beberapa voltamogram
ELEKTROGRAVIMETRI
METODE ELEKTROGRAVIMETRI
 Komponen yang dianalisis diendapkan pada
suatu elektroda yang telah diketahui beratnya
dan kemudian setelah pengendapan
sempurna kembali dilakukan penimbangan
elektroda beserta endapannya.
 Endapan harus kuat menempel padat dan
halus, sehigga bila dilakukan pencucian,
pengeringan serta penimbangan tidak
mengalami kehilangan berat.
 Selain itu sistem ini harus menggunakan
elektroda yang Inert. Umumnya dipakai
elektroda platine.
Bagian alat elektrogravimetri
Prinsip kerja alat elektrogravimetri
 Voltase dari sumber arus baterai yang
diperlukan untuk elektroda diukur dengan
voltmeter dengan bantuan tahanan geser.
 Katoda berupa gulungan kawat platina,
sedangkan anoda berupa kawat platina
berbentuk spiral.
 Anoda diletakkan tepat di tengan-tengah
gulungan platina katoda untuk memperoleh
medan medan listrik yang merata dan
menghasilkan endapan logam yang seragam
Aplikasi elektrogravimetri
 Pemakaian elektrogravimetri yang paling
sering adalah untuk pemisahan dan analisis
Cu.
 Reaksi yang terjadi:
•Katoda: Cu2+ + 2e → Cu E°= 0,337 V
•Anoda: H+ + e → ½ H2 E°= 0 V

H2O → ½ O2 + 2H+ + 2e E = 1,23 Volt


Reaksi total: Cu2+ + H2O → Cu + ½ O2 +
2H+
Pemisahan Logam-logam secara
elektrolisis
 Pemisahan dua logam secara elektrolisis dapat
dilakukan apabila keduanya mempunyai perbedaan
potensial pengendapan 0,25 V.
 Dalam prakteknya dapat mencapai 0,4 V sehingga
Cu dapat dipisahkan dari Zn, Ni, Co dan Pb. Selain
itu dapat memisahkan Ag dari Cu.
 Apabila harga potensial standarnya hanya berbeda
sedikit maka sukar dipisahkan.
 Jika logam berada pada senyawa kompleks maka
potensial peruraiannya akan naik demikian juga
potensial kelebihannya(over voltage)
Elektrolisis Cu
 Material yang mengandung Cu harus diubah
dulu ke dalam bentuk garamnya kemudian
dilarutkan dengan asam sulfat atau asam
nitrat.
 Pada elektrolisis ini kadar asam tidak boleh
terlalu tinggi karena dapat menyebabkan
endapan yang terjadi sukar melekat.
 Agar endapan mengkilat kadang-kadang
ditetesi dengan HCl.
 Ion nitrat bekerja sebagai depolarisator pada
katoda.
Lanjutan,
 Nitrat yang digunakan harus bebas nitrit
karena adanya nitrit dapat menyulitkan
melekatnya endapan pada katoda.
 Untuk menghilangkan nitrit ke dalam larutan
ditambahkan ureum atau asam sulfamat.
 Kotoran-kotoran yang melekat pada
elektroda harus dibersihkan karena dapat
menyebabkan endapan kusam.
 Arus yang terlalu besar dapat menyebabkan
endapan kasar.
Lanjutan,
 Cara lambat tanpa pengadukan:
Elektrolisis Cu dilakukan pada potensial
2,0-2,5 V, arus 0,3 A. Elektrolisis selama 1
malam untuk Pemisahan Cu sekitar 0,2-
0,5 gram. Untuk mengontrol adanya Cu
digunakan larutan K4(Fe(CN)6. Jika masih
berwarna coklat, elektrolisis dilanjutkan.
 Cara cepat dengan pengadukan:
Elektrolisis dilakukan dengan potensial 3-
4 V arus 0,4-2,0 A. Elektrolisis dilakukan
selama 15-20 menit.
Elektrolisis garam Ni
 Biasanya dibuat garam kompleks dengan
NH4OH.
 [(Ni(NH3)6]2+ ↔ Ni2+ + 6NH3
 Jika berupa larutan garam NiSO4 atau
NiCl selain ditambahkan NH4OH
ditambahkan juga amonium sulfat.
 Kuat arus yang digunakan adalah 4 A,
potensial yang digunakan 3-4 V selama 10
menit.
Elektrolisis garam Ag
 Garam Ag sebaiknya dibuat garam kompleks
misalnya menjadi kompleks sianida.
 Arus yang dipakai 0,2-0,5 A, potensial 3,7-4,0
V pada suhu kamar.
 Pada pemisahan Ag dan Cu, maka sampel
harus dilarutkan terlebih dahulu dengan asam
nitrat berlebih kemudian larutan diuapkan
sampai asam nitrat hilang/kering.
 Larutkan bahan kering tsb dengan KCN
encer kemudian dielektrolisis dengan
potensial 1,5 V.

Anda mungkin juga menyukai