Anda di halaman 1dari 40

PERDARAHAN INTRAKRANIAL

PADA BAYI
Dr. Amor P. Ginting, Spa
RSK Mojowarno-Jombang
Perdarahan intrakranial pada bayi

 Perdarahan intrakranial pada neonatus (PIN) tidak


jarangdijumpai.
 PIN  kematian atau cacat jasmani dan mental
 PIN : perdarahan dalam rongga kranium dan isinya
pada bayi sejak lahir sampai umur 4 minggu.
Perdarahan intrakranial pada bayi

INSIDENSI
 Dilaporkan angka berbeda-beda tentang
insidensi PIN.
 Angka kematian PI pada bayi prematur 5x
lebih tinggi daripada bayi cukup bulan (BCB).
 Laki-laki : perempuan = 5 : 2,7
Perdarahan intrakranial pada bayi

ETIOLOGI
Trauma kelahiran
1. partus biasa.
 Pemutaran/penarikan kepala yang berlebihan.
 Disproporsi antara kepala anak dan jalan lahir
sehingga terjadi mulase.
2. partus buatan (ekstraksi vakum, cunam).
3. partus presipitatus.
Perdarahan intrakranial pada bayi

Bukan trauma kelahiran:


 Umumnya ditemukan pada bayi kurang bulan
(BKB)  prematuritas
 Faktor pencetus PIN seperti hipoksia dan iskemia
otak yang dapat timbul pada syok, infeksi
intrauterin, asfiksia, kejang, PJB, hipotermi,
hiperosmolaritas/hipernatremia.
 Ada pula PIN yang disebabkan oleh penyakit
perdarahan/gangguan pembekuan darah.
Perdarahan intrakranial pada bayi

PATOGENESIS
 Pada trauma kelahiran, perdarahan terjadi
oleh kerusakan/ robekan pembuluh -
pembuluh darah intrakranial secara langsung.
 Pada perdarahan yang bukan karena trauma
kelahiran, faktor dasar ialah prematuritas 
pembuluh darah otak masih embrional
dengan dinding tipis, jaringan penunjang
sangat kurang
Perdarahan intrakranial pada bayi

 Faktor - faktor pencetus (hipoksia/iskemia)  terutama


terjadi pada perdarahan
intraventrikuler/periventrikuler.
 Pada perdarahan subaraknoid  terjadi di rongga
subaraknoid yang biasanya ditemukan pada persalinan
sulit.
 Adanya perdarahan subaraknoid dapat dibuktikan
dengan
fungsi likuor.
 Pada perdarahan intraserebral/intraserebeler  jarang
pada neonatus karena hanya terdapat pada trauma
kepala.
Perdarahan intrakranial pada bayi

GAMBARAN KLINIK
Gejala-gejala PIN tidak khas, sukar didiagnosis jika tidak
didukung, oleh riwayat persalinan yang jelas.
1. Fontanel tegang dan menonjol oleh kenaikan tekanan
intrakranial, misalnya pada perdarahan subaraknoid.
2. Iritasi korteks serebri berupa kejang-kejang, irritable,
twitching, opistotonus. Gejala-gejala ini baru timbul
beberapa jam setelah lahir dan menunjukkan adanya
perdarahan subdural , kadang-kadang juga perdarahan
subaraknoid oleh robekan tentorium yang luas.
3. Pupil melebar, refleks cahaya lambat sampai negatif.
4. Apnea: berat dan lamanya apnea bergantung pada derajat
perdarahan dan kerusakan susunan saraf pusat.
5. Cephalic cry (menangis merintih).
Perdarahan intrakranial pada bayi

6. Hipotonia dapat berakhir dengan kematian bila


perdarahan hebat dan luas.
7. Gejala-gejala lain yang dapat ditemukan ialah
gangguan kesadaran (apati, somnolen, sopor atau
koma), tidak mau minum, menangis lemah, nadi
lambat/cepat, kadang-kadang ada hipotermi yang
menetap.
8. Apabila gejala-gejala tersebut di atas ditemukan
pada bayi prematur yang 24--48 jam sebelumnya
menderita asfiksia
Perdarahan intrakranial pada bayi

