Anda di halaman 1dari 52

KOMUNIKASI TERAPEUTIK

PADA SETIAP TAHAP


PROSES KEPERAWATAN
 ..\..\anyar\ENGLISH IN NURSING komp
\ENGLISH IN NURSING komp
\I AM A NURSE\I am a Nurse - National
Nurses Week.flv
Keseluruhan proses keperawatan menggunakan
komunikasi terapeutik, sudahkah perawat “terapeutik”?
Sikap Perawat dalam Berkomunikasi

 Hadir secara fisik dan psikologis

dimensi respons dan dimensi tindakan


(Stuart dan Laraia, 1998)
Sikap (Kehadiran) secara Fisik
TAHAPAN
KOMUNIKASI
TERAPEUTIK
Struktur dalam komunikasi terapeutik,
menurut Stuart,G.W.,1998, terdiri dari
empat fase
(1) fase pra-interaksi;
(2) fase perkenalan atau orientasi;
(3) fase kerja; dan
(4) fase terminasi.

Dalam setiap fase terdapat tugas atau


kegiatan perawat yang harus terselesaikan.
a. Fase pra-interaksi

 Tahap ini adalah masa persiapan


sebelum memulai berhubungan
dengan klien. Tugas perawat
pada fase ini yaitu
1) Mengeksplorasi perasaan,
harapan dan kecemasannya
2)Menganalisa kekuatan dan
kelemahan diri
dengan analisa diri ia akan terlatih
untuk memaksimalkan dirinya agar
bernilai terapeutik bagi klien, jika
merasa tidak siap maka perlu belajar
kembali, diskusi teman kelompok;
3)Mengumpulkan data tentang klien,
sebagai dasar dalam membuat
rencana interaksi;

4)Membuat rencana pertemuan secara


tertulis, yang akan di
implementasikan saat bertemu
dengan klien.
b.Fase orientasi
 Fase ini dimulai pada saat bertemu pertama kali
dengan klien.
 Pada saat pertama kali bertemu dengan klien fase ini
digunakan perawat untuk berkenalan dengan klien dan
merupakan langkah awal dalam membina hubungan
saling percaya.
 Tugas utama perawat pada tahap ini adalah
memberikan situasi lingkungan yang peka dan
menunjukkan penerimaan, serta membantu klien dalam
mengekspresikan perasaan dan pikirannya.
 Tugas-tugas perawat pada tahap ini antara lain :

1)Membina hubungan saling percaya, menunjukkan


sikap penerimaan dan komunikasi terbuka.
Untuk membina hubungan saling percaya perawat
harus bersikap terbuka, jujur, ihklas, menerima
klien apa danya, menepati janji, dan menghargai
klien;
2)Merumuskan kontrak bersama klien. Kontrak
penting untuk menjaga kelangsungan sebuah
interaksi.Kontrak yang harus disetujui bersama
dengan klien yaitu, tempat, waktu dan topik
pertemuan;
3)Menggali perasaan dan pikiran serta
mengidentifikasi masalah klien. Untuk
mendorong klien mengekspresikan
perasaannya, maka tekhnik yang
digunakan adalah pertanyaan terbuka;
4)Merumuskan tujuan dengan klien. Tujuan
dirumuskan setelah masalah klien
teridentifikasi. Bila tahap ini gagal dicapai
akan menimbulkan kegagalan pada
keseluruhan interaksi
Hal yang perlu diperhatikan
pada fase ini antara lain :

1)Memberikan salam terapeutik disertai


mengulurkan tangan jabatan tangan
2)Memperkenalkan diri perawat
3)Menyepakati kontrak.
Kesepakatan berkaitan dengan
kesediaan klien untuk berkomunikasi,
topik, tempat, dan lamanya pertemuan.
4)Melengkapi kontrak. Pada pertemuan
pertama perawat perlu melengkapi
penjelasan tentang identitas serta
tujuan interaksi agar klien percaya
kepada perawat.
5)Evaluasi dan validasi. Berisikan
pengkajian keluhan utama, alasan atau
kejadian yang membuat klien meminta
bantuan.

