Anda di halaman 1dari 65

Rere

 Psikosomatis berasal dari dua kata yaitu


psiko yang artinya psikis, dan somatic yang
artinya tubuh.
 Dalam Diagnostic And Statistic Manual Of
Mental Disorders edisi ke empat (DSM IV)
istilah psikosomatis telah digantikan
dengan kategori diagnostik faktor
psikologis yang mempengaruhi kondisi
medis.
1. Stres Umum
Penelitian terakhir telah menemukan
bahwa orang yang menghadapi stres
umum secara optimis bukan secara
pesimis adalah tidak cenderung mengalami
gangguan psikosomatis, jika mereka
mengalaminya mereka mudah pulih dari
gangguan. Respons Respon
Respons Endokrin Imun
Neurotra terhadap terhadap Perubaha
nsmiter stress Stress n
terhadap perilaku
stress
 Respons Neurotransmiter
◦ stress mengaktivasi system noradrenergic →pelepasan
katekolamin
◦ Stress juga mengaktivasi sistem serotonergik di otak.
◦ glukokortikoid cenderung meningkatkan fungsi
serotonin secara keseluruhan,
◦ Stress juga meningkatkan neurotransmisi dopaminergik
pada jalur mesofrontal.
◦ Respons terhadap stress juga terjadi pada
corticotrophin-releasing factor (CRF), glutamate, dan
gaba-amino butyric acid (GABA). noradrenergic
 Respons Endokrin terhadap stress
◦ Aksis hipotalamus hipofisis adrenal merupakan pelaku
pengendali umpan balik negative yang ketat melalui
produk akhirnya sendiri (yaitu ACTH dan Kortisol)
diberbagai tingkat, termasuk hipofisis anterior,
hipotalamus, dan region otak supra hipotalamik seperti
hipokampus.
◦ Disamping CRF berbagai secretagogue (yaitu zat yang
merangsang pelepasan ACTH) dikeluarkan dan dapat
memintas pelepasan CRF serta bekerja langsung untuk
memulai kaskade glukokortikoid contoh secretagogue
termasuk katekolamin, vasopressin, dan oksitosin.
 Respons Imun terhadap stress
◦ Stress menyebabkan glukokortikoid menghambat
system imun.
◦ CRF merangsang pelepasan norepinefrin melalui
reseptor CRF di locus ceruelus, yang kemudian
mengaktifkan system saraf simpatis sehingga
meningkatkan pelepasan epinefrin dari medulla adrenal.
◦ Didalam menghadapi stressor juga terdapat aktivasi
imun yang dalam termasuk pelepasan factor imun
humoral atau sitokin seperti interleukin-1 (IL-1) dan IL-
6.
2. Stres Spesifik Lawan Non Spesifik
 Stres psikis spesifik dan non spesifik dapat
didefenisikan sebagai kepribadian spesifik
atau konflik bawah sadar yang menyebabkan
ketidakseimbangan homeostatis yang
berperan dalam perkembangan gangguan
psikosomatis.

