Anda di halaman 1dari 52

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL OLEH: THEODORA PURBA DOKTER PEMBIMBING: DR LILIANA WANANE SP.OG

OLEH: THEODORA PURBA DOKTER PEMBIMBING:

DR LILIANA WANANE SP.OG

BAB 1 STATUS PASIEN

Nama Pasien Usia Status Pekerjaan Pasien Alamat Pendidikan Tanggal MRS Tanggal KRS No. RM DPJP :

Nama Pasien Usia

Status

Pekerjaan Pasien Alamat Pendidikan

Tanggal MRS

Tanggal KRS No. RM

DPJP

: Ny. TS : 49 tahun

: Menikah

: Ibu Rumah Tangga : Padang Bulan : Akademi

: 8/3/2018

: 14/3/2018 : 17.55.74

: dr. F. Liliane Wanane Sp.OG

Hasil Lab tanggal 8-3-2018

HGB (g/dL)

6,4

RBC (10^6/uL)

3, 19

HCT (%)

21,7

MCV (fL)

68,0

MCH (pg)

20,1

MCHC (g/dL)

29,5

RDW-SD (fL)

38,6

RDW-CV (%)

16,2

WBC (10^3/uL)

6,71

PLT (10^3/uL)

346

Waktu perdarahan

  • 4 menit

Waktu pembekuan

  • 7 menit 30 detik

 
 

9 Maret 2018

S

Perdarahan pervaginam berkurang, pusing (+)

O

Kes: CM, TD = 120/70 mmHg, Nadi= 80 x/ menit, Hb= 6,4 g/dL RR= 20 x/ menit, Suhu = 36,9 0 C

A

Menometroragia + Anemia Sedang+ Hipertensi Kronik

P

IVFD RL 20 tpm

Injeksi Asam Traneksamat 3x 500 mg (iv) Injeksi cefotaxim 2x 1 gr(iv) Asam mefenamat 3x 500 mg

Sulfas Ferrosus 1x1 tab

Vitamin C 1x1 tab Amlodipin 1x 10 mg Captopril 3x25 mg Transfusi PRC 450 cc Pro USG evaluasi

S

Perdarahan pervaginam berkurang

O

Kes: CM, TD = 140/100 mmHg, Nadi= 80 x/ menit

RR= 20 x/ menit, Suhu = 37,1 0 C Abdomen: soepel (+)

A

Menometroragia + Anemia Sedang

P

IVFD RL 20 tpm

Injeksi Asam Traneksamat 3x 500 mg(iv) Injeksi cefotaxim 2x 1 vial (iv) Asam mefenamat 3x 500 mg

Sulfas Ferrosus 1x1 tab

Vitamin C 1x1 tab Amlodipin 1x 10 mg Captopril 3x25 mg

Pro kuretase

Ukuran massa 9 cmx 8 cm Tampak kista dengan ukuran 1,2 cm Kesan hyperplasia endometrium
  • Ukuran massa 9 cmx 8 cm

  • Tampak kista dengan ukuran 1,2 cm

  • Kesan hyperplasia endometrium

 

11-12 Maret 2018

S

Perdarahan pervaginam berkurang, sulit tidur

O

Kes: CM, TD = 160/90 mmHg, Nadi= 88 x/ menit,

RR= 20 x/ menit, Suhu = 37

A

Menometroragia + Anemia Sedang

P

IVFD RL 20 tpm

Injeksi Asam Traneksamat 3x 500 mg

Injeksi cefotaxim 2x 1 vial Asam mefenamat 3x 500 mg Amlodipin 1x 10 mg Captopril 3x25 mg Sulfas Ferrosus 1x1 tab Vitamin C 1x1 tab

Alprazolam 1x 0,5 mg malam

Hasil Lab tanggal 11-3-2018

HGB (g/dL)

10,0

RBC (10^6/uL)

4,5

HCT (%)

33,3

MCV (fL)

74,0

MCH (pg)

22,2

MCHC (g/dL)

30,0

RDW-SD (fL)

46,9

RDW-CV (%)

18,4

WBC (10^3/uL)

8,3

PLT (10^3/uL)

395

Waktu perdarahan

4 menit

Hasil Lab tanggal 12-03-2018

Creatinin ( mg/dl)

