Anda di halaman 1dari 74

PHILSAFAT PENDIDIKAN

Oleh
Ida Bagus Jelantik Swasta

PRODI S-2 PENDIDIKAN IPA


FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
BAHAN KAJIAN

* Philsafat dan Ilmu Pengetahuan


* Pendidikan dan Philsafat Pendidikan
* Cabang-cabang Philsafat Pendidikan
* Aliran Philsafat Pendidikan
* Philsafat Pendidikan Normatif
* Postmodernisme dan Pendidikan
* Philsafat Pendidikan dalam Perspektif Hindu
PHILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN
PENGERTIAN PHILSAFAT

Philsafat

1. Secara etimologi, kata philsafat berasal dari bahasa Yunani


philosophia yg berarti cinta kebijaksanaan, atau cinta
kebenaran.

* Seorang ahli philsafat (disebut filsuf) menunjukkan sikap


dan prilaku yg mencintai kebijaksanaan / kebenaran.

* Philsafat dpt membuat orang mencintai kebijaksanaan /


kebenaran.

Kata Philsafat pertama kali dipakai Phytagoras (582 – 496 SM)


kemudian diikuti oleh Socrates (470 – 399 SM).
2. Secara terminologi philsafat berarti :

a. Ilmu yg mencoba untuk mencapai pengetahuan ttg kebena-


ran yg asli (Plato)
b. Ilmu yg meliputi kebenaran, yg di dalamnya terkandung
metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika
(Aristoteles).
c. Perenungan yg dalam ttg sebab-sebab suatu kenyataan, se-
hingga ditemukan jawaban yg setuntas-tuntasnya
(Driyarkara).
d. Ilmu tentang hakekat (kebenaran mendasar) dari sesuatu
hal yg menjadi objek studi / pengamatan ( Notonegoro)
e. Ilmu yg berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi
segala sesuatu berdasarkan logika / pikiran (Poedjawijatna)
OBJEK PHILSAFAT

Philsafat memiliki dua objek yaitu objek material dan objek formal.

1. Objek material : Hal-hal yg menjadi bahan kajian, tinjauan atau


bahan pembentukan pengetahuan. Objek ma-
terial philsafat sangat luas, baik yg kongkrit
maupun yg abstrak.
Contoh : 1. Objek material dari filsafat ilmu adalah ilmu.
2. Objek material dari filsafat hukum adalah hukum.

2. Objek formal : Sudut pandang dari objek material philsafat.


Contoh : Jika objek material dari filsafat ilmu adalah ilmu,
maka objek formalnya dpt berupa struktur ilmu dan
metodologinya, tujuan dan kegunaan ilmu.
METODE PHILSAFAT

Ada sejumlah metode dalam membangun filsafat.

1. Metode Kritis (Socrates dan Plato)


Metode dgn mengandalkan proses analisis thdp pernyataan,
pendapat dan pandangan seseorang tentang sesuatu apapun.
Dlm proses analisis ada 5 (lima) hal yg dilakukan yaitu
a. Meragukan kebenaran dari suatu pernyataan/pandangan.
b. Mempertanyakan bagaimana pernyataan/pandangan itu
dibangun / diperoleh.
c. Mempertanyakan kemungkinan adanya alternatif pandangan
atau pendapat lainnya.
d. Menimbang-nimbang suatu pandangan dan alternatifnya.
e. Mengambil kesimpulan.
2. Metode Intuitif (Plotinus dan Bergson)
Metode ini mengandalkan proses perenungan thdp semua ada
dan mungkin ada baik berupa realitas kehidupan, pemikiran dan
pandangan sendiri tentang sesuatu. Ciri metode intuitif adalah
adanya kesadaran untuk meninjau pikiran atau pandangan diri
dan menyesuaikannya dgn realitas kehidupan dan pandangan /
pikiran orang lain, untuk kemudian diambil kesimpulan.

3. Metode skolastik (Aristoteles dan Thomas Aqunias)


Metode skolastika mengandalkan metode sintesis deduktif.
Melalui metode ini filsafat dibangun dgn proses sintesis thdp
informasi / fakta-fakta dan mengawinkannya dengan hasil
deduksi thdp konsep/teori, untuk kemudian menarik kesimpulan.
4. Metode Empiris (Hobbes dan John Locke)
Metode ini mengandalkan pengalaman dlm membangun filsafat.
Dalam hal ini, pengalaman (realitas kehidupan) dijadikan sebagai
rujukan dlm mengembangkan pemikiran dan pandangan tentang
sesuatu.

5. Metode dialektis ( Hegel dan Karl Marx)


Metode ini mengandalkan triade konsepsi yaitu tesis, antitesis
dan sintesis sebagai dinamika proses berpikir dalam membangun
filsafat.

6. Metode Neo Positivistik


Metode ini membangun filsafat berdasarlan ilmu pengetahuan
positif. Dlm hal ini kenyataan dipahami menurut hakekatnya
secara ilmiah.
CIRI-CIRI PHILSAFAT

Pemikiran filsafat memiliki beberapa ciri yaitu :

1. Menyeluruh.
Filsafat memandang suatu hal secara menyeluruh dari berbagai
sudut pandang. Filsafat juga ingin mengetahui hubungan antar ilmu
yg ada dan antar ilmu dgn moral, etika, seni, dan keyakinan (agama)

2. Mendasar (mengakar)
Filsafat berusaha menemukan kebenaran ttg suatu hal secara menda-
sar (menemukan hakekat) sehingga dpt dijadikan dasar pijakan bagi
segenap ilmu, nilai, moral, etika dll.

3. Spekulatif.
Filsafat senantiasa melakukan penjelajahan wilayah pengetahuan
(cara pandang) baru tanpa henti.
4. Konseptual
Pemikiran filsafat bersifat konseptual yang artinya pandangan ttg
suatu hal senantiasa dibuat dalam bentuk konsep yg punya makna
yg jelas, tegas dan ajeg. Konsep ini dihasilkan dari proses genera-
lisasi pengalaman individu.

5. Koheren
Pemikiran filsafat bersifat logis dan konsisten, serta tidak mengan-
dung kontradiksi.

6. Sistematik
Pemikiran filsafat tersusun secara sistematis, ada kaitan satu sama
lain dan mengandung makna atau tujuan tertentu.

7. Bebas
Pemikiran filsafat bersifat bebas dari berbagai kepentingan dan ke-
terikatan, bebas dari prasangka sosial, historis, budaya dan agama.
8. Bertanggung jawab
Pemikiran filsafat merupakan bentuk pemikiran yg penuh dgn
tanggung jawab kepada hati nurani, keyakinan dan nilai-nilai
kebenaran universal.
ASAL PHILSAFAT

Hal yang mendorong orang untuk berfilsafat adalah :

1. Keheranan
Keheranan thdp fenomena alam/sosial yg sulit dimengerti oleh nalar
manusia membuat manusia menggunakan filsafat sebagai cara
untuk memahami fenomena itu.

