Anda di halaman 1dari 64

SI 3172

Perancangan Perkerasan Jalan

Sifat Bahan Perkerasan

Program Studi
Teknik Sipil – ITSB
Sifat Bahan Agregat
Siklus Pemadatan
Sementasi

Batuan Kristalisasi

Sedimentasi

Batuan
Sedimen Pemindahan
(Transport)
Erosi
Pelapukan Pelapukan
Sempurna
Metamorfosis

Batuan
Beku Tanah
Batuan
Metamorf

Pemanasan Pendinginan
Magma
Pemilihan Agregat
 Agregat yang akan digunakan sebagai bahan
perkerasan jalan dipilih berdasarkan:
◦ tersedianya bahan setempat
◦ mutu bahan
◦ bentuk/jenis konstruksi yang digunakan
Pemeriksaan/penelitian
Laboratorium
1. Ukuran dan gradasi (size and grading)
2. Kekerasan/keausan (toughness)
3. Ketahanan terhadap pelapukan (soundness)
4. Daya pelekatan terhadap aspal (affinity for asphalt)
5. Bentuk butir (shape)
6. Susunan/bentuk permukaan (surface texture)
7. Daya penyerapan/absorpsi (absorption)
8. Kebersihan (cleaness)
9. Berat jenis (specific gravity)
Penggolongan Agregat
Berdasarkan Gradasi (contoh)
a. Agregat bergradasi pekat/rapat (dense-
graded)
b. Agregat bergradasi renggang/terbuka
(open graded)
c. Agregat bergradasi seragam (single
size/uniform graded)
d. Agregat bergradasi halus (fine graded)
e. Agregat bergradasi celah (gap-graded)
Contoh Grafik Gradasi
100%

90%

80%

70%

60%

% Lolos
50%

40%

30%

20%

10%

0%
0,01 0,1 1 10 100
No. Saringan
Alat Uji Agregat - Toughness 1

tekan

Retakan
dari kulit ke inti

Aggregate Crushing Machine

tekan
Alat Uji Agregat - Toughness 2

Tinggi
jatuh
2

Retakan
dari inti ke kulit

Bidang Stabil
Aggregate Impact Machine
Alat Uji Agregat - Toughness 3

Bola Besi
Tekanan
Efek Tambahan
Abrasi

Agregat

Los Angeles Abrasion Test


Bentuk Agregat

i.Rounded; ii. Irregular; iii. Angular; iv. Flaky;


v. Elongated; vi. Flaky and Elongated
Alat Uji Bentuk Agregat

Alat Pengukur Kepipihan Agregat

Alat Pengukur Kelonjongan Agregat


Konsep Tekstur
Roda Kendaraan

Roda
Kendaraan

Bidang
Kontak
Perkerasan

Parameter Tinjauan:
- Tektur Mikro (Microtexture)  Menciptakan Friksi Makro Air
- Tektur Makro (Macrotexture)  Drainase Mikro
Mikro
Rongga (Void)
dan
Pori (Pores)
Rongga dalam Campuran 1

Ilustrasi Umum

0 Rongga Vr = Vtotal – (Vy + Vx)

Wtotal Y Aspal Vy = Y/(SGaspal x air) Vtotal

X Agregat Vx = X/(SGagregat x air)

Berat Volume
Rongga dalam Campuran 2

VMA, VIM, VFB/VFA

Rongga VIM

Kadar VFB
VMA
Aspal Aspal

Absorbed

Agregat
Specific Gravity 1
Apparent & Bulk SG
Water-permeable
0 Pores Vp

Wtotal
Water-impermeable Vtotal
0 Vi
Pores

Ws Solid Vs
Aggregate

Weight Volume
SG Apparent = Ws / ((Vs + Vi) x water)
SG Bulk = Ws / ((Vs + Vi + Vp) x water)
Specific Gravity 2
Apparent, Bulk & Effective SG

