Anda di halaman 1dari 41

Kelompok 5 :

Friska Monika Sitorus (1562030003)


Natha Hati (1562030007)
Rena Noviary (1562030010)
Ruth Marbun (15620030027)
Samalingga A.B Baklu (1562030034)
Hardi wibowo (1562030040)
Meniscus adalah jaringan fibrokartilago yang terbentuk dari gabungan antara
serabut-serabut kolagen dengan sel dan matriks ekstraselular berbentuk C dan O
kecil yang berfungsi sebagai bantalan dalam persendian lutut. Terdapat dua
Meniscus yang berada di antara tulang paha (Femur) dan tulang kering (Tibia), satu
pada bagian dalam lutut (Medial) dan satu lagi di luar (Lateral).
1. Shock absorption.

2. Stabilitas sendi lutut

3. Lubrikasi sendi
 Zona Merah & Zona Putih
Zona merah memiliki suplai darah, sedangkan zona putih tidak
memiliki suplai darah dan tidak akan sembuh secara alami. Bagian
luar meniskus memiliki suplai darah dari kapsul sinovial.

(Taken from: Arnoczky & Warren, 1983, AJSM)


 Robekan pada meniscus tergantung pada lokasi, teknik, proyeksi
yang ada, dan derajat fragmen displacement
 Jenis robekan :
Bucket handle (vertical longitudinal)
Radial tears (vertical transversal)
Flap tears (vertical oblique)
Horizontal cleavage tears (horizontal longitudinal)
Degenerative and complex tears
 Bunyi klik atau letupan sewaktu bergerak.
 Kisaran gerakan terbatas.
 Rasa seakan lutut terkunci (tidak mampu meluruskan lutut)
 Rasa nyeri pada salah satu sisi lutut.
 Membengkak pada alur persendian.
 Rasa ngilu di sepanjang alur persendian.
- Repair
- Partial meniscectomy
- Total meniscectomy
- Allograft transplantation
- Implants
 Diagnosa Medis : Post op lateral meniscus dextra
 Catatan Klinis : meniscus tear lateral dextra
ASESMEN FISIOTERAPI
a. Anamnesis (Auto)
1. Identitas
Nama : Tn. Joni
Umur : 32 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Kristen
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan : TNI AD
Alamat : Jln. Semar no. 3 Depok
2. Riwayat Penyakit
2.1 Keluhan Utama : Nyeri pada lutut kanan
2.2 Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada tanggal 2 september 2017 pasien jatuh dengan posisi tungkai bawah kanan
terputar kebagian keluar pada saat bermain bola. Pasien merasakan nyeri yang
sangat hebat dan lutut tidak dapat digerakkan sehingga tidak mampu untuk
bangun, akhirnya di tandu keluar lapangan dan langsung dibawa ke rumah sakit.
Dokter meminta pasien untuk melakukan MRI dan hasilnya terdapat kerobekan
pada meniscus lateral kanan. Pada tanggal 4 September 2017 pasien menjalani
operasi arthroscopy untuk perbaikan kerobekan lateral meniscus pada lutut
kanannya. 2 hari pasca operasi pasien di rujuk ke fisioterapi.
2.3 Riwayat Penyakit Dahulu : -
2.4 Riwayat Pribadi :-
2.5 Riwayat Penyakit Keluarga :-
b. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda Vital dan Keadaan Umum
1.1 Tekanan darah : 130/70 mmHg
1.2 Denyut nadi : 100 x/ menit
1.3 Pernapasan : 20 x/menit
1.4 Temperatur : 36,5 ° C
1.5 Tinggi badan : 172 cm
1.6 Berat badan : 70 Kg
1.7 Tingkat kesadaran : Compos mentis
2. Inspeksi
2.1. Inspeksi statis :
Pasien berada dibed dengan posisi terlentang dan tungkai ekstensi penuh,
memakai bandage dari ½ distal quadriceps sampai ke 1/3 proximal tibia.
2.2. Inspeksi dinamis :
Saat menggerakan kaki kanannya pasien tampak menahan rasa sakit
3. Palpasi
Adanya oedema di daerah luar bekas operasi
Spasme otot quadriceps femoris, otot hamstring, otot gastrocnemius
4. Perkusi
Tidak dilakukan
5. Auskultasi
Tidak dilakukan
6. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar
6.1 Gerak Aktif :
Sendi Gerakan MMT ROM VAS