LABORATORIUM
 Pemeriksaan likuor terutama untuk perdarahan
subaraknoid dan intraventrikuler/periventrikuler.
 Tujuan fungsi lumbal pada PIN untuk diagnostik,
sebagai pengobatan (mengurangi tekanan
intrakranial) dan untuk mencegah komplikasi
hidrosefalus (fungsi lumbal berulang-ulang).
 Bila cairan likuor berdarah, dianjurkan CT Scan
untuk mengetahui lokalisasi dan luasnya
perdarahan.
Perdarahan intrakranial pada bayi

PENATALAKSANAAN
1. Mencegah terjadinya kerusakan/kelainan
yang lebih parah.
2. Perlu diobservasi secara cermat:
suhu tubuh, derajat kesadaran, besarnya dan
reaksi pupil, aktivitas motorik, frekuensi
pernapasan, frekuensi jantung dan diuresis.
Perdarahan intrakranial pada bayi

PROGNOSIS
 Karena kemajuan obstetri, PIN oleh trauma
kelahiran sudah sangat berkurang.
 Prognosis PIN bergantung pada lokasi dan
luasnya perdarahan, umur kehamilan, cepatnya
didiagnosis dan pertolongan.
 Pada perdarahan epidural terjadi penekanan
pada jaringan otak ke arah sisi yang berlawanan
 herniasi unkus dan kerusakan batang otak.
Perdarahan intrakranial pada bayi

 Sekuele dapat berupa cerebral palsy,


gangguan bicara, epilepsi, retardasi mental
dan hidrosefalus.
 Hidrosefalus merupakan komplikasi paling
sering
Perdarahan intrakranial pada bayi

PENCEGAHAN
 Yang paling penting ialah pencegahan, yang meliputi
pemeriksaan ibu-ibu hamil secara teratur, memberikan
pertolongan dan perawatan waktu persalinan maupun
sesudah anak lahir.
 Perhatian khusus harus diberikan kepada bayi-bayi
prematur (BKB) yaitu mencegah episode asfiksia sebelum
dan sesudah persalinan.
 Monitoring keadaan bayi intrapartum, resusitasi segera
sesudah lahir dan mencegah kemungkinan hipoksia.
 Vitamin K secara rutin pada BKB dapat dianjurkan.
Perdarahan intrakranial pada bayi
HERNIA DIAFRAGMATIKA
dr.Amor P. Ginting, SpA
RSK Mojowarno-Jombang

16
Hernia Diafragmatika
 Hernia Diafragmatika: penonjolan organ perut
ke dalam rongga dada melalui suatu lubang
pada diafragma.

 Diafragma adalah sekat yang membatasi


rongga dada dan rongga perut.

17
Hernia Diafragmatika

18
Hernia Diafragmatika
Etiologi:
- Tidak diketahui.
- 1 : 2200-5000 kelahiran.
- 80-90% terjadi pada sisi tubuh bagian kiri.
Secara Embrional diafragma tersusun dari:
1. Septum tranvesum
2. Mesenterium dorsal
3. Membrana pluroperitonium dinding tubuh

19
Hernia Diafragmatika
GEJALA KLINIS:
- Gangguan pernafasan yang berat
- Sianosis
- Takipneu
- Bentuk dinding dada kiri dan kanan tidak sama (asimetris)
- Takikardia.

 Jika hernianya besar, biasanya paru-paru pada sisi hernia tidak


berkembang secara sempurna.
 Setelah lahir, bayi akan menangis dan bernafas sehingga usus
segera terisi oleh udara terbentuk massa yang mendorong
jantung dan menekan paru-paru sindroma gawat
pernafasan.

20
Hernia Diafragmatika
DIAGNOSIS:

 Gerakan dada pada saat bernafas tidak simetris


 Tidak terdengar suara pernafasan pada sisi hernia
 Bising usus terdengar di dada
 Perut teraba kosong.
 Radiologis  adanya organ perut di rongga dada.