Apparent SG:
Rongga Permeable diisi bitumen sebanyak air yang bisa
mengisinya

Bulk SG:
Rongga Permeable tidak terisi bitumen sama sekali

Effective SG:
Rongga Permeable terisi bitumen sebanyak bitumen
yang bisa mengisinya
Specific Gravity 3
Effective SG
Bitumen-permeable
0 Pores Vb

Wtotal
Bitumen-impermeable Vtotal
0 Vc
Pores

Ws Solid Vs
Aggregate

Weight Volume
SG Effective = Ws / ((Vs + Vc) x water)
SG Effective = (Apparent SG + Bulk SG)/2
Campuran
Aspal-Agregat
Perhitungan Proporsi
Selisih
By Weight Berat
Agregat
Proporsi dan
Agregat Campuran

Berat Berat Berat


Agregat Campuran Aspal

By Volume Proporsi
Agregat,
Aspal
SG dan Proporsi SG
Agregat Rongga Aspal Aspal

Berat Volume Volume Volume Berat


agregat Agregat Campuran Aspal aspal
Gradasi vs Sifat Perkerasan 1a
1a. Gradasi Menerus (skematis)
Proporsi

Grafik
Komulatif

Ukuran
Butir
Grafik Ilustrasi Setting

- Prinsip Interlocking
- Sifat Kaku
- Kebutuhan Aspal Sedang
Ilustrasi Gradasi
Gradasi vs Sifat Perkerasan 1b
1b. Gradasi Menerus (ilustrasi visual)

Potongan campuran Bentuk Briket Marshall


Gradasi vs Sifat Perkerasan 2a
2a. Gradasi Senjang (skematis)
Proporsi

Grafik
Komulatif

Ukuran
Butir
Grafik Ukuran Ilustrasi Setting
yang
hilang

- Prinsip Suspensi Mortar


- Sifat Lentur
- Kebutuhan Aspal Tinggi
Ilustrasi Gradasi
Gradasi vs Sifat Perkerasan 2b
2b. Gradasi Senjang (ilustrasi visual)

Potongan campuran Bentuk Briket Marshall


Gradasi vs Sifat Perkerasan 3a
3a. Gradasi Seragam (skematis)
Proporsi

Grafik
Komulatif

Ukuran
Butir
Grafik Ilustrasi Setting
Dominasi
Ukuran

- Prinsip Max Tekstur Makro


- Sifat Kasar
- Kebutuhan Aspal Khusus
Ilustrasi Gradasi
Gradasi vs Sifat Perkerasan 1a
3b. Gradasi Seragam (ilustrasi visual)

Permukaan campuran Bentuk Briket Marshall


Sifat Bahan Aspal
Definisi:
 Asphalt is a sticky, black and highly viscous liquid or semi-solid that is present in most
crude petroleums and in some natural deposits. It is most commonly modeled as a
colloid, with asphaltenes as the dispersed phase and maltenes as the continuous phase
(though there is some disagreement amongst chemists regarding its structure). In U.S.
terminology, asphalt (or asphalt cement) is the carefully refined residue from the
distillation process of selected crude oils. Outside North America, the product is
called bitumen.
Wikipedia

 Asphalt is a dark brown-to-black cement-like material obtained by petroleum refining


and containing bitumens as the predominant component. Bitumen is a generic term
for natural or manufactured black or dark-colored solid, semisolid, or viscous
cementitious materials that are composed mainly of high-molecular weight
hydrocarbons. The term includes tars and pitches derived from coal. Asphalt is used
primarily for road construction and roofing materials due to its remarkable
waterproofing and binding properties. The hard surfaces of roads, for example, depend
on the ability of asphalt to cement together aggregates of stone and sand.
Encyclopedia of Earth
Klasifikasi Aspal
Berdasarkan Sumber Dan Penggunaannya