 Konflik bawah sadar spesifik adalah


berhubungan dengan gangguan psikosomatik
spesifik (contoh, konflik ketergantungan yang
tidak disadari mempredisposisikan seseorang
pada ulkus peptikum)
• stress nonspesifik yang kronis, biasanya dengan
variable kecemasan yang menyelinginya
• memiliki korelasi psikologis yang dikombinasikan
dengan kerentanan atau debilitas genetik,
mempredisposisikan orang tertentu kepada suatu
gangguan psikosomatik.
• Orang aleksitimik adalah tidak mampu membaca
emosinya sendiri; mereka memiliki kehidupan
fantasi yang miskin dan tidak menyadari konflik
emosionalnya; gangguan psikosomatik mungkin
berperan sebagai jalan keluar untuk ketegangan
mereka yang terkumpul.
3. Variabel fisiologis
• Faktor hormonal dapat menjadi mediator
antara stres dan penyakit, dan variabel
lainnya adalah kerja monosit sistem
kekebalan.
• Mediator antara stress yang didasari secara
kognitif dan penyakit mungkin hormonal.
Variabel penyebab lainnya mungkin adalah
kerja monosit sistem kekebalan.
 Walaupun patofisiologi timbulnya kelainan
fisik yang berhubungan dengan gangguan
psikis/emosi belum seluruhnya dapat
diterangkan
 Perubahan fisiologis ini berkaitan erat dengan
adanya gangguan pada system saraf otonom
vegetative, system endokrin, dan system
imun.
 Pada gangguan keseimbangan saraf otonom
vegetatif, konflik emosi yang ditimbulkan
diteruskan melalui korteks serebri ke system
limbic kemudian hipotalamus dan akhirnya ke
system saraf otonom vegetatif
Adapun kriteria klinis penyakit psikosomatis
terdiri atas kriteria yang negatif dan kriteria
yang positif.
a. Kriteria yang negatif (yang biasanya tidak
ada)
1. Tidak didapatkan kelainan-kelainan
organik pada pemeriksaan yang teliti
sekalipun, walaupun mempergunakan
alat-alat canggih.
2. Tidak didapatkan kelainan psikiatri.
b. Kriteria positif (yang biasanya ada)
1. Keluhan-keluhan pasien ada hubungannya
dengan emosi tertentu
2. Keluhan-keluhan tersebut berganti-ganti
dari satu sistem ke sistem lain, yang
dinamakan shifting phenomen atau alternasi.
3. Adanya vegetatif imbalance
(ketidakseimbangan susunan saraf otonom)
4. Penuh dengan stress sepanjang kehidupan
(stress full life situation) yang menjadi sebab
konflik mentalnya.
5. Adanya perasaan yang negatif yang
menjadi titik tolak keluhankeluhannya.
6. Adanya faktor pencetus (faktor presipitasi)
proksimal dari keluhankeluhannya.
7. Adanya faktor predisposisi yang dicari dari
anamnesis longitudinal. Yang membuat
pasien rentan terhadap faktor presipitasi
itu.

Faktor predisposisi dapat berupa faktor fisik /


somatik, biologi, stigmata neurotik, dapat pula
faktor psikis dan sosiokultural.
A. terdapat suatu kondisi medis umum (dituliskan
pada aksis 3)
B. factor psikologis secara merugikan mempengaruhi
kondisi medis umum dalam salah satu cara berikut:
1. faktor psikologis telah mempengaruhi perjalanan kondisi
medis umum seperti yang ditunjukkan oleh hubungan
temporal yang erat antara faktor psikologis dan
perkembangan atau eksaserbasi dari, atau keterlambatan
penyembuhan dari, kondisi medis umum
2. faktor mempengaruhi terapi kondisi medis umum
3. faktor menyumbang resiko kesehatan tambahan bagi
individu
4. respon psikologis yang berhubungan dengan stress
mencetuskan atau mengeksaserbasi gejala kondisi medis
umum
Pilihlah nama berdasarkan sifat faktor psikologis(jika terdapat lebih
dari satu faktor, nyatakan yang paling menonjol)

