Anda di halaman 1dari 36

INFEKSI SECARA UMUM

Kelompok:

 BANKI SIRAMPUN (0130840030)


 ATMAJA R. SIRUPANG (0130840025)
 AYUB R. RURU (0130840029)
 HANOLSA MANGALLO (0130840100)
 LOUIS K. PUTRA (0130840145)
 RIKO F. PANJAITAN (0130840204)
IMUNOLOGI JANIN & NEONATUS

 Imunitas seluler & humoral janin mulai berkembang pada 9-


15 minggu.
 Respon primer terhadap infeksi → IgM
 Imunitas pasif diperankan oleh IgG yang disalurkan melalui
plasenta.
 Setelah persalinan → air susu bersifat protektif terhadap
sebagian infeksi. Proteksinya mulai me-↓ pada usia 2 bulan.
IMUNOLOGI JANIN & NEONATUS

 Penularan suatu infeksi dari ibu → janin melalui plasenta selama proses
persalin/pelahiran/sewaktu menyusui → Transmisi vertical
 Ketuban pecah dini, partus lama & manipulasi obstetric me-↑ risiko
infeksi neonatus.
 Infeksi yang diperoleh di rumah sakit berbahaya bagi neonatus kurang
bulan, orang yg merawat mereka adalah sumber infeksi utama.
 Infeksi juga dapat terjadi melalui sistem ventilasi, katerisasi vena &
arteri umbilikalis.
INFEKSI VIRUS
 VIRUS VARISELA-ZOSTER (VZV)
 INFLUENZA
 GONDONGAN
 RUBEOLA (CAMPAK)
 RUBELA (CAMPAK JERMAN)
 VIRUS PERNAPASAN
 HANTAVIRUS
 ENTEROVIRUS
 PARVOVIRUS
 SITOMEGALIVIRUS (CMV)
Infeksi Virus
 Varisela-Zoster Virus(VZV)
 Infeksi berawal sebagai gejala mirip-flu berlangsung 1-2 hari, diikuti
oleh lesi-lesi vesikuler gatal yang mengalami krustasi dalam 3-7
minggu.

 Kematian terutama disebabkan oleh pneumonia varisela, yg


diperkirakan lebih parah pada orang dewasa terutama pada
kehamilan.

 Infeksi varisela pada janin & neonatus dapat menimbulkan kelainan


berupa korioretinitis, mikroftalmia, atrofi korteks cerebrum, hambatan
pertumbuhan, hidronefrosis & kelainan kulit/kuku.
 Influenza
 Disebabkan oleh virus dari famili Orthomyxoviridae

 Influenza A menimbulkan infeksi yang lebih serius,


gejalanya berupa demam, batuk kering & gejala sistemik.
Infeksi dipastikan dengan pemeriksaan imunofluoresens.

 Lynberg dkk (1994) → peningkatan cacat tabung saraf


pada neonatus yang lahir dari wanita dengan influenza
pada awal kehamilannya yg mungkin berkaitan dengan
hipertermia.
 Gondogan
 Infeksi pada orang dewasa disebabkan oleh
paramiksovirus RNA

 Wanita yang terjangkit gondongan pada kehamilan


trimester pertama mungkin mengalami peningkatan
risiko abortus spontan.

 Infeksi pada kehamilan tidak berkaitan dengan


malformasi kongenital

 Infeksi pada janin jarang terjadi


 Rubeola (Campak)
 Sering terjadi di akhir musim dingin & semi

 Gejalanya → demam, coryza, konjungtivitis, batuk &


terdapat ruam khas (Koplik spot) di wajah & leher lalu
menyebar ke punggung, badan & ektremitas.

 Infeksi rubeola pada wanita hamil dapat menyebabkan


peningkatan frekuensi abortus, persalinan kurang bulan,
dan bayi berat lahir rendah.
 Rubela (Campak Jerman)
 Infeksi
pada trimester pertama → abortus & malformasi
kongenital berat
 Penularan melalui sekresi nasopharing
 Neonatus yang lahir dengan rubella kongenital dapat
mengeluarkan virus selama berbulan-bulan & merupakan
ancaman bagi bayi lain serta orang dewasa yang rentan
yang berkontak dengan mereka.
 Virus Pernapasan  Hantavirus
 Infeksi virus ini menyebabkan  Virus RNA dari famili Bunyaviridae
common cold, faringitis, laryngitis,  Frekuensi penularan melalui plasenta
bronkitis & pneumonia. rendah
 Rhinovirus, coronavirus dan  Howard dkk. (1999) → sindrom ini
adenovirus → penyebab utama menyebabkan kematian ibu,
common cold kematian janin & persalinan kurang
 Gejala → rinorea, bersin & hidung bulan.
tersumbat
 Infeksi adenovirus → penyebab
utama miokarditis pada anak
(Torbin dkk., 1994 & Forsnes ddk.,
1998)
 Enterovirus
 Subkelompok besar pikornavirus RNA →
poliovirus, coxsackievirus & echovirus
 Virus ini dapat menyebabkan infeksi ibu, janin
& neonatus yang luas yang dapat mengenai
susunan saraf pusat, kulit, jantung, dan paru.
Coxsackievirus
• Penularan melalui sekresi ibu ke janinnya saat persalinan
pada wanita yg mengalami serokonversi selama
kehamilan
• Malformasi kongenital sedikit meningkat pada wanita
hamil yang memperlihatkan bukti serologis

