Anda di halaman 1dari 50

AKUNTANSI PAJAK

Pertemuan 1
PEMBUKUAN DALAM PERSPEKTIF
PERPAJAKAN
• Definisi Akuntansi & Akuntansi Perpajakan
• Pembukuan dalam Perspektif Pajak
– Pasal 28 UU No. 28 tahun 2007 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
• Stelses Kas dan Stelsel Akrual Dalam
Pembukuan
• Siklus Akuntansi

2
Definisi Akuntansi

“Accounting is a service activity. Its


function is to provide quantitative
information, primarily financial in nature,
about economic entities that is intended to
be useful in making economic decisions—
in making reasoned choices among
alternative courses of action.” (Statement
of the Accounting Principles Board No. 4,
p. 40)
Conceptual Framework of
Accounting

Objectives
of Financial
Reporting

Qualitative Elements
Characteristics of Financial
of Information Statements
Accounting

Recognition and Measurement Concepts

Assumptions Principles Constraints


Qualitative Characteristics of
Accounting Information
Decision
Makers

Benefits > Cost

Understandability

Decision
Usefulness

Relevance Reliability

Predictive Feedback Timeliness Verifiability Representational


Value Value Faithfulness

Neutrality

Comparability
(including
Consistency)

Materiality
PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DAN AKUNTANSI
PERPAJAKAN
 Prinsip, prosedur, metode dan teknik akuntansi yang
mengatur penyusunan Laporan Keuangan  Standar
Akuntansi Keuangan
 Fungsi akuntansi adalah menyajikan data kuantitatif yang
akan digunakan dalam pengambilan keputusan  harus
memenuhi tujuan kualitatif:
 Relevan
 Dapat dimengerti
 Daya Uji
 Netral
 Tepat Waktu
 Daya Banding
 Lengkap
 Batasannya: 1) manfaat lebih besar dari beban, 2) Material
(cukup berarti).
6
Recognition, Measurement,
and Reporting

Assumptions Constraints
• Cost-Benefit
• Economic Entity
• Materiality
• Going Concern
• Industry Practice
• Arm’s-Length
• Conservatism
Transactions Principles
• Monetary Unit • Historical Cost
• Periodicity • Revenue
Recognition
• Matching
• Full Disclosure

Recognition and Measurement Concepts


PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DAN AKUNTANSI
PERPAJAKAN
a) Kesatuan Ekonomi (harus ada pemisahan yg jelas antara
perusahaan dengan pemilik);
b) Kesinambungan Usaha (Going Concern)  Historical Cost
dan Periodisasi;
c) Harga Pertukaran yang Obyektif/Wajar  Arm’s-length
Price, tidak dipengaruhi hubungan istimewa, tidak ada
transfer pricing;
d) Mempertemukan pendapatan dan beban yang paling tepat
berdasarkan Stelsel Akrual  Untuk tujuan perpajakan,
stelsel akrual dan stelsel cash modified (campuran) diakui
untuk penghitungan penghasilan dan biaya kena pajak;
e) Konsisten  jika ada perubahan metode akuntansi /
pembukuan harus diungkapkan dalam laporan keuangan 
secara fiskal harus mendapat persetujuan dari Direktur
Jenderal Pajak.

8
What About Conservatism?
The concept of conservatism can be
summarized as follows: When in
doubt, recognize all losses but don’t
recognize any gains.
Recognition, Measurement,
and Reporting
Measurement
1. Historical cost
2. Current replacement cost
3. Current market value
4. Net realizable value
5. Present (or discounted) value
DEFINISI AKUNTANSI PERPAJAKAN

Niswonger dan Fees (Accounting Principles,


2007):
Akuntansi perpajakan dirumuskan sebagai
bagian dari akuntansi yang menekankan
kepada penyusunan surat pemberitahuan
pajak (tax return) dan pertimbangan
konsekuensi perpajakan terhadap transaksi
atau kegiatan perusahaan dalam rangka
pemenuhan kewajiban perpajakan (tax
compliance).
11
Major Internal and External
Stakeholder Groups

Investors
Government
Community
Board of Directors
Analysts Management Suppliers
Employees
Customers Employees

Creditors

12
Definisi Pajak
Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H.

• Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat
dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal balik (kontraprestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran
umum

S.I. Djajadiningrat

• Pajak merupakan kewajiban menyerahkan sebagian dari kekayaan ke kas negara


yang disebabkan suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan
kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang
ditetapkan pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal
balik dari negara secara langsung, untuk memelihara kesejahteraan secara umum