0,7

Glucose ( mg/dl)

82

Urea ( mg/dl)

31

Uric Acid ( mg/dl)

5,2

Cholesterol ( mg/dl)

245

Trygliserida ( mg/dl)

145

SGOT (U/l)

48

SGPT ( U/l)

18

Protein Total (gr/dl)

8,4

Albumin (gr/dl)

4,7

HDL cholesterol (mg/dl)

56

LDL cholsterol (/mgdl)

160

 

13 Maret 2018

S

Puasa (+), keluar darah dari jalan lahir (-)

O

Kes: CM, TD = 130/80 mmHg, Nadi= 88 x/ menit,

RR= 20 x/ menit, Suhu = 37

A

Menometroragia + Anemia Sedang

P

IVFD RL 20 tpm

Injeksi Ranitidin 50 mg Injeksi ondansentron 4mg

Injeksi cefotaxim 2 gr preoperasi

Diagnosis Tindakan operasi Anastesi Persiapan operasi Informed consent Metroragia ec suspek hyperplasia endometrium + anemia post

Diagnosis

Tindakan operasi Anastesi

Persiapan operasi

Informed consent

Metroragia ec suspek hyperplasia endometrium + anemia post transfusi

Kuretase Sampling Patologi Anatomi General Anastesi

Injeksi cefotaxime 1x2 gr

Menjelaskan pada pasien tentang hasil pemeriksaaan dari USG dan pilihan terapi,

komplikasi dan indikasi Posisi pasien Pasien dalam posisi litotomi, dilakukan pembiusan, dipasang speculum sims, tampak portio, perdarahan aktif (-), pasang tenakulum di portio arah jam 12, sonde ±12 cm, antefleksi tidak ada tahanan, di lakukan kuretase searah jarum jam, keluar jaringan ±20 cc seperti kerokan kelapa, perdarahan minimal

Pendapatan eksplorasi

tampak jaringan endometrium seperti kerokan kelapa ±20 cc berwarna putih

Pengiriman jaringan operasi

jaringan di kirim ke lab Cito untuk pemeriksaaan

patologi anatomi

Asuhan medis paska bedah:

  • - Observasi tanda vital/ perdarahan tiap 30 menit selama 2 jam kemudian lanjut tiap 8 jam

  • - Puasa 1x4 jam

  • - IVFD Ringer Laktat 20 tpm makro

  • - Cefotaxime 2 gr

  • - Asam mefenamat 3x 1 tab

  • - Terpasang kasa 2 buah di intravagina

Pendarahan Uterus Abnormal (PUA) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan semua kelainan haid baik dalam hal

Pendarahan Uterus Abnormal (PUA) adalah

istilah yang digunakan untuk menggambarkan

semua kelainan haid baik dalam hal jumlah

maupun lamanya.

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL KELAINAN ORGANIK Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD) Perdarahan uterus abnormal yg terjadi semata-mata krn

KELAINAN ORGANIK

Perdarahan Uterus Disfungsional (PUD)

Perdarahan uterus abnormal yg terjadi semata-mata krn ggn fungsional mekanisme kerja poros H-H-O-E,dgn

tanpa adanya kelainan organik organ

reproduksi dan penggunaan kontrasepsi

atau pengobatan hormonal

A. Pendarahan uterus abnormal akut didefinisikan sebagai pendarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan segera
  • A. Pendarahan uterus abnormal akut didefinisikan sebagai pendarahan haid yang banyak sehingga perlu dilakukan penanganan segera untuk mencegah kehilangan darah.

    • B. Pendarahan uterus abnormal kronik merupakan terminologi untuk pendarahan uterus abnormal yang telah terjadi lebih dari 3 bulan.

    • C. Pendarahan tengah (intermenstrual bleeding) merupakan pendarahan haid yang terjadi diantara 2 siklus haid yang teratur. Pendarahan dapat terjadi kapan saja atau dapat juga terjadi di

waktu

sama setiap

siklus.