2. Kesangsian
Kesangsian thdp pengalaman panca indra dan pendapat orang per
orang mendorong manusia untuk mencari kebenaran hakiki.

3. Kesadaran tentang keterbatasan


Kesadaran manusia tentang keterbatasan dirinya membuat manusia
berfilsafat dgn meyakini bhw manusia hanyalah bagian kecil dari
kesemestaan alam.
PERANAN PHILSAFAT

Philsafat memiliki sejumlah peran :


1. Pendobrak
Pemikiran filsafat dapat mengalihkan pikiran dan pandangan masya-
rakat dari tradisi dan kebiasaan buruk masyarakat yg irasional, pe-
nyembah mistik dan percaya mitos, menuju masyarakat yg rasional,
objektif, dan kritis.

2. Pembebas
Pemikiran filsafat dpt membebaskan manusia dari kebodohan,
kesesatan berfikir, dan ikatan-ikatan tradisi mistis dan mitos yang
mengaburkan kebenaran.

3. Pembimbing
Pemikiran filsafat dpt menuntun umat manusia ke arah rasional,
objektif dan kritis melalui penjelajahan dan pencarian kebenaran
yang hakiki.
KEGUNAAN PHILSAFAT

Kegunaan Umum : Philsafat dapat memberikan kemampuan memecah-


kan segala masalah secara kritis dan mendalam
kepada orang yg menekuni philsafat ini.

Kegunaan khusus : Philsafat dapat memberikan kemampuan memecah-


kan suatu masalah yg bersifat khusus kepada orang
yang menekuninya.
Sifat khusus ini ditentukan oleh jenis philsafat yg
ditekuninya.

Contoh : Orang yg menekuni philsafat ketuhanan


dpt memecahkan masalah seputar
tuhan dan ketuhanan secara kritis dan
mendalam.
PENGETAHUAN DAN ILMU PENGETAHUAN

Pengetahuan dan Ciri-cirinya.

Pengetahuan : segala sesuatu yang diketahui oleh manusia yang meru-


pakan kombinasi dari hasil tangkapan indera dan olahan
pemikiran manusia.

Ciri-ciri Pengetahuan :

1. Empiris dan Rasional : Didapat dari hasil pengalaman dan pemikiran


2. Objektif : Tampil apa adanya, terbebas dari persepsi perorangan.
3. Tidak terstruktur : Tampil tidak sistematis, lepas-lepas tanpa kaitan.
4. Verifikatif : Dapat dibuktikan kebenarannya.
5. Informatif : Memiliki nilai informasi
Asal Mula Munculnya Pengetahuan

1. Tanpa Direncanakan. Ketika suatu fakta, kejadian muncul tiba-tiba


tanpa direncanakan, kemudian ditangkap oleh indra manusia dan
kemudian dipersepsi dlm pikiran manusia.
Contoh : Orang tanpa sengaja melihat pohon kelapa terbakar
disambar petir.

2. Direncanakan, diburu, dicari sebagai upaya memenuhi hasrat ingin


tahu (kuriositas) manusia. Ketika manusia dengan sadar mencari
pengetahuan. Contoh : Orang sengaja mengadakan percobaan untuk
mengetahui pengrauh pupuk pd tanaman.

3. Melalui penuturan oleh orang lain. Ketika pengetahuan dituturkan


oleh orang ke orang lain melalui lisan, tulisan, media, dll.
Contoh : Seorang bapak tahu mahalnya harga cabai dari penuturan
istrinya yang baru pulang dari pasar.
Cara Memperoleh Pengetahuan

1. Cara non ilmiah : 1. Mendapat wahyu sbg sumber kepercayaan


2. Menggunakan akal sehat
3. Penemuan secara kebetulan
4. Melalui pengalaman.
5. Mendengar pendapat pemegang otoritas
6. Mencoba-coba
7. Intuisi.
8. Berfikir kritis

2. Cara ilmiah : 1. Mengidentifikasi masalah


2. Menyusun hipotesis
3. Mengumpulkan data
4. Mengolah data (menguji hipotesis)
5. Mengambil kesimpulan
Jenis-Jenis Pengetahuan

1. Pengetahuan Pra Ilmiah


Pengetahuan pra ilmiah adalah pengetahuan yang semata-mata hanya
di dapat dgn deduksi (penalaran) saja atau dgn induksi (pengalaman)
saja. Pengetahuan yg didapat dgn hanya penalaran saja disebut penge-
tahuan apriori, sedangkan pengetahuan yg didapat dgn hanya penga-
laman saja disebut pengetahuan aposteriori.

Apriori diperoleh dgn menggunakan nalar (pikiran)


Aposteriori diperoleh dgn menggunakan panca indra.

2. Pengetahuan Ilmiah
Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan meng-
gabungkan deduksi (penalaran) dgn induksi (pengalaman).

Gabungan deduksi dgn induksi disebut reflective thinking.


3. Pengetahuan Filsafat.

Pengetahuan filsafat adalah pengetahuan yg diperoleh dgn cara me-


lakukan kajian yang menyeluruh, mendalam dan radikal thdp berba-
gai aspek kehidupan dan fenomena alam, baik yg kongkrit maupun
yg abstrak.

* Pengetahuan filsafat bukanlah kumpulan fakta-fakta empiris yg


diperoleh dgn indra, tetapi merupakan kajian hakekat secara men-
dalam dari apa yg didapat oleh indra.
Contoh : Jika mengkaji fenomena korupsi, maka pengetahuan fil-
safat tidak bicara ttg berapa nilai uangnya dan bagaimana
caranya korupsi, tapi filsafat akan bicara ttg hakekat ke-
jujuran, hakekat kesejahteraan, hakekat kebutuhan.

* Pengetahuan filsafat membebaskan diri dari kajian thdp hal yg


bersifat khusus dan fragmatis, tetapi berusaha memberikan kajian
yg komprehensif dan mendasar ttg suatu hal.
4. Pengetahuan Agama

Pengetahuan agama adalah pengetahuan berdasarkan wahyu yang


diperoleh oleh nabi dan dipercaya secara dogmatis oleh penganutnya.

* Kebenaran pengetahuan agama tidak didasari oleh adanya bukti


empiris dan kebenaran deduksi, tetapi didasari oleh keyakinan
ttg kebenaran wahyu itu sendiri.

* Penalaran dan bukti empiris dibutuhkan bukan untuk membukti-


kebenaran wahyu itu, tetapi hanya sebagai alat bantu untuk mem-
buat orang lebih yakin pada kebenaran wahyu itu.

