Anda di halaman 1dari 30

Ekonomi Pembangunan

Model Kontemporer Pembangunan


dan Keterbelakangan

Firmando Abrian Hutama


Dynda Fadhlillah Aulia
Brian Jordi
Naufal Hilmy Fahryan Gunawan
• Kinerja teori neoklasik yang tidak memuaskan
dalam menjelaskan sumber-sumber
pertumbuhan ekonomi jangka panjang telah
menyebabkan kekecewaan yang meluas
terhadap teori pertumbuhan tradisional.
• Bahkan menurut teori tradisional, tidak
terdapat karakteristik intristik dari
perekonomian yang menyebabkannya tumbuh
dalam jangka panjang.
• Sebaliknya, literature tersebut malah membahas
proses dinamis yang membuat rasio modal-tenaga
kerja mendekati tingkat keseimbangan jangka panjang.
• Jika tidak ada “guncangan” eksternal atau perubahan
teknologi, yang tidak dijelaskan dalam model
neoklasik, semua perekonomian akan menuju kepada
pertumbuhan nol.
• Oleh karena itu, peningkatan GNI per kapita dianggap
merupakan fenomena sementara saja, yang bersumber
dari perubahan teknologi atau proses penyeimbangan
jangka pendek selama perekonomian mendekati
ekuilibrium jangka panjangnya.
Menurut teori ini, sebagian besar pertumbuhan
ekonomi merupakan faktor eksogen atau proses
yang independen dari kemajuan teknologi.
Terdapat 2 kelemahan teori neoklasik, yaitu:
1. Tidak dapat menganalisis penentu kemajuan
teknologi.
2. Tidak dapat menjelaskan besarnya
perbedaan residu antara negara yang
memiliki teknologi yang sama.
• Dalam teori neoklasikal, rasio modal dan
tenaga kerja yang rendah pada negara-negara
berkembang menjanjikan tingkat
pengembalian investasi yang tinggi.
• Namun, pada kenyataannya banyak negara
berkembang yang pertumbuhannya rendah
dan gagal menarik investasi asing.
• Hal ini lah yang memicu munculnya teori
pertumbuhan baru.
• Teori pertumbuhan baru memberikan kerangka
teoritis untuk menganalisis pertumbuhan
endogen, yaitu pertumbuhan GNP yang persisten,
yang ditentukan oleh sistem yang mengatur
proses produksi.

