Anda di halaman 1dari 75

PELATIHAN

KELUARGA SEHAT

MATERI INTI 4
Happy Family
dr. Esti Pangastuti MA

Dinas Kesehatan
Kota Tangerang Selatan
PELAYANAN PTM DI KELUARGA

HIPERTENSI
KESEHATAN JIWA
BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN

3/21/2018 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA 3


A Program Gizi, Kesehatan Ibu & Anak:
1 Keluarga mengikuti KB
2 Ibu bersalin di faskes

Indikator 3 Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap


4 Bayi diberi ASI eksklusif selama 6 bulan
Keluarga
5 Pertumbuhan balita dipantau tiap bulan
Sehat B Pengendalian Peny. Menular & Tidak Menular:
6 Penderita TB Paru berobat sesuai standar
7 Penderita Hipertensi melakukan pengobatan secara teratur
Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak
8
ditelantarkan
C Perilaku dan kesehatan lingkungan:
9 Anggota keluarga tidak ada yang merokok
10 Keluarga memiliki/memakai air bersih
11 Keluarga memiliki/memkai jamban sehat
12 Sekeluarga menjadi anggota JKN/askes

4
A.Tujuan • mampu memahami pelayanan
Pembelajaran penyakit tidak menular dan gangguan
Umum jiwa di keluarga

B.Tujuan Pembelajaran Khusus :


Mampu menjelaskan :

Hipertensi
Kesehatan jiwa

Bahaya merokok bagi kesehatan


Instrumen pendataan Pelayanan
Penyakit Tidak Menular
5
SISTIMATIKA

PENDAHULUAN

HIPERTENSI , GANGGUAN JIWA, MEROKOK

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

PRAKTEK

6
Penyebab Utama dari Beban Penyakit, 1990-2015

1990 2000 2010 2015

Trend ini kemungkinan akan berlanjut seiring dengan perubahan perilaku hidup
(pola makan dengan gizi tidak seimbang, kurang aktifitas fisik, merokok, dll).
Sumber : Double Burden of Diseases & WHO NCD Country Profiles
Upaya Promotif-Preventif yang efektif harus diutamakan agar dapat menurunkan
beban penyakit.
7
Faktor Risiko
Perilaku Penyebab
Terjadinya PTM
Yang Harus
Diperbaiki
SEPULUH PENYEBAB KEMATIAN UTAMA (SEMUA UMUR)
SAMPLE REGISTRATION SYSTEM (SRS)
INDONESIA, 2014

25
21,1

20

15 12,9

10
6,7
5,7 5,7
4,9
5 2,7 2,6 2,1 1,9

0
Mengapa PTM Menjadi
Masalah

Sebagian besar
masyarakat
belum mengerti
Sumber : Riskesdas 2013
12
Data Riskesdas (2013)
1
Gangguan mental emosional
(gejala depresi dan anxietas)
≥15 tahun  6% (>14 juta jiwa)
2

Gangguan jiwa berat (psikosis) adalah


1.7/1000 (> 400.000 jiwa)

14,3% penderita
gangguan jiwa berat
www.themegallery.com
tersebut pernah dipasung
Company Logo
Estimasi WHO:
Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang belum mendapatkan
layanan kesehatan jiwa di Negara-negara dengan penghasilan
rendah-menengah termasuk Indonesia adalah >85%.

• menurunkan status kesehatan fisik


• menimbulkan dampak psikososial antara lain: tindak
kekerasan, penyalahgunaan napza, pemasungan, maupun
tindakan percobaan bunuh diri.

14
• Pemasungan pada ODGJ:
bentuk pengekangan kebebasan yang dilakukan
pada ODGJ di komunitas  melanggar HAM
Berakibat perampasan kebebasan mengakses
layanan untuk membantu pemulihan fungsi ODGJ
tersebut
sebagian besar dilakukan oleh keluarga inti
Beberapa alasan pemasungan: kurangnya
pengetahuan, kesulitan akses dan keterjangkauan
ke layanan kesehatan jiwa.
APAKAH HIPERTENSI ?

Pengertian

 Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah


peningkatan tekanan darah secara menetap
≥ 140/90 mmHg.

 Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan


tekanan darah arterial yang menetap

16
KLASIFIKASI TEKANAN DARAH
JNC 7 - 2003
Tekanan darah (mm Hg) Kategori
SISTOLIK DIASTOLIK
<120 dan <80 Normal
120-139 atau 80-89 Prehipertensi
140-159 atau 90-99 Hipertensi derajat 1
≥160 atau ≥100 Hipertensi derajat 2

17
GEJALA DAN TANDA
Seringkali hipertensi terjadi tanpa gejala, sehingga
penderita tidak merasa sakit. Gejala dan tanda muncul
biasanya karena sudah terjadi kelainan organ

1.Sakit kepala 7. Pandangan menjadi kabur


2. Kelelahan
8. Mata berkunang-kunang
3. Mual dan muntah
9. Mudah marah
4. Sesak napas
5. Napas pendek 10.Telinga berdengung
(terengah-engah) 11.Sulit tidur
6. Gelisah 12.Rasa berat di tengkuk

18
FAKTOR RISIKO HIPERTENSI

1. Tidak Dapat Diubah


Umur, Jenis Kelamin, Genetik

2. Dapat Diubah
Merokok, diet rendah serat, konsumsi garam berlebih,
kurang aktifitas fisik, kegemukan, konsumsi alkohol,
dyslipidemi, stress

19
Pencegahan dan Pengendalian

Orang atau kelompok masyarakat yang masih


sehat atau memiliki faktor risiko PTM 20
TATALAKSANA HIPERTENSI

NON FARMAKOLOGI
(MODIFIKASI GAYA HIDUP)

FARMAKOLOGI
(OBAT ANTI HIPERTENSI)

21
MODIFIKASI GAYA HIDUP UNTUK
TATALAKSANA HIPERTENSI
Modifikasi Rekomendasi Penurunan tek darah
sistolik (kurang lebih)
Penurunan berat badan Pertahankan berat badan normal 5-20 mm Hg untuk setiap
(Indeks massa tubuh 18.5-24.9 penurunan berat badan 10 kg
kg/m2)
Adaptasi diet DASH Konsumsi buah, sayur sebanyak 5 8-14 mm Hg
(Dietary Approach to Stop porsi/hari, produk rendah lemak
Hypertension) dan rendah lemak jenuh
Diet rendah garam Konsumsi garam tidak lebih dari 2-8 mm Hg
2.0 g/hari atau 1 sendok teh peres
Peningkatan aktifitas fisik Lakukan aktifitas aerobik secara 4-9 mm Hg
teratur seperti jalan
(30 menit/hari setiap hari)
Tidak mengkonsumsi Tidak mengkonsumsi alkhohol 2-4 mm Hg
alkhohol
22
KESEHATAN JIWA KELUARGA
Gangguan jiwa

kumpulan gejala dari gangguan pikiran, gangguan perasaan


dan gangguan tingkah laku yang menimbulkan penderitaan
dan terganggunya fungsi sehari-hari (fungsi pekerjaan dan
sosial) dari orang tersebut

Gangguan Gangguan Gangguan Gangguan Fungsi


Gejala Fisik
Pikiran Perasaan Perilaku Pekerjaan /Sosial
• Sulit konsentrasi • Cemas • Menyendiri • Gangguan tidur • Tidak mampu
• Pikiran berulang berlebihan dan • Gaduh gelisah dan makan kerja/sekolah
• Bingung, kacau, tdk masuk akal • Perilaku yg terus • Pusing, tegang, • Sering bolos
ketakutan yang • Sedih yang diulang sakit kepala sekolah/kerja
tidak beralasan berlarut • Perilaku kacau berdebar-debar, • Prestasi menurun
• Gangguan • Marah tdk keringat dingin • Tdk mampu
• hiperaktif
penerimaan beralasan • Sakit ulu hati, bergaul
pancaindera yang diare, mual • Menarik diri dari
ada • Kurang gairah pergaulan
objek/sumbernya kerja dan seksual
4 JENIS GANGGUAN JIWA TERBANYAK
DI MASYARAKAT