Dextra Sinistra Dextra Sinistra Normal


Hip Ekstensi 3 (pain) 4 S 10°-0°-85° S 15°-0°-100° S 15°-0°-120° 2 cm
Fleksi

Abduksi 3 (pain) 4 F 30°-0°-30° F 45°-0°-30° F 50°-0°-30° 2 cm


Adduksi

Knee Ekstensi 2 (pain) 4 S 0°-0°-5° S 0°-0°-140° S 0°-0°-140° 5 cm


Fleksi
6.2 Gerak Pasif
Regio ROM Gerakan VAS Endfeel
Hip ekstensi 2 cm Elastis
Hip Dextra S 10°-0°-90° Hip fleksi 2 cm Elastis
F 35°-0°-30 Hip abduksi 2 cm Elastis
Hip Sinistra S 10°-0°-115° Hip adduksi 2 cm Elastis
F 45°-0°-30° Knee ekstensi 4 cm Hard
Knee dextra S 0°-0°-5° Knee fleksi 6 cm Springy

Knee sinistra S 0°-0°-140°


6.3 Gerak isometrik melawan tahanan : Pasien belum mampu melakukan
gerakan isometrik melawan tahanan
6.4 Pemeriksaan khusus :-
6.5 Pemeriksaan penunjang :-
c. Pemeriksaan Kemampuan Kognitif, Intrapersonal dan Interpersonal
1. Pemeriksaan Kognitif
Pasien mampu menceritakan kronologis yang dialaminya sampai sekarang kepada terapis

2. Pemeriksaan Intrapersonal
Pasien mempunyai motivasi dan semangat untuk sembuh

3. Pemeriksaan Interpersonal
Pasien berkomunikasi dengan baik dengan keluarga maupun fisioterapis dan dapat
mengikuti instruksi saat melakukan terapi
d. Pemeriksaan Fungsional dan Lingkungan Aktivitas

1. Kemampuan Fungsional Dasar


Indeks barthel
No Item yang di nilai Skor Interprestasi : Ketergantungan Sedang
1. Makan 2
2. Mandi 0
3. Perawatan diri 0
4. Berpakaian 1
5. Buang Air Kecil (BAK) 2
6. Buang Air Besar (BAB) 2
7. Penggunaan toilet 1
8. Transfer 1
9. Mobilitas 0
10. Naik turun tangga 0
Total 9
2. Aktivitas Fungsional
Pasien belum dapat menggunakan kaki kanannya untuk beraktivitas secara
normal.

3. Lingkungan Aktivitas
Lingkungan aktifitas pasien mendukung kesembuhan pasien
1. Oedema
2. Nyeri
3. Spasme otot quadriceps femoris, otot hamstring, otot gastrocnemius
4. Menurunnya kekuatan otot tungkai kanan
5. Keterbatasan LGS pada tungkai kanan
6. Gangguan fungsional berjalan
Gangguan fungsional berjalan karena nyeri akibat post op meniscus lateral dextra
A. Tujuan Jangka Panjang
- Menghilangkan oedema
- Mengurangi nyeri
- Menghilangkan spasme
- Meningkatkan kekuatan otot
- Meningkatkan LGS

B. Tujuan Jangka Pendek


- Meningkatkan aktifitas fungsional berjalan
1.Modalitas alternatif
- Terapi latihan (deep breathing exercise, ankle pumping exercise, Free active
exercise , quads set, gluteus set, SLR exercise)
- Walking exercise (Non weight bearing, partial weight bearing, Full weight
bearing)

2.Modalitas terpilih
- Terapi latihan (breathing exercise, ankle pumping exercise, SLR exercise , Free
active exercise)
- Walking exercise (Non weight bearing)

