Anda di halaman 1dari 25

Tinja / feses adalah bahan buangan yang dikeluarkan

dari tubuh manusia melalui anus sebagai sisa dari proses


pencernaan makanan di sepanjang sistem saluran pencernaan
(tractus digestifus).
Pengambilan specimen feses merupakan cara yang
dilakukan untuk mengambil feses sebagai bahan pemeriksaan
untuk analisis laboratorium. Waktu pengambilan dilakukan setiap
saat, terutama pada gejala awal dan sebaiknya sebelum
pemberian antibiotik
Komposisi feses ditentukan oleh
jenis makanan yang dimakan. Makanan
yang mengandung banyak serat tumbuhan
akan membentuk lebih banyak feses karena
serat tersebut tidak dapat dicerna.
untuk mengetahui ada tidaknya telur
cacing ataupun larva yang infektif.

untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing


parasit usus pada orang yang di periksa
fesesnya

Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif,


metode apung, metode harada mori, dan Metode
kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis
parasit usus, sedangkan secara kuantitatif
dilakukan dengan metode kato untuk menentukan
jumlah cacing yang ada didalam usus
meliputi pemeriksaan jumlah, warna,
bau, darah, lendir dan parasit
Jumlah
Dalam keadaan normal jumlah tinja berkisar antara 100-250 gram per hari

Konsistensi
Tinja normal mempunyai konsistensi agak lunak dan bebentuk. Pada diare
konsistensi menjadi sangat lunak atau cair, sedangkan sebaliknya tinja yang
keras atau skibala didapatkan pada konstipasi.

Warna
Tinja normal kuning coklat dan warna ini dapat berubah mejadi lebih tua
dengan terbentuknya urobilin lebih banyak. Selain urobilin warna tinja
dipengaruhi oleh berbagai jenis makanan, kelainan dalam saluran
pencernaan dan obat yang dimakan.
• Warna kuning dapat disebabkan karena susu, jagung, lemak dan
obat santonin.
• Tinja yang berwarna hijau dapat disebabkan oleh sayuran yang
mengandung khlorofil atau pada bayi yang baru lahir disebabkan
oleh biliverdin dan porphyrin dalam mekonium.
• Kelabu mungkin disebabkan karena tidak ada urobilinogen dalam
saluran pencernaan yang didapat pada ikterus obstruktif, tinja
tersebut disebut akholis

• Tinja yang berwarna merah muda dapat disebabkan oleh perdarahan


yang segar dibagian distal, mungkin pula oleh makanan seperti bit
atau tomat.
• Warna coklat mungkin disebabkan adanya perdarahan dibagian
proksimal saluran pencernaan atau karena makanan seperti coklat, kopi
dan lain-lain.
• Warna coklat tua disebabkan urobilin yang berlebihan seperti pada
anemia hemolitik. warna hitam dapat disebabkan obat yang
mengandung besi, arang atau bismuth dan mungkin juga oleh melena
Bau
Indol, skatol dan asam butirat menyebabkan bau normal pada tinja. Bau
busuk didapatkan jika dalam usus terjadi pembusukan protein yang tidak dicerna
dandirombak oleh kuman.

Darah
Adanya darah dalam tinja dapat berwarna merah muda,coklat atau hitam.

Lendir
Dalam keadaan normal didapatkan sedikit sekali lendir dalam tinja. Terdapatnya
lendir yang banyak berarti ada rangsangan atau radang pada dinding usus.
Kalau lendir itu hanya didapat di bagian luar tinja, lokalisasi iritasi itu mungkin
terletak pada usus besar. Sedangkan bila lendir bercampur baur dengan tinja
mungkin sekali iritasi terjadi pada usus halus.

Parasit
Diperiksa pula adanya cacing ascaris, anylostoma dan lain-lain yang mungkin
didapatkan dalam tinja
Pemeriksaan mikroskopik meliputi pemeriksaan
protozoa, telur cacing,leukosit, eritosit, sel epitel,
kristal dan sisa makanan.
Protozoa
Biasanya didapati dalam bentuk kista, bila konsistensi tinja cair baru
didapatkan bentuk trofozoit

Telur cacing
Telur cacing yang mungkin didapat yaitu Ascaris lumbricoides, Necator americanus,
Enterobius vermicularis, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralisdan sebagainya

Leukosit
Dalam keadaan normal dapat terlihat beberapa leukosit dalam seluruh sediaan.Pada
disentri basiler, kolitis ulserosa dan peradangan didapatkan peningkatan jumlah
leukosit.

Eritrosit
Eritrosi thanya terlihat bila terdapat lesi dalam kolon, rektum atau anus. Sedangkan
bila lokalisasi lebih proksimal eritrosit telah hancur. Adanya eritrosit dalam tinja selalu
berarti abnormal
Epitel
Dalam keadaan normal dapat ditemukan beberapa sel epitel yaitu yang berasal dari
dinding usus bagian distal.

Kristal
Kristal dalam tinja tidak banyak artinya. Dalam tinja normal mungkin terlihat kristal
tripel fosfat, kalsium oksalat dan asam lemak.
Kristal tripel fosfat dan kalsium oksalat didapatkan setelah memakan bayam atau
strawberi, sedangkan kristal asam lemak didapatkan setelah banyak makan lemak.

