Anda di halaman 1dari 12

PENANGANAN DIFTERI

Oleh :
Dewi Nurlinda Sitorus
DEFENISI
Difteri adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular
disebabkan oleh karena toxin dari bakteri dengan ditandai
pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa
dan penyebarannya melalui udara.
Penanganan Primer

Berupa Sosialisasi
Penanganan Difteri

Penanganan Sekunder

Berupa memberikan
Obat
Tanda dan gejala
 Tanda dan gejala difteri meliputi, sakit tenggorokan dan suara serak,
nyeri saat menelan, pembengkakan kelenjar (kelenjar getah bening
membesar) di leher, dan terbentuknya sebuah membran tebal abu-abu
menutupi tenggorokan dan amandel, sulit bernapas atau napas cepat, d
emam, dan menggigil.
 Tanda dan gejala biasanya mulai muncul 2-5 hari setelah seseorang
menjadi terinfeksi. Orang yang terinfeksi C. Diphtheria seringkali
tidak merasakan sesuatu atau tidak ada tanda-tanda dan gejala sama
sekali.
 Orang yang terinfeksi namun tidak menyadarinya dikenal sebagai
carier (pembawa) difteri. Sumber penularan penyakit difteri ini adalah
manusia, baik sebagai penderita maupun sebagai carier.
 Tipe kedua dari difteri dapat mempengaruhi kulit, menyebabkan nyeri
kemerahan, dan bengkak yang khas terkait dengan infeksi bakteri kulit
lainnya. Sementara itu pada kasus yang jarang, infeksi difteri juga
mempengaruhi mata.
Cara Penularan
Bakteri C.diphtheriae dapat menyebar melalui tiga rute:
 Bersin: Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, mereka
akan melepaskan uap air yang terkontaminasi dan memungkin
kan orang di sekitarnya terpapar bakteri tersebut.
 Kontaminasi barang pribadi: Penularan difteri bisa berasal dari
barang-barang pribadi seperti gelas yang belum dicuci.
 Barang rumah tangga: Dalam kasus yang jarang, difteri menyebar
melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai
secara bersamaan, seperti handuk atau mainan.
 Selain itu, Anda juga dapat terkontaminasi bakteri berbahaya
tersebut apabila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi.
Orang yang telah terinfeksi bakteri difteri dan belum diobati
dapat menginfeksi orang nonimmunized selama enam minggu –
bahkan jika mereka tidak menunjukkan gejala apapun.
Faktor risiko

Orang-orang yang berada pada risiko tertular difteri meliputi:


 Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi
Terbaru.
 Orang yang hidup dalam kondisi tempat tingal penuh sesak atau tidak
sehat
 Orang yang memiliki gangguan sistem kekebalan.
 Siapapun yang bepergian ke tempat atau daerah endemik difteri
Faktor risiko

Cakupan
Imunisasi

Rendahnya Determinan
Pengetahuan Penyakit Kualitas Vaksin.
Ibu Difteri

Faktor
Lingkungan
Komplikasi

Jika tidak diobati, difteri dapat menyebabkan:


 Gangguan pernapasan
C. Diphtheriae dapat menghasilkan racun yang menginfeksi jarin
gan di daerah hidung dan tenggorokan. Infeksi tersebut menghasil
kan membaran putih keabu-abuan (psedomembrane) terdiri dari
membran sel-sel mati, bakteri dan zat lainnya. Membran ini dapat
menghambat pernapasan.
 Kerusakan jantung
Toksin (racun) difteri dapat menyebar melalui aliran darah dan me
rusak jaringan lain dalam tubuh Anda, seperti otot jantung, sehing
ga menyebabkan komplikasi seperti radang pada otot jantung (mi
okarditis). Kerusakan jantung akibat miokarditis muncul sebagai
kelainan ringan pada elektrokardiogram yang menyebabkan gagal
jantung kongestif dan kematian mendadak.
Penanganan
Difteri adalah penyakit yang serius. Para ahli di Mayo Clinic, memaparkan, ada
beberapa upaya pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya:
 Pemberian antitoksin: Setelah dokter memastikan diagnosa awa difteri, anak yang
terinfeksi atau orang dewasa harus menerima suatu antitoksin. Antitoksin itu disunt
ikkan ke pembuluh darah atau otot untuk menetralkan toksin difteri yang sudah ter
kontaminasi dalam tubuh.
 Sebelum memberikan antitoksin, dokter mungkin melakukan tes alergi kulit untuk
memastikan bahwa orang yang terinfeksi tidak memiliki alergi terhadap antitoksin.
Dokter awalnya akan memberikan dosis kecil dari antitoksin dan kemudian secara
bertahap meningkatkan dosisnya.
 Antibiotik: Difteri juga dapat diobati dengan antibiotik, seperti penisilin atau eritro
misin. Antibiotik membantu membunuh bakteri di dalam tubuh dan membersihkan
infeksi. Anak-anak dan orang dewasa yang telah terinfeksi difteri dianjurkan untuk
menjalani perawatan di rumah sakit untuk perawatan.

Mereka mungkin akan diisolasi di unit perawatan intensif karena difteri dapat
menyebar dengan mudah ke orang sekitar terutama yang tidak mendapatkan i
munisasi penyakit ini.
Pencegahan
 Jika Anda telah terpapar orang yang terinfeksi difteri, segeralah per
gi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
Dokter mungkin akan memberi Anda resep antibiotik untuk mence
gah infeksi penyakit itu.
 Di samping juga pemberian vaksin difteri dengan dosis yang lebih
banyak. Pemberian antibiotik juga diperlukan bagi mereka yang
diketahui sebagai carrier (pembawa) difteri.
 Difteri adalah penyakit yang umum pada anak-anak. Penyakit ini ti
dak hanya dapat diobati tetapi juga dapat dicegah dengan vaksin. V
aksin difteri biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk tetanus
dan pertusis, yang dikenal sebagai vaksin difteri, tetanus dan
pertusis (DTP).Versi terbaru dari vaksin ini dikenal sebagai vaksin
DTP untuk anak-anak dan vaksin Tdap untuk remaja dan dewasa.
Pemberian vaksinasi sudah dapat dilakukan saat masih bayi dengan
lima tahapan yakni, 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-18 bulan dan 4-6
tahun.
Pencegahan
 Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah difteri. Tapi pada bebera
pa anak mungkin akan mengalami efek samping seperti demam,
rewel, mengantuk atau nyeri pasca pemberian vaksin. Pemberian
vaksin DTP pada anak jarang menyebabkan komplikasi serius,
seperti reaksi alergi (gatal-gatal atau ruam berkembang hanya dalam
beberapa menit pasca injeksi), kejang atau shock. Untuk beberapa
anak dengan gangguan otak progresif – tidak dapat menerima vaksin
DTP.
 Imunisasi DPT adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap
penyakit Diferi, Pertusis, Tetanus dengan cara memasukkan kuman di
fteri, pertusis, tetanus yang telah dilemahkan dan dimatikan kedalam
tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat anti yang pada saatnya
nanti digunakan tubuh untuk melawan kuman atau bibit ketiga penya
kit tersebut.
Thank You