Anda di halaman 1dari 20

DIARE

KELOMPOK 9

1. FADLI ILHAMI HARRI SIREGAR ( 1511311002 )


2. NEFI APRILLAH JUNIWATI ( 1511311006 )
3. HASNATUL SADIYAH ( 1511312005 )
4. MIA AULIA RAHIM ( 1511312016 )
Anatomi Fisiologi Usus Halus Pada Anak

 Pada saat lahir, tidak semua komponen sistem saluran cerna telah
mencapai kematangannya. Kelanjutan pematangan sistem
pencernaan akan tampak oleh adanya perubahan pola fungsi
selama masa pertumbuhan anak. Keadaan ini menyebabkan area
permukaan untuk absorbsi lebih luas. Bising usus pada keadaan
normal dapat didengar pada 4 kuadran abdomen dalam jam
pertama setelah lahir akibat bayi menelan udara saat menangis
dan sistem saraf simpatis merangsang peristaltik.
 Saat lahir saluran cerna steril. Sekali bayi terpapar dengan
lingkungan luar dan cairan mulai masuk, bakteri masuk kesaluran
cerna. Flora normal usus akan terbentuk dalam beberapa hari
pertama kehidupan sehingga meskipun saluran cerna steril saat
lahir,pada kebanyakan bayi bakteri dapat dikultur dalam 5 jam
setelah lahir
Pengertian Diare

 Diare sebagai suatu kondisi dimana terjadi perubahan dalam kepadatan dan
karakter tinja, atau tinja cair dikeluarkan tiga kali atau lebih perhari. Diare
merupakan salah satu gejala dari penyakit pada sistem gastrointestinal atau
penyakit lain diluar saluran pencernaan yang mana buang air besar
frekuensinya lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer.
Faktor Resiko Diare

Faktor perilaku :
 Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan Makanan
Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman
 Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare
karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu
 Tidak menerapkan kebiasaaan cuci tangan pakai sabun sebelum memberi
ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah membersihkan BAB anak
 Penyimpanan makanan yang tidak higienis

Faktor lingkungan
 Ketersediaan air bersih yang tidak memadai
 Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk Disamping faktor risiko tersebut
diatas ada beberapa faktor dari penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan
untuk diare antara lain: kurang gizi/malnutrisi terutama anak gizi buruk, penyakit
imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak
 Beberapa perilaku yang dapat meningkatkan risiko terjadinya diare pada balita
1. Tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama pada kehidupan
2. Menggunakan botol susu, penggunaan botol ini memudahkan pencemaran
oleh kuman karena botol susah dibersihkan
3. Tidak mencuci tangan sesudah buang air besar dan sesudah membuang tinja
anak atau sebelum makan dan menyuapi anak
4. Tidak membuang tinja dengan benar, seringnya beranggapan bahwa
tinja tidak berbahaya, padahal sesungguhnya mengandung virus atau
bakteri dalam jumlah besar
Klasifikasi Diare

 Diare akut
 Disentri
 Diare persisten
 Diare dengan masalah lain
Etiologi Diare

1. Faktor infeksi
2. Faktor malabsorbsi
3. Faktor makanan
4. Faktor psikologis
Patofisiologi Diare

 Kehilangan air dan elektrolit (dehidrasi) yang


mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan
asam-basa (asidosis metabolik, hipokalemia)
 Gangguan gizi sebagai akibat kelaparan (masukan
makanan kurang, pengeluaran bertambah).
 Hipoglikemia
 Gangguan sirkulasi darah.
Manifestasi Klinik Diare

 Mula-mula bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu


tubuh biasanya meningkat, nafsu makan berkurang atau
tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mungkin
disertai lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama
berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur
dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena
seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam
sebagai akibat makin banyaknya asam laktat yang berasal
dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare
Komplikasi Diare

 Dehidrasi
 Hipokalemia
 Hipoglikemia
 Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus
dan defesiensi enzim laktase
 Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik
 Malnutrisi energi protein
Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Diare

1. Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan


cairan, jumlah, dan pemberiannya
2. Diatetik (cara pemberian makanan)
3. Obat –obatan
4. Penatalaksanaan Keperawatan
WOC Diare
Asuhan Keperawatan

 Pengkajian 11 fungsional gordon


1. Persepsi dan manajemen kesehatan
2. Nutrisi dan metabolik
3. Eliminasi
4. Aktivitas dan latihan
5. Tidur dan istirahat
6. Kognitif dan persepsi
7. Persepsi dan konsep diri
8. Peran dan hubungan
9. Seksual dan reproduksi
10. Koping dang toleransi stress
11. Nilai dan kepercayaan
 RKS : Faktor penyebab, apakah karena makanan, alergi, infeksi sekunder,
psikologis.
 Persepsi Kesehatan : Bagaimana penanganan diare sebelum ke RS, Kondisi
Lingkungan sekitar rumah, Keluarga lain terjangkit juga atau tidak. Dan alergi
susu formula.
 Nutrisi Metabolisme : Penurunan BB, Nafsu makan, intake nutri, intake output
cairan, tanda- tanda dehidrasi

