Anda di halaman 1dari 98

MODUL

Gangguan Depresi
Gejala Depresi1
Sedih/murung Kehilangan Tidak bertenaga,
setiap waktu minat mudah lelah

Rasa tidak berguna/ Konsentrasi/


rasa bersalah perhatian
berkurang
Depresi
Pandangan masa
depan yang suram Gangguan
dan pesimistis pola makan

Harga diri dan Gagasan/perbuatan


kepercayaan diri membahayakan diri/
berkurang Gangguan Tidur bunuh diri

1. PPDGJ – III , 1993/ICD-10 2


Epidemiologi
 WHO: depresi terdapat pada 20%-30% pasien di
layanan primer, baik sebagai diagnosis sendiri
maupun komorbid dengan diagnosis fisiknya.

 Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004:


terdapat hubungan yang bermakna antara depresi
dengan penyakit kronis (penyakit jantung, asma,
artritis) di masyarakat, dan penyakit jantung
memiliki hubungan yang terkuat (Idaiani S, Bisara
D, 2009).

3
Dampak Depresi
Dampak depresi terhadap kesehatan dan fungsi

Mortalitas Morbiditas Biaya sosial


• Faktor utama kematian • Percobaan bunuh diri • Keluarga disfungsional
akibat bunuh diri • Kecelakaan • Mangkir
• Kecelakaan fatal akibat • Menyebabkan • Produktivitas berkurang
konsentrasi dan perhatian penyakit/somatisasi • Cedera terkait pekerjaan
terganggu • Kehilangan pekerjaan • Kualitas pekerjaan buruk
• Kematian akibat penyakit • Gagal di sekolah/karir
yang terkait atau yang
diakibatkan (mis. • Penyalahgunaan
penyalahgunaan alkohol) alkohol/zat

Adaptasi dari: Stahl SM. Essential Psychopharmacology: Neuroscientific Basis and Clinical Application.
New York: Cambridge University Press; 1996:99-130
4
Hubungan Antara Depresi &
Penyakit Fisik
 Depresi berhubungan dengan faktor-faktor risiko
penyakit kronis dan gaya hidup (merokok, pola
makan) yang memperburuk kesehatan fisik.
 Depresi memiliki beberapa efek biologis yang
secara langsung mempengaruhi fisik.
 Depresi yang komorbid dengan penyakit fisik 
mempengaruhi kepatuhan terapi dan perubahan
perilaku yang direkomendasikan dokter dan
memperlambat pencarian pertolongan medis.
Prevalensi Akibat Penyakit Fisik

 Artritis : 25.3%
 Kanker : 30.3%
 Diabetes : 22.7% DEPRESI
 Penyakit Jantung : 34.6% &
 Hipertensi : 22.4% KOMORBIDITAS
 Penyakit Paru Kronik: 30.9%
 Penyakit Saraf : 37.5%

Lieh Mak F., Depression in Gen Prac, Hongkong, 1995


6
Komorbiditas Anxietas-Depresi

Komorbiditas Depresi
Gangguan Mayoritas GA mendapat
Anxietas* GD selama hidupnya;
Mayor
>50% GD mendapat GA prevalensi
prevalensi seumur
selama hidupnya seumur hidup
hidup 25%
17%

*Gangguan anxietas termasuk gangguan panik, agorafobia tanpa gangguan panik, fobia sosial,
fobia sederhana, dan gnagguan anxietas menyeluruh.
Kessler RC, et al. Arch Gen Psychiatry. 1994;51:8-19. 7
8
Faktor Risiko
Faktor Biologik Faktor Psikologik
• Genetik • Tipe kepribadian
• Perubahan (dependen, perfeksionis,
neurotransmiter/ introvert)
neuroendokrin • Relasi interpersonal
• Perubahan struktural otak (disharmoni keluarga)
• Vascular risk factors
• Penyakit/kelemahan fisik
(Kondisi Medik Kronik &
Kondisi Terminal)