* Ada tidaknya bukti empiris, rasional atau tidak, semuanya tidak


dapat menggoyahkan kebenaran wahyu sbg pengetahuan agama.
5. Pengetahuan Seni

Pengetahuan seni adalah pengetahuan yg diperoleh berdasarkan hasil


tangkapan indra dan persepsi seseorang thdp objek yang memiliki
sifat dpt membuat orang suka (terhibur) ketika menikmati objek seni
tersebut.

* Munculnya pengetahuan seni bersumber dari dua pihak yaitu objek


seni dan penikmat seni itu sendiri. Objek memiliki sifat tetap dan
tunggal, tetapi penikmat seni punya persepsi yang tidak tetap dan
bervariasi tergantung penikmatnya.

* Karena sisi penikmat melahirkan unsur subjektivitas, maka penge-


tahuan seni bersifat personal.

* Objek material dari pengetahuan seni adalah warna, bentuk, kompo-


sisi, rupa, gerak, suara (nada dan frekuensi).
Kebenaran Pengetahuan

Kebenaran pengetahuan dikenal ada 7 macam yaitu :

1. Kebenaran koherensi
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan ini saling ber-
hubungan dgn pengetahuan lain yang benar, atau saling berhubung-
an dgn pengalaman.

2. Kebenaran korespondensi
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu saling ber-
sesuaian dgn dunia kenyataan.

3. Kebenaran inherensi (kebenaran fragmatis)


Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu memiliki
manfaat (kegunaan).
4. Kebenaran Semantik
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu memiliki
referensi yang jelas.

5. Kebenaran sintaksis
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu memiliki
sintak (urutan tahapan) yang baku.

6. Kebenaran nondiskripsi
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu memiliki
fungsi dan peran yang jelas dan penting.

7. Kebenaran logis
Suatu pengetahuan dipandang benar jika pengetahuan itu logis atau
memiliki nilai logika yang benar.
Ilmu Pengetahuan

Ilmu Pengetahuan : Akumulasi pengetahuan manusia yang disusun


secara sistematis, terstruktur serta memiliki
ontologi, epistemologi, aksiologi, dan teleologis
yang jelas.

* Ontologi : Hakekat prihal yang menjadi isi keilmuan yang


diperbincangkan, dikaji dan dikembangkan.

* Epistemologi : Hakekat cara/ metode memperoleh dan mengembang-


kan keilmuan

* Aksiologi : Hakekat nilai-nilai kemanfaatan dari suatu keilmuan


dilihat dari sisi kepentingan secara luas.

* Teleologis : Hakekat tujuan dari suatu keilmuan.


Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan

1. Empiris dan Rasional : Diperoleh dari pengalaman dan pemikiran.


2. Objektif : Tampil apa adanya, terbebas dari persepsi perorangan.
3. Terstruktur : Tampil sistematis, memiliki kaitan struktur dan isi
4. Analitis : Dapat diuraikan menjadi bagian-bagian yg lebih kecil.
5. Verifikatif : Dapat dibuktikan kebenarannya.
6. Memiliki ontologi, epistemologi, aksiologi dan teleologi yg jelas
7. Informatif : Memiliki nilai informasi

Klasifikasi Ilmu Pengetahuan

1. Berdasarkan bentuk isinya

a. Ilmu pengetahuan empirik : jika isinya adalah hasil pengalaman


indra manusia.
Contoh : IPA, IPS
b. Ilmu pengetahuan formal : jika isinya bukanlah pengalaman
indrawi, tetapi hanya berupa dalil/
hukum yg menggambarkan hubu-
ngan yg logis antara pernyataan
yang ada.
Contoh : Matematika.

Bagi pengetahuan formal, yang penting bukanlah hadirnya ke-


nyataan, tetapi logisnya hubungan antar pernyataan yg ada.

Contoh : Jika jarak antara lokasi A dgn lokasi B adalah 1000 km


dan saya yg ada di A diwajibkan tiba di B dlm waktu
kurang dari 1 detik, maka saya harus memakai kenda-
raan dgn kecepatan lebih cepat dari 1000 km / detik.
2. Berdasarkan objek studinya
a. Ilmu Pengetahuan Alam
b. Ilmu Pengetahuan Sosial
RANAH ILMU PENGETAHUAN

@. Setiap ilmu pengetahuan memiliki empat ranah (domain) yaitu ontologi,


epistemologi, axiologi dan teleologi.

@. Ada tidaknya keempat ranah ilmu ini menentukan eksistensi dari ilmu
pengetahuan itu sendiri.

Ontologi (Metafisika)

* Ontologi dalam kefilsafatan merupakan kajian tentang sesuatu yang ada dan
mungkin ada baik dlm hal kongkritnya maupun abstraknya.

* Ontologi dalam ilmu pengetahuan merupakan hakekat apa yang menjadi


bahan kajian (isi) dlm ilmu pengetahuan itu yg merupakan jati diri dari ilmu
pengetahuan itu. Contoh : ontologi dari genetika adalah kajian ttg sifat-sifat
menurun (gen) dan mekanisme penurunannya .

* Pengembangan ontologi suatu ilmu pengetahuan tidak terikat oleh norma.


Epistemologi

* Epistemologi merupakan ranah ilmu pengetahuan yang mengandung cara,


metode, proses membangun dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

* Epistemologi menjawab pertanyaan “ bagaimana suatu ilmu pengetahuan


itu dibangun dan dikembangkan ? “
Contoh : ilmu pengetahuan alam dibangun dan dikembangkan dengan
metode observasi dan eksperimentasi.

* Epistemologi sering disebut filsafat (teori) ilmu pengetahuan.

* Epistemologi mencakup metodologi penelitian, metode penulisan karya


ilmiah, metode diskusi ilmiah.

* Pengembangan epistemologi suatu ilmu pengetahuan terikat oleh norma.


Aksiologi

* Aksiologi merupakan ranah ilmu pengetahuan yang mengandung hakekat


nilai kegunaan (manfaat) dari suatu ilmu pengetahuan, berdasarkan kepenti-
ngan dalam arti luas. Contoh : Manfaat ilmu budidaya perikanan adalah dpt
membuat proses budidayakan ikan menjadi
lebih berhasil, lebih efektip dan efisien.

* Aksiologi menjawab pertanyaan “ apa manfaat ilmu pengetahuan itu “ ?

* Manfaat suatu ilmu pengetahuan sangat tergantung pada konteks ilmu


pengetahuan itu sendiri.

* Pengembangan aksiologi suatu ilmu pengetahuan terikat oleh norma.


Teleologi

* Teleologi merupakan ranah ilmu pengatahuan yang mengandung hakekat


tujuan dari keberadaan ilmu pengetahuan.
Contoh : Teleologi dari ilmu genetika adalah untuk memberikan informasi
(pengetahuan) kepada masyarakat tentang sifat-sifat menurun mahluk hidup
dan mekanisme penurunannya dari induk kepada keturunannya.

