Anda di halaman 1dari 18

HUBUNGAN OBESITAS DENGAN CITRA DIRI DIKALANGAN MAHASISWI

POLTEKKES JUR. KEPERAWATAN PALEMBANG THN.2017

Disusun Oleh :
REZI YUDISTRA

NIM :
PO.71.20.1.15.069

Tingkat :
2.C

JURUSAN DIII KEPERAWATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALEMBANG
TAHUN PELAJARAN 2016-2017
1.1 Latar Belakang

Obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebih,
sehingga berat badan seseorang jauh di atas normal dan dapat membahayakan kesehatan.
Obesitas terjadi karena ketidakseimbangan antara energi yang masuk dengan energi yang
keluar (Wirakusumah,1994 ). Obesitas atau disebut juga kegemukan, merupakan suatu
masalah yang cukup merisaukan dikalangan remaja. Obesitas terjadi saat badan menjadi
gemuk yang disebabkan oleh penumpukan jaringan adipose secara berlebihan (Atikah,
2010). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh The Word Health
Organization (WHO) memperkirakan sekitar 300 juta individu mengalami obesitas( Kompas,
02.11.2010 ). Menurut data riset kesehatan dasar ( Rikesdas ) tahun 2010, secara nasional
berdasarkan IMT ( Indeks Masa Tubuh ) dan jenis kelamin menyebutkan bahwa angka
obesitas pada laki-laki sebesar 7,8% dan pada perempuan sebesar 15,5%, dan angka
kejadian obesitas di Jawa Tengah adalah 6,2 % pada laki-laki dan 12,7% pada
perempuan. Secara umum status gizi pada penduduk dewasa laki-laki dan perempuan
cenderung untuk kelebihan berat badan dibandingkan dengan yang kurus, angka obesitas
pada perempuan lebih tinggi dibanding dengan laki-laki.
• Obesitas merupakan keadaan dimana terjadi penumpukan lemak tubuh yang
berlebih, sehingga berat badan seseorang seseorang jauh diatas normal dan
dapat membahayakan kesehatan. Obesitas dapat memberikan dampak negatif
secara psikologi kepada remaja yang bersangkutan, hal yang selalu beriringan
dengan obesitas adalah gangguan citra diri dan harga diri.

• Pada masa remaja, mereka mulai lebih sadar akan dirinya dibandingkan pada
saat masa anak – anak. Remaja akan lebih sadar diri dan memberikan perhatian
yang lebih pada citra tubuhnya dan perhatian terhadap citra tubuh tersebut akan
lebih terlihat besar pada remaja putri (Hurlock, 2003).

• Secara psikologis keadaan yang sering muncul beriringan dengan obesitas adalah
gangguan konsep diri, seperti gangguan body image ( citra diri), dan gangguan
harga diri. Citra diri (self-image, body image,citra tubuh, gambaran tubuh) adalah
sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak sadar. Sikap ini
mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk, fungsi penampilan
dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu ( Widiyatun, 1999 ).