Dr. N. J. Feldman

• Pajak adalah prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada
pengguna (menurut norma-norma yang ditetapkannya secara umum), tanpa
adanya kontraprestasi, dan semata-mata digunakan untuk menutup pengeluaran-
pengeluaran umum.
Sistem Pemungutan Pajak

Sistem
Official
Assesment
Sistem Official Assesment
 Merupakan sistem pemungutan pajak yang
memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus)
untuk menentukan besarnya pajak terutang.
 Ciri-ciri:
 Wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang
terutang berada pada fiskus.
 Wajib pajak bersifat pasif

 Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat


ketetapan pajak oleh fiskus
Sistem Self Assessment
 Merupakan sistem pemungutan pajak
yang memberi wewenang,
kepercayaan, tanggung jawab kepada
Wajib Pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar, dan
melaporkan sendiri besarnya pajak
yang harus dibayar.
 Contoh:
 PPh Orang Pribadi
 PPh Badan
Sistem Withholding
 Sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang
kepada pihak ketiga untuk memotong atau
memungut besarnya pajak yang terutang oleh
Wajib Pajak
 Contoh:
 PPh 21
 PPh 22

 PPh 23
Jenis-jenis Pajak
 Perusahaan di Indonesia dikenakan beberapa
macam pajak. Antara lain yaitu:
 Pajak Penghasilan (PPh)
 Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

 Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)

 Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

 Pajak Reklame

 Pajak Tontonan

 dll

Created by DKS
Hubungan Akuntansi dengan Pajak

Data
Akuntansi

Pajak

Pajak
Penghasilan
yang Dibayar
Laporan Akuntansi & Pajak

SPT (Surat Laporan


Pemberitahuan Keuangan
Pajak) Tahunan
Perbandingan SPT Tahunan PPh Badan dan Laporan Keuangan Komersial
NO ASPEK SPT TAHUNAN PPh BADAN LAPORAN KEUANGAN

1 Pengguna Fiskus Berbagai pengguna (Multi Users)


2 Sifat Informasi Rahasia Dapat digunakan oleh umum, khususnya untuk
laporan keuangan listed company.
3 Pedoman Udang-Undang Perpajakan dan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU):
Penyusunan Peraturan Pelaksanaannya PSAK, Interpretasi PSAK, Peraturan Pemerintah
untuk Industri, IFRS, buletin teknis, pedoman
atau praktik konvensional, hasil riset dan
pendapat ahli.
4 Mata Uang Wajib dalam Rupiah dan mata Dapat menggunakan mata uang lain selain
Pelaporan uang US$ sepanjang memperoleh Rupiah. Jika laporan keuangan disajikan dalam
izin dari otoritas pajak terkait. mata uang selain mata uang fungsionalnya,
laporan keuangan harus lebih dahulu dilakukan
remeasurement.
5 Dasar Transaksi dicatat dan dilaporkan Transaksi dicatat dengan asas substance over
Pencatatan apabila memenuhi syarat dan form.
Transaksi ketentuan perpajakan. Transaksi
dicatat dengan mengutamakan
hakikat formal atau hukum
daripada substansinya.
6 Batas Waktu Disampaikan paling lambat 4 bulan Pasal 66 (1) UU No.40 Tahun 2007 “Perseroan
Penyampaian setelah akhir tahun pajak dan Terbatas”, Direksi menyampaikan laporan
dapat melakukan perpanjangan tahunan kepada RUPS setelah ditelaah oleh
paling lama 2 bulan. Dewan Komisaris dalam jangka waktu 6 bulan
setelah tahun buku Perseoran berakhir.
Sumber: Marisi P. Purba, Akuntansi Pajak Penghasilan,2009, hal.3-4.
SIKLUS AKUNTANSI & FISKAL

Dokumen Jurnal
Buku Besar Neraca saldo
Sumber transaksi

Laporan
Rekonsiliasi SPT Tahunan
Keuangan
Fiskal PPh Badan
(Laba Rugi)

Koreksi Fiskal

Perbedaan temporer Perbedaan permanen


PSAK 46
(koreksi positif/negatif) (koreksi positif/negatif)
Penentuan Penghasilan Kena Pajak

Pencatatan Pembukuan

~ DKS ~
Pembukuan Vs Pencatatan

Pembukuan Pencatatan

• Pembukuan adalah suatu proses • Pencatatan yaitu pengumpulan


pencatatan yang dilakukan secara data secara teratur tentang
teratur, untuk mengumpulkan data peredaran bruto dan atau
dan informasi keuangan yang penghasilan bruto sebagai dasar
meliputi harta, kewajiban, modal, untuk menghitung jumlah pajak
penghasilan dan biaya, serta yang terutang termasuk
jumlah harga perolehan dan penghasilan yang bukan objek
penyerahan barang atau jasa, pajak dan atau yang dikenakan
yang ditutup dengan menyusun pajak yang bersifat final
laporan keuangan berupa neraca
dan laporan laba rugi pada
setiap tahun pajak berakhir.