 Pemeriksaan Fisik
 BB/TB (status nutrisi)
 TTV (Nadi Meningkat> 120 menunjukkan tanda-tanda syok
hipovolemik)
 Tanda- tanda dehidrasi ( ubun-ubun cekung, turgor kulit jelek, bibir
kering, lemah, kejang-kejang)
 Diagnosa Keperawatan
 Kurangnya volume cairan berhubungan dengan seringnya buang air besar dan
encer
 Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
menurunnya intake absorbsi makanan dan cairan ditandai dengan peningkatan
peristaltik usus
 Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kelembaban kulit akibat
BAB sering ditandai dengan iritasi pada sekitar anus
 Cemas berhubungan dengan kondisi dan hospitalisasi pada anak
No. Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi

1. Kurangnya volume cairan Keseimbangan Cairan Manajemen Cairan


berhubungan dengan seringnya
Tujuan: 1) Kaji intake dan output, otot dan
buang air besar dan encer
observasi frekuensi defekasi,
Keseimbangan cairan dapat
karakteristik, jumlah dan faktor pencetus
dipertahankan dalam batas normal.
Hasil yang diharapkan: 1) Pengisian 2) Kaji TTV
kembali kapiler < dari 2 detik
3) Kaji status hidrasi, ubun-ubun, mata,
2) Turgor elastik turgor kulit, dan membran mukosa.

3) Membran mukosa lembab 4) Ukur BB setiap hari

4) Berat badan tidak menunjukkan 5) Anak diistirahatkan


penurunan.
6) Kolaborasi dengan pemberian cairan
parenteral

7) Pemberian obat antidiare, antibiotik,


anti emeti dan anti piretik sesuai program.
2. Gangguan nutrisi kurang dari Status nutrisi: asupan makanan dan Monitoring cairan
kebutuhan tubuh berhubungan cairan
Aktivitas:
dengan menurunnya intake
Indikator:
absorbsi makanan dan cairan 1) Monitor intake dan output cairan

ditandai dengan peningkatan 1) Mampu makan secara normal 2) Monitor berat badan

peristaltik usus (oral) 3) Kaji tentang riwayat jumlah dan tipe


2) Mampu minum secara normal intake cairan dan pola eliminasi
3) Tidak terjadi penurunan badan 4) Monitor TTV
yang berarti
4) TTV normal
3. Resiko gangguan integritas kulit Integritas jaringan: membrane kulit Monitoring elektrolit
berhubungan dengan dan mukosa
Intervensi :
kelembaban kulit akibat BAB
Tujuan :
sering ditandai dengan iritasi 1) Kaji kerusakan kulit / iritasi setiap

pada sekitar anus integritas kulit normal. buang air besar


2) Gunakana kapas lembab dan sabun
Hasil yang diharapkan: Iritasi
bayi (pH normal) untuk
berkurang
membersihkan anus setiap buang air
besar.
3) Hindari dari pakaian dan pengalas
tempat tidur yang lembab
4. Cemas berhubungan dengan Kontrol Cemas Penurunan Kecemasan
kondisi dan hospitalisasi pada
Tujuan : Intervensi :
anak
Anak dan orang tua menunjukkan 1) Anjurkan pada orang tua
rasa cemas atau takut berkurang. mengekspresikan perasaan rasa takut
dan cemas, dengarkan keluhan orang
Hasil yang diharapkan: Orang tua
tua dan bersikap empati dengan
aktif marawat anak dan bertanya
sentuhan terapeutik.
dengan perawat atau dokter tentang
2) Gunakan komunikasi terapeutik,
kondisi atau klasifikasi dan anak
kontak mata, sikap tubuh dan
tidak menangis.
sentuhan. Rasional :
orang tua anak merasa diperhatiakn
akan rasa cemas yang dihadapinya.
1) Jelaskan setiap prosedur yang akan
dlakukan pada anak kepada orang
tua.
2) Libatkan orang tua dalam perawatan
anak
3) Jelaskan kondisi anak, alasan
pengobatan dan perawatan
 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi merupakan langkah terakhir proses keperewatan untuk
melengkapi proses keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan
telah berhasil dicapai, melalui evaluasi memungkinkan perawatan
untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tahap pengkajian,
analisa perencanaan dan pelaksanaan tindakan. Meskipun tahap
evaluasi diletakkan pada akhir proses keperawatan , tetapi evaluasi
merupakan bagian integral pada setiap tahap proses keperawatan.
Diagnosa juga perlu dievaluasi untuk menentukan apakah realistik
dapat dicapai dan efektif.
TERIMA KASIH