Anda di halaman 1dari 27

Oleh

Julieta Sari 1411212058


Epidemiologi dan Biostatistika
 Konsep studi eksperimen
 Tujuan studi eksperimen
 Kharakteristik studi ekperimen
 Cara mengontrol penelitian eksperimen
 Kelebihan studi eksperimen
 Kekurangan studi eksperimen
 Macam-macam studi eksperimen
 Tipe studi eksperimen
 Analisa data
 Menurut Solso & MacLin (2002), penelitian eksperimen adalah suatu
penelitian yang di dalamnya ditemukan minimal satu variabel yang
dimanipulasi untuk mempelajari hubungan sebab-akibat. Oleh
karena itu, penelitian eksperimen erat kaitanya dalam menguji suatu
hipotesis dalam rangka mencari pengaruh, hubungan, maupun
perbedaan perubahan terhadap kelompok yang dikenakan perlakuan
 studi eksperimental, peneliti meneliti efek intervensi dengan cara
memberikan berbagai level intervensi kepada subjek penelitian dan
membandingkan efek dari berbagai level intervensi itu.Kelompok
subjek yang mendapatkan intervensi disebut kelompok
eksperimental (kelompok intervensi). Kelompok subjek yang tidak
mendapatkan intervensi atau mendapatkan inter-vensi lain disebut
kelompok kontrol. Kelompok kontrol mendapatkan intervensi kosong
(plasebo, sham treatment), intervensi lama (standar), atau intervensi
dengan level/ dosis yang berbeda.
 efek intervensi diteliti dengan cara memberikan berbagai level
intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek dari
berbagai level intervensi itu.
 Dose-response relationship yang ditunjukkan oleh berbagai level
intervensi memperkuat bukti kausal efek intervensi
 Kelompok subjek yang mendapatkan intervensi disebut kelompok
eksperimental (kelompok intervensi). Kelompok subjek yang tidak
mendapatkan intervensi atau mendapatkan intervensi lain disebut
kelompok kontrol.
 Sinonim: Intervensi= perlakuan = treatment
 Dalam epidemiologi dikenal eksperimen alamiah(“natural
experiment”). Dengan eksperimen alamiah peneliti hanya mengamati
efek intervensi yang telah diberikan oleh pihak lain, bukan oleh
peneliti sendiri. Penyelidikan wabah kolera yang dilakukan John Snow
di London merupakan contoh “natural experiment”. Karena peran
peneliti bersifat observasional, maka “natural experiment” hakikatnya
identik dengan studi kohor prospektif (Rothman, 2002).
 Pada studi eksperimental bertujuan untuk mengukur efek dari
suatu intervensi terhadap hasil tertentu yang diprediksi
sebelumnya.Desain ini merupakan metode utama untuk
menginvestigasi terapi baru.. Misal, efek dari obat X dan obat
Y terhadap kesembuhan penyakit Z atau efektivitas suatu
program kesehatan terhadap peningkatan kesehatan
masyarakat
 Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimen diatur secara
tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan
kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (acak).
 Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk
dibandingkan dengan kelompok eksperimen.
 Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk
memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis
penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang
mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi
tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan
variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu,
sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan
subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak.
 Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada
rancangan penelitian eksperimen, untuk mengetahui apakah
manipulasi eksperimen yang dilakukan pada saat studi ini
memang benar-benar menimbulkan perbedaan.
 Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan
bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan
berkaitan pula dengan menggeneralisasikan pada kondisi
yang sama.
 Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel
perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau
dibiarkan bervarias
 Dalam eksperimen, peneliti mengontrol kondisi penelitian untuk
meningkatkan validitas internal, yaitu agar kesimpulan yang ditarik
tentang efek intervensi memang merupakan efek yang