GANGGUAN GANGGUAN
CEMAS DEPRESI

GANGGUAN
GANGGUAN
PSIKOTIK/
BIPOLAR
SKIZOFRENIA
GANGGUAN CEMAS
Gejala Utama:
Rentang emosi: mudah tersinggung, tidak sabar,
gelisah, tegang, frustasi
Ciri Fisik : gelisah, berkeringat, jantung berdegup
kencang, kepala seperti diikat, gemetar dan sering
buang air kecil
Ciri Perilaku: gelisah, tegang, gemetar, gugup, bicara
cepat dan kurang koordinasi
Ciri Kognitif: sulit konsentrasi, gejala panik, merasa
tidak bisa mengendalikan semua, merasa ingin
melarikan diri dari tempat tersebut, serasa ingin mati
GANGGUAN DEPRESI

Gejala Utama:
Merasa sedih berkepanjangan
lebih dari 2 minggu dan
bertahan selama 2 bulan
Hilang minat dan ketertarikan
terhadap aktivitas yang
biasanya menyenangkan
Mudah lelah
• Depresi sering disertai dengan keluhan fisik seperti
nyeri kepala, gangguan lambung, dan keluhan fisik lain
yang kronis atau tidak sembuh-sembuh dengan
pengobatan fisik biasa.
Gejala tambahan:
Rasa bersalah
Merasa tidak berguna
Pandangan masa depan suram/
pesimis
Harga diri dan kepercayaan diri
berkurang
Gangguan tidur
Gagasan/perbuatan yang
membayakan diri (ide bunuh diri)
Gangguan pola makan
GANGGUAN BIPOLAR
Definisi: gangguan suasana perasaan yang berganti-ganti
antara episode manik dan depresi dalam periode
waktu yang berbeda
EPISODE MANIK: EPISODE DEPRESI:
 Suasana hati yang Murung (sedih) sepanjang
gembira berlebihan waktu
 Sangat Kehilangan minat/keinginan
bersemangat Mudah lelah/tak bertenaga
 Tidak mudah Lelah
 Harga diri tinggi
 Gagasan/ide yang Gejala tambahan :
melompat-lompat Rasa bersalah
 Banyak bicara Merasa tidak berguna
 Perhatian mudah Pandangan masa depan
teralih suram/ pesimis
 Kebutuhan tidur Harga diri dan kepercayaan
diri berkurang
berkurang
Gangguan tidur
 Dorongan untuk
Gagasan/perbuatan yang
membelanjakan membayakan diri (ide bunuh
sesuatu tanpa diri)
perhitungan Gangguan pola makan
 Pengendalian diri
kurang
GANGGUAN PSIKOTIK/SKIZOFRENIA
Gejala Utama
• Perilaku aneh atau kacau
(pembicaraan tidak nyambung /tidak
relevan)
• Rentang emosi labil, mudah
tersinggung, gelisah sampai tidak
terkontrol
• Menarik diri dari lingkungan (diam
dan atau mengurung diri),
• Kecurigaan atau keyakinan yang jelas
keliru dan dipertahankan
(delusi/waham)
• Halusinasi (mendengar suara /
melihat sesuatu tidak nyata), kadang
terlihat bicara sendiri dan sulit tidur
• Tidak dapat bertanggung jawab
terhadap yang biasa dikerjakan
(aktivitas pekerjaan, sekolah, rumah
tangga, dan sosial)
FAKTOR RISIKO GANGGUAN JIWA

Faktor Biologik
Faktor Psikologik
Faktor Sosial:
• Genetik/Keturunan
• perubahan struktur • Tipe kepribadian
• Relasi interpersonal
otak dan (dependen,
yang kurang baik
keseimbangan kimia perfeksionis,
(disharmoni
otak introvert) kurang
keluarga)
• penyakit fisik motivasi
• Stress yang
(kondisi medis • kurang dapat
berlangsung lama
kronis dan kondisi menyesuaikan diri
• Masalah kehidupan
penggunaan terhadap
• Kurangnya
obat2an/narkoba) perubahan
dukungan keluarga
kehidupan
dan lingkungan
DETEKSI DINI GANGGUAN JIWA
 Adakah anggota keluarga yang sering mengalami:
»marah-marah tanpa alasan yang jelas, memukul, merusak
barang, mudah curiga berlebihan, tampak bicara sendiri,
bicara kacau atau pikiran yang aneh?
»sedih terus menerus lebih dari 2 minggu, berkurangnya minat
terhadap hal-hal yang dulunya dinikmati, dan mudah lelah
atau tenaganya berkurang sepanjang waktu?
»cemas, khawatir, was-was. Kurang konsentrasi disertai
dengan keluhan fisik seperti sering berkeringat, jantung
berdebar, sesak, mual?
»gembira berlebihan, merasa sangat bersemangat, merasa
hebat dan lebih dari orang lain, banyak bicara dan mudah
tersinggung?
»gejala tersebut di atas mengalami pengekangan kebebasan
berupa pengikatan fisik atau pengurungan/pengisolasian?
Penanganan awal dan perawatan ODGJ
(Orang Dengan Gangguan Jiwa) di keluarga

