Anda di halaman 1dari 26

Atinnajah Kamalasari (H0215007)

Dika Dwi Darmawan (H0215016)


Fendi Saputro (H0215019)
Indah Mei Kusumaningrum (H0215020)
Irma Apria Ningsih (H0215022)
Phospor (P)
termasuk unsur hara makro
diserap tanaman dalam bentuk ion ortofosfat primer
(H2PO4-) dan ion ortofosfat sekunder (HPO4-)
mudah bergerak antar jaringan tanaman (mobil)
bergerak lambat dalam tanah (stabil)
di dalam tanah kandungan P total bisa tinggi tetapi
hanya sedikit yang tersedia bagi tanaman
hanya bersumber dari deposit atau batuan dan
mineral yang mengandung fosfor di dalam tanah
Proses Terbentuknya Fosfat
1. Fosfat Primer
 Terbentuk selama proses pembekuan magma
 Berasosiasi dengan batuan beku alkali kompleks
 Mineral-mineral pembentuknya adalah apatit
[Ca10(PO4)6F2)]

Apatit Monasit
2. Fosfat Sedimenter (Marin)
• Terendapkan di laut dalam
• Terjadi pada lingkungan yang alkali dan suasana
tenang
• mineral fosfat yang terbentuk terutama frankolit
3. Fosfat Guano
• Hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan
kelelawar kotoran bereaksi dengan batu gamping
karena pengaruh air hujan dan air tanah
• Tempat pembentukan : endapan permukaan, bawah
permukaan, dan gua

Guano walet Guano kelelawar


Peran pupuk Phospat
 Respirasi dan fotosintesis
 Penyusunan asam nukleat
 Perangsang perkembangan akar sehingga tanaman
akan lebih tahan terhadap kekeringan
 Menggiatkan pertumbuhan jaringan tanaman yang
membentuk titik tumbuh tanaman
 Memacu pembentukan bunga dan masaknya buah/biji,
sehingga mempercepat masa panen
 Menambah daya tahan tanaman terhadap serangan
hama dan penyakit
Efek Pemberian Fosfor Terhadap
Pertumbuhan dan Status Hara pada bibit
Manggis

(Liferdi, F. 2010)
Respon Tanaman Kedelai Terhadap
Pemupukan Fosfor dan Kompos Jerami
pada Tanah Ultisol

(Yudhi Harini Bertham 2002)


(Yudhi Harini Bertham 2002)
Defisiensi unsur P

 Daun-daun menjadi ungu atau


coklat mulai dari ujung daun
 Perkembangan akar terhambat
 Daun menjadi kecil-kecil lalu
rontok
 Pertumbuhan terhambat (kerdil),
karena pembelahan sel
terganggu
 Pembungaan berkurang
 Pematangan buah terhambat
 Pembentukan biji tidak normal
Bahan Baku Pupuk Fosfat
BATUAN FOSFAT (PR) ASAM SULFAT (H2SO4)
•Kadar P O 29-33,0 %.
2 5
•Kadar H SO 98,5 % min.
2 4

•Kadar CaO 51,7 % •Kadar Fe 0,01% max.


•Kadar SiO 4,35%
2
•Density 1,80 gr/cc
•Kadar H O 1,0 %
2

•+ 4 US Mesh 0,75% max ASAM FOSFAT (H3PO4)


•+ 200 US Mesh 95% min •Kadar P O 52-56% min.
2 5

• Batu Apatit •Kadar CaO 0,2% max.


• Senyawa fosfor dalam tanah •Susp. Solid 1,0% max.
•Density 1,80% gr/cc.
PENCAMPURAN ASAM

 Alat utamanya adalah Mixing Tank yang berfungsi untuk


mencampur asam fosfat dan asam sulfat dengan menjaga agar
kadar P2O5 sekitar 50%.

 Asam fosfat dari berbagai sumber dicampur dalam tangki


pencampuran dengan perbandingan tertentu hingga kadar P2O5 +
50% yang selanjutnya dialirkan ke Mixing Tank dengan melewati
Static Mixer untuk menjaga P2O5 50% relatif konstan.

 Temperatur pencampuran asam fosfat dan asam sulfat adalah


105 C, 60% total flow dialirkan ke Unit Reaksi yang sebelumnya
dillewatkan Cooler untuk mencapai temperatur 50-60 C sedangkan
40% direcycle ke Mixing Tank.
ROCK GRINDING

 Alat utamanya adalah Ball Mill yang berfungsi untuk


menghaluskan phosphate rock yang oversize termasuk butiran
yang menggumpal karena moisture dan sekaligus mengurangi
kadar airnya dengan bantuan udara panas

 Batuan fosfat dihaluskan dengan maksud mempercepat reaksi


(acidulation) dengan mixed acid di Unit Reaksi.