Aspal Buatan Aspal Keras atau Aspal Panas


(petroleum asphalt) (AC, asphalt cement)
 Asphaltic Base Crude Oli
 Parafin Base Crude Oli Aspal Cair (cut back)
 Mixed Base Crude Oli  Rapid Curing (AC+benzene)
 Medium Curing (AC+kerosene)
 Slow Curing (AC+minyak berat)
ASPAL
Aspal Emulsi (AC+air+asam/basa)
 Cathionic/Anionic Rapid Setting
Aspal Alam
 Cathionic/Anionic Medium Setting
(Native Asphalt)
 Cathionic/Anionic Slow Setting
 Lake Asphalt (Trinidad Lake)
 Rock Asphalt (Perancis,
Swiss, Pulau Buton)
Klasifikasi Aspal
Menurut AASHTO

Nilai Penetrasi

40-50 60-70 85-100 120-150 200-300


Berdasarkan Nilai Penetrasi
min max min max min max Min max min max

Penetrasi (25C, 100 gr, 5 detik) 40 50 60 70 85 100 120 150 200 300

Titik Nyala (Cleveland Open), C 232 - 232 - 232 - 218 - 177 -

Daktilitas (25C, 5 cm per menit) 100 - 100 - 100 - 100 - 100 -

Kelarutan pada trichloroethele, % 99 - 99 - 99 - 99 - 99 -

Kehilangan berat, % - 0.8 - 0.8 - 1.0 - 1.3 - 1.5

Penetrasi setelah kehilangan berat 58 - 54 - 50 - 46 - 40 -

Daktilitas setelah kehilangan berat - - 50 - 75 - 100 - 100 -

Nilai Viskositas
Berdasarkan Nilai Viskositas
AC-2.5 AC-5 AC-10 AC-20 AC-30 AC-40

Viskositas, 60C (140F), poises 250 50 500100 1000 200 2000 400 3000600 4000 800

Viskositas, 135C (275F),Cs, Min 125 175 250 300 350 400

Penetrasi (25C, 100 gr, 5 detik) 220 140 80 60 50 40

Titik Nyala (C) 163 177 219 232 232 232

Kelarutan pada trichloroethene, % 99.0 99.0 99.0 99.0 99.0 99.0

Kehilangan Berat, % - 1.0 0.5 0.5 0.5 0.5


Penyulingan Aspal dari Minyak Mentah
Bagian Aspal (Bitumen)
Sesuai Sifat Fisiknya
Pengujian Karakteristik Aspal

1. Pengujian Penetrasi
2. Pengujian Daktilitas
3. Pengujian Titik Lembek (Melembek)
4. Kepekaan Aspal terhadap Perubahan Suhu
5. Pengujian Viskositas
6. Pengujian Titik Nyala dan Titik Bakar
7. Pengujian Berat Jenis
8. Hilang dalam Pemanasan
9. Penyulingan Aspal Cair
10. Kadar Air dalam Minyak Bumi dan Bahan yang Mengandung Bitumen
11. Kelekatan Aspal dalam Batuan
Alat Uji Penetrasi

1. Dilepas selama 5 detik


2. Berat Beban dan Jarum = 100 gr
3. Temperatur Pengujian 25oC
4. Satuan = dmm
Alat Uji Daktilitas

Pengujian Daktilitas Aspal

Cetakan Benda Uji dalam Pengujian Daktilitas


Alat Uji – Titik Melembek
(Softening Point)

Pengujian
Titik Melembek
Ring and Ball
Konsep Temperature Susceptibility 1

log PEN (dmm)

log PEN = AT + K

log PEN T2

log PEN T1
A

T (oC)
T1 T2

Hubungan Suhu dan log Pen Aspal


Konsep Temperature Susceptibility 2

Persamaan dasar:

logP = AT + K

A = (log pen T1 – log pen T2)/(T1 – T2)


A = (log pen T1 – log 800)/(T1 – SP)
A  0,015 sampai 0,06

Persamaan PI:

50 A = (20 – PI)/(10 + PI)

?
PI = (1952 – 500 log pen – 20SP)/(50log pen – SP – 120)
Konsep Viskositas

log Viskositas
(cSt)

Hubungan Suhu
log (280 ± 30) dan Viskositas Aspal

log (170 ± 20)

T(oC)

