Anda di halaman 1dari 18

M. Sofyan,.S.ST,.M.

Kes
Kandung empedu berbentuk seperti buah pear,
kantung berdinding tipis kira-kira berukuran 8-12 cm x 4-
5 cm yang menampung cairan 30-50 ml. Kandung
empedu terletak pada fossa di hati yang diletakkan oleh
jaringan ikat (Leohardt, 1975). Namun letak kandung
empedu berbeda-beda pada setiap individu, pada
umumnya terletak di abdomen kanan atas, yaitu berada
pada pinggir bawah hati dekat fleksura hepatika kolon
dan bulbus duodeni atau duodenum pars desendens
(Rasad dkk, 1999).
Getah kandung empedu adalah cairan alkali yang
disekretkan oleh hati. Volume cairan yang setiap hari
dikeluarkan oleh setiap orang adalah 500-1000 ml,
sekresinya berjalan terus menerus tetapi jumlah
produksinya dipercepat sewaktu pencernaan, khususnya
pencernaan lemak. 80 % dari getah empedu terdiri atas :
air, garam empedu, pigmen empedu, kolesterol, musin
dan zat lainnya (Pearce, 1999)
 Pigmen ini dibentuk dalam sistem retikulo-
endotelium (khususnya limpa dan sumsum tulang
belakang) dari pecahan hemoglobin yang berasal
dari sel darah merah rusak, dialirkan ke hati dan
kemudian diekskresikan ke dalam empedu. Ubar
ini diantarkan oleh empedu ke usus halus;
beberapa menjadi stekobilin, yang mewarnai feses,
dan beberapa diabsorbsi kembali oleh aliran darah
dan membuat warna pada urine, yaitu urobilin.
pigmen empedu hanya merupakan bahan ekskresi
dan tidak mempunyai pengaruh pada pencernaan
(pearce, 1999).
DEFINISI :
Pemeriksaan radiologi invasive yang menggunakan media kontras untuk
menilai duktus biliaris.
1. Sangat berperan terutama pada jaundice guna membedakan
obstruksi jaundice dan non obtruksi
2. Digunakan untuk menentukan posisi, ukuran dan penyebab obstruks