• Tujuan utama dari teori pertumbuhan baru


adalah untuk menjelaskan perbedaan tingkat
pertumbuhan antar negara maupun faktor-faktor
yang memberi proporsi lebih besar dalam
pertumbuhan.
• Teori pertumbuhan endogen menjelaskan
faktor-faktor yang menentukan tingkat
pertumbuhan GDP (gross domestic produk)
• Aspek yang paling menarik dalam teori
pertumbuhan endogen yaitu dapat
menjelaskan keanehan aliran modal
internasional yang memperparah
ketimpangan antara negara maju dan negara
berkembang.
4.1 Keterbelakangan Sebagai
Kegagalan Koordinasi
• Teori pembangunan ekonomi baru yang
berpengaruh pada dekade 1990-an dan pada
tahun-tahun pertama abad 21 telah
menekankan komplementaritas
(complementarities) antar kondisi yang
dibutuhkan untuk menyukseskan pembangunan.
• Teori-teori ini sering mengemukakan bahwa
beberapa hal harus berjalan dengan cukup baik,
pada saat yang bersamaan, agar pembangunan
yang berkelanjutan dapat berlangsung.
• Komplementaritas  suatu tindakan yang
dilakukan oleh sebuah perusahaan, pekerja, atau
organisasi yang memperkuat dorongan bagi agen
untuk melakukan tindakan serupa
• Agen perekonomian  pelaku ekonomi atau
pihak2 yang terlibat dalam suatu perekonomian –
biasanya perusahaan, pekerja, atau pemerintah –
melakukan tindakan untuk memaksimalkan
pencapaian tujuan
• Teori-teori ini juga menekankan bahwa dalam
berbagai situasi yang penting, investasi harus
dilaksanakan oleh banyak lembaga agar hasilnya
bisa menguntungkan bagi setiap lembaga
individu.
• Umumnya, ketika terdapat komplementaritas,
tindakan yang diambil oleh sebuah perusahaan,
pekerja, atau organisasi akan meningkatkan
insentif bagi lembaga/agen pembangunan yang
lain untuk melakukan tindakan serupa
• Kegagalan koordinasi adalah sebuah kondisi
dimana ketidakmampuan berbagai lembaga
untuk mengkoordinasikan perilaku atau
tindakannya (pilihannya) yang mengakibatkan
semua lembaga tersebut berada dalam kondisi
yang lebih buruk dari pada situasi
alternatifnya.
4.2 Ekuilibrium Jamak: Pendekatan
Diagramatis
• Gagasan dasar dalam ekuilibria jamak adalah bahwa
manfaat yang diterima oleh sebuah lembaga yang
mengambil suatu tindakan bergantung secara positif
pada seberapa banyak lembaga lain yang diharapkan
akan melakukan tindakan yang sama, atau pada
dampak dari tindakan-tindakan tersebut.
• Contohnya, harga produk yang dihasilkan petani
bergantung pada jumlah pedagang perantara di daerah
tersebut, dan juga bergantung pada jumlah petani yang
menghasilkan barang yang sama.
• Dalam kelompok kecil, koordinasi tidak menjadi
masalah yang besar karena pihak-pihak yang
terkait saling mengetahui satu sama lain dan
mempunyai kepentingan yang sama. Namun,
untuk masalah yang lebih kompleks maka
pemecahan masalah koordinasi akan lebih sulit.
• Titik ekuilibrium pada ekuilibrium jamak terjadi
ketika jumlah yang diharapakan untuk melakukan
sesuatu sama dengan jumlah yang benar-benar
melakukan tindakan tersebut.
• Contohnya dalam masalah pembangunan
ekonomi adalah ketika tingkat pengembalian
dari suatu investasi bergantung pada
keberadaan investasi lain.

• Penyelesaiannya akan lebih mudah jika


terdapat banyak investor, namun pasar tidak
akan dengan sendirinya menuju kondisi
tersebut tanpa peran dari pemerintah.
Diagram standar untuk menggambarkan beberapa ekuilibrium
dengan kemungkinan koordi-kegagalan negara ditunjukkan pada
Gambar 4.1.
4.3 Memulai Pembangunan Ekonomi:
Model Dorongan Besar
• Model dorongan besar adalah sebuah model
yang menunjukkan bagaimana kegagalan
pasar dapat menimbulkan kebutuhan akan
perekonomian yang terencana dan juga
kebutuhan akan berbagai upaya yang
dicetuskan oleh kebijakan publik, agar proses
pembangunan ekonomi yang panjang dapat
berjalan atau dipercepat
4 kondisi yang memerlukan dorongan
besar:

Efek Efek
Intertemporal Urbanisasi

Efek
Efek Pelatihan
Infrastruktur
Dorongan Besar: Model Grafis
Asumsi Dorongan Besar
1 • Faktor Produksi

2 • Pembayaran Faktor Produksi

3 • Teknologi

4 • Permintaan Domestik

5 • Penawaran dan Permintaan Internasional

6 • Struktur Pasar
Mengapa Masalah Tidak Bisa
Dipecahkan oleh Pengusaha Super
Kemungkinan
Biaya
Kegagalan
Kelembagaan
Pasar Modal

