Anda di halaman 1dari 39

General Anestesi pada Ileus

Obstruksi
Disusun
Oleh
Mimba wibiyana

Pembimbing
Dr. Benny Chairuddin, Sp.An, Mkes
Ileus Obstruktif
 Suatu penyumbatan mekanis pada usus di mana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup
atau menganggu jalannya isi usus, yaitu oleh karena
kelainan dalam lumen usus, dinding usus atau luar
usus yang menekan.
Etiologi
 Ekstraluminal: Adhesi, hernia inkaserata, neplasma,
Abses, hematom
 Intrinsik: intususepsis, penyakit crohn, kongenital,
striktur.
 Intraluminal: batu empedu
Patofisiologi Ileus Obstruktif
 Penyumbatan intestinal mekanik→
penyempitan/penyumbatan lumen→ pasase lumen
terganggu→ pengumpulan isi lumen usus→ distensi pada
dinding usus→ ↑tekanan intraluminal→ hipersekresi
kelenjar pencernaan (absorbsi usus menurun)→ syok
hipovolemik.
 Peristaltik bagian usus meningkat (kompensasi)→
karena obstruksi terus berlanjut dan ↑tekanan
intraluminal→usus tidak berkontraksi dengan baik dan
bisisnng usus menjadi tidak teratur dan menghilang.
Manifestasi Klinis Ileus Obstruktif
 Nyeri kolik abdomen,
 Mual, muntah
 Perut distensi dan tidak bisa buang air besar
(obstipasi).
Pemeriksaan Fisik
 Pada tahap awal, tanda vital normal. Seiring dengan
kehilangan cairan dan elektrolit, maka akan terjadi
dehidrasi dengan manifestasi klinis takikardi dan
hipotensi postural.
 Pada pemeriksaan abdomen:
1. Inspeksi: tampak distensi, ada bekas luka operasi
sebelumnya dapat dicurigai adanya adhesi.
2. Auskultasi: hiperperistaltik, fase lanjut bising usus
dan peristaltik melemah sampai hilang.
3. Perkusi: hipertimpani. Pada obstruksi usus dengan
strangulasi dapat ditemukan ascites.
4. Palpasi: adanya rasa nyeri abdomen yang hebat dan
bersifat menetap makin lama makin hebat.
Pemeriksaan Penunjang
 Ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis.
 Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada
dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya
gangguan elektrolit.
 Analisa gas darah, dengan alkalosis metabolik bila
muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda –
tanda shock, dehidrasi dan ketosis.
 Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid
level yang banyak di beberapa tempat (multiple air
fluid level).
 CT scan: menegakkan diagnosa pada obstruksi usus
halus, obstruksi yang komplit, obstruksi usus besar
yang dicurigai adanya abses, dan keganasan.
Penatalaksanaan
 Pre-operatif: penggantian kehilangan cairan dan
elektroli.
 Operatif: operasi dilakukan setelah rehidrasi dan
dekompresi nasogastrik.
 Post-operatif: Pengobatan pasca bedah sangat penting
terutama dalam hal cairan dan elektrolit
General Anestesi (Anestesi
Umum)
 Tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai
hilangnya kesadaran dan bersifat reversible
Tujuan Anestesi Umum adalah trias anestesi:
1. Hipnotik, didapatkan sedatif, anestesi inhalasi
(halotan, enfluran, isofluran, sefovluran).
2. Analgesia, didapatkan N2O, analgetik narkotik
3. Relaksasi oto, diperlukan untuk mengurangi tegangan
tonus otot→ mempermudah tindakan pembedahan.
Metode Anestesi umum
 Parenteral: Anestesi umum secara intravena maupun
intramuskular digunakan untuk tindakan operasi yang
singkat atau untuk induksi anestesi.
 Inhalasi: menggunakan gas atau cairan anestesi yang
mudah menguap sebagai zat anestetika melalui udara
pernafasan.
 Perektal : Anestesi perektal kebanyakan dipakai pada
anak-anak, terutama untuk induksi anestesi atau
tindakan operasi singkat.
Keuntungan dan Kerugian
Anestesi Umum
Keuntungan :
 Membuat pasien lebih tenang
 Untuk operasi yang lama
 Dilakukan pada kasus-kasus yang memiliki alergi
terhadap agen anestesia lokal
Kerugian :
 Membutuhkan mesin-mesin yang lengkap.
 Dapat menimbulkan komplikasi yang berat, seperti :
kematian, infark myokard, dan stroke.
Penilaian dan Persiapan Prabedah