 Gangguan mental mempengaruhi kondisi medis (misalnya suatu


gangguan aksis 1 seperti gangguan depresi berat memperlambat
pemulihan dari infark miokardium)
 Gangguan psikologis mempengaruhi kondisi medis (misalnya gejala
depresif memperlambat pemulihan dari pembedahan; kecemasan
mengeksaserbasi asma)
 Sifat kepribadian atau gaya menghadapi masalah mempengaruhi
kondisi medis ( misalnya penyangkalan patologis terhadap
kebutuhan pembedahan pada seorang pasien dengan kanker;
perilaku bermusuhan dan tertekan pada penyakit kardiovaskular)
 Perilaku kesehatan maladaptive mempengaruhi kondisi medis (
misalnya tidak melakukan olahraga, sex yang tidak aman, makan
berlebihan)
 Respons fisioologis yang berhubungan dengan stress mempengaruhi
kondisi medis umum (misalnya eksaserbasi ulkus, hipertensi,
aritmia, atau nyeri kepala tension yang berhubungan dengan stress)
 Faktor psikologis lain yang tidak ditentukan mempengaruhi kondisi
medis (misalnya factor interpersonal, cultural, atau religious.
 Faktor psikologis dan perilaku yang
berhubungan dengan gangguan atau penyakit
termasuk dalam F54.
 Kategori ini harus digunakan untuk mencatat
adanya faktor psikologik atau perilaku yang
mempengaruhi atau berperan dalam etiologi
dalam gangguan fisik.
 Kode tambahan seharusnya digunakan untuk
mengidentifikasikan gangguan fisiknya.
 Contoh : asma (F54 plus J45); dermatitis dan
eczema (F54 plus L23-L25); tukak lambung (F54
plus K25).
 Sistem kardiovaskular
 Sistem pernafasan
 Sistem gastrointestinal
 Sistem muskuloskeletal
 Sistem endokrin
 Penyakit infeksi
 Kanker
 Gangguan kulit
 Nyeri kepala
 Mekanisme: rasa takut atau kecemasan yang
akan mempercepat denyut jantung,
meninggikan daya pompa jantung dan
tekanan darah
 Gejala: takikardia, palpitasi, aritmia, nyeri
perikardial, nafas pendek
 Cth: penyakit jantung koroner, hipertensi
 Penyakit arteri koroner menyebabkan
penurunan aliran darah ke jantung yang
ditandai oleh rasa tidak nyaman, tekanan
pada dada dan jantung episodik. Keadaan ini
biasanya ditimbulkan oleh penggunaan
tenaga dan stres dan dihilangkan oleh
istirahat atau nitrogliserin sublingual.
 Flanders Dunbar
 Penyakit jantung koroner-agresif kompulsif
 kecenderungan bekerja dengan waktu yang
panjang dan untuk meningkatkan kekuasaan.
 Meyer Fiedman dan Ray Rosenman mendefinisikan
kepribadian tipe A tipe B. Kepribadian tipe A adalah
berhubungan erat dengan perkembangan penyakit
jantung koroner. Mereka adalah orang yang
berorientasi tindakan berjuang keras untuk mencapai
tujuan yang kurang jelas dengan cara permusuhan
kompetitif. Mereka sering agresif, tidak sabar, banyak
bergerak dan berjuang dan marah jika dihalangi.
Kepribadian tipe B adalah kebalikannya. Mereka
cenderung santai, kurang agresif, kurang aktif
berjuang mencapai tujuannya.
 Peningkatan tekanan darah hanya terjadi di
ruang praktik dokter dan terkait dengan
ansietas “white coat”
 Asma bronkialis
 Sindrome hiperventilasi
 Stimuli emosi + alergi = bronkokonstriksi
 Gejala: batuk, mengi, dada sesak, dyspnea
 30% penderita memenuhi kriteria gangguan
panik dan agorafobia
 Disebut juga dispneu nerveous (freud), pseudo asma,
distonia pulmonal (hochrein).
 Gambaran klinis berupa:
· Parastesia, terutama pada ujung tangan dan kaki
· Gangguan penglihatan berupa mata kabur yang dikenal
sebagai Blury eyes. Penderita juga mengeluh bingung,
sakit kepala dan pusing
· Keluhan pernafasan seperti dispneu, takipneu, batuk
kering, sesak dan perasaan tidak dapat bernafas bebas
· Keluhan jantung. Sering dijumpai kelainan yang
menyerupai angina pektoris
· Keluhan umum, seperti kaki dan tangan dingin yang
sangat menganggu, cepat lelah, lemas, mengantuk
 Kolitis ulcerativa
 Ulkus peptikum
 Tipe kepribadian = obsesif kompulsif
 Ciri kepribadian:
◦ Rapi
◦ Teratur
◦ Tepat waktu
◦ Intelektual
◦ Malu-malu
◦ Terinhibisi dalam mengungkapkan kemarahan
 Ulkus peptikum mengacu pada ulserasi
mukosa yang meliputi lambung dan
duodenum
 Etiologi:
◦ H Pylori
◦ Stres psikologis
◦ Faktor psikososial
 Reumatoid artritis
 Nyeri punggung bawah
 Stres psikologis mungkin mempresdiposisikan
pasien pada artritis rematoid dan penyakit
autoimun melalui supresi kekebalan. Orang
artritik merasa terkekang, terikat dan terbatas.
Karena banyak orang artritik memiliki riwayat
aktivitas fisik. mereka seringkali memiliki rasa
marah yang terepresi tentang pembatasan fungsi
otot-otot mereka, yang memperberat kekakuan
dan imobilitas mereka.
 Tanda dan gejala dapat berupa nyeri, gerakan
terbatas, parastesia, kelemahan dan dapat
disertai dengan ansietas, takut, bahkan
panik.
 Etiologi:
◦ Organik
◦ Psikosomatik
 Daerah yang sering terkena:
◦ Lumbosakral
◦ Sakroiliaka
a. Hipertiroidisme
• Hipertiroidisme (tirotoksikosis) adalah suatu
sindroma yang terjadi sebagai akibat dari kelebihan
hormon tiroid endogen atau eksogen yang kronis.1
• Gejala medis yang sering muncul berupa:
o panas,
o keringat berlebihan,
o diare,
o penurunan berat badan,
o takikardi,
o palpitasi
o muntah.
• Gejala dan keluhan psikiatrik yang muncul antara
lain
o ketegangan,
o eksitabilitas,
o iritabilitas,