3. Modalitas yang digunakan


-
1. Deep breathing exercise
Tujuan: memelihara dan meningkatkan volume paru pasca oprasi, rileksasi untuk
menghilangkan rasa nyeri saat latihan
F : 3x/minggu
I :-
T : 15 menit
T :-
R : 5 kali pengulangan
S : 3 sesi
Pelaksanaan terapi:
1. Mengatur posisi pasien dengan nyaman di tempat tidur/kursi
2. Meletakkan satu tangan klien diatas abdomen (tepat di bawah iga) dan
tangan lainnya pada tengah dada untuk merasakan gerakan dada dan
abdomen saat bernafas
3. Menarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik sampai dada dan
abdomen terasa terangkat maksimal, jaga mulut tetap tertutup selama
inspirasi, tahan nafas selama 2 detik
4. Menghembuskan nafas melalui bibir yang di rapatkan dan sedikit terbuka
sambil mengencangkan (kontraksi) otot-otot abdomen dalam 4 detik
5. Melakukan pengulangan selama 1 menit dengan jeda 2 detik setiap
pengulangan , mengikuti dengan periode istirahat 2 menit
6. Melakukan latihan dalam lima siklus selama 15 menit
2. Ankle pumping exercise
Tujuan : Mengurangi oedema
F : 3x/minggu
I :-
T : 3-5 menit
T :
R : 5 kali pengulangan
S : 3 sesi
Pelaksanaan terapi:
1. Posisi pasien supine lying
2. Posisi tungkai elevasi (lebih tinggi daripada jantung)
3. Pergelangan kaki dorso flexi secara maksimal sekitar 10 detik dan kemudian plantar
flexi.
4. Latihan ini dilakukan 5x pengulangan, 3 sesi, istirahat dilakukan selama 3-5 menit.
3. SLR exercise
Tujuan : meningkatkan kekuatan otot , mencegah kontaktur dan atrofi otot.
F : 3x/minggu
I :-
T : 3-5 menit
T :-
R : 5 kali pengulangan
S : 3 sesi
Pelaksanaan terapi:
1. Pasien pada posisi terlentang dengan lutut ekstensi. Pinggul dan lutut kontralateral
fleksi untuk menstabilisasi pelvis dan pinggang.
2. Pertama minta pasien mengkontraksikan otot quadriceps secara isometrik
3. Angkat tungkai hingga sekitar fleksi pinggul 30 °,45°,70 ° sambil mempertahankan
ekstensi lutut
4. Minta pasien mempertahankan tungkai dalam posisi tersebut hingga 10 Hitungan
kemudian turunkan tungkai.
4. Free Active Exercise
Di lakukan pada tungkai yang sehat
Tujuan : menghindari penurunan kekuatan otot pada sisi yang sehat.
F : 3x/ seminggu
I :-
T : 5 menit
T :-
R : 15 kali pengulangan
S : 3 sesi
Pelaksanaan terapi:
1. Pada posisi terlentang maupun duduk (menyesuaikan dengan kemampuan dan
gerakan yang akan di lakukan pasien)
2. Pasien melakukan gerakan aktif pada tungkai yang sehat dengan berbagai gerakan
fleksi hip, ektensi hip, abduksi,adduksi,endorotasi,exorotasi,fleksi knee, ekstensi
knee
3. Lakukan gerakan tersebut dengan 15x pengulangan
5. Walking exercise ( Non Weight bearing)
Tujuan : Meningkatkan pergerakan sendi, menurunkan ketergantungan pasien
kepada orang lain, dan kemampuan mobilisasi
F : 3x/minggu
T : 15 menit

Pelaksanaan terapi :
1. Dua tangan/Dua tungkai yang sakit maju serentak
2. Posisi tungkai yang lemah diangkat bergantung kearah depan
3. Tungkai yang sehat melangkah maju dengan berat badan bertumpu pada kedua
tangan/tongkat.
Quo ad functionam : Baik
1. Evaluasi sesaat (Setiap sebelum dan sesudah terapi)
Vital sign

2. Evaluasi Periodik (Setelah 6 x terapi)


Nyeri (VAS)
Kekuatan otot (MMT)
Peningkatan LGS (Goniometer)

3. Evaluasi Kumulatif (Setelah 12 x terapi)


Nyeri (VAS)
Kekuatan otot (MMT)
Peningkatan LGS (Goniometer)
Kemampuan aktifitas fungsional berjalan
Setelah 12x terapi dengan modalitas terapi latihan (deep breathing exercise,
ankle pumping exercise, SLR exercise , Free active exercise) ,walking exercise
(Non weight bearing) . Maka diperoleh hasil sebagai berikut :
Objek Evaluasi Standar Pre terapi Post terapi Keterangan
Pengukuran
Nyeri VAS Knee Dextra
Extensi : 6 cm
Fleksi : 6 cm
ROM Goniometer Knee Dextra
S 0°-0°-5°
Kekuatan Otot MMT 1

Aktivitas Fungsional Barthel 7 (Ketergantungan Berat)