Kegagalan Ada Batas


Komunikasi Pengetahuan
4.4 Masalah lanjutan dari Ekuilibrium
Jamak
4.5 Teori Cincin O dari Michael Kremer
tentang Pembangunan Ekonomi
Implikasi Teori:
1. Perusahaan cenderung untuk mempekerjakan karyawan
yang mempunyai keterampilan yang serupa untuk
melakukan tugas-tugas mereka.
2. Pekerja yang melakukan tugas yang sama di perusahaan
berketerampilan tinggi akan mendapatkan upah yang
lebih tinggi daripada rekannya di perusahaan
berketerampilan rendah.
3. Karena kenaikan upah berlangsung dengan tingkat yang
semakin tinggi, tingkat upah akan jauh lebih tinggi di
negara-negara maju dari pada yang diramalkan menurut
ukuran keterampilan yang objektif.
4. Seorang dapat terjebak dalam jebakan kualitas
produksi yang rendah yang meliputi seluruh
perekonomian. Hal ini akan terjadi jika terdapat efek
cincin-O antar perusahaan maupun di dalam sebuah
perusahaan.
5. Efek cincin-O memperbesar dampak kemandegan
(bottleneck) produksi lokal karena kemandegan
seperti itu mempunyai efek berganda pada
produksi yang lain.
6. Kemandegan juga mengurangi insentif para pekerja
untuk berinvestasi dalam meningkatkan
keterampilan, dengan menurunkan hasil yang
diharapkan dari investasi ini.
4.6 Pembangunan Ekonomi sebagai
Penemuan Diri
Dalam model sederhana dengan informasi
yang sempurna, diasumsikan bahwa
perusahaan, dan negara berkembang secara
keseluruhan, sudah mengetahui keunggulan
komparatifnya. Tetapi individu harus
menemukan keunggulan komparatif mereka
sendiri di pasar tenaga kerja; Misalnya, tidak ada
yang terlahir mengetahui bahwa mereka sangat
cocok untuk menjadi ahli ekonomi atau spesialis
pembangunan internasional.
4.7 Kerangka Kerja Diagnostik Pertumbuhan
Hausmann – Rodrik - Velasco
Ricardo Hausmann, Dani Rodrik, dan Andreas
Velasco (HRV) mengusulkan suatu kerangka
kerja dalam bentuk pohon keputusan (decision
tree) untuk mendiagnosa pertumbuhan dalam
rangka mengatasi kendala-kendala yang
sebagian besar dialami negara-negara dalam
pertumbuhan ekonominya
Dalam kerangka kerjanya, HRV memberikan tahapan yang
harus dilakukan dalam kasus umum dimana negara-negara
berkembang mengalami suatu tingkat investasi swasta dan
enterpreneurship yang relatif rendah, seperti terlihat pada
gambar berikut:
Studi Kasus
Sejak tahun 1978 hingga 2004, perekonomian Cina
tumbuh dengan tingkat rata-rata 9 persen per tahun. Hal
ini merupakan pencapaian yang luar biasa bagi sebuah
perekonomian sepanjang sejarah mengingat jumlah
populasinya yang sangat besar. Pendapatan per kapita
Cina pada tahun 2004 adalah lima kali pendapatan per
kapitanya pada tahun 1978. Ledakan pertumbuhan
ekonomi dapat memicu inflasi ini diperkirakan akan
terjadi pada tahun 2004 dan pemerintah telah berusaha
untuk memperlambat pertumbuhan ekonominya
tersebut ke tingkat 9 persen, tiga kali tingkat
pertumbuhan ekonomi negara lainnya yang
dipertimbangkan berdasarkan standar sebagian besar
negara berpendapatan rendah.
Cina juga telah berhasil mengurangi tingkat kemiskinan
dengan sangat dramatis di seluruh dunia. Data resmi yang
dikeluarkan oleh pejabat Cina menunjukkan adanya
penurunan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis
kemiskinan secara sensasional, yaitu dari 260 juta pada
tahun 1978 menjadi 42 juta pada tahun 1998. Penelitian
independen yang dilakukan oleh World Bank
memperkirakan jumlah penduduk miskin di Cina telah
menurun dari sekitar 303 juta pada tahun 1987 menjadi
213 juta pada tahun 1998. Apa pun ukuran perkiraan
yang digunakan, penurunan tingkat kemiskinan yang
dialami oleh Cina jauh lebih cepat dan lebih besar dari
yang dialami oleh negara mana pun di dunia.
Daftar Pusaka

• Todaro, P Michael dan Stephen C. Smith, 2009,


“Economic Development.” 11th Edition, Pearson
Addison Wesley. (e-book)
• Todaro, P Michael dan Stephen C. Smith, 2011,
Pembangunan Ekonomi, Jakarta, Erlangga.
• http://anto-fe-
unsa.blogspot.co.id/2012/04/ekonomi-
pembangunan-ii-materi-iii.html
• http://nurulchaeriah.blogspot.co.id/2015/09/revi
ew-buku-pembangunan-ekonomi-edisi_21.html

Beri Nilai