9
Faktor Pencetus
 Peristiwa kehidupan
- Berduka, perpisahan, kehilangan orang dicintai
- Kesulitan ekonomi
- Perubahan situasi  pindah rumah
 Stres Kronis
- disfungsi kehidupan berkeluarga
 Penggunaan obat obatan tertentu
- Antihipertensi, Pemblok H2, Kontrasepsi Oral
- Kortikosteroid, AntiReumatik,
10
Faktor Pelindung
 Dukungan Sosial
- kekerabatan
- kehidupan religius
 Mekanisme Koping yang sehat
- Mudah beradaptasi dengan lingkungan
- Kepribadian yang matur
 Pola hidup sehat
- Gizi seimbang
- Olah raga, hidup teratur

11
Belajar dari Kasus
 Ny. T, 45 tahun, datang ke dokter dengan
keluhan sering sakit kepala, mudah lelah,
nyeri otot dan nyeri punggung sejak 1
bulan terakhir
 Tidur lebih banyak dari biasanya, mudah
jatuh tidur, terbangun diri hari dengan rasa
lelah yang sangat
Gejala apa saja yang
ditemukan?
Data lain yang dibutuhkan?
Data tambahan (1)
 Kondisi medik umum?
 Anamnesis  awitan, frekuensi (hilang timbul atau
terus menerus), intensitas, lokasi, keluhan
memberat/timbul dalam kondisi apa.
 Pemeriksaan fisik & penunjang

 Penggunaan obat, napza?


Lanjut…
 Akhir-akhir ini Ny. T semakin mengalami
kesulitan untuk menjalankan aktivitas yang
selama ini Ia lakukan (membersihkan
rumah, menyiapkan makanan, mencuci
pakaian).
 Ia tidak mampu untuk bangun dan
menyiapkan kebutuhan anak-anak di pagi
hari. Suami juga melaporkan bahwa Ny. T
seringkali mudah tersinggung dan sangat
mudah marah.
Gejala tambahan apakah
yang ditemukan?
Keterangan tambahan apakah
yang diperlukan?
Kemungkinan diagnosis?
Data tambahan

 Gejala–gejala depresi?

 Mania – Bipolar?

 Psikotik?
Depresi yang ditemui di praktek umum
sering bersamaan dengan gangguan fisik,
atau mungkin datang dengan keluhan fisik
dan bukan keluhan psikologik.

Mitchel PB,1998

21
Keluhan Pasien
 Pasien medik yang juga menderita gangguan mental
lazimnya datang dengan keluhan:
- kelelahan
- insomnia
- nyeri
- gejala gastrointestinal atau
- gejala somatik lain

 Bukan mengatakan:
- “saya depresi” atau
- “ada yang tidak beres dengan mental saya”

Katon W et all, 1982


Kapan mencurigai depresi?
 Gejala yang banyak dan  Umur lanjut
kabur (misal gastro-  Obesitas
intestinal,kardiovaskular,  Kerabat tingkat pertama
neurologis) dengan riwayat depresi
 Kelelahan atau gangguan
 Lingkungan rumah yang
tidur miskin
 Nyeri kronik ( mis. nyeri
 Kesulitan keuangan
punggung , nyeri kepala)
 Perubahan hidup yang
 Penyalahgunaan zat
(alkohol atau obat- besar
obatan)  Kehamilan atau pasca
 Dua atau lebih penyakit
persalinan
kronik  Terisolasi dari pergaulan
 Kehilangan minat
sosial
terhadap aktivitas seksual
Gejala somatik pada pasien depresi

 Kelelahan 86%  Nyeri dada 27%


 Insomnia 79%  Gejala seksual 23%
 Mual 51%  Nyeri ekstremitas 20%
 Dispnea 38%  Pusing 19%
 Palpitasi 38%  Nyeri perut 18%
 Nyeri punggung 36%  Tinitus 18%
 Diare 29%  Nyeri sendi 16%
 Nyeri kepala 28%

Patient presenting in a Psychosomatic clinic assesment with Cornell Medical Index


Questionnaires. Nakao et al. Psychopatology 2001
Gejala Klinis
&
Diagnosis Depresi

