Anda di halaman 1dari 24

KELOMPOK 5

AGUNG FAIZAL
M. RAFI ALFARIZI
MUTI MUTMAINAH
NAWWAR FAUZIYAH H
Adaptasi Bayi Baru Lahir

Bayi baru lahir harus melewati beberapa fase


selama beradaptasi dengan kehidupan diluar
uterus. Masa transisi kehidupan dimulai saat
dilahirkan yaitu ketika janin dirangsang oleh
kontraksi uterus dan perubahan tekanan akibat
pecahnya ketuban. Pada saat lahir pernafasan
harus dimulai. Kondisi ini memicu perubahan
yang sangat hebat.
(Koniak, Martin., Griffin. 2011).
A. SISTEM PERNAFASAN

Penyesuaian paling kritis yang harus dialam


bayi baru lahir ialah penyesuian sistem
pernapasan. Paru-paru bayi cukup bulan
mengandung sekitar 20 mL cairan/ kg. Udara
harus diganti oleh cairan yang mengisi
traktus respiratorius sampai alveoli. Pada
kelahiran pervagina normal, sejumlah kecil
cairan keluar dari trakea dan paru-paru bayi.
B. PERUBAHAN SIRKULALSI

Perubahan anatomis yang terjadi saat lahir berlangsung


dan terdiri atas penutupan beberapa struktur janin dan
penyebaran kembali darah yang mengandung oksigen
ke dalam sirkulasi sama seperti yang terjadi pada
sirkulasi orang dewasa. Karena semua perubahan tidak
segera terjadi secara sempurna, periode konversi ini
disebut suatu periode sirkulasi transisional(Koniak,
Martin., Griffin. 2011).
Terdiri dari :
1. Sistem kardiovaskuler
2. Bunyi dan denyut jantung
3. Volume dan tekanan darah
4. Sistem Hematopoiesis
C. PERUBAHAN SISTEM IMUN

Sel-sel yang menyuplai imunitas bayi


berkembang pada awal kehidupan janin.
Namun, sel-sel ini tidak aktif selama beberapa
bulan. Selama tiga bulan pertama kehidupan,
bayi dilindungi oleh kekebalan pasif yang
diterima dari ibu. Barrier alami, seperti
keasaman lambung atau produkso pepsin dan
tripsin, yang tetap mempertahankan kesterilan
usus halus, belum berkembang dengan baik
hingga tiga atau empat minggu.
 Bayi baru lahir dilahirkan ke lingkungan
yang lebih dingin daripada lingkungan
uterus yang biasa dialaminya. . Banyak
upaya dilakukan untuk mencegah
penurunan suhu ini pada ruang bersalin
dan di ruang perawatan diantaranya :
1. Kehilangan Panas
2. Produksi Panas
3. Pengaturan Suhu
4. Stress Dingin
Sistem saraf pada bayi baru lahir baik secara
anatomi dan secara fisiologis berkembang
sempurna. Semua sistem neuron terbentuk, tetapi
masih banyak yang masih belum matang sampai
beberapa bulan dan beberapa tahun. Oleh karena
itu, bayi baru lahir gerakannya tidak
terkoordinasi, pengaturan suhunya masih labil,
dan kendali terhadap otot-ototnya buruk mereka
mudah sekali “terkejut”, mudah mengalami tremor
pada daerah ektremitas, dsb.
Namun, selama periode bayi baru lahir,
perkembangan mereka cepat. Ketika berbagai
jaras saraf yang mengendalikan otot digunakan,
serabut saraf saling tersambung. Secara bertahap,
pola perilaku yang lebih kompleks muncul, dan
tingkat serebral yang lebih tinggi mulai berfungsi.
Selama masa kehidupan janin, fungsi saluran
gastrointestinal masih terbatas. Janin menelan
cairan amniotic dan suatu material fekal yang
disebut meconium terbentuk. Namun, saluran GI
janin tidak berfungsi untuk proses pencernaan
dan penyerapan zat-zat nutrisi. Pada usia getasi
36 dan 38 minggu, sistem GI telah cukup
matang untuk beradaptasi segera dengan
kehidupan di luar uterus. Berbagai enzim yang
dibutuhkan untuk pencernaan berfungsi aktif,
dan otot-otot serta perkembangan refleks-
refleksnya menyiapkan kemampuan
transportasi makanan (Bucuvalas et al, 1992).
Pada bulan keempat kehidupan janin, ginjal
terbentuk. Di dalam rahim, urin sudah terbentuk
dan dieksresi ke dalam cairan amniotik. Pada
kehamilan cukup bulan ginjal menempati
sebagian besar dinding abdomen posterior.
Letak kandung kemih dekat dinding abdomen
anterior dan kandung kemih merupakan organ
abdomen dan organ pelvis. Pada bayi baru
lahir, hampir semua massa yang teraba di
abdomen berasal dari ginjal.
Dalam 24 jam kelahiran, 92% bayi baru lahir
yang sehat berkemih, tetapi berkemih pertama
kali dapat terjadi tepat setelah dilahirkan dan
tidak bisa diamati.
Selama kehidupan janin, hati memiliki
peran penting dalam pembentukan
darah. Diperkirakan bahwa fungsi ini
berlanjut sampai derajat tertentu setelah
lahir. Selanjutnya pada periode neonatus,
hati memproduksi zat-zat yang penting
untuk koagulasi darah (Koniak, Martin.,
Griffin. 2011).
KONSEP PEMERIKSAAN FISIK BBL