Istilah

yang

menggantikan terminologi metroragia.

ini

ditujukan

untuk

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL

KELOMPOK UMUR

PERDARAHAN UTERUS ABNORMAL KELOMPOK UMUR PERIMENARCHE REMAJA PUD Gangguan pemb. Darah Hamil abnormal REPRODUKSI Hamil abnormal

PERIMENARCHE

REMAJA

PUD

Gangguan pemb. Darah Hamil abnormal

REPRODUKSI

Hamil abnormal Pelvis patologi Infeksi Infertilitas

Penyakit sistemik

Obat/Kontrasepsi

PUD

PERI-

MENOPAUSE

PUD

Keganasan

Polip Adenomiosis Leiomioma uteri Malignancy and hyperplasia Polip adalah pertumbuhan endometrium berlebih yang bersifat lokal mungkin

Polip

Adenomiosis

Leiomioma uteri

Malignancy and hyperplasia

Polip adalah pertumbuhan endometrium berlebih yang bersifat lokal mungkin tunggal atau ganda. Polip terdiri dari kelenjar, stroma, dan pembuluh darah endometrium

Merupakan invasi endometrium ke dalam lapisan miometrium, menyebabkan uterus membesar, difus

Leiomioma adalah tumor jinak fibromuscular pada permukaan myometrium.Berdasarkan lokasinya, leiomioma dibagi menjadi: submukosum, intramural, subserosum.

Hiperplasia endometrium adalah pertumbuhan abnormal berlebihan dari kelenjar endometrium. Gambaran dari hiperplasi endometrium dapat dikategorikan sebagai

hiperplasi endometrium simpleks non atipik dan atipik, dan hiperplasia

endometrium kompleks non atipik dan atipik.

Coagulopathy Terminologi koagulopati digunakan untuk merujuk kelainan hemostasis sistemik yang mengakibatkan PUA. Ovulatory dysfunction Kegagalan terjadinya

Coagulopathy

Terminologi koagulopati digunakan untuk merujuk kelainan hemostasis sistemik yang mengakibatkan PUA.

Ovulatory dysfunction

Kegagalan terjadinya ovulasi yang menyebabkan ketidakseimbangan hormonal yang dapat menyebabkan terjadinya pendarahan uterus abnormal.

Endometrial

Iatrogenik

Not yet classified

Pendarahan uterus abnormal yang terjadi pada perempuan dengan siklus haid teratur akibat gangguan hemostasis lokal endometrium.

Pendarahan uterus abnormal yang berhubungan dengan penggunaan obat- obatan hormonal (estrogen, progestin) ataupun non hormonal (obat-obat antikoagulan) atau AKDR.

Kategori ini dibuat untuk penyebab lain yang jarang atau sulit dimasukkan dalam klasifikasi (misalnya adalah endometritis kronik atau malformasi arteri-

vena).

CIRI-CIRI HAID

Ciri-ciri

Rentang

Rata-rata

Menars(Tahun)

9 17

Panjang Siklus(Hari)

  • 21 35

Lama(Hari)

1 8

Jumlah Darah(ml)

  • 10 80

Menopause(Tahun)

  • 45 55

12,5

28

3 5

35

47 50

 Kelainan panjang siklus (N=21-35hr): ◦ Polimenore (sering) → < 21 hr ◦ Oligomenore (jarang) →
  • Kelainan panjang siklus (N=21-35hr):

Polimenore (sering) → < 21 hr Oligomenore (jarang) → > 35 hr Amenore (tidak haid) → > 3 bln

  • Kelainan banyaknya haid (N=±80ml):

Hipermenore (banyak) → > 80ml Hipomenore (sedikit) → < 80ml

  • Kelainan lama haid (N= 3-7hr):

Menoragi (memanjang) >7 hari Brakimenore (memendek) <3 hari

  • Gangguan lain berhubungan dengan haid :

Metroragi (haid diluar siklus) Dismenore (nyeri bila haid) Premenstrual tension (ketegangan haid)

 Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang terjadi di luar siklus haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada
  • Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang

terjadi di luar siklus haid. Perdarahan ovulatoir

terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting.

  • Menometroragia, yaitu perdarahan yang terjadi

dengan interval yang tidak teratur disertai perdarahan yang banyak dan lama.

Sebab-sebab organik perdarahan:  Serviks uteri; seperti polip servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada portio

Sebab-sebab organik perdarahan:

  • Serviks uteri; seperti polip servisis uteri, erosio porsionis uteri, ulkus pada portio uteri, karsinoma servisis uteri.