Poliovirus
• Penularan perinatal pernah dijumpai (khususnya jika pada
ibu terjadi pada trimester ketiga (Bates, 1955)
• Wanita hamil rentan terhadap polio
 Parvovirus
 Penularan → kontak tangan ke mulut atau respiratorik
& infeksi umum terjadi pada musim semi
 Terjadi penularan vertical ke janin pada sekitar 1/3
infeksi Parvovirus pada ibu hamil (De Jong dkk., 2006)
 Infeksi
pada janin berkaitan dengan abortus, hidrops
non-imun, dan lahir mati.
 Sitomegalivirus (CMV)
 Penyebab infeksi perinatal tersering di negara maju
 Penularan → kontak dengan sekresi nasopharing, urin, liur, semen,
sekresi serviks, dan darah yang terinfeksi
 Gejala → demam, faringitis, limfadenopati, poliarteritis.
 Infeksi primer CMV pada ibu hamil ditularkan ke janinnya pada
sekitar 40% kasus → morbiditas berat (Fpwler dkk., 1992)
 InfeksiCMV kongenital simptomatik → hambatan pertumbuhan,
mikrosefalus, kalsifikasi intrakranium, korioretinitis, retardasi mental &
motorik, ikterus, anemia hemolitik.
INFEKSI BAKTERI

 Streptokokus Grup A
 Streptokokus Grup B
 Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)
 Listeriosis
 Salmonela & Shigela
 Penyakit Hansen
 Penyakit Lyme
 Tuberkulosis
INFEKSI BAKTERI

 Streptokokus Grup A
 Streptococcus pyogenes → penyebab penting infeksi pada wanita
hamil
 S. pyogenes → faringitis akut, sejumlah infeksi sistemik & kulit.
 Penyebab infeksi streptokokus grup A pascapartum yang tersering
o bakterimia tanpa fokus spesifik(46%)
o infeksi panggul (28%)
Angka kematian 3-4%
o Peritonitis (8 minggu)
o abortus septik (7%)
INFEKSI BAKTERI

 Streptokokus Grup B
 Streptococcus agalactiae → penyebab penting morbiditas &
mortalitas neonatus
 Menginfeksi saluran cerna & kemih-kelamin pada 20-30% pada
wanita hamil → berfungsi sebagai sumber penularan perinatal.
 S. agalactiae menyebabkan gangguan hasil akhir kehamilan,
termasuk persalinan kurang bulan, ketuban pecah dini,
korioamnionitis klinis dan subklinis, serta infeksi janin dan neonatus.
 GBS → bakteriuria, pielonefritis, dan metritis pascapartum pada ibu.
INFEKSI BAKTERI

 Methicillin-Resisten Staphylococcus aureus (MRSA)


 NHANES → 17% wanita hamil memperlihatkan kolonisasi S.aureus di vagina.
 MRSA → infeksi kulit & jaringan lunak yang paling sering ditemukan di ruang
darurat umum.

 Listeriosis
 Listeria monocytogenes → penyebab sepsis neonatus yang jarang
 Cairan amnion yang kecoklatan / tercemar mekonium sering dijumpai
pada infeksi janin, bahkan pada gestasi kurang bulan.
 Listeremia ibu hamil meyebabkan infeksi janin yang secara karakteristik
menimbulkan lesi-lesi granulomatosa generalisata disertai mikroabses.
INFEKSI BAKTERI

Salmonelosis Shigellosis
 Ditularkan melalui makanan  Shigella → Disenteri basilaris
 Infeksi pada wanita hamil →  Manifestasi klinis → diare ringan-
dijumpai selama epidemi atau berat, kram perut, tenesmus,
pada mereka yang terinfeksi demam, dan toksisitas sistemik.
HIV.  Terapi efektif selama kehamilan →
 Demam tifoid antepartum → fluorokuinolon,seftriakson, azitromisin,
abortus, persalinan kurang atau trimetropimsulfametoksazol.
bulan, dan kematian janin atau
ibu.
INFEKSI BAKTERI

Penyakit Hansen (Lepra) Penyakit Lyme


 Mycobacterium leprae → infeksi  Disebabkan oleh Borrelia burgdorferi
kronik  Penularan → gigitan kutu (tick) dari
 Plasenta tidak terkena & infeksi genus Ixodes.
neonatus berjangkit dari kontak  Infeksi dini → eritema migrans
kulit ke kulit atau droplet.
 Penularan transplasenta pernah
 Penularan vertikal sering terjadi dibuktikan
pada ibu yang tidak diobati.
INFEKSI BAKTERI

