Anda di halaman 1dari 13

JOURNAL READING

Hydrocortisone 1% Cream and Sertaconazole 2%


Cream to Treat Facial Seborrheic Dermatitis:
A Double-blind, Randomized Clinical Trial
Dermatitis Seboroik

• Kelainan kulit kronis yang dapat

Definisi ditemukan pada bayi dan dewasa


• Banyak ditemukan pada pasien
HIV/AIDS

• Dikaitkan dengan Malassezia, faktor


Etiologi imunologis, genetik, lingkungan, dan
peran hormon androgen
Dermatitis Seboroik
Gambaran Klinis:
Lesi skuama kuning berminyak, papul,
eritema, disertai gatal dan menyengat.
Ketombe merupakan tanda awal
dermatitis seboroik

Predileksi:
Kulit dengan glandula sebasea yang
banyak (kulit kepala, wajah, telinga,
flexura inguinal, inframammary,
aksilla)
Dermatitis Seboroik

Diagnosis banding Tatalaksana Prognosis

• Psoriasis • Shampoo • Baik pada


• Dermatitis Atopi ketokonazol dermatitis seboroik
• Impetigo • Antijamur golongan infantil
• Dermatitis Kontak imidazol • Kronik dan relaps
Alergi • Kortikosteroid pada dewasa
topikal atau
sistemik (prednison
30 mg/hari)
• Terapi sinar UVB
Hidrokortison
• Golongan: kortikosteroid
• Mekanisme Kerja: antiinflamasi
• Indikasi: Terapi inflamasi dan gejala pruritus pada kulit yang
responsif terhadap kortikosteroid topikal
• Kontraindikasi: riwayat alergi hidrokortison
• Dosis: dioles tipis-tipis 2-4 kali sehari
• Efek samping: iritasi lokal, gatal, nyeri, reaksi alergi, kering, infeksi
sekunder, hipopigmentasi, atrofi kulit, striae, miliaria.
Sertakonazol
• Golongan: turunan Imidazol
• Mekanisme Kerja: menghambat sintesis ergosterol dinding sel
jamur.
• Indikasi: Terapi topikal infeksi jamur dermatofita dan non
dermatofi-ta (Tinea, dermatitis seboroik, pitiriasis versikolor)
• Kontraindikasi: riwayat alergi sertakonazol
• Dosis: dioles tipis-tipis 1-2 kali sehari
• Efek samping: kulit kering, kemerahan, iritasi, dan bengkak.
Metode Penelitian
SUBJEK

64 pasien berusia 18 tahun keatas yang mengalami


dermatitis seboroik di wajah pada Mei 2014 sampai Mei
2015.

METODE
64 pasien diikutsertakan penelitian. Kemudian 4 pasien
menolak penelitian. Sehingga, 60 pasien dirandomisasi
dan mendapatkan hasil sebanyak 30 pasien mendapat
hidrokortison 1% dan 30 pasien lainnya mendapat terapi
sertakonazol 2%.
Metode Penelitian
• Hidrokortison 1% dan sertakonazol 2% ditempatkan di wadah
identik dan ditandai dengan krim A dan B.
• Pasien diinstruksikan menggunakan krim tipis-tipis 2 kali sehari di
bagian wajah yang terkena.
• Regio wajah yang diteliti terbagi menjadi 4: alis, hidung, lipat naso-
labial, telinga.

Pasien dievaluasi pada minggu ke 2 dan minggu ke 4 dengan


menggunakan variabel:
• Seborrhea score: 0-10
• Scoring Index: mild, moderate, severe
• Improvement Percentage (IP)
• Visual Analogue Scale (VAS)
Metode Penelitian
KRITERIA PENYERTA
• Pasien usia 18 tahun keatas dengan dermatitis seboroik di wajah.

KRITERIA PENGECUALIAN
• Memiliki kondisi medis tidak terkontrol
• Hipersensitif dengan sertakonazol dan hidrokortison
• Sedang dalam pengobatan acne
• infeksi di wajah yang belum diobati atau tidak terkontrol
• Sedang dalam pengobatan dermatitis seboroik
• Mendapat pengobatan kortikosteroid sistemik
• Sedang hamil
• Menyusui
• Pasien yang menunjukkan efek samping yang tidak dapat
ditoleransi
Hasil
Hasil
Kesimpulan
• Sertakonazol topikal dapat digunakan sebagai
terapi pengganti steroid topikal dalam
mengobati dermatitis seboroik.