25
Kembali ke Ny. T
 Selalu mengeluhkan perasaan sedih dan
ketidaktertarikannya akan aktivitas yang dulu
dirasa menyenangkan. “tidak ada yang dapat
membahagiakan saya sekarang”
 Mengeluh tidak nafsu makan dan mengalami
penurunan berat badan yang drastis
 Sepanjang pertemuan, lebih banyak menunduk,
tidak banyak bergerak, sering mengatakan
bahwa dirinya bukan ibu dan istri yang baik.
Ingin bisa tidur dan tidak pernah bangun kembali
Gejala-gejala apa yang membuat
Anda berpikir bahwa Ny. T
mengalami Gangguan Depresi?
KELUHAN UTAMA
 SEDIH, MURUNG hampir setiap waktu
 Kehilangan minat dan kesenangan pada
hampir seluruh kegiatan
 Tidak bertenaga, mudah lelah dan
aktivitas menurun
KELUHAN TAMBAHAN
 Gangguan pola makan
 Gangguan tidur
 Gelisah, atau lamban
 Kesulitan konsentrasi atau mengambil
keputusan
 Kepercayaan / harga diri menurun
 Rasa tak berguna / putus asa / rasa
bersalah
 Berpikir tentang kematian atau bunuh diri
KELUHAN FISIK (penyerta)
 Keluhan lambung
 Keluhan sakit kepala
 Keluhan saluran nafas
 Keluhan nyeri yg tak jelas sumbernya
 Keluhan somatik ini sering menyulitkan
pemeriksaan depresi  Depresi
terselubung
Kunci menentukan diagnosis
depresi (sedang-berat)
 Ditemukan minimal 2 keluhan utama
 Ditambah minimal 3 keluhan tambahan
 Berlangsung minimal 2 minggu
 Disertai hendaya fungsi psikososial

31
Resume

Step Step 2/3 gejala Step 3/7 gejala


Organik
1 2 utama 3 tambahan

Psikotik
Step Minimal Step Gangguan Step Mania
fungsi
4 2 minggu 5 6 Berkabung
Langkah Selanjutnya....

• Psikotik
Step 6 • Mania
• Berkabung

• Gejala tambahan:
bunuh diri,
Step 7 penyalahgunaan zat,
dan penyakit fisik yang
menyertai/memerburuk
Pengingat: Gangguan Bipolar
Tanyakan riwayat sebelumnya, apakah ada gejala-
gejala berikut dalam 1 minggu terakhir (atau
pernah dinyatakan mengalami gangguan manik):
a. Peningkatan suasana perasaan (mood) yang ekstrim,
sangat luas, dan iritabel
b. Peningkatan aktivitas
c. Bicara sangat banyak dan aktif
d. Flight of ideas
e. Penurunan ekstrim kebutuhan tidur
f. Rasa kebesaran
g. Sangat mudah teralih dan tidak bisa diam
34
Perhatian!
 Tatalaksana sesuai dengan tatalaksana
Gangguan Bipolar
 Depresi pada Gangguan Bipolar – tatalaksana
gangguan depresi perlu berbeda karena dapat
memicu timbulnya Gangguan Bipolar

35
Pengingat: Gangguan Psikotik
Ditemukan gejala:
a. Halusinasi
b. Waham
c. Stupor
d. Merupakan gejala utama (Gangguan Psikotik);
gejala tambahan (Gangguan Depresi dengan
ciri psikotik)

 Perhatian dalam pemberian terapi – perlu


dikombinasikan antara pemberian antidepresan
dan anti psikotik
36
Penyakit Fisik yang Mungkin Menyertai
Kelompok Penyakit Jenis Penyakit

Vaskular Stroke, Hipertensi

Infeksi HIV/AIDS

Trauma

Autoimun Lupus

Metabolik Endokrin Hipotiroid, Diabetes, Obesitas, Anemia

Neoplasma Tumor

Degeneratif

Kongenital dan Herediter


Perhatian!
 Berikan tatalaksana pada kedua gangguan –
fisik maupun mental
 Gangguan Depresi dapat memengaruhi
kepatuhan dan ketaatan terhadap pengobatan

