Anda di halaman 1dari 18

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS)

Diphtheria: Clinical Manifestations,


Diagnosis, and Role of
ImmunizationIn Prevention
Oleh:
Resti Dwi Fitri, S.ked
G1A217057

Pembimbing : dr. Vivi Septriani, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD RADEN MATTAHER JAMBI
TAHUN 2017
PENDAHULUAN

• Difteria berasal dari bahasa Yunani, • Gejala klinis sering terjadi secara bertahap
yang berarti kulit mulai dengan sakit tenggorokan dan
demam. Pada kasus berat, patch abu-abu
• Difteri adalah infeksi yang disebabkan atau putih berkembang di tenggorokan.
oleh bakteri Corynebacterium
diphtheriae • Komplikasi mungkin termasuk Miokarditis,
radang saraf, masalah ginjal, dan
• kematian terjadi antara 5%-10%. perdarahan akibat menurunnya trombosit
meskipun kasus ini sangat jarang dalam darah.
namun masih terjadi di seluruh dunia,
termasuk di negara maju yaitu pada • Pengobatan dengan eritromisin antibiotik
anak yang tidak divaksinasi. atau penisilin G.

• Kasus ini sering terjadi pada anak-anak • Pencegahan dilakukan dengan toksoid
dan jarang terjadi di negara maju difteri, empat dosis, diberikan dengan
karena vaksinasi yang telah meluas. vaksin tetanus toxoid dan pertussis
aselular.
Sejarah dan Penemuan Difteri

• Difteria adalah penyakit kuno yang dijelaskan pada abad ke 5


oleh Hippocrates.

• tahun 1735 -1740, negara New England dan Atlantik dilanda


"distemper tenggorokan" yang mirip dengan difteri dan
menyebabkan kematian lebih dari 20% di bawah usia 15 tahun.

• tahun 1883 Edwin Klebs mengidentifikasi bakteri difteri


kemudian,pada tahun 1884 Loeffler mengisolasi bakteri
tersebut. kemudian dinamai dengan bakteri Klebs-Loeffler.

• Dan Saat ini dikenal sebagai Corynebacterium diphtheriae.


Lanjutan....

• Pada tahun 1890 Shibasburo Kitasatto dan Emil von Behring melakukan
percobaan imunisasi pada kelinci dengan pemanasan toksin difteri.
Pengobatan pertama pada penderita difteri.

• Lima tahun kemudian yaitu tahun 1895, Philadelphia memulai produksi dan
pengujian difteri di Amerika Serikat.

• Setelah vaksin difteri dikembangkan, angka kematian mulai menurun pada


tahun 1924. tahun 1926 , Alexander Thomas Glenny meningkatkan
keefektifan toksoid difteri.

• Dan akhirnya WHO memasukkan vaksin DPT (difteri, pertusis, dan tetanus)
dalam program perluasan imunisasi untuk negara-negara berkembang pada
tahun 1974

• Dan hingga tahun 2016 kematian yang disebabkan kasus difteri kian
menurun ditiap negara dan yang paling sering pada anak yang tidak
melakukan vaksinasi.
Toksin Difteri
Toksin difteri adalah eksotoksin yang dikeluarkan oleh Corynebacterium difteri.
Toksin menyebabkan penyakit difteri pada manusia dengan masuk ke sitoplasma sel
dan menghambat sintesis protein.

Struktur Toksin
Toksin difteri adalah rantai polipeptida tunggal yang terdiri dari dua subunit

• Domain C (Domain katalitik amino-


• Subtunit A : berisi domain C katalitik terminal) memblok sintesis protein.

• subunit B: terdiri domain T dan R. • Domain T (Domain translokasi sentral),


berikatan dengan permukaan sel untuk pengaruh pH akan menginduksi
memudahkam subunit A menembus sel perubahan konformasi pada domain T
inang. yang memudahkan masuknya domain C
ke dalam sitoplasma.