Tujuan Pemeriksaan
Tujuan pemeriksaan ini adalah untuk menunjukkan sumbatan
sebagian atau total gambaran duktus-duktus empedu
Indikasi Pemeriksaan (Bontrager, 2001)
 Koledokolitiasis
Adalah kondisi adanya pergeseran batu yang tidak normal atau
adanya batu di duktus empedu.
 Kolesistitis
Adalah peradangan yang sering menghalangi duktus sistikus dalam
kelancaran aliran empedu dari kandung empedu ke comon bile duct.
 Neoplasma
Merupakan pertumbuhan baru dari tumor jinak dan tumor ganas.
 Stenosis Billiari
Merupakan penyempitan dari salah satu duktus billiari.
 Kongenital Anomalis
Merupakan kelainan bawaan sejak lahir berupa tumor jinak dan
dapat mempengaruhi produksi, penyimpanan dan pengeluaran
empedu.
Kontra Indikasi Pada Pemeriksaan
PTC
 Pasien dengan resiko pendarahan.
 Sepsis traktus biliari.
 Tidak ada fasilitas pembedahan cepat.
 Hydatid disease
 Persiapkan pesawat flouroscopy.
 Persiapkan alat penyeteril termasuk jarum Cheaba.
 Pilih kontras media yang tepat. Perhatikan apabila
pasien alergi iodin.
 Sediakan apron.
 Ambil foto polos untuk menyesuaikan foto
selanjutnya.
 Awasi pasien saat pemeriksaan.
 Tukar kaset bila perlu.
 Ambil foto thorax bila diminta.
Persiapan-persiapan pendahuluan terdiri
dari berikut ini:
 Puasa 5 jam sebelum pemeriksaan dimulai
 Pemeriksaan darah & urine lengkap
 Pemeriksaan fungsi hati
 Buang air kecil sebelum pemeriksaan
 Pesawat general fluoroscopy
 Peralatan sterilisasi
 Asepsis kulit
 Bengkok
 Peralatan anestesi local
 Chiba needle - flexible 22 gauge 18 cm
 Contrast agents Low osmolar 200 mg/ml 20
- 60 ml
 Pasien tidur supine dan area penusukan jarum, jaringan dalam dan liver
capsule dianestesi lokal beri waktu agar anestesi bereaksi. dibawah layar
flouroscopy jarum Cheaba ditusukkan ke hati dengan tahan nafas,
Setelah diketahui letak bile duct, diambil cairan empedunya untuk
pemeriksaan lab. Saat posisi sudah benar pasien diperbolehkan bernafas
lembut dengan teratur.
 Selanjutnya MK disuntikan sedikit untuk mengetahui posisi jarum sudah
tepat apa belum.
 Suntikan dilepas dari jarum dan suntikan yang berisi kontras dipasang,
kontras media disuntikan dibawah layar flouroscopy jarum ditarik
sampai duktus terlihat, mungkin butuh beberapa manipulasi sampai
sepuluh kali. Cairan bilier diambil untuk dianalisa dan selanjutnya media
kontras disuntikkan untuk mengisi sistem duktus dan untuk
mengidentifikasi tingkat obstruksi.
 Apabila diidentifikasi adanya obstruksi pada saluran empedu
selanjutnya dipersiapkan untuk laparatomi.
Gambar kateter untuk pemasukan media kontras pada duktus bilier
Foto pendahuluan adalah pemotretan di daerah abdomen
kuadran kanan atas sebelum dilakukan pemasukan media
kontras, adapun tujuan dari pemotretan foto pendahuluan
ini adalah melihat persiapan penderita, menilai kelainan-
kelainan anatomi dari organ traktus biliaris, dan
menentukan pemakaian proyeksi dan faktor eksposi
selanjutnya (Tavares dan Wood, 1964).
PROYEKSI YANG DIGUNAKAN :
Proyeksi yang digunakan dalam foto pendahuluan ini
adalah proyeksi antero-posterior (AP) yaitu :
Posisi pasien: Berbaring terlentang dengan kedua tangan
berada di atas dada dan di bawah kedua
lutut diberi ganjalan. MSP tuguh diatur
pada pertengahan meja/ grid.
Posisi objek: Atur abdomen pada pertengahan kaset
dngan batas atas prossesus xipoideus
dan batas bawah simpisis pubis.
Arah sinar: Vertikal tegak lurus pad pertengahan grid
setinggi pertengahan kedua krista illiaka.
Eksposi: Saat pasien ekspirasi dan tahan nafas.
Kaset : Ukuran 35 x 43 cm (Ballinger, 1995).
Kriteria:
Tampak batas atas vertebra thorakalis XI dan batas bawah
simpisis pubis, kolumna vertebra pada pertengahan radiograf,
dinding bagian abdomen bagian lateral dan lemak properitonial,
muskulus psoas, batas bawah hati, dan kedua ginjal, serta
beberapa tulang iga bawah (Ballinger, 1995).
Proyeksi yang digunakan dalam foto post penyuntikan media
kontras ini adalah proyeksi antero-posterior (AP) yaitu :
Posisi pasien: Berbaring terlentang dengan kedua tangan
berada di atas dada dan di bawah kedua lutut
diberi ganjalan. MSP tuguh diatur pada
pertengahan meja/ grid.
Posisi objek: Atur abdomen pada pertengahan kaset dngan
batas atas prossesus xipoideus dan batas bawah
simpisis pubis.
Arah sinar: Vertikal tegak lurus pad pertengahan grid setinggi
pertengahan kedua krista illiaka.
Eksposi: Saat pasien ekspirasi dan tahan nafas.
Kaset: Ukuran 35 x 43 cm (Ballinger, 1995).
Kriteria: ID dan anatomical markers harus tanmpak dan tepat
pada area film.Eksposure optimal harus
menamkpakan media kontras dan kontras harus
dapat menampakan soft tisue dan struktur tulang.
1. Temperatur, nadi dan tekanan darah dicek setiap saat (
15 menit, 4 jam dan selanjutnya sampai 24 jam.
2. Dan selanjutnya diobservasi sampai 48 jam apabila
terindikasi adanya perdarahan dan kebocoran empedu.

1. Kematian kurang dari 1%


2. Alergi jarang terjadi.
3. Cholangitis, haemorrhage, abses Subpherenic,
Shock, bacteraemia, septicaemia.

Anda mungkin juga menyukai