Gangguan Jiwa dapat 1. Tanyakan riwayat gangguan


diobati jika diketahui jiwa sebelumnya atau dalam
dan ditangani sejak keluarga
awal 2. Tanyakan apa yang dipikirkan
dan dirasakan? Apakah ada
Peran keluarga dalam pikiran yang mengganggu?
memperhatikan 3. Keluarga dapat menjadi
tingkah laku anggota tempat berbagi cerita dan rasa
keluarga lain, kalau 4. Kalau sulit /tidak teratasi minta
ada perubahan, bantuan kader kesehatan,
segera telusuri:
dokter atau datang ke PKM
5. Jika ada ODGJ dipasunglapor
kader/pamong setempat
INFORMASI PENTING BAGI KELUARGA

Jelaskan bahwa gejala dari keluhan di atas merupakan gejala


gangguan mental, yang juga termasuk penyakit medis.
Pengobatan tergantung kepada jenis, berat-ringannya
penyakit/gangguan jiwa yang dialami.
Dukungan keluarga penting untuk kepatuhan berobat
(compliance) dan rehabilitasi.Organisasi masyarakat dapat
menyediakan dukungan yang berharga untuk pasien dan
keluarga.
KONSELING PASIEN DAN KELUARGA

Bicarakan rencana pengobatan dengan anggota keluarga,


minum obat secara teratur dapat mencegah kekambuhan.
Informasikan obat tidak dapat dikurangi atau dihentikan
tiba-tiba tanpa persetujuan dokter.

Informasikan juga tentang efek samping yang mungkin


timbul dan cara penanggulangannya (bagi dokter).

Dorong pasien untuk melakukan fungsinya dengan


seoptimal mungkin di pekerjaan dan aktivitas harian lain.
KONSELING PASIEN DAN KELUARGA
Dorong pasien untuk menghargai norma dan harapan
masyarakat (berpakaian, berpenampilan dan berperilaku
pantas).
Menjaga keselamatan pasien dan orang yang
merawatnya pada fase akut
Meminimalisasi stres dan stimulasi
Gaduh gelisah yang berbahaya untuk pasien, keluarga dan
masyarakat memerlukan rawat inap atau pengamatan
ketat di tempat yang aman.
BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN
a. Masalah Kesehatan Akibat
Konsumsi Rokok
1) Karakteristik Asap Rokok
2) Penyakit Terkait Konsumsi
Rokok

b. Pencegahan dan Upaya Berhenti


Merokok
1) Perlindungan Terhadap Paparan
asap Rokok
2) Peningkatan Kewaspadaan
Masyarakat Akan Bahaya
Produk Rokok
3) Upaya Layanan Berhenti
Merokok

41
Karakteristik Asap Rokok

Asap rokok mengandung 4000 zat kimia


dan 43 diantaranya BERACUN 42
Akibat merokok pada
kesehatan manusia

PENYAKIT
TERKAIT
KONSUMSI
ROKOK

43
Sumber: Susenas 2015

44
Perlindungan Terhadap
Paparan Asap Rokok
Kawasan Tanpa Rokok
adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang
untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi,
menjual, mengiklankan, dan/ mempromosikan produk
tembakau.

Tujuan untuk melindungi perokok pasif dari bahaya asap


rokok, memberikan lingkungan yang bersih dan sehat
dan meningkatkan kesadaran bahaya asap rokok.

Selain itu rumah tangga juga harus menerapkan


kawasan rumah tanpa rokok, untuk melindungi seluruh
anggota keluarga terhadap paparan asap rokok, dengan
melarang semua orang merokok di rumah termasuk
orang yang berkunjung kerumah tersebut. 45
Peningkatan Kewaspadaan Masyarakat
akan Bahaya Rokok
• Peraturan Menteri
Kesehatan nomor 28
tentang Pencantuman
Informasi dan Peringatan
Kesehatan Bergambar
pada Kemasan Rokok.
• Meningkatkan
pengetahuan masyarakat
tentang bahaya merokok
terhadap kesehatan diri
sendiri maupun orang lain
atau lingkungan sekitarnya.