• Masa remaja adalah masa usia ketika anak menjadi lebih berkonsentrasi pada
fisik diri. perubahan tubuh yang tidak familier dan fisik yang baru harus
terintegrasi ke dalam konsep diri. Remaja menghadapi konflik tentang apa yang
mereka lihat dan apa yang mereka pandang sebagai struktur tubuh ideal.
Pembentukan citra diri selama masa remaja adalah elemen penting dalam
pembentukan identitas, krisis psikologis dimasa remaja ( Wong, 2002 ).
• Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi citra diri seseorang adalah
jenis kelamin, berat badan dan derajat kekuusan atau kegemukan, teman
sebaya, konsep diri, dan media masa.
• Harga diri (self-esteem) adalah bagian yang meliputi suatu penilaian,
suatu perkiraan mengenai pantas diri. Harga diri adalah penilaian pribadi
terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisis seberapa banyak
kesesuaian tingkah laku dengan ideal dirinya (Suliswati,2005 ).
• Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hal yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku mengenai diri. Harga diri diperoleh dari
diri sendiri dan orang lain. Aspek utama dalam harga diri adalah dicintai
dan menerima penghargaan dari orang lain, manusia cenderung bersifat
negatif walaupun ia cinta dan mengakui kemampuan orang lain namun
jarang mengekspresikan. Harga diri akan bermakana dan berhasil jika
diterima dan diakui orang lain merasa mampu menghadapi kehidupan
merasa dapat mengontrol dirinya( Widiyatun, 1999 ).
• Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan harga diri
remaja adalah perkembangan individu tidak realistis, keluarga dan
pengalaman traumatik yang berulang.
1.2 Rumusan Masalah
• Belum diketahui Hubungan Obesitas dengan harga diri diri di Kalangan Mahasiswi Poltekkes
Jur. Keperawatan.
1.3 Tujuan Masalah
• untuk mengetahui hubungan obesitas dengan harga diri diri di Kalangan Mahasiswi Poltekkes
Jur. Keperawatan.
1.2 Manfaat Masalah
a. Manfaat Teoritis
• Hasil penelitian secara teoritis ini diharapkan dapat memberikan pemikiran dalam
menambah wawasan tentang Hubungan obesitas dengan harga diri diri di Kalangan Mahasiswi
Poltekkes Jur. Keperawatan.
b. Manfaat Aplikatif/Praktif
• Hasil penelitian secara praktis ini diharapkan dapat memberikan pemikiran terhadapa
pemecahan masalah yang berkaitan dengan masalah pada Hubungan obesitas dengan harga diri
diri di Kalangan Mahasiswi Poltekkes Jur. Keperawatan Tahun 2017.
c. Manfaat Metodelogis
• Hasil penelitian secara metodelogis ini diharapkan untuk menambah khasanah kajian
ilmiah dalam menunjang penelitian yang berkaitan dengan masalah pada Hubungan obesitas
dengan harga diri di Kalangan Mahasiswi Poltekkes Jur. Keperawatan Tahun 2016.
1.5 Ruang Lingkup
• Ruang lingkup penelitian dilakukan dalam hal ini adalah
Hubungan obesitas Dengan Harga diri Khususnya Mahasiswi di
Poltekkes Jur. Keperawatan Tahun 2016.
• BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Obesitas
• 2.1.1 Definisi Obesitas
• Menurut WHO (2003), kegemukan atau obesitas didefenisikan
sebagai kelebihan lemak yang tidak normal dan dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan. Indeks Masa Tubuh (IMT) adalah
indeks berat badan terhadap tinggi badan yang digunakan untuk
menentukan batas kegemukan dan obesitas bagi orang dewasa, baik
populasi ataupun individu (Aora, 2008). Dikatakan obesitas jika seseorang
mempunyai berat badan diatas (20%) dari berat badan normal (Aora,
2008). Obesitas dapat terjadi akibat ketidakseimbangan antara asupan
energi yang selanjutnya disimpan dalam bentuk jaringan lemak (Fathoni,
2009). Rata- rata wanita memiliki lemak tubuh yang lebih banyak
dibandingkan pria. Dikatakan obesitas apabila perbandingan yang normal
antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar (25-30%) pada
wanita dan (18-23%) pada pria. Wanita dengan lemak tubuh lebih dari
(30%) dan pria dengan lemak tubuh lebih dari (25%) dianggap mengalami
obesitas. Seseorang yang memiliki berat badan (20%) lebih tinggi dari
berat badan yang normal dianggap mengalami obesitas (Fathoni,
2009).Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok : obesitas ringan apabila
kelebihan berat badan 20-40% dari berat badan ideal dan obesitas
sedang adalah kelebihan berat badan 41-100% dari berat badan ideal
sedangkan obesitas berat apabila kelebihan berat badan >100% dari
berat badan ideal. Obesitas berat ditemukan sebanyak (5%) dari antara
orang-orang yang gemuk.
2.1.2 Parameter untuk menentukan Berat Badan ideal
Parameter untuk menentukan berat badan ideal Dalam menentukan gemuk tidaknya seseorang, ada beberapa
rumus / parameter yang bisa digunakan yaitu :