o bicara tertekan,
o insomnia,
o mengekspresikan rasa takut yang berlebihan
terhadap ancaman kematian. 1
b. Diabetes melitus
 Diabetes melitus adalah gangguan
metabolisme dan sistem vaskuler yang
dimanifestasikan oleh gangguan penanganan
glukosa, lemak, dan protein tubuh.1
 Menurut Meninger ada 3 gangguan mental
yang dijumpai pada diabetes:13
a. Depresi
b. Anxietas
c. Fatik (letih)
• Meninger berpendapat bahwa ada hubungan
antara psikoneurotik dengan diabetes, dengan
alasan:12
o Jelas adanya gangguan mental sebelum
timbulnya penyakit diabetes
o Gangguan mental yang lain dari gejala mental
yang timbul pada penyakit hati atau
hipoglikemi
o Penyembuhan gangguan mental pararel
dengan keadaan kadar gula darah
o Gangguan metabolisme karbohidrat dan
glukosuria membaik dengan diet
o Dengan sembuhnya gangguan mental,
diabetes juga membaik
c. Gangguan endokrin wanita
 Premenstrual syndrome (PMS), ditandai oleh
perubahan subjektif mood, rasa kesehatan
fisik, dan psikologis umum yang
berhubungan dengan siklus menstruasi.
 Secara khusus, perubahan kadar estrogen,
progesteron, dan prolaktin dihipotesiskan
berperan penting sebagai Faktor psikososial,
dan biologis telah terlibat didalam
patogenesis gangguan.1
 Penderitaan menopause (menopause
distress), adalah suatu keadaan yang terjadi
setelah tidak adanya periode menstruasi
selama satu tahun yang disebut menopause.
 Banyak gejala psikologis yang dihubungkan
dengan menopause,termasuk kecemasan,
kelelahan, ketegangan, labilitas emosional,
mudah marah (iritabilitas), depresi, pening,
dan insomnia.
• Wanita mungkin juga mengalami perubahan
dalam metabolisme kalsium dan lemak,
sebagai efek sekunder dari penurunan kadar
estrogen, dan perubahan tersebut disertai
oleh sejumlah masalah medis yang terjadi
pada pasca menopause, seperti osteoporosis
dan aterosklerosis koroner.1
• Wanita yang sebelumnya mengalami kesulitan
psikologis, seperti harga diri yang rendah dan
kepuasan hidup yang rendah, kemungkinan
rentan terhadap kesulitan selama
menopause.1
a. Penyakit infeksi
 Penelitian klinis menyatakan bahwa stres dan
keadaan psikologis yang buruk menurunkan
daya tahan terhadap tuberkulosis dan
mempengaruhi perjalanan penyakit. Dengan
demikian perkembangan penyakit sangat
dipengaruhi oleh keadaan psikologis orang.1
b. Gangguan alergi
 Bukti klinis menyatakan bahwa faktor
psikologis berhubungan dengan pencetus
alergi. Asma bronkial adalah contoh utama
proses patologis yang melibatkan
hipersensitifitas segera yang berhubungan
dengan proses psikososial.1
c. Transplantasi organ
 Pengaruh psikososial seperti kehidupan yang
penuh dengan stres, kecemasan dan depresi
mempengaruhi sistem kekebalan yang
berperan dalam mekanisme penolakan
transpalantasi organ.1
a. Masalah pasien
• Reaksi psikologis mereka adalah rasa takut
akan kematian, cacat, ketidakmampuan,
• Setengah dari pasien kanker menderita
gangguan mental berupa gangguan
penyesuaian 68%, gangguan depresi berat
13% dan delirium 8%. Pada pasien kanker
sering ditemukan pikiran dan keinginan
bunuh diri.1
b. Masalah yang berkaitan dengan pengobatan1
- Terapi radiasi
 Efek samping terapi radiasi adalah
ensefalopati yang berhubungan dengan
peningkatan tekanan intrakranial.
- Kemoterapi
 Efek samping kemoterapi berupa mual dan
muntah
- Rasa sakit
 Pasien kanker dengan rasa sakit memiliki
insidensi depresi dan kecemasan yang lebih
tinggi dibanding mereka yang tanpa rasa
sakit.

