Anda di halaman 1dari 35

DIET PADA PENYAKIT HATI &

KANDUNG EMPEDU

OLEH :

IIH SUPIASIH, SKM, MARS


GBMK :

Penerapan Terapi Diet pada pasien


dengan penyakit hati, kandung
empedu, pankreas (Hepatitis, Sirosis
Hati, Koma Hepaticum, Pankreatitis,
Cholecystitis, dan Cholelitiasis)
TIU :

Mampu menerapkan Terapi Diet pada


pasien dengan penyakit hati, kandung
empedu, pankreas (Hepatitis, Sirosis
Hati, Koma Hepaticum, Pankreatitis,
Cholecystitis, dan Cholelitiasis)
POKOK BAHASAN :

1. Pengertian & penjelasan singkat


tentang patofisiologi
2. Pengkajian data subyektif & obyektif,
meliputi : antropometri, riwayat gizi,
biokimia klinis/fisik, pengobatan dan
penunjang lainnya, serta membuat
kesimpulan.
3. Perencanaan Terapi Diet :

a. Menghitung kebutuhan gizi dengan


mempertimbangkan interaksi obat dan
keadaan gizi.
b. Menyusun tujuan dan syarat diet (termasuk
bahan makanan yang boleh & tidak boleh)
c. Menyusun menu
d. Membuat rencana penyuluhan / konsultasi
gizi
e. Membuat rencana monitoring terapi diet
4. Pelaksanaan Terapi Diet :

Menyajikan makanan sesuai dengan


kebutuhan gizi pasien ( persiapan,
pemasakan, penyajian, evaluasi hasil
meliputi: besar porsi, cita rasa,
tekstur, warna dan penampilan)
5. Monitoring Hasil Terapi Diet :

a. Indikator status gizi (antropometri,


biokimia, klinis/fisik)
b. Data asupan zat gizi
c. Data pengobatan dan pemeriksaan
penunjang lainnya
d. Membuat kesimpulan hasil terapi
untuk tidak lanjut
Patofisiologis :

HATI :
Salah satu alat tubuh penting,
terletak disebelah rongga perut
kanan bagian atas berhadapan
dengan lambung & duodenum yang
berperan dalam metabolisme KH,
Lemak, dan Protein.
FUNGSI HATI :

- Memproses & menyimpan makanan dalam


bentuk tertentu.
-Tempat penyimpanan mineral berupa zat
besi dan tembaga yang dibutuhkan untuk
pembentukan sel darah merah serta vitamin
yang larut lemak.
-Mengatur volume dan sirkulasi darah
-Detoksifikasi obat-obatan dan racun
Dua jenis Penyakit Hati :

1. HEPATITIS
2. SIROSIS HATI
HEPATITIS :
Peradangan hati yang disebabkan oleh
keracunan toksin tertentu / infeksi virus.
Bersifat akut / kronis, disertai : anoreksia,
demam, rasa mual & muntah, serta
joundice (kuning)
SIROSIS HATI :
Kerusakan hati yang permanen,
disebabkan oleh Hepatitis Kronis, alkohol,
penyumbatan saluran empedu, dan
berbagai kelainan metabolisme.
Jaringan hati secara merata rusak akibat
pengerutan & pengerasan (fibrotik)
sehingga fungsinya terganggu.
Gejalanya :

Kelelahan, kehilangan BB, penurunan daya


tahan tubuh, gangguan pencernaan, dan
joundice, dalam keadaan berat disertai
asites, hipertensi portal, dan hematomesis
melena, serta koma hepatik.
Tujuan Diet :

