Anda di halaman 1dari 35

METASTASIS

INTRACRANIAL
RIZKI APRILIANI
N 111 17 168

PEMBIMBING KLINIK
dr. Masyita. Sp.Rad M.Kes
dr. Dafriana Darwis, Sp.Rad M.Kes
DEFENISI
• Metastasis berasal dari kata Yunani yang berarti “pemindahan.” Setelah
kanker primer bermetastasis, tumor yang dihasilkan disebut kanker sekunder.
• Intracarnial adalah tulang kubah yang terletak di dalam Os. Cranial yang
berfungsi untuk melindungi otak.
• Tumor otak metastasis merupakan neoplasma yang berasal pada jaringan
diluar sistem saraf pusat dan menyebar secara sekunder ke otak.
Epidemiologi
• Studi dari Percy et al menemukan insidensi metastasis otak sebesar 11.1 per 100.000.
• Amerika : Metastasis otak dijumpai pada 20-40% pasien kanker dan memiliki
perbandingan 10:1 dengan tumor otak primer. Diperkirakan 98.000 hingga 170.000
pasien didiagnosis dengan tumor otak metastasis
• Di Indonesia masih belum ada data terperinci yang berkaitan dengan hal ini, namun
dari data RSPP dijumpai frekuensi tumor otak sebanyak 200-220 kasus/tahun
dimana 10% darinya adalah lesi metastasis.
• Penderita tumor otak pada laki-laki (60,74%) perempuan (39,26%) dengan
kelompok usia terbanyak 51 sampai 60 tahun (31,85%), selebihnya terdiri dari
berbagai kelompok usia yang bervariasi dari 3 bulan sampai usia 50 tahun.
Anatomi dan Struktur Organ terkait

Central Sulcul
Lobus Parietal
Thalamus Corpus callosum
Lobus frontal

cerebellum midbrain
Medulla
oblongata Spinal cord

Otak dan Batang Otak MRI Scan, Media Kepala


Anatomi dan Struktur Organ
terkait

Fungsi Lobus pada Otak


Etiologi
• Metastasis intracranial belum diketahui secara pasti, namun biasanya
disebabkan oleh sel-sel kanker yang menyebar dari organ lain di tubuh
melalui aliran darah ke otak.
• Metastasis intracranial lima kali lebih sering pada tumor otak primer
• Jenis kanker yang lain sering menyebabkan metastasis adalah kanker
paru-paru, kanker usus besar, ginjal (renal) kanker, dan kanker tiroid.
Tumor otak metastatik selalu bersifat ganas.
PATOFISIOLOGI
• Metastasis merupakan proses dinamis, • Penyebaran sel tumor terjadi melalui
Mekanisme spesifik dan urutan sistem vaskular atau limfatik. Lalu
kejadian yang menyebabkan metastasis tertahan secara mekanik pada kapiler
otak belum sepenuhnya dimengerti. atau nodus limfarik yang pertama kali
dijumpai. Sel-sel ini kemudian menjadi
lokasi perkembangan tumor.
• Agar sel metastatik dapat • Metastasis lokal tampaknya disebabkan
meninggalkan tumor primer, sel-sel ini oleh proses hemodinamik, sedangkan
harus memiliki kemampuan untuk penyebaran yang lebih jauh tampaknya
melepaskan diri, bersirkulasi dan disebabkan oleh molecular recognition
menginvasi antara sel-sel tumor dan host organ.
PATOFISIOLOGI

• Kaskade metastatik adalah rangkaian proses yang terjadi pada proses


penyebaran kanker. Tidak semua mekanisme dan faktor yang berperan telah
teridentifikasi, namun sejumlah growth factors, sitokin, mediator imunologis
dan jalur molekular berperan.
• Detachment Setelah sel normal mengalami perubahan genetik yang
mengubahnya menjadi sel tumor, agar dapat bermetastasis, sel tersebut
pertama kali harus melepaskan diri sendiri dari massa tumor.
PATOFISIOLOGI
• Intravasasi Setelah memisahkan diri dari tumor primer, sel-sel tumor yang
bermetastasis akan bergerak menuju pembuluh darah kemudian menembus
membran endotel
• Transpor dan Embolisasi bergantung pada kontak dengan elemen stroma agar
dapat bertahan hidup
• Metastase otak yang paling ditemukan di perbatasan grey-white matter. Selain itu,
distribusi aliran darah serebral sebagian besar adalah ke hemisfer otak (80%)
• kemudian ke serebelum dan batang otak. Dengan demikian, 85% dari metastase
otak ditemukan dalam cerebrum, 10-15% di serebelum dan 3% di batang otak
Gambaran Klinis
• Gejala dan tanda dari tumor metastasis ke otak :
tanda-tanda akibat peninggian tekanan
intrakranial dan tanda-tanda dari iritasi /
destruksi fokal neuron.
• Tanda-tanda dari peninggian tekanan intrakranial
meliputi : sakit kepala, muntah dan confusion
Gambaran Klinis
• Tanda-tanda dari iritasi neuron meliputi:
hemiparese, kejang fokal (Seizure fokal dapat
dijumpai pada 10% pasien) dan ataxia.
• Nyeri kepala merupakan gejala yang paling
sering dijumpai dan lebih sering pada metastasis
multipel.
PERBEDAAN TANDA KLINIS TUMOR PRIMER
DAN METASTASIS