* Teleologi menjawab pertanyaan “ apa tujuan keberadaan suatu ilmu penge-


tahuan ?”

* Pengembangan teleologi suatu ilmu pengetahuan terikat oleh norma.


PERAN ILMU PENGETAHUAN
DALAM KEHIDUPAN

Ilmu Pengetahuan Sebagai Landasan Menetapkan Kebenaran

1. Pendahuluan
@ Benar atau salahnya suatu persoalan sering menjadi perdebatan
sebagai akibat dari tidak jelasnya konsep benar dan salah itu, dan
tidak jelasnya tolok ukur untuk menentukan benar atau salahnya
suatu persoalan.
* Perlu kejelasan konsep kebenaran
* Perlu tolok ukur yg jelas ttg benar dan salah

@ Perbedaan pandangan ttg benar dan salah itu sering berkait dgn
wawasan, sudut pandang, kepentingan subjektif dan keyakinan.
* Perlu peningkatan wawasan dan penguasaan ilmu.
* Perlu memahami keyakinan.
2. Konsepsi Kebenaran
Berdasarkan sifatnya, kebenaran dpt digolongkan menjadi 3 (tiga) :
a. Kebenaran Ilahi (Kebenaran Tuhan)
b. Kebenaran alamiah
c. Kebenaran manusiawi

Kebenaran Ilahi : merupakan konsep kebenaran yg didasari oleh


wahyu Tuhan yg dituangkan dlm kitab-kitab
suci semua agama di dunia dan diyakini secara
dogmatis.
Sifat : * Tak dapat diperdebatkan
* Sebagian dpt diilmiahkan, sebagian
tidak ilmiah.
* banyak dipakai acuan dlm menilai
kebenaran manusia.
Contoh : Menurut Hindu, manusia mengalami
kelahiran berulang kali (samsara).
Kebenaran Alamiah : kebenaran yang ditunjukkan oleh fakta-fakta
dan fenomena yang terdapat di alam yg dpt
dibuktikan melalui panca indera manusia.

Sifat : * dpt dibuktikan


* tidak dpt diperdebatkan
* objektif
Contoh : hujan selalu di awali oleh adanya
mendung.

Kebenaran Manusiawi : kebenaran yang diciptakan dan diyakini oleh


manusia berdasarkan kesepakatan bersama.

Sifat : * dpt diperdebatkan.


* subjektif
Contoh : Komunisme dpt membahayakan ke-
hidupan bangsa Indonesia.
3. Tolok Ukur Kebenaran

@. Untuk dpt menyatakan sesuatu itu benar atau salah, diperlukan


tolok ukur yang jelas.

@ Tolok ukur suatu kebenaran atau kesalahan sangat bergantung


pada jenis kebenaran yang akan diukur.

NO JENIS KEBENARAN WUJUD KEBENARAN TOLOK UKUR

1 Kebenaran Ilahi Ajaran /akidah dlm Sesuai atau tidak


kitab suci dgn ajaran/akidah
dlm kitab suci
2 Kebenaran alamiah Hukum / teori ilmu Sesuai atau tidak
alam dgn hukum /teori
ilmu alam
3 Kebenaran manusiawi Hukum /norma/nilai Sesuai atau tidak
sosial dgn hukum /norma
/nilai sosial
4. Ilmu Pengetahuan Mengantarkan Manusia pada Kebenaran

@. Pengalaman menunjukkan bahwa kebodohan selalu mengantar-


kan manusia pada pemikiran, perkataan dan perbuatan yg salah.

@. Untuk mencegah manusia melakukan kesalahan tsb, maka manu-


sia harus membebaskan dirinya dari kebodohan dgn cara mengi-
si dirinya dgn ilmu pengetahuan yg sebanyak-banyaknya.

@. Ilmu pengetahuan dapat membuat manusia menjadi :


1. Lebih kritis thdp suatu permasalahan.
2. Lebih memahami suatu permasalahan.
3. Lebih kaya informasi
4. Lebih luas wawasan berpikirnya.
5. Lebih luas cara pandangnya.
Ilmu Pengetahuan Membantu Manusia Mengambil Keputusan yg
Benar

1. Pendahuluan

@. Pada suatu saat manusia diharuskan berani mengambil suatu ke-


putusan untuk suatu permasalahan.

@. Keputusan yg tidak didasari oleh pertimbangan yg tepat dapat


menimbulkan permasalahan baru yg tidak diharapkan.

@. Ilmu pengetahuan dpt dijadikan sebagai salah satu unsur pertim-


bangan agar manusia dpt mengambil keputusan yang lebih tepat.

@. Ilmu pengetahuan dpt memberikan masukkan informasi yang


benar dan akurat terkait dgn permalasahan yg akan diputuskan.
2. Keputusan dan Faktor yang Mempengaruhinya.

Keputusan : suatu sikap pilihan dari seseorang ketika orang itu


dihadapkan pada pilihan yg bersifat plural yg masing-
masing mengandung konsekuensi yg berbeda.

Faktor yg Mempengaruhi Keputusan.

A. Faktor internal
1. Itikad (dorongan hati nurani)
2. Kemampuan berpikir
3. Bekal pengetahuan (informasi)
4. Emosi dan kematangan mental

B. Faktor Eksternal
1. Situasi yg melatar belakangi lahirnya keputusan.
2. Ketersediaan waktu
3. Ada tidaknya intervensi
3. Cara Ilmu Pengetahuan Mempengaruhi Keputusan

a. Ilmu pengetahuan menyediakan informasi yg dpt dijadikan sbg


bahan pertimbangan dlm mengambil keputusan.

b. Ilmu pengetahuan menyediakan banyak alternatif sudut pandang


terkait dengan suatu persoalan.

c. Ilmu pengetahuan menyediakan teori tentang cara mengambil


keputusan yang tepat.
4. Tahapan dlm Mengambil Keputusan

Tahapan yg dilakukan sebelum mengambil keputusan adalah :

a. Tahap penelusuran dan pengumpulan data (informasi).


Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendapatkan sejumlah informasi
yang dpt digunakan sebagai bahan pertimbangan dlm mengambil
keputusan.
b. Tahap analisis data (informasi)
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menimbang-nimbang data / infor-
masi yang tersedia sebagai dasar pengambilan keputusan.
c. Tahap penetapan keputusan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengambil /menetapkan keputus-
an sesuai bahan pertimbngan yg ada.
Ilmu Pengetahuan Sebagai sarana Mencapai Kebahagiaan

1. Pendahuluan

@. Kebahagiaan merupakan keadaan yg dicirikan oleh tercapainya


perasaan senang, tenang, damai dan nyaman.