Untuk mencapai & mempertahankan


status gizi optimal tanpa
memberatkan fungsi hati, dengan
cara :
-Meningkatkan regenerasi jaringan hati dan
mencegah kerusakan lebih lanjut dan/atau
meningkatkan fungsi jaringan hati yang tersisa
-Mencegah katabolisme protein
-Mencegah penurunan BB/ meningkatkan BB yang
kurang
-Mencegah / mengurangi asites, varises esofagus,
dan hipertensi portal
-Mencegah koma hepatik
Syarat Diet :
-Energi tinggi (40-45 Kkal/kg BB), untuk mencegah
pemecahan protein
-Lemak cukup (20-25 %) dari kebutuhan energi
total, dalam bentuk mudah cerna. Pemberian
lemak sebanyak 45 gr dapat mempertahankan
fungsi imun dan proses sintetis lemak.
-Protein agak tinggi (1,25-1,5 gr/kg BB), agar
terjadi anabolisme protein
Pada kasus Hepatitis Fulminan dengan
nekrosis dan gejala ensefalopati yang
disertai peningkatan amoniak dalam
darah, protein dibatasi untuk mencegah
koma, yaitu 30-40 gr/hari.
Pada Sirosis Hati terkompensasi, protein
diberikan 1,25 gr/kg BB. Asupan minimal
protein 0,8 – 1 gr/kg BB.
Lanjutan Syarat Diet ……

-Vitamin dan mineral diberikan sesuai tingkat


defisiensinya.
-Natrium diberikan rendah bila ada edema &
asites
-Cairan diberikan lebih dari biasa, kecuali bila ada
kontraindikasi.
-Bentuk makanan lunak / biasa, sesuai
kemampuan.
Jenis Diet & Indikasi Pemberian :
DIET HATI I :
- Diberikan pada pasien akut/prekoma sudah
dapat diatasi & sudah ada nafsu makan
-Bentuk makanan cincang/lunak, sesuai keadaan
pasien
-Protein dibatasi (30 gr/hari), Lemak diberikan
dalam bentuk mudah cerna
-Formula enteral dengan asam amino rantai
cabang yaitu: leusin, isoleusin, dan valin dapat
digunakan.
-Garam dibatasi sesuai beratnya retensi garam/air
DIET HATI II :
- Diberikan sebagai perpindahan dari DH I yang
sudah ada nafsu makan
-Bentuk makanan lunak/biasa, sesuai keadaan
pasien
-Protein diberikan 1 gr/kg BB, Lemak sedang (20-
25% dari energi total) dalam bentuk mudah cerna
-Menurut beratnya retensi garam/air, diberikan
Diet DH II Garam Rendah.
-Bila asites hebat dan diuresis belum baik,
diberikan Diet Garam Rendah I
DIET HATI II :
- Diberikan sebagai perpindahan dari DH II dan
nafsu makannya sudah membaik
-Bentuk makanan lunak/biasa, sesuai keadaan
pasien
-Mengandung cukup energi, protein, lemak,
mineral, dan vitamin tapi tinggi karbihidrat.
-Menurut beratnya retensi garam/air, diberikan
Diet DH III Garam Rendah I.
Bahan Makanan yang Dibatasi :

-Bahan makanan tinggi lemak :


daging berlemak, santan
-Bahan makanan yang mengandung
gas : ubi, kol, sawi, durian, nangka
PENYAKIT KANDUNG EMPEDU

1. Kolelitiasis
2. Kolesistitis
Kolelitiasis :

Terbentuknya batu empedu yang bila


masuk kedalam saluran empedu
menimbulkan penyumbatan dan
kram.
Ada 2 jenis batu empedu :
Batu kolesterol & batu pigmen
Faktor resiko batu kolesterol :
Gender wanita, kegemukan, faktor
etnis, obat-obatan, dan penyakit
saluran cerna.

Faktor resiko batu pigmen :


BB kurang, asupan lemak & protein
kurang, serta Sirosis Hati
Kolesistitis :
Peradangan kandung empedu,
sebagai akibat adanya batu empedu
yang menyumbat saluran empedu.