 Anamnesis
 Pemeriksaan fisik
 Pemeriksaan laboratorium
 Kebugaran untuk anestesia
 Kebugaran untuk anestesia:
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran
fisik seseorang berasal dari The American Society of
Anesthesiologists (ASA).
 Kelas I : Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik,
biokimia.
 Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau
sedang.
 Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga
aktivitas rutin terbatas.
 Kelas IV : Pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat
melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan
ancaman kehidupannya setiap saat.
 Kelas V : Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau
tanpa pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam
Induksi
 Untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak
sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi
dan pembedahan.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan ‘STATICS’: 4
 S : Scope  Stetoskop untuk mendengarkan suara paru
dan jantung. Laringo-Scope, pilih bilah atau daun (blade)
yang sesuai dengan usia pasien. Lampu harus cukup
terang.
 T : Tube  Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun
tanpa balon (cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).
 A : Airway  Pipa mulut faring (Guedel, oropharyngeal
airway) atau pipa hidung-faring (naso-pharyngeal airway).
Pipa ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar
untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan napas.
 T : Tape  Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak
terdorong atau tercabut.
 I : Introducer  Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus
plastik (kabel) yang mudah dibengkokan untuk pemandu
supaya pipa trakea mudah dimasukkan.
 C : Connector  Penyambung antara pipa dan peralatan
anestesi
 S : Suction  Penyedot lendir, ludah danlain-lainnya.
Induksi intravena
 Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg
atau 1000 mg.
 Propofol (diprivan, recofol)
 Ketamin (ketalar)
 Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil)
Induksi intramuscular
 Ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuskulardengan dosis 5-7 mg/kgBB
Induksi inhalasi
 N2O
 Halotan (fluotan)
 Enfluran (etran, aliran)
 Isofluran (foran, aeran)
 Desfluran (suprane)
 Sevofluran (ultane)
Tatalaksana Jalan Nafas
 Manuver tripel jalan napas
 Jalan napas faring
 Sungkup muka
 Sungkup laring (Laryngeal mask)
 Pipa trakea (endotracheal tube)
 Laringoskopi dan intubasi
Klasifikasi struktur faring
(Mallampati)
Grad Pilar faring Uvula Palatum Molle
asi

1 + + +

2 - + +

3 - - +

4 - - -
Indikasi intubasi trakea

 Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun.


 Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
 Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi
Komplikasi intubasi
 Selama intubasi
 Trauma gigi geligi
 Laserasi bibir, gusi, laring
 Merangsang saraf simpatis
 Intubasi bronkus
 Intubasi esophagus
 Aspirasi
 Spasme bronkus
 Setelah ekstubasi
 Spasme laring
 Aspirasi
 Gangguan fonasi
 Edema glottis-subglotis
 Infeksi laring, faring, trakea
ILUSTRASI KASUS
IDENTITAS PASIEN
 Nama : Tn. Jamal
 Umur : 53 th
 Berat badan : 60 kg
 Tinggi badan : 165
 Jenis kelamin : laki-laki
 Alamat : Sei Mandau, Tasik Betung
 Agama : Islam
 Tanggal masuk RS : 23 agustus 2017
 No. RM : 188176s
ANAMNESIS
 Keluhan Utama : Nyeri di bagian perut
 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri di
semua bagian perut sejak 1 minggu dan membuncit 2
hari ini. Pasien mengaku sulit BAB selama 1 minggu
disertai mual dan muntah serta nafsu makan
menurun.
 Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat asma disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwyat DM disangkal
Riwayat sakit jantung disangkal
 Riwayat Penyakit Keluarga:
Riwayat asma disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat DM disangkal
 Riwayat penggunaan obat-obatan
Tidak ada riwayat penggunaan obat-obatan
sebelumnya:
 Riwayat Anestesi/Operasi sebelumnya
Tidak ada riwayat anestesi atau operasi sebelumnya
PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada hari rabu, 23 Agustus 2017
Kepala
1. Mata:
 Conjungtiva tidak anemis
 Sklera tidak ikterik
 Pupil isokor
2. Hidung:
 Tidak ada deviasi septum
 Patensi +/+
 Sekret tidak ada
3. Mulut:
 Buka mulut 3 jari
 Mallampati 1
 Gigi: Gigi palsu (-)
4. Leher:
 Inspeksi : Simetris, trakea di tengah, TMD > 6 cm, gerak
leher bebas.
 Palpasi : Pembesaran tiroid dan limfe (-)
5. Thorax
 Pulmo : Vesikuler (+/+) normal, Ronki (-/-), Whezing (-/-
),
 Cor : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
6. Abdomen:
 Inspeksi : Perut datar, tidak ada bekas luka
 Auskultasi : Bunyi usus (-) tidak normal
 Perkusi : Tympani
 Palpasi : Supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba
7. Ekstremitas : Akral hangat, edema sup (-/-), inf (-/-),
keterbatasan gerak (-), CRT < 2’’
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
 Tanggal : 23 Agustus 2017
 Pemeriksaan darah lengkap
 Hb : 12,8 g/dL
 Leukosit : 14,8 103/uL
 Ht : 47 %
 Eritrosit : 5,1 106/uL
 Trombosit : 245 103/uL
 Masa pembekuan (CT) : 4 menit
 Masa perdarahan (BT) : 3 menit
 Gula darah sewaktu : 150 mg/dl
PEMERIKSAAN FOTO THORAX AP
 Cor : besar dan bentuk normal
 Pulmo : Tak tampak infiltrat di kedua lapang paru, corakan bronkovaskuler
normal. Sinus phrenicocostalis kanan kiri tajam. Diaphragma kanan kiri normal.
Trachea di tengah. Sisterna tulang belakang baik.
 Kesan: Cord an Pulmo tak tampak kelainan.