38
Depresi Pasca Persalinan
 Dialami oleh sekitar 10% perempuan
pasca melahirkan. Berlangsung beberapa
minggu pasca melahirkan hingga
beberapa bulan atau 1 tahun
 Berisiko terhadap ibu dan bayi, termasuk
memiliki dampak jangka panjang dalam
tumbuh kembang anak
Depresi Pada Anak & Remaja
Gejala yang sering tampak pada kelompok usia ini
adalah :
 Perilaku antisosial
 Prestasi disekolah menurun
 Menarik diri dari pergaulan atau aktivitas sosial
 Berat badan bertambah atau menurun dengan
drastis
 Penyalahgunaan zat
 Agresi
 Agitasi atau iritabilitas
40
Depresi Pada Lansia
 Depresi pada lansia 1–2 % gejala di bawah ambang
kriteria depresi sampai 20%
 Depresi pada lansia yang ada di RS atau institusi lain sd
40%
 Gejala kurang jelas
- Keluhan tidur
- Nafsu makan ↓
- Berat badan ↓
- Apatis, anergi
- Penarikan diri
 Risiko penurunan fungsi fisik meningkat

Reynold et al. 1994, Koenig et al. 1997, Pennix et al. 1998 41


Diskusi Kasus
Kasus
Ny. L, 65 tahun, datang ke Puskesmas dengan
keluhan merasa limbung dan nyeri di seluruh
tubuhnya sejak 3 minggu terakhir
Akibat keluhannya ini, Ny. L tidak dapat
menjalankan tugasnya sehari-hari. Malas datang
ke pengajian dan menolak bertemu keluarga.
Alasannya karena ia sulit berkonsentrasi bila
mendengarkan orang bicara
Ny. L juga menolak minum obat anti diabetes yang
selama ini diminumnya secara teratur. Menolak
untuk makan, mengeluh sulit tidur, dan terus
mengatakan bahwa ia tidak ingin merepotkan
Mari diskusikan
 gejala yang ditemukan,
 tambahan informasi yang dibutuhkan,
 identifikasi masalah (medis, psikologis,
sosial),
 kemungkinan diagnosis
Pengelolaan Depresi

45
Tujuan Pengelolaan Depresi

Mengurangi risiko
Disabilitas/
Mengurangi/ mortalitas
Hilangkan gejala
Terapi

Mengembalikan Mengurangi
Peran dan Fungsi risiko kekambuhan

Kualitas hidup
Yang Baik

46
Faktor faktor yg berpengaruh
terhadap pemulihan
 Predisposisigenetik
 Kepribadian pramorbid
 Dukungan psikososial dari lingkungan
 Keberadaan stressor psikososial
 Komorbiditas dengan penyakit lain
 Jenis dan beratnya Depresi
 Manajemen pengobatan
Manajemen Terapi

 Antidepresan dan/atau psikoterapi

DAN

 Intervensi psikososial
Intervensi Psikososial
 Psikoedukasi
 Identifikasi stresor psikososial terkini
 Reaktivasi jejaring sosial
 Program aktivitas fisik
 Pemantauan reguler secara berkala
a. Psikoedukasi
 Tujuanutama untuk menginformasikan
dan memberikan edukasi kepada pasien
dan keluarga tentang gejala depresi

 Apa yang akan disampaikan?