Penyakit ini dapat disertai joundice


(ikterus), karena cairan empedu yang tidak
bisa masuk ke saluran cerna berubah
warna menjadi bilirubin yg berwarna
kuning dan masuk ke peredaran darah.
Tujuan Diet :
Untuk mencapai dan mempertahan
kan status gizi optimal dan memberi
istirahat pada kandung empedu,
dengan cara :
- Menurunkan BB bila kegemukan secara bertahap
-Membatasi makanan yg menyebabkan kembung
atau nyeri abdomen
-Mengatasi malabsorbsi lemak
Syarat Diet :
-Energi sesuai kebutuhan, bila kegemukan
diberikan Diet Rendah Energi secara bertahap.
-Protein diatas normal (1-1,25 gr/kg BB)
-Keadaan akut, lemak tidak diberikan
-Keadaan kronis, lemak 20-25% dari energi total
-Serat tinggi, terutama dalam bentuk pektin yg
dapat mengikat kelebihan asam empedu dalam
saluran cerna
-Hindari b.m yg dapat menimbulkan gas
Jenis Diet & Indikasi Pemberian :

DIET LEMAK RENDAH I :


- Diberikan kepada pasien kolelitiasis &
kolesistitis dengan kolik akut
-Makanan diberikan berupa buah-buahan
& minuman manis
-Makanan ini rendah zat gizi, sebaiknya
diberikan selama 1-2 hari saja.
DIET LEMAK RENDAH II :
-Diberikan secara berangsur bila keadaan
akut sudah dapat diatasi, mual sudah
berkurang, atau pada penyakit saluran
empedu kronis yg terlalu gemuk.
-Makanan diberikan dalam bentuk cincang,
lunak atau biasa, sesuai keadaan pasien
-Makanan ini rendah energi, kalsium, dan
thiamin.
DIET LEMAK RENDAH III :
-Diberikan kepada pasien penyakit kandung
empedu yg tidak gemuk dan cukup
mempunyai nafsu makan secara berangsur
bila keadaan akut sudah dapat diatasi, mual
sudah berkurang, atau pada penyakit saluran
empedu kronis yg terlalu gemuk
-Makanan diberikan dalam bentuk lunak atau
biasa, sesuai keadaan pasien
-Makanan ini cukup energi dan semua zat gizi.
Makanan yang tidak dianjurkan :

Semua makanan dan daging yang


mengandung lemak, gorengan, dan
yang menimbulkan gas.
Cara memesan Diet :

Diet Lemak Rendah I / II / III


( DLR I / II / III )

Jakarta; April 2010


STUDI KASUS I:
Tn.A, usia 46 th, seorang pegawai swasta, dirawat di RS karena
kondisi lemah, anorexia, mual, demam, diare dan pembesaran
hati. Diagnose sementara dokter, Tn. B menderita penyakit
Hepatitis.
Hasil Laboratorium : Hb : 10.5 gr/dl, Albumin: 3,2 gr/dl,
Erythrocyt: 3 jt/mm3.
Hasil Antropometri : TB : 159 cm, BB : 50 kg, Suhu: 39 derajat C.
Hasil anamnesa gizi : Energi : 1500 Kkal, Protein : 40 gr, Lemak :
35 gr, HA : 256 gr.
-Buat catatan pelayanan gizi dengan format SOAP
-Terapkan diet yang sesuai dan susun menu sehari sesuai
kebutuhan
-Rencanakan penyuluhan & konsultasi dietnya.
STUDI KASUS II:
Ny.B, usia 46 th, seorang ibu RT, dirawat di RS karena kondisi
lemah, mual, demam, perut kembung dan joundice. Diagnose
sementara dokter, Ny. B menderita penyakit Kolesistitis
Hasil Laboratorium : Hb : 9.5 gr/dl, Albumin: 3,2 gr/dl,
Erythrocyt: 3 jt/mm3.
Hasil Antropometri : TB: 154 cm, BB : 65 kg, Suhu: 39 derajat C.
Hasil anamnesa gizi : Energi : 1900 Kkal, Protein : 45 gr, Lemak :
45 gr, HA : 276 gr.
-Buat catatan pelayanan gizi dengan format SOAP
-Terapkan diet yang sesuai dan susun menu sehari sesuai
kebutuhan
-Rencanakan penyuluhan & konsultasi dietnya.