 Tuberkulosis
 Infeksi terjadi melalui inhalasi Mycobacterium tuberculosis
 Gejala → batuk (produksi sputum minimal), demam ringan,
hemoptysis, BB ↓
 Efferen (2007) → peningkatan insiden BBLR, bayi kurang bulan &
preeclampsia 2X lipat & angka mortalitas perinatal hampir 10X lipat
 Basillemia tubercular dapat menginfeksi fetus → tuberculosis
kongenital.
INFEKSI JAMUR

 Infeksijamur diseminata biasanya


berupa pneumonitis, misalnya akibat:
 Koksidioidomikosis
 Blastomikosis jarang terjadi
 Kriptokokosis selama kehamilan

 Histoplasmosis
INFEKSI BARU
 Virus West Nile
 Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)

Virus West Nile


 Infeksi → gigitan nyamuk pada akhir musim
panas / mungkin melalui transfusi darah.
 Gejala awal (wanita hamil) → demam,
perubahan status mental, kelemahan otot, dan
koma.
 Infeksi pada janin manusia pada 27 minggu →
lahirnya neonatus aterm dengan korioretinitis &
leukomalasia lobus oksipital & temporal yang
parah.
 Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS)
 Penyebab: koronavirus baru-SARS-Cov-
 Penularan→ percikan ludah, kontak erat
dengan sekresi yang terinfeksi, cairan, dan
kotoran
 Gambaran klinis awal → community
acquired pneumonia
 Peningkatan insiden keguguran, hambatan
pertumbuhan janin & persalinan kurang
bulan pernah dilaporkan
BIOTERORISME

 Bioterorisme mencakup pembebasan


secara sengaja virus, bakteri, atau agen
infeksi lain untuk menyebabkan penyakit
atau kematian
 CACAR

 ANTRAKS

 AGEN BIOTERORISME LAIN:


 Francisella tularensis → tularemia
 Clostridium botulinum → botulisme
 Yersinia pestis → pes
 Virus demam berdarah (Ebola, Marburg)
 CACAR
 Penularan → kontak lama, cairan tubuh yang
terinfeksi, atau benda yang tercemar.
 Manifestasi → demam akut diikuti oleh ruam
berupa vesikel atau pustul multipel, padat dan
terletak yang muncul dalam tahap yang sama
 Vaksin ini biasanya tidak diberikan kepada
wanita hamil karena risiko vaksinia janin.
 ANTRAKS
 Bacillus anthracis → aerob positis-gram pembentuk
spora
 Antraks klinis : inhalasi, kulit, dan saluran cerna
 Gejala awal → demam ringan, batuk non-produktif,
malaise, dan mialgia.
 Vaksin antraks → produk bebas-sel yang telah diinaktif
serta memerlukan enam penyuntikan dalam 18 bulan
 Vaksinasi biasanya tidak diberikan kepada wanita
hamil karena belum ada data tentang keamanannya
INFEKSI PROTOZOA

 TOKSOPLASMOSIS
 MALARIA
 AMEBIASIS
TOKSOPLASMOSIS

 Toksoplasma gondii memiliki daur hidup


kompleks dengan 3 bentuk:
 Takizoit : yang menginvasi dan bereplikasi di
dalam sel selama infeksi.
 Bradizoit : yang membentuk kista di jaringan
selama infeksi laten.
 Sporozoit : yang di temukan dalam ookista.
 Sebagian besar infeksi akut pada ibu dan neonatus
bersifat subklinis → hanya dapat dideteksi memalui
pemeriksaan penapisan serologis pranatal atau
neonatus.
 Manifestasi pada ibu hamil → lesu, demam, nyeri
otot, dan kadang ruam makulopapular dan
limfadenopatiserviks posterior.
MALARIA
 Ada 4 spesies Plasmodium yang dapat
menyebabkan malaria yaitu : P. falciparum,
P. vivax, P. ovale, dan P. malariae.
 Tanda klinis → demam, mengigil, dan gejala mirip
flu termaksuk nyeri kepala, mialgia, artragial dan
malaise.
 Wanita hamil meskipun sering asimtomatik, lebih
kecil kemungkinannya mempelihatkan gejala klasik.
Efek Malaria Pada Kehamilan

 Malaria menyebabkan peningkatan


morbiditas dan mortalitas pada
kehamilan.
 Infeksi P. falciparum lebih sering
menyebabkan morbiditas berat dan
mortalitas dan infeksi dini meningkatkan
resiko abortus
AMEBIASIS

 Penyebab: Entamoeba histolytica


 Disenteri amuba → perjalanan penyakit yang
fulminan selama kehamilan, dengan demam, nyeri
abdomen, dan tinja berdarah.
 Diagnosis di tegakkan dengan sampel tinja dan
mungkin tidak mudah.
 Terapi serupa dengan pasien tidak hamil
DAFTAR PUSTAKA

 Cunningham F.G., et al. 2014. Obstetri


Williams. Ed. 23. Terjemahan oleh B.U.
Pendit dkk. Jakarta: EGC.
THANK YOU