Psikoedukasi
 Depresi merupakan masalah umum yang dapat terjadi
pada semua orang
 Depresi bukanlah kelemahan atau kemalasan.
Penderita sebenarnya berusaha untuk mengatasinya.
 Jika ada gangguan fisik, diskusikan tentang hubungan
antara gangguan fisik dan mood.
 Orang yang mengalami depresi cenderung memiliki
pikiran negatif yang tidak realistik tentang diri, tentang
hidup, dan tentang masa depan
 Tatalaksana efektif adalah mungkin.
 Tatalaksana memerlukan waktu beberapa minggu
untuk menurunkan gejala depresi
 Ketaatan pada pengobatan adalah hal penting
Hal-hal yang perlu ditekankan
 Pentingnya melanjutkan aktivitas sederhana
yang biasanya menarik atau yang dapat
menciptakan rasa nyaman dan membangun
rasa percaya diri, meskipun saat ini mungkin
terasa tidak menarik.
 Manfaat aktivitas fisik dan sosial
 Pentingnya mencoba untuk mempertahankan
siklus tidur yang teratur (pergi tidur di jam yang
sama, jumlah jam tidur sama, hindari tidur terlalu
banyak)
Hal-hal yang perlu ditekankan
 Dorong penderita untuk melawan rasa pesimis
dan pikiran mengkritik diri sendiri
 Mengenali pikiran untuk melukai diri atau bunuh
diri – segera mencari pertolongan ke fasyankes
 Pada usia lanjut, penting untuk melanjutkan
terapi terhadap masalah fisik yang selama ini
dialami
b. Identifikasi Stresor Psikososial
 Beri kesempatan untuk bicara, sebisa mungkin
di tempat yang terjaga privasinya. Tanyakan
pemahaman pribadi tentang sebab gejala yang
dialami
 Tanyakan tentang stresor psikososial saat ini
atau bila mungkin tanyakan juga soal isu sosial
dan cara penyelesaian masalah dari stresor
psikosoal atau kesulitan membina relasi,
bantuan layanan komunitas yang tersedia
…Identifikasi Stresor Psikososial
 Nilai dan tatalaksana situasi apa pun terkait
perlakuan salah, perilaku kekerasan (KDRT),
dan penelantaran (anak atau usia lanjut). Kontak
sumber daya legal dan komunitas, bila sesuai
 Identifikasi anggota keluarga yang mendukung
dan libatkan mereka sebanyak mungkin bila
sesuai.
 Konsentrasi pada langkah kecil yang spesifik
yang dapat diambil oleh penderita untuk
mengurangi atau mengatasi masalah tersebut
 Hindari pengambilan keputusan atau perubahan
hidup yang besar
Pada Anak dan Remaja
 Lakukan juga pemeriksaan status mental
pada orang tua.
 Ada tidaknya kemungkinan perlakuan
salah atau kekerasan pada anak di rumah
maupun sekolah
 Jika ada masalah performa sekolah,
diskusikan dengan guru tentang
bagaimana mendukung para murid
 Sediakan pelatihan keterampilan pola
asuh yang sesuai budaya
c. Reaktivasi Jejaring Sosial
 Identifikasiaktivitas sosial sebelumnya
(pertemuan keluarga, jalan-jalan bersama
teman, mengunjungi tetangga, aktivitas
sosial di tempat kerja, aktivitas di
komunitas)
 Bangun kekuatan dan kemampuan orang
tersebut dan berdayakan secara aktif
untuk kembali ke aktivitas sosial
sebelumnya sedapat mungkin
d. Membentuk Program Aktivitas Fisik

 Pembentukan aktivitas fisik dengan durasi


sedang (45 menit) 3 kali per minggu
 Gali dengan orang tersebut aktivitas fisik
apa yang diinginkan dan dukung untuk
secara bertahap memulainya, contoh
mulai dari 5 menit aktivitas fisik
e. Kontrol/Pemantauan Secara Berkala

 Kontrol secara berkala (misalnya di klinik,


per telepon, atau melalui kunjungan
rumah)
 Nilai perkembangan (sebagai contoh
setiap 4 minggu)
Farmakoterapi

60
Benar - Salah
Antidepresan tidak memberikan efek nyata
untuk terapi. Hanya menurunkan gejala
Salah
Antidepresan tidak hanya menurunkan
gejala tetapi menyembuhkan inti
penyebab timbulnya gejala depresi dan
anxietas
Benar - Salah
Antidepresan menyebabkan ketergantungan
Salah
 Antidepresan tidak menyebabkan
ketergantungan
 Ada beberapa pasien yang mengeluhkan
adanya rasa tidak enak saat
menghentikan terapi terutama pada
antidepresan yang berefek pendek seperti
amitriptilin
Benar - Salah
Antidepresan sebaiknya tidak dipergunakan
lebih dari 1 tahun
Salah
 Pada episode pertama, antidepresan
dapat diberikan paling sedikit 6 bulan
hingga 1 tahun
 Pada mereka yang sudah sering kambuh,
antidepresan perlu diberikan dalam jangka
waktu yang lebih lama
Benar - Salah