• Domain R berikatan dengan reseptor


permukaan sel. Memudahkan toksin
memasuki sel.
Patogenesis

• Virulensi utama hasil C.diphtheriae berasal dari eksotoksin poten, yang


menghambat sintesis protein. Toksin polipeptida terdiri dari dua segmen
yakni B, yang berikatan dengan sel pejamu dan A bagian aktif toksin.

• Dalam beberapa hari pertama infeksi saluran pernafasan, toksin diuraikan


secara lokal kemudian menginduksi kepadatan koagulum nekrotik yang
terdiri dari fibrin, leukosit, eritrosit, sel epitel pernapasan yang mati dan
organisme yang kemudian terjadilah perdarahan dan pembengkakan pada
submukosa. Edema jaringan lunak dapat menjadi intens, terutama pada
anak-anak yang anatominya lebih kecil, dapat menyebabkan gangguang
saluran pernafasan dan tampilan bullneck.
Manifestasi Klinis

Gejala difteri muncul dua


sampai tujuh hari setelah
infeksi seperti : •sulit menelan
• Sulit bernafas
• demam 380C atau lebih • Tenggorokan leher bengkak
• menggigil • stridor
• kelelahan • suara serak
• sianosis • napas cepat
• sakit tenggorokan • cairan hidung berbau busuk dan
• batuk limfadenopati.
• sakit kepala • Kadang terdapat aritmia jantung
Lanjutan ...

Miokarditis

Toksisitas kardiak dapat terjadi akut dengan kegagalan kongestif dan gangguan sirkulasi.
10% sampai 25% mengalami disfungsi jantung klinis, tergantung tingkat keparahan
penyakit

Toksisitas Neurologis

¾ pasien dengan penyakit berat dapat berkembang menjadi neuropati. Dalam beberapa
hari pertama sering terjadi, kelumpuhan lokal pada palatum mole dan dinding faring
posterior.
Terjadi neuropati kranial yang menyebabkan kelumpuhan okulomotor dan ciliar, dan
disfungsi saraf wajah seperti faring atau laring.
Komplikasi

• Infeksi kulit
• Gagal ginjal
• Hipotensi
• Pneumonia
• ensefalitis
• infark serebral (jarang terjadi)
• endokarditis
• embolisasi arteri
• Artritis septik
Diagnosis dan Pengobatan

diagnosis histopatologis difteri oleh Pengobatan yang di


pewarnaan gram/Albert rekomendasikan CDC :
Kriteria klinis meliputi:
• Metronidazol
• Penyakit saluran pernapasan bagian
atas dengan sakit tenggorokan • Eritromisin (oral atau injeksi)
selama 14 hari (40mg / kg per hari
dengan maksimum 2 g /hari)
• Demam derajat ringan (di atas 39oC
jarang terjadi)
• Procaine Penisilin G diberikan
secara intramuskular selama 14
• Perlengketan, kepadatan,
hari (300.000 U /hari untuk berat
Pseudomembran abu-abu menutupi
pasien< 10kg dan 600.000 U / hari
bagian faring posterior.Pada kasus
untuk yang beratnya> 10kg).
berat, mungkin akan mencakup
seluruh cabang trakeobronkial
Pencegahan
• Difteri dapat dicegah dengan imunisasi yang dikembangkan pada tahun 1923 dan
direkomendasikan pada tahun 1974.

• Imunisasi dapat dimulai pada usia enam minggu dengan dosis lanjutan diberikan
setiap empat minggu

• Vaksin difteri sangat aman pada kehamilan dan pada pasien dengan imunitas yang
buruk, efek sampingnya juga jarang ditemukan

• Vaksin difteri dikemas dalam kombinasi, diantaranya ada tetanus toxoid dan vaksin
tetanus dan pertusis (DPT).

• Organisasi Kesehatan Dunia telah, dan sekitar 84% populasi dunia telah divaksinasi.
lanjutan...

• Rekomendasi vaksin yang diterbitkan oleh CDC meliputi:

• Untuk orang yang berumur 11 tahun atau lebih 0,5ml TdaP


tunggal diikuti empat sampai delapan minggu kemudian
dengan 0,5 ml TdaP dengan dosis kedua 6 sampai 12 bulan
setelah pemebrian pertama.