sesungguhnya dari intervensi tersebut. Terdapat lima cara
mengontrol kondisi penelitian:
 (1) Memberikan gradasi intervensi yang berbeda  Pertama,
peneliti memberikan berbagai level intervensi kepada subjek
penelitian agar dapat mempelajari efek dari pemberian berbagai
level intervensi itu. Pendekatan ini merupakan implementasi
metdologis inferensikausal dalam kriteria kausasi Hill yang disebut
“dose-response relationship”(hubungan dosis-respons)
 2) Melakukan randomisasi;  peneliti menerapkan prosedur randomisasi
dalam mengalokasikan (menempatkan) subjek penelitian ke dalam
kelompok eksperimental dan kelompok kontrol. Dengan prosedur
random maka hanya faktor peluang (chance) yang menentukan subjek
penelitian akan terpilih ke dalam kelompok ekspermental atau kelompok
kontrol, bukan kemauan subjektif peneliti.
 (3) Melakukan restriksi; sebagai alternatif randomisasi, pengaruh
faktor perancu dapat dikendalikan dengan restriksi. Dengan restriksi
peneliti menerapkan kriteria inklusi dan eksklusi dalam memilih subjek
penelitian, sehingga semua subjek penelitian pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol memiliki level atau kategori faktor
perancu yang sama.Karena level atau kategori faktor perancu sama
antara kelompok eksperimental dan kelompok kontrol, maka sampai
pada tingkat tertentu restriksi dapat mengontrol pengaruh faktor
perancu
(4) Melakukan “pembutaan” (blinding)  Dengan pembutaan, subjek
penelitian, pengamat, dan penganalisis data dibuat tidak mengetahui
status intervensi subjek yang diteliti, atau status intervensi yang diberikan
kepada subjek penelitian (apakah intervensi yang sesungguhnya atau
plasebo/ obat standar). Pembutaan bertujuan untuk mencegah bias
informasi (bias pengukuran,“information/measurement bias”).
(5) Melakukan “intention-To-treatanalysis”  untuk mempertahankan efek
randomisasi dalam mengontrol kerancuan, data dari RCT hendaknya
dianalisis dengan “intention-to-treat analysis”(ITT). Dengan ITT, semua
subjek hasil randomisasi, baik yang mematuhi protokol penelitian maupun
tidak (misalnya, ketidakpatuhan minum obat), baik yang menyelesaikan
intervensi maupun drop out, dilakukan analisis. Jadi hasil ITT
mencerminkan hasil randomisasi dan menunjukkan efektivitas
(effectiveness) intervensi ketika diterapkan pada populasi yang
sesungguhnya
 Evaluasi perlakuan dalam situasi terkontrol (randomisasi),
kelompok-kelompok yang dibandingkan identik, sehingga
memberikan bukti kausal kuat.
 Sekuensi temporal bahwa perlakuan mendahului akibat jelas.
 Dapat dilakukan validasi data, karena data dikumpulkan
bersamaan dengan berlangsungnya studi (concurrent data).
 Harus ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol
 Sampelnya tidak besar
 Dilakukan dilaboratorium sehingga kemampuan
generalisasinya rendah
 Masalah etika memberikan perlakuan yang dihipotesiskan
merugikan, atau tidak memberikan perlakuan yang
bermanfaat
 Jika ukuran sampel terlalu kecil, randomisasi gagal
mengontrol faktor perancu, dan presisi estimasi rendah.
 Tujuan randomisasi tak tercapai jika hanya dilakukan
pada subjek yang memenuhi syarat eligibilitas atau
memberikan respons baik.
 Jika waktu perlakuan terlalu pendek, RCT tidak mampu
menunjukan efek perlakuan yang sesungguhnya
 Melakukan kajian secara induktif yang berkait erat dengan
permasalahan yang hendak dipecahkan.
 Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
 Melakukan studi literatur dan beberapa sumber yang relevan,
memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan variabel,
dan merumuskan definisi operasional dan definisi istilah.
 Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup
kegiatan:
a) Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan,
tetapi memungkinkan terjadinya kontaminasi proses
eksperimen.
b) Menentukan cara mengontrol.
c) ` Memilih rancangan penelitian yang tepat.
d) Menentukan populasi, memilih sampel (contoh) yang
mewakili serta memilih sejumlah subjek penelitian.
e) Membagi subjek dalam kelompok kontrol maupun
One-shot case studi
Pre
eksperimental
One group pretest-postest