1. Parameter yang pertama


“Body Mass Index” (BMI) untuk mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT). Tetapi IMT ini hanya bisa diaplikasikan
untuk orang dewasa, kecuali wanita hamil. Pada wanita hamil tidak bisa digunakan karena kenaikan berat badan yang
biasa terjadi pada wanita hamil normal. Orang eropa memiliki batas overweight 25 dan batas obesitas 30. Diatas 25
disebut overweight, lebih dari 30 disebut obesitas. Batas bawahnya 18,5. Jadi IMT (Indeks Masa Tubuh) normal orang
asia adalah 18,5-23. Rumus IMT dapat dilihat dibawah ini:

BB (KG)
Rumus IMT = TB2 (M2)

Keterangan:
BB: Berat badan (dalam kilo gram)
TB: Tinggi Badan (meter)

2. Parameter kedua
Mengukur lingkar pinggang. Ukuran lingkar pinggang normal perempuan adalah kurang dari 80 cm, sementara
pria kurang dari 90 cm. walaupun IMT normal,tetapi kalau lingkar pinggangnya lebih dari 80, maka ia harus
menurunkan BB-nya, karena resiko mendapat penyakit meningkat. Ukuran lingkar pinggang sebetulnya sudah cukup
menjadi parameter. Ukuran pinggang yang lebih dari normal menggambarkan banyaknya lemak yang tertimbun di
daerah perut. Lemak perut ini cukup berbahaya, karena terdapat di dekat organ-organ internal, seperti hati dan usus,
sehingga lemak yang berlebihan itu bukan alat pasif untuk kelebihan energi, melainkan mengeluarkan hormon
tertentu yang bisa mempengaruhi semuanya. Oleh karena itu orang yang memiliki lingkar pinggang lebih dari normal
beresiko mendapat penyakit lebih banyak.
3. Parameter ketiga
Body Fat Analyzer (BFA) untuk mengukur komposisi lemak tubuh. Komposisi lemak
tubuh normal pada perempuan berkisar 11-20 persen, tergantung usia, semakin banyak
persentasi lemak. Paling ideal adalah mengukur komposisi lemak tubuh, karena tujuan
menurunkan BB seharusnya adalah menurunkan lemak tubuh. Hanya saja, BFA butuh alat
khusus.

Mengukur Komposisi lemak tubuh menurut (BFA)

Jenis Kelamin Komposisi Lemak Tubuh


Rendah Sedang Tinggi
Pria < 10% 10-20 % >20%
Wanita < 17% 80-30 % >30%

Rumus yang digunakan untuk pengukuran Body Fat Versi Dephan USA (yang tidak
memerlukan bantuan alat adalah sebagai berikut :
Pria = 86.010 x log10 (abdomen – neck) – 70.041 x log 10
(heigt) + 36.76
Wanita = 163.205 x log10 (waist+ hip – neck) – 97.684 x log10
(height) – 78.387
4) Parameter ke empat
Berdasarkan Setiadi (2008) cara menghitung berat badan ideal adalah
sebagai berikut: :
a) Berat badan normal
Berat badan normal = Tinggi badan – 100
• Contoh :
Jika tinggi kita dari ujung kaki hingga ujung kepala 160 cm maka berat badan
normal kita adalah 160 – 100 = 60 kg
a) Berat badan ideal
Berat badan ideal = (tinggi badan – 100 – (10% tinggi badan – 100)
• Contoh :
Jika tinggi badan kita adalah setinggi 150 cm, maka berat badan ideal kita
adalah (150 -100) – (10% x (150 - 100) = 50 - 5 = 45 kg

Menurut Setiadi (2008) dari hasil tersebut dapat kita ketahui apa yang terjadi pada
diri kita dengan membandingkan hasilnya berikut di bawah ini:

1.Kurus = Hasilnya 10% kurang dari seharusnya.