~ DKS ~
Pembukuan

~ DKS ~
PENGERTIAN PEMBUKUAN
Pasal 1 angka 29 UU KUP

Proses Pencatatan secara teratur untuk mengumpulkan


DATA dan INFORMASI KEUANGAN

MELIPUTI
 Harta
 Kewajiban
 Modal
 Penghasilan dan Biaya
 Harga Perolehan dan Penyerahan Barang/Jasa

Dengan menyusun LAPORAN KEUANGAN


(NERACA & LABA RUGI)
Untuk periode Tahun Pajak tersebut
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2007 - 2008
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. PMK No.01/PMK.03/2007

WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YG


MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
WAJIB PAJAK
ATAU PEKERJAAN BEBAS, PEREDARAN
BADAN
BRUTO DALAM 1 (SATU) TAHUN >= 1,8
MILIAR

DI INDONESIA

WAJIB
MENYELENGGARAKAN
PEMBUKUAN
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2009 - DST
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. Pasal 14 ayat (1) UU PPh No. 36 Tahun 2008

WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI YG


MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
WAJIB PAJAK
ATAU PEKERJAAN BEBAS,
BADAN
PEREDARAN BRUTO DALAM SATU
TAHUN >= 4,8 MILIAR

DI INDONESIA

WAJIB
MENYELENGGARAKAN
PEMBUKUAN
KEWAJIBAN PEMBUKUAN TAHUN PAJAK 2009 - DST
Pasal 28 ayat (1) UU KUP Jo. Pasal 14 ayat (1) UU PPh No. 36 Tahun 2008

KEWAJIBAN PEMBUKAN

Pembukuan harus diselenggarakan dengan cara atau sistem


yang lazim dipakai di Indonesia, misalnya berdasarkan
Standar Akuntansi Keuangan, kecuali peraturan perundang-
undang perpajakan menentukan lain (Pasal 28 ayat 7 UU
KUP No.28 Tahun 2007)
DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN PEMBUKUAN
TETAPI WAJIB PENCATATAN UNTUK TAHUN 2007 - 2008
Pasal 28 ayat (2) UU KUP

TIDAK WAJIB PEMBUKUAN TETAPI


WAJIB MELAKUKAN PENCATATAN

WP ORANG PRIBADI
YANG MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA/
WP ORANG PRIBADI
PEKERJAAN BEBAS YANG TIDAK MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA
ATAU
YANG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG PEKERJAAN BEBAS
PENGHASILAN NETO DGN
MENGGUNAKAN NORMA
PENGHITUNGAN
PENGHASILAN NETO  PEREDARAN
BRUTONYA DALAM 1 (SATU) TAHUN
KURANG DARI Rp 1.800.000.000,00 (PMK
NO. 01/PMK.03/2007)
DIKECUALIKAN DARI KEWAJIBAN PEMBUKUAN
TETAPI WAJIB PENCATATAN UNTUK TAHUN 2009 - DST
Pasal 28 ayat (2) UU KUP

TIDAK WAJIB PEMBUKUAN TETAPI


WAJIB MELAKUKAN PENCATATAN

WP ORANG PRIBADI
YANG MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA/
WP ORANG PRIBADI
PEKERJAAN BEBAS YANG TIDAK MELAKUKAN
KEGIATAN USAHA
ATAU
YANG DIPERBOLEHKAN MENGHITUNG PEKERJAAN BEBAS
PENGHASILAN NETO DGN
MENGGUNAKAN NORMA
PENGHITUNGAN
PENGHASILAN NETO  PEREDARAN
BRUTONYA DALAM 1 (SATU) TAHUN
KURANG DARI Rp 4.800.000.000,00 (Ps.
14 ayat (2) UU PPh No.36 Th 2008)
SYARAT PEMBUKUAN
Pasal 28 ayat (3), (4), (5), (7) UU KUP

 Harus memperhatikan itikad baik;


 Mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya;
 Diselenggarakan di Indonesia;
 Huruf latin;
 Angka Arab;
 Satuan mata uang Rupiah;
 Bahasa Indonesia atau Bahasa Asing yang diizinkan Menteri
Keuangan yaitu bahasa Inggris;
 Diselenggarakan dgn prinsip taat asas dan dgn stelsel akrual
atau stelsel kas;
 Sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai
harta,kewajiban, modal, penghasilan & biaya, serta penjualan
& pembelian (sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang
terutang).
PERUBAHAN TAHUN BUKU DAN/ATAU METODE PEMBUKUAN
Pasal 28 ayat (6) UU KUP

