Anda di halaman 1dari 37

Asuhan

Keperawatan
Pada
Pemenuhan
kebutuhan
eliminasi
Dewi Hartinah, Fecal
S.Kep, Ners, M.Si.Med
Eliminasi
merupakan kebutuhan dasar manusia yang
asensial dan berperan penting dalam
menentukan kelangsungan hidup manusia
Eliminasi dibutuhkan untuk homeostastik
melalui pembuangan sisa metabolisme
Eliminasi fekal (defekasi)
proses pembuangan atau pengeluaran sisa
metabolisme berupa feses dan flatus yang
berasal dari saluran pencernaan melalui
anus
pengeluaran feses dari anus dan rectum
Defekasi juga disebut bowel movement
(pergerakan usus)
Anatomi dan Fisiologi
Eliminasi Fekal

Usus halus :
Duodenum, jejenum, dan ileum

Usus besar :
Sekum, kolon, apendiks, dan rektum.
Usus halus
lumen muskular yang dilapisi membran mukosa yang
terletak di antara lambung dan usus besar
Sebagian besar proses pencernaan dan penyerapan
makanan berlangsung di sini
Duodenum adalah saluran berbentuk C dengan panjang
sekitar 25 cm yang terletak di bagian belakang abdomen
Panjang jejunum dan ileum bervariasi antara 300 dan 900
cm.
Jejunum berukuran lebih besar, memiliki dinding yang tebal,
lipatan membran mukosa yang lebih banyak, dan plak
peyeri lebih sedikit.
Usus besar
sebuah saluran otot yang dilapisi oleh
membran mukosa
Serat otot berbentuk sirkular dan
longitudinal, yang memungkinkan usus besar
berkontraksi melebar dan memanjang
Fungsi utama : absorpsi air dan zat gizi,
perlindungan mukosa dinding usus, dan
eliminasi fekal
Proses pencernaan makanan
Pencernaan pertama dilakukan oleh mulut :
Pencernaan mekanik : proses mengunyah
makanan menggunakan gigi
pencernaan kimiawi menggunakan enzim
ptialin (amilase)
Enzim ptialin  mengubah makanan dalam
mulut yang mengandung zat karbohidrat
(amilum) menjadi gula sederhana (maltosa)
Enzim ptialin bekerja dengan baik pada pH
antara 6,8 – 7 dan suhu 37oC
Makanan dibawa ke lambung proses pencernaan
mekanik supaya makanan lebih halus dan
pencernaan kimiawi menggunakan zat/enzim :
Renin, mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air
susu (ASI) hanya dimiliki oleh bayi.
Pepsin, untuk memecah protein menjadi pepton.
HCl (asam klorida), untuk mengaktifkan pepsinogen
menjadi pepsin Sebagai disinfektan, merangsang
pengeluaran hormon sekretin dan kolesistokinin pada
usus halus.
Lipase, berfungsi untuk memecah lemak menjadi asam
lemak dan gliserol. Namun lipase yang dihasilkan sangat
sedikit.
makanan diproses di lambung 3 – 4 jam,
makanan akan dibawa menuju usus dua
belas jari terdapat enzim-enzim berikut
yang berasal dari pankreas:
Amilase, mengubah zat tepung (amilum)
menjadi gula lebih sederhana (maltosa).
Lipase, mengubah lemak menjadi asam lemak
dan gliserol.
Tripsinogen, Jika belum aktif, maka akan
diaktifkan menjadi tripsinmengubah protein
dan pepton menjadi dipeptida dan asam amino
yang siap diserap oleh usus halus
Empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung di
dalam kantung empedu dialirkan melalui saluran
empedu ke usus dua belas jari
Empedu mengandung garam-garam empedu dan
zat warna empedu (bilirubin)  berfungsi
mengemulsikan lemak
Zat warna empedu berwarna kecoklatan, dan
dihasilkan dengan cara merombak sel darah merah
yang telah tua di hati
Empedu merupakan hasil ekskresi di dalam hati.
Zat warna empedu memberikan ciri warna cokelat
pada feses.
Penyerapan nutrisi berlangsung di usus  6 – 7
jam
proses pencernaan selesai dalam waktu 12
sampai 24 jam.
Rata-rata waktu yang diperlukan adalah 24
sampai 72 jam untuk mencerna makanan
secara sempurna
Makanan yang tidak dicerna di usus halus,
misalnya selulosa, bersama dengan lendir akan
menuju ke usus besar menjadi feses.
Di dalam usus besar terdapat bakteri
Escherichia coli.
Bakteri ini membantu dalam proses
pembusukan sisa makanan menjadi feses.
Selain membusukkan sisa makanan, bakteri
E. coli juga menghasilkan vitamin K.
Vitamin K berperan penting dalam proses
pembekuan darah.
Sisa makanan (chymus) dalam usus besar masuk
banyak mengandung air.
Karena tubuh memerlukan air, maka sebagian
besar air diserap kembali ke usus besar.
Penyerapan kembali air merupakan fungsi penting
dari usus besar
sisa-sisa makanan akan dibuang melalui anus
berupa feses
Proses ini dinamakan defekasi dan dilakukan
dengan sadar
Proses pembentukan feses
Setap harinya ,sekitar 750cc chyme kekolon
dari ilium gerakan peristaltik proses
absorbsi air ,nutrium,dan klorida
Dari 750 cc chyme tersebut ,sekitar 150-200
cc mengalami proses reabsorbsi
chyme yang tidak di reabsorpasi menjadi
bentuk semisolid yang disebut feses
bakteri disaluran cerna mengadakan
fermentasi zat makanan yang tidak dicerna
menghasilkan gas yang di keluarkan
melalui anus flatus
karbohidrat saat difermantasikan akan menjadi
hydrogen ,karbondioksida ,dan gas mentan
apabila terjadi ganguan banyak gas yang
terbentuk saat berfermentasi  kembung
protein  asam amino, indole ,statole ,dan
hydrogen sulfide apabila terjadi gangguan 
flatus dan feses nya menjadi sangat bau
Pewarnaan Pada Fases
Manusia