Suhu pemadatan Suhu pencampuran


Alat Pengujian Titik Nyala

Percobaan Titik Nyala dengan Alat Cleveland Open Cup


Alat Pengkondisian (Simulasi)
Hilang dalam Pemanasan

Percobaan Hilang dalam Pemanasan dengan


Alat Thin Film Oven
Alat Pengujian Aspal

Percobaan Penyulingan Aspal Cair


Jenis Aspal vs Penggunaan
Asphalt Cements Emulsified Asphalts 9 Cutback-Asphalts
Viscosity Graded Viscosity Graded Medium Curing Rapid Curing
Penetration Graded Anionic Cationic
-Original -Residue (MC) 8 (RC) 8

MS-2h, HFMS-2h
MS-1, HFMS-1
MS-2, HFMS-2
Type of Construction

AR-16000

HFMS-2s
AR-1000
AR-8000
AR-4000
AR-2000

120-150
200-300

CMS-2h

CSS-1h
AC-2.5

85-100

CMS-2
CRS-1

CRS-2

CSS-1
SS-1h
AC-40
AC-20
AC-10

40-50
60-70

3000
AC-5

RS-1
RS-2

SS-1

3000
250
800

250
800
30

70
70
Asphalt-Aggregate Mixtures
Asphalt Concrete and
Hot Laid Plant Mix
Pavement Base and Surfaces
Highways X X X X X7 X X X X X7 X X X X X7
Airports X X X X X X X X
Parking Areas X X X X X X X X X
Drivewas X X X X X X
Curbs X X X
Industrial Floors X X X X X X
Blocks X X X
Groins X X X X X X
Dam Facings X X X X X X
Canal and Reservoar Linings X X X X X X

Cold-Laid Plant Mix 10


Pavement Base and Surfaces
Open-Graded Aggregate X X X X
Well-Graded Aggregate X X X X X X X X X X X
Patching, Immediate Use X X X X X
Patching, Stockpile X X X X

Mixed-in-Place (Road Mix) 10


Pavement Base and Surfaces X X X X X X X X
Open-Graded Aggregate X X X X X X X X X
Well-Graded Aggregate X X X X X X X X
Sand X X X X X X X X X
Sandy Soil X X X X X X X X X X
Patching, Immediate Use X X X X
Patching, Stockpile

Recycling
Hot-Mix X X X X X X X X X
Cold-Mix 10 X X X X X X X X X X X X

Asphalt-Aggregate Applications
Surface Treatments
Single Surface Treatment X X X X X X X X
Multiple Surface Treatment X X X X X X X X
Aggregate Seal X X X X X X X X X X
Sand Seal X X X X X
Slurry Seal X X X X

Asphalt Applications
Surface Treatments
Fog Seal X5 X2 X2 X2 X2
Prime Coat X16 X1 X1 X1 X1 X1 X X X
Tack Coat X X2 X2 X X2 X2
Dust Laying X5 X2 X2 X2 X2 X X X X X
Mulch X2 X2

Membrane
Canal and Reservoar Linings X X
Embankment Envelopes X X X X X X

Crack Fillings
Asphalt Pavements X3 X3 X3 X3
Portland Cement Concrete
Pavements X4 X4 X4

1 Mixed-in Prime Only 5 Diluted with water by the manufacturer 8 Before using MC's for spray applications (other than prime coats) check with local pollution control agency
2 Diluted with water 6 MS-2 only 9 Emulsifed asphalts shown are AASHTO and ASTM grades and may not include all grades produced in all geographical areas
3 Slurry mix 7 For use in cold climates 10 Evaluation of emulsified asphalt-aggregate system required to determine the proper grade of emulsified asphalt to use
4 Rubber asphalt compounds
Spesifikasi Bitumen
(Japan Road Association)
Penetration Grade 60 - 80 80 - 100 100 - 120 120 - 150