PERUBAHAN

METODE PEMBUKUAN,
misal :
 Pengakuan Penghasilan
TAHUN BUKU & biaya
 Metode Penyusutan
Aktiva Tetap
 Metode Penilaian Persediaan

 Harus mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pajak


 Diajukan sebelum dimulainya tahun buku yang bersangkutan dengan
alasan-alasan perubahan
Yang Wajib Melakukan Pembukuan
 Wajib Pajak Badan
 Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, kecuali
Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran
brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp
4.800.000.000,00

~ DKS ~
Ketentuan Pokok dalam Pembukuan
 Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan
keadan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.
 Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka
Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau
dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.
 Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau
stelsel kas.
 Perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku, harus
mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak
 Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta,
kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian,
sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang.
 Buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen lain wajib disimpan selama
10 tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau di tempat tinggal
bagi Wajib Pajak Orang Pribadi, atau di tempat kedudukan Wajib Pajak
Badan.

~ DKS ~
Pembukuan dengan Mata Uang Asing
dan Mata Uang selain Rupiah
Pembukuan dalam Bahasa Asing dan Mata Uang Selain
Rupiah dapat diselenggarakan oleh Wajib Pajak dengan
persetujuan Menteri Keuangan dalam rangka:
 Penanaman Modal Asing
 Kontrak karya pertambangan
 kontrak bagi hasil pertambangan/pengeboran
 Bentuk Usaha Tetap (BUT)
 Wajib Pajak yang berafiliasi dengan perusahaan induk di luar
negeri
 Kontrak Investasi Kolektif (KIK)

~ DKS ~
Syarat Pembukuan dengan bahasa
asing dan mata uang selain rupiah
 Bahasa asing dan mata uang selain Rupiah yang boleh di
pergunakan adalah bahasa Inggris dan mata uang Dollar
Amerika Serikat.
 Mengajukan permohonan izin kepada Menteri Keuangan
(kecuali Kontrak Karya dan KIK, hanya membuat surat
pemberitahuan) paling lambat 3 bulan sebelum memulai
pembukauan dalam bahasa asing atau pendirian
perusahaan baru. Permohonan harus dilampiri dengan :
 Fotokopi SPT Tahunan PPh Badan tahun terakhir (WP
yang telah berdiri lebih dari 1 tahun)
 Fotokopi NPWP dan fotokopi Akta Pendirian, atau
dokumen lain yang serupa (bagi WP BUT) (WP yang
baru berdiri dalam tahun berjalan)

~ DKS ~
Tujuan Pembukuan
Untuk mempermudah dalam
 Pengisian SPT

 Penghitungan Penghasilan Kena Pajak

 Penghitungan PPN dan PPn BM

 Penyelenggaran pembukuan juga untuk mengetahui

posisi keuangan dan hasil kegiatan usaha /


pekerjaan

~ DKS ~
Pencatatan

~ DKS ~
PENGERTIAN PENCATATAN
Pasal 28 ayat (9) UU KUP

PENGUMPULAN DATA SECARA TERATUR


tentang
 Peredaran atau penerimaan bruto
dan atau;
 Penghasilan bruto

SEBAGAI DASAR UNTUK


MENGHITUNG JUMLAH PAJAK TERUTANG,
(termasuk Penghasilan yg bukan objek pajak
dan atau yg dikenakan pajak yg
bersifat final)
KEWAJIBAN PENYIMPANAN BUKU/CATATAN/DOKUMEN
Pasal 28 ayat (11) UU KUP

PENYIMPANAN BUKU/CATATAN/DOKUMEN YANG MENJADI


DASAR PEMBUKUAN ATAU PENCATATAN & DOKUMEN LAIN
TERMASUK PEMBUKUAN SECARA ELEKTRONIK/PROGRAM
APLIKASI ONLINE

SELAMA 10 TAHUN
DI INDONESIA

BADAN ORANG PRIBADI

Tempat Kegiatan
Tempat Kedudukan atau
Tempat Tinggal
KEGIATAN PENCATATAN
Pasal 28 ayat (12) UU KUP dan Peraturan Menkeu
(Keputusan Dirjen Pajak KEP-520/PJ./2000)