@. Kebahagiaan dpt dicapai melalui pemenuhan 2 kebutuhan yaitu :


a. Kebutuhan lahiriah
* kecukupan sandang, pangan, papan
* kesehatan dan kebugaran jasmani
* kepuasan seksual

b. Kebutuhan batiniah
* bebas dari rasa takut, rasa bersalah, rasa benci, rasa dendam.
* diperolehnya pengakuan dan penghormatan.
* kesehatan rohani (jiwa)
* pendidikan dan rekreasi.
2. Hubungan IPTEK dan Kebahagiaan

@. Kebodohan dan kemalasan adalah pangkal dari kemiskinan, se-


dangkan kemiskinan merupakan pangkal dari penderitaan hidup.

@. Untuk menghindari penderitaan hidup, maka kemiskinan harus


dihilangkan. Untuk menghilangkan kemiskinan, maka kebodohan
dan kemalasan harus dihilangkan.

@. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan modal


terpenting untuk mencapai kesejahteraan.

@. Kesejahteraan merupakan sarat mutlak untuk mencapai kebaha-


giaan hidup
3. Cara IPTEK memberikan Kebahagiaan

a. Iptek memberikan jalan menuju sumber-sumber kebutuhan hidup,


baik kebutuhan jasmani maupun rohani.
b. Iptek memberikan ilmu dan keterampilan vokasi (kerja) yg sangat
dibutuhkan untuk mendapatkan kebutuhan hidup.
c. Iptek dpt memperbaiki pola pikir manusia ke arah yg lebih positif,
produktif, dan konstruktif.
d. Iptek dpt memperluas wawasan dan sudut pandang manusia shg
menjadi lebih luwes, lebih toleran, dan lebih terbuka.
PENDIDIKAN DAN PHILSAFAT PENDIDIKAN
PENDIDIKAN

Pengertian Pendidikan

@. Pendidikan adalah suatu upaya transfer ilmu pengetahuan, teknologi,


keterampilan, nilai, norma dan etika dari pendidik kepada peserta di-
dik sehingga peserta didik mencapai kecerdasan intelektual, kecerda-
san emosional, kemuliaan akhlak dan kematangan mental spiritual
(Affandi, 2006)

@. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan sua-


sana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kesecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yg diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara (UU No 20 Tahun 2003 ttg Sisdiknas)
@. Pendidikan adalah bimbingan secara sadar dari pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya
manusia yg memiliki kepribadian yg utama dan ideal (Jalaluddin dan
Abdullah, 2016)

@. Pendidikan merupakan upaya dari generasi tua untuk mengalihkan


pengetahuan, pengalaman dan kecakapan kepada generasi muda
sebagai usaha menyiapkan generasi muda agar dpt memahami fungsi
hidup, baik jasmani maupun rohani (Poerwakawatja, 1976)

@. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yg telah sadar ttg


kemanusiaannya dlm membimbing, melatih, mengajar dan menanam-
nilai-nilai dan dasar pandangan hidup kepada generasi muda agar
menjadi manusia yg sadar dan bertanggung jawab ttg tugas-tugas hi-
dupnya sebagai manusia (Jalaluddin dan Abdullah, 2016)
Elemen Pendidikan

@. Unsur-unsur yg terlibat dlm pendidikan adalah :


1. Pendidik (guru, konselor, pembimbing, pendamping, pelatih)
2. Peserta didik (masyarakat pd semua jenjang umur)
3. Sarana prasarana (gdg sekolah, laboratorium, media, kurikulum)
4. Regulator dan sistem regulasi pendidikan
5. Proses pendidikan (pembelajaran, pembimbingan, pencontohan)
6. Lingkungan belajar (lingk. sekolah, keluarga, dan masyarakat).

Peranan Pendidikan

@. Pendidikan sebagai menyambung hidup manusia dan generasinya.


1. Pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan hidup.
2. Pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang
cara memelihara dan meningkatkan kualitas hidup manusia.
@. Pendidikan sebagai penjaga martabat dan kehormatan manusia
1. Pendidikan memberikan pengetahuan ttg nilai, moral dan etika.
2. Pendidikan mengajarkan peradaban

@. Pendidikan sebagai pencipta harmonisasi sosial


1. Pendidikan mengajarkan cinta dan kasih sayang dgn sesama
2. Pendidikan mengajarkan kesetaraan dlm hak azasi manusia
3. Pendidikan mengajarkan toleransi thdp perbedaan

@. Pendidikan sebagai pencipta keseimbangan dan ketenteraman jiwa


1. Pendidikan mengajarkan spiritualitas
2. Pendidikan memberikan keyakinan kepada umat manusia tentang
kebenaran wahyu tuhan sbg tuntunan hidup manusia.

@. Pendidikan sebagai penyelamat alam semesta beserta isinya


1. Pendidikan mengajarkan arti kelestarian alam bagi kehidupan
2. Pendidikan mengajarkan cara memperlakukan alam secara bijak.
PHILSAFAT PENDIDIKAN

Pengertian Philsafat Pendidikan

@. Philsafat pendidikan adalah aktivitas pikiran yang teratur, yang men-


jadikan philsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan dan
memadukan proses pendidikan (Al Syaibany, 1979)
* Philsafat pendidikan merupakan kaidah philosofis dlm bidang pen-
didikan atau kaidah philosofis yang digunakan dlm memecahkan
masalah pendidikan.

@. Philsafat pendidikan adalah suatu konsep dasar dlm pembentukan


kemampuan yg fundamental, baik yang menyangkut daya pikir
(intelektual) maupun perasaan (emosional) menuju tabiat manusia
(John Dewey)

@. Philsafat pendidikan pada hakekatnya merupakan jawaban atas ber-


bagai pertanyaan dalam bidang pendidikan (Imam Bernadib, 1993)
Objek Philsafat Pendidikan

@. Secara umum dpt dikatakan bahwa objek pemikiran philsafat pendi-


dikan adalah semua aspek yg berhubungan dgn upaya manusia untuk
mengerti dan memahami hakekat pendidikan seperti bagaimana pe-
laksanaan pendidikan yg baik dan bagaimana tujuan pendidikan dpt
dicapai seperti yang dicita-citakan (Jalaluddin dan Abdullah, 2006)

@. Secara mikro, objek pemikiran philsafat pendidikan meliputi :


a. Hakekat pendidikan
b. Hakekat manusia sebagai subjek dan objek pendidikan
c. Kaitan antara philsafat dgn pendidikan, agama dan kebudayaan
d. Kaitan antara philsafat, philsafat pendidikan dan teori pendidikan
e. Kaitan antara philsafat negara (ideologi), philsafat pendidikan, dan
sistem pendidikan
f. Sistem nilai, norma, dan moral pendidikan yang merupakan tujuan
pendidikan.
1. Hakekat Pendidikan

Pendidikan adalah suatu upaya membentuk manusia (peserta didik) yg


memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kemuliaan
akhlak dan kematangan mental spiritual, melalui transfer ilmu penge-
tahuan, keterampilan, nilai, norma dan etika dari pendidik kepada
peserta didik.

@ Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan men-


didik dalam suatu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
(Yusup, 1982). Tindakan mendidik yang dimaksud adalah menge-
nali karakter, membantu perkembangan, memberikan bimbingan,
memantau, mengevaluasi, serta memberi teladan pada peserta didik.

@. Peserta didik adalah anak yg mengikuti program pendidikan yang


diberikan oleh pendidik. Dlm hal ini peserta didik adalah anak yg
sedang membutuhkan bantuan untuk pengembangan fisik dan men-
talnya.
2. Hakekat manusia

a. Pandangan Phisafati ttg Manusia (Antropologi philsafat)


* Aliran serba zat “ Manusia adalah zat atau materi “
Pandangan ini melihat manusia seperti wujud fisik yang tampak
oleh mata, dan tidak mempedulikan apa yg ada di balik fisik yg
menggerakkan fisik itu.

* Aliran serba roh “ Manusia hakekatnya adalah roh “


Pandangan ini menganggap bahwa hal yg paling prinsip pada
sosok manusia adalah rohnya, sedangkan fisik (jasad) nya hanya-
penjelmaan dari roh.

* Aliran dualisme “ Manusia merupakan sosok yg tersusun atas dua


substansi yaitu jasmani dan rohani, dan keduanya saling mempe-
ngaruhi “
Pandangan ini menganggap bahwa dua substansi harus ada agar
sosok manusia menjadi ada.
* Aliran eksistensialisme “ Manusia adalah apa yang menguasai
manusia secara menyeluruh “ Dengan kata lain dpt dinyatakan
“ Manusia adalah eksistensi manusia “

b. Pandangan Agama ttg manusia

Dalam agama Hindu dan Islam diakui bahwa manusia terdiri atas
dua unsur yaitu unsur materi yg berasal dari bumi dan unsur roh yg
berasal dari tuhan.
* Dalam agama Hindu unsur roh disebut atman, sedangkan unsur
materi terdiri atas 5 unsur yaitu air, api, cahaya, udara dan tanah.
Unsur atman berasal dari tuhan (Brahman)

* Dalam agama Hindu dan Islam diakui bahwa manusia adalah mah-
luk yg paling sempurna dibanding mahluk lain ciptaan tuhan.
Manusia juga digambarkan sbg mahluk yg berakal, berindra dan
mampu membedakan mana yg benar, dan mana yg salah.
c. Pandangan Ilmu Pengetahuan ttg Manusia

Eksistensi manusia dpt dilihat dari tiga aspek yaitu :


a. Jasad atau fisiknya (antropologi ragawi) yang dapat dipelajari
melalui ilmu biologi, biokimia, dan biofisik

b. Jiwa atau rohnya (antropologi sukmawi) yg dapat dipelajari me-


lalui ilmu psikologi

c. Kebudayaannya (antropologi budayawi) yang dapat dipelajari


melalui ilmu budaya (sosiologi, seni dan sastra, archeologi, ilmu
politik, ekonomi, teknologi, adat istiadat, norma dan etika).
3. Kaitan Philsafat dgn Philsafat Pendidikan dan Teori Pendidikan

@. Philsafat pendidikan lahir dari proses adopsi dan internalisasi pe-


mikiran philsafat umum ke pemikiran yg khusus menelaah seluk
beluk bidang pendidikan.

* Pemikiran philsafat umum mendasari pemikiran philsafat pendi-


dikan, sedangkan philsafat pendidikan itu sendiri menjadi dasar
bagaimana pendidikan itu dirumuskan dan dilaksanakan.

* Pemikiran philsafat (umum) menggariskan bahwa bidang apapun,


termasuk bidang pendidikan harus memiliki ontologi, epistemolo-
gi, aksiologi dan teleologi yang jelas.

- Ontologi menelaah materi bahan kajian dlm ilmu pendidikan


- Epistemologi menelaah metode dlm pengembangan ilmu pend.
- Aksiologi menelaah bagaimana kemanfaatan ilmmu pendidikan
- Teleologi menelaah tujuan pengembangan ilmu pendidikan
@. Philsafat pendidikan memungkinkan adanya hubungan fungsional
antara philsafat dengan teori pendidikan, seperti :

a. Philsafat merupakan pendekatan dan cara pandang yg dipakai dlm


memecahkan masalah dan menyusun teori pendidikan.
b. Philsafat berfungsi memberi arah bagi teori pendidikan yang me-
miliki relevansi dgn kehidupan nyata.
c. Philsafat memberi petunjuk dan arah dlm pengembangan teori
pendidikan menjadi ilmu mendidik (pedagogik).

@. Philsafat pendidikan sebagai bidang studi memiliki dua tugas penting

a. Merumuskan dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakekat manusia


dalam pendidikan.
b. Merumuskan teori dan sistem pendidikan yg meliputi metode,
politik dan kepemimpinan dlm pendidikan.
4. Kaitan antara Philsafat Pendidikan dengan Agama

@. Agama menjadi dasar dalam mengembangkan philsafat pendidik-


an, sedangkan philsafat pendidikan itu sendiri membantu mengu-
kuhkan kebenaran wahyu tuhan yang ada pada setiap agama.

* Dalam mendasari philsafat pendidikan, agama menyumbangkan


konsepsi kebenaran, kebaikan, kebijaksanaan yang harus diikuti,
serta menyumbangkan konsepsi ketidak benaran, keburukan dan
kemungkaran yang harus dihindari.
* Dalam mengukuhkan kebenaran wahyu tuhan, philsafat pendidi-
kan menyumbangkan cara /pola / paradigma berpikir yang me-
mudahkan manusia untuk mengerti dan memahami isi dan kebe-
naran wahyu tuhan itu.

@. Dalam membantu manusia memahami inti sari ajaran agama, maka


philsafat itu sendiri telah memfokuskan diri dlm bidang kajian
agama shg lahir philsafat agama.
5. Kaitan antara Philsafat Pendidikan dan Kebudayaan

@. Kebudayaan memberi arah dalam mengembangkan philsafat pen-


didikan, sedangkan philsafat pendidikan itu sendiri membantu
manusia dlm memaknai kebudayaannya sendiri.
* Dalam memberi arah pengembangan philsafat pendidikan, kebu-
dayaan memberikan model tentang tujuan akhir yg harus dicapai
oleh sistem pendidikan.
* Dalam membantu manusia memaknai kebudayaannya, philsafat
pendidikan memberikan pola/paradigma berpikir tentang menga-
pa dan untuk apa manusia mengembangkan kebudayaan.