c. Masalah keluarga
 Kecemasan dan depresi dalam anggota
keluarga memerlukan intervensi yang aktif.
Keluarga harus memberikan pelayanan untuk
pasien.
a. Pruritus menyeluruh
 Pruritus psikogenik menyeluruh adalah tidak
ada penyebab organik. Kemarahan yang
terekspresi dan kecemasan yang terekspresi
merupakan penyebab paling sering, karena
secara disadari atau tidak mereka menggaruk
dirinya sendiri secara kasar.1
b. Pruritus setempat
 Pruritus ani
 Pruritus vulva
c. Hiperhidrosis
 Ketakutan, kemarahan dan ketegangan dapat
menyebabkan meningkatnya sekresi keringat,
karena manusia memiliki 2 mekanisme
berkeringat yaitu termal dan emosional.
 Berkeringat emosional terutama tampak pada
telapak tangan, telapak kaki dan aksila.
Berkeringat termal paling jelas pada dahi,
leher, punggung tangan dan lengan bawah.1
a. Migren
• Migren adalah ganguan paroksismal yang
ditandai oleh nyeri kepala rekuren, dengan atau
tanpa gangguan visual dan gastrointestinal.
• Kepribadian obsesional yang jelas terkendali dan
perfeksionistik, yang menekan marah, dan yang
secara genetik berpresdisposisi pada migren
mungkin menderita nyeri kepala tersebut1
• Mekanisme terjadinya migren psikosomatis
berupa:14
o vasospasme arteri serebri
o distensi arteri karotis eksterna
o edema dinding arteri
• Psikoterapi bermanfaat untuk menghilangkan
efek konflik dan stres.1
b. Tension ( kontraksi otot)
 Terjadi pada 80% populasi selama perode
stres emosional. Kepribadian yang tegang,
berjuang keras dan kompetitif peka terhadap
gangguan ini.
 Stres emosional sering kali disertai kontraksi
otot kepala dan leher yang lama melebihi
beberapa jam dapat menyempitkan pembuluh
darah yang menyebabkan iskemia.1
 psikoterapi merupakan terapi pilihan.1
 Tujuan terapi adalah kesembuhan
 Maksudnya adalah resolusi gangguan
reorganisasi kepribadian, adaptasi yang lebih
matang, meningkatkan kapasitas fisik dan
okupasi serta proses penyembuhan,
perbaikan penyakit, mengurangi secondary
gain terhadap kondisi medisnya, serta
menjadi patuh dengan pengobatan.
• Terapi penyakit somatik dalam keadaan akut, yang
utama adalah terapi medis. Umumnya adalah anti
ansietas dan anti depresan serta farmakoterapi untuk
penyakit konkomitannya. Psikoterapi pada kondisi ini
lebih bersifat reassurance dan suportif.
• Selayaknya terapi menghasilkan kemampuan
penyesuaian yang matang, peningkatan kemampuan
aktivitas fisik dan okupasi, sikap yang lebih baik
terhadap penyakitnya, mencegah komplikasi,
mengurangi secondary gain, serta meningkatnya
kemampuan penyesuaian terhadap keberadaan
penyakit tersebut.
 Terapi harus tetap fokus pada pengertian terhadap
motivasi dan fungsi mekanisme yang terganggu serta
membantu pasien mengenali penyakit dan dampak pola
negatif terhadap penyakit tersebut.
 Psikoterapi berjalan lebih lambat dan hati-hati
dibanding dengan gangguan psikiatrik lainnya,
transferensi positif harus terjadi secara bertahap.
 Resistensi sering terjadi pada saat awal dan selama
terapi, sehingga sering terjadi penghentian terapi
karena alasan yang dangkal.
 Karena pasien biasanya kurang motivasi dalam
mengikuti program terapi, diperlukan tehnik terapi yang
mudah disesuaikan, dan dilakukan perubahan-
perubahan dalam pendekatan terapi
• Sikap yang diharapkan adalah tetap pada jalur
manajemen medis yang sudah ditetapkan. Secara
umum, perlu waktu sebanyak mungkin bersama
pasien, mendengarkan dengan simpatik keluhan-
keluhan pasien serta bersikap suportif dan
reassuring.
• Sebelum melakukan tindakan manipulative,
diharapkan menjelaskan dengan baik prosedur
dan hasil yang diharapkan. Hal ini akan
meredakan kecemasan pasien, membuatnya lebih
kooperatif dan mempermudah jalannya terapi.
 Terjadinya perubahan perilaku sangat
bergantung pada kualitas hubungan dokter-
pasien. Beberapa strategi negosisasi yang
digambarkan oleh Aaron Lazare :
1. Edukasi langsung
2. Interbensi pihak ketiga
3. Eksplorasi pilihan
4. Menyediakan contoh atau percobaan terapi
5. Control sharing
6. Membuat konsesi
7. Konfrontasi yang empatik
8. Menentukan standar
Psikoterapi kelompok dan terapi keluarga
• Pendekatan kelompok memberikan kontak
interpersonal dengan orang lain yang menderita
penyakit yang sama dan memberikan dukungan
untuk pasien yang takut akan ancaman isolasi
dan pengabaian.
• Terapi kelompok memberikan harapan
perubahan hubungan antar anggota keluarga
yang sering mengalami stress dan beriskap
bermusuhan pada anggota keluarga yang sakit.
 Edmunt Jacobson (1983) mengembangkan suatu
metode yang dinamakan relaksasi otot progresif
untuk mengajarkan relasksasi tanpa menggunakan
instrumentasi seperti yang digunakan didalam
biofeedback. Metode ini adalah suatu tipe
desensitisasi sistematik.
 Herbert Benson (1975) menggunakan konsep yang
dikembangkan dari meditasi transcedental, disini
pasien dipertahankan pada perilaku yang lebih
pasif, memungkinkan relaksasi terjadi dengan diri
sendirinya. Semua teknik ini memiliki kesamaan
posisi nyaman, lingkungan yang damai,
pendekatan pasif dan citra mental yang
menyenangkan tempat seseorang dapat
berkonsentrasi.
 Hipnosis efektif untuk menghentikan
merokok dan menguatkan perubahan diet.
Hipnosis digunakan dalam kombinasi
dengan perumpamaan yang tidak disukai.
 Beberapa pasien menunjukkan angka relaps
yang cukup tinggi dan dapat memerlukan
pengulangan program terapi hipnotik
(biasanya tiga hingga empat sesi).
• Manusia mampu mempelajari cara
mengendalikan respons fisiologis involunter
(biofeedback) seperti vasokonstriksi
pembuluh darah, irama jantung, dan denyut
jantung.
• Meskipun awalnya memberikan hasil yang
menyokong didalam menerapi hipertensi
esensial, terapi relakasasi telah memberikan
efek jangka panjang yang lebih signifikan
dari pada biofeedback.
• Acupressure dan akupuntur adalah teknik
penyembuhan cina yang disebutkan didalam teks
medis kuno.
• Konsep fundamental lainnya adalah gagasan
mengenai dua medan energi (yin yang), yang
harus seimbang untuk mempertahankan
kesehatan.
• Teknik akupuntur telah digunakan pada hampir
semua gangguan yang disebutkan dengan hasil
yang beragam.
golongan senyawa psikofarmaka :