2.Kegemukan / Obesitas / Obesity = Hasilnya lebih dari 20% dari yang
seharusnya.
3.Kelebihan berat badan / Overweight = Hasilnya lebih dari 10% s/d
20% lebih besar.
2.1.3 Faktor-faktor yang berperan dalam timbulnya Obesitas

Menurut Misnadiarly (2007), secara sederhana timbulnya obesitas dapat


diterangkan bila masukan makanan melebihi kebutuhan faali. Seperti diketahui,bahan-bahan
yang terkandung dalam makanan sehari-hari akan menjadi penyusun tubuh setelah melalui
beberapa proses dengan mekanisme pengaturan
sebagai berikut:

1)Penyerapan dalam saluran pencernaan


2) Metabolisme dalam jaringan
3) Pengeluaran oleh alat-alat ekskresi

Dengan demikian, sebenarnya tubuh mampu menyesuaikan diri terhadap berbagai


macam masukan makanan. Untuk bahan makanan berupa protein, air, mineral, dan vitamin,
jumlah masukan tiga kali lipat dari kebutuhan minuman dengan mudah akan dibuang. Tetapi,
untuk bahan makanan hidrat arang dan lemak, keadaannya jauh berbeda. Hidrat arang dan
lemak yang ada dalam makanan, boleh dikatakan semuanya akan masuk dalam tubuh, tetapi
hanya sebagian kecil yang dapat dijumpai dalam tinja. Kedua bahan makanan ini merupakan
sumber utama bagi tubuh. Karena itu, apabila masukannya melebihi kebutuhan tenaga tubuh,
maka kelebihan ini akan disimpan. Tenaga yang berlebihan akan disimpan dalam bentuk
lemak dalam jaringan adipose. Sebaliknya, apabila masukan lebih sedikit dibandingkan
kebutuhan tenaga tubuh, kekurangan ini akan diatasi dengan menguraikan cadangan tenaga
yang disimpan. Untuk miniature ukuran cadangan ini tubuh memiliki mekanisme pengaturan
agar terjadi keseimbangan antara masukan dan keluaran tenaga
Beberapa faktor yang diketahui mempengaruhi mekanisme pengaturan tersebut, antara lain :

1.Umur
Meskipun dapat terjadi pada semua umur, obesitas sering dianggap sebagai kelainan pada umur
pertengahan. Obesitas yang muncul pada tahun pertama kehidupan biasanya disertai perkembangan
rangka yang cepat dan anak menjadi besar untuk umurnya.Anak-anak yang mengalami obesitas
cenderung menjadi orang dewasa yang juga obesitas. Obesitas pada anak muda sering dijumpai pada
keluarga miskin. Keadaan semacam ini misalnya keluarga pedagang pegawai ataupun karyawan
menengah keatas. Jadi, dalam hal ini umur bukan merupakan penentu utama timbulnya obesitas.

2.Jenis kelamin
Jenis kelamin tampaknya juga ikut berperan dalam timbulnya obesitas. Meskipun dapat terjadi
pada kedua jenis kelamin, tetapi obesitas lebih umum dijumpai pada wanita terutama setelah kehamilan
dan pada saat menopause. Mungkin saja obesitas pada wanita disebabkan karena pengaruh faktor
endokrin, karena kondisi ini muncul pada saat-saat adanya perubahan hormonal tersebut diatas.