@. Dalam membantu manusia untuk mengerti dan memahami makna


kebudayaannya, maka philsafat telah memfokuskan diri dalam
kajian budaya sehingga lahir philsafat kebudayaan
6. Kaitan Philsafat Pendidikan dengan Ideologi Negara (Pancasila)

@. Hakekat Pancasila
* Sebagai dasar negara : Pancasila mengatur sendi-sendi kehidup-
an bernegara di Indonesia.
* Sebagai jalan dan pandangan hidup bangsa : Pancasila sebagai
tuntunan hidup bangsa Indonesia.
* Sebagai jiwa dan kepribadian bangsa : Pancasila sebagai ciri
karakter bangsa Indonesia

@. Pancasila sebagai jiwa dari philsafat pendidikan di Indonesia, se-


dangkan philsafat pendidikan itu sendiri merupakan roh dari sistem
pendidikan di Indonesia.
* Nilai-nilai Pancasila sebagai rujukan dlm pengembangan konsep-
si philsafat pendidikan.
* Philsafat pendidikan sebagai rujukan dlm merancang konsep dan
sistem pendidikan di Indonesia.
Ragam Pemikiran Philsafat Pendidikan

1. Philsafat pendidikan menurut Socrates.


@. Socrates menekankan konsepsi pendidikan dengan metode
dialektis.
* Pendidik harus berdialog dgn peserta didik agar menge-
tahui apa potensi, karakter dan kehendak peserta didik.
* Pendidik memberikan kesempatan kpd peserta didik un-
tuk mengembangkan potensinya sendiri sesuai dengan
kehendak (cita-cita) nya.
* Pendidik mendorong peserta didik untuk berpikir secara
kritis shg kemampuan penalarannya semakin berkem-
bang.
* Pendidik mengajak peserta didik mengembangkan inte-
telektualitas, mental dan moral yang baik.
2. Philsafat Pendidikan Menurut Plato

@. Plato menyebutkan bahwa pendidikan merupakan hal yang amat


penting bagi peserta didik dan bagi masyarakat, bangsa dan nega-
ranya karena pendidikan dapat:
* Membebaskan warga negara dari kebodohan dan kesalahan
* Membebaskan warga negara dari pemikiran, perkataan dan per-
buatan yang hina.
* Menawarkan sifat kebajikan, kebaikan dan keadilan pd warga.

@. Negara harus memberikan perhatian yang besar pada pendidikan


warga negaranya karena warga negara yeng terdidik akan mem-
permudah tercapainya tujuan negara yaitu tercapainya masyarakat
yang adil dan makmur serta memiliki akhlak yang mulia..

@. Negara harus merencanakan dan memprogramkan pendidikan se-


cara sistemik dalam bentuk sistem pendidikan.
3. Philsafat Pendidikan Menurut Aristoteles

@. Menurut Aristoteles, pendidikan dapat membuat menusia hidup


lebih baik dan lebih bermartabat.

@. Pendidikan mencakup pengembangan pengetahuan, pembentuk-


kan kesadaran moral, dan penanaman disiplin untuk taat terhadap
aturan dan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat.

@. Pendidikan perlu diberikan sejak usia dini pada semua orang ka-
rena usia dini merupakan masa kritis pembentukan pondasi akh-
lak dan moral masyarakat.

@. Selain penggunaan akal, pendidikan juga memandang perlu peng-


gunaan observasi dan pengalaman indrawi untuk membangun
ilmu pengetahuan.
Ragam Aliran Philsafat Pendidikan

1. Aliran Progresivisme (Instrumentalisme, Eksperimentalisme, dan


Environmentalisme)

@. Aliran progresivisme mengajarkan bahwa pendidikan harus mem-


berikan dampak kemajuan pd peserta didik dlm berbagai aspek se-
perti pengetahuan, sikap dan keterampilan sehingga siap mengha-
dapi tantangan jaman.

* Dikatakan instrumentalisme karena kemampuan intelegensi yg


dihasilkan melalui proses pendidikan dipandang sebagai alat un-
tuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk mengembangkan ke-
pribadian umat manusia.

* Dikatakan eksperimentalisme karena aliran ini memandang pen-


tingnya eksperimen di dalam pendidikan sbg cara untuk menguji
kebenaran teori.
* Dikatakan environmentalisme karena aliran ini mengakui bahwa
lingkungan memiliki pengaruh yang besar dalam pendidikan,
terutama dlm pengembangan kepribadian peserta didik.

@. Aliran progresivisme memandang akal dan kecerdasan sbg azas


penting dlm belajar karena adanya akal dan kecerdasan membuat
manusia dapat belajar, menganalisis dan memecahkan berbagai
persoalan dlm kehidupannya.

@. Aliran progresivisme memandang kurikulum yang baik adalah ku-


rikulum yang luwes, fleksibel dan visioner yg mampu membaca,
dan merancang kebutuhan masa yang akan datang.

@. Aliran progresivisme memandang bahwa pendidikan dpt mengu-


bah dan mengembangkan kebudayaan masyarakat, sedangkan ke-
budayaan suatu masyarakat ikut memberi warna pada sistem dan
proses pendidikan.
2. Aliran Esensialisme

@. Esensialisme merupakan aliran philsafat pendidikan yang didasari


oleh nilai kebudayaan yg telah ada sejak awal peradaban manusia.

@. Esensialisme lebih fleksibel, lebih terbuka thdp perubahan, lebih to-


leran dan tidak ada keterkaitan dgn doktrin tertentu.

@. Esensialisme memandang pendidikan harus berpijak pd nilai-nilai


terpilih yg jelas dan stabil (ajeg) yg dapat berasal dari kebudayaan.

@. Esensialisme lahir pada masa renaisance, dan didukung oleh dua


paham yg telah ada sebelumnya yaitu idealisme dan realisme.

@. Esensialisme memiliki konsep ontologi sbb :


1. Alam dan isinya haruslah diatur dgn tata nilai yg luhur dan bijak
2. Kehendak dan cita-cita manusia harus harmonis dgn alam dgn
segala sifatnya.
@. Esensialisme memiliki pandangan epistemologi sbb:
* Penggunaan unsur jasmani dan rohani pada diri manusia meru-
pakan dua cara yg dapat digunakan dlm membangun pengeta-
huan manusia melalui pendidikan.
* Penggunaan unsur jasmani (panca indra) merupakan hakekat
dari paham realisme yg menekankan adanya perwujudan nyata
dari objek pengetahuan manusia.
* Penggunaan unsur rohani (pikiran) merupakan hakekat dari pa-
ham idealisme yg menekankan pentingnya akal dan pikiran
dalam memberi makna pada segala yg ditangkap oleh panca
indra.