Antidepresan memengaruhi kapasitas


kognitif
Salah

 Antidepresanmungkin menyebabkan rasa


ngantuk di awal terapi

 Antidepresan justru memerbaiki fungsi


kognitif melalui tatalaksana depresi
Benar - Salah

Antidepresan memengaruhi kemampuan


seseorang untuk memutuskan
Salah

 Antidepresan
tidak memengaruhi
kapasitas mengambil keputusan
seseorang

 Depresi
yang memengaruhi kapasitas
seseorang untuk mengambil keputusan
Psikofarmaka Lini Pertama

SSRI SNRI & NaSSA TCA

Fluoxetine Venlafaxine Amitriptilin

Sertraline Duloxetine Clomipramin

Citalopram Mirtazapine Imipramine

Fluvoxamine
Adequate Trial
antidepresan psikoterapi

4 – 6 minggu 6 – 8 minggu
50%

10 – 12 minggu 10 – 12 minggu

6 bulan
Clinical Practice Guidelines. Depression in Primary Care. Volume 2: Treatment
of Major Depression. AHCPR Publication no. 93-0551. April 1993. 72
Informasi yang perlu diberikan
tentang antidepresan
 Antidepresan harus diminum setiap hari.
Lanjutkan minum obat sekalipun pasien
merasa lebih baik.
 Antidepresan baru memiliki efek untuk
depresi 2-4 minggu sejak dimulainya
terapi, dan dapat memanjang pada usia
lanjut. Efek lain seperti sedasi (pada TCA)
dan peningkatan energi dapat terjadi lebih
cepat
….Informasi yang perlu diberikan tentang
antidepresan
Potensi efek samping (individual, biasanya pada 7-10
hari pertama):
 SSRI: tremor, mual, sakit kepala
 TCA: mulut kering, konstipasi, kesulitan berkemih,
pusing, dan pandangan kabur, hipotensi ortostatik,
gangguan konduksi jantung
 Efek samping serius:
 beralih ke MANIA: peningkatan mood, belanja

berlebih, melanggar norma sosial, penurunan


kebutuhan tidur, pikiran berlari
 Hati-hati pada pasien dengan ide bunuh diri
Informasi tentang penghentian obat
 Sebaiknyadiminum sekitar 6 bulan – 1 tahun
terutama pada pasien episode pertama

 Gejala putus zat biasanya ringan dan akan


sembuh dengan sendirinya, namun dapat
terasa lebih berat terutama bila distop secara
langsung

 Antidepresantidak menimbulkan
ketergantungan
Bagaimana Memilih Antidepresan
 Pilihantidepresan dari formularium nasional
yang berlaku
 Pertimbangkan pola gejala, efektivitas, efek
samping, dan riwayat pengobatan
sebelumnya
 Untuk kondisi komorbiditas: pertimbangkan
potensi penyakit akibat obat atau interaksi
obat
 Mengkombinasikan antidepresan dengan
medikasi psikotropik lain memerlukan
pengawasan dari spesialis
Perhatian: Orang dengan ide, rencana, atau
percobaan perlukaan diri atau bunuh diri

 Pilihanpertama: SSRI
 Pantau secara berkala (misalnya 1 kali
seminggu)
 Menghindari overdosis – pastikan untuk tidak
memberikan obat berlebihan (misalnya hanya
untuk 1 minggu)
Perhatian: usia lanjut

 SSRI pilihan pertama. Hindari TCA, bila


memungkinkan.
 Pantau efek samping secara hati-hati,
terutama TCA
 Pertimbangkan peningkatan risiko interaksi
obat
 Berikan waktu lebih banyak untuk respons
Perhatian: Penyakit Kardiovaskular

 SSRI pilihan pertama


 JANGAN resepkan TCA pada orang dengan
risiko aritmia jantung serius atau mengalami
infark miokard baru
 Pada semua kasus kardivaskular – ukur
tekanan darang sebelum peresepan dan
observasi timbulnya hipotensi orthostatik
ketika terapi dimulai
Hal-hal yang harus dipantau