3.Tingkat sosial
Menarik sekali bahwa di Negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada sosial-ekonomi
rendah. Salah satu survei di Manhattan menunjukkan bahwa obesitas dijumpai 30% pada kelas sosial-
ekonomi rendah, 17% pada kelas menengah, dan 5% pada kelas atas. Obesitas banyak dijumpai pada
wanita keluarga miskin barangkali karena sulitnya membeli makanan yang tinggi kandungan protein.
Mereka hanya mampu membeli makanan murah yang umumnya mengandung banyak hidrat arang.
Obesitas yang dijumpai pada kalangan eksekutif atau usahawan, barangkali timbul karena makanan
berlemak tinggi disertai penggunaan minuman beralkohol.
• 4.Aktivitas fisik
Seperti diketahui, tiap orang memerlukan masukan tenaga untuk memenuhi kebutuhan
tenaga basal dan tenaga untuk aktivitas fisik. Kebutuhan tenaga basal sangat beragam antar
individu. Demikian pula kebutuhan tenaga untuk aktivitas juga beragam tergantung pada
aktivitas seseorang. Obesitas banyak dijumpai pada orang yang kurang melakukan aktivitas
fisik dan kebanyakan duduk. Di masa industri sekarang ini, dengan meningkatnya mekanisasi
dan kemudahan transportasi, orang cenderung kurang gerak atau menggunakan sedikit tenaga
untuk aktivitas sehari-hari. Sebagai contoh, seorang ibu rumah tangga mencuci baju dengan
menggunakan sebagian kecil tenaganya dibandingkan bila mencuci baju dengan tangan yang
memerlukan 1050 kJ (250 kkal) per jam. Seorang petani yang mengerjakan sawahnya dengan
bajak akan menggunakan 1670 kJ (400 kkal) perjam dibandingkan dengan 540 kJ (130 kkal)
perjam seandainya menggunakan traktor.
Dengan demikian kurangnya pemanfaatan tenaga akan menyebabkan simpanan tenaga
tidak akan banyak digunakan dan lambat laun akan semakin bertumpuk sehingga menyebabkan
obesitas. Jadi, memperbanyak aktivitas fisik sangat dianjurkan, disamping sudah tentu disertai
pengaturan diet.

• 5.Kebiasaan makan
Tampaknya memang ada kebiasaan makan yang berbeda pada orang yang mengalami
obesitas. Obesitas sering dijumpai pada orang yang senang masak atau bekerja di dapur.
Disamping itu juga dijumpai pada orang yang memiliki gejala suka makan pada waktu malam.
Ini biasa menyertai insomnia dan hilangnya nafsu makan pada waktu pagi hari.
Ada seorang beranggapan bahwa semua orang gemuk adalah orang yang suka makan.
Ternyata beberapa peneliti menunjukkan bahwa orang gemuk tidak makan lebih banyak
dibanding orang kurus. Bahkan terkadang orang kurus menyatakan sudah makan banyak tetapi
tetap kurus.
• 6.Faktor psikologis
Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan
makan.Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang negative.
Gangguan ini merupakan masalah yang serius pada banyak wanita muda yang
menderita obesitas, dan bisa menimbulkan kesadaran yang berlebihan tentang
kegemukannya serta rasa tidak nyaman dalam pergaulan sosial.

• 7.Faktor genetis
Faktor genetis merupakan salah satu faktor yang juga berperan dalam
timbulnya obesitas. Telah lama diamati bahwa anak-anak obesitas umumnya
berasal dari keluarga dengan orangtua obesitas. Bila salah satu orang tua
obesitas, kira-kira 40-50% anak-anaknya akan menjadi obesitas, sedangkan
bila kedua orangtua obesitas, 80% anak-anaknya akan menjadi obesitas.
Barangkali saja timbulnya obesitas dalam keluarga semacam ini lebih
ditentukan karena kebiasaan makan dalam keluarga yang bersangkutan, dan
bukan karena faktor genetis yang khusus. Hanya saja penelitian laboratorium
gizi Dunn di Cambridge, Inggris baru – baru ini menunjukkan peran faktor
genetis. Pengamatan selama setahun terhadap bayi -bayi yang ibunya obesitas
menunjukkan bahwa 50% diantaranya menjadi obesitas bukan karena
makannya yang berlebihan. Dikatakan bahwa pada bayi-bayi tersebut terdapat
pengurangan kalori yang dibakar. Jadi, diduga bahwa beberapa orang
memang sacara genetis sudah terprogram untuk obesitas.
2.1.4 Dampak dari Obesitas
Menurut Vivi (2004) dampak obesitas dapat terjadi dalam jangka panjang maupun jangka pendek,
misalnya :

1).Gangguan psikososial, rasa rendah diri, depresif dan menarik diri dari lingkungan. Hal ini
karena anak obesitas sering menjadi korban bahan olok – olokan teman main dan teman sekolah.
Dapat pula karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas atau kegiatan terutama
olahraga akibat adanya hambatan pergerakan oleh obesitasnya.

2).Pertumbuhan fisik atau linier yang lebih cepat dan usiatulang yang lebih lanjut dibanding usia
biologinya.

3) Masalah ortopedi akibat beban tubuh yang terlalu berat.