@. Esensialisme memiliki pandangan aksiologi sbb:


* aksiologi dari sudut pandang idealisme memandang bahwa pen-
didikan yg baik jika berguna dlm membangun pemikiran, gaga-
san, persepsi dan perasaan yang baik.
* aksiologi dari sudut pandang realisme memandang bahwa pen-
didikan yg baik jika terbukti mewujudkan kebudayaan yg baik.
@. Belajar menurut pandangan esensialisme

* Menurut idealisme, pada awalnya tujuan orang belajar adalah untuk


memahami dirinya sendiri (berorientasi pada “aku”). Setelah mema-
hami dirinya sendiri, orang mulai mempelajari dunia objektif yg
ada diluar dirinya, dari mikrokosmos ke makrokosmos.

* Menurut realisme ; 1) belajar adalah mengalami hal-hal (fenomena)


alam maupun sosial yg sudah pasti terjadi dan tidak dpt dihalangi
(determinsime mutlak) ; 2) belajar bukan semata-mata bersifat pa-
sif menerima kejadian-kejadian (alam dan sosial), tetapi juga bersi-
fat aktif dgn terlibatnya aktivitas observasi dan aktivitas berpikir
ttg apa yg diobservasi (determinisme terbatas)
@. Kurikulum menurut pandangan esensialisme

* Menurut pandangan idealisme, kurikulum haruslah memiliki landa-


san ideologi yang kuat, serta dibangun dan dikelola oleh organisasi
dan sistem yang baik.
* Kurikulum harus berdasarkan pada watak dan cita-cita manusia yg
ideal, sehingga pendidikan harus berorientasi pada tercapainya ke=
baikan dlm arti yang sebenarnya (Herman dlm Jalalludin, 2006)

* Kurikulum setidaknya mengandung minimal 4 hal yaitu :


1. Unsur pengetahuan sbg universum yg terbebas dari ikatan ruang,
waktu dan ikatan kepentingan apapun.
2. Unsur pertimbangan kemasyarakatan (civilization) yg membuat
pendidikan adaptif thp kebutuhan masyarakat
3. Unsur kebudayaan yg membuat pendidikan sebagi cara dan alat
membangun dan mengembangkan kebuadayaan.
4. Unsur kepribadian yang membuat pendidikan sbg cara dan alat
membangun dan mengembangkan kepribadian (Bogoslousky)
3. Aliran Perenialisme

@. Aliran perenialisme merupakan aliran filsafat pendidikan yang me-


mandang bahwa pendidikan harus kembali berorientasi pada kebu-
dayaan luhur masa lalu yg telah teruji dan terbukti mampu meng-
angkat harkat dan martabat manusia.
* Pendidikan harus memberikan peluang terbentuknya orang-orang
yg lurus, tegas dan berakhlak mulia.

@. Aliran perenialisme memandang bahwa kepercayaan dan aksioma


jaman dulu perlu diangkat lagi sbg dasar dlm membangun konsep
pendidikan.

@. Aliran perenialisme bersumber pada dua philsafat kebudayaan yaitu


1. Perenialisme teologis yg bersandar pd ajaran katolik
2. Perenialisme sekuler yg berpegang pada gagasan philosofis Plato
dan Aristoteles.
@. Pandangan Ontologi Perenialisme
* Ontologi perenialisme menyangkut pengertian tentang benda atau
hal yg berkait dgn pendidikan berbasis kebudayaan masa lalu,
serta esensi, dan substansi dari benda atau hal tersebut.
* Dengan demikian ontologi perenialisme dlm pendidikan akan
mengkaji pengertian sekolah, guru, kurikulum, siswa, belajar,
pembelajaran dan nilai yg berbasis kebudayaan masa lalu serta
esensi dan substansi dari semua itu.

@. Pandangan Epistemologi Perenialisme


* Epistemologi perenialisme menyangkut tentang cara atau metode
pengembangan pendidikan yang berbasis kebudayaan masa lalu.
Dalam hal ini, perenialisme memandang bahwa pendidikan harus
dikembangkan dgn cara ; 1) berpegang pd kepercayaan / keyakin-
an yg sudah ada di masyarakat ; 2) menjunjung tinggi ilmu penge-
tahuan sbg universum yg bebas dari kepentingan personal ; 3) ber-
orientasi pd kebenaran yg hakiki.
@. Pandangan aksiologi perenialisme
* Aksiologi perenialisme memandang bahwa pendidikan yg ber-
basis kebudayaan luhur masa lalu menekankan kemanfaatan
dari sisi nilai, moral dan akhlak. Dengan demikian, pendidikan
dipandang berhasil adalah jika peserta didik bermoral, berakhlak,
memahami dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yg ada.

4. Aliran Rekonstruksionisme

@. Aliran rekonstruksionisme memandang bahwa pendidikan harus di-


dasarkan atas kebudayaan dan tatanan hidup yg modern. Dengan
demikian, jika ada hal-hal yg kuno dlm sistem pendidikan, maka
hal itu harus di rombak dan disusun ulang mengikuti perkembang-
an budaya yang terus maju.

@. Aliran rekonstruksionisme ini juga memandang bahwa pembangun-


bangsa melalui pendidikan membutuhkan kerjasama seluruh umat
manusia.
@. Pandangan ontologi rekonstruksionisme

* Ontologi rekonstruksionisme menyangkut pemahaman tentang


realitas pendidikan bersifat universal karena dimanapun juga
pendidikan memiliki pengertian, esensi dan substansi yang sama
yaitu suatu upaya atau bidang kegiatan manusia yg secara sadar
direncanakan dan dilaksnakan untuk meningkat kualitas, harkat
dan martabat manusia itu sendiri.
* Terkait perlunya modernisasi pendidikan, maka ontologi rekons-
truksionisme juga memandang bahwa modernisasi pendidikan
memiliki sifat universal karena dibutuhkan di mana-mana.
* Ontologi rekonstruksionisme memandang bahwa dua hal yang
harus menjadi perhatian dlm pendidikan adalah aspek jasmani
(fisik = materi) dan rohani (sukma). Jasmani dan rohani kedua-
nya merupakan modal dan sekaligus orientasi dari pendidikan
itu.
@. Pandangan epistemologi rekonstruksionisme
* Epistemologi rekonstruksionisme memandang bahwa rasio dan
pengalaman sama-sama diperlukan dlm mengembangkan kon-
sepsi tentang pendidikan yg berorientasi kebudayaan modern.

@. Pandangan aksiologi rekonstruksionisme


* Aksiologi rekonstruksionisme menyangkut pandangan bahwa
kemanfaatan dari pendidikan yg berdasar kebudayaan modern
harus tetap berorientasi pada nilai, moral dan akhlak.