1. Obat tidur(hipnotik), diberikan 2-4 minggu, obat


yang dianjurkan seperti nitrazepam flurazepam,
dan triazolam. Pada insomnia dengan kegelisahan
dapat diberikan seperti tioridazin, prometazin.
2. Obat penenang minor dan mayor
• obat penenang minor
diazepam merupakan obat yang efektif yang
dapat digunakan pada anxietas, agitasi, spasme
otot, delirium, epilepsi.
• obat penenang mayor
yang paling sering digunakan adalah senyawa
fenotiazin dan butirofenon seperti clorpromazin,
tioridazin dan haloperidol.
3. Antidepresan
yang dianjurkan adalah senyawa trisiklik dan
tetrasiklik seperti amitriptilin, imipramin,
mianserin dan maprotilin yang dimulai dengan
dosis kecil yang kemudian ditingkatkan.
 Dalam psikiatri konsultasi penghubung dokter
psikiatrik berperan sebagai konsultan bagi sejawat
kedokteran atau professional kesehatan lainnya.
 Dokter psikiatri konsultasi penghubung harus
memainkan banyak peran di dalam bangsal medis
rumah sakit: pewawancara yang ahli dan singkat,
dokter psikiatri dan ahli psikoterapi yang baik, seorang
guru, dokter yang penuh pengetahuan yang mengerti
aspek medis dari kasus.
 Dokter psikiatri konsultasi penghubung harus
dipandang sebagai bagian dari tim medis yang
memberikan sumbangan unik bagi perawatan medis
pasien secara keseluruhan.