4).Gangguan pernafasan seperti infeksi saluran nafas, tidur ngorok, sering mengantuk siang hari.

5). Gangguan endokrin seperti menars lebih cepat terjadi.

• 2.1.5 Penatalaksanaan Obesitas

Pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik merupakan komponen yang
paling penting dalam pengaturan berat badan. Kedua komponen ini juga penting dalam
mempertahankan berat badan setelah terjadi penurunan berat badan serta harus dilakukan perubahan
dalam pola aktivitas fisik dan mulai menjalani kebiasaan makan yang sehat. Langkah awal dalam
mengobati obesitas adalah menaksir lemak tubuh penderita nya dengan cara mengkitung IMT.
• 2.2 Konsep Dasar Citra Diri

2.2.1 Definisi Citra Diri


Penilaian tentang fisik atau tubuh sendiri oleh beberapa ahli dinamakan citra diri
(Tilaar, 1981). Citra diri merupakan salah satu segi dari gambaran diri yang berpengaruh pada
harga diri (Centi, 1993). Citra diri merupakan bagian dari konsep diri yang berkaitan dengan
sifat-sifat fisik. Citra diri dipengaruhi oleh pemikiran mengenai apa yang dimaksud keindahan
atau kebugaran dan bentuk tubuh yang ideal menurut seseorang. Citra diri merupakan
gambaran seseorang mengenai fisiknya sendiri (Pratt, 1994).
Menurut Centi (1993) citra diri merupakan hal yang subyektif, menurut
sendiri.Keadaan dan penampilan diri pada gilirannya dipengaruhi oleh norma yang dijumpai
atau dihadapi. Pendapat ini didukung oleh Burns (1993)
La Rose (1996), menyebutkan bahwa citra diri adalah gambaran tubuh sendiri yang
dibentuk dalam pikiran untuk menyatakan suatu cara penampilan tubuh seperti cantik, dan
jelek. Citra diri ini penting dalam proses evaluasi diri dan juga penting dalam pengembangan
konsep diri. Hal tersebut didukung oleh Maltz (1996),
Kussein (1997), berpendapat bahwa pada dasarnya citra diri adalah penafsiran
seseorang secara subyektif pada dirinya sendiri, oleh karena itu sering terjadi kekeliruan dalam
menafsirkan karena individu mengabaikan faktor-faktor obyektif yang ada.
Hadisubrata (1997), menyatakan bahwa citra diri bersifat subyektif, sebab hanya
didasarkan pada interpretasi pribadi tanpa mempertimbangkan atau meneliti lebih jauh
kenyataan benarnya
• 2.2.2 Aspek-aspek Citra Diri
Aspek citra diri dalam penelitian ini mengacu pada obyek sikap dari
citra diri yaitu tubuh. Tubuh terdiri dari dua aspek, yaitu bagian tubuh dan
keseluruhan tubuh. Rincian obyek sikap citra diri dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:

• 1).Bagian tubuh seperti wajah, rambut, gigi, hidung, lengan, perut,


ukuran dan bentuk dada, pantat, pinggul, kaki, paha (Rosen dkk, 1995),
leher (Wirakusumah, 2001), bentuk bibir dan mata (Winiaswati, 2003),
pipi (Hurlock, 1999).

• 2).Keseluruhan tubuh mencakup berat badan, tinggi badan, proporsi


tubuh, penampilan fisik dan bentuk tubuh (Rosen dkk, 1995). Senada
dengan pendapat di atas Pudjijogyanti (1995), mengemukakan bahwa
aspek citra diri adalah keseluruhan tubuh misalnya bentuk tubuh dan
bagian tubuh seperti bentuk rambut. Berdasarkan uraian dari beberapa
ahli dapat disimpulkan bahwa aspek citra diri adalah bagian tubuh dan
keseluruhan tubuh.
Etiologi
Citra Diri
Remaja 1. Hormonal
Bagian tubuh
2. Asupan Makanan
Bagian Psikososial 3. Stres
4. Gaya hdup(Lifestyle)
5. Kelebihan Berat
Badan

Gangguan Citra
Diri