Normalnya terdiri dari :


³⁄₄ air dan ¹⁄₄ padatan
30% bakteri,
10-20% lemak,
10-20% anorganik,
2-3% protein,
30% serat makan yang tak tercerna dan unsur kering
dari pencernaan (pigmen empedu, sel epitel terlepas
Warna coklat dari feses : sterkobilin dan
urobilin dari bilirubin yang merupakan hasil
kerja bakteri
Apabila empedu tidak dapat masuk usus,
warna tinja menjadi putih (tinja akolik).
Asam organic yang terbantuk dari
karbohidrat oleh bakteri merupakan
penyebab tinja menjadi asam (pH 5.0-7.0)
Bau feses disebabkan produk kerja bakteri
(indol, merkaptan, skatol, hydrogen sulfide)
warna feses dan artinya
Jika feses mengandung darah maka ia akan
berwarna merah atau hitam
feses berwarna hitam selain menunjukkan adanya
darah bisa juga terjadi akibat pengaruh makanan
atau obat
jika kantong empedu bermasalah atau ada infeksi
pada hati maka feses yang keluar akan berwarna
pucat atau putih
Jika feses berwarna hijau maka kemungkinan
besar itu diakibatkan oleh sayuran hijau gelap
seperti bayam
Warna feses yang merah biasanya
mengindikasikan perdarahan di rektum.
Tapi jika warna merahnya menyeluruh dan
bukan berbentuk seperti garis-garis
kemungkinan besar diakibatkan makanan.
Feses merah akibat makanan umumnya
disebabkan oleh buah bit, makanan dengan
pewarna merah termasuk minuman bubuk
dan juga makanan yang mengandung
gelatin
Fisiologi defekasi
feses sampai ke rectum ujung syaraf
sensoris yang berada pada rectum menjadi
regang dan terangsang madula spinalis
impuls dikirim ke dua bagian yaitu korteks
serebri & sacral II dan IV dikirim ke
konteks serebri keinginan buang air besar
(bab)
Refleks dlm Proses defekasi
Reflek defekasi instrinsik
berasal dari feses yang masuk ke rectum distensi
rectumrangsangan pada fleksus mesentrikus
gerakan peristaltik.
Setelah feses tiba di anus secara sistematis spinkter
interna relaksasi defekasi
Reflek defekasi parasimpatis
Feses yang masuk ke rektum  merangsang saraf
rectum diteruskan ke spinal cord.
Dari spinal cord dikembalikan ke kolon desenden,
sigmoid, dan rectum intensifnya peristaltik dan
relaksasi spinkter interna defekasi
Selain itu dorongan feses juga dipengaruhi :
kontraksi otot abdomen
tekanan diafragma
kontraksi otot elevator ani