Evaluasi ini juga digunakan untuk


mendapatkan fokus pengkajian lebih
lanjut, kemudian dilanjutkan dengan hal-
hal yang terkait dengan keluhan utama.
Pada pertemuan lanjutan evaluasi/validasi
digunakan untuk mengetahui kondisi dan
kemajuan klien hasil interaksi sebelumnya.
6)Menyepakati masalah. Dengan
tekhnik memfokuskan perawat
bersama klien mengidentifikasi
masalah dan kebutuhan klien.
Selanjutnya setiap awal pertemuan
lanjutan dengan klien lakukan
orientasi.
Tujuan orientasi adalah
memvalidasi keakuratan data,
rencana yang telah dibuat dengan
keadaan klien saat ini dan
mengevaluasi tindakan
pertemuan sebelumnya.
c.Fase kerja.
 Tahap ini merupakan inti dari
keseluruhan proses komunikasi
terapeutik.Tahap ini perawat bersama
klien mengatasi masalah yang
dihadapi
 Perawat dan klien mengeksplorasi
stressor dan mendorong
perkembangan kesadaran diri
dengan menghubungkan persepsi,
perasaan dan perilaku klien.
 Tahap ini berkaitan dengan
pelaksanaan rencana asuhan yang
telah ditetapkan.
 Teknik komunikasi terapeutik yang
sering digunakan perawat antara lain
mengeksplorasi, mendengarkan
dengan aktif, refleksi, berbagai
persepsi, memfokuskan dan
menyimpulkan.
d.Fase terminasi
 Fase ini merupakan fase yang sulit dan
penting, karena hubungan saling
percaya sudah terbina dan berada pada
tingkat optimal. Perawat dan klien
keduanya merasa kehilangan.
 Terminasi dapat terjadi pada saat
perawat mengakhiri tugas pada unit
tertentu atau saat klien akan pulang.
 Perawat dan klien bersama-sama
meninjau kembali proses
keperawatan yang telah dilalui dan
pencapaian tujuan. Untuk melalui
fase ini dengan sukses dan bernilai
terapeutik, perawat menggunakan
konsep kehilangan.
 Terminasi merupakan akhir dari pertemuan
perawat, yang dibagi dua yaitu
1)Terminasi sementara, berarti masih ada
pertemuan lanjutan;
2)Terminasi akhir, terjadi jika perawat telah
menyelesaikan proses keperawatan secara
menyeluruh.
 Tugas perawat pada fase ini yaitu :

a)Mengevaluasi pencapaian tujuan


interaksi yang telah dilakukan, evaluasi
ini disebut evaluasi objektif.
 Brammer & Mc Donald (1996) menyatakan
bahwa meminta klien menyimpulkan
tentang apa yang telah didiskusikan atau
respon objektif setelah tindakan dilakukan
sangat berguna pada tahap terminasi.
b)Melakukan evaluasi subjektif,
dilakukan dengan menanyakan
perasaan klien setalah berinteraksi
atau setelah melakukan tindakan
tertentu;
c)Menyepakati tindak lanjut terhadap
interaksi yang telah dilakukan, hal ini
sering disebut pekerjaan rumah
(planning klien). Tindak lanjut yang
diberikan harus relevan dengan
interaksi yang baru dilakukan atau
yang akan dilakukan pada pertemuan
berikutnya.
 Tindak lanjut yang diberikan harus relevan
dengan interaksi yang baru dilakukan atau
yang akan dilakukan pada pertemuan
berikutnya. Dengan tindak lanjut klien tidak
akan pernah kosong menerima proses
keperawatan dalam 24 jam;
d)Membuat kontrak untuk pertemuan
berikutnya, kontrak yang perlu
disepakati adalah topik, waktu dan
tempat pertemuan. Perbedaan antara
terminasi sementara dan terminasi
akhir, adalah bahwa pada terminasi
akhir yaitu mencakup keseluruhan
hasil yang telah dicapai selama
interaksi.
HAMBATAN
KOMUNIKASI
TERAPEUTIK
1. RESISTENS