46
Upaya Layanan Berhenti Merokok
• Upaya Layanan Berhenti Merokok (UBM) di fasilitas
kesehatan tingkat pertama (FKTP)melalui :
– Peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam dan
menyediakan sarana dan prasarana layanan Berhenti
Merokok di FKTP
– Peningkatan kapasitas guru dalam melakukan
skrining dan konseling Berhenti Merokok bagi siswa.

• Selain itu Kementerian kesehatan telah menyediakan


layanan berhenti merokok (Quitline) melalui telepon tanpa
bayar (hotline) di 0800-177-6565

47
Upaya Layanan Berhenti Merokok
• Sebagai pembina keluarga sehat, wajib menjelaskan
bahaya merokok dan paparan asap rokok bagi kesehatan
kepada seluruh anggota keluarga yang menjadi binaannya
dan menganjurkan anggota keluarga yang merokok untuk
berhenti merokok dan menginformasikan layanan berhenti
merokok di FKTP dan FKRTL serta layanan QUITLINE
yang tersedia.

48
KESIMPULAN

Hipertensi dapat dicegah dan dikendalikan

Tatalaksana / Pengobatan Hipertensi :


–Modifikasi pola hidup sehat
–Obat
Dengan “PATUH” , tekanan darah dikendalikan
dan kerusakan/ komplikasi organ akibat
Hipertensi dapat dicegah
Pengobatan ODGJ perlu dilanjutkan meskipun
gejala telah mereda. Tidak memberhentikan atau
mengurangi obat tanpa persetujuan dokter.
49
KESIMPULAN (2)
antisipasi kekambuhan gangguan jiwa, dengan minum
obat dan mengikuti terapi lain (misalnya: psikoterapi)
secara teratur.

KTR bertujuan untuk melindungi perokok pasif dari


bahaya asap rokok, menciptakan lingkungan yang
bersih dan sehat serta meningkatkan kesadaran
bahaya asap rokok

Keluarga/rumah tangga harus menerapkan kawasan


rumah tanpa rokok

50
KESIMPULAN (3)

•Pembina keluarga sehat, wajib menjelaskan bahaya


merokok dan paparan asap rokok bagi kesehatan
kepada seluruh anggota keluarga yang menjadi
binaannya dan menganjurkan anggota keluarga yang
merokok untuk berhenti merokok

•Pembina keluarga dan anggota masyarakat berperan


penting dalam pencegahan dan pengendalian Penyakit
Tidak Menular dan Kesehatan Jiwa

51
INSTRUMEN PENDATAAN PELAYANAN
PENYAKIT TIDAK MENULAR
DAN KESEHATAN JIWA

52
DEFINISI OPERASIONAL
NO. INDIKATOR DEFINISI OPERASIONAL

Jika di keluarga terdapat anggota keluarga yang berdasar


Penderita hipertensi pengukuran adalah penderita tekanan darah tinggi
7
berobat teratur (hipertensi), ia berobat sesuai dengan petunjuk
dokter/petugas kesehatan.

Penderita gangguan Jika di keluarga terdapat anggota keluarga yang


8 jiwa berat tidak menderita gangguan jiwa berat, penderita tersebut tidak
ditelantarkan ditelantarkan dan/atau dipasung.

Jika tidak ada seorang pun anggota keluarga yang sering


Tidak ada anggota atau kadang-kadang menghisap rokok atau produk lain
9 keluarga yang dari tembakau. Termasuk di sini adalah jika anggota
merokok keluarga tidak pernah atau sudah berhenti dari kebiasaan
menghisap rokok atau produk lain dari tembakau.