Penetration (25oC, 100g, 5 sec) 60 – 80 80 – 100 100 – 120 120 – 150


o
Softening Point C 44.0 – 52.0 42.0 – 50.0 40.0 – 50.0 38.0 – 48.0
o
Ductility (15 C) min. cm 100 100 100 100
Loss on Heating maz. % (1) 0.3 0.3 0.5 0.5
Retained Penetration after Heating min. % 80 80 75 (3) 70
Penetration Ratio adfter Heating maz. % (2) 110 110 - -
Loss of Weight after Thin Film Oven Test maz. % (1) 0.6 0.6 - -
Retained Penetration after Thin Film Oven Test min. % 55 50 - -
Solubility in Carbon Tetrachloride min. % 99.5 99.5 99.5 99.5
o
Flash Point (Cleaveland) min. C 260 260 210 210
Specific Gravity (25oC/25oC) min. 1.000 1.000 - -

Note :

1) In some cases, the test will be resulted in weight increase.


Penetratio n after heating withou any stirring of the sample
2) Penetration ratio after heating (%) =
Penetratio n after heating on the sample thoroughly stirred
3) It is desirable for asphalts having more than 47.5oC softening point, percentage of retained penetration exceeds 80.
4) As for asphalts of penetration grade 60 – 80 and 80 –100, it is necessary to inform the Kinematic-viscosity
measurement results at the temperature of 120oC, 140oC, 160oC and 180oC respectively. For the penetration grades
100 – 120, 120 – 150, not only the viscosity-temperature relationship the specific gravity – temperature relationship is
also needed.
Sifat Campuran
(Pengujian Marshall)
Konsep Pengujian 1

 Pendekatan empirik.

 Menilai kinerja berdasarkan parameter turunan (tidak fundamental):


◦ Stabilitas  Kekuatan (Strength)
◦ Flow  Kelenturan (Flexibility)
◦ MQ  Kekakuan (Stiffness)
◦ Rongga  Sifat Campuran dan Dinamika Aspal

 Pengkondisian spesimen berupa peningkatan kepadatan dengan suatu


tingkat energi tertentu dalam tinggi, berat dan jumlah tumbukan.

 Pemadatan dilakukan tidak searah dengan arah pembebanan-pengujian.

 Hasil pengujian utamanya digunakan untuk menentukan Kadar Aspal


Optimum (KAO).
Konsep Pengujian 2
Arah
Pembebanan-Pengujian
Arah
Pemadatan

Spesimen
Spesimen

Arah Arah
Pemadatan Pembebanan-Pengujian
Parameter Uji

 Stabilitas  Tingkat kekuatan (relatif)

 Flow/Kelelehan  Tingkat kelenturan (relatif)

 MQ (Marshall Quotient)  Tingkat kekauan (relatif)

 Rongga:
◦ VMA (Void in Mineral Aggregates) adalah rongga natural turunan
dari gradasi agregat yang dipilih
◦ VIM (Void In Mixture) adalah rongga udara yang tersisa setelah
VMA terisi (sebagian) oleh bahan aspal
◦ VFA (Void Filled with Asphalt) adalah rongga yang terisi aspal
Parameter Uji

 Stabilitas
• Nilai Stabilitas dalam Kg atau
Stabilitas
Newton
(Kg)
• Kurva bersifat Memuncak
• Spesifikasi adalah nilai
minimum Stabilitas yang
harus dicapai untuk
Spesifikasi menjamin Tingkat Kekuatan
Campuran

Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Parameter Uji

 Flow / Kelelehan
• Nilai Flow dalam mm
Flow
• Kurva bersifat Terus Naik,
(mm)
seiring penambahan Kadar
Aspal
Spesifikasi Max • Spesifikasi adalah nilai
minimum dan maximum
Flow yang harus dicapai
untuk menjamin Tingkat
Kelenturan Campuran

Spesifikasi Min
Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Parameter Uji

 MQ (Marshall Quotient)
MQ • Nilai MQ dalam Kg/mm
(Kg/mm) • Kurva bersifat Memuncak
cenderung Menurun
• Spesifikasi adalah nilai
minimum MQ yang harus
dicapai untuk menjamin
Spesifikasi Tingkat Kekakuan Campuran

Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Parameter Uji

 VMA (Rongga Natural)


VMA
• Nilai VMA dalam %
(%)
Campuran
• Kurva bersifat Naik atau
Mendatar, seiring
penambahan Kadar Aspal
• Spesifikasi adalah nilai
minimum VMA yang harus
dicapai untuk menjamin
Karakteristik Campuran
Spesifikasi Min
Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Parameter Uji

 VIM (Rongga Udara)


• Nilai VIM dalam % Campuran
VIM
• Kurva bersifat Terus Turun,
(%)
seiring penambahan Kadar
Aspal
Spesifikasi Max • Spesifikasi adalah nilai
minimum dan maximum VIM
yang harus tersedia untuk
menjamin Gerakan Aspal
Dalam Sistem pada saat Muai
dan Susut
Spesifikasi Min
Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Parameter Uji

 VFA (Rongga Terisi Aspal)


VFA
• Nilai VFA dalam % Rongga
(%)
• Kurva bersifat Terus Naik,
seiring penambahan Kadar
Aspal
• Spesifikasi adalah nilai
minimum VFA yang harus
dicapai untuk menjamin
Ketebalan Film Aspal pada
Agregat
Spesifikasi Min
Kadal Aspal
Rentang Kadar Aspal (%)
yang Masuk Spesifikasi
Kadar Aspal Optimum (KAO)

Paramater Kadar Aspal yang Masuk Spesifikasi


4% 5% 6% 7% 8%
Stabilitas
Flow/ Kelelehan
MQ (Marshall Quotient)
VMA (Void in Mineral Aggregates)
VIM (Void In Mixture)
VFA (Void Filled with Asphalt)

Rentang Kadar
Aspal
• Rentang KAO adalah Nilai Rentang yang Masuk
Kadar Aspal yang Seluruhnya Masuk Spesifikasi
Spesifikasi
• Nilai KAO menurut Spesifikasi PU
adalah Nilai Tengah Rentang KAO
Daur Ulang
Perkerasan
Perkerasan Daur-ulang
 Perbaikan terhadap struktur perkerasan lentur pada prinsipnya
mencakup: pelapisan ulang (overlaying), daur-ulang (recycling) dan
rekonstruksi (reconstruction). Material dari perkerasan yang rusak
(deteriorated) yang dikenal sebagai Perkerasan Aspal yang Diundang
Kembali atau Reclaimed Asphalt Pavement (RAP), sebagian atau seluruhnya
digunakan pada konstruksi baru.
Digelar &
+ dipadatkan
Diambil
RAP Material
Segar
Aspal
+
Agregat

1: Eksisting 2: Pengambilan 3: Pencampuran 4: Penghamparan Kembali


Jenis Proses Daur-ulang
 Hot in-Place Recycling
(Daur-ulang Panas di Lokasi)

 Cold in Place Recycling


(Daur-ulang Dingin di Lokasi)

 Hot Central Plant Recycling


(Daur-ulang Panas di Kilang)

 Cold Central Plant Recycling


(Daur-ulang Dingin di Kilang)
Hot in-Place Recycling
Daur-ulang Panas di Lokasi

Sumber: Lebuhraya Malaysia (2005)


Cold in-Place Recycling
Daur-ulang Dingin di Lokasi

Sumber: EDP Consultant, USA (2006)


Hot Central Plant Recycling
Daur-ulang Panas di Kilang
Surge
Hopper
Main Unit

RAP Feeding

Drum
Mixer

Sumber: Fujian South Highway Machinery Co., Ltd., Japan (2006)


Cold Central Plant Recycling
Daur-ulang Dingin di Kilang

Sumber: Public Work Deparment, Malaysia (2005)


Kelebihan Perkerasan Daur-ulang
 Mempersingkat gangguan yang dirasakan
pengguna
 Konservasi kebutuhan energi
 Preservasi kondisi lingkungan
 Memperkecil biaya konstruksi
 Konservasi kebutuhan material dasar
(agregat dan aspal)
 Preservasi geometri perkerasan eksisting