Karakteristik biologis terlihat melalui


pengkajian fisik. Temuan rata-rata,
variasi normal, dan deviasi dari nilai
normal. Temuan ini menjadi data
dasar untuk melakukan proses
perawatan pada bayi baru lahir (dan
keluarganya).
ASUHAN KEPERAWATAN BAYI BARU
LAHIR
Bayi baru lahir memerlukan observasi cermat
dan terampil untuk memastikan apakah telah
tercapai penyesuaian yang memuaskan
terhadap kehidupan ekstrauterin. Pekajian fisik
setelah kelahiran dapat dibagi menjadi empat
fase :
1. Pengkajian awal menggunakan sistem skoring
APGAR
2. Pengkajian usia gestasional
3. Pengkajian transisi selama periode reaktivitas
4. Pemeriksaan fisik sistematis (Wong, Dona L.,
dkk. 2008).
1. PENGKAJIAN
1) Pengkajian Awal : Skoring APGAR
2) Pengkajian Klinis Usia Gestasional
3) Pengkajian transisi selama periode
reaktivitas
a) Periode reaktivitas
b) Pengkajian tingkah laku
4) Pemeriksaan fisik sistematis
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan
pada bayi baru lahir adalah sebagai berikut.
1. Ketidak efektifan pembersihan jalan napas b.d
mucus berlebihan, pengaturan posisi yang tidak
memadai
2. Risiko terjadinya perubahan suhu tubuh b.d
pengendalian suhu yang imatur, perubahan
suhu lingkungan
3. Resiko infeksi atau inflamasi b.d defisiensi
pertahanan imunologis, faktor lingkungan,
penyakit maternal
4. Resiko trauma b.d ketidak berdayaan fisik
5. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
(risiko) b.d imaturitas, defisit pengetahuan
orangtua
1. Ketidak efektifan pembersihan jalan napas
b.d mukus berlebihan, pengaturan posisi
yang tidak memadai
Tujuan: Bayi akan mempertahankan patensi
jalan napas,
Dengan kriteria hasil:
1. Jalan napas tetap paten
2. Napas teratur dan mudah
3. Respirasi dalam batas normal
Intervensi/ Rasional
1. Lakukan pengisapan mulut dan nasofaring dengan alat pengisap sesuai
kebutuhan. Tekan balon sebelum dimasukkan dan isap faring, kemudian
hidung. Untuk mencegah aspirasi cairan.
2. Dengan pengisap mekanis, batasi setiap upaya pengisapan hingga 5 detik,
dengan selang waktu yang cukup antara 2 isapan. Untuk memungkinkan
reoksigenasi.
3. Posisikan bayi ke samping kanan setelah disusui. Untuk mencegah aspirasi.
4. Posisikan bayi telentang selama tidur. Untuk mrngurangi risiko sindrom
kematian bayi mendadak.
5. Lakukan sesedikit mungkin prosedur pada bayi di jam pertama dan sediakan
okesigen agar siap setiap saaat apabila terjadi distress respirasi.
6. Ukur TTV yang sesuai dengan kebijakan intitusional dan lakukan lebih serng,
jika diperlukan.
7. Periksa adanya tanda distress respirasi dan laporkan segera hal-hal yang
menyangkut:
• Apnea, Takipnea, Grunting, mengorok, Suara napas abnormal, Cuping
hidung, Sianosis atau palor, Retraksi
8. Pasanglah popok, pakaian, dan selimut dengna longgar. Untuk
memungkinkan ekpansi paru (abdomen) yang maksimal dan mencegah
overheating (kepanasan yang berlebihan).
9. Bersihkan lubang hidung dari sekresi yang berkerak selama mandi atau ketika
perlu.
10. Periksalah patensi lubang hidung.
1. Mempertahankan Patensi Jalan Nafas
2. Mempertahankan Kestablian Suhu
Tubuh
3. Lingkungan yang Protektif
4. Mendukung Orangtua Dalam
Perawatan Bayi Mereka
 Vinni : sistem hematopoiesis, apa ada
maslah bila kurang atau lebih?
 Yusti : penyebab bayi meninggal
mendadak?
 Dian : penyebab dari bayi kaget,
apakah itu normal atau tidak?
 Indri : cara mengetahui hematopoiesis
(hb, ht, trombosit) pada bayi baru lahir?