53
DO INDIKATOR
7. Penderita hipertensi yang berobat sesuai aturan: (ART > 15 tahun )
a. Pernah didiagnosis menderita hipertensi : 1. Ya 2. Tidak
b. Meminum obat hipertensi secara teratur: 1. Ya 2. Tidak
Hasil pengukuran tekanan darah : Normal dan tekanan darah tinggi
Jika (a) jawabannya “ya” dan (b) jawabannya “ya”  Y
Jika (a) jawabannya “ya” dan (b) jawabannya “tidak”  T
Jika (a) jawabannya “ya” maka tidak perlu dilakukan pengukuran
tekanan darah

Jika (a) jawabannya “tidak” maka dilakukan pengukuran tekanan darah


Jika (a) jawabannya “tidak” dan hasil pengukuran normal  N
Jika (a) jawabannya “tidak” dan hasil pengukuran darah tinggi  T

54
DO INDIKATOR
8. Penderita gangguan jiwa berat (Schizoprenia) yang mendapat pelayanan
pengobatan (ART > 15 tahun)
a. pernah didiagnosis menderita Schizoprenia 1. Ya 2. Tidak
b. meminum obat gangguan jiwa berat secara teratur 1. Ya 2. Tidak
Jika (a) jawabannya “tidak”  N
Jika (a) jawabannya “ya” dan (b) jawabannya “ya”  Y
Jika (a) jawabannya “ya” dan (b) jawabannya “tidak”  T

9. Ada anggota keluarga yang merokok: (ART > 15 tahun)


Apakah Saudara merokok? 1. Ya 2. Tidak
Jawaban “ya”  T
Jawaban “tidak”  Y

55
A. HIPERTENSI
B. GANGGUAN KESEHATAN
Berlaku untuk Anggota Keluarga berumur ≥ 15 tahun
8. Apakah Saudara pernah didiagnosis menderita
tekanan darah tinggi/hipertensi?
1. Ya 2. Tidak P.10a
9. Bila ya, apakah selama ini Saudara meminum obat
tekanan darah tinggi/hipertensi secara teratur?
1. Ya 2. Tidak
10. a. Apakah dilakukan pengukuran tekanan darah?
1. Ya 2. Tidak
b. Hasil pengukuran tekanan darah
b.1. Sistolik (mmHg)
b.2. Diastolik (mmHg)
56
B.KESEHATAN JIWA

II. KETERANGAN KELUARGA


7. Apakah ada Anggota Keluarga yang pernah didiagnosis
menderita gangguan jiwa berat (Schizoprenia)?
1. Ya 2. Tidak P.9
8. Bila ya, apakah selama ini penderita tersebut meminum obat
gangguan jiwa berat secara teratur?
1. Ya 2. Tidak
9. Apakah ada Anggota Keluarga yang dipasung?
1. Ya 2. Tidak

57
C.BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHATAN

B. GANGGUAN KESEHATAN
Berlaku untuk semua umur
1. Apakah Saudara mempunyai kartu jaminan kesehatan atau JKN?
1. Ya 2. Tidak
2. Apakah Saudara merokok?
1. Ya (setiap hari, sering/kadang-kadang) 2. Tidak
(tidak/sudah berhenti)
Referensi

1. Buku Pedoman Penemuan dan Tata Laksana Penyakit Hipertensi , Dit PPTM , 2015
Kementerian Kesehatan RI
2. Buku Petunjuk Teknis Upaya Berhenti Merokok Pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Primer , 2016 Kementerian Kesehatan RI
3. Buku Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter di FKTP 2015, Kementerian Kesehatan RI
4. Buku Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa Indonesia ( PPDGJ ) III,
1993 Kementerian Kesehatan RI
5. Buku Penatalaksanaan Gangguan Jiwa di FKTP , 2014 Kementerian Kesehatan RI
6. Buku Pedoman Penanggulangan Pemasungan pada ODGJ 2016, Kementerian
Kesehatan RI

59
60
61

PENGUKURAN TEKANAN
DARAH
PANDUAN PENUGASAN
PENGUKURAN TEKANAN DARAH
I. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok
II.Masing masing kelompok , dibagi lagi menjadi 2.
a) Duduk berhadapan mempraktekkan cara
mengukur tekanan darah yang baik dan benar
sampai mencatatkannya di formulir.
b) Dilakukan bergiliran, sehingga semua peserta
mempraktekkan sebagai pasien dan petugas.

62
Pengukuran Tekanan Darah

Pengukuran tekanan darah dengan tensimeter


Digital. Pengukuran ini untuk mendapatkan data
tekanan darah pada penduduk.
1)Alat dan bahan
a.Tensimeter digital
b.Manset besar
c.Batu baterai AA

63
2) Cara pengukuran

a. Prosedur sebelum pengukuran


1) pemasangan baterai
• Balikkan alat, hingga bagian bawah
menghadap keatas
• Buka tutup baterai sesuai tanda panah
• Masukkan 4 buah baterai “AA” sesuai
dengan arah yang benar.

64
Pemasangan Batu Baterai

65
2) Penggantian baterai
– Matikan alat sebelum mengganti baterai
– Keluarkan baterai jika alat tidak akan digunakan
selama lebih dari 3 bulan.
– Jika baterai dikeluarkan >30 detik, maka tanggal/waktu
perlu disetting kembali.
– Buang baterai yang sudah tidak terpakai pada tempat
yang sesuai
– Jika tanda baterai bersilang muncul, segera ganti
baterai dengan yang baru
– Walaupun tanda baterai bergaris muncul, saat masih
dapat digunakan untuk mengukur sebentar, akan
tetapi baterai harus segera diganti

66
3) Prosedur pengukuran

a) Tekan tombol “start/stop” untuk


mengaktifkan alat

67
b) Sebelum melakukan pengukuran tekanan darah,
responden sebaiknya menghindar kegiatan
aktifitas fisik seperti olah raga, merokok, dan
makan, minimal 30 menit sebelum pengukuran.
Dan juga duduk beristirahat setidaknya 5-15 menit
sebelum pengukuran.

c) Hindari melakukan pengukuran dalam kondisi


stres. Pengukuran sebaiknya dilakukan dalam
ruangan yang tenang dan dalam kondisi tenang
dan posisi duduk.

68
Petugas Yang Ramah dan Ruangan
Yang Nyaman

69
d) Pastikan responden duduk dengan posisi kaki tidak
menyilang tetapi kedua telapak kaki datar menyentuh lantai.
Letakkan lengan kiri responden di atas meja sehingga
manset yang sudah terpasang sejajar dengan jantung
responden
e) Singsingkan lengan baju pada lengan bagian kiri responden
dan memintanya untuk tetap duduk tanpa banyak gerak,
dan tidak berbicara pada saat pengukuran. Apabila
responden menggunakan baju berlengan panjang,
singsingkan lengan baju ke atas tetapi pastikan lipatan baju
tidak terlalu ketat sehingga tidak menghambat aliran darah
dilengan
f) Biarkan lengan dalam posisi tidak tegang dengan telapak
tangan terbuka ke atas

70
Posisi pengukuran tekanan darah

Sambil
berbicara

Posisi Posisi
71
jongkok berdiri
g) Jika pengukuran selesai, manset akan
mengempis kembali dan hasil pengukuran
akan muncul. Alat akan kembali menyimpan
hasil pengukuran secara otomatis

h) Tekan “START/STOP” untuk mematikan alat.


Jika anda lupa untuk mematikan alat, maka
alat akan mati dengan sendirinya dalam 5
menit

72
4) Prosedur penggunaan manset
a. Masukkan ujung pipa manset pada bagian alat
b. Perhatikan arah masuknya perekat manset
c. Pakai manset, perhatikan arah selang
d. Perhatikan jarak manset dengan garis siku lengan ±1-2 cm.
e. Pastikan selang sejajar dengan jari tengah, dan posisi
lengan terbuka keatas
f. Jika manset sudah terpasang dengan benar, rekatkan
manset
g. Pastikan cara menggunakan manset dengan baik dan
benar, sehingga menghasilkan pengukuran yang akurat
h. Catat angka sistolik, diastolik dan denyut nadi hasil
pengukuran tersebut pada formulir hasil pengukuran dan
pemeriksaan.

73
Cara pemasangan manset
pada tensimeter digital

jarak antara
manset dan
lekukan siku 
2jari

74
• Catatan :
a) Jika hasil pengukuran hasilnya ekstrim, pengukuran dilakukan
dua kali, jarak antara dua pengukuran sebaiknya antara 2
menit dengan melepaskan manset pada lengan.
b) Apabila hasil pengukuran satu dan kedua terdapat selisih >
10mmHg, ulangi pengukuran ketiga setelah istirahat selama 10
menit dengan melepaskan manset pada lengan
c) Apabila responden tidak bisa duduk, pengukuran dapat
dilakukan dengan posisi berbaring, dan catat kondisi tersebut
dilembar catatan.

75