 Gejala mania  SEGERA STOP pemberian


antidepresan dan nilai serta tatalaksana
gejala mania (gangguan bipolar)
 Akatisia (rasa tidak bisa diam, tidak bisa
duduk tenang)  berikan diazepam 5 – 10
mg untuk 1 minggu atau ubah ke TCA
 Ketaatan pengobatan  jika ada
ketidaktaatan pengobatan, tanyakan
penyebabnya, berikan edukasi kembali, dan
mencari kemungkinan solusi
Hal-hal yang harus dipantau
 Respons yang inadekuat (gejala tidak ada
perubahan atau memburuk dalam 4 minggu
pengobatan), evaluasi:
(1). Diagnosis (termasuk komorbiditas);
(2). Apakah obat diminum secara teratur;
(3). Apakah dosis kurang memadai sehingga
perlu ditingkatkan dalam 4-6 minggu;
(4).Tidak ada respons  pertimbangkan
intervensi psikososial lain atau antidepresan
jenis lain.
Menghentikan Terapi
 Tidak ada respons
 Kondisi pasien sudah tidak memerlukan terapi lagi
 Hal-hal yang perlu dilakukan:
a. Diskusikan dengan pasien
b. Ingatkan tentang potensi putus obat
c. Ingatkan tentang gejala awal dan kapan sebaiknya
datang untuk meminta pertolongan
d. Ulang psikoedukasi selama relevan
e. Untuk TCA dan SSRI – turunkan dosis secara
perlahan sedikitnya 4 minggu
Jika Terjadi Kekambuhan

 Resepkan kembali obat yang pernah


dirasakan manfaat dan efektivitasnya –
lanjutkan terapi hingga 12 bulan ke depan
Fluoksetin

a. Mulai tatalaksana dengan 20 mg perhari


(dapat pula dimulai dengan 10 mg untuk
mengurangi risiko efek samping, diminum 1
kali sehari dan ditingkatkan menjadi 20 mg)
b. Jika tidak ada respons dalam 4 -6 minggu –
naikan dosis (maksimal 60 mg)
c. Pertimbangkan tingkat toleransi dan respons
gejala
Fluoksetin
 Efek samping serius (jarang terjadi):
a. Ketidakmampuan untuk diam
b. Perdarahan abnormal – terutama bila berinteraksi
dengan aspirin atau anti inflamasi non steroid
lainnya (NSAID)

 Efek samping umum (hilang dalam beberapa hari):


Tidak bisa diam, kecemasan, insomnia, masalah
gastrointestinal, sakit kepala, dan disfungsi seksual
Fluoksetin

 Usia Lanjut atau Penyakit Medik:


a. Mulai medikasi dengan 10 mg per hari (dan
naikan bila dapat ditoleransi) atau 20 mg
selama 1-2 minggu
b. Jika tidak ada respons setelah 6 – 12
minggu, tingkatkan dosis secara bertahap
hingga 60 mg (maksimum)
 Jika lebih muda dari 12 tahun:
 JANGAN memberikan resep obat antidepresan.
 Tawarkan tidak lanjut rutin.

 Jika 12 tahun atau lebih tua:


 JANGAN pertimbangkan penggunaan antidepresan sebagai
pengobatan tahap pertama.
 Edukasi mengenai kesehatan jiwa.
 Tangani penyebab stresor psikososial.
 Jika ada, pertimbangkan psikoterapi interpersonal (IPT –
Interpersonal Therapy) atau terapi perilaku kognitif (CBT- Cognitive
Behavioral Therapy), aktivasi perilaku.
 Jika ada, pertimbangkan tatalaksana tambahan: program aktivitas
fisik yang terstruktur, training relaksasi atau tatalaksana pemecahan
masalah.
 Saat intervensi psikososial terbukti tidak efektif, pertimbangkan
fluoxetine (tapi bukan SSRI atau TCA lain).
 Tawarkan tindak lanjut rutin.
Fluoksetin
 Pada Remaja (> 13 tahun)
a. Mulai terapi dengan 10 mg, satu kali sehari
dan tingkatkan hingga 20 mg setelah 1-2
minggu. Jangan memberikan lebih dari 20
mg
b. Jika tidak ada respons setelah 6 – 12
minggu, rujuk ke psikiater
c. Catatan: JANGAN resepkan untuk anak-
anak di bawah 13 tahun
Antidepresan Trisiklik – TCA (Amitriptilin)