Sisa makanan
Hampir selalu dapat ditemukan juga pada keadaan normal, tetapi dalam keadaan
tertentu jumlahnya meningkat dan hal ini dihubungkan dengan keadaan abnormal.
Sisa makanan sebagian berasal dari makanan daun-daunan dan sebagian lagi
berasal dari hewan seperti serat otot, serat elastis dan lain-lain.
Mani atau semen (sperma), ialah ejakulat berasal dari seorang
pria berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari kelenjar
prostat kelenjar-kelenjar lain dan spermatozoa.

Pemeriksaan sperma merupakan salah satu


jalan yang termudah untuk mengetahui tingkat
kesuburan/fertilitas dan infertilitas seorang
pria.

Sperma atau disebut juga spermatozoa adalah sel gamet


dari laki-laki. Sel ini mempunyai ukuran panjang
keseluruhan 50-60 mikrometer, dimana terdiri tiga
bagian yaitu bagian kepala, bagian tengah (leher), dan
ekor.
Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala,
bagian tengah dan ekor (flagellata). kepala sperma mengandung
nukleus. Bagian ujung kepala ini mengandung akrosom yang
menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisan-
lapisan sel telur pada waktu fertilisasi. Bagian tengah sperma
mengandung mitokondria yang menghasilkan ATP sebagai sumber
energi untuk pergerakan sperma. Ekor sperma berfungsi sebagai
alat gerak

Kandungan zat kimia semen atau sperma


yaitu fruktosa, asam sitrat, spermin,
seminin, prostaglandin, Na, K, Zn, Mg
• Cuci tangan
• Gunakan sarung tangan
• Jelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada
pasien
• Tampung spesimen bahan dengan menggunakan
spatel steril
• Tempatkan kedalam wadah steril dan ditutup rapat
• Feses jangan tercampur dengan urin
• Jangan diberikan barium atau minyak mineral yang
dapat menghambat pertumbuhan bakteri
• Buka sarung tangan
• Catat tanggal pengambilan dan beri label
• Cuci tangan
Pasien yang akan diambil semennya dalam
keadaan sehat dan cukup istirahat. Tidak dalam keadaan
letih atau lapar.Tiga atau empat hari sebelum semen
diambil, pasien tersebut tidak boleh melakukan aktifitas
seksual yang mengakibatkan keluarnya semen. WHO
bahkan merekomendasikan 2 –7 hari harus puasa
ejakulasi, tentunya tidak sebatas hubungan suami istri, tapi
dengan cara apapun. Semen (sperma) dikeluarkan melalui
masturbasi di laboratorium (biasanya disediakan tempat
khusus). Sperma kemudian ditampung pada tabung terbuat
dari gelas. Masturbasi tidak boleh menggunakan bahan
pelicin seperti sabun, minyak, dll
Sampel (hasil ekskresi)  parameter pemeriksaan
 penghomogenan sampel  pewarna yang
digunakan  penyimpanan (suhu dan pengawet
yang digunakan)
Segera setelah sperma ditampung, maka
sperma harus secepatnya diserahkan kepada
petugas laboratorium. Hal tersebut perlu
dilakukan karena beberapa parameter sperma
mempunyai sifat mudah berubah oleh karena
pengaruh luar. Sperma yang dibiarkan begitu
saja akan berubah ph, viskositas, motiltas dan
berbagai sifat biokimia.
Pemerikasaan makroskopik
Likuifaksi : semen dianalisis setelah mengalami likuifaksi, yaitu dibiarkan
semensekitar 20 menit atau maksimal 1 jam setelah ejakulasi
Warna semen : diamati dengan mata telanjang.
pH : setetes sperma disebarkan secara merata di atas kertas pH. Setelah 30
detikwarna daerah yang dibasahi akan merata dan kemudian dibandingkan dengan
kertaskalibrasi untuk dibaca pHnya
Volume semen: diukur dengan gelas ukur atau dengan cara menyedot sluruh
siapanke dalam suatu semprit atau pipet ukur.
Viskositas atau konsistensi: ditaksir dengan cara memasukkan tangkai kaca
kedalam siapan dan kemudian mengamati benang yang terbentuk pada saat
batang tersebut dikeluarkan . panjang benang tidak bolh lebih dari 2 cm.
Aglutinasi spontan: melihat secara langsung keadaan semen setelah
diejakulasi,apakah terjadi penggumpalan atau tidak.
Bau semen: dengan mengamati secara langsung
Pemeriksaan mikroskopika.
Motilitas sperma

• Buat preparat basah dari semen


• Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 400x
• Hitung dengan presentase dari 100 sperma dengan ketentuana.
- Progresif lurus : bergerak lurus ke depan lincah dan cepat.
- Progresif lambat : bergerak ke depan tetapi lambat.
- Gerak di tempat : gerakan tidak menunjukkan perpindahan
tempat, biasanya bergetar di tempat, berputar atau
melompat.
- Tidak bergerak : tidak ada gerakan sama sekali atau diam di
tempat.
• Biasanya 4-6 lapangan pandangan yang harus diperiksa untuk
mendapat seratussperma secara berurutan kemudian diklasifikasi
sehingga menghasilkanpersentase setiap kategori motilitas
Konsentrasi sperma
• Siapan yang telah diencerkan harus diaduk dengan baik
dan kemudian 1 tetesdiletakkan di atas homositometer
neubauer lalu ditutup dengan kaca tutup (deckglass).
• Larutan george/JOS dengan pengenceran 1000 x (50
µL sperma + 950 µL larutangeorge)
• Untuk menentukan jumlah sperma dalam semen dalam
juta/mL, bagikan jumlahsperma yang ditemukan dengan
faktor konversi.Misalnya 10 kotak : n x 10000 x faktor
pengenceran (20) x2,5

Anda mungkin juga menyukai