 Produk Ball Mill dengan pneumatic conveyor dalirkan ke


Classifier untuk memisahkan batuan kasar (direcycle) dan yang
halus (-200 US mesh 80% kadar H2O kurang dari1%) dialirkan ke
Cyclone untuk memisahkan udara dan debu fosfat yang
selanjutnya dikirim ke Unit Reaksi atau di stock di Dust Silo..
REAKSI SP-36

 Peralatan utamanya adalah Cone Mixer yang berfungsi untuk


proses asidulasi fosfat rock dengan mixed acid untuk mengubah
fosfat tidak larut air menjadi garam fosfat yang larut dalam air.

 Fosfat rock diumpankan ke Cone mixer melalui Cone Feeder


Screw Conveyor sedangkan mixed acid melalui 6 buah nozzle
melingkar dengan posisi tangensial terhadap cone sehingga
menghasilkan pusingan campuran rock/acid didalam Cone Mixer
dan fosfat rock diumpankan kontinyu ke tengah-tengah slurry
yang berbentuk vortex.

 Slurry acid/rock jatuh ke Setting Belt Conveyor dan terjadi


proses denning yaitu perubahan bentuk dari slurry-plastis-solid
selanjutnya ROP dikirim ke Curing Storage atau langsung ke Unit
Granulasi..
GRANULASI

 Peralatan utamanya adalah Granulator yaitu berupa drum


dengan slope sangat kecil yang berfungsi sebagai proses
aglomerasi dari butiran kecil menjadi butiran-butiran yang lebih
besar dengan bantuan air dan panas dari steam.

 Butiran dari Granulator selanjutnya masuk Dryer dimana terjadi


kontak secara searah dengan gas panas temperatur 350-400°C
yang mengalir di tengah shel dryer

 Produk dari Dryer dikirim ke Unit Screen untuk memisahkan


antara ukuran yang oversize /undersize yang akan dikembalikan
ke Unit Granulasi dan ukuran yang onsize yang selanjutnya
dikirim ke Unit Pengantongan dengan melalui Cooler..
Jenis-jenis Pupuk Phosphat
1. Engkel Super Phosphate (ES)
 Ca(H2PO4)2 + CaSO4
 Kadar P2O5 sebesar 18–24% dan kapur (CaO) sebesar 24–28%.
 Bahan baku batuan fosfat (apatit) dan diasamkan dengan asam
sulfat
 Berupa pupuk berbentuk tepung warna putih kelabu dan sedikir
larut dalam air
 Pupuk ini masih mengandung gypsum (CaSO4) yang cukup tinggi
2. Double Super Phosphate (DS)
 Pupuk ini dianggap tidak mengandung gypsum
 Memiliki kadar P2O5 sebesar 38%
 Berwarna abu-abu coklat muda dan sebagian P larut dalam air,
serta kemungkinan pelindian rendah
3. Triple Super Phosphate (TSP)
 Rumus kimia TSP yaitu Ca(H2PO4)
 Kadar P2O5 pupuk ini sekitar 44–46%
 Pembuatan pupuk TSP dengan menggunakan sistem wet process
 Dalam proses ini batuan fosfat alam (rock phosphate) diasamkam
dengan asam fosfat hasil proses sebelumnya (seperti pembuatan
pupuk DS). Reaksinya:
Ca3(PO4)2CaF + H3PO4 Ca(H2PO4)2 + Ca(OH)2 + HF
Aplikasi Pupuk Phosphat
Larikan
 Membuat parit kecil disamping barisan tanaman kemudian
menempatkan pupuk di dalam larikan kemudian tutup kembali
 Cara ini dapat dilakukan pada satu atau kedua sisi baris tanaman
 Dilakukan pada satu atau kedua sisi baris tanaman
 Biasanya cara ini dilakukan untuk memberikan pupuk susulan
Penebaran Secara Merata di Atas
Permukaan Tanah
 Dilakukan sebelum penanaman dengan cara disebar
 Dilakukan penebaran pupuk, kemudian pengolahan tanah, seperti
pada aplikasi kapur dan pupuk organik
Pop Up
 Pupuk dimasukkan ke lubang tanam pada saat
penanaman benih atau bibit.
 Pupuk yang digunakan harus memiliki indeks garam
yang rendah agar tidak merusak benih atau biji.
Penugalan

 Menempatkan pupuk ke dalam lubang


di samping tanaman
 Lubang tersebut dibuat dengan alat
tugal.
 Kemudian setelah pupuk dimasukkan,
tutup kembali lubang dengan tanah
untuk menghindari penguapan.
 Cara ini dapat dilakukan disamping kiri
dan samping kanan baris tanaman atau
sekeliling pohon.
 Jenis pupuk yang dapat diaplikasikan
dengan cara ini adalah pupuk slow
release dan pupuk tablet.
Fertigasi
 Pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan pada
tanaman melalui air irigasi
 Dilakukan untuk tanaman yang pengairannya
menggunakan sistem sprinkle.
 Akurasi dan penyerapan pupuk oleh akar dapat lebih
tinggi.