♥TERIMAKASIH
SAMPAI JUMPA DILAIN KESEMPATAN☼
 Arthroscopy merupakan suatu prosedur operasi yang dilakukan untuk mengetahui
dan mengatasi masalah-masalah di dalam sendi lutut. Prosedur ini memudahkan
seorang dokter bedah untuk melihat isi dalam suatu sendi dan memeriksanya
dengan teliti sehingga dapat diketahui kelainan-kelainan yang ada.
 Arthroscope adalah suatu tabung sempit dengan sumber cahaya yang dilengkapi
dengan sebuah video kamera mini, dan mengirimkan hasil gambarnya ke TV
monitor. Arthroscope dimasukkan ke dalam sayatan kecil pada kulit (sehingga
sering disebut juga “keyhole procedure”) lalu sendi akan disinari dan diperbesar
agar kelainan yang ada lebih mudah terlihat.
 Meniscus tears
 Meniscus cyst
 Collateral and cruciatum ligament injury
 Osteochondritis dissecans
 Synovial disorder
 Articular cartilage disorder
 Patellofemoral disorder
 Loose bodies
 Articular fracture
 Robekan pada meniscus tergantung pada lokasi, teknik, proyeksi yang ada, dan
derajat fragmen displacement
 Jenis robekan :
 Bucket handle (vertical longitudinal)
 Radial tears (vertical transversal)
 Flap tears (vertical oblique)
 Horizontal cleavage tears (horizontal longitudinal)
 Degenerative and complex tears
• Tujuan Arthroscopy :
 Repair, jika robekan masih tergolong ringan dan stabil
 Partial menisectomy, jika robekan unstable dan tidak dapat diperbaiki, untuk
mengeluarkan semua jaringan yang robek atau rusak
Repair
Partial meniscectomy
Total meniscectomy
Allograft transplantation
Implants

Indikasi Repair :
1. Lesi pada vaskularisasi sepertiga medial atau lateral meniscus
2. Robekan hingga ke tengah , ke sepertiga avaskular meniscus pada individu muda (lebih muda 40-50
tahun) atau lansia yang aktif secara fisik (lebih tua dari 50 tahun)
Kontraindikasi :
Adanya ribekan pada sepertiga bagian dalam meniscus yang avaskular , robekan dengan banyak
fragmentasi jaringan, atau robekan yang tidak dapat diperbaiki secara sempurna selama pembedahan.
PHASE I. (Statuspost Weeks 12)
1. Nurse appt day 2 for dressing change and review of home program.
2. Ice/elevation every 2 hours for 15 minute to minimize edema and promote healing (please
refer to Icing Recommendations handout).
3. Avoid impact or twisting for 4 weeks. Manual ​Soft tissue treatment to quads, posterior
musculature, suprapatellar pouch, popliteal fossa, iliotibial band and Hoffa’s fat pad.
4.Patellar mobilization as needed.
5. No direct scar mobilization (Avoid direct palpation and mobilization on incisions/portals for 4
weeks).
Exercise: Strength training specifics: quad sets/straight leg raises, hip abduction, calf
presses/heel raises,
Gluteus sets, and core conditioning.
Upper body conditioning, wellleg stationary cycling or Upper Body Ergometer (arm bike).
Gait training progression towards minimizing assistive devices (walker, crutches, etc).
Goals:
Range of motion 0 to 90 degrees.
Pain < 3/10, minimal Edema.
Gait weightbearing as tolerated; Good quality gait with least amount of assistive device
 PHASE II. (Status post Weeks 24)

Nurse appt for suture removal day 14.
Ice and elevation daily.
Walking for 15 20 mins daily.
Avoid impact and twisting of the knee for 4 weeks.
 Manual: Soft tissue treatment to quads, posterior musculature, suprapatellar pouch, popliteal
fossa, iliotibial band and Hoffa’s fat pad.
Patellar mobilization as needed.
No direct scar mobilization on incisions/portals for 4 weeks.
 Exercise ​: Functional strengthening exercises including squats/leg Press, bridges/hamstring
curls, 2” stepDown
Intense core training, aerobic exercises as tolerated (bilateral stationary bike, Elliptical, arm
bike).
Goals:
Active Range Of Motion: equal extension to uninvolved side and flexion to 120 degrees. No
edema.
Full weightbearing; normal gait without assistive device.
Single Leg Balance 60 sec on level surface.