21
Hernia Diafragmatika
Tatalaksana:
 Tindakan bedah darurat.
 Indikasi Operasi
- Esophagitis – refluks gastroesofageal
- Abnormal PH monitoring pada periksaan monometrik
- Kelainan pada foto upper GI
- Adanya hernia paraesofageal dengan gejala mekanis
- Esophageal stricture
- Tindakan operatif pada Barrett’s esophagus
- Ruptur diafragma pada hernia traumatika
- Insuffisiensi kardiorespirator progress

22
Hernia Diafragmatika
Tehnik Operasi
 Nissen fundoplication (posterior):
- Insisi abdominal (midline) atau insisi thorakal
- Gastroesophageal junction dikembalikan ke
posisi intraabdominal.
- Lakukan putaran 360º dari cardiac gaster yang
mengelilingi esofagus intra abdominal.
- Hiatus di tutup

23
Hernia Diafragmatika
Komplikasi Operasi
 Dysphagia dapat terjadi sementara atau
permanen.
 Refluks rekuren dapat terjadi
 Komplikasi pulmonal

24
Hernia Diafragmatika
Perawatan Pasca Bedah
 Bila selama operasi tidak terjadi perforasi
esofagus atau lambang, segera sesudah saluran
pencernaan berfungsi baik diet cair yang
secara bertahap dirubah menjadi diet padat
 Jika selama operasi terjadi perforasi esofagus
atau lambung  dipertahankan.

25
Hernia Diafragmatika
Follow-up
 Upper GI foto untuk menilai hasil operasi
 Ulangan Upper GI endoskopi untuk evaluasi
keadaan GI tract

26
27
Intususepsi
(Invaginasi)
Dr. Amor P.Ginting, SpA
RSK Mojowarno-Jombang
Intususepsi
Intususepsi

Etiologi
Surgical Lead Points: Kelainan yang menarik usus
masuk invaginasi. Lebih sering pada anak > 3 tahun.
 Diverticulum Meckel
 Kelenjar limp besar (dari ISPA / infeksi virus lain)
 Tumor jinak atau ganas: limfoma, polip, harmatoma
(Sindroma Peutz-Jeghers.)
 Kista mesenteri atau duplikasi
 Hematoma submukosa (purpura Henock-Schonlien atau
kelainan koagulasi/pembekuan darah)
 Pankreas ektopik dan epithelium gaster ektopik
 Sisa operasi apendektomi
Intususepsi

Gambaran Klinis  Triad Klasik:


1. Muntah mulai non-bil tetapi menjadi muntah bil
(indikasi langsung konsultasi bedah)
2. Serangan nyeri perut (spasme) intermitan dan
sangat sakit sampai anak/bayi menarik kaki ke abdomen.
(Habis diserang nyeri sakit abdomen yang keras, anak
menjadi capai dan ngantuk.)
3. Berak darah campur lindir yang mirip selai
Anggur merah (darah, mukus dan sel-sel epitelium
dari usus)
Intususepsi
Intususepsi

Periksaan Fisik
• Awal: masa panjang di abdomen bagian atas
(hypokondrium) serta abdomen
• Lambat: Distensi, pucat, tanda peritonitis
umum, febris
Intususepsi

Faktor-faktor Umur
 2/3 anak intususepsi berumur kurang dari 1 tahun,
paling banyak diantara umur 5 – 10 bulan.
 Intususepsi adalah penyebab pertama obstruksi usus
pada anak yang berumur diantara 5 bulan dan 3 tahun
 25% bedah abdomen mendadak pada anak dibawa 5
tahun karena intusesepsi.
 Intususepsi pada pasien yang berumur lebih dari 3
tahun sampai dewasa biasanya disebabkan “surgical
lead point” dan membutuh tindakan bedah untuk
reduksi.
Intususepsi
Intususepsi

Natalaksana Reduksi Intususepsi


1. Kalau ada tanda Perforasi atau Peritonitis perlu
operasi segera. JANGAN COBA ENEMA DULU!
2. Reduksi Non-bedah: Enema
● Hidrostatic (dengan ketinggian air 100 cm diatas daratan
rektum) atau
● Pneumatik (udara dengan tekanan ≤120 cm H2O):
Lebih berhasil bila umur < 3 tahun
• Kalau berhasil reduksi, langsung anak menjadi tenang
• Kalau kambuh (≤10% biasanya dalam 72 jam),
coba enema lagi asalkan tidak ada tanda “surgical
lead point”.
Intususepsi

Natalaksana Intususepsi: Bedah


• Kalau tidak ada tanda perforasi, ujung segmen
intususepsi ditekan pelan-pelan dan lembut sampai
keluar dari invaginasi. Jangan ditarik karena bisa
menyebab perforasi.
• Kalau tidak dapat direduksi secara non-operatif,
harus kerjakan operasi reseksi segmental serta
anastomosis. Kalau anak berumur 3 tahun, cari
“surgical lead point”.
Intususepsi
Intususepsi
Intususepsi