  • Korpus uteri; polip endometrium, abortus imminens,

abortus insipiens, abortus incompletus, mola hidatidosa, koriokarsinoma, subinvolusio uteri, karsinoma korpus uteri, sarkoma uteri, mioma uteri.

  • Tuba fallopii; kehamilan ektopik terganggu, radang tuba, tumor tuba.

  • Ovarium; radang ovarium, tumor ovarium.

 Sebab – sebab disfungsional, terbagi menjadi atas:  Perdarahan disfungsional dengan ovulasi ( ovulatoir disfunction
  • Sebab sebab disfungsional, terbagi menjadi atas:

  • Perdarahan disfungsional dengan ovulasi (ovulatoir

disfunction bleeding).

  • Perdarahan disfungsional tanpa ovulasi (anovulatoir

disfunctiond bleeding)

  • Stres psikologis dan komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi

 Pada siklus ovulasi, perdarahan rahim terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan waktu menstruasi. Perdarahan
  • Pada siklus ovulasi, perdarahan rahim terjadi pada pertengahan menstruasi maupun bersamaan dengan waktu menstruasi. Perdarahan ini terjadi karena rendahnya kadar hormon estrogen, sementara hormon progesteron tetap terbentuk.

  • Sedangkan pada siklus tanpa ovulasi (anovulation), perdarahan rahim berlangsung karena tidak terjadi ovulasi, sehingga kadar hormon estrogen berlebihan sedangkan hormon progesteron rendah. Akibatnya dinding rahim (endometrium) mengalami

penebalan berlebihan (hiperplasi) tanpa diikuti penyangga (kaya

pembuluh darah dan kelenjar) yang memadai.

  • Kondisi inilah penyebab terjadinya perdarahan rahim karena dinding rahim yang rapuh. Permukaan dinding rahim

di

satu

bagian baru sembuh lantas diikuti perdarahan di permukaan

lainnya, jadilah perdarahan rahim berkepanjangan.

Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus

Jika sudah dipastikan bahwa perdarahan berasal dari endometrium tipe sekresi tanpa adanya sebab organik, maka harus dipikirkan sebagai etiologinya:

  • Korpus Luteum Persisten

Dalam hal ini dijumpai perdarahan kadang-kadang bersamaan dengan ovarium yang membesar. Korpus luteum persisten dapat menimbulkan pelepasan endometrium yang tidak teratur (irregular shedding). Diagnosis ini dibuat dengan melakukan kerokan yang tepat pada waktunya, yaitu menurut Mc. Lennon pada hari ke-4 mulainya perdarahan.

  • Insufisiensi Korpus Luteum. Hal ini dapat menyebabkan premenstrual spotting, menoragia atau polimenore. Kurangnya produksi progesteron disebabkan oleh gangguan LH realizing factor. Diagnosis dibuat, apabila hasil biopsi endometrial dalam fase luteal tidak cocok dengan gambaran endometrium yang seharusnya didapat pada hari siklus yang bersangkutan.

  • Apopleksia Uteri

Pada wanita dengan hipertensi dapat terjadi pecahnya pembuluh darah dalam uterus.

  • Kelainan Darah Seperti anemia, purpura trombositopenia, dan gangguan dalam mekanisme pembekuan darah.

 Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan
  • Stimulasi dengan estrogen menyebabkan tumbuhnya endometrium. Dengan menurunnya kadar estrogen dibawah tingkat tertentu, timbul perdarahan yang kadang bersifat siklik, dan kadang tidak teratur sama sekali. Fluktuasi kadar estrogen ada sangkut pautnya dengan jumlah folikel yang pada suatu waktu fungsional aktif. Folikelfolikel ini mengeluarkan estrogen sebelum mengalami atresia, dan kemudian diganti oleh folikel folikel baru. Endometrium dibawah pengaruh estrogen tumbuh terus dan dari endometrium yang mula-mula proliferasi dapat terjadi endometrium bersifat hiperplasia kistik. Jika gambaran ini diperoleh pada kerokan maka dapat disimpulkan adanya

perdarahan anovulatoir.

 Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus dilakukan dalam pemeriksaan pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan
  • Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang lengkap harus

dilakukan dalam pemeriksaan pasien. Jika anamnesis dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya penyakit sistemik,

maka penyelidikan lebih jauh mungkin diperlukan.

  • Abnormalitas pada pemeriksaan pelvis harus diperiksa dengan USG dan laparoskopi jika diperlukan.

  • Pada wanita usia > 35 tahun atau dengan risiko tinggi

keganasan endometrium perlu dilakukan pemeriksaan USG transvaginal dan pengambilan sampel endometrium.

  • Pertimbangkan tindakan kuretase untuk menyingkirkan keganasan endometrium

 Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid, dan kadar HCG, FSH, LH, Prolaktin dan androgen
  • Pemeriksaan darah : Hemoglobin, uji fungsi thiroid, dan kadar HCG, FSH, LH, Prolaktin dan androgen serum jika ada indikasi atau skrining gangguan perdarahan.

  • Deteksi patologi endometrium melalui dilatasi dan kuretase ataupun histeroskopi. Wanita tua dengan gangguan menstruasi, wanita muda dengan perdarahan tidak teratur

atau wanita muda ( < 40 tahun ) yang gagal berespon

terhadap pengobatan harus menjalani sejumlah pemeriksaan endometrium.

  • Laparoskopi : Laparoskopi bermanfaat pada wanita yang

tidak berhasil dalam uji coba terapeutik.

Prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut:  Menghentikan perdarahan, bila perdarahan disfungsional sangat banyak, penderita harus istirahat baring

Prinsip-prinsip pengobatan sebagai berikut:

Menghentikan perdarahan, bila perdarahan disfungsional sangat banyak, penderita harus istirahat baring dan dilakukan pemeriksaan darah. Mengatur menstruasi agar kembali normal.

  • Transfusi jika kadarhemoglobin (Hb) kurang dari 8 gr%.

NON - HORMONAL (A). Asam Traneksamat

  • Asam traneksamat 3 x 1 g merupakan lini pertama dalam tata

laksana menoragia (rekomendasi A).

  • Obat ini bersifat inhibitor kompetitif pada aktivasi plasminogen.

Plasminogen akan diubah menjadi plasmin yang berfungsi untuk

memecahkan fibrin menjadi fibrin degradation products (FDPs). Oleh

karena itu obat ini berfungsi sebagai agen anti fibrinolitik. Obat ini akan menghambat faktor-faktor yang memicu terjadinya pembekuan darah, namun tidak akan menimbulkan kejadian trombosis

M.Fidel Ganis Siregar, KBK (Blok Reproduksi) Mahasiswa FK-USU K-53-54

Kadar prostaglandin pada endometrium penderita gangguan haid akan meningkat. AINS ditujukan untuk menekan pembentukan siklooksigenase prostaglandin

Kadar prostaglandin pada endometrium penderita gangguan haid

akan meningkat. AINS ditujukan untuk menekan pembentukan

siklooksigenase prostaglandin pada endometrium. AINS dapat mengurangi jumlah darah haid hingga 20-50 persen. Pemberian AINS dapat dimulai sejak haid hari pertama dan dapat diberikan

untuk 5 hari atau hingga haid berhenti. Contoh: pemberian asam

mefenamat 3x 500 mg

OAINS paling efektif jika diberikan selama 7 hingga 10 hari sebelum

onset menstruasi yang diharapkan pada pasien DUB ovulatori, tetapi

umumnya dimulai pada onset menstruasi dan dilanjutkan selama espisode perdarahan dan berhasil baik.

Estrogen  Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena

Estrogen

  • Pada umumnya dipakai estrogen alamiah, misalnya: estradiol valerat (nama generik) yang relatif menguntungkan karena

tidak membebani kinerja liver dan tidak menimbulkan

gangguan pembekuan darah.

  • Dosis dan cara pemberian: Estrogen konjugasi (estradiol

valerat): 2,5 mg diminum selama 7-10 hari. Benzoas

estradiol: 20 mg disuntikkan intramuskuler (melalui bokong). Jika perdarahannya banyak, dianjurkan untuk opname, dan

diberikan estrogen konjugasi (estradiol valerat): 25 mg secara intravenus (suntikan lewat selang infus) perlahan- lahan (10-15 menit), dapat diulang tiap 3-4 jam.