1. WP OP YANG MELAKUKAN KEGIATAN USAHA ATAU


PENCATATAN PEKERJAAN BEBAS YANG DIPERBOLEHKAN
WAJIB MENGHITUNG PENGHASILAN NETO DENGAN NORMA
DILAKUKAN PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO
2. WP OP YANG TIDAK MELAKUKAN KEGIATAN USAHA
ATAU PEKERJAAN BEBAS

SYARAT PENCATATAN

1. PENCATATAN HARUS DIBUAT LENGKAP DAN BENAR


2. DIDUKUNG DENGAN DOKUMEN ;
* YANG MENJADI DASAR PENGHITUNGAN PEREDARAN ATAU
PENERIMAAN BRUTO DAN ATAU PENGHASILAN BRUTO
* PENGHASILAN YANG BUKAN OBJEK PAJAK DAN ATAU
* PENGHASILAN YANG DIKENAKAN PAJAK SECARA
FINAL
3. JANGKA WAKTU PENCATATAN MELIPUTI JANGKA WAKTU 12 BULAN
MULAI TANGGAL 1 JANUARI SAMPAI DENGAN TANGGAL 31 DESEMBER
Yang Melakukan Pencatatan
 Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang
menurut ketentuan perundang-undangan
perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan
netto dengan menggunakan Norma Penghitungan
Penghasilan Netto.
 Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan
kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

~ DKS ~
Ketentuan dalam Pencatatan
 Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan
mencerminkan keadan atau kegiatan usaha yang sebenarnya
 Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin,
angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa
Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri
Keuangan.
 Pencatatan terdiri data yang dikumpulkan secara teratur tentang ;
peredaran atau penerimaan bruto, dan/atau penghasilan bruto
sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang,
termasuk penghasilan yang bukan obyek pajak dan penghasilan
yang dikenakan pajak yang bersifat final, sehingga dapat dihitung
besarnya pajak yang terutang.
 Buku-buku, catatan-catatan, dokumen-dokumen lain wajib disimpan
selama 10 tahun di Indonesia, yaitu di tempat kegiatan atau di
tempat tinggal bagi Wajib Pajak Orang Pribadi

~ DKS ~
Ketentuan dalam Pencatatan (2)
 Wajib Pajak yang tidak wajib melakukan pembukuan dan
pencatatan adalah Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak wajib
menyampaikan SPT Tahunan PPh
 Pencatatan dalam suatu tahun pajak meliputi jangka waktu 12
bulan, mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31
Desember.
 Bagi Wajib Pajak yang memiliki lebih dari satu jenis usaha dan atau
tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan jumlah
peredaran atau penerimaan bruto dari masing-masing jenis usaha
dan atau tempat usaha yang bersangkutan.
 Bentuk (format) pencatatan bag WP OP sudah diperbarui dan
disempurnakan melalui PER Dirjen Pajak NO PER-4/PJ./2009 yang
berlaku mulai 1 Januari 2009.

~ DKS ~
Norma Penghitungan Penghasilan Neto

 Yaitu pedoman untuk menentukan penghasilan netto


Wajib Pajak, karena Wajib Pajak tersebut tidak
wajib melakukan pembukuan.

~ DKS ~
Yang Boleh Menggunakan Norma
 Wajib Pajak Orang Pribadi
 Peredaran bruto dalam 1 tahun tidak mencapai Rp
4.800.000.000.
 Memberitahukan kepada Dirjen Pajak dalam jangka
waktu 3 bulan pertama dari tahun buku.
 Menyelenggarakan Pencatatan.

 Dalam hal Wajib Pajak tersebut tidak menyampaikan


pemberitahuan kepada Dirjen Pajak seperti tersebut di
atas, dianggap memilih menyelenggarakan
pembukuan.

~ DKS ~
Pencatatan Jurnal Akuntansi

 Pencatatan jurnal akuntansi terkait pajak:

Berkaitan Berkaitan
dengan dengan Sifat
Waktu Pajak

Created by DKS
Pendahuluan (lanj.)
 Pencatatan jurnal akuntansi terkait pajak:
 Berkaitan dengan Waktu:
 Jurnal perpajakan dibuat:
 Saat pajak terutang
 Saat penyetoran pajak
 Saat pengkreditan pajak di akhir tahun pajak

 Berkaitan dengan Sifat Pajak:


 Final vs Tidak Final
 Pajak Final (tidak dapat diperhitungkan dengan pajak yang
sesungguhnya terutang)  langsung diakui sebagai beban pajak.
 Pajak Tidak Final (dapat diperhitungkan dengan pajak yang
sesungguhnya terutang)  diakui sebagai Pajak Dibayar
Dimuka/Uang Muka Pajak.

Created by DKS
Selesai
Ada Pertanyaan?