• Metastasis biasanya tumbuh lebih cepat, menimbulkan gejala yang


berkembang selama beberapa minggu. Tumor metastasis multipel dapat
menunjukkan gejala dan tanda yang unik. Pasien dengan tumor metastasis
multipel dapat mengalami penurunan kesadaran tanpa tanda lateralisasi.
Diagnosis dengan CT Scan tanpa kontras
• Prosedur diagnostik utama adalah pemeriksaan neuro
imaging. Pada pemeriksaan CT scan tanpa kontras,
metastasis biasanya tampak isodens dan berbatas tegas.
• Lesi hiperdens menunjukkan adanya perdarahan atau
kalsifikasi. Hipodensitas ekstrim dapat menggambarkan
lemak.
• Pemeriksaan CT scan tanpa kontras juga bermanfaat untuk
mendeteksi efek massa seperti midline shift atau
hidrosefalus Edema peritumoral akan terlihat sebagai
hipodensitas di sekitar tumor hingga ke white matter
Diagnosis dengan CT Scan dengan kontras

• kontras lesi menjadi hiperdens


yang menggambarkan
kerusakan sawar darah otak,
neovaskular dan peningkatan
permeabilitas kapiler.
• dijumpai Lesi biasanya bulat,
terutama jika berukuran kecil,
dan berbatas tegas.
Diagnosis dengan MRI
Sebagian besar lesi menunjukkan hipointens pada T1, dengan hiperintensitas
pada T2 dan (Fluid Attenuated Inversion Recovery) FLAIR.
Pada CT scan atau MRI, biasanya metastasis otak tampak
sebagai lesi enhancement dikelilingi oleh edema sampai ke
substansia alba. Tidak seperti tumor primer otak, metastasis
otak jarang mengenai corpus calosum atau melewati midline.
Penatalaksanaan
Suspek Tumor Otak Primer
Anamnesis: Pemfis, pemeriksaan penunjang (CT Scan, MRI, PET Scan)
Peningkatan TIK (+) Peningkatan TIK ( - )

Terapi Simptomatik
Diversi Cairan Otak

Reseksi dan Biopsi Tumor

PA (Histologi & Sitologi)

JINAK GANAS
RESIDUAL TOTAL

Radiasi
Follow up Reoperasi Follow up Klinis dan Kemoterapi sistemik dan intratekal
Adjuvan* Imaging Targeted Therapy
Penatalaksanaan
• Terapi simptomatis dan suportif: terapi seperti pembedahan, radioterapi dan
kemoterapi.
• Pemberian kortikosteroid, penatalaksanaan kejang dan nyeri, penilaian gangguan
menelan, penatalaksanaan kejadian tromboemboli, penggunaan antikoagulan yang
tepat dan aman, serta evaluasi masalah psikiatrik.
• Penatalaksaaan suportif yang baik akan meningkatkan kualitas hidup dan
memungkinkan pasien untuk berkonsentrasi pada terapinya.
Penatalaksanaan Metastasis Tunggal

Pasien dengan metastasis tunggal dan penyakit sistemik yang


terkontrol atau stabil harus diterapi secara agresif dengan
tindakan bedah atau RS (Radio Surgery)
Penatalaksanaan Metastasis Multiple
Penatalaksanaan pasien dengan empat lesi metastatik atau lebih
masih terbatas. Secara umum, pasien ini harus menerima terapi
paliatif dengan WBRT saja dengan dosis yang standar. Lebih
kurang setengah pasien dengan metastasis multipel akhirya
meninggal karena perkembangan penyakitnya.
Prognosis

Dalam banyak kasus, pengobatan metastasis otak tidak


dimaksudkan untuk menyembuhkan penyakit secara
umum pasien menerima terapi paliatif.