 Merupakan upaya klien untuk tetap tidak


menyadari atau mengakui penyebab
kecemasan dalam dirinya dalam rangka
melawan atau menyangkal ungkapan
perasaan (Stuart, G.W.,1998)
 Terjadi pd saat fase kerja dimulai pd saat
dilakukannya pemecahan masalah
 Bisa terjadi apabila perawat terlalu cepat
menggali masalah klien yang bersifat
pribadi (Thomas, M.D., 1991)
KENAPA RESISTENS TERJADI / DIALAMI
KLIEN ?

 Perawat berfokus pd diri sendiri


 Thrust belum terbina
 Perawat terlalu banyak membuka diri
BENTUK-BENTUK RESISTENS
Stuart, G.W., (1998)
Supresi
 Gejala penyakit semakin mencolok
 Pesimis terhadap masa datang
 Adanya hambatan intelektual yang
dapat diidentifikasi dari ucapan/perilaku
klien
 Berperilaku tidak wajar
 Bicara hal-hal yang bersifat dangkal
 Menolak untuk berubah
2. TRANSFERENS
 Merupakan respon tak sadar berupa
perasaan atau perilaku terhadap perawat
yang sebetulnya berawal & berhubungan
dengan orang-orang tertentu yang
bermakna baginya pada waktu masih kecil
(Stuart, G.W. 1998)
 Kumpulan reaksi yang timbul sebagai
upaya mengurangi kecemasan dan
ketidakpuasan klien terhadap perawat
karena intensitas pertemuan yang
berlebihan. (Stuart, G.W. 1998)
 BAIK/TIDAKKAH BILA
TRANSFERENS TIDAK
DITANGGULANGI ???
 Tidak baik,
……………!!!!!!!
Transverens ............
 Bisa membuat klien ketergantungan
 Klien membenci perawat
 Perawat terpuruk : tidak bisa menerima
respon emosional klien baik positif
maupun negatif
 Transverens kadang terjadi apabila
perawat dan klien tidak ada pada tujuan
atau rencana yang telah disepakati
bersama ; kontrak pd tahap orientasi tidak
jelas batasannya
APA YANG HARUS DILAKUKAN BILA
TRANSFERENS DAN RESISITENS TERJADI
PADA KLIEN ???
 Mendengarkan / Listening
 Klarifikasi dan refleksi
 Menggali perilaku
3.KONTERTRANSFERENS

 Mempunyai standar yang sama


terhadap dirinya sendiri atas apa yang
diharapkan kepada kliennya

 Harus dapat menguji diri sendiri melalui


latihan menjalin hubungan terutama
ketika klien mengkritik atau menentang
Kontertransferens .................

 Harus dapat menemukan sumber


masalah
 Ketika terjadi kontertransferens, perawat
harus bisa mengontrolnya
 Pengawasan secara individu dan
kelompok bisa membantu mengatasi
kontertransferens
4. PELANGGARAN
BATAS
 Perlu adanya batasan yang jelas
mengenai hubungan antara perawat –
klien (terapeutik) :
menolong dan ditolong
 Pelanggaran batas terjadi ketika perawat
melampaui batas hubungan terapeutik
dan membina hubungan sosial ekonomi
atau hub.personal dng klien
Untuk Menghindarinya

 penjelasan atau kesepakatan yang jelas


 selalu mengingatkan kontrak dan tujuan
interaksi
 hati-hati selama berinteraksi
4. REWARDS
 Dalam keperawatan : kontroversial
 Rewards bisa dalam berbagai bentuk :
- nyata
- tidak nyata
 Pada tahap orientasi :
dapat merusak hub, karena
klien dpt memanipulasi
perawat dengan cara
mengatur hub dan mengatur
batasan-batasan dalam
berhubungan
 Pada tahap terminasi : memiliki arti lain
dan kompleks, karena refleksi
keinginan klien hubungan terapeutik
menjadi sosial