Anda di halaman 1dari 6

GERD

Definisi : Suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam
esophagus,dengan berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan
esophagus,faring,laring dan saluran nafas.

Etiologi:
- Relaksasi LES yang terjadi secara spontan kurang lebih 5 detik tanpa didahului
proses menelan

- Factor sfingter esophagus distal(LES) yang melemah dapat disebabkan karena:

1. Adanya hiatus hernia,


2. Panjang LES(makin pendek LES ,makin rendah tonusnya) ,
3. Obat-obatan seperti antikolinergik,beta adrenergic,theofilin,opiat dan lain-lain
4. Faktor hormonal
5. Merokok,alkohol
Histopatologi

- Hiperplasia pada lapisan basal


- Elongasi lamina propria
Gambaran Klinis
- Gejala yang khas dari GERD adalah timbulnya rasa nyeri atau rasa tidak enak di
epigastrium atau retrosternal bagian bawah. Rasa nyeri biasanya dideskripsikan
seperti rasa terbakar, kadang-kadang bercampur dengan rasa disfagia, mual dan rasa
pahit di lidah. Walau demikian derajat berat ringannya keluhan heartburn
ternyata tidak berkolerasi dengan temuan endoskopik.

- GERD dapat juga menimbulkan menifestasi gejala ekstra esopageal yang atipik dan
sangat bervariasi mulai dari nyari dada non-kardiak, suara serak, laryngitis

Pemeriksaan Penunjang
- Endoskopi saluran cerna bagian atas

Pemeriksaan endoskopi merupakan standar baku untuk diagnosis GERD dengan


ditemukannya mucosal break di esofagus,pemeriksaan ini dapat menilai
perubahan makroskopik dari mukosa esophagus.Jika tidak ditemukan mucosal
break pada pasien dengan gejala khas GERD maka disebut non-erosive reflux
disease(NERD).
Pemeriksaan Penunjang
Endoskopi ,Klasifikasi Los Angeles (LA):
Grade A, Erosi kecil-kecil pada mukosa esofagus dengan diameter < 5 mm.
Grade B, Erosi pada mukosa/lipatan mukosa dengan diameter > 5 mm tanpa saling
berhubungan.
Grade C, Lesi yang konfluen(menyatu/bergabung) tetapi tidak mengenai/mengelilingi seluruh
lumen.
Grade D, Lesi mukosa esophagus yang bersifat sirkumferensial (mengelilingi seluruh lumen).
- Tes Bernstein
Untuk mengukur sensitivitas mukosa esophagus dengan memasang selang
transnasal dan memasukkan larutan HCl 0,1 M dan NaCl,jika saat dimasukkan HCl
menimbulkan rasa nyeri pada dada sedangkan NaCl tidak,maka Tes positif (+).

- PPI test
Tes ini merupakan terapi empirik untuk menilai gejala dari GERD dengan
memberikan PPI dosis tinggi selama 1-2 minggu sambil melihat respon yang
terjadi.dikatakan positif (+) jika terdapat perbaikan dari 50-75% gejala yang terjadi.
Penatalaksanaan

Terdapat 2 alur pendekatan terapi medikamentosa,yaitu step up dan step down.

- Pendekatan step up dimulai dengan obat kurang kuat dalam menekan sekresi asam
(antagonis reseptor H2) atau golongan prokinetik,bila gagal diberikan obat golongan
penekan sekresi asam yang lebih kuat dengan masa terapi lebih lama (PPI)

- Pendekatan step down dimulai dengan PPI dosis tinggi dan setelah berhasil dapat
dilanjutkan dengan dosis yang lebih rendah atau memakai antagonis reseptor H2 atau
prokinetik.

Antagonis reseptor H2 = Ranitidin ,dosis 4X150 mg


Prokinetik = Metokloropramid ,dosis 3X10 mg
PPI (Proton Pump Inhibitor) = Omeprazole,dosis 2x20 mg

Terapi bedah.
Beberapa keadaan dapat menyebabkan gagalnya terapi medikamentosa, yaitu:
diagnosa tidak benar, Pasien GERD sering di sertai gejala-gejala lain misalnya kembung, cepat
kenyang yang sering tidak memberikan respon dengan pengobatan PPI, Terjadi striktur, Terdapat
stasis lambung dan disfungsi LES
Komplikasi
• Komplikasi yang paling sering terjadi adalah striktur esophagus dan
perdarahan.Terjadi perubahan mukosa esophagus dari epitel skuamosa
menjadi epitel kolumnar,disebut sebagai barret esophagus,suatu keadaan
premaligna.