Pasien dengan metastasis multiple akhirnya meninggal


karena perkembangan penyakitnya
Diagnosis Banding
• tumor primer (glioma, meningioma, limfoma),
• infeksi (abses serebri, ensefalitis),
• lesi demielinasi,
• infark serebral
• perdarahan intraserebral.
REFELEKSI KASUS
SOL (Space Occupying Lesion) Intracranial
Identitas Pasien
• Nama : Tn. Effendi Makmur
• Umur : 49 tahun
• Jenis Kelamin : Laki-laki
• Pekerjaan : Swasta
• Alamat : Jln. S. Malonda
• Agama : Islam
• Tanggal Pemeriksaan : 02 Februari 2018
• Ruangan : VIP Merpati
Anamnesis
• Keluhan Utama: Pusing dan keram-keram
• Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien masuk IGD Rumah Sakit Anutapura dengan keluhan keram-keram
pada kedua tangan dan kaki, dan pasien mengeluhkan lemah pada kedua kaki,
dan merasa pusing. Nafsu makan pasien menurun, sulit tidur, dan buang air
besar sulit. Sakit kepala disangkal, Kejang disangkal, dan dirawat terjatuh
disangkal
• Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat kolestrol
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum :
• Kondisi : Sakit sedang
• Gizi : Cukup
• Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
• Nadi : 93 kali/menit
• Suhu : 37 oC
• Pernapasan : 27 kali/menit
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriks Nilai No. Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
Hasil Satuan Keterangan Darah
aan Rujukan
Dewasa, Konsensus Lipid
Kolesterol 1 Glukosa sewaktu 131 80-199 mg/dL
210 <200 mg/dL <200 – 239 batas tinggi >=
Total
240 tinggi
Dewasa,Konsensus Lipid
<100 : Optimal 2 Glukosa puasa 80-125 mg/dL
Kolesterol
100-129:Mendekati Optimal
LDL 124 <100 mg/dL
130-159: Batas tinggi
Direk
160-189: Tinggi Nilai
Parameter Hasil Flags Satuan
>= 190 : Sangat tinggi Normal
Kolestrol 40 >=40 mg/dL Dewasa, Konsensus Lipid
HDL
WBC 10,2 - 10^3/µL 4,8 --- 10,8
RBC 4,5 - 10^3/µL 4,7--- 6,1
Pengambilan spesimen darah, pasien dalam HGB 13 - g/dL 14 ---18
keadaan tidak puasa HCT 37,5 % 42 --- 52
PLT 330 10^3/µL 150 --- 450
Pemeriksaan Radiologi
Foto Thorax AP:
• Corakan bronchovasculer normal
• Cor dalam ukuran normal
• Sinus dan diafragma baik
• Tulang-tulang intak
Kesan: tidak tampak kelainan radiologik pada foto
thorax ini
Pemeriksaan CT Scan Kepala
• Multiple lesi bulat berbagai ukuran pada kedua hemisphere
cerebri dan cerebellum sinistra rim enhancement disertai
perifokal edema yang luas dan midline shift kekanan
sejauh 0,6 cm
• Sulci dan gyrus obliterasi
• System ventrikal dalam batas normal
• Synus paranasalis dan ai cell mastoid dalam batas normal
• Defiasi septum nasi kekanan
• Kedua orbita dan ruang retro orbita dalam batas normal
• Tulang-tulang intak

Kesan: Massa intraserebri dan cerebellum sinistra


susp multiple abses dd/ exoplasmosis dd/ Tumor
metastasis (primer?)
DIAGNOSA KERJA
SOL Intracranial
DIAGNOSIS BANDING
Vertigo & Ataksia
Penyakit Perbedaan
SOL (Space Lesi pada ruang intra cranial khususnya yang mengenai otak. Penyebab
Occupying Lesion) yang menimbulkan lesi otak seperti : kontisio serebri, hematoma, infark,
abeses otak dan tumor intracranial
Intracranial
Bentuk sakit kepala dimana penderita mengalami persepsi gerakan yang
Vertigo tidak semestinya (biasanya gerakan berputar atau melayang) yang
disebabkan oleh gangguan pada system vestibular

Kondisi yang tandai dengan berkurangnya koordinasi otot saat


Ataksia melakukan berbagai gerakan seperti berjalan, memegang, mengambil
sesuatu. Dapat mempengaruhi kemampuan bicara, dan gerakan mata.
Penatalaksanaan

Non Medikamentosa : Medikamentosa :


• Mengontrol keadaan umum pasien • Vastigo tab 3x1
• Ciptakan lingkungan yang tenang • Piracetam inj
• Menganjurkan istirahat yang cukup • Neurosanbe
• Asamefenamat tab 500mg 3x1
• Alprazolam
Kesimpulan
• Metastasis Intracranial berkembang dari sel-sel kanker, menyebar dari kanker primer ke
otak, biasanya melalui sistem sirkulasi dan menetap sebagai tumor sekunder. Insidens
meningkat pada usia 45-64 tahun dan tertinggi pada pasien dengan usia lebih dari 65 tahun.
Terbanyak berlokasi di cerebrum.
• Pada pasien mengeluhkan keram-keram kedua tangan dan kaki, dan pasien mengeluhkan
lemah pada kedua kaki, dan merasa pusing. Nafsu makan pasien menurun, sulit tidur, dan
buang air besar sulit. Setelah dilakukan pemeriksaan radiologi CT Scan kepala ditemukan
adanya Multiple lesi bulat berbagai ukuran pada kedua hemisphere cerebri dan cerebellum
sinistra rim enhancement disertai perifokal edema yang luas dan midline shift kekanan
sejauh 0,6 cm, yang mengarah pada “Metastasis Intracranial”
Terimakasih 