Intec-group comparison

True
eksperiemen Posttest only control design
Mcam-macam
desain
eksperimen Pretest-control group design

Quasi
Time-series design
eksperimen

Nonequivalent control group


design
 Dikatakan pre eksperimen karena masih terdapat variabel luar
yang ikut berpegaruh terhadap terbentuknya variabel
dependen, jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel
dependen itu buka semata-mata dipengaruhi oleh variabel
independen. Hal ini dapat terjadi karena tidak adanya variabel
kontrol dan sampel tidak dipilih secara random
 Dikatakan eksperimen yang sebenarnya, karena dalam
desaign ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar
yang mempengarui jalannya eksperimen validitas internal
tinggi
 Cir-ciri true eksperimen:
Sampel yang digunakan untuk eksperimen maupun sebagai
kelompok kontrol diambil secara random dan populasi tertentu
adanya kontrol dan sampel yang dipilih secara random
 Memiliki kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi
sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen
 Digunakan untuk pada kenyataannya sulit mendapatkan
kelompok kontrol yang digunakan untuk penelitian
 Desain eksperimen yang alokasi subjek penelitian ke dalam
kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan
dengan randomisasi (non-randomized experiment)
 Namanya juga kuasi, artinya menyerupai RCT, bukti efek
perlakuan yang dihasilkan desain ini memiliki validitas lebih
rendah daripada RCT
 Sampel untuk penelitian eksperimen yang sederhana yang
menggunkan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol,
maka jumlah anggota sampel masing-masing antara 10-20
 Beda dua kelompok, variabel hasil berskala kontinu: uji t
 Beda sejumlah kelompok, variabel hasil berskala kontinu: uji F
(Anova)
 Beda dua atau lebih kelompok, variabel hasil berskala
dikotomi/ kategorikal: Chi Kuadrat
 Pengaruh confounding factor pasca randomisasi dikontrol
dengan analisis multivariat (model regresi linier ganda, atau
regresi logistik ganda)
 Murti, Bhisma. Desain studi. Matrikulasi Program Studi
Doktoral Kedokteran-FKUNS.pdf
 Sugiyono.2003.Metode Penelitian Administrasi.Bandung: CV
Alfabeta
 Sugiyono, Dr. 2010. Metode penelitian Kuantitatif Kualitatif
dan R&D, Penerbit Alfabeta
 Sukardi, 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta :
Bumi Aksara
 Judul : Pengaruh Konseling Kesehatan Reproduksi
Remaja Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Seksual
Remaja (Studi Di Sman 1 Margahayu Bandung
 Tujuan : Mengetahui bagaimana pengaruh konseling
kesehatan remaja (KRR) terhadap pengetahuan dan
sikap seksual remaja
 Metode : Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
adalah kuasi eksperimen, yaitu eksperimen yang dalam mengontrol
situasi penelitian dengan penunjukan subjek secara nir-acak untuk
mendapatkan salah satu dari berbagai tingkat faktor penelitian
(Murti, 1997).
 Jenis desain eksperimen kuasi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah disain sesudah dan sebelum dengan kontrol ( pretest and
posttest design with non equivalent group). Skema rancangan
adalah sebagai berikut:
 Populasi dan sampel ; Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa
Margahayu Kabupaten Bandung yang berjumlah765 siswa. Siswa yang
mengikuti kegiatan ekstrakurikuler kesehatan reproduksi adalah 61 siswa
dijadikan sebagai eksperimen dan sebagai pembanding menggunakan
siswa yang tidak mengikuti ekstrakulikuler sebanyak 61 siswa.
 Uji statistik : menggunakan uji Mann-Whitney Test.
 Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : EGC
 Timmreck, Thomas C. 2004. Epidemiologi : Suatu Pengantar. Jakarta : ECG
 Notoadmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta