Anda di halaman 1dari 59

PERAWATAN ANAK

DENGAN BERBAGAI
KONDISI PENYAKIT PENYULIT

Disampaikan dalam kuliah keperawatan anak di program studi D4 Keperawatan Poltekkes Kemenkes
Pontianak
Pontianak, 30 September 2016
dr. Rista Lestari, MSc., Sp.A
RSUD SULTAN SYARIF MUHAMMAD ALKADRIE
PONTIANAK

 Pendidikan:
 1994 - 2001 : Dokter Umum, FK-UGM
 2009- 2013 : Master of Sains Program Kedokteran Klinik,
FK-UGM
 2009 - 2014 : Dokter Spesialis Anak FK-UGM
 Jabatan:
 2003 – 2014 : Dokter Puskesmas Pal Lima Dinkes Kota
Pontianak
 2014 – sekarang : Dokter Spesialis Anak RSUD Sultan Syarif
Muhammad Alkadrie Pontianak
 Penelitian:
 The relationship between diabetic mother and left ventricular
mass of children 5-7 years old
PENYAKIT JANTUNG BAWAAN
SIANOTIK & ASIANOTIK

•ATRIAL SEPTAL DEFECT


•VENTRICULAR SEPTAL DEFECT
•TETRALOGY FALLOT
ATRIAL SEPTAL DEFECT
ATRIAL SEPTAL DEFECT
Atrial Septal Defect
Atrial Septal Defect
Atrial Septal Defect

TEMUAN KLINIS 8

Asimptomatik
Bulging
Auskultasi :
• S1 normal atau mengeras, S2 splitting konstan dan lebar (wide splitting fixed
2nd HS)
• Murmur sistolik ejeksi
• Murmur diastolic awal
EKG :
Deviasi aksis ke kanan(RAD)
Hipertrofi ventrikel kanan (Right ventricular hypertrophy) dan RBBB (Right Bundle Branch Block)
rsR’ di V1, S dalam di V6

3/22/2018
Atrial Septal Defect

Chest X-Ray

•Pembesaran atrium kanan


•Penonjolan truncus arteri
pulmonalis
•Peningkatan corakan
bronkovaskuler
Atrial Septal Defect
10

PENATALAKSANAAN
• Obat untuk gagal jantung
• Operasi :
• Usia presekolah
• Selama masa bayi apabila tjd decomp yang tidak membaik
dengan terapi medikamentosa
• Penutupan tanpa pembedahan:
• Transcatheter closure  ASO (Amplatzer septal occluder)

3/22/2018
Atrial Septal Defect
ASD
11

Small Shunt Large Shunt

Infants Children/Adults
Observation
Heart Heart PH (-) PH (+)
Evaluation Failure (-) Failure (+)
At age 5-8 yrs PVD PVD
Anti failure (-) (+)
Cath Hyperoxia
Success Fail

FR<1.5 FR>1.5 Age >1yrs Surgical Reac- Non


W >10kg Closure tive reactive

Conservative Transcatheter closure (Secundum ASD) / Conservative


Surgical Closure (others) 3/22/2018
Atrial Septal Defect

ASO device
VENTRICULAR SEPTAL DEFECT
VENTRICULAR SEPTAL DEFECT
Ventricular Septal Defect
15

• Insidensi
 20 % dari semua kasus PJB
 Tidak ada perbedaan distribusi sex
• Anatomi
 Subarterial defect : dibawah katup aorta dan pulmonal
 Perimembranous defect: dibawah katup aorta pada pars
membranous septum
 Muscular defect

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
16

PV

RA
LA
RA LA

RV LV
RV LV
PA

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
17

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
18

TEMUAN KLINIS
 Hari 1 setelah lahir tidak terdengar bising
 Setelah 2-6 minggu terdengar suara bising / murmur
 Murmur : Pansistolik grade 3-6 pada SIC 3-4 LPS
 Small muscular defect: Murmur sistolik yang pendek
 Significant defect: Murmur mid diastolic pada apex
jantung

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
19

•Kardiomegali
•Apex down ward
•Penonjolan segmen arteri pulmonalis
•Peningkatan coracan vaskuler paru

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
20

TATALAKSANA
Definitif : VSD closure
• Pembedahan
• Transcatheter closure

3/22/2018
Ventricular Septal Defect
VSD 21

Heart failure (+) Heart failure (-)

Anti failure
Aortic valve Infundibular PH Spontaneous Smaller
prolaps stenosis closure

Fail Success PVD(-) PVD(+) Cath

PAB Cath FR<1.5 FR>1.5


Cath

Evaluate Reactive Non-


in 6 mths reactive

Conservative

Surgical closure/Transcatheter closure 3/22/2018


TETRALOGY OF FALLOT (TOF)
TETRALOGY FALLOT
Insidensi
5-8% dari semua PJB

Anatomi
Sebab : Deviasi Left-anterior pada septum infundibular

Sindroma terdiri atas :


 Stenosis Pulmonal
 VSD
 Overriding Aorta
 RVH (Right Ventricle Hypertropy)
Tetralogy of Fallot
24

3/22/2018
Tetralogy of Fallot
25

Hemodynamic acyanotic Hemodynamic cyanotic

3/22/2018
Tetralogy of Fallot
26

• Diagnosis
Klinis : Sianosis
 S2 single, murmur sistolik ejeksi

CXR :
• Boot-shaped
• Segmen pulmonal
konkaf / cekung
• Apex upturned
• Penurunan corakan
vaskuler paru

EKG : RAD, RVH


Echocardiography : Konfirmasi diagnosis 3/22/2018
• clinically • CXR
• ECG Tetralogy of Fallot • echo
27

< 1 yr > 1 yr

spell (+) spell (-)


propranolol
age 1 yr
cath
failed succeed

BTS
evaluation

cath BTS/ small PA good sized PA


PDA Stent

total correction 3/22/2018


Tetralogy of Fallot
28

BT

3/22/2018
PENYAKIT INFEKSI TRAKTUS
RESPIRATORIUS PADA ANAK

•Difteri
•Pneumonia
•Tonsilitis
DIPHTERIA
DIPHTERIA
• Diawali dengan onset faringitis eksudatif
• Eksudat meluas dalam 2-3 hari dan membentuk membran
berwarna abu-abu yang mudah mengalami perdarahan
dan dikelilingi dengan daerah inflamasi.
• Limfanodi servikal membesar, dalam beberapa kasus
terlihat membengkak dan membesar  Bullneck
• Perluasan pada membran secara lokal dapat
menyebabkan obstruksi pada saluran pernafasan
• Demam biasanya tidak terlalu tinggi namun pasien tampak
sangat toksik
MEKANISME PENULARAN

• Reservoir: manusia baik asimptomatik maupun yang bergejala


• Penularan: dari manusia ke manusia melalui kontak erat lewat
pernafasan; kontak dengan partikel yag terkontaminasi oleh
discharge dari lesi difteri.
• Inkubasi : 2-5 hari atau lebih lama
• Masa penularan : 2 minggu atau kurang (jarang lebih dari 4 minggu)
Masa penularan memendek dengan pemberian antibiotika.
PENEGAKAN DIAGNOSIS

• Isolasi C. diphtheriae dari spesimen klinis


• Uji toksikogenik atau mendeteksi fen toksin diphteria
menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dengan
kultur atau spesimen klinis
• Definisi kasus klinis diphteria : Infeksi saluran nafas atas
disertai nyeri telan , demam subfebril, dan adanya
membran yang melekat kuat pada daerah tonsil, pharing
dan atau hidung
TATALAKSANA
• Strongly suspected  Terapi segera dimulai tanpa menunggu
konfirmasi hasil mikrobiologis
• Terapi Anti difteri Serum (ADS)  hanya bisa menetralkan toksin yang
beredar dalam pembuluh darah bukan yang telah terikat dalam
jaringan
• Antibiotika selama 14 hari : procaine penicillin G im 1.2 million
units/hari (dewasa); 50 000 units/kg/hari (anak); or parenteral
erythromycin 40-50 mg/kg/hari (max 2g/hari)
MANAJEMEN CASES AND CLOSE
CONTACTS
• Pasien dengan dugaan difteri harus diisolasi secara ketat sampe
konfirmasi bakteriologis menyatakan bukan.
• Hasil kultur dari nasopharingeal dan pharingeal swab setelah
menyelesaikan terapi
• Closed contacts harus dimonitor klinis selama 7 hari sejak kontak 
mendapatkan penicilline single dose 600.000 unit untuk anak dan 1.2
juta unit untuk usia > 6 thn atau dengan eritromisin 40 mg/kgbb/hari
selama 7-10 hari atau azhytromisin 10 mg/kgbb/hari selama 3 hari.
• Status imunisasi dari closed contacts harus diasses uang  dosis
booster bisa diberikan bila perlu.
PENCEGAHAN
• Imunisasi : DPT, DPaT, DT
• Seseorang yang telah diimunisasi masih
mungkin terinfeksi difteri namun manifestasi
sistemik jarang terjadi.
• Durasi proteksi imunisasi  10 th

Efek samping :
• 10% lokal (erythema, swelling, induration) reaksi
sistemik (moderate fever, flu-like symptoms)
• Alergi dan hypersensitifitas
• Efek samping lainnya jarang
PNEUMONIA
ETIOLOGI PNEUMONIA
(SERING)
Virus
 Respiratory Syncytial Virus
• Influenza A atau B
• Parainfluenza 1,2 dan 3
• Adenovirus
• Rinovirus.
• Morbili
Bakteri
 Streptokok pneumoniae
• Hemofilus influenzae
• Stafilokok aureus
• Streptokok grup B
• Mikoplasma pneumonia
 Klamidia trakomatis
 Klamidia pneumoniae
ETIOLOGI PNEUMONIA
(JARANG)
Virus
• Varisela-zoster
• Coronavirus
• Paramyxovirus
• Enterovirus (coxsackie – echo)
• Cytomegalovirus
• Herpes simpleks, dll
Bakteri
 Anaerob (S mileri, peptostreptokok)
• Klebsiela pneumonae
• E.koli
• Neiseria meningitidis
• Legionela
• Pseudomonas spp
• Leptospira, dll
Fungus
• Histoplasma kapsulatum, dll
• Blastomises dermatitidis
ETIOLOGI PNEUMONIA
(USIA < 3 BULAN)

• Streptokok grup B
• Stafilokok aureus
• Klamidia trakomatis
• Bakteri Gram negatif

Neonatus
• infeksi berasal dari ibu
• berhubungan dg proses
persalinan
- aspirasi mekonium,
cairan amnion,
- dari serviks ibu
ETIOLOGI PNEUMONIA
( USIA 3 BULAN - 5 TAHUN )

Sering
 S. pneumoniae
 H. influenzae
Jarang
 S. aureus
 Streptokok grup A
ETIOLOGI PNEUMONIA
(USIA > 5 TAHUN)

 Mikoplasma
pneumoniae
 Klamidia
pneumoniae
 S pneumoniae
 H influenzae
 dan lain-lain
MANIFETASI KLINIK
TERGANTUNG UMUR DAN ETIOLOGI

Demam Retraksi, grunting


Batuk Takipnu
Nyeri dada Auskultasi : rales,
(pleuritik) ronki
Ekspektorasi Ro: infiltrat,
purulen konsolidasi
Sesak napas
MANIFETASI KLINIK
NEONATUS DAN BAYI KECIL

 Tidak khas  Retraksi, grunting


 Neonatus  Takipnu
sukar  Auskultasi : rales,
dibedakan ronki
dengan sepsis
dan meningitis  Ro: infiltrat,
konsolidasi

“ Not well doing


baby”
TANDA KLINIK SEDERHANA PNEUMONIA
(WHO)

Napas cepat (takipnu)


Laju napas

Umur (x/mnt)
< 2 bulan 60
2 - 12 bulan 50
1 - 5 tahun 40

Napas sesak
Tarikan dinding dada
(retraksi subkostal)
PEMERIKSAAN PENUNJANG

NON INVASIF
 Foto torak AP-lateral
 Darah perifer lengkap
 Kultur sputum dan pewarnaan Gram
 Kultur darah (spesifik, 10-15 %)
 Deteksi cepat antigen dan serologik
……PEMERIKSAAN PENUNJANG

INVASIF

 Pungsi pleura
 Bronchoalveolar lavage
 Biopsi transbronkial
 Open lung biopsy
FOTO TORAK

Petunjuk etiologi
Virus : hiperinflasi, atelektasis segmental,
infiltrat intersisial
Mikoplasma : biasanya konsolidasi lobaris
Bakteri : konsolidasi lobaris, infiltrat difus,
pneumatokel (S aureus)
Manfaat
menunjang diagnosis, tidak menentukan etiologi
menentukan luas/beratnya penyakit
menentukan komplikasi
tindak lanjut normal dalam 3-4 minggu
Pr, 6,5 thn Ro.infiltrat intersisial luas, ec S pneumoniae: IgG pneumolisin
meningkat, leukosit 29800, LED 35 mm/jam I, CRP 9 mg/l.
PEMERIKSAAN DARAH

•Lekositosis dan dominasi


netrofil (pergeseran ke
kiri)  bakteri >>
•LED dan CRP tidak khas
TATA LAKSANA

•UMUM
• Pemberian Oksigen secara kanula
nasal,head box atau masker, untuk
mempertahankan saturasi O2 diatas 92%
(rekomendasi A)
• Bila memerlukan infus, jumlah cairan yang
diberikan 80% dari kebutuhan, dan monitor
elektrolit untuk SIADH (rekomendasi C)
………TATA LAKSANA

• Anti piretik dan analgesik diberikan


bila perlu
• Chest physiotherapy tidak terlihat
manfaatnya (rekomendasi B)
• Minimal handling untuk mengurangi
metabolisme dan kebutuhan oksigen
• Monitor HR,Suhu RR dan saturasi
oksigen paling tidak tiap 4 jam
(rekomendasi D)
………TATA LAKSANA

• ANTIBIOTIKA
• Pada keadaan berat dan pemberian oral
tidak memungkinkan,antibiotika diberikan
intravena
• Pilihan jenis antibiotika secara empiris untuk
kausa tersering (H.influenzae dan
S.pneumonia)
………TATA LAKSANA

• umur < 3bulan kombinasi golongan penisilin


(ampisilin atau amoksisilin) dengan golongan
aminoglikosid (gentamisin)

• umur > 3 bulan kombinasi golongan penisilin


dengan kloramfenikol
atau antibiotika golongan sefalosporin

• lama pemberian 10-14 hari

• evaluasi pemberian antibiotika dilakukan 48-


72 jam
………TATA LAKSANA

• Antibiotika oral untuk umur < 5 tahun pilihan


pertama adalah amoksisilin, alternatif yaitu
amoksiklav,sefalosporin, eritromisin,
klaritromisin,azitromisin (B)
• Makrolid bila dicurigai mikoplasma dan klamidia
(D)
• Antibiotika secara oral efektif untuk anak dengan
CAP (A)
• kombinasi kloksasilin-amoksisilin bila kuman
penyebab stafilokokus aureus (D)
• Amoxicillin 3 days, effective in non
severe pneumonia inchildren 2-59
months of age
(ISCAP study group, BMJ 2004, 328:791)
• Cilinical outcome with oral amoksisilin was
comparabel to injectable penicilin inhospitalized
children with severe pneumonia
( Yobo et al. Lancet 2004; 364:1141-48)
• Chloramphenicol was effective treatment
of children with severe pneumonia
( Duke et al.Lancet 2002; 359:478-80)

• Ampisilin + Gentamisin is better than


Chloramphenicol for very severe
pneumonia in children 2-59 months of age

(WHO, 2005)
PENCEGAHAN

•Pemberian vaksinasi
haemofilus influenza,
pneumokokus,influenza
dan pertusis