Defekasi juga dipermudah :


fleksi otot femur
posisi jongkok
Pola Defekasi

frekuensi buang air besar 1 kali sehari


ada pula yang buang air besar 3-4 kali
seminggu
Ada yang BAB setelah sarapan pagi, ada
pula yang malam hari
Pola defekasi individu juga bergantung
pada bowel training yang di lakukan pada
masa kanak-kanak
Karakteristik feses
Konsitensi
Secara normal feses memiliki bentuk ,tetapi
lembek karena mengandung +75 air dan +25
sisanya berupa zat ampas

Permukaan feses
Permukaan feses yang normal sesuai dengan
permukaan rectum ,
Abnormalis permukaan feses menunjukan
adanya adanya kelainan pada rectum
Bau
Karakteristik feses bau tidak menyenangkan.
Bau cenderung berfariasi tergantung pada
makanan yang di konsumsinya

Lemak dan protein


Lemak dan protein secara normal terdapat
dalam jumlah sedikit dalam feses
jumlah ini bergantung pada kandungan zat
tersebut dalam makanan yang dikonsumsinya
Faktor yang Mempengaruhi
Defekasi
Usia
Asupan cairan
Tonus otot
Faktor psikologis
Pengobatan :
Laksatif dan katartik dapat melunakkan
feses
Gaya hidup
Kerusakan sensorik dan motoric :
Kerusakan pada medula spinalis dan cidera di
kepala
Penyakit : penyakit pencernaan  diare &
konstipasi
Nyeri :
hemoroid, bedah rektum, melahirkan
Diet
Makanan berserat akan mempercepat produksi
feses,
banyaknya makanan yang masuk ke dalam tubuh
Masalah Eliminasi Fekal

Konstipasi
Impaksi fekal
Diare
Inkontinensia alvi
Flatulens
Konstipasi
defekasi kurang dari tiga kali per minggu
pengeluaran feses yang kering , keras atau
tanpa pengeluaran feses
terjadi jika pergerakan feses di usus besar
berjalan lambat, sehingga memungkinkan
bertambahnya waktu reabsorpsi cairan di
usus besar
Impaksi fekal
suatu massa atau pengumpulan feses yang
keras didalam lipatan rectum
akibat retensi dan akumulasi materi fekal
yang berkepanjangan
keluarnya rembesan cairan fekal (diare) dan
tidak ada feses normal
Penyebab : kebiasaan defekasi yang buruk
dan konstipasi
Diare
pengeluaran feses encer dan peningkatan
frekuensi defekasi
kondisi yang berlawanan dengan konstipasi
akibat cepatnya pergerakan isi fekal di usus
besar
cepatnya pergerakan kime mengurangi
waktu usus besar untuk menyerap kembali
air dan elektrolit
Inkontinensia alvi
hilangnya kemampuan volunter untuk
mengontrol pengeluaran fekal dan gas dari
spingter anal
Dua tipe inkontinensia alvi : parsial dan
mayor
Inkontinensia alvi parsial:ketidakmampuan untuk
mengontrol flatus atau untuk mencegah
pengotoran minor
Inkontinensia mayor adalah ketidakmampuan
untuk mengontrol feses pada konsistensi normal
Flatulens

keberadaan flatus yang berlebihan di usus


dan menyebabkan peregangan dan inflasi
usus (distensi usus)
Flatulens dapat terjadi di kolon akibat
beragam penyebab, seperti makanan, bedah
abdomen, atau narkotik
SEKIAN-TERIMAKASIH