ABDOMEN/BNO (ABDOMEN 3 POSISI)


 Tampak dilatasi gas usus, tampak gabaran steplader, patologis dengan air fluid
level yang pendek-pendek, tak tampak gambaran udara bebas di suprahepatal
maupun sub diafragma kiri.
 Kesan: illeus obstruktif letak rendah.
KESIMPULAN
 Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka:
 Diagnosis pre operatif : Ileus obstruktif parsial + konstipasi
 Status Operatif : ASA II
 Jenis operatif : Laparotomi
 Jenis anetesi : General anestesi
LAPORAN ANESTESI
1. Laporan Pre Operatif
 Informed concent : Ada
 Surat izin operasi : Ada
 Puasa : Pasien puasa sejak jam 05.00 pagi
 Pemasangan IV line : Terpasang
 Dilakukan pemasangan monitor tejanan darah, nadi dan sturasi O2
 Pemeriksaan pasien di ruang operasi
 Tekanan darah : 90/60
 Nadi : 100
 Suhu : 36,7 oC
 Pernafasan : 22 x/menit
2. Laporan Durante Operatif
Penatalaksanaan anestesi
 Tanggal operasi : 23 Agustus
 Mulai operasi : 11.30 WIB
 Diagnose pra bedah : Ileus Obstruktif + konstipasi
 Diagnose post bedah : Ileus Obstruktif + konstipasi
 Macam operasi : laparotomi
 Teknik anestesi : General anestesi
 Premedik :
Ketorolac 30 mg
Ondansetron 4 mg
 Induksi :
Propofol 100 mg
Fentanyl 100 mg
 Maintenance :
Sevoflurance 1,5 %
N2O 2 %
O2 2%
 Analgetik post operasi : ketorolac 30 mg + ondancentron 4
mg i.v / 8 jam
 Selesai operasi :
Monitoring Keadaan Pasien

3. Laporan Post Operatif


 Pasien sadar :
 Saturasi oksigen post operatif:
Saturasi O2 Nadi Tekanan Darah
Pre Operatif
99% 78 110/60
(11.25)
Durante operatif
(11.30 WIB) 99% 75 120/70
(12.00 WIB) 99% 70 80/50
(12.30 WIB) 99% 80 100/60
(13.00 WIB) 99% 80 90/60
(13.30 WIB) 99% 80 90/50
(14.00 WIB) 99% 70 80/60
(14.30 WIB) 99% 70 80/60
(15.00 WIB) 99% 75 90/60
(15.30 WIB) 99% 71 80/60
Post operaatif
99% 80 100/70
(16.00 WIB)
Pre Operatif: persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, dan
persiapan obat anestesi yang diperlukan.
• Informasi
• Riwayat penyakit
• Makan minum terakhir
• Periapan operasi: informed consent
Post Operatif: Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke ruang
observasi. selama 2 jam, dan dilakukan pemantauan vital sign
(tekanan darah, nadi, suhu dan respiratory rate) setiap 30
menit. Oksigen tetap diberikan 2-3 liter/menit