Obat ini bekerja untuk memicu vasospasme pembuluh kapiler dengan dengan cara mempengaruhi kadar fibrinogen, faktor IV,

Obat ini bekerja untuk memicu vasospasme pembuluh kapiler

dengan dengan cara mempengaruhi kadar fibrinogen, faktor

IV, faktor X, proses agregasi trombosit dan permeabilitas pembuluh kapiler. Pembentukan reseptor progesteron akan meningkat sehingga diharapkan pengobatan selanjutnya

dengan menggunakan progestin akan lebih baik. Efek samping berupa gejala akibat efek estrogen yang berlebihan seperti perdarahan uterus, mastodinia dan retensi cairan.

B. PKK

Perdarahan haid berkuran pada penggunaan pil kontrasepsi kombinasi akibat

endometrium yang atrofi. Dosis yang dianjurkan pada saat perdarahan akut

adalah 4 x 1

minggu.

tablet selama 4 hari,

dilanjutkan

dengan 3

x 1

tablet selama 3

Selanjutnya bebas pil selama 7 hari, kemudian dilanjutkan dengan pemberian pil kontrasepsi kombinasi paling tidak selama 3 bulan. Apabila penggobatannya

ditujukan untuk menghentikan haid, maka obat tersebut dapat diberikan secara

kontiyu, namun dianjurkan setiap 3-4 bulan dapat dibuat perdarahan lucut. Efek samping dapat berupa perubahan mood, sakit kepala, mual, retensi cairan, payudara tegang, deep vein thrombosis, stroke dan serangan jantung

Obat ini akan
Obat
ini
akan

bekerja

menghambat

penambahan

reseptor

estrogen serta akan mengaktifkan enzim 17 hidroksi steroid dehidrogenase pada sel-sel endometrium, sehngga estradiol akan dikonversi menjadi estrogen yang efek biologisnya lebih

rendah dibandingkan dengan estradiol. Meski demikian

penggunaan progestin yang lama dapat memicu efek anti mitotik yang mengakibatkan terjadinya atrofi endometrium. Progestin dapat diberikan secara siklik maupun kontinyu.

Pemberian siklik diberikan selama 14 hari kemudian stop

selama 14 hari, begitu berulang-ulang tanpa memperhatikan pola perdarahannya .

Sedian progestin yang dapat diberikan antara lain

MPA 1 x 10 mg, noretisteron asetat dengan dosis 2-

3 x 5 mg, didrogesteron 2 x5 mg atau nomegestrol

asetat 1 x

5 mg selama 10 hari per siklus.

Apabila

pasien

mengalami

perdarahan

pada

saat

kunjungan, dosis progestin dapat dinaikkan setiap 2

hari hingga perdarahan berhenti. Pemberian

dilanjutkan untuk 14 hari dan kemudian berhenti

selama 14 hari, demikian selanjutnya berganti-ganti.

Obat ini bekerja dengan cara mengurangi konsentrasi reseptor GnRH pada hipofisis melalui mekanisme down regulation terhadap

Obat ini bekerja dengan cara mengurangi konsentrasi reseptor GnRH pada hipofisis melalui mekanisme down regulation terhadap reseptor, yang akan mengakibatkan hambatan pada penglepasan hormon

gonadotropin.

Pemberian

obat

ini

biasanya

ditujukan

untuk

membuat

penderita

menjadi amenorea. Dapat diberikan leuprolide acetate 3.75 mg intra muskular setiap 4

minggu, namun pemberiannya dianjurkan tidak lebih dari 6 bulan.

Apabila pemberiannya melebihi 6 bulan, maka dapat diberikan

tambahan terapi estrogen dan progestin dosis rendah (add back

therapy).

Hasil pengobatan bergantung kepada proses perjalanan penyakit (patofisiologi). Penegakan diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara

Hasil pengobatan bergantung kepada proses

perjalanan penyakit (patofisiologi). Penegakan

diagnosa yang tepat dan regulasi hormonal secara dini dapat memberikan angka

kesembuhan hingga 90 %. Pada wanita muda,

yang sebagian besar terjadi dalam siklus anovulasi, dapat diobati dengan hasil baik.