 Efek samping serius (jarang): aritmia jantung

 Efek samping umum (akan menghilang dalam


beberapa hari):
a. Mulut kering
b. Konstipasi dan kesulitan berkemih
c. Pusing dan pandangan kabur
TCA (Amitriptilin)

Pada dewasa muda yang sehat:


 Mulai pengobatan dengan memberikan 25 mg pada
jam tidur.
 Naikkan sebanyak 25 mg setiap 1 – 2 minggu,
dengan tujuan mencapai 75 - 100 mg dalam 4 – 6
minggu, tergantung respon dan tingkat toleransi.
 Jika tidak ada respon dalam 4 – 6 minggu atau
hanya respon parsial dalam 6 minggu, naikkan
dosis secara bertahap (dosis maksimal adalah 200
mg) dalam dosis yang terpisah (atau dosis tunggal
sendiri pada malam hari).
TCA (Amitriptilin)
Memberikan dosis amitriptilin kepada orang
berusia lanjut atau sakit secara medis --
(sebaiknya SSRI)
 Mulai dengan 12,5 mg pada waktu tidur.
 Naikkan sebanyak12,5 - 25 mg per minggu,
bertujuan untuk mencapai target dosis 50 – 75 mg
dalam waktu 4 – 6 minggu.
 Jika tidak ada respon dalam 6 – 12 minggu atau
hanya respon parsial dalam 12 minggu, naikkan
dosis secara bertahap (dosis maksimal 100 mg)
dalam dosis yang terpisah.
 Pantau hipotensi ortostatik
Depresi Pasca Persalinan
 Penggunaan antidepresan selama kehamilan
dan menyusui sebaiknya dihindari.
 Jika memang dengan intervensi psikososial
dirasakan tidak cukup efektif, dapat diberikan
antidepresan dosis kecil, ¼ hingga ½ dosis pada
trimester ke 2 dan ke 3.
 Hindari penggunaan antidepresan yang bekerja
panjang (seperti golongan SSRI). Rujuk ke
spesialis bila upaya maksimal yang dilakukan
dirasakan kurang membantu.
Beberapa Dosis Antidepresan
Nama Dosis
Amitriptilin, imipramin 75 – 150 mg/hr
Maprotilin 75 – 150 mg/hr
Moclobemid 150 – 300 mg/hr
Sertraline 50 – 200 mg/hr
Fluvoxamine 50 – 200 mg/hr
Fluoxetine 20 – 60 mg/hr
Citalopram 20 – 60 mg/hr
Tianeptine 37,5 mg/hr
Venlavaxine 75 -375 mg/hr
Mirtazapine 15 – 45 mg/hr
93
Penanganan Ketidakpatuhan

 Tingkatketidakpatuhan terhadap
antidepresan pada depresi dapat mencapai
50% dalam 3 bulan

 Jika
keadaan nonresponsif, dokter perlu
mempertimbangkan apakah ketidakpatuhan
sebagai penyebabnya
Kesalahan yang lazim
 Mengunakan benzodiazepin atau anxiolitik
sebagai obat tunggal
 Tidak memonitor pengobatan, efek
samping dan ketaatberobatan
 Dosis tidak cukup
 Terlalu cepat menghentikan
 Polifarmasi
 Tidak mengedukasi pasien dan keluarga

95
Kapan Merujuk
 Jika pasien menunjukkan gejala-gejala psikosis
atau pikiran bunuh diri
 Jika tidak berespons terhadap satu atau dua
pengobatan yang adekuat; atau gejala
memburuk
 Konsultasi diagnosis
 Komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain,
penyalahgunaan zat
 Jika perlu tindakan spesialistik: psikoterapi,ECT,
rawat inap

96
Isi Surat Rujukan
 Diagnosis atau perkiraan diagnosis
 Alasan rujukan
 Derajat kedaruratan
 Obat-obatan(dosis dan lama penggunaan)
dan pengobatan lain yang telah diberikan

97