• Imunisasi booster yang berusia 11 sampai 18 tahun harus


menerima satu dosis TdaP dan kemudian menerima booster
standar Td dengan interval 10 tahun kemudian.

• Usia 19 sampai 64 tahun harus menerima booster lanjutan


seperti TadP, untuk meringankan gejala, penyakit klinis dan
penularan pertusis.
Kesimpulan

 Gejala difteri dimulai dari infeksi


saluran pernafasan, dengan
produksi pseudomembrane
bewarna putih abu-abu.

Komplikasi meliputi miokarditis,


toksisitas neurologis, endokarditis
dan gagal ginjal.
Pada kasus berat dapat menyebabkan
penyumbatan saluran nafas dan
tampilan bullneck.
Diagnosis dan pengobatan sejak dini
memiliki prognosis yang lebih baik.
TELAAH KRITIS JURNAL
PICO
Patient of Problem

 Difteria adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium


diphtheriae.

 Pada tahun 2013 kasus secara resmi dilaporkan menurun 4.700 dari 100.000
pada tahun 1980.
 Di daerah yang masih terkena, kejadian paling tinggi terjadi pada anak-anak.

 Di negara maju sangat jarang terjadi karena vaksinasi yang meluas.

 Komplikasi mungkin termasuk Miokarditis, radang saraf, masalah ginjal, dan


perdarahan akibat menurunnya trombosit dalam darah.

 Pencegahan dilakukan dengan vaksin


Intervensi Compre
Tidak dilakukan intervensi pada Penelitian ini tidak melakukan
penelitian ini. perbandingan terhadap penelitian lain
karena penelitian ini menjabarkan
pravelensi kasus difteria yang pernah
Outecome
terjadi.
CDC merekomendasikan pengobatan
difteri :
- Metronidazol
- Eritromisin 14 hari 40mg / kg
- Procaine Penisilin G 14 hari (300.000
U /hari untuk bb< 10kg dan 600.000
U / hari untuk bb> 10kg
Imunisasi CDC meliputi:
• berumur 11 tahun / lebih : 0,5ml TdaP tunggal, diikuti empat sampai delapan
minggu kemudian dengan 0,5 ml TdaP dengan dosis kedua 6 sampai 12 bulan
setelah pemebrian pertama.
• Imunisasi booster: usia 11 sampai 18 tahun dan kemudian menerima booster
standar Td dengan interval 10 tahun kemudian.
• Usia 19 sampai 64 tahun harus menerima booster lanjutan seperti TadP,
untuk meringankan gejala, penyakit klinis dan penularan pertusis
VIA
Validity
Apakah penelitian ini valid ?

Tujuan penelitian: Bertujuan untuk mengetahui penyebab, gejala


klinis, terapi, pencegahan dan epidemiologi penyakit difteri pada
tahun sebelumnya

Metode penelitian : Metode penelitian yang digunakan adalah


deskriptif

Sampel penelitian : Penelitian ini tidak menggunakan sampel


penelitian tetapi menelaah data yang sudah ada.

Analisis penelitian : Penelitian ini tidak mengunakan analisis


statistic
Important

Apakah hasil penelitian ini penting ?


Penelitian ini penting sebagai bahan pertimbangan bagi negara
berkembang yang angka kejadian penyakit difterinya tinggi dan
paling sering menyerang anak-anak, agar dapat melakukan
pencegahan dengan cara vaksinasi.
Applicable

Apakah penelitian ini bisa digunakan di RSUD Abdul Manap ?


Pemberian terapi antibiotik pada difteri seperti Metronidazole,
Eritromisin dan Procaine penicilin G dapat digunakan di RSUD
Abdul Manap. RSUD Abdul Manap juga dapat memberikan vaksin
difteri karna vaksin ini sangat aman karena dapat diberikan pada
ibu hamil dan orang yang sistem imunnya rendah, serta efek
samping yang